Forever Chapter 3 : Otanjoubi Omedetou, Sasuke!

"U-ukhh…" rintihnya pelan, sambil memegang jidatnya yang masih terasa pusing. Hidungnya kembang-kempis, mencari oksigen untuk kembali bernapas seperti semula.

Setelah keadaan membaik, ia pun memperlebar jarak pandangnya dan menatap seorang wanita di sampingnya dengan cermat. "Shizune-sama?"

"Haruno-san, syukurlah kau sudah sadar," ucap wanita itu peduli, seraya mendekatkan dirinya kepada Sakura. Ia pun menempelkan keningnya dengan kening gadis merah jambu itu. "Sepertinya kau sudah baikan," kata Shizune sambil tersenyum simpul, mencatat keadaan Sakura saat ini di papan laporannya. Sakura mengangguk-angguk paham, lalu mengedarkan pandangannya ke ranjang tidurnya yang empuk dan nyaman itu.

"Kenapa aku bisa disini?" tanya Sakura heran, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pusing di kepalanya.

Shizune tersenyum hambar, lalu menyelimuti Sakura agar ia tetap terjaga dan hangat. "Ia bilang, menemukanmu pingsan di toilet. Refleks, ia menggendongmu dan mengantarmu kemari," jelas Shizune panjang-lebar, dan padat. Seraya mendengarkan, gadis viridian itu meminum segelas air putih yang tersaji di meja kecil di samping kirinya.

"Ia? Siapa?" tanya Sakura bingung. Shizune menghela napas pelan, lalu menabrak viridian Sakura dengan iris hitamnya. "Yah, kau tahulah. Lelaki yang sikapnya sulit ditebak itu."

Sakura terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk-angguk paham. "Sasuke?" Shizune pun mengangguk setuju.

"Boleh aku kembali ke kelas?" tanya Sakura, meminta izin pada si empunya UKS. Shizune menggeleng, lalu bangkit dari kursi lipat yang tersedia di ruang UKS. "Kau akan kuizinkan istirahat hingga pulang sekolah di UKS, keadaanmu masih belum stabil, Haruno-san," jawab Shizune sopan. "Oh… baiklah," kata Sakura meragukan, sambil mengangguk-angguk.

Ketika Shizune pergi, Sakura hanya bisa berbaring, memikirkan kejadian apa yang ia alami sebelum ia benar-benar pingsan.

Kalau memikirkan ucapan Shizune-sama barusan… digendong Sasuke? Apa itu semacam mukjizat?

Sakura tertawa kecil, membayangkan bagaimana bisa pemuda idola sekolah itu, sanggup menggendongnya menuju ruang UKS. Tidak tanggung, rona merah pun menguar halus dari kedua pipi tirusnya. Namun, sejenak kemudian, ia tersenyum simpul. Kedua tangannya ia tumpuk diatas perut kurusnya. Perlahan tapi pasti, matanya terpejam.

Kalau memang itu yang dinamakan mukjizat, terima kasih, Kami-sama…

Tanpa ia sadari, pejaman mata itu menjadi awal terjadinya kantuk yang mengakibatkannya tidur kembali menunggu waktu pulang sekolah tiba.

-0-

"Sehubungan dengan berlalunya bel pulang beberapa detik yang lalu, jadi… sayonara!" seru Kakashi, guru berambut perak yang saat ini telah usai mengajar kelas dimana Sasori berada. Pemuda beriris hazelnut itu tersenyum simpul, lalu memasukkan seluruh barang miliknya ke dalam tasnya. Terlihat juga Sasuke yang mulai selesai mengemas seluruh alat tulis ke dalam tas birunya.

Iris hazelnut itu kembali menoleh kearah sebuah kantung plastik putih, yang berisi semangkuk styrofoam bubur yang hanya ditaburi sedikit garam dan seledri.

Ketika pemuda barbie itu akan segera berlalu pergi, pundak tegapnya ditepuk oleh seseorang.

Ia pun menghela napas pelan. Tanpa diberitahu, ia juga sudah tahu siapa yang sudah membuatnya menunda langkahnya kemudian. "Apa?" tanyanya ketus, tanpa menoleh sedikitpun kearah si penepuk bahu. Beberapa saat kemudian, pemuda beriris kelam di belakangnya membuka percakapan. "Bisa kau antarkan ini padanya?"

Sasori mengernyit, sedikit melirik ke belakang untuk melihat apa yang harus ia distribusikan padanya. Sebelah alisnya terangkat, melihat sebuah bungkus plastik berwarna putih dalam genggaman Sasuke yang sedang Sasuke berikan padanya. "Apa itu?" tanyanya heran.

"Obat," jawab Sasuke singkat, semakin mendekatkan bungkus plastik tanpa racun itu kepada Sasori. Sasori mengalihkan pandangannya kearah Sasuke, kemudian menyeringai tipis.

"Cih, yang benar saja."

Kini, giliran Sasuke yang mengernyit. "Yang benar saja?" tanyanya heran, menekankan kata-kata yang Sasori ucapkan barusan. Mencoba menafsirkan apa kata-kata yang Sasori ucapkan dibarengi dengan senyum licik itu. Sasori menghela napas berat, kemudian menatap Sasuke dengan tatapan dingin.

"Jangan rebut Sakura."

Dan sekarang, giliran Sasuke yang mengangkat sebelah alis matanya dengan wajah dimiringkan, benar-benar keheranan.

