Annyeong ^^ . Hallo Minna-san. Salam kenal. Saya Sifa kepanjangan dari Siti Fatimah \ ._.)

Bleach itu punyanya ahjussi © Tite Kubo. Saya Cuma meminjam tokohnya saja #Semoga ga dilempar piring sabun :3

Pairing : IchiRuki

Genre : Romance ( setia sama ini mah saya XD)

Rate : T

Warning : Typo, OOC (banget -_-") cerita kacau, abal

Cerita ini fiksi asli dari hasil imajinatif saya sendiri.

Soul Exchange © _SheWonGirl_

Chap 3 update, maaf sebelumnya gara-gara alergi kumat dan juga flu melanda FFn q ga ke-update sesuai rencana, Maaf banget Minna-san (_ _)"

Chapter III

Jalanan yang terbuat dari besi baja itu terbujur kaku, memanjang hingga beratus-ratus kilo meter dan saat ini sudah matang akibat panggangan matahari musim panas. Banyak orang yang mengeluh panas didalam transportasi umum no 1 dinegeri sakura ini, walau sudah ada air conditionernya. Musim panas ini memang menyiksa apalagi saat ini mereka harus berdesakan dengan penumpang satu dengan yang lainnya. Gerah, gatal, menyebalkan. Kedua remaja yang sejak tadi pagi dianggap sebagai pasangan kekasih itu berdiri agak jauh dari teman-teman yang lainnya. Ini bukan salah mereka, malah sepertinya teman-temannya itu melakukan dengan sengaja.

"Ichigo-kun, menurutmu apa salah kita sehingga jiwa kita bisa tertukar seperti ini?" tanya gadis berambut orange itu.

"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin kau yang banyak dosa?" ucap si pria yang berbadan mungil sedikit mengejek.

Laki-laki berambut orange yang berkelakuan imut itu memajukan bibirnya, sedikit mengerucut. "Urg…. Jawabanmu sama sekali tidak membantu Ichigo-kun." Laki-laki itu menggigit bibirnya kecil.

"Hey, kau tahu. Jangan bersikap imut seperti itu, nanti penggemarku bertambah karenamu," jawab si gadis bersurai raven.

"Jadi kau punya penggemar?" tanya si rambut orange polos.

"Menurutmu?" jawab Ichigo, ia balik bertanya.

"Lihat kan seberapa mereka saling jatuh cinta," ucap Asano penuh pengertian.

"Kita harus benar-benar menemukan metode yang tepat," jawab Sado antusias.

"Kalian tidak perlu ikut campur, itu kan masalah mereka. Jadi mereka juga harus bisa menyelesaikannya," sahut Ishida tenang. Seperti biasa, ia lalu membenahi letak kaca matanya.

"Ishida-kun, kita tidak boleh seperti itu," jawab Inoue.

"Kita paksa saja kakak iparnya menyetujui mereka, kalau dia tidak setuju. Kita tenggelamkan saja ke laut," ucap Keigo, ia menyeringai.

Teman-teman yang lain hanya melotot tak percaya pada ucapan Keigo. Sedang Renji menjitak kepalanya dan Ishida menjawabnya "Kau gila."

_SheWonGirl_

Setelah kurang dari 10 menit mereka naik kereta api ditambah lima menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di taman bermain. Belum ada 2 menit mereka disana, Keigo sudah mengajukan permintaan manja. Menyuruh Ichigo dan Rukia 'bermain berdua' ditaman bermain itu.

"Nanti kita bertemu disini! Ingat jam 1 nanti," ucap Keigo.

"Kenapa harus menunggu jam 1 nanti?" tanya Renji.

"Tentu saja agar kita bisa makan siang bersama," jawab Keigo.

"Baiklah. Ja na Ichigo, Rukia-chan," ucap Mizuiro.

"Baiklah, sampai bertemu annti," ucap gadis berambut raven.

Gerombolan itu meninggalkan mereka berdua agar mereka berdua bisa bermain dengan puas. Setelah dirasa mereka menjauh …

"Lalu, kita mau kemana?" tanya pemuda berambut orange itu.

"Rumah hantu, bagaimana?" tanya Ichigo.

Rukia terlihat berfikir, dia bimbang, sepertinya dia takut jika harus masuk ke rumah hantu.

"Jangan! Maksudku, itu nanti kita, bukan, anu… terakhir, ya ampun susah sekali," ucap pemuda bersuara baritone itu.

Pemuda itu memang benar-benar takut, tapi gadis disampingnya itu menangkap sesuatu yang lain.

