By Takumi

Immortal

By: Takumi

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: Sasuke+Naruto, Itachi+Deidara, mungkin bertambah ^^a

Rated: T

Genere: Fantasy/Romance

Warning: Shonen-ai. Buanyak banget typo, OOC, pemaksaan istilah dll.

G'berminat?? BACK aja Z!!!

Keterangan Umur:

Itachi: 7 tahun

Sasuke: 4 tahun

Deidara: tak di ketahui tapi dari fisik terlihat berusia sekitar 23 tahun

Naruto: tak di ketahui tapi dari fisik terlihat berusia sekitar 20 tahun

—Normal POV—

Pagi hari yang cerah. Sinar mentari masih malu-malu menembus hutan sebelah utara konoha. Embun masih melekat pada daun seakan membentuk kristal yang bersinar saat seceracah sinar mentari menimpanya.

Suara burung-burung dan binatang hutan saling bersahutan. Harmonis. Membuat semua jiwa terlarut akannya. Terlarut untuk lebih merapatkan selimut. Berusaha lebih dalam menyelami alam mimpi. Apa lagi untuk orang yang baru beberapa jam terakhir beranjak tidur.

"Duuuaaarrr!!!" (ini suara pistol pa ledakan ya?)

Sepasang mata yang terpejam mendadak menampakkan keindahannya. Sepasang mata biru yang memukau. Tanpa banyak komando dan di tengah kesadarannya ia berlari keluar kamarnya.

Saat ia keluar kamar, ia menemukan dua sosok anak kecil yang juga baru daja keluar dari kamarnya. Mungkin kedua anak itu juga terganggu akan suara tadi.

"Cih, Dobe" Ucapan selamat pagi dari Sasuke.

"Ahh… sial! Pagi-pagi sudah ada yang bikin masalah." Gumam Naruto.

"Suara apa itu?" Tanya Itachi dengan wajah datar.

"Mungkin ulah Aniki di dapur." Jawab Naruto.

'Ni anak tidak punya espresi atau apa sih? Kenapa mendengar suara ledakan dipagi hari, wajahnya tetap datar-datar saja?' Batin Naruto.

"Haah? Dapul?" Tanya Sasuke meminta kepastian.

"Ah. Itu..-"

"Duuuaaarrr!!!"

"Ah! Sial! Bisa-bisa semunya jadi hancur!" Gumam Naruto.

Naruto berlari menuju dapur yang berada di lantai satu. Meninggalkan kakak beradik Uciha yang masih berada dalam keterkejutan.

Sesampainya di dapur, Naruto melihat Anikinya mencoba membenahi bajunya yang berantakan akibat dua ledakan tadi.

"Aniki, sudah berapa kali aku bilang, 'Jangan sekali-kali kau menyentuh dapur!'." Ucap Naruto dengan penuh penekanan.

Sedangkan yang bersngkutan hanya bisa menghentikan seluruh kegiatannya dan menoleh dengan gerakan patah-patah. Dapat dilihat, wajahnya gosong akibat ledakan dan bibirnya yang semula merah berubah menjadi pucat karena mendengar suara dari otouto-nya.

"Hehehe… ma-maaf Naruto. A-aku hanya ingin membantu menyiapkan sa-ra-pan." Jawab Deidara berusaha menyembunyikan ketakkutannya.

"Membantu." Kata Naruto lembut dengan mata berbinar-binar dan senyum terukir di wajahnya.

"Iya." Jawab Deidara dengan antusias dan mata berbinar-binar. Melupakan seluruh ketakutan yang menyelimutinya tadi.

"Terimakasih Aniki.." Kata Naruto dengan senyum yang masih terukir di wajahnya. "TERIMAKASIH UNTUK MENAMBAH PEKERJAANKU!" Lanjut Naruto penuh dengan penekanan.

Seketika itu Deidara bersimpuh di hadapan Naruto, karena yang ia lihat bukanlah adiknya yang manis dan imut. Tetapi yang ia lihat adalah sesosok setan. Sesosok raja setan yang baru keluar dari neraka.

"Ma-maaf Naruto… Maaf!!" Mohon Deidara sambil bersujud di hadapan Naruto. "Maaf Naruto. A-aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" Janji Deidara sambil gemetaran.