Dalam hitungan detik, Sasori mengerti arti ekspresi Sasuke barusan. Ia pun menatap bungkusan obat di tangan Sasuke, kemudian mengambilnya. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum manis, kemudian mengucapkan sepatah kalimat yang membuat Sasuke menghela napas lega. "Oke, akan kuberikan padanya…"

PRAK!

"… kalau sempat."

Menatap bungkus obat-obatannya yang sudah hancur terinjak kaki Sasori, membuat Sasuke menahan napas sebentar. Beberapa saat kemudian, ia berjalan mendahului Sasori, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke kantung celana.

"Maaf, aku bukan pemuda murahan yang memperebutkan seorang gadis berkaki pincang sepertimu."

Mendengar lontaran kalimat Sasuke yang terucap tanpa dipikirkan itu, membuat Sasori membelalakkan kedua bola matanya terkejut. Ingin, ia mendahului langkah Sasuke dan membenarkan cibiran halus namun menyesakkan dada itu.

Namun, tak lama kemudian, ia hanya bisa menatap Sasuke dari kejauhan, dengan wajah tanpa ekspresi, namun jemari tangan yang terkepal erat.

"Haha."

Sasori tersenyum tipis, mengambil kantung obat yang diberikan Sasuke tadi, dan membuangnya ke tempat sampah.

"Hati memang tak bisa berbohong, Uchiha."

-0-

"Nah, makanlah."

"Ta-tapi, Sasori… aku lagi nggak nafsu makan," ucap Sakura beralasan, membuat Sasori mengerlingkan kedua bola mata hazelnutnya kesal. Sambil terus mengarahkan sesendok bubur putih ke dalam mulut Sakura, lelaki yang berwajah babyface itu tersenyum hangat. "Kau mau sakit atau sembuh? Kalau mau sembuh, kau harus makan yang hangat-hangat," nasihat Sasori, membuat Sakura terpana.

Beberapa detik kemudian, ia tersenyum hambar. "Ya sudahlah," katanya pasrah, menatap mulutnya yang sekarang terisi dengan bubur putih yang sedikit asin itu.

Sasori tersenyum puas, siasat bijaknya untuk membujuk Sakura memakan buburnya, berhasil juga.

Namun, entah kenapa, sesekali pemuda itu melirik pintu UKS, merasa bahwa dibalik pintu UKS yang berbahan kayu triplek itu, ada seseorang yang sedang menguping dan melihatnya bersama Sakura. "Kau mengkhawatirkan apa, Sasori?" tanya Sakura heran, yang merasakan wajah gelisah Sasori setiap melihat pintu ruang UKS.

"Errr… nggak ada," jawab Sasori berbohong, yang dibalas dengan 'o' bulat dari mulut Sakura.

Setelah keadaan Sakura baikan, Sasori pun mengajak gadis merah jambu itu untuk pulang bersamanya. "Di-diantar? Etto… aku sudah biasa pulang sendiri," kata Sakura dengan senyum kaku andalannya. "Nggak. Kau lagi sakit, nggak boleh pulang sendiri," kata Sasori tajam. Menatap wajah dingin Sasori yang dibuat-buat, membuat Sakura menunduk dan asal mengikuti saja.

-0-

.

.

.

"Nah, jika kau butuh bantuanku, cukup telepon aku saja. Mengerti?"

Sakura tersenyum, kemudian mengangguk setuju kepada Sasori. Sasori pun demikian, kemudian berlari menuju mobil sedannya dan melaju meninggalkan apartemen yang salah satu kamarnya dihuni tetap oleh Sakura. Setelah Sasori pulang, perempuan dengan nama bunga itu berjalan letih menuju kamarnya yang terletak di lantai empat, khusus dihuni oleh remaja-remaja dengan isi dompet yang minim.

Sampai di kamarnya, Sakura cepat-cepat mengunci pintu kamarnya dan bergegas untuk membaringkan tubuhnya sebentar diatas kasur kamarnya. Tiba-tiba saja, letih dan lunglai menyerang tubuhnya yang sudah istirahat tiga jam di sekolah itu.

Gadis itu menatap langit kamarnya, mengingat-ingat apa saja yang sudah ia lalui tepatnya hari ini.

Memikirkan betapa setianya Sasori bersahabat dengannya, membuat gadis itu tersenyum simpul.

.

.

Detik berikutnya, tiba-tiba saja ia merasa hatinya kosong begitu saja. Pikirannya kosong, entah kemana melayang dan terbangnya saat ini. Segaris liquid bening, jatuh dari pelupuk matanya ketika ia teringat akan Sasori.

Kalau Sasori bisa memaklumi keadaanku, kenapa Sasuke tidak?

Seandainya Sasori adalah Sasuke, semua akan jadi lebih mudah kan?

.

.

TOK! TOK! TOK!

Mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk tanpa kekasaran meskipun terdengar begitu jelas, membuat Sakura menghapus air matanya dan bergegas menuju pintu kamarnya. "Moshi, moshi… disini Sakura Haruno, ada yang bisa kuban-" Sakura tertegun, ketika menyadari ketiadaan siapapun di depan pintu kamarnya yang bernomor 3 digit angka itu. Merasa curiga, ia pun menoleh ke kanan-kiri, menatap siapa yang bisa saja mengusili dan mencoba membuatnya kesal.

Namun, ia menggigit bibirnya tak percaya, melihat sebungkus plastik putih dengan secarik kertas terlipat diatasnya.

