Disclaimer: PS Company, Under Records

Fandom [s]: the GazettE

Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'

Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv

Enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

.

Previously, on Smile Aoi-kun!:

Uruha, Ruki, Reita dan Kai akhirnya ikut pulang. Memang tidak asyik kalau tidak ada sang Leader. Mereka berencana suatu saat nanti mereka akan mengajak anak-anak Alice Nine kemari juga. Dengan perasaan senang, malu, campur aduk, Sakura yang menerima tawaran Aoi akhirnya berboncengan dengan pemuda itu. sedangkann Ruki nebeng dengan Reita. Uruha dan Kai menaiki motor mereka masing-masing dan setiap motor mulai membawa mereka pulang.

OwOwOwOwO

Hati Aoi sama dag-dig-dug nya dengan Sakura. Bagaimana tidak? Ia membonceng cewek yang ia sukai selama satu semester ini. Sejak Aoi melihat Sakura waktu MOS, ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan hebatnya lagi entah takdir atau apa rumah mereka berada dalam satu atap.

Bukan… Bukan artinya mereka tinggal serumah! Mereka berdua tinggal di apartment yang sama. Tentu saja berbeda kamar. Aoi tinggal di lantai tiga sedangkan Sakura tinggal di lantai dua. Sepertinya ungkapan 'Jodoh tidak akan kemana' terbukti dengan jelas diantara mereka. Kamar mereka berdua hanya terhubung dengan atap untuk Sakura dan lantai untuk Aoi. Intinya, tempat tinggal mereka tidak hanya seatap namun juga berdekatan. Sakura tinggal di kamar nomor 218 sedangkan Aoi tinggal di kamar 318. Fuh, memang jodoh tidak kemana~

.

-Flashback-

.

"Jadi. Dimana rumahmu?" tanya Aoi. Tentu saja ia akan bertanya dimana rumah Sakura. Memangnya kamu mau mengantar pulang seseorang kemana kalau bukan kerumahnya?

"Ng.. Cukup jauh dari sekolah. Kau tahu daerah Y?" Jawab sekaligus tanya Sakura.

"Yup. Aku sangat tahu daerah itu. rumahku juga di sana." Balas Aoi.

"Hm? Oke.. Aku tinggal sendiri di apartment kecil di daerah itu. Turunkan aku di minimarket MonkeyMajik saja, apartment-ku hanya tiga blok dari sana." Kata Sakura.

"Eh? Aku akan mengantarmu sampai rumah! Aku tidak mau bertanggung jawab bila nanti kamu diganggu om-om mesum! Di sana banyak tahu!" Peringat Aoi dengan pandangan khawatir.

"Ng… Terima kasih atas perhatianmu Aoi-senpai. Tapi sungguh aku bisa menjaga diri kok." Kata Sakura tidak enak.

"Aku tidak peduli. Bagaimanapun juga kamu ini PEREMPUAN!" paksa Aoi sambil menekankan kata-kata terakhir.

"U, uh baiklah.. Dasar keras kepala!"

"Sudahlah ==; Dimana apartment-mu?" Tanya Aoi menengahi debat.

"Daerah Y, blok 7 nomor 45-48. Catnya warna turquoise." Jawab Sakura malas. Mata Aoi terbelalak tidak percaya.

"SUMPEH LO?" tanya Aoi tidak percaya

"SUMFEH MAS!" balas Sakura kesal.

"L, lantai berapa? Kamar nomor berapa?"

"Mau nge-stalk aku ya? ==" Tanya Sakura curiga.

"Sumpah nggak! Cuma tanya." Dusta Aoi.

"Hhh.. Kamar nomor 218 lantai dua." Jawab Sakura mengalah.

Memang sangat susah mengalahkan kepala batu Aoi. Tapi sepertinya untuk meluluhkan hati beku Aoi bagi Sakura pasti mudah *dihajar Sakura*. Aoi menelan ludah. Oh great, ia seatap dengan gadis yang disukainya.

"Kamu tidak bercanda 'kan?"