Deidara berusaha sekeras mungkin untuk meminta maaf pada Naruto. Karena menurut pengalamannya, kalau Naruto marah ia akan mengamuk. Melampiaskan seluruhnya pada obyek yang membuatnya marah. Hal itu tak menjadi masalah bagi Deidara, karena seberapapun kerusakan a.k.a luka yang ada di sekujur tubunya akan sembuh hanya dalam waktu beberapa jam saja. Tapi masalahnya, Deidara akan di acuhkan oleh Naruto hingga beberapa minggu. Ia tak ingin itu terjadi. Cukup ia mengalami hal itu sekali saja. Cukup dengan kejadian ramen limited edition –ah lupakan-.

"Kumohon Naruto… hiks maafkan aku… hiks… a-ku berjanji tidak akan mengulanginya lagi… hiks." Kata Deidara di tengah isak tangisnya.

"Huuh." Dengus Naruto sambil membuang muka.

"Naa…ruu…too… Maaaaafff…" Rengek Deidara. "Ah! Itachi, Sasuke!" Kata Deidara sepontan sambil melihat kedua anak kecil yang berada di belakang Naruto.

"Hn." Jawab Itachi.

"Apa yang sebenalnya teljadi?" Tanya Sasuke saat melihat dapur yang sangat berantakan.

"Eh, i-itu…" Jawab Deidara gugup sambil mengaruk belakang kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal.

"Sudahlah Aniki! Katakana saja kalau ini semua karena ulahmu yang mencoba memasak sarapan." Tuntut Naruto dengan nada mencemoh.

"Un." Gumam Deidara sambil menundukan wajah. Memandang garis-garis yang ada di lantai.

"Lalu mana makananya?" Tanya Itachi.

"I-itu…"

"Hancul." Sahut Sasuke.

"Bukan hanya hancur! Tapi hilang tak tersisa!" Timpal Naruto.

"Maaf…" Kata Deidara dengan lirih masih dengan menundukkan wajahnya.

"Huff, parah!" Kata Itachi.

"Ya! Memang parah. Hanya memasak saja bisa meledak dan membuat kekacauan separah ini." Timpal Naruto.

Deidara hanya bisa menunduk lebih dalam dan mengerucutkan bibirnya.

Hening

.

.

.

'Kruuuyuk' Sebuah suara aneh memecah keheningan yang terjadi.

"Sepertinya aku lapar…" Aku Naruto. "Yap! Waktunya masak!" Lanjut Naruto ceria.

"Memangnya kau bisa masak, Dobe?" Ejek Sasuke.

"Kau jangan menghinaku ANAK KECIL!"

"Aku hanya tidak mau mati ke lacunan gala-gala memakan masakanmu, Dobe! Dan jangan pangil aku anak kecil!"

"Kau pikir aku sebodoh itu, Teme! Dan kau memang anak kecil, Teme!"

"Kalian-kan belsaudala! Pantas saja aku khawatil."

"Tenang saja! Aku TIDAK akan melakukan hal BODOH seperti dia, Teme!" Geram Naruto sambil menunjuk Deidara dengan jari telunjuknya.

"Huuh."

"Sudahlah! Bawa mereka keluar, Aniki." Kata Naruto sambil masuk lebih dalam lagi ke medan 'perang'.

"Un." Jawab Deidara sambil beranjak dari dapur.

"Oya, Aniki." Kata Naruto menghentikan langkah Deidara.

"Ya." Jawab Deidara dengan senyum.

"Nanti, kau harus membereskan semua ini! Dan tidak ada acara COBA-COBA, apa lagi LEDAKAN!" Kata Naruto dengan aura hitam yang menyelimutinya.

'Glek' Seketika itu tubuh Deidara menegang.

"MENGERTI?" Tuntut Naruto meminta jawaban.

"Un" Jawab Deidara lirih dan gemetar.

Itachi POV

"Mengerti?" Tuntut Nruto meminta jawaban.

"Un" Jawab Deidara lirih dan gemetar.

'Heeh, aku tak mengerti kenapa Deidara terlihat ketakutan pada Naruto.' Pikirku.

Saat Naruto melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, Deidara menuntun kami untuk pergi dari dapur.

Sebelum pergi, kusempatkan tuk melirik dapur.

'Hmph, menarik.' Pikirku.

Bagaimana tidak? Mana ada orang aneh yang berniat membuat sarapan, tapi berakhir dengan ledakan di pagi yang tenang ini.

'Ku harap, dia bisa memasak dengan lebih baik.' Batinku.

Cukup lama kami menunggu Naruto untuk membuat sarapan. Yah, walaupun baru tiga menit. Tapi itu cukup membuatku bosan akan keheningan ini. Kau tahu? Walaupun aku tak banyak bicara dan menyukai keheningan, tapi aku tak nyaman akan keheningan ini.

