Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance / Angst

Rated: T

Pairing: SasuSaku

Original Story: Mr Endlessly by angel-puppeteer


Endless Memories

Rewritten by: Akina Takahashi

Chapter 3: The Lost Memories

Siapa kau?

Siapa kau?

Siapa kau?

Inilah saat ketika dunia sempurnanya hancur.

Sesaat, Tsunade mengira murid kesayangannya itu akan menangis.

Naruto, dengan wajah sedih, menggenggam tangan lemahnya. "Sakura-chan…" bisiknya lembut.

Bibir bawah Sakura bergetar, tubuhnya kaku. Ia menutup mulutnya dengan jemarinya yang gemetar.

"…apakah dia—?" bisiknya pelan. Mata hijau cerahnya berubah menjadi lebih gelap.

Sangat menyakitkan. Tenggorokannya sangat sakit. Seorang pemuda yang berwajah sangat mirip Sasuke sedang menatapnya. Dengan penuh susah payah. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda itu dan kemudian menatap wajah Tsunade. "Shishou...?"

Tsunade menghela napas panjang ketika tatapan Sakura menuju ke arahnya.

"Shi…shou... apa-" dia mengalihkan pandangannya kembali kepada pemuda itu, tangannya terjatuh lemas di kedua sisi tubuhnya. "Shishou… dia... dia-"

Tsunade kembali menghela napas "Dia masih hidup."

Mata hijau Sakura membelalak lebar. Jantungnya berdetak kencang.

"Ti… tidak." Sakura bergetar, napasnya tidak beraturan. "Dia… dia pasti hanya seseorang yang terlihat mirip seperti... Sasuke-kun." Sakura kembali diam.

Pemuda itu mengerutkan dahinya. "Apa yang kau bicarakan?"

Sakura membeku dan kembali melihat ke arahnya. Suara seperti Sasuke-kun... wajah yang mirip seperti Sasuke-kun... mata seperti Sasuke-kun...

"Dia masih hidup." Jarinya bertautan di depan dagunya. "Dia... tentu saja, tidak akan mati dengan mudah kan? Dia masih hidup. Ya benar dia..." Tsunade menatap Sasuke.

"Uchiha Sasuke."

Oh Tuhan.

"Itu tidak mungkin, tidak, tidak… dia, dia sudah meninggal... tiga tahun lalu." Suara Sakura bergetar hebat.

Sasuke menatap Sakura. "Aku masih hidup."

Sakura menutup matanya kemudian membukanya kembali secara perlahan. "Tapi— tapi kenapa kau tidak… kembali kesini? Kami—" dia berhenti sesaat. "...selalu menunggumu."

Dia menatap lurus ke mata Sakura. Mata itu. Alisnya berkerut seakan berusaha mengingat sesuatu.

"Hmm kau tanya kenapa aku tidak kembali ke sini?" Sasuke menyilangkan kedua tangannya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sakura menatap wajah Sasuke. Wajah yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.

"Aku bahkan tidak mengenalmu." Jawab Sasuke datar

DEG

Sakit.

Sakit sekali.

Mata Sakura membelalak lebar kemudian dengan perlahan… ia menundukkan kepalanya, Rambut pinknya menutupi wajah dan matanya.

Naruto menggenggam tangan Sakura berusaha menenangkannya sementara ia menggigit lidahnya untuk menghentikan kutukan dan kata-kata kasar yang bisa kapan saja keluar dari mulutnya. Dia menarik Sakura ke arahnya.

"Brengsek, hentikan kata-katamu." Naruto berusaha mengontrol emosinya.

Sasuke hampir saja memukul Naruto jika gadis berambut merah di depannya tidak menahannya. "Hentikan Sasuke!"

Naruto menatap gadis itu dengan tatapan sebal.

"Jangan melihatnya dengan tatapan seperti itu." Sasuke sedikit kesal.