"Buat apa aku bercanda senpai! Aku tidak mungkin membuat diriku sendiri tersesat! Aoi-senpai kenapa sih?"

"Aku tinggal di tempatmu juga." Kata Aoi akhirnya.

"….." Sakura diam saking shock-nya.

"Sejak sebulan yang lalu." Lanjut Aoi.

"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Tanya Sakura bingung.

"Entahlah."

"Ah! Benar juga. Aku selalu berangkat pukul enam pagi meski sekolah mulai pukul delapan." Ucap Sakura.

"B, buat apa datang sepagi itu?" Tanya Aoi heran.

"Aku harus bekerja paruh waktu dulu di toko pakaian Goth-Lollita delapan blok dari apartment." Jawab Sakura mengingat Rame si pemilik toko.

"Ya sudah ayo naik." Ajak Aoi.

.

-Flashback end-

.

Motor Aoi terus melaju menyusuri jalan kota. Hari sudah semakin sore. Sesekali Sakura mengecek jam tangannya.

'sudah pukul lima! Kalau terlambat masuk kerja Jui atau Tero bakal marah padaku w' batin Sakura.

Sepertinya keberuntungan berpihak pada Sakura. Tepat pukul 17:15 mereka sampai di apartment bercat turquoise itu. Aoi memarkirkan motornya di tempat yang sudah disediakan pemilik apartment. Sakura mengembalikan helm Aoi dan berterima kasih pada cowok itu.

"Darimana Sakuchuw kok baru pulang?" tanya pemilik apartment yang kebetulan sedang menyirami tanaman.

"Ah, Miku-san! Aku baru jalan-jalan sebentar dengan teman-teman." Jawab Sakura sambil tersenyum hangat. Cowok cantik di hadapannya memperhatikan siluet tubuh Aoi sejenak. Tersenyum penuh arti ia memandangi dua pasangan di depannya.

"Ah, sou ka~ Kufufu (?) Kamu Shiroyama-kun dari lantai tiga 'kan?"

"Iya."

"Ganbatte~" bisik Miku pada Sakura. Sakura ber-blushing pelan dan mulai masuk ke dalam.

Sakura berjalan menyusuri koridor dan sampai pada lift kuno. Ia dan Aoi memasuki lift itu. ketika lift berhenti di lantai dua, Sakura segera menggerakkan kakinya keluar dari lift karena tidak nyaman dengan kecanggungan diantara mereka. Namun sebelum ia bisa keluar dari lift sepenuhnya, tangannya ditahan oleh Aoi.

"E, eh? Ada apa?" Tanya Sakura malu.

"Setelah ini ada acara?" tanya Aoi sambil menahan pintu lift.

"Aku pukul 18:30 harus bekerja." Jawab Sakura sambil mengingat.

"Pulangnya?"

"Pukul Sembilan. Kalau lembur pukul sepuluh bahkan lebih." Jawab Sakura.

"Biasanya naik apa? Malam sekali kamu pulang. Apa tidak mengganggu belajarmu?" komentar Aoi.

"Y, yah tidak mengganggu belajarku kok. Aku belajar pagi. Biasanya naik kereta atau jalan kaki. Tapi kalau sudah terlalu malam salah seorang karyawan akan mengantarku." Jelas Sakura.

"Panggil aku kalau mau berangkat dan pulang. Aku antar. Ini nomor dan email-ku." Ucap Aoi sambil menuliskan sesuatu di kertas sobekan lalu menyerahkannya pada Sakura.

"Tidak perlu repot-repot!"

"Aku tidak merasa kerepotan. Sudahlah! awas kalau kamu pergi tanpa bilang-bilangn padaku!" kata Aoi mulai keras kepala.

Sakura menghela nafas dan menyanggupi permintaan –atau lebih tepatnya perintah- Aoi. Akhirnya gadis itu berpamitan pada Aoi yang dibalas dengan ucapan 'hn' saja membuat cewek itu kesal. Sakura berjalan cepat menuju kamarnya yanga ada di urutan ke delapan belas dari lift. Ia tergopoh-gopoh membuka pintu kamar. Dilemparnya tas sekolah ke atas sofa. Ia duduk dengan frustasi di balik pintu kamar.