Kulirik Sasuke dengan ekor mataku. Ia sedang bersenandung ceria. 'Eh, kenapa dengan my baka otouto? Tak biasanya ia sepeti ini,' Batinku.

"Sasuke, kau sakit?" Tanyaku untuk memastikan keadaannya.

"Eh, tidak." Jawab Sasuke sambil memiringkan kepalanya. Seakan tidak mengerti dengan pertnyaan dariku.

"Hn" Timpalku.

"Uh" gumam Sasuke, tidak puas akan jawaban ku.

Kulirik orang yang kini berada di hadapanku yang di pisahkan oleh meja makan. Dia hanya memandang kami.

"Sekarang apa jawabanmu?" Tanyaku.

"Ya?" Tanyanya seakan tak mengerti akan pertanyaanku.

"Jangan berlagak bodoh!" Seruku datar. Heeh, kadang aku berfikir. Kenapa aku bisa mempertahankan style ku di saat seperti ini. 'Dasar Uciha.' Dengusku.

"O… tentang semalam?" tanyanya meminta kepastian.

"Hn" timpalku. Ku lihat dia melirik skilas pada Sasuke.

"Em, sebelumnya kau tau tentang, Dseimoon?" tanyanya dengan ragu-ragu.

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti arah pembicaraan ini. "Dan aku hanya bertanya mengapa kau bawa kami kesini?" lanjutku.

"Itu sebuah legenda. Legenda nyata," jawabnya. "Dan semua itu akan berhubungan dengan sebab mengapa kalian ada di sini." Terangnya.

Dapat ku lihat, gurat ketegangan di wajahnya. Entah kenapa seketika ruangan ini menjadi menegankan. Sasuke juga telah menghentikan senandung cerinya sejak aku membuka pembicaraan dengannya.

"Lanjutkan." Perintahku. Dia hanya mengerucutkan bibirnya, karena mendengar nada memerintah dariku. 'Hufft, lucu' batinku. 'A-apa yang aku pikirkan? Mana mungkin aku tertarik padanya!' Sangkalku. 'Tertarik? O.o Apa tadi aku mengatakannya?'

'Haah, suadahlah!' batinku tidak mau memikirkannya lebih jauh.

"Kau yakin tidak pernah mendengarnya? Tentang mahluk abadi?" Katanya memastikan.

"Sepelti Vampil, Wilewolf?" Tanya Sasuke. Sepertinya ia begitu penasaran.

"Ya, seperti itu. Tapi itu semua hanya legenda," katnya "Bukan kenyataan." Lanjutnya.

"Lalu, yang kau maksud apa?" tanyaku. "Jangan bilang ini tentang mahluk bulan bodoh itu!" Lanjutku meminta kepastian.

"Mahluk bulan bodoh?" Tanyanya meminta penjelasan.

"Ya, mahluk yang kehilangan kekuatan saat pergantian bulan," terangku. "Mereka semua hanya fiksi. Tidak nyata!"

"Ya, mungkin mahluk itu… Hey, tapi kenapa kau bilang bodoh?"

"Karena mereka melakukan kesalahan yang sangat konyol. Kesalahan yang membuat mereka menjadi mahluk yang seperti itu." Jelasku. "Menurutmu apa mereka tidak bodoh?" Tanyaku. Kupandang kedua mata biru yang kini juga memandangku dengan berbagai rasa yang berkecamuk. Tapi dapat kulihat ada kilat yang meminta penjelasan lebih dari pernyataanku tadi.

"Kau tahu?" tanyaku, sedekit mengambil jeda. "Mana ada orang bodoh yang melakukan kesalahan sperti itu? Padahal ia tau akan hal itu!" kataku meminta kepastian. "Tak ada, kecuali orang itu benar-benar Idiot!" lanjutku.

"Itu menurutmukan?" katanya seakan tidak puas akan pendapatku.

"Hn" Jawabku.

"Eh?" Tanyanya mungkin ia tidak mengerti dengan Trend Mark Uciha.

"Ya" kataku lagi agar ia jelas.

"Tapi kau tak tahu bagaimana perasaan mereka! Kau tak tahu bagaiman hidup abadi yang penuh dengan penderitaan dan tanpa o-"

"Yap… makanan sudah siap!" Seru Naruto memotong pembicaraan kami.

"Lanjutkan." Kataku pada Deidara untuk meneruskan kalimatnya yang terpotong.

"Kalian sedang membicarakan apa sih?" Kata Naruto sambil melihat kami. "Sepertinya serius sekali?" Lanjutnya.

"Lanjutkan." Perintahku lagi pada Deidara. Dapat kulihat Naruto mengembungkan pipinya karena kami tak menghiraukannya.

"Sudahlah! Nanti saja dilanjutkan!" Serunya karena kesal. "Sekarang ayo makan! Kasiankan kalau entar dingin…" Katanya dengan mata berbinar-binar sambil melihat kearah makanan yang tadi dia bawa.

"Apa ini, Dobe?" Tanya Sasuke sambil menunjuk makanan yang ada di hadapannya.

"Ramen!" Jawab Naruto yang sudah siap dengan sumpitnya. "Ada masalah?" tanyanya lagi dengan muka innocent. (Uh, andai Naruto tahu, wajahnya itu bisa bikin semua orang tergoda)

"Lamen? Kau ingin melacuniku?" Tanya Sasuke sambil menundukkan wajahnya.

'Apa-apaan ini? Kenapa Sasuke telihat imut' pikirku melihat tingkah Sasuke yang sedang menunduk untuk menutupi semburat merah di pipinya.

"Makan saja, Teme!" kata Naruto sambil mengaduk-aduk ramen dengan sumpitnya. "Tidak bercun kok." Lanjutnya sambil menyuapkan ramen ke dalam mulutnya.

"Apa tidak ada makanan lain?" Tanya Sasuke sambil mengangkat wajahnya melihat Naruto makan dengan lahapnya.

"Shemuha hahan mhakhanan habhhis, htemhe." Jawab Naruto dengan makanan di mulutnya.

"Telan dulu makanamu, Dobe! Aku tidak mengelti apa yang kau bicalakan." Kata Sasuke dengan alis ditekuk.

"Semua Bahan Makanan Habis, Teme," Kata Naruto menjelaskan. ""Entah siapa yang memakai semua bahan makanan tapi tidak ada hasil." Sindir Naruto sambil melirik Deidara.

Dapat ku lihat seketika itu Deidara mengang. Menghentikan sumpit yang sudah berada di depan mulutnya.

"Gomen, un" kata Deidara sambil menurunkan sumpitnya dan menundukkan wajah.

"Ya, sudahlah! Sudah terlanjur," Kata Naruto. "Ayo MAKAN!!!" seru Naruto bersemangat.

Aku heran kenapa ada orang yang bisa berubah mood secepat ini.

"Teme, kalau kau tidak mau, sini biar aku makan." Pinta Naruto pada Sasuke dambil menjulurkan sumpitnya kea rah mangkok Sasuke.

"Siapa yang bilang tidak mau, DOBE!" Jawab Sasuke sambil menepis sumpit Naruto dengan sumpitnya.

"Lho, tadi katanya tidak mau?" Tanya Naruto dengan wajah cemberut.

"Si-siapa bilang aku tidak mau, Dobe!" Kata Sasuke dengan suara gemetar. "Aku hanya tanya 'apa tidak ada makan lain', DOBE!" Lanjutnya dengan wajah menunduk.

'Eh, kenapa dengan, my Otouto? Kenapa dia jadi begeni?' pikirku sambil melirik Sasuke.

"Ta-… Ah, sudahlah! Mari makan." Seru Naruto.

End of Itachi POV—

Normal POV

Selesai makan, Naruto membereskan peralatan makan dan Deidara membereskan dapur. Sedangkan Itachi dan Sasuke hanya duduk santai di sofa sambil melihat telesvisi.

Tak berapa lama, datanglah Naruto dan Deidara. Mereka duduk di lantai di depan kedua Uchia. Sehingga posisi mereka membelakangi kedua Uciha.

"Aniki, penuhi janjimu." Pinta Naruto pada Deidara.

"Un?" Tanya Deidara sambil memiringkan kepala dan menghadap kearah Naruto.

"Tentang mengapa kau bawa kedua kurcaci ini ke-… ADUHH!!!" teriak Naruto sambil memegang kepalanya.

"SIAPA YANG MENENDANG KEPALAKU?" tanya Naruto penuh penekanan di setiap katanya sambil berbalik ke belakang.

"Hn, Dobe, kau memang pantas mendapatkannya." Kata Sasuke mengakuinya dengan tampang setoic-nya.

"Jadi kau yang melakukannya, TEME? Grrr… apa salahku sehingga kau menendang kepalaku, HA?" kata Naruto yang mencoba menahan amarahnya.