Dengan hati-hati, Sakura mengambil kedua benda itu, dan membawanya masuk ke dalam kamar bernomor 341 itu. Dari sudut paling ujung dari lantai empat itu, seseorang menatapnya dengan perasaan campur aduk.

"Ini apa?" tanya Sakura bingung, melihat sekitar tiga bungkus tablet dengan warna yang berbeda-beda. Sebelum sempat mengira bahwa ketiga bungkus tablet itu adalah obat, tatapannya tersita pada secarik kertas terlipat yang hampir ia lupakan itu. Segera, ia mengambil kertas itu, dan membaca apa tulisan yang sudah ditorehkan diatasnya.

Hadiah menarik untuk gadis yang sudah bertahan dari kelemahannya. Konsumsi ketiga bungkus tablet itu untuk menjamin kesehatanmu, kujamin takkan ada racun atau semacam penghancur organ tubuh di dalamnya.

Mr. X

.

.

"Mister X?"

"Oh… jangan bercanda."

-0-

Burung-burung kecil berkicau, membangunkan tiap insan manusia untuk membuka aktivitas barunya di hari Rabu yang terlihat lebih cerah dari biasanya. Berbeda dengan beberapa gadis remaja yang akan bangun bila waktunya sudah mepet, Sakura bangun di waktu yang tepat, jam lima pagi. Tanpa tapi, gadis berambut pink itu segera mandi, mengenakan seragam hari Rabunya, lalu menyiapkan segala hal untuk keperluan sekolahnya hari ini.

Buku pelajaran, ceklis. Seragam rapi, ceklis. Semangat pagi, ceklis!

Mengabsen tiap keperluan pagi dalam memorinya, membuat Sakura tersenyum puas. Dalam hitungan detik, gadis itu pun bergegas keluar dari kamarnya tanpa mempertanyakan perihal Gaara yang tak mengantarkan sarapan pagi itu ke kamarnya.

Good morning, Konoha~

Ketika sedang berjalan ke sekolah, Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya dengan hati-hati. Ajaib! Setelah meminum obat yang diberikan 'Mr. X' kemarin malam, kepalanya jadi lebih baik dari kemarin. Badannya pun sekarang lebih semangat dari kemarin.

Bukti bahwa Mr. X tidak berbahaya, bisa menjadi bahan memori Sakura saat ini.

"SAKURA!" seru Ino lantang, melihat Sakura yang sudah tiba di sekolah lima menit setelahnya. Mendengar seruan dari sahabat yang berbeda setahun dengannya, membuat Sakura tersenyum senang dan berlari kecil untuk bertemu dengan gadis blonde terkuncir itu. "Ino!" seru Sakura nyaring, yang ditanggapi dengan senyum tipis sahabatnya.

Ketika sedang berjalan bersama menaiki tangga menuju kelasnya masing-masing, tiba-tiba Ino teringat akan sesuatu. Ia pun segera menyikut lengan Sakura. "Kemarin, kulihat kau menaiki mobil sedan seseorang dengan rambut merah. Siapa dia?" tanya Ino menyelidik.

Sakura tertegun sejenak, beberapa detik kemudian ia tersenyum hambar. "Itu Sasori, masa kau lupa? Kan sudah kukenalkan padamu," kata Sakura, memasang wajah agak kesalnya kepada Ino.

"Oh… ya sudahlah, aku duluan ya. Sampai bertemu sepulang sekolah!" seru Ino, sebelum akhirnya pergi menjauhi Sakura.

Seusai Ino pergi, gadis berambut sebahu itu pun berjalan santai menuju kelasnya yang terletak di lantai dua. Sesekali, ia melirik beberapa kelas yang ia lewati. Helaan napas keluar dari mulut mungilnya, melihat tatapan dingin –bahkan nyaris membeku- dari para siswa yang kebetulan –atau memang sengaja- menemuinya. Ketika akan membuka pintu kelasnya, tubuhnya memaku seketika melihat Sasuke yang membuka pintu duluan dan hampir saja menabraknya.

Lama mereka saling bertatap mata, membuat Sasuke memulai percakapan. "Sudah sehat?" tanyanya datar, membuat Sakura tergagap seketika.

"I-iya," jawab Sakura gugup. "Baguslah," komentar Sasuke singkat, padat, dan jelas, sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan Sakura sendirian di dekat pintu kelas. Menatap Sasuke yang semakin menghilang di kejauhan, membuat Sakura hanya bisa memasang wajah dengan hiasan senyum getir. Dalam hitungan detik, gadis belia itu pun memasuki kelasnya dengan senyum semangat.

Tanpa disadarinya, Sasuke yang sedang menjauh itu, berbalik dan menatap Sakura dari kejauhan. Samar-samar, terukir senyum tipis di bibir kecilnya.

-0-

"Gimana? Udah baikan?" tanya Sasori, yang sekarang sudah sampai di sekolahnya.

Sakura yang sedang memutar-mutarkan pensil diatas selembar kertas itu, menoleh kearah Sasori, kemudian tersenyum sambil mengangguk. "Syukurlah kalau begitu," komentar Sasori bahagia, mengeluarkan sekotak bekal dari tasnya.

Merasa bosannya sudah menyerang, gadis keturunan Haruno itu segera meninggalkan Sasori dan bergegas menuju balkon kelas unggulan tersebut.

.

.

"There's nothing I could say to you…

Nothing I could have to do, to make you see…

What you mean to me, all the pain and tears and-"

DUKK!