Perasaanya tidak menentu. Ia masih tidak mau mengakui. Bukan, bukan tidak mau. Ia hanya belum mau mengakui bahwa ia mencintai Aoi. Bukan suka atau sayang. Tapi ia cinta. Sakura menghela nafas dan melihat jam dinding bentuk kepala nanas mesum dari anime yang cukup terkenal. Yup, sang kepala nanas mesum yang selalu tertawa dengan abnormalnya (baca: tertawa "kufufufu"). Sepertinya ada cukup waktu untuk mandi. Sakura mengunci pintu yang ada di belakangnya. Kemudian ia membuka kancing kemejanya dan berjalan menuju kamar mandi.

.

-Aoi's Room-

.

Seperti hal-nya Sakura Aoi juga terduduk frustasi di sofa-nya. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia memegangi bibirnya. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan. Ia menarik tangan Sakura dan memaksa gadis itu untuk menerima tawarannya. Aoi sebenarnya sangat khawatir karena baru kemarin di TV banyak memberitakan tentang pelecehan di daerah tempat Sakura bekerja. Pelakunya pun beragam. Mulai yang seumuran dengannya sampai om-om.

Aoi hanya tidak ingin gadis yang dicintainya disakiti dan dinodai begitu saja. Tunggu dulu. CINTA? Aoi kaget dengan isi pikirannya sendiri. Aoi tidak sadar kalau ia bukan hanya sekedar 'menyukai'. Aoi juga mencintai gadis dengan nama bunga khas Jepang itu. Ia membuka flip HP-nya dan mengecek jam yang tertera di sana. Masih pukul 5:23. Tentu saja masih ada waktu lebih dari setengah jam untuk menyegarkan diri. Maka Aoi melangkahkan kakinya ke kamar mandi sambil melepas satu persatu kancing kemeja putihnya *author mimisan*.

.

.

.

.

Sakura sudah bersiap dengan mantel hitam yang menutupi baju 'kerja' nya. Kenapa author memberikan tanda petik? Karena baju kerja Sakura tidak seperti baju kerja lainnya. Nanti kalian akan tahu *smirk*. Gadis itu bersiap dengan sepatu pink dengan style ala Lolita yang juga merupakan property seragam. Ia menuruni tangga karena malas menggunakan lift yang hanya akan membawanya ke lantai satu. Sesampainya di lobby, ia bertemu dengan Bou, sahabat dekat Miku yang juga tinggal di apartment ini.

"Selamat sore Sakura-chan." Sapa Bou riang.

"Selamat sore Bou-san." Balas Sakura tidak kalah riangnya.

"Mau bekerja ya?" Tanya Bou saat ia melihar Sakura sudah memakai sepatu Light pink.

"Yup! Bou-san tidak bekerja?" tanya Sakura balik.

"Tidak~ Sampaikan salamku pada Rame-chan! Aku hari ini ada janji dengan Mana." Jawab Bou enteng sambil meminum tehnya.

"Baiklah, kuharap Rame tidak marah." Balas Sakura mengangkat bahu. Ia merogoh kantong mantel-nya dan membuka flip handphone merahnya.

"Oh tidak! Rame tidak akan marah Sakura. Yang marah adalah si Jui atau Tero. Btw, sedang apa? tumben tidak langsung berangkat. Sekarang sudah pukul enam lho." peringat Bou sambil memasukan beberapa blok gula.

"Memberitahu Aoi-senpai bahwa aku akan berangkat. Katanya aku bakal diantar olehnya." Jawab Sakura.

"Tunggu dulu. Maksudmu Aoi Shiroyama dari 318?" tanya Bou heran.

"Yup. Dia kakak kelasku di sekolah. Dan ia dengan seenak dengkulnya berkata ia akan mengantarku pulang pergi." Jawab Sakura enteng.

'TOK!'

"Siapa yang seenak dengkul Chibi?" ucap Aoi malas setelah memukul pelan kepala Sakura dengan kunci motor.

