A/N : Udah satu minggu ya? Saatnya update!
Selamat membaca~
Naruto milik Masashi Kishimoto.
Chapter 3 : Enter!
Aku terbangun dari tidurku dan menemukan diriku masih di pemakaman.
Aku pasti tertidur tadi malam, pikirku
Aku melihat sekelilingku. Hari sudah pagi, tapi matahari belum terbit.
Sekitar jam 4. Aku masih punya banyak waktu sebelum pendaftaran akademi dimulai.
Aku beranjak dari tempatku. Memberikan ucapan selamat tinggal terakhir untuk orang tuaku, dan pergi dari pemakaman. Berjalan pulang ke rumah.
Aku berjalan melewati desa. Banyak pedagang yang bersiap membuka tokonya. Seperti biasa, setiap kali mereka melihatku, mereka memberikanku tatapan tajam yang bercampur dengan marah dan benci. Aku mengabaikannya. Beruntung, hanya sedikit penduduk yang sudah bangun jam segini, sehingga tidak begitu banyak tatapan tajam yang mereka lemparkan ke arahku. Namun, tetap saja, semua itu cukup untuk menyakitiku.
Aku sampai di rumahku. Bukan apartemen, tapi rumah lamaku. Sandaime sudah menawarkanku tempat untuk tinggal, dimanapun yang aku suka. Aku ingin pindah, tapi ada sesuatu jauh di lubuk hatiku yang melarangku untuk meninggalkan rumah ini. Rumah yang dipenuhi oleh kenangan indah masa kecilku. Entah kenapa, aku merasa rumah ini terlalu berharga untuk ditinggalkan. Terlalu banyak kenangan yang sulit ditinggalkan. Aku hanya ingin menghidupkan kenangan itu, tidak pernah ingin melupakannya, mengabaikannya bersama debu dan kegelapan. Itulah satu-satunya alasan yang menghentikan keinginanku untuk pindah.
Aku masuk ke dalam rumahku. Berjalan menuju kamarku yang terletak tepat di sebelah kamar ayahku. Dulu, aku sangat lega kamarku terletak disebelahnya. Jika aku ketakutan karena badai atau mengalami mimpi buruk, aku dapat pergi ke kamar ayahku dan tidur disebelahnya. Ia akan memelukku dan membelai rambutku dengan halus sampai aku tertidur pulas. Namun sekarang, itu berbeda. Setiap kali aku pergi ke kamarku, aku harus melewati kamarnya. Kamar tempat ayahku dibunuh. Aku benci kamar ini. Bukan karena ini kamar ayahku, namun karena kamar ini membawa memori yang selalu ingin kulupakan dalam hidupku. Darah yang awalnya merah, sekarang sudah mengering dan meninggalkan bekas di lantai kayu. Tak dapat dihilangkan. Semakin membuatku membenci kamar ini
Aku masuk ke kamarku dan membaringkan tubuhku sebentar di kasur yang empuk. Tubuhku terasa pegal, mungkin karena tidur di tanah tadi malam. Aku melihat ke arah jam bekerku.
Jam 5, pikirku. Pendaftaran dimulai jam 7.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke kamar mandi. Karena waktunya masih lama, aku dapat mandi dengan santai. Selesai mandi, aku segera memakai pakaian sehari-hariku dan bersiap pergi keluar rumah. Sebelum itu, aku selalu melihat diriku di cermin untuk memastikan tidak ada hal aneh pada diriku. Saat aku memperhatikan bayangan diriku di cermin, aku terkejut. Yang kulihat bukanlah diriku, namun wajah ayahku. Sepasang mata onyx serupa dengan milikku menatapku dengan tajam. Aku hanya dapat terdiam, membeku seperti patung. Tiba-tiba muncul darah di wajahnya. Ya, darah. Cairan berwarna merah pekat itu mengalir dari wajahnya dan jatuh ke lantai. Setetes demi setetes, cairan itu membanjiri kamarku hingga ke mata kaki. Darah mengalir dari kedua telapak tanganku. Membuatku semakin tenggelam dalam kolam darah. Keringat yang mengalir dari kepalaku kini berubah menjadi darah. Darah dimana-mana. Aku tenggelam dalam kolam darah. Tak bisa bergerak, tak bisa bernapas, tak bisa-
Berhenti berhalusinasi, Kakashi! Pikiranku berteriak kepadaku, menyadarkanku dari dunia mengerikan itu. Aku membuka mataku. Keringat dingin mengalir disekujur tubuhku. Aku memperhatikan bayanganku dicermin. Wajahku, bukan ayahku. Aku merasa lega, tapi tetap saja pikiranku terus mengulang-ulang kejadian tadi. Membuat otot-ototku merasa tegang dan tak dapat menenangkan diriku. Walaupun aku benci mengakuinya, tapi aku memang terlihat mirip dengan ayahku.
Aku melihat lagi bayanganku di cermin. Ayahku. Ia berdarah lagi. Tangannya seolah-olah keluar dari cermin dan bergerak menuju wajahku. Aku ketakutan. Sangat ketakutan. Seluruh tubuhku gemeteran. Aku menghancurkan cermin itu dan jatuh terduduk di lantai. kedua tanganku menggenggam rambutku dengan erat. Mataku melebar tapi tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Lututku kulipat dan kudekapkan di dadaku. Mulutku terbuka lebar, tapi tak ada satu katapun yang terucap.