Sakura memaksakan dirinya tersenyum. "Naruto, sudahlah. Aku tidak apa-apa."

"Sudah kukatakan padamu. Kita seharusnya tidak berada di sini." Sasuke menatap Karin dengan tatapan kesal. "Aku tidak memerlukan bantuan untuk mengembalikan ingatanku."

Sakura mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. "Mengembalikan ingatanmu? Kenapa?"

"Dia mengalami amnesia." Tsunade menambahkan.

Amnesia?

"Dia..." Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang menatapnya dengan tatapan dingin .

Tidak bisa mengingatku?

"Dia… tidak bisa mengingatku?"

"Tentu saja." Sasuke menambahkan dengan suara dinginnya membuat Sakura bergetar, hatinya sakit. Naruto menatap Sasuke dengan tatapan marah.

"Siapa orang-orang ini? Kenapa kau memaksaku untuk menemui mereka?"

"Mereka adalah sahabatmu."

.

.

Sahabat.

Sahabat selamanya.

Apapun yang terjadi.

.

.

Uhh…

Sakit.

.

.

"Mungkin itu benar. Tapi itu dulu." Sasuke berbicara dengan nada bicara dinginnya yang biasa.

"Brengsek."Naruto mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya.

Tsunade mengamati Sakura, berbagai emosi bercampur di mata hijau gadis itu. Dia mengira Sakura akan menangis, namun ternyata perkiraannya salah.

"Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu?" gigi Naruto bergemeletuk. "Selama ini, selama tiga tahun ini, aku, Sakura, semua orang di Konoha- " Naruto belum sempat menyelesaikan perkataannya.

"Hentikan." Sakura menarik lengan Naruto.

Naruto melihat ke arah Sakura.

"Sudah hentikan Naruto." Suara Sakura bergetar menahan tangis.

.

Aku tidak akan menangis.

Aku bukan gadis lemah.

Tidak akan.

Tidak akan.

.

Uhh sakit sekali.

.

"Sebaiknya kau ajari temanmu ini etika." Sasuke menatap Sakura tajam.

Sakura hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan emosinya.

Naruto menggigit bibirnya. "Kau kurang ajar sekali, dasar brengsek—" Naruto mengepalkan tinjunya.

"Naruto! Sudah kubilang hentikan. Sudah. Sudah." Sakura memeluk Naruto dari belakang berusaha menghentikannya.

"Aku mau pergi dari tempat ini." Sasuke melihat ke luar jendela.

Karin tersenyum. "Ya. Setelah kau mendapatkan semua ingatanmu yang hilang."

...

"Um, Hokage-sama, Apakah mereka bisa mengembalikan ingatan Sasuke?" Karin memandang Sakura dan Naruto dengan tatapan tidak yakin.

"Tentu saja, Mereka berteman dengan Sasuke sejak kecil."

"Teman?" Tanpa sadar Sasuke mengerutkan alisnya.

"Dan, tentu saja murid kesayanganku itu mau membantunya." Tsunade menambahkan lalu tersenyum. Sakura menggigit bibirnya sesaat lalu memaksakan dirinya tersenyum. Lagi-lagi senyum palsu.

.

Tersenyum

Ayo tersenyum Sakura.

Dia tidak boleh tahu apa yang kau rasakan saat ini.

.

"Membantu apa? Membantunya mengingat masa lalunya?" tanya Naruto

"Ya."

"Tapi…" Sakura menghentikan perkataannya sesaat. "Apakah itu perlu?"

Karin menatap Sakura dengan tatapan heran "Apa maksudmu?"

Berbagai emosi melintas di mata hijau Sakura. "Apakah akan ada masalah bila dia tidak bisa mengingat masa lalunya?"

"Tidak. Tidak perlu. Dan aku tidak peduli dengan masa laluku." Ujar Sasuke datar.

.

Kau tidak mau mengingatku Sasuke-kun?

.