"Akhhh!" Dengan bibir bergetar, Sakura memegang kaki pincangnya yang baru saja dengan sengaja ditendang oleh seseorang dengan ciri khas rambut merah menyalanya. Sambil mengusap-usap pergelangan kaki pincangnya, ia menatap seorang gadis yang sedang tersenyum meledek kearahnya. Kedua viridian beningnya mengerling bosan, yang lagi-lagi melihat sosok Karin di depannya. "Kenapa sih? Tiba-tiba saja kau menendangku!" bentak Sakura tak suka, yang dibalas dengan tawa mengejek Karin.

"Anggap saja kau radio rusak. Begitu ada siaran buruk, segera kutendang biar bungkam," ucap Karin sambil tersenyum sinis, sesekali ia menendang kaki pincang Sakura, bermaksud memberinya sedikit pelajaran.

"Jelaskan saja, apa maksudmu menendangku!" kata Sakura tak suka. Akibat ditendang Karin, semakin lama kakinya semakin pincang.

Karin pun menoleh kearah Konan dan Temari, hingga akhirnya ia kembali menatap Sakura dengan iris tajamnya. "Coba lihat apa yang kupegang!" seru Karin dengan suara imut, sambil memperlihatkan sebuah kartu yang tertulis ajakan untuk mengikuti pesta ulang tahun kecil-kecilan dari si bungsu Uchiha. Mendekati kartu itu, membantu Sakura untuk membaca isi dari kartu kecil dengan warna krem terang itu. "Besok… Sasuke ulang tahun?" tanya Sakura sambil mengernyit.

"Tentu saja! Oh, aku mau menanyakanmu satu hal. Apa kau sudah mendapatkan kartu undangan ini? Hm?" goda Karin.

Sakura menelan ludah. Ia baru sadar, jika ia mungkin takkan pernah bisa mendapat kartu undangan dari Sasuke. Mungkin, diantara semua siswa di sekolahnya, hanya gadis merah jambu itu yang tak akan kebagian kartu undangan dari si bungsu angkuh itu.

Dengan wajah berkeringat, Sakura menggeleng. Melihat itu, membuat Karin dan kedua sahabat sesama sombongnya tertawa mengejek.

Oh, terima kasih telah memberiku ujian lagi, Kami-sama!

Karin menghentikan tawa mengejeknya, kemudian mendekati Sakura dengan senyum sinis andalannya. "Benar juga ya. Mana mungkin seorang Uchiha Sasuke mau mengajak gadis sepertimu? Kalaupun kau memang mendapatkannya, kuyakin dengan cara curang, kan?" ledek Karin, membuat Sakura menahan napasnya sejenak.

"Bisa nggak, kau menghentikan pekerjaan membosankanmu itu sehari saja?" pinta Sakura dengan tatapan dinginnya, yang disambut dengan decihan kecil Karin.

"Ouh… maksudmu, mengejek? Maaf, itu sudah seperti makananku sehari-hari!" kata Karin dengan senyum imut nan menawannya, yang semakin membuat Sakura muak. Sedetik kemudian, ia menatap Karin, lalu tersenyum tipis. "Sakura, coba kau lihat ke dalam sana. Hampir semua dari mereka sudah memiliki kartu undangan ultah Sasuke bukan?" tanya Karin dengan senyum iblisnya.

Merasa ucapan Karin sedikit janggal, Sakura mengintip ke dalam kelasnya. Benar juga. Mungkin sudah semua-kecuali ia sendiri- di kelasnya sudah memegang kartu undangan ulang tahun seventeen itu.

Dengan mata berkaca-kaca, ia menepis tangan Karin dan mendorongnya untuk menyingkir. "Hei, mau kemana kau, Pincang?" tanya Karin, yang disambut dengan keheningan alam. Ia pun mengedikkan bahu, dan segera masuk ke kelasnya sambil tersenyum puas. "Hoho~Mudah sekali membuatnya terpuruk, ya?"

.

.

UHUK! UHUK!

"Arghh! Kenapa muntah lagi!" serunya tak suka, melihat genangan darah yang sedang terhanyut begitu saja diatas westafel toilet perempuan yang sedang ia gunakan saat ini. Pusing? Tidak juga, malahan ia sama sekali tak merasakan pusing. Akan tetapi, sesekali ia mengaduh, ketika kakinya yang pincang berkedut, masih merasa sakit akibat tendangan Karin barusan.

"Jangan batuk… jangan!" seru Sakura, menatap pantulan dirinya di depan cermin, yang kini sudah dipenuhi bercak darah itu.

Merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik, ia pun segera membuka kran westafel dan melarutkan noda darah yang memenuhi westafelnya. Menatap darah yang semakin lama semakin larut dan kian menghilang, ia menghela napas lega. Sekarang, ia pun menatap kembali pantulan dirinya di depan cermin.

Dan tak terasa, liquid bening mulai bertaburan di lantai toilet yang agak kotor itu.

Kenapa ia tak pernah menganggapku?

Apa aku sampah?

.

"He-hei! Kau muntah darah lagi?"

Sakura tercengang, mendengar suara yang agak barithon dari belakangnya. Ia berbalik, menatap Ino yang sedang terpana melihatnya saat ini. Dengan wajah berkeringat dingin, ia menghampiri Ino dan mencoba mencairkan suasana hening saat ini. "Ti-tidak kok! Ta-tadi bibirku berdarah saja, Ino!" kata Sakura beralasan, yang ditanggapi dengan tatapan super-dingin Ino.

"Kenapa? Katakan! Kenapa denganmu!" bentak Ino tak suka, menatap bercak darah yang masih tersisa di sekitar kerah seragam Sakura. Sebagai sahabat sejati Sakura, ia memang paling tidak suka sahabatnya menyembunyikan rahasia besar yang tak seharusnya ia sembunyikan itu.

Sakura tersenyum tipis, lalu menepuk-nepuk bahu Ino. "A-ano… aku tak apa, Ino! Kalau kubilang bibirku tadi berdarah, kok nggak mau percaya sih?"

Tanpa menepis tangan Sakura yang masih memegang kedua bahu tingginya, Ino terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menghela napas pelan. "Kalau memang itu jawabannya, oke," tanggap Ino kurang tulus, yang meskipun begitu tetap membuat Sakura tersenyum senang. "Ngomong-ngomong, kau kenapa disini? Mau pipis?" tanya Sakura heran, yang dibalas dengan garuk-garukkan kepala tak gatal andalan Ino. "Hehe, sure!" kata Ino, sambil mengangguk-angguk.

TENG… TENG… TENG…

"Eh, sudah masuk?" tanya Sakura, yang dibalas dengan anggukan setuju Ino. "Ya sudah, aku kembali ke kelas, Ino! Sampai bertemu lagi~" seru Sakura riang, sambil berlari-lari kecil menuju kelasnya.

Menatap Sakura yang perlahan-lahan hilang dari pandangannya, membuat Ino menghembuskan napasnya, kemudian menunduk.

Kau mau bohong sampai kapan, Sakura?

.

.

.

"Yah, sekarang, coba kalian buka buku halaman 34, kerjakan bagian B hingga selesai, tulis soal serta jawabannya diatas buku tulis kalian."

Sambil menulis beberapa pokok pembicaraannya di papan tulis dengan spidol biru, Anko sesekali melirik Sakura yang menatap isi buku pelajarannya dengan wajah gelisah. Merasa penasaran, ia pun segera melirik gadis itu secara terang-terangan. "Kau kenapa, Haruno-san? Wajahmu terlihat tak menyenangkan," tanggap Anko, membuat Sakura mengalihkan pandangannya. Sementara Anko masih menanti jawabannya, Sakura segera melambai-lambaikan tangannya, mencairkan suasana. "Ah, tak apa, Anko-sensei!" seru Sakura, sambil tersenyum tipis.

Sasori yang menyadari alasan kegelisahan Sakura, segera tersenyum tipis. "Kau mau menjadi pasanganku besok malam?" tanya Sasori, yang dibalas dengan delikan heran si bungsu Haruno itu.

"Pasangan? Ta-tapi, aku nggak kebagian-"

"Nggak apa, kau bisa jadi pasanganku selama pesta. Mau kan?"

Mendengar tawaran Sasori yang sulit dijawab tidak itu, membuat mata Sakura berbinar-binar. Beberapa detik kemudian, ia menatap Sasuke yang sedang asyik mengerjakan soal di halaman 34 yang baru saja dijelaskan Anko. "Tapi, apa Sasuke nggak merasa kesal, saat tahu pestanya diganggu gadis sepertiku?" tanya Sakura hati-hati, takut ia tertangkap basah sedang menatap si rambut chickenbutt itu.

Sasori tertawa kecil, kemudian menatap Sakura. "Kenapa harus kesal? Ia pasti akan suka kok, saat tahu kau juga ikut ke pestanya," kata Sasori menenangkan.

Yah, dia suka, sementara aku tidak…

Sakura menatap Sasori, kemudian tersenyum simpul. "Arigatou, Sasori… dari pertama kita bertemu, kau tak pernah sedikitpun merasa malu berteman bersamaku ya?" kata Sakura, yang dibalas dengan tatapan heran Sasori. "Malu? Untuk apa malu, kalau bertemannya dengan gadis sebaik kau?" tanya Sasori. Keduanya pun tergelak bersama.

Meskipun ia baru saja mengerjakan beberapa soal, ia tetap terus menatap Sasori.

Sejenak, ia kembali menatap soal-soal yang akan ia kerjakan selanjutnya.

Padahal di dekatku ada Sasori, tapi kenapa aku tak bisa menyukainya?

Huh, cinta itu memang sulit ya?

.

.

.

"Hei, kau mendapat undangan ultah Sasuke nggak?"

"Dapat dong! Besok kita ke tempat gaun remaja, yuk!"

"Tentu, gaun-gaunku sudah terlalu jelek!"

"Sama dong denganku!"

Dengan tatapan iri, Sakura menatap ketiga gadis yang sedang berjalan mendahuluinya. Kalau dipikir-pikir, memang hanya ia yang tidak mendapat kartu undangan yang cukup mewah itu. Huh, inilah yang disebut dengan negatifnya orang kaya. Angkuhnya sudah sangat melewati batas, hingga tak mempedulikan kalangan bawah.

.

.

"Yah, hujan lagi!" Dengan kesal, Sakura menatap rintik-rintik hujan yang turun kian deras itu. Kesalnya, sebentar lagi ia harus segera bekerja. Tapi, ia benar-benar tak bisa menerobos hujan sederas itu. Bisa-bisa, sampai tempat kerja ia langsung rubuh karena terlalu kedinginan. Ia pun memilih untuk menunggu di teras sekolah, dan berusaha menghubungi Matsuri, agar ia bisa menyampaikan kabar pada Orochimaru jika ia akan terlambat bekerja disebabkan cuaca buruk siang ini.