"A, aduh! Aoi-senpai ih!" seru Sakura sambil memegangi kepalanya.

"Apa sih, pelan juga!" balas Aoi membela diri.

"Selamat sore Shiroyama-san ^^" sapa Bou.

"Ung? Selamat siang.. Ng.. AH! Bou!" balas Aoi.

"Bagus! rupanya kau sudah mulai menghafal semua penghuni di sini!" sahut Bou riang.

"Ahaha iya. Karena siapa lagi yang nanti akan kumintai tolong ketika terjadi sesuatu padaku kalau bukan penghuni di sini?" Kata Aoi senang.

"Memangnya mana keluargamu?" Tanya Sakura.

"Ayah dan Ibuku tinggal di New York bersama adik perempuanku. Jadi yang tinggal di Jepang hanya aku." Jawab Aoi.

"GYAA! Sudah jam enam lebih sepuluh menit! Ayo senpai! Aku bisa terlambat!" seru Sakura panik.

Bou dan Aoi hanya geleng-geleng. Aoi dan Sakura kemudian berpamitan dengan Bou dan berjalan keluar apartment menuju parkiran. Di sana sepeda motor Kawasaki ninja warna merah Aoi sudah menunggu dengan sabar. Dengan kecepata yang tidak biasa, Aoi memacu sepeda motornya membuat mantel beserta lapisan rok baju Lolita-nya tersibak sedikit. Sakura menutupinya dengan segera sambil blushing.

Sakura menunjukkan arah menuju tempat kerjanya. Tidak sampai tujuh menit, mereka sudah sampai di tempat kerja Sakura. Aoi menurunkan kakinya dan membiarkan Sakura turun dari motor. Ia memandangi toko yang ada di depannya itu.

"Kau yakin ini tempatmu bekerja?" Tanya Aoi ragu.

"Tentu saja! Kau pikir sudah berapa lama aku bekerja part-time di sini heh?" Balas Sakura kesal.

"Memang sudah berapa?"

"Hhh.. Tiga tahun. Aku sudah bekerja di sini selama tiga tahun sejak aku kelas satu SMP." Ucap Sakura.

"Wow. Kau bekerja di TOKO BAJU GOTH-LOLI?" tanya Aoi lagi sambil menekankan empat kata terakhir.

"IYA. Aku adalah designer sampingan dan SPG. Puas?" Tantang Sakura.

"Dengan otakmu itu?"

"TENTU SAJA! AAAAAH! Aoi-senpai jelek! D:"

"Ahahaha maaf Sakura. Sudahlah sana bekerjalah yang benar. Nanti aku jemput." Kata Aoi sambil memnepuk dan mengelus pelan kepala Sakura, kembali membuat gadis itu blushing.

"O, oke."

"Jangan lupa ya, aku minta fotomu dengan baju Lolita~" goda Aoi sambil menyalak kembali mesin motornya.

"IH! NEVER!" jerit Sakura kesal.

Aoi meninggalkan gadis itu sebelum Sakura sempat menjitak kepalanya. Tapi sungguh, ia benar-benar ingin melihat Sakura mengenakan dress Lolita yang dijual di toko tadi. Sementara itu, Sakura berjalan dengan perasaan bete memasuki toko itu.

"SAKURA! Aku merindukanmu!" seru Shun, salah satu pegawai "MOE-MOE Made-mitte"

"Y, yeah kau mengaggetkanku Shun-san. Wait, kau? merindukanku? Ngga salah nih? Bukankah kita baru bertemu beberapa minggu yang lalu Shun." Balas Sakura sambil melepas tasnya dan menaruh benda itu di dalam meja kasir.

"U, uu… Pokoknya kangen!" seru Shun lagi sambil memeluk pelan Sakura.

"Whoa, jangan peluk-peluk begitu Shun. Nanti ada yang cemburu." Ucap sebuah suara.

"Selamat sore Rame-tan. Maaf aku baru datang." Sapa Sakura pada entah laki-laki atau perempuan *dilemparin pick bass*

"Muu! Rame. Memangnya siapa yang bakal cemburu?" tanya Shun manja.

