Akhirnya datang juga, chapter tiga dari cerita ga jelas ini... makin ngelantur kayaknya... makasih masih setia nongkrongin nih story pe ak.... hehehe... met baca minna~ Author mau bobok dulu (enggak tidur seminggu penuh nyelesain fic *dicacah reader ngibul mulu*)
One Piece vs Fairy Tail
By : Argentum Silver and Gold Diamond
"Gyaaa... " Luffy menjerit ketika jarum jam berada tepat di angka enam.
Terlambat bangun, terlambat ke sekolah, berhadapan dengan konseling galak, hukuman tak berperikemanusiaan... bayangan-bayangan angker mulai memenuhi otaknya.
Panik membuatnya bergerak cepat. Bangun tanpa peduli ranjangnya yang berantakan, mandi -entah bersih atau tidak-, melahap roti bakar di meja -entah miliknya atau milik kakaknya-, menjejalkan buku-buku pelajaran ke tasnya dengan gugup -entah betul atau tidak- dan semua kegiatan kacau lainya.
Sang kakak menatap adik tercintanya itu dengan bingung.
"Luffy, kau gila atau bagaimana?, " tanyanya.
"Kakak yang gila! Kenapa tidak membangunkanku!" jawab Luffy kesal.
"Kakak sudah membangunkanmu. Kau saja yang tidak bangun!" balas Ace.
"Ah, kakak bohong!" seru Luffy, "Oke, Luffy berangkat Kak!"
Nafas Luffy nyaris putus ketika Ia memaksakan semua kekuatan untuk melompati pagar tinggi yang (sangat) nyaris ditutup, dan ak lupa memasang cengiran tanpa dosa pada sang penjaga gerbang -pria setengah baya dengan kepala belah tengah bodoh- yang Luffy selalu lupa namanya.
"Hai, telat Luff?" sapa Natsu yang juga terengah berpacu dengan waktu untuk mencapai pintu kelasnya dengan selamat.
"Sering! kau sendiri?" balas Luffy.
"Terlalu sering!" seru Natsu sebelum akhirnya Ia mengerem paksa laju larinya untuk berbalik ke kanan melewati tikungan bersudut 90 derajat, berlawanan dengan Luffy yang berbalik ke kiri, menaiki beberapa anak tangga menuju ruang kelasnya di lantai dua.
"Sialan!" umpat Luffy. Nafasnya mulai tak beraturan kini. Bagaimana caranya menyelinap masuk? pikirnya cemas, menatap punggung sang guru yang tengah mengajar -pria kekar bertempramen keras- dari celah pintu.
Terdengar bla bla bla dari si guru, membuat ada lampu 75 watt yang mendadak menyala terang diatas kepala Luffy.
"Pak Smoker sialan, rasakan!" desis Luffy. Pikiran laknatnya berputar cepat. Ia menatap papan bersandarkan sebatang baja tipis dekat dinding. Hanya dalam hitungan detik setelah itu...
Brangg!!!
Satu persatu jendela kelas di sekitar tempat itu terbuka, dan kepala-kepala yang dipenuhi raut wajah kaget pun bermunculan. Luffy yang menyembunyikan tubuhnya di belakang tiang tertawa kecil. Gebrakan papan berikut bajanya yang menghantam tempat sampah alumunium di sudut koridor juga sukses membuat si guru keluar dengan tatapan garangnya.
"Siapa yang berani membuat keributan pagi-pagi begini?!" serunya lantang.
Luffy yang terkikik gel, lalu menyelinap masuk ke kelasnya dengan tatapan tanpa dosa. Dia menyeka dahinya yang berkeringat dan berlari ke bangku favoritnya -yang tak berubah sejak zaman dahulu kala- bangku pojok yang luput dari pandangan guru.
"Kemana saja Luff?" tanya Ussop heran.
"Biasa, aku telat bangun," jawab Luffy. Eh? Ussop bertanya pada Luffy? Bukanya Ia dan teman-teman yang lain sedang marah padanya?