"Kalena kau memangilku Kulcaci, Dobe!" Jawab Sasuke tak menghiraukan aura hitam yang telah melingkupinya.

"Hanya karena itu, Teme? Hanya karena itu kau menendang kepalaku?" Naruto mengambil jeda untuk mengatur nafasnya. "Tapi benarkan, kau memang Kurcaci! Lihat saja badanmu, kecil. Ringan." Lanjutnya sambil mengangkat Sasuke dengan kedua tangannya.

"APA YANG KAU LAKUKAN, DOBE?" tanya Sasuke penuh dengan penekanan. "CEPAT TULUKAN AKU, DOBE!" perintah Sasuke.

"Cih, memang kau tidak bisa menggunakan kata tolong?" goda Naruto. 'Hufft asik juga membuatnya marah.' Batin Naruto.

"Cih, tak pelu." Kata Sasuke sambil menendang kepala Naruto.

Akibat tendangan Sasuke, Naruto melepaskan pegangannya pada Sasuke. Karena itu, Sasuke meluncur bebas dari ketinggian sekitar dua meter.

.

.

'Haap' sebuah tangan menangkap Sasuke dan membawannya dalam pelukan.

'Bletak' sebuah tinju jatuh di atas kepala Sasuke.

"Aduh! Apa yang…" Sasuke hanya mematung melihat siapa orang yang menangkapnya.

"Hai, seharusnya aku yang bertanya, Teme!" Bentak Naruto. "Apa yang kau lakukan, Teme? Apa kau tahu? Kalau kau tadi sampai jatuh, tak hnya benjol yang kau dapat! Mungkin kau bisa patah tulang! Jangan melakukan tindakan bodoh lagi, BAKA TEME!" Ucap Nruto penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran.

Onix dan safir bertemu. Membongkar semua rasa yang terpendem. Rasa kawtir, marah, kesal, penyesalan, malu. Eh? Malu?

Seketika sang onix memalingkan wajahnya, menyembunyikan perasaan dan wajahnya karena baru menyadari posisi mereka saat ini. Sedangkan sang safir mentapnya dengan penuh tanda tanya, tak mengerti apa yang terjdai dengan orang yang berada dalam dekapannya.

"Ma-maaf" ucap Sasuke lirih. Tapi cukup didengar oleh ke tiga orang yang berada di ruangan itu.

Deidara dan Naruto hanya tersenyum mendengarkan permintaan maaf dari Sasuke. sedangkan Itachi hanya bisa membelalakan mata mendengar ucapan maaf itu. Ia tak pernah menyangka bahwa Sasuke akan mengucapkannya. Bahkan pada keluarganya saja tidak pernah.

"Ya, sudah. Lain kali jangan ulangi lagi ya!" kata Naruto sambil menaruh tangan kanannya di atas kepala Sasuke. sedangkan tangan kirinya masih berada di pingang Sasuke.

"Hn," Sasuke mengambil nafas untuk menenangkan dirinya "tu-turunkan aku, Dobe!" ucap Sasuke dengan nada galak, tapi tak mampu menyembunyikan nada groginya di hadapan si pirang ini.

"Kyaaa… lucunya!!!" jerit Naruto sambil memeluknya lebih erat.

"A-apa yang kau lakukan, Dobe?" kata Sasuke dengan wajah merah padam sambil berusaha melepaskannya dari prlukan Naruto.

"Habis, kau terliahat imut kalau bertingkah seperti itu, Teme!"

"LEPASKAN AKU, DOBE!!!"

"Ah… sebentar saja, Teme…" ucap Naruto manja.

"LPASKAN SE-"

'Cup' sebuah kecupan di pipi Sasuke berhasil menghentikan perkataannya sekaligus membuat wajahnya semakin memerah.

Sedangkan pasangan ItaDei hanya bengong melihat mereka dari tadi. Apa lagi melihat seorang Naruto yang super-duper imut yang mencium pipi kenyal Sasuke yang super imut.

"A-apa yang kau la-lakukan, Do-Dobe?" tanya Sasuke malu.

"Habis kalau kayak gini kamu jadi SUPERDUPER LUCU, Teme! Terlihat seperti anak kecil!" jawab Naruto sambil menarik kedua pipi Sasuke gemas.

'Kenapa dia bisa melakukannya? Padahal aku belum pernah melakukannya, apa lagi membuatnya bertingkah seperti itu…' batin Itachi.

"Lephaskhan hakhu! Dhashal Phedhophil!"

.

1

.

2

.

3

.

4

.

5

.