"Tentu saja yang pertama adalah Giru, Shun. Kemudian yang kedua.. Cowok yang baru saja mengantar Sakura kemari." Jawab Jui.

"UAAH! BENARKAH?" tanya Shun dan Rame terkaget-kaget (?). Jui hanya mengangguk yakin.

"Sumpah aku ngga bohong. Ah iya! Sakura, kau dan Rame dicari Tero untuk rapat design bulan September lho. dia menunggu kalian di ruang rapat." Balas Jui sambil menunjuk pintu putih bertuliskan "STAFF ONLY".

"Oke, makasih Jui. Ayo Sakura. Dan jangan lupa melepas mantelmu." Ajak Rame.

"Eh? Oh iya." Balas Sakura sambil melepas mantelnya menampakkan baju Lolita berwarna pink dengan motif permen warna baby blue.

Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan di balik pintu itu. Sakura memperhatikan Rame sebentar, kali ini leader grup sekaligus pemilik toko ini memakai baju yang tidak jauh berbeda. Baju lollita dengan banyak renda putih, berwarna dasar soft pink, motif carnival yang ceria, kaus kaki putih dengan aksen tali dilengkapi dengan sepatu biru muda yang imut, dan tidak lupa pita besar motif polkadot pink yang menghiasi rambut dark pink-nya.

"Kau belum bercerita apapun soal lelaki itu lho Sakura." Kata Rame.

"A, ah maaf. Aku baru mengenalnya tadi pagi. Tapi aku janji akan menceritakannya nanti pada kalian." Balas Sakura malu.

"Wew, no prob! Tapi ternyata kau hebat juga ya. Padahal belum lama kenal tapi kalian sudah seakrab itu." komentar Rame senang.

"Terima kasih. Tapi bagaimana pun juga dia over protective sekali!"

"Cowok memang begitu… Kalau ia sudah mencintai seorang gadis, maka ia akan selalu menjaga gadis itu. Sama halnya denganku ^^" Ucap Rame.

"Eh? M, masa sih dia menyukaiku?" Tanya Sakura tidak percaya.

"Kalau kau tidak percaya dengan feeling-ku ini, tunggu saja tanggal mainnnya." Jawab Rame sambil mengedipkan mata

"A, ah iya deh.. sepertinya kamu benar Rame-tan."

"Hmf terserahlah ^^. Hei! Ayo, kau belum membereskan rambutmu." Peringat Rame.

"AH! Iya! Aku tidak bisa sih…."

"Dasar, memangnya kamu ini bekerja baru beberapa bulan apa?"

"Ehehe.. Maaf senpai.."

Mereka berdua sudah sampai di sebuah ruangan yang cukup unik. Ruangan itu ber-wallpaper broken white dengan motif merry-go-round, dan aksen permen-permen imut. Di tengah ruangan ada sebuah meja persegi panjang warna dark brown dengan kira-kira sepuluh kursi di setiap sisinya. Di salah satu kursinya, duduklah seorang pemuda dengan rambut dicat cokelat muda dengan highlight merah dikuncir kuda.

"Hai Tero." Ucap Sakura dan Rame bersamaan.

"Ayo rapat~" ajak Tero tidak sabar.

Selama lebih dari dua jam Sakura, Rame dan Tero membicarakan tentang design untuk musim dingin. Sementara Jui dan Shun sibuk melayani toko yang tidak pernah sepi pembeli. Alasanya mudah. Karena design yang digunakkan Rame adalah design favorite selain itu juga harganya cukup terjangkau dan letaknya strategis. Meski tidak berada di Shibuya atau Harajuku, tetap saja akan selalu ramai pembeli.

Sakura sudah lebih dari tiga tahun bekerja di toko dengan konsep gothic lolita ini. Ia dengan senang hati diterima oleh Rame, Shun, Jui, Tero dan Giru karena design Sakura sangat kreatif dan indah. Selain itu juga kepribadian Sakura yang ramah dan easy going membuatnya gampang diterima oleh pelanggan maupun karyawan.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued