Chapter 2
Hot Coffee
Matahari belum sepenuhnya ingin menampakkan diri saat Jihoon berjalan menyusuri perumahan di pinggir kota Paris ini. Bukan hal yang sulit bagi mutan sepertinya untuk sampai ke tempat ini dengan cepat, dan juga mendapatkan pakaian yang lebih layak. Tubuhnya kini sudah tidak dibalut dengan baju putih laboratorium, yang mana sudah tidak berwarna putih lagi saat ia menyusuri laut menuju negara romantis ini. Kini sebuah jins hitam menutupi kakinya, dengan sebuah kaos putih tipis dan mantel coklat menutupi tubuh bagian atasnya.
Ia mencuri pakaian itu, Jihoon mengakui fakta itu. Jika bukan terpaksa dan bukan karena angin musim gugur yang dingin serta fakta ia baru saja bermalam di tengah laut dengan pakaian tipis dan perut kosong, ia tidak akan mau mencuri pakaian mahal ini.
Jihoon tidak akan mencuri makanan kali ini, ia lebih memilih secangkir kopi dan sebuah sandwich tuna dari dapur sahabat lamanya dibanding sarapan mewah khas kota Paris.
Rumah bercat merah tua di sisi kiri jalan, itulah tujuannya. Jihoon berdiri di sana sebentar sebelum mengetuk pintu kayu rumah itu dengan tangan mungilnya. Ia tau benar teman lamanya ini tidak suka menggunakan bel listrik, terlalu berisik dan mengganggu orang disekitar rumahnya. Tipikal tetangga yang baik, itulah temannya.
Tidak butuh waktu yang lama sampai seorang laki-laki tinggi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam membukakan pintu itu untuknya, tersenyum padanya, dan memeluk tubuh mungilnya. Jihoon tau laki-laki itu senang melihat ia berada di hadapannya dalam keadaan selamat dan baik-baik saja.
"Jisoo hyung, lepaskan aku, aku lapar"
Jisoo, laki-laki dengan rambut hitam sedikit berantakan itu melepaskan pelukannya dan membawa Jihoon memasuki rumah yang sudah lama ia miliki itu. Ia tidak memilikinya sendiri, ia tinggal di tempat ini dengan seorang teman, yang mana merupakan teman dekat dari Jihoon juga. Mereka pindah dari Korea Selatan ke negara romantis ini sebelum Jihoon masuk ke dalam lab itu, sekitar tiga tahun yang lalu.
Hanya Jihoon yang tau alasan mereka pindah ke tempat ini, karena hanya Jihoon yang setuju dengan mereka. Dan kini, ia datang kepada mereka, seakan-akan mengatakan bahwa ia ikut dengan mereka.
"Siapa, Jisoo?"
Sebuah suara menyapanya saat ia telah berada di ruang makan rumah mungil itu. Laki-laki berambut panjang dengan warna coklat madu tampak kaget melihat Jihoon berdiri di samping Jisoo. Tidak menunggu waktu lama sampai laki-laki itu mendatanginya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Jihoon, kau baik-baik saja? Bagaimana kau bisa keluar dari tempat itu? Apa saja yang mereka lakukan padamu?"
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut laki-laki cantik itu. Jihoon ingin menjawab itu semua, tapi lapar di perutnya mengalahkan segalanya.
"Jeonghan hyung, mari kita makan terlebih dahulu," ujar Jihoon lemah. Jeonghan melepaskan pelukannya dan kembali fokus pada frying pan yang masih memasak tuna kalengan di atas kompor yang menyala. Jihoon duduk di meja makan kecil di tengah ruangan, hanya ada empat bangku yang mengitari meja makan bundar itu. Ia tidak mau repot-repot menghitung berapa diameter meja bundar ini, menurutnya rumah mungil yang sudah banyak berubah ini lebih menarik daripada diameter sebuah meja.
Ruang makan ini tidak ramai dengan perabotan, hanya ada satu kitchen set, cool case, dan sebuah foto yang terpajang di pintu cool case berwarna metalik itu. Jihoon sadar itu adalah foto yang mereka ambil enam tahun yang lalu saat ia masih berada di sekolah menengah atas, dan pembantaian mutan belum terjadi. Foto tujuh belas laki-laki tersenyum ke arah kamera di atas bukit belakang sekolah mereka.
"Apa ada kabar tentang Soonyoung?"
Jihoon mengeluarkan suaranya saat sebuah kopi dan sandwich tuna di taruh di hadapannya oleh Jeonghan. Tangannya meraih sandwich tuna itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Matanya menatap dua laki-laki dihadapannya yang juga tengah memakan sandwich yang sama dengannya.
"Kami dengar kau dan Soonyoung telah dieksekusi mati di lab manusia, maka dari itu aku kaget sekali melihat kau berdiri di depan rumah dengan mantel mewah dan hanya meminta sarapan." Jisoo berbicara, membuat Jihoon tertawa sejenak sebelum kembali memakan sandwich tunanya.
"Bagaimana kau bisa selamat, Jihoon?" Kali ini Jeonghan yang berbicara, setelah menyeruput black tea miliknya dari cangkir yang entah kenapa menurut Jihoon sangat cantik.