"Tentu saja perlu! Uhh kau ini menyebalkan Sasuke. Untuk apa kita datang jauh-jauh kesini kalau tidak untuk mengembalikan ingatanmu? Tentu saja perlu! Haruno-san kumohon tolong bantu dia!" Karin membungkukkan badannya pada Sakura.

"Tapi…"

"Sakura, bantu dia." Perintah Tsunade.

"Baik." Jawab Sakura

.

.

Seberapa pun sakitnya. Aku akan membantu Sasuke-kun.

Apa pun akan kulakukan.

Jika perlu aku, akan memberikan jiwaku padanya.

Aku tidak berharap dia membalas cintaku.

Aku tidak peduli dia mengingatku atau tidak.

Yang penting bagiku adalah dia masih hidup.

.

.

Bohong!

Kau bohong Sakura!

Kau sangat berharap dia membalas cintamu.

Kau sangat ingin dia mengingatmu.

Dan…

Kau ingin dia bersamamu.

.

.

"Yah, paling tidak dia masih hidup. Aku senang sekali." Sakura tersenyum lembut.

Sasuke memalingkan wajahnya dari Sakura. Perasaan aneh menusuk hatinya.

Gadis ini… siapa gadis ini bagiku?

Dan tentunya dia tidak ingin mengetahuinya karena jika ia mengetahuinya ia akan didera rasa bersalah yang sangat besar .

"Uhh maaf nona…" Sakura bertanya ragu-ragu pada gadis berambut merah di samping Sasuke.

"Ah panggil saja aku Karin." Karin tersenyum.

"Karin-san, apa aku boleh tahu apa hubunganmu dengan Sasuke-kun- uh maaf maksudku Uchiha-san?"

"Oh, aku tunangannya." Jawab Karin ceria.

"Eh?" Sakura berharap ia salah mendengar.

"…Tunangannya?" Naruto mengulang perkataan Karin.

"Ya. Benar sekali" Karin mengangguk senang. "Kami akan segera menikah."

.

.

Seseorang tolong aku...

.

.

Sakura menelan ludah, berusaha menyusun kata-kata. "Selamat Karin-san, kalau kalian menikah undang aku ya!" Sakura tersenyum lebar.

Aktingmu hebat Sakura.

Hebat.

"Apa-apaan itu! Seharusnya kau tidak mengatakan hal itu. Kau kan-" Naruto tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Sakura membungkam mulutnya.

"?" Karin mengerutkan alisnya, tidak mengerti maksud kata-kata Naruto

"Uhh, Jangan dengarkan dia. Dia hanya sedikit kaget saja" Sakura tersenyum kaku.

"Naruto, kumohon hentikan." Sakura berbisik.

Mata biru Naruto menatap mata hijau Sakura. "Baiklah." Naruto melipat kedua tangannya di belakang kepalanya. "Aku lapar, aku akan pergi ke Ichiraku sekarang." Naruto melangkah keluar ruangan Tsunade.

"Shishou… sepertinya aku juga harus pergi." Sakura tersenyum kaku. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini.

Tsunade menatap Sakura dengan tatapan tidak setuju.

"Aku masih mempunyai banyak pekerjaan di rumah sakit." Kumohon izinkan aku pergi.

"Um, kalau kau punya hal penting yang perlu dikatakan, katakan saja Shishou."

"Jangan khawatirkan pekerjaanmu di rumah sakit. Kau boleh pulang sekarang. Kau tampak sangat lelah." Ujar Tsunade

"Tidak. Aku tidak apa-apa shishou. Aku benar-benar harus pergi bekerja sekarang.

"Lakukan perintahku."

Sakura mengangguk. "Baiklah." Sakura melangkahkan kakinya menjauhi Tsunade.

"…"

"Aku hanya ingin mempertemukanmu dengan Uchiha." Kata-kata Tsunade menghentikan langkah kaki Sakura.