Aku mirip dengan ayahku kalimat itu terulang-ulang di pikiranku. Aku sangat mirip dengannya.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diriku. Setelah berhasil, aku beranjak dari tempatku dan pergi ke kamar ayahku. Aku sampai di depan pintunya dan ketakutanku muncul kembali. Pikiranku membawaku kembali ke kejadian malam itu. Saat aku membuka pintu ini dan menemukan tubuhnya terbaring di lantai. Dingin. Tak bernyawa. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. berusaha membuang ingatan itu dari pikiranku. Dengan tangan yang gemetar, aku memegang pegangan pintu itu dan membukanya dengan pelan. Aku bernapas lega. Tidak ada tubuh ayahku, namun bekas darahnya masih dapat terlihat jelas di lantai.
Aku mengabaikan bekas darah itu dan berjalan menuju lemari pakaian. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya aku menemukan apa yang kuinginkan. Aku segera pergi keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya dengan rapat sebelum pikiranku terhanyut dalam memori malam itu lagi.
Aku memperhatikan bayanganku di air. Wajahku, bukan ayahku. Sebuah masker menutupi wajahku sampai ke hidung. Walau masih terlihat mirip dengan wajahnya, setidaknya bayangan wajahnya yang dialiri darah itu tidak muncul lagi.
Aku berjalan keluar rumahku, menghirup udara pagi yang segar. Aku melangkahkan kakiku menuju Ichiraku. Aku dapat merasakan tatapan para penduduk ketika melihatku. Walaupun sudah memakai masker, mereka masih melemparkan tatapan yang sama kepadaku. Aku juga dapat mendengar bisikan mereka. Karena tidak tahan, aku mempercepat langkahku menuju Ichiraku, satu-satunya tempat dimana aku diperlakukan dengan baik.
Seperti biasa, Teuchi menyapaku dengan ramah. Walaupun dia terlihat sedikit heran karena aku memakai masker, ia tidak bilang apa-apa. Ia langsung membuat pesananku. Karena aku salah satu dari pelanggan setianya, ia tahu pesanan favoritku.
Setelah selesai makan, aku membayar harga ramen yang telah kumakan tadi. Namun ia menolaknya. "Kau bisa menyimpannya, Kakashi" katanya menolak uangku dengan senyum sedih di wajahnya. Aku dapat melihat jelas tatapan kasihan yang menghiasi kedua matanya. Aku hanya berterimah kasih dan pergi dari Ichiraku.
Aku menatap langit pagi, berusaha memperkirakan jam berapa sekarang.
Matahari sudah terbit dan hari sudah hampir terang. pikirku sambil mengamati langit. Sudah hampir jam 7. Aku harus bergegas.
Menebak jam dengan membaca langit memang keahlianku. Ayahku selalu memperingatkanku untuk pulang ke rumah paling lambat jam 6. Karena aku tidak ingin pulang sebelum jam itu dan juga tidak ingin melanggar perintah ayahku, aku mulai menebak jam. Awalnya agak meleset sedikit. Namun akhirnya tebakanku pas, sehingga aku dapat sampai di rumah tepat jam 6.
Aku segera berlari menuju akademi. Sesuai dugaanku, disana sudah ramai. Banyak orang tua yang menemani anaknya mendaftar. Sesuai penglihatanku, aku hanya satu-satunya anak yang tidak didampingi siapapun.
Tanpa kusadari, aku memperhatikan mereka. Mereka terlihat sangat senang sambil memegang tangan orang tuanya. Orang tuanya pun terlihat sangat bangga.
Seandainya orang tuaku masih hidup... pikirku sambil memperhatikan mereka. Aku heran jika mereka akan bangga padaku atau tidak.
Aku sedikit terkejut ketika merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku membalikkan badan dan melihat Sandaime tersenyum ke arahku.
"Kau ingin mendaftar kan?" tanyanya dengan halus kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
Sandaime berjalan ke arah tempat pendaftaran dan aku mengikutinya dari belakang. Ia mendaftarkanku, aku dapat merasakan tatapan tajam dari salah satu guru akademi tempatku mendaftar. Karena itu, aku memegang tangannya dengan erat dan menyembunyikan diriku di belakangnya.
Sandaime sepertinya menyadari hal ini. Ia membalas tatapan tajam guru akademi itu dan membuatnya fokus kepadanya. Aku bernafas lega, namun tetap tidak ingin melepaskan peganganku.
Setelah mendaftar, Sandaime mengantarkanku pulang ke rumahku. Ia memberiku uang untuk membeli peralatan yang kubutuhkan. Aku menerima uang itu dan berterimah kasih kepadanya. Ia hanya tersenyum dan berkata "Masker itu sangat cocok denganmu Kakashi." Setelah itu, ia pergi menghilang dari hadapanku dengan sebuah kepulan asap.
A/N : Next chapter : Kakashi meet Rin!
Tolong review nya~