"A-apa maksudmu, Teme?" tanya Naruto menghentikan tarikan tangannya pada pipi Sasuke.

"Ya, kau terlihat seperti pedophil, Naruto!" sahut Deidara.

"Nani? Um… pedophil itu apa?" tanya Naruto dengan wajah innocentnya.

"Kau memang benal-benal Dobe, DOBE." Ucap Sasuke sambil melangkah turun dari pangkuan hangat Naruto.

"Um?" Naruto madih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Laulu ia mengalihkan pandangannya pada Deidara seakan meminta sebuah jawaban. Tetapi yang bersangkutan malah mengalihkan pandangan kea rah lain yang jelas bukan kea rah mata Naruto. tapi ternyata jatuh pada Itachi.

"Un, Itachi" ucap Deidara untuk meminbta perhatian Itachi dan berusaha mengalihkan pembicaraan dan perhatian Naruto.

"Hn" jawab Itachi datar. Masih mengamati Sasuke, seakan ia tak percaya dengan tingkah otouto-nya.

"I-itu,"

Mendengar nada aneh pada Deidara, seketika itu Itachi memusatkan perhatiannya pada Deidara.

"A-aku akan menjawab pertannyaanmu," Deidara memastikan semua perhatian terpusat padanya "…tapi sebelumnya, aku ingin kau memberitahuku seluruh yang kau tahu tentang Dseimoon." Pinta Deidara.

"Tunggu Aniki! Apa kau akan memberitahu hal itu pada mereka?" protes Naruto pada Deidara.

"Ya." Jawab Deidara tegas. Wajahnya berubah tegas.

"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Naruto dengan wajah tegas. Tak ada lagi kepolosan di wajahnya.

"Oh maaf, aku belum memperkenalkan mereka padamu ya? Dia adalah Itachi dan adiknya Sasuke," Ada jeda diperkataan Deidara. "… mereka dari keluarga Uciha."

Naruto membelalakan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya 'kenpa Uciha bisa berada di sini?' kepalanya penuh dengan pertanyaan itu.

"Hebatkan aku bisa membaw Uciha ke sini?" ucap Deidara dengan tawa, berusaha mencirkan suasana.

"Kau bercanda!" gumam Naruto tak mau percaya "Apa kau bodoh? Kau tau apa yang akan mereka lakukan pada kita?" kata Naruto sambil mencerkam baju Deidara.

"Tenanglah Naruto!"

"APA? TENANG? Apa kau pikir aku bisa tenang, ha? Tujuan kita belum tercapai! Kenapa kau bawa mereka kesini?"

"Aku tahu. Justru karena itu aku membawa mereka kemari!"

"Kau BODOH! Mereka adalah rencana terakhir kita!"

"Ya, justru karena itu Naruto!"

"Apa maksudmu? Aku tak mengerti!"

"Tenangkan dirimu dulu! Kau membuat mereka takut!"

Seketika cenkraman Naruto merengang. Ia melirik kedua Uciha yang ada di sampingnya. Terdapat pandangan takut dan tak mengerti dari kedua Uciha itu. Seketika Naruto melepaskan cenkramannya dan duduk dengan tenang di samping Deidara.

"Ya, katakanlah!" Deidara hanya merengut mendengar nada perintah dari perkataan Naruto. tapi ia tak ambil pusing.

"Kau harus bersabar! Sebelumnya aku harus mendengar apa saja yang telah Uciha ceritakan pada anak-anaknya," ucap Deidara sambil melihat Itachi dan Sasuke. "Tapi sepertinya aku tak terlalu banyak berharap mendengar cerita yang bagus tentang kita Naruto. Ceritakanlah Itachi" pinta Deidara denagan senyum di wajhnya.

To Be Continued

GOOOMEEENNNNN…. Luuuaaamaaa…

Soalnya aku banyak tugas, dan aku merasa ada yang rancu ma ceritanya jadi aku terus berpikir, menimang, memahami, berpikir lagi dan tidur *plak* soalnya g'ketmu-ketemu sih dari pada setres ya udah aku tiduran ja XP

Um… aku ngrasa bahasanya beda ma chap 1 ya (yang di chap 2) yah semoga saja g'terlalu beda.

Soalnya gaya penulisannya masih tergantung ma pa yang di baca hehehe Xd

Yang dah repiw makasih

Dan semoga saja setelah baca ini g'da yang kecewa (aku g'terlalu banyak berharap cz aku juga agak aneh ma ini )

So please Reeeppppiiuuuwwwwwwwwwww…..