Sakura menatap Tsunade lalu tersenyum lebar. "Ya, terima kasih shishou."

"Ano… senang sekali bisa bertemu lagi denganmu Sasuke-kun, maaf maksudku Uchiha-san…" Sakura menelan ludah.

"Aku sangat senang mengetahui kau masih hidup. Syukurlah."

"…Sampai jumpa lagi Uchiha-san" Sakura melambaikan tangannya pada Sasuke. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.

"Tunggu."

Sakura kembali menghentikan langkahnya.

Sasuke menyilangkan kedua tangannya "Kau siapa?"

Sakura mengangkat kepalanya menatap wajah Sasuke. Rambut merah mudanya menutupi sebagian wajahnya menyembunyikan emosinya.

Siapa?

Siapa?

Uhh…

Sasuke menatap mata hijau Sakura. Entah kenapa ia pernah mengenal mata itu sebelumnya. Mata indah yang selalu ingin ia lindungi.

"Aku bahkan tidak tahu siapa namamu." Sasuke menambahkan.

"Aku—"

"Aku sangat mencintaimu."

"Aku selalu berharap kau bahagia."

"Aku akan melindungimu."

"Segalanya. Untukmu."

Sakura tersenyum lembut. Aku tetap senang. Walaupunselamanya dia takkan pernah mengingatku

Aku bersyukur, telah bertemu dengannya, mencintainya, menyayanginya.

"Haruno Sakura." Sakura membungkukkan badannya memberi hormat

"Selamat tinggal."

...

...

...

TAP

TAP

TAP

Sakura menghentikan langkahnya, melihat langit mendung di atasnya. Tampaknya akan ada hujan besar hari ini. Awan-awan hitam telah menutupi langit.

Sakura, Apakah kau menyesal?

Air hujan membasahi Sakura. Rambut merah mudanya yang basah menutupi sebagian wajahnya. Sakura menangis tanpa suara. Air mata berjatuhan bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Tuhan.

Aku ingin hanyut bersama hujan.

Aku ingin menghilang bersama angin.

Tiba-tiba air hujan berhenti menimpa tubuhnya. Sakura berusaha melihat penyebabnya. Matanya yang basah menghalangi pandangannya.

Huh?

Tampak siluet seseorang sedang memegang payung di depannya. Orang itu memayungi Sakura agar tidak ada air hujan yang membasahi Sakura.

Sakura berusaha memfokuskan pandangannya. Seketika itu juga, matanya melebar karena kaget.

"Sa… Sasuke?" Sakura berbisik tanpa suara.

"Kau menangis?"

"Aku…" Sakura berusaha menjawab.

"Sudahlah. Aku tidak ingin tahu." Sasuke memberikan gagang payung yang dipegangnya pada Sakura.

"Sa… uh Uchiha-san." Sakura melihat gagang payung yang dipegangnya dengan tatapan heran.

"Hn" Sasuke melangkah menjauhi Sakura. Hujan membasahi dirinya.

"Uchiha-san!" Sasuke menghentikan langkahnya.

"Terima kasih."

"Hn." Tanpa menatap Sakura ia kembali melanjutkan langkahnya.

Aku mencintaimu.

Terus mencintaimu sampai hatiku terasa sakit

-TSUZUKU-


Saya benar-benar menyukai angel-san. angel-puppeteer merupakan salah satu author terbaik di ffn (menurut saya tentunya). pengolahan kata, penyajian cerita, komposisi antara dialog dan deskripsi terasa sangat pas.

Dalam cerita ini saya mungkin akan mengubah sedikit karakter Sakura. Saya akan membuatnya sedikit lebih pendiam tentu saja hal itu untuk menambah unsur angst disini.

Selamat menikmati!

Review berupa saran, kritik atau apapun sangat saya nantikan.

Aku menjadi lebih bermotivasi menulis setelah menerima review dari kalian.

Terima kasih.

With Love,

akina Takahashi