Ia tercengang, ketika mendengar suara barithon seseorang yang berasal dari belakangnya. Ia terpana seketika, melihat Sasuke yang sedang berlari kearahnya dengan wajah berkeringat.

"Tunggu!" seru Sasuke, yang dibalas dengan keheningan alam oleh Sakura. Beberapa menit kemudian, ia membuka suara. "A… Sasuke?" sapa Sakura sejenak, menatap Sasuke yang masih bernapas tersengal-sengal itu.

"Ini!" seru Sasuke, memberikan sesuatu kepada Sakura. Menatap sesuatu di tangan Sasuke, membuat Sakura keheranan. "Pa-payung?"

"Pakailah! Jangan kehujanan begitu!" seru Sasuke menuntut, mendekatkan payung itu kearah Sakura. Yang diberi payung, hanya bisa terdiam menatap payung di tangan Sasuke itu. "…". "Nanti kau sakit, Baka!" seru Sasuke kesal, membuat Sakura segera mengambil payung itu dari tangannya. "Arigatou…" balas Sakura pelan, nyaris berbisik. "Cih. Iya iya," kata Sasuke tanpa mengganti ekspresi datar wajahnya.

.

"Satu lagi."

Sambil membuka payung berwarna hitam itu, Sakura menatap Sasuke sejenak. "Kenapa?" tanya Sakura heran. Sasuke pun menghela napas sejenak, sebelum akhirnya memberikan sebuah kartu krem terang kepada Sakura. Sepertinya, Sakura merasa familiar dengan kartu dengan bau cat itu. "Apa?" tanya Sakura bingung, mengambil kartu undangan itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Sasuke. "Besok, jangan lupa bawa pasangan pestamu."

Iris viridian itu membulat lebar, melihat isi dari kartu undangan itu. Tidak salah lagi, itu kartu undangan ulang tahun si bungsu Uchiha.

"Kau… mengundangku?" tanya Sakura. Dengan cepat, orang di hadapannya mengerlingkan kedua oniksnya sebal. "Ya iyalah, kau mau kartu itu kusita lagi dari tanganmu?" sergah Sasuke kesal, yang disambut dengan senyum malu-malu Sakura. "Ka-kalau begitu, arigatou lagi…" kata Sakura sambil tersenyum senang, yang dibalas dengan anggukan cepat khas Uchiha. "Ya sudah, aku pergi dulu."

Tanpa menunggu komentar Sakura selanjutnya, pemuda itu cepat-cepat berlari meninggalkan si putri malang yang cantik jelita itu.

Katakan saja, Uchiha.

Kau malu berhadapan langsung dengannya, bukan?

.

-0-

.

Ketika malam menjelang, Sakura sudah sampai di kamar apartemen yang mungil nan nyaman itu.

Ketika sedang menonton televisi di kamarnya, ia teringat akan sesuatu. Segera, ia mengacak-acak isi tasnya dan mengambil sebuah kertas tebal dengan warna terang dan agak mencolok itu. Tanpa ditanya juga kalian sudah tahu apa yang sedang Sakura genggam erat, sudah pasti kartu undangan dari si Uchiha Sasuke kan?

Kukira ia takkan memberiku undangan ulang tahunnya, ternyata aku salah…

Sambil menatap kartu undangan itu, ia memikirkan kado apa yang sesuai dengan keinginan Sasuke. Kalau dilihat-lihat, Sasuke memang suka menulis dan membaca. Jadi, pilihannya antara buku tulis, dengan buku bacaan. Lalu, kalau melihat warna apa yang sepadan dengan lelaki berparas tampan itu, sudah pasti jawabannya hitam kebiruan kan?

Jangan tanya soal apa yang paling ia senangi seumur hidupnya. Sudah pasti tomat.

"Tomat, buku, hitam… apa yang bisa dihubungkan?" tanya Sakura heran, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal. Sejenak, ia melirik layar televisi, dan melihat apa yang sedang disiarkan oleh televisi dengan inci sekitar dua belas inci itu.

Beberapa menit kemudian, ia tersenyum puas. Jika ini adalah komik, sudah pasti diatasnya akan ada sebuah lampu terang.

Nah, itu dia!

Jangan lupa satu fakta, kalau seorang Haruno Sakura lebih suka mendaur ulang daripada membeli.

.

.

Apa yang kurasakan?

Ketika melihatmu bersamanya, dadaku bergemuruh dan wajahku memperlihatkan bentuk kekesalan…

Ketika melihatmu tersenyum karenanya, bibirku mengeluarkan decihan sebal…

Ketika melihatmu bahagia karenanya, aku hanya bisa diam dengan wajah yang ditundukkan…

Salahkah aku bila memiliki perasaan seaneh ini padamu?

.

.

Morning, at Konoha Apartement, in Thursday

Mentari pagi yang hangat dan bersinar terang, menemani Sakura memulai harinya dengan senyuman. Karena hari ini sekolahnya diliburkan, Sakura memutuskan untuk memperbaiki kado untuk Sasuke agar semakin sempurna. Meski yang ia tahu, dari jam ke jam yang ia lakukan hanya membuat hadiah untuk si angkuh itu semakin jelek.

Ketika Sakura sedang membungkus kado untuk Sasuke, ia teringat akan sesuatu. Segera, ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan melihat-lihat pakaian apa yang bisa ia gunakan menuju pesta ulang tahun Sasuke ketujuh-belas itu.

"Haaah… aku sama sekali nggak punya gaun," kata Sakura kesal, sambil menatap sebuah gaun pendek yang bagian bawahnya sudah robek karena sejak dulu selalu ia main-mainkan hingga akhirnya terobek.

Kalau begini, gimana caranya biar bisa pergi ke pesta ultah Sasuke?

.

.

TOK! TOK!

Di tengah keputusasaannya yang menjadi-jadi, gadis yang delapan bulan lagi akan merayakan hari lahirnya, mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari balik daun pintu kamar apartemennya. Sambil menyingkirkan benda-benda tak penting di sekitarnya, ia berjalan menuju pintu kamarnya dan bergegas untuk membukanya. "Lho?"

Sama seperti sebelumnya. Bukan orang yang ada, melainkan sebuah kotak berwarna merah muda, warna favoritnya.

Jangan lupakan sebuah kertas yang tergeletak diatas kotak dengan warna mencolok itu. Ada dua kata yang membuat Sakura terpana ditorehkan diatas kertas putih itu. Mr. X.

Mr. X lagi? Siapa sih dia?

Merasa kotak itu bukan bom atau semacamnya, Sakura pun membawanya masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu kamar itu untuk mengantisipasi adanya penyusup. Kedua iris dingin di sudut lantai itu, hanya bisa menatap gadis pinky hair itu dalam diam.

.

.

"Hah? Indah sekali~"

Dengan wajah senang, Sakura mengambil sepotong gaun berwarna merah muda dan mencocokannya dengan ukuran tubuhnya di cerminan kaca. Bibirnya tak sanggup menahan senyum bahagia, melihat gaun pendek yang indah dan sangat anggun itu. Beberapa payet kecil memenuhi bagian bawah dari gaun tersebut, dan tak lupa dengan sebuah surat di bagian paling bawah dari kotak tersebut. Dengan penasaran, Sakura menggapai surat itu.

Hadiah karena kau telah membuatku senang saat itu. Gunakan gaun itu sebaik mungkin, aku tak suka dengan gadis yang seenak jidatnya menggunakan pemberianku.

Mr. X.

Sambil membaca isi surat itu, Sakura tersenyum tipis. Ia pun mengangguk senang.

"Pasti!"

.

Ketika malam tiba, Sakura telah siap dengan gaun merah muda yang sudah ia kenakan dan sebuah kotak kado dalam genggamannya. Sasori yang sudah menunggunya dibawah, tak diabaikan oleh gadis yang tengah kelewat senang itu. Setelah menahan napas sejenak, ia pun berjalan keluar untuk menjawab penantian Sasori.

"Sasori, maaf menunggu lama!"

"Iya, tak ap-"

Pemuda beriris hazelnut itu hanya bisa memandang penampilan Sakura malam ini dalam diam. Samar-samar, bibirnya bergumam tidak jelas. Jangan tanya soal rona merah yang entah terlihat atau tidak di kedua pipinya, pasti akan muncul. "Sa-Sakura?"

"A-ano… kenapa denganku, Sasori? Ada yang anehkah?" tanya Sakura heran, yang dibalas dengan gelengan pelan Sasori.

"Ah, enggak! Ya sudah, ayo naik!" ajak Sasori, yang salah tingkah karena terlalu banyak berpikir. Dengan malu-malu, Sakura masuk ke dalam mobil Sasori. Yang mengajaknya naik mobil, hanya bisa tersenyum melihat penampilan Sakura yang benar-benar 'wah' malam ini.

Ternyata, kau lebih dari sekedar malaikat ya, Sakura?

-0-

.

.

Ketika sampai di rumah keluarga Uchiha, dengan bergaya layaknya seorang supir, Sasori segera turun dan memandu Sakura turun. "A-ano… aku bisa keluar sendiri, jangan terlalu merendah!" kata Sakura memperingatkan, yang disambut gelak tawa Sasori. "Nggak apa, aku juga udah biasa kok," kata Sasori. Sasori pun segera menggandeng tangan Sakura, berjalan bersama memasuki kediaman Uchiha yang terkenal dengan kemewahan dan keterpandangannya itu.

Sakura terdiam, melihat para gadis di sekolahnya, yang sekarang sudah disulap menjadi gadis-gadis cantik bertahtakan gaun, perhiasan, dan berbagai perak menghiasi tubuhnya.

"Nggak apa kok, tanpa perhiasan, kau sudah terlihat cantik," puji Sasori, berusaha membuat Sakura senang.

"E-eh, i-iya!" kata Sakura, sambil tersenyum malu-malu. Salah tingkah juga rupanya.

"Nah, kau jalan duluan ya, Sakura. Aku menuntunmu dari belakang," kata Sasori, berusaha membuat Sakura nyaman di dekatnya. Yang disuruh, hanya bisa mengangguk saja. Sakura pun tersenyum, lalu berjalan mendahului Sasori, sementara Sasori berada tepat dua langkah di belakangnya.

Beberapa gadis sekolah menatapnya dengan wajah kaget, bahkan para lelaki yang datang terpana menatap penampilan Sakura saat ini.

Yah, sebenarnya semua hanya bertahan selama satu menit sih.

Karena, sekitar lima belas menit merasa malu dengan pandangan berbeda dari para remaja di sekitarnya, ada insiden memalukan yang harus ia hadapi sekali –lagi-.

.

.

BYUUUUR!