"Kau grogi ya? Tidak pernah berkencan seperti ini?" tanya Ichigo.

Muka pemuda berambut orange itu memerah malu. "Memang," jawab Rukia tegas.

Ichigo tersenyum mengejek lalu berkata,"Kalau begitu kau saja yang memutuskan."

"Photobox?" tawar Rukia.

"Memangnya kenapa kau ingin ke photobox?" tanya Ichigo.

Pemuda berambut orange itu langsung menjawab,"Kau tahu Ichigo-kun, sejak kita bertukar tubuh aku seperti melihat sisi lain dari diriku jadi aku ingin mengabadikannya," jawab Rukia.

"Nilai positif atau negatif?" tanya Ichigo lagi.

"Positif," jawab Rukia mantap. "Aku jadi terlihat lebih macho, cool, cantik dan ada aura intelektual serta manis."

Ichigo mengangguk setuju. Sepertinya gadis itu termakan rayuan Rukia sehingga dia meng-iya-kan permintaan Rukia atas dirinya.

"Ayo, sepertinya ini akan sangat menyenangkan," jawab Ichigo, dia mendahului pemuda disampingnya berjalan dari tempat mereka semula berdiri. "Kalua kau tidak buru-buru menyusulku aku nanti akan menghilang," ucap Ichigo, dia berbalik memperingatkan gadis yang menempati tubuhnya itu. Ichigo mengulurkan tangannya kepadanya.

Pemuda berambut orange itu menggembungkan pipinya kesal tetapi dia menerima juga uluran tangan gadis didepannya. "Maaf karena tubuhku pendek," jawabnya tetapi dia juga mencubit lengan gadis disampingnya.

"Aw … sakit," ucap Ichigo imut.

Rukia mengedipkan matanya berkali-kali, "Hanya sedikit," jawabnya. Lalu dia menjulurkan lidahnya, mencibir Ichigo. "Jadi manusia yang terlalu tinggi itu memang menyenangkan."

_SheWonGirl_

Setelah setengah jam mereka didalam photobox untuk memotret diri mereka, sekarang mereka keluar dan menunggu hasilnya.

"Wah, keluar," ucap Rukia antusias. Dia mengambil photonya lalu melihat-lihatnya.

"Hey, melihatnya nanti saja! Ayo, bersenang-senang lagi," ucap gadis itu. Ia merebut pelan photo yang dibawa pemuda itu. "Sini biar aku bawakan, aku kan yang membawa tas," ucapnya.

"Ehnn…" jawab pemuda itu senang."Lalu kita mau kemana?"

"Ikut aku. Aku mau beli permen kapas," jawab gadis bersurai raven.

"Oh, oke," jawab pemuda itu sambil mengikuti gadis didepannya. Tentu saja tangan mereka bergandengan lagi.

"Oh ya Ichigo-kun, kau mau apa dengan permen ini?" tanya Rukia ketika mereka sudah membeli permen kapas berwarna putih itu. Sekarang mereka duduk dibawah pohon disalah satu spot di taman itu.

"Sebenarnya aku tidak yakin, tapi bagaimana kalau kita mencoba ciuman kapas?" ucap Ichigo, dia tidak berani menatap wajah dirinya sendiri yang ada di sampingnya itu. Dia menerawang jauh pandangan didepannya, sedang pemuda itu menatap wajah gadis disampingnya lalu menunduk malu.

"Bagaimana?" tanya gadis itu, dia menggaruk kulit kepalanya pelan.

"Aku …. Setuju. Semoga saja ciuman bisa mengembalikan kita," jawab pemuda itu pelan. "Tapi, apa Ichigo-kun tidak merasa risih?" tanya Rukia.

"Kalaupun risih, kau juga kan? Aku harusnya juga bertanya padamu tapi ini masalah mendesak kan?" tanya Ichigo, mata amethyst nya menatap mata hazelnya sendiri.

"Baiklah, ayo kita mulai," jawab Rukia.

Ichigo dan Rukia saling berhadapan. Gadis itu meletakkan permen kapas putih diantara mereka. Sedikit demi sedikit mereka memakannya. Saat bibir mereka hampir saling bersentuhan Rukia menutup matanya. Tetapi ….. Jolt … Rukia seperti teringat sesuatu jadi dia memundurkan kepala orangenya.

"Kenapa mereka berhenti sih?" tanya Keigo. "Padahal aku hampir mendapat gambar yang bagus." Keigo membawa kamera digital yang sudah diletakkan didepan dirinya untuk memotret mereka.

"Pasti ada kesempatan lagi," jawab Sado.

"Benar, bersabarlah," jawab Mizuiro.