"Ka... kalian..." takut-takut Luffy mencoba mengungkit masalah kemarin, "Tidak marah?"
"Marahnya di pause dulu deh, kau kan juga ingat kalau hari ini ulangan fisika..." Sanji yang duduk di depan Luffy membalikkan tubuh jangkungnya.
"Ngomong-ngomong.... " sambung Zorro yang -entah kenapa- duduk di samping Sanji, "Kaukah yang membuat keributan tadi?"
"hahaha..." Tawa Luffy meledak, "Tentu saja! Kepalaku kan dipenuhi seribu satu akal agar bisa masuk kelas!"
"Ehmmm!!!"
Ups... seseorang mendehem tajam.
"Su... suaramu terlalu melengking..." bisik Ussop, pucat pasi.
"Luffy, kau bunuh diri..." timpal Sanji lirih.
Luffy terkejut menatap wajah-wajah pucat kawan-kawanya.
"Mak... maksud ka... kalian... guru keparat itu ada di..."
"Siapa yang guru keparat?" Bau bakaran tembakau tercium jelas di sekat hidung Luffy. Suara berat dari pria bertempramen keras itu merasuki gendang telinganya perlahan. Otaknya agak lambat untuk mencerna semua ini. Akan tetapi, selang seperseribu detik setelah Luffy memutar kepalanya...
"GYAAAAA......."
"Ehm..." Beberapa urat kesabaran menyembul di balik topi jerami kesayangan Luffy.
"Selamat bersenang-senang, Monkey D. Luffy, hihihi..." Brook terkikik menatap Luffy yang berdiri dengan pel panjang di depan kamar mandi.
"Tak apa, nih contekan Fisikanya, aku baru dapat dari Porche," sambung Sanji sembari menyelipkan kertas di saku seragam Luffy, "Semoga berhasil!"
"Semoga kepalamu juga dipenuhi seribu satu akal supaya kamar mandi bisa bersih sampai bel berbunyi nanti... hehehe...." ujar Ussop tertawa.
"Ajak saja teman-teman fairy tailmu untuk ikut membersihkan kamar mandi," kata Zorro. Luffy kaget mendengar kalimat datar itu. Wajah tanpa ekspresi, nada tanpa emosi.
"Kau mengejek?," tanyanya spontan ketika mendengan nada sinis itu.
"Tentu tidak, kapten... hanya usul. Yuk, kita pergi," hanya itu yang Zorro katakan sebelum akhirnya Ia berbalik, diikuti yang lain, dan kemudian lenyap di tikungan.
Bibir Luffy maju beberapa senti. Ia pun memutuskan untuk mengecek contekan tadi.
"Lebih baik daripada mengepel kamar mandi bau!" umpatnya sambil membanting pel panjang di tanganya.
Ehmm... beberapa rumus rumit tertera pada kertas contekan itu. Enam soal berupa essay panjang yang membingungkan... uhhh!
Luffy duduk diatas tempat sampah besar di sampingnya. Matanya menyipit, mencoba mencermati deretan rumus brengsek itu.
"Terkutuk! Demi devy jones! Kalau sampai jalur contekan anak-anak fairy tail diputus, matilah mereka semua! Mati!" serunya. Matanya yang mendadak terserang presbiopi waktu mencermati contekan itu masih saja menyipit, tak peduli ada suara tawa beberapa orang gadis yang mendekat.
"Lho? ada cleaning service baru," komentar salah seorang diantara mereka. Suara imutnya membuat Luffy mengangkat wajah. Si rambut biru yang cantik....
"Hai..." Luffy nyengir.
"Cleaning service baru ya? hihihi..." mereka tertawa.
"Bukan," jawab Luffy cuek, "Sukarelawan dadakan!"
"hahaha.... " tawa keempat gadis itu.
"Kamu keren juga, kakak kelas ya.... " tanya rambut biru yang menyapa luffy pertama kali tadi.
"Aku anak kelas X kok, kalian...?"
"Sama, kami juga, tapi kami dari kelas bahasa,"
"Aku kelas IPA,"
"Keren ya, " timpal yang lain, "Cool, tampan, pintar lagi... "
Luffy langsung menjejalkan contekan tadi ke sakunya begitu telinganya mendengar kata 'pintar'.
"Hehehe... jelas dong," katanya cepat.
"Kenalan...." Pinta si rambut biru. Luffy mengerutkan keningnya ketika si rambut biru itu membungkukkan badanya, menatap manja pada Luffy.
"Ah, aku Luffy. Monkey D. Luffy, " ujar Luffy memperkenalkan diri. Para gadis itu langsung mengerubutinya dan berebut memperkenalkan diri mereka masing masing. Siapa yang tidak illfeel, ada idola dekil dikerubuti fansnya di depan kamar mandi!
Luffy menatap si rambut biru tadi heran. Ketika kawan-kawanya memperkenalkan diri, Ia tidak bergeming sama sekali. Menyebutkan namanya saja tidak.
"Ehm... Nona manis namanya siapa?, " tanya Luffy.
"Hehehe... akhirnya kau inisiatif tanya.... namaku Jubia..." jawabnya. Tawa yang renyah dan manis di mata Luffy.
Waw, sejak kapan Luffy tertarik pada para kaum hawa semacam ini?
"Eh, selamat bekerja ya... ingat, jangan ngintip!" gadis bernama Jubia itu terkikik geli dan memasuki salah satu bilik kamar mandi, diikuti ketiga gadis lainya yang juga memasuki bilik kamar mandi lain.
"Di balik keapesan, ada juga keberuntungan. Aku tak pernah kenal dengan anak gadis dari kelas bahasa... hehehe..." Luffy meraih pel panjangnya dan mulai mengepel perlahan. Dalam hati : siapa tau dapat nomor telfon si manis Jubia itu!
"Waw," gumam Luffy, "sejak kapan ya aku tertular virus hentainya si Sanji?"
Luffy masih mendorong pel nya beberapa kali, memastikan tak ada noda yang tersisa. Entah bagaimana Luffy mulai menikmati pekerjaan dadakanya itu. Sampai kemudian ujung pel nya membentur sesuatu.
Luffy mendongak, memastikan 'sesuatu' itu. Yap, si manis tadi.
"Eh, Jubia?" tanyanya.
"Luff, teman-temanku mau minta nomer telfonmu tuh!" kata Jubia.
"Oh? Tentu, " jawab Luffy. Tanganya bergerak ke saku seragam, mengeluarkan handphone nya.
"Nih, cari saja, disitu ada nomerku kok, " kata Luffy kemudian, menyerahkan handphone bercassing penuh luka itu, "jangan lupa masukkan nomer kalian juga," lanjutnya sebelum kembali menekuni hukumanya.
Para gadis itu berebut handphone Luffy seketika. Ehmm... kecuali Jubia....
"Jubia tidak minta nomerku ya?," tanya Luffy.
"Tidak. Kalau Luffy kangen aku, Luffy kan bisa main ke tempatku..." jawab Jubia manja.
"Masa? Memang rumah Jubia dimana? "
"Luffy pern... "
"Luffyyyyy.... " kalimat Jubia terpotong histeria teman-temanya, "terimakasih nomernya, nanti malam aku telfon ya...."
"Sama-sama... " jawab Luffy.
"Oke, sampai jumpa pangeran!" seru Jubia tiba-tiba. Ia pun melesat diikuti ketiga rekanya yang melempar kecup manisnya pada Luffy.
"Jubia! Kua belum jawab pertanyaanku!" Luffy berteriak, mencoba memanggil nama Jubia.
"Mainlah ke guild! Nanti kau tau!" balas Jubia. Teriakkan yang agak samar di telinga Luffy, tapi terdengar tidak asing. Guild? Ju... Jubia... anak FT ????
"A... anak fairy tail ya?," desis Luffy. Tatapanya menyiratkan tatapan heran.
Luffy menghabiskan waktu beberapa detik untuk terpaku dengan gaya bodohnya.
"Luff?" tangan mungil nan mulus itu melambai di depan mata Luffy, membuat Luffy terkejut dan langsung mengubah posenya.
"Eh? Eh? Vivi?" serunya kaget.
"Kata teman-teman kau dihukum guru Matematika ya?" tanya Vivi cemas.
"Memang~ Biasalah, dari pada menjadi kuli laboratorium lagi? Kerja di WC juga tidak buruk," jawab Luffy, meringis.
"Tidak buruk? Mak... maksudmu ?" tanya Vivi heran.
"Sekali-sekali latihan jadi anak yang rajin dong..." sahut Luffy innocent.
"Ck... ck...ck... baguslah, lain kali kau juga harus semakin rajin mengerjakan tugas kimia sendiri...." goda Vivi geli.
"Yaahhh... kok Vivi bilang begitu.... "
"Hihihihihi...."
"Sepertinya ada pergantian jadwal Luff," kata Sanji pada Luffy yang baru saja kembali dari tugas dadakanya.
"Lho? Maksudnya?"
"Habis ini kan seharusnya pelajaran ulangan, tapi ulangan dirubah menjadi pelajaran ke tiga, dan nanti pada akhir pelajaran keempat hasilnya sudah keluar. Besok bisa langsung diremidial deh," ujar Ussop menjelaskan.
"Oh, itu sih bukan masalah.... " jawab Luffy.
"Ya... sekedar memberitahu saja kan Luff..." timpal Brook.
"Kita kan sudah punya contekan, ya tidak?" kata Luffy.
"Jangan sombong! Siapa dulu yang mendapatkan contekanya!" seru Sanji seraya melepaskan tamparanya ke pipi kanan Luffy.
"Kan hanya mengigatkan...."
Tawa mereka lepas. Sedetik setelah itu, mereka tenggelam dalam aktifitas masing-masing. Sanji keluar kelas dan mulai mangkal di teralis besi dekat tangga untuk menggoda beberapa siswi yang lewat, Zorro masih tenggelam di alam mimpinya, Ussop dan Brook masih berkutat dengan tugas-tugas mereka yang belum selesai.
Luffy?
Lho? Kemana anak itu?
Sudut ruangan yang teduh, bebas dari sorotan matahari yang menerbitkan hawa panas, Luffy menekuk lututnya, mulai tenggelam dengan buku sketsanya (lebih tepatnya buku sketsa Ace yang Ia curi tempo hari). Pensilnya bergerak perlahan, membuat bentuk-bentuk abstrak berseni.
Sebuah lambang. Lambang yang hingga detik ini masih menggemakan suara-suara membingungkan di kepala Luffy. Skenario apa yang telah Tuhan ciptakan untuk kehidupan (persahabatan) Luffy. Begitu banyak pertemuan-pertemuan tak terduga dari sebuah perseteruan tidak masuk akal.
"Jelek!" seru seseorang. Suara yang agak tak asing di telingan Luffy. Luffy pun mendongak, memastikan asal suara itu.
"What? Grayyy???" serunya kaget, melihat kepala berambut gelap berwajah tanpa dosa yang menyembul dari jendela di lantai dua ini.
"Sedang apa kau disitu?" tanya Luffy dengan ekspresi kaget.
"Nafas api bau yang melemparku samapi sini!"
"Salamander maksudmu? kalian gila atau bagaimana ha? kau bisa mati kalau jatuh dari situ!,"
Gray menggelengkan kepalanya beberapa kali, "Mustahil aku mati di tangan nafas api bau sialan itu! hahaha...."
Luffy membanting buku sketsanya seketika itu. Ia kembali memasang wajah horornya, lantas menatap tajam ke arah Gray.
"KAU SUDAH JANJI UNTUK TIDAK CARI MASALAH DENGAN SALAMANDER KAN? KAU INGIN AKU MENGADUKAN ULAH KALIAN PADA ERZA HA?"
"Ups...." keringat dingin membersit perlahan di pipi Gray.
"..." Luffy mengeliminasi jaraknya dengan Gray.
"Lu... Luffy... sketsa lambang fairy tailmu bagus... hehehe...."
"..." Luffy melangkah lebih dekat.
"Luff... manusia bisa khilaf...."
"..." Luffy masih dalam ekspresi yang tadi.
"Gyaaaa~~~ Ampun~~~" teriak Gray panik. Teriakanya merupakan satu kesalahan fatal. Detik itu, tepat pada saat bel tanda istirahat selesai melolong ke segala penjuru sekolah, tubuh Gray melayang ke bawah. Melayang dalam slow motion, terbanting dalam fast motion yang...
Brakkk!!!
"Upss..." Luffy menutup satu matanya, tak bisa membayangkan betapa remuknya tubuh Gray detik itu.
"Aku kan hanya mau tanya, lambang fairy tail itu seperti apa... kok malah ketakutan sih..." desis Luffy, takut-takut menjulurkan lehernya ke jendela. Nampaklah, tubuh gagah yang terbaring, berbanting tanpa harga diri di bawah sana. Tentu tanpa harga diri, dalam pose super memalukan, Ia masih saja dikelilingi fansgirlnya (yang notabene adalah ex Luffy`s fansgirl). Mau Ia kemanakan mukanya setelah kejadian ini ya?
"Aku baru tau kalau wajahku kelewat angker, sampai-sampai Gray seperti itu," ujar Luffy, meringis geli, sekaligus menyesal.
Luffy menyelesaikan coretan terakhir pada sketsanya. Telinganya tak dapat menangkap sepatah katapun ucapan sang guru. Kepalanya terasa sangat berat untuk ditegakkan, dan kesadaranya sudah tak sanggup mengordinasi otak untuk bekerja semestinya. Ia lebih memilih tenggelam dalam buku sketsanya. Soal hukuman bisa dipikir nanti, pikirnya sembarangan.
"Ssstt... Luff," bisik Zorro, "Gila kau!"
"Diam ah! Berisik tau!" balas Luffy.
"Bu Uru melihatmu tau!" sambung Sanji.
"Peduli amat! Dia kan bukan guru kelas kita!" Luffy membalas dengan cuek. Ia memandang pada guru muda seksi yang tengah menjelaskan materi yang amat membosankan pada para murid. Sebenarnya dia guru anak-anak IPA 1. Rambut gelapnya dan matanya yang jernih redup sempat menjadikanya primadona di setiap kelas. Tapi tidak untuk Luffy. Huh... bosan!
"Ada yang bisa mengerjakan soal diatas?" guru itu -Luffy bahkan tak ingat siapa namanya- berbalik, tersenyum manis pada para penghuni kelas.
"Taruhan, pasti tidak ada yang bisa! Kecuali Vivi atau jagoan IPA terpercaya yang lain," bisik Luffy pada Ussop. Bisikan yang hanya dibalas anggukan tanpa suara.
"Hmm... mungkin kau?," ujar sang guru.
Plakk!
"Ugghh..." seru Luffy ketika sebotol tinta baru melayang dan mendarat dengan cepat di kepalanya. Tawa rekan-rekan sekelasnya pun menggema. Luffy mengerutkan kening kesal, Ia mendongak. Kini matanya berpandangan dengan guru muda itu.
"Kenapa anda melempar saya?," tanya Luffy datar.
"Karena kau tidak fokus pada pelajaran yang saya berikan," jawab guru itu. Juga dengan suara yang sangat datar. Ia juga berjalan mendekati Luffy.
"Anda tak perlu melempar saya!" ujar Luffy. Tapi untuk kali ini kalimatnya tidak mendapat balasan dari sang guru.
"Ada berapa persen ilmu yang masuk ke dalam kepala kosongmu barusan?" tanyanya kemudian.
"jangankan ilmu, nama anda saja saya tidak ingat," jawab Luffy dengan suara polosnya. Jujur, tapi nekat. Kalimat yang membuat pupil mata guru muda itu mengecil drastis.
Mereka bersitatap untuk beberapa detik lagi. Tanpa Luffy sadari, wanita itu menggerakkan tanganya dengan cepat, menyita buku sketsa Luffy.
"Jangan!," seru Luffy seketika.
"Tuntaskan soal di papan tulis, atau katakan selamat tinggal pada bukumu ini," kata sang guru dingin.
glek! kali ini ada butir keringat dingin mengaliri pipi mulusnya. Kaki Luffy gemetar sedikit, mati aku! batinya
"Ada apa? Ayolah, ini tidak sulit kan?," guru itu tersenyum ceria. Ia duduk dan melipat kakinya. Tanganya membuka lembar demi lembar buku Luffy dengan santai. Luffy melihat ada tatapan mengejek di sudut mata abu-abunya.
"Ini semudah menggambar," kata guru itu lagi, beberapa detik setelah Luffy masih saja berdiri tanpa ada tanda-tanda akan mengerjakan soal maut itu.
"Kalau tidak salah habis ini ada ulangan..." ujarnya lagi.
Luffy menggertakkan giginya. Guru sialan! Ia mencoba melirik badge nama pada dada wanita itu, mencari tau, siapa namanya. Ur. Ya, namanya adalah Ur. Wajahnya memerah, marah dan malu ketika beberapa orang murid mulai tertawa pada ekspresi bodoh Luffy.
"Maaf," seru Vivi tiba-tiba. Ia berdiri dan berkata, "Izinkan saya membantunya,"
"Bagus, silahkan kalau begitu," jawab Ur pelan. Vivi bangkit setelah itu, mendekati Luffy dan mengambil alih spidol besar di tangan Luffy. Ia mulai mengerjakan soal itu dengan mudah. Beberapa kali Ia membisiki Luffy tentang cara menyelesaikan soal itu. Luffy juga mencoba mencermatinya sembari mengengguk-angguk sok tau.
Teeeettttt.....
Tepat pada saat Vivi mengakhiri pekerjaanya, bel istirahat menjerit.
"Terimakasih ya Vi, " kata Ur sambil menutup buku sketsa Luffy.
"Sama-sama, " jawab Vivi sopan.
"Sedah kelar kan? kalau begitu kembalikan buku saya!" pinta Luffy. Ur tak menjawab, Ia malah tersenyum dan melempar senyuman manis pada murid bandelnya itu.
"Kembalikan!" pinta Luffy lagi. Ur berdiri. Wajahnya yang teduh tenang itu masih bertahan dalam ekspresi tadi.
"Ambillah tanggal empatbelas Februari nanti," jawab Ur.
"???"
"Hanya intuisiku, tapi sepertinya, pada tanggal itu kau akan mendapat masalah yang akan merubah kehidupan persahabatanmu," lanjut Ur. Suara berwibawa yang misterius di telinga Luffy.
"M... maksudmu....?"
Ur tersenyum. Tangan kanan mulusnya yang terasa dingin menyentuh pipi Luffy. Dan tangan kirinya mengibaskan selembar kertas tepat di depan mata Luffy. Undangan pesta valentine dari Natsu yang memang Luffy selipkan di buku sketsa itu.
"Paham?" tanyanya.
"Aku tak bisa memahami apapun yang anda katakan,"
Satu persatu penghuni kelas mulai keluar ruangan. Tinggallah Luffy, Vivi dan guru aneh itu.
"Jelaskan kepada saya, apa yang akan terjadi," kata Luffy dingin.
"Aku tidak tau, Nak. Sudahlah, jangan tanyakan itu," kata Ur. Ia melepas tanganya dari pipi Luffy, "Tapi ingat kataku, apapun yang terjadi antara kalian, jangan libatkan dua anak yang kusebut ini,"
"Si... siapa maksud anda?"
Mereka diam untuk beberapa saat, sampai akhirnya Ur membungkuk, membisikkan sebuah nama. Upss...
"Ta...tapi..."
"Ingat itu," bisik Ur sebelum Ia melangkah pergi, meninggalkan Luffy yang langsung merinding. Suara Ur terdengar merasuk terlalu dalam...
"Luff? Guru Ur bilang apa tadi?" tanya Vivi heran. Mereka berjalan beriringan menyeberangi lapangan basket yang kebetulan lenggang tanpa anak-anak yang bermain.
"Ti... tidak apa-apa kok, jangan khawatir. Oh ya, pesta valentine nanti kau jadi ikut denganku kan?" Luffy tertawa ceria, memandangi Vivi.
"Ah! Itu dia, aku lupa, sebenarnya yang (sangat) ingin pergi denganmu valentine nanti itu bukan aku, tapi Nami. Dia ingin bilang kemarin waktu kau mau bertanding basket itu... tapi tidak jadi..."
"Nami?," seru Luffy heran, "Kenapa?"
"Upss..." Vivi berhenti. Wajahnya pucat sekarang, "Salah bicara..." desisnya.
"Oh... kalau kau tidak mau ikut ke pesta denganku ya tidak apa-apa kok..." ujar Luffy. Ia pun merasa bersalah pada Vivi.
"Bu... bukan... tapi..."
"Nanti aku bilang Nami deh... tak apa kok..." katanya, pasrah.
"Luff... aku juga mau ikut..." bisik Vivi. Luffy kaget menagkap tatapan harap pada kedua mata Vivi.
"Boleh... tentu saja... bukan masalah menurutku..." Luffy menghentikan langkahnya, "... akupun juga ingin kau ikut..."
Mereka berdua tersenyum.
"Yuk, kita pergi! Habis ini ulangan lho! " seru Luffy. Tatapan ceria dan tawa kekanakanya kembali. Suasana cair kini. Vivi pun tersenyun lembut, lalu melangkah di belakang Luffy.
"Tentu..."
"Sialan!" gebrakan kaki jenjang itu menerbitkan suara super keras. Nampak retakan kecil pada meja kayu tak berdosa itu.
"Aku tak menyangka anak-anak topi jerami sekejam itu!" keluh seorang pemuda.
"Aku juga tak menyangka kalau merekalah yang merencanakan pemutusan jalur contekan ini!" timpal yang lain.
Brakk!
Gebrakan yang tak kalah keras itu terdengar. Natsu mengangkat kakinya keatas meja. Suaranyapun melengking, "Mustahil Luffy dan kawan-kawanya yang merencanakan pemutusan jalur contekan ini!"
"Oh, jangan membela mereka terus deh!" seru Rocky, orang yang menggebrak meja pertama kali tadi.
"Rocky benar!" dukung seorang pemuda brmata sipit, Leon namanya.
"Aku setuju! Rocky dan Leon benar!"
"Dengar! Gerald pun setuju!"
"Kita hajar saja Luffy dan teman-temanya!"
"Pulang sekolah nanti matilah mereka!"
"Jangan!!!!" jerit Natsu, "KALIAN SEMUA GILA!!!"
Ketiga pemuda oitu melayangkan pendangan horor pada Natsu.
"Aku tidak takut! Akan kubela kelompok topi jerami itu! Kita harus menyudahi perseteruan ini teman-teman!" seru Natsu tanpa peduli tatapan horor teman-temanya.
Rocky, Gerald dan Leon pun melotot, mereka mendekati Natsu dengan tatapan sadis.
"JANGAN CEREWET!" seru ketiganya.
bRAKK! Brakkk! Brakk!
"GILAAAA!!!!" jerit Natsu yang mulai kehabisan nafas di dalam loker.
"KALIAN GILA!!!!" jeritnya lagi. Percuma! Tak ada seorang pun yang menyadari ada makhluk aneh berambut merah tersekap di dala loker detik itu!
"KUBAKAR KALIAAAANNNN~~~!!!"
TBC