"AH!" seru Sakura kaget, merasa tubuhnya basah mulai dari ubun-ubun hingga ke mata kakinya yang terlindungi sepatu high-heels berwarna putih itu. Samar-samar, ia mencium bau tak sedap di sekitarnya. Dengan rasa penasaran yang mendalam, Sakura menatap cairan apa yang sekarang tengah membuatnya terlihat memalukan itu.

Apa?

Bersamaan dengan itu, sang bintang acara mulai keluar memadati himpunan remaja di ruangan luas nan besar itu.

Kenapa ada lumpur mengguyur tubuhku?

Semua tamu yang berada di ruangan luas itu, terpana melihat Sakura yang semula cantik, dan kini seperti upik abu yang sedang menghadiri sebuah pesta besar. Sementara Sakura sendiri, hanya bisa menatap tubuhnya yang sudah terguyur lumpur dengan wajah kaget, bibirnya bergetar menahan malu, melihat semua tamu pesta yang menatapnya dengan wajah menahan tawa. Dan detik berikutnya…

"HAHAHAHAHA!"

Hampir seluruh dari tamu pesta itu menertawakan penampilan memalukannya saat ini. Sakura memejamkan matanya menahan malu, kenapa lagi-lagi ia harus tampil memalukan?

Setelah mengontrol detak jantungnya yang berdebar tak karuan, Sakura segera membuka bola mata emeraldnya kembali.

Tubuhnya bergetar hebat, melihat seorang pemuda dengan tuxedo putihnya yang sedang menatapnya dengan mata melotot. Hebat. Setelah ditertawakan tamu pesta ini, pasti ia juga akan ditertawakan sang bintang acara. Hebat. Sangat hebat.

"Sakura, kau kenapa?" tanya Sasuke kaget, melangkah mendekati Sakura. Sakura menahan napas, kemudian mundur perlahan. "Be-berhenti!"

Mendengar teriakan Sakura, membuat Sasuke menunda langkahnya. Tapi, matanya tak bisa lepas untuk memandang gadis cantik yang sekarang terlihat bodoh itu. "Sa-Sakura…" ucap Sasuke terpana, membuat Sakura menggeleng kuat. "Ja-jangan lihat aku!" seru Sakura menahan tangis, kemudian segera berlari meninggalkan Sasuke dan seluruh tamu pesta.

Sasuke pun mengedarkan pandangannya kearah seluruh ruangan. Hampir seluruh tamu yang ia undang, tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Sakura barusan.

Justru itulah yang membuat Sasuke mendecih sebal.

Sasuke pun mengeluarkan sebuah saputangan hitam dari kantung tuxedonya. Ketika semua tamu masih tertawa-tawa diatas penderitaan sang Haruno, sang Uchiha yang dikenal dengan keangkuhan dan super-gengsinya itu malah memberikan sebuah saputangan hitam kesayangannya kepada si cantik berambut pink itu.

Sakura yang matanya sedang berkaca-kaca, hanya bisa tertegun melihat saputangan yang tergenggam di tangan kanan Sasuke.

"Cepat ambil, atau kuusir kau dari pestaku."

Dengan buru-buru, Sakura segera mengambil saputangan hitam tersebut dari tangan Sasuke, kemudian membersihkan bagian tubuhnya yang basah. Sasuke tertawa kecil, ketika tahu Sakura sempat salah tingkah di depannya.

"Sudah ya, aku mau ke taman."

"A-ano, Uchiha-kun!"

"Apa?"

"Kau… tidak malu menerima tamu seperti ini?" tanya Sakura, seraya memandang kondisi tubuhnya yang benar-benar miris. Sasuke hanya bisa mengerlingkan kedua iris onyxnya dengan wajah kesal.

"Haah~Asal kau masih terlihat sempurna, maka aku takkan melarangmu ikut pestaku."

Blush!

Eh? Sasuke bilang apa barusan? Ia bilang Sakura sempurna? Meskipun secara tak langsung, itu sudah membuat pipi Sakura merona merah. Bahkan, ia hampir tak mempedulikan-atau tak menyadari?- tatapan mengintimidasi yang pastinya berasal dari gadis penggemar Sasuke itu.

"Sudah, pergi ke toilet dulu gih."

"A-ano, tunggu dulu, Sasuke-san!"

Dengan wajah heran, Sasuke berbalik dan menatap Sakura dengan wajah bingung. "Kenapa lagi?" tanyanya sambil mengacak-acak rambut chickenbuttnya.

Sakura tersenyum tipis, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Dengan wajah berseri-seri, ia memberikan kotak berwarna merah muda itu kepada Sasuke.

"Otanjoubi omedetou, Sasuke-kun!"

Blush!

Coba lihat, sekarang siapa yang sedang berblushing ria, hn?

.

.

.

TBC :D

What the hell is it? *ngomong sendiri di depan notebook*

Gomen, Minna-san! Kazu sudah berusaha, dan hasilnya memang payah banget =="

Untuk yang sudah review, terimakasih buanyak yaaaa *dicium* Aku takkan bisa mengetik fanfic ini bila bukan karena kalian

Oh iya, sori atas keterlambatannya ya? Aku banyak urusan xD

Untuk chapter selanjutnya, Kazu usahakan untuk membuat new chara, yang pastinya berasal dari Fandom Naruto ;)

Di chap ini, bagian Sakura yang dicemooh segitu dalamnya sama geng Karin memang kusedikitkan dulu, kasihan sakuranya XD

Untuk chap selanjutnya? Kita lihat saja nanti~

Terima Kasih Atas Waktu Kalian Untuk Membaca Fanfict Ini

Akhir kata…

Review Please?