"Ada saatnya kalian mengetahuinya, tanpa perlu aku ceritakan. Aku disini ingin bergabung dengan kalian."
Setelahnya Jihoon menyeruput kopinya, kopi hangat pertama yang ia rasakan setelah dua tahun terakhir ini.
...
Tiga orang mengelilingi meja makan di apartemen Seungkwan dan Hansol. Seharusnya pagi ini Seungkwan ada part time job untuk mengajari anak-anak sekolah dasar menyanyi, tapi laki-laki itu memaksa ia dan Hansol untuk tetap di apartemennya dan menceritakan apa yang terjadi kemarin malam.
Mereka memakan sarapan mereka dalam diam, suasana canggung menguasai ruang makan yang minimalis itu. Seungkwan tidak seharusnya takut pada laki-laki di depannya, tapi entah kenapa ia selalu takut jika harus menceritakan kepada siapa pun penglihatan yang ia lihat. Terlebih penglihatannya tadi malam, di mana darah menggenang di ruangan itu dengan seorang laki-laki mungil berdiri di hadapan mereka tersenyum.
Seungkwan menjatuhkan sendoknya. Perlahan air mata jatuh ke pipi, kepalanya tertunduk dalam. Sepasang tangan merengkuh tubuhnya, suara lembut memecahkan hening di antara mereka.
"Seungkwan, bantu aku membantumu. Ada apa?"
Laki-laki itu semakin erat merengkuh tubuh Seungkwan, Hansol hanya duduk di hadapan mereka dalam diam. Tidak mengerti apa yang terjadi, tidak mengerti harus melakukan apa. Nasi goreng kimchi mereka telah dingin saat Seungkwan setuju untuk membuka mulutnya. Menceritakan penglihatannya akan seorang laki-laki mungil yang membunuh seluruh pria di ruangan itu.
Menceritakan penglihatannya tentang Lee Jihoon.
...
Musik memenuhi ruangan, dan setiap malamnya selalu begitu. Soonyoung duduk di salah satu anak tangga yang memisahkan apartemen milik dia dan adiknya, dengan ruangan besar yang setiap malam selalu ramai dengan orang-orang yang memiliki satu passion dengannya.
Dance
Dan di malam sabtu menjelang minggu pagi seperti ini, orang-orang yang datang ke tempat ini dua kali lebih banyak dari malam-malam biasanya. Tidak lebih baik karena suara bising itu sama sekali tidak mau berhenti sampai pagi menjelang, tapi menurut Soonyoung hal ini bukan sesuatu yang buruk.
Setiap malam di ruangan ini ia bisa menari dengan mereka yang memiliki gairah yang sama dengannya, melupakan perbedaan di antara satu sama lain, melupakan fakta bahwa orang itu berkulit hitam atau berkulit putih, melupakan fakta bahwa orang itu sudah dewasa atau masih sangat muda, melupakan fakta bahwa mereka adalah manusia dan ia adalah mutan.
Tidak ada perbedaan, hidup yang selalu ia inginkan setiap hari saat pagi menjelang.
"Hey Hoshi, what's up? Why don't you go down there?" Seorang laki-laki tinggi berkulit hitam duduk di sampingnya, merangkul pundaknya dengan tangannya yang panjang. Soonyoung selalu percaya hal ini terjadi bukan karena pundaknya yang mungil, melainkan tangan mereka yang terlalu panjang.
"I want. But, i wanna see my little brother dancing freely down there. You see that boy in the middle with grey jacket? That's him." Soonyoung menunjuk seorang laki-laki dengan jaket abu-abunya menggerakkan tubuhnya dengan lincah di tengah-tengah kerumunan orang.
"Oh, what a damn great dancer. You and your lil' bro can make money from dancing, you know? A lot more of money than what you get from this place. You can be a famous dancer. Why don't you give a try?"
"I don't really like the spotlight tho, hahaha. I want to live freely like what i did in here."
"I get it. I'm gonna go down there, so, see ya bro!"
Soonyoung tersenyum kepada laki-laki berkulit hitam ini, sebelum kemudian terjatuh dalam pikirannya sendiri. Bayangan ia yang terkenal dan kemudian terjerembab ke dalam laboratorium yang mengerikan itu dan melihat bertumpuk-tumpuk tubuh tak bernyawa yang dibiarkan begitu saja di pulau itu.
Ia lebih memilih untuk hidup miskin seumur hidup dibandingkan menjadi terkenal dan masuk ke dalam laboratorium itu lagi.
...
...
...
An : Hi! ini dia the almighty chapter 2 dari MUTAN! Kayaknya gue stuck di chapter dua dan nggak publish-publish cerita ini lagi di ffn sebelum akhirnya gue hapus dan gue republish walau nggak banyak juga yang berubah XD. gue emang suka gitu, mengulang dari awal padahal tidak mengubah apapun. Oh, iya! Mau minta maaf sama bahasa inggrisnyaa :( gue nggak pinter bahasa inggris, mohon dimaklumii. Oke, yang terakhir, please kindly leave a review about my story. Gue akan sangat mengapresiasikan review kalian, baik itu bagus maupun yang jelek. Terima kasih.