Ketiga teman Ichigo ini mengawasi Ichigo dan Rukia, sedang ke-4 yang lainnya tentu saja nge-date dengan pasangan masing-masing.

Ichigo yang tidak memejamkan matanya tentu saja langsung menyadarinya. Gadis itu sedikit kaget.

"Ada apa?" tanya Ichigo.

"Itu…. yang mencium duluan… erm…. siapa?" tanya Rukia.

Ichigo tertawa lepas, membuat suara tubuh mungilnya terdengar sangat keras.

"Bukankah sama saja?" tanyanya.

"Tapi, sekarang yang jadi laki-lakinya kan aku, tapi aku belum pernah errrmm… ciuman," jawab Rukia polos.

"Baiklah, aku saja yang memulainya. Ayo!" jawab gadis itu.

Mereka memulainya lagi. Saat bibir Ichigo bertemu dengan bibir Rukia, pemuda itu memundurkan dirinya cepat. Ciuman itu berlangsung singkat.

"Sepertinya ini tidak berhasil," ucap Rukia.

Gadis didepannya itu mengelus kepalanya sayang. "Sudahlah, nanti kita berusaha lagi," jawab Ichigo.

"Aku berhasil," teriak Keigo senang.

"Kerja bagus," ucap Mizuiro

"Selamat, akhirnya kau mendapatkannya," jawab Sado.

_SheWonGirl_

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, mereka sudah berkumpul di café yang ada di taman hiburan itu dan memesan makanan disana. Mereka duduk saling berhadapan dengan couple-nya masing-masing.

"Aku tidak lapar jadi aku tidak memesan makanan," ucap Rukia. Pemuda itu tersenyum tipis.

"Kau sedang diet ya, Ichigo?" tanya Tatsuki mengejek.

"Tentu saja tidak, untuk apa aku diet segala?" sela si gadis berambut raven. Teman-temannya langsung menoleh ke arahnya. Segera dia menyadarinya lalu membenarkan ucapannya,

" Maksudku untuk apa Ichigo diet segala? Tadi dia bilang mau makan es krim saja."

Teman-temannya secara kompak menoleh kearah Ichigo. "Ah, ya benar aku ingin makan es krim, tadi aku sudah bilang ke Rukia, jadi kalian tidak perlu khawatir," jawab Ichigo tegang.

Keigo tertawa lepas dan menyebabkan perhatian ke arahnya. "Ya ampun, kalian itu benar-benar pasangan yang manis," ucapnya.

"Kami bukan pasangan," jawab Rukia dan Ichigo bersamaan.

"Tidak perlu menyangkal lagi kan. Tenang saja, kami merestui kalian," jawab Mizuiro.

"Sudah kompak begitu kenapa harus menyembunyikannya," ucap Ishida, dia membenarkan letak kaca matanya lagi.

Pelayan sudah dating kearah mereka lalu meletakkan pesanan diatas meja.

"Terserah kalian lah, yang penting es krimku sudah datang," jawab Ichigo ceria dan itu menimbulkan kecurigaan lagi pada teman-temannya. Ichigo menyenggol kaki Rukia dan pemuda itu malah menjawab,"Kau mau juga ya? Bilang aaaa…. Dan aku akan menyuapimu," ucap Rukia.

Gadis itu menyernyit tidak suka tapi karena teman-temannya memperhatikannya dan – mungkin– hal ini bisa menjadi lebih buruk, dia membuka mulutnya juga dan menerima suapan dari Rukia.

"Dasar," ejek Renji sambil menggelengkan kepalanya. Dua orang itu walau tidak mau mengakui tapi perilakunya lah yang menunjukkan!

_SheWonGirl_

"Jadi kau benar-benar takut?" tanya Ichigo ketika mereka sudah berada di dalam rumah hantu.

Walau Rukia berkata Rumah hantu akan menjadi kunjungan terakhir mereka-secara tidak langsung- rupanya Ichigo tidak sabar melihat Rukia ketakutan, jadi setelah mereka makan siang, mereka berpisah lagi melanjutkan penelusuran di taman bermain Karakura.

"Kau benar-benar jahat Ichigo-kun," ucap pemuda rambut orange itu ketakutan. Walau dia marah tetapi Rukia tidak melepaskan cengkeramannya dari lengan Ichigo.

"Apa aku pernah bilang aku baik," canda Ichigo.

"Pokoknya cepat keluarkan aku dari sini," ucap pemuda itu, dia hamper menangis lagi.

"Baiklah, kita tidak akan melanjutkannya lagi, ayo keluar," jawab Ichigo, dia menuntun Rukia keluar dari sana.

Setelah mereka dari sana, mereka naik roller coaster bersama, boom boom car, dan yang terakhir adalah bianglala.

Saat mereka menaiki bianglala, matahari sudah hampir tenggelam diufuk barat sana. Rukia bahkan menangis tanpa sebab.

"Kau kenapa?" tanya Ichigo, dia memposisikan dirinya duduk disamping Rukia, Rukia tidak segera menjawabnya tapi malah melihat ke arah matahari.

"Lima tahun yang lalu, terakhir kalinya aku dan keluargaku datang kemari dan saat itu juga kematian orang tuaku karena kecelakaan," jawab suara baritone itu, Ia terdengar begitu sedih.

Sedikit tercekat dia melanjutkan, "Kakaku berusaha keras menghidupi dirinya dan aku."

Gadis disampingnya itu bingung ingin berkata apa, hingga yang dia bisa adalah memeluknya, memberi sedikit ketenangan pada gadis yang sekarang jadi dirinya. Dia tahu kenapa tadi pagi gadis itu tidak menangis saat mereka bertukar jiwa, dia tahu gadis itu gadis yang kuat dan keyakinannya itu terbukti.

_SheWonGirl_

"Kau sudah mendingan?" tanya Ichigo pada gadis disampingnya.

Mereka sudah berjalan pulang kerumah Ichigo dan mereka juga sudah berpisah dari teman-temannya di persimpangan tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.

Pemuda disampingnya itu hanya tertunduk.

"Aku ingin pergi ke toko itu," ucap gadis itu sambil menunjuk toko underwear.

Pemuda disampingnya itu terkejut mendengar permintaan tak terduga dari gadis itu. "Ichigo-kun, jangan bercanda," bentak Rukia.

"Aku tidak bercanda," jawab Ichigo. Dia sudah menarik pemuda disampingnya untuk mengikuti dirinya. Walau sekarang dirinya berbadan perempuan bukan berarti dalam hal tenaga dia kalah.

"Tu….tunggu," ucap Rukia saat mereka sudah berada di depan pintu toko.

"Ada apa?" tanya Ichigo. "Kau aneh sekali."

"Yang aneh itu kau, kenapa menunjuk toko underwear perempuan?" tanya Rukia.

"Kau tidak mau aku memotongi tali bra-mu kan kalau setiap aku mencopotnya?" tanya Ichigo.

"Mana boleh Ichigo-kun berbuat seperti itu, itu kan boros," jawab Rukia.

"Makanya aku mengajakmu kesini agar aku bisa berlatih dirumah, bersamamu," jawab Ichigo.

"Kau tidak pulang kerumah kakakku?" tanay Rukia.

"Tentu aku akan pulang, tapi setelah kau mengajariku,"

"Mana boleh kau pulang telat, kau ini sekarang seorang perempuan, sebaiknya pulang sekarang saja. Besok baru aku mengajarimu," jawab Rukia.

"Tubuhku ini sudah gatal-gatal, aku mau mandi nantinya dan aku harus memakai bra lagi kan?" tanya Ichigo.

Rukia kaget. "Kalau tidur tidak perlu memakainya, bisa menyebabkan kanker," ucap Rukia.

"Tapi besok pagi bagaimana, pokoknya ikut saja," ucap Ichigo.

"Aku tunggu diluar saja, ini memalukan untukmu kan?" tanya Rukia.

"Tidak apa-apa, ikutlah," jawab Ichigo.

Mau tidak mau pemuda itu menuruti juga permintaan gadis didepannya itu. Mereka memasuki toko itu.

"Kau mau warna yang apa?" tanya gadis itu nyaring hingga menyebabkan pengunjung dan pramuniaga disitu melihat kearah mereka bahkan ada yang tertawa.

"Jangan bertanya sekeras itu, Ichigo-kun, warnanya terserah kau saja," bisik Rukia.

Dari belakang mereka seorang pramuniaga mendekati mereka. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"

"Baiklah kalau begitu, carikan aku yang warna orange," ucap gadis bersurai raven itu.

"Anda suka yang warna cerah ya?" tanya Pramuniaga itu pada si gadis tetapi sedetik kemudian dia menatap pemuda berambut orange disampingnya. Pemuda itu sedikit begidik ngeri menatap gadis pramuniaga.

"Begitulah," jawab gadis itu ceria.

"Mau tipe yang apa? Biasa, cute, ling ….?"

Ucapan gadis pramuniaga itu tidak berlanjut karena pemuda itu langsung memotongnya, "Berikan yang biasa saja, dia tidak suka yang aneh-aneh," jawabnya.

"Pasangan anda pengertian sekali," jawab gadis pramuniaga, dia melirik lagi kearah Ichigo saat perkataannya itu dikatakan pada Rukia.

Rukia yang bertubuh laki-laki itu sudah tidak bisa menahannya, antara malu dan marah. "Berikan saja dia yang berbentuk imut atau biasa terserah, ukurannya 34 cup B. Kau puas?" tanya Rukia pada pramuniaga itu.

"Wah, anda tahu sekali," jawab pramuniaga itu.

"Tentu saja karena aku selalu membelinya," ucap Rukia. Lalu dia berbalik arah, keluar dari toko itu, menunggu Ichigo diluar toko.

"Ukurannya lumayan juga," jawab Ichigo.

_SheWonGirl_

"Lain kali jangan berbuat seperti itu, aku sangat malu," ucap Rukia saat mereka sudah berada di dalam kamar Ichigo.

"Sudahlah, cepat bantu aku mengetahui bagaimana memakainnya!" perintah Ichigo.

Tiba-tiba dari ruang tengah telepon rumahnya bordering, segera Ichigo berlari menuruni tangga dan dengan cepat menyambar telepon itu.

"Moshi-moshi," jawab Ichigo.

"….."

"Oyaji baka, cepat kau kembali," teriak Ichigo dengan suara Rukia.

"Apa aku salah sambung? Kenapa putraku berubah jadi perempuan? Kau calon putri ke tigaku ya?" jawab ayah Ichigo senang.

"Aku dan gadis ini bertukar tubuh, pasti kau yang melakukannya kan?" tanya Ichigo marah.

"Nani? Kenapa? Bertukar tubuh? Siapa? Aku tidak tahu maksudmu," jawab Ayah Ichigo.

TBC

Balasan Review :3

Uzumaki kuchiki : Hahahhaha, kadang q buat fic ini juga bingung sendiri cin, kya ada kalimat penjelas yg diulang2 jadi agak susah juga :D. Salah juga mungkin cin, abis mau cari kata yg agak keren ga nemu2 sih XD. Wah kali ini typonya bener2 keterlaluan cin, maaf ya (_ _). Engga papa kok, koment kamu membangun :D. Semangat XD

Naruzhea AiChi : hahahahha, kan keren klo cowo ampe tau kya begitu cin #Pllllaaaakkk . Ntar ada deh, siapa pelakunya XD

Wishy-washy Nara : Hahahahha, biar cin saya juga bingung sendiri ntar itu ulah siapa #Waksss. Semangat juga buat kamu nara, Love You Too XD

Keiko Eni Naomi : Hehehe, terima kasih cin :D

Purple and Blue :3. Rate M for safe? Hahahaha, saya becanda XD. Hehehe, iya cin terima kasih ntar saya ganti deh x3

hendrik widyawati : kkkkk~ tapi ceritaku engga nyampe sekeren itu cin X3

miisakura : Hahahahaha, tapi masi kerenan itu cin XD. Ditunggu di chap lanjutannya ya cin X3. O ya, bole minta alamat fb engga :D

Runriran :khukhukhu #Ketawa bejat bareng Isshin XD. Sipp, pasti cin, ditunggu chap depan ya :D

Sakura-Yuki15 : Biasa mama, kan anak cowok xd. Oke mama, nanti kamu tak tag-in, jangan ampe lupa lagi kaya kemaren x(

MR. KRabs : ada deh mr. krabs, masih jadi misteri, akakakakaka~ XD, terima kasih udah review ya, nanti ditunggu aja updateannya :D

L.C : hehehehe, tentu XD, makasih udah review ya :3

Guest: sebelumnya makasih udah review ya XD, oh kalo bingung gini aja tak kasi contoh ya :D

penjelasnya contoh :"Hey, kau tahu. Jangan bersikap imut seperti itu, nanti penggemarku bertambah karenamu," jawab si gadis bersurai raven. (Ini yang bicara fisik Rukia tapi jiwanya Ichigo)

"Jadi kau punya penggemar?" tanya si rambut orange polos.(Ini yang fisik Ichigo tapi jiwa Rukia)

"Rumah hantu, bagaimana?" tanya Ichigo.(Ini yang bicara benar2 Ichigo yang ada di tubuh Rukia, begitu juga sebaliknya :D)

Kan soalnya mereka bertukar tubuh, jadi Fisiknya Ichigo didalamnya ada jiwa Rukia, dan Fisiknya Rukia didalamnya ada jiwa Ichigo, gitu cin X3)