a/n: Assalamu'alaykum sahabat semua, kali ini vea update bejibun~! #Plak Sebenarnya ini pelampiasan karena minggu-minggu ujian ngga update, tapi tetep ngetik. Hwehehe..

Oke deh, vea mau bales yang review dulu ya, boleh tak? Boleh ya^^

Renton : Yup, hehe, sebenarnya ada rahasianya kenapa Kazune berbuat seperti itu pada Karin^^

Shihui : Hehe, makasih.. Iya, sejujurnya vea kurang puas dengan chapter kemarin, pendek dan pendeskripsiannya kurang.. ToT

NN : Hihi, syukurlah kalau kau menyukainya, udah update nih^^

Kazune : Whua, makasih, insya allah, ini juga update sekilat mungkin^^

Pantom : Ini udah update nih^^

Lalu, terima kasih banyak juga lho buat semua readers yang mau membaca karya amatiran saya yang ngga jelas ini~! XD


Sacrificium Amoris Anemone


Kamichama Karin © Koge-Donbo

Sacrificium Amoris Anemone © Invea


Rated : T

Crime-Romance-Hurt/Comfort-Friendship-Angst

Warning : GaJe! Typo! OC! Alur berantakan! Kurang pendeskripsian! De eL eL


Enjoy~!

.

.

Ketika perjalanan menuju sekolah hari itu...

"Gawat! Gawat! Gawat! Kita bisa terlambat!" seru Karin sembari berlari dengan sangat kencang.

"Jangan mengeluh! Semua ini karenamu tahu!" bentak Kazune. Ia sedikit mendecak kesal. Mau mengeluh pun sudah tak ada gunanya lagi.

"Ukh! Kazune itu apaan sich? Padahal kemarin aku sudah berubah pikiran tentang Kazune tapi sekarang sikapku kasar lagi!" sahut Karin seraya menggembungkan pipinya. Sebenarnya ia sangat heran dengan kepribadian Kazune. 'Cowok ini sebenarnya baik apa jahat sih?' tanyanya dalam hati.

"Bawel! Terserah aku donk!" bentaknya lagi. Ia kemudian melangkahkan kakinya jauh lebih cepat.

'Hm… Memang benar sih! Tapi, Kazune yang asli yang mana ya? Apakah yang sangat baik seperti kemarin? Atau yang selalu kasar pada perempuan? Kira-kira yang mana ya?' tanya Karin dalam hati. Ia cekikikan sendiri memikirkan sifat Kazune. Sementara orang yang dipirkannya hanya menatap gadis itu dengan tatapan aneh pula. 'Ini cewek masih waras ngga sih? Ketawa-ketiwi sendiri,' gumamnya dalam hati.

.

.

Sesampainya di sekolah, pintu gerbang sudah tertutup. Untunglah satpam yang bertugas memberi izin mereka berdua masuk setelah Kazune sedikit berdiskusi dengannya. Mereka kemudian berlari secepat mungkin ke kelas. Sebelum masuk kelas, mereka mengintip dari balik jendela. Oow! Rupanya saat itu Imai-sensei yang tengah mengajar! Wali kelas mereka yang terkenal sangat killer.

Dengan ragu, mereka kemudian membuka pintu perlahan. Tatapan semua orang kini beralih ke arah mereka berdua.

"Kalian ini terlambat 30 menit! Apa saja sih yang kalian lakukan? Bangun jam berapa sih kalian ini?" bentak Imai-sensei tanpa ampun. Karin dan Kazune hanya menundukkan kepalanya.

"Go… Gomen… Sensei…"

"Berdiri di lorong sampai jam istirahat!" perintah Imai-sensei. Kazune dan Karin ternganga mendengarnya.

'Apa? Itu berarti kami harus berdiri di lorong selama 2 jam?' jerit hati Karin dan Kazune.

"Ba… baik, Sensei." Mereka hanya bisa pasrah dengan hukuman yang bisa dinilai keterlaluan itu.

.

.

Mereka pun kemudian berdiri di lorong kelas.

"Hm… Dasar apes! Gara-gara kau, aku sampai dihukum berdiri di lorong, selama 2 jam lagi? Rekor hukuman terparah yang pernah aku dapatkan. Padahal saat SD dulu aku sama sekali belum pernah dapat hukuman dari guru," keluh Kazune.

"Hiks… Hiks… Maaf ya… Padahal kau sudah menolongku kemarin. Tapi, aku malah membuatmu harus menerima hukuman," Karin menangis. Kini ia merasa sangat tidak berguna. Bukan hanya merepotkan, ia bahkan sudah membuat orang lain menderita. Dan itu sangat tidak disukainya. Kazune begitu terkejut melihat air mata yang mengalir di kedua bola mata emerald Karin. Ia menjadi panik dan merasa tidak enak.

"Sudahlah Karin, jangan menangis! Tadi aku hanya bercanda kok," ujar Kazune sembari menghapus air mata Karin. Karin hanya tertunduk. Ia masih sedikit terisak.

"Ayo, donk! Semangat lagi! Nggak seru, ah kalau kau lesu begini. Mana senyumnya?" Karin lalu menatap ragu ke arah Kazune. Kazune saat ini tengah tersenyum menatapnya. Dengan sedikit malu, dibalasnya senyuman Kazune itu.

"Nah, gitu donk!" Kazune kemudian mengusap-usap kepala Karin, membuat rambut gadis itu sedikit berantakan. Karin menunduk malu. Ada sebersit rona merah muda di wajahnya.

.

.

Sepulang sekolahnya, seperti biasa, Karin, Kazune dan Himeka berjalan bersamaan menuju pagar gerbang sekolah.

"Karin, benar kau tak akan pulang bersama kami?" tanya Himeka meyakinkan. Ia sangat ingin bisa pulang bersama dengan orang yang sudah dianggapnya sahabat itu.

"Ya, aku pulang sendiri saja," tolak Karin.

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu seperti kemarin?" tanya Kazune. Ia sedikit khawatir, apalagi Karin memang belum sembuh sepenuhnya.

"Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Aku kan perempuan yang kuat," ujar Karin. Kazune hanya tersenyum masam.

"Baiklah kalau begitu, ayo kazune-chan!" Himeka kemudian menarik lengan Kazune untuk meninggalkan sekolah.

"Ah... Ta-tapi..." Kazune hendak memberontak, namun, ia mengurungkan niatnya.

"Sampai jumpa besok di sekolah ya!" Kata Karin. Ia kemudian melambaikan tangannya pada mereka berdua.

.

.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Karin terus menerus menunduk. Ia sama sekali tidak memperhatikan jalan. Pikirannya terbang entah ke mana. Sesekali ia menghela nafasnya. Tanpa sadar, ia pun menabrak seorang pemuda berambut hitam, juga mengenakan kaca mata berwarna hitam.

"Kya! Aduh! Maafkan aku!" kata Karin.

"Hei! Kuga, Tunggu! Kau masih harus ada pemotretan lagi! Tunggu!" teriak salah satu orang yang berlari mengejar pemuda itu. Pemuda itu gelisah menatap orang tersebut.

"Aduh, gawat! Ayo ikut aku!" Pemuda itu kemudian menarik lengan Karin dan membawanya ke tempat tersembunyi.

.

.

"Fiuh! Mereka tak kan menemukanku d sini," ujar pemuda itu sembari bernafas lega. "Eh, iya. Maaf aku telah membawamu ke sini," lanjutnya.

"Tak apa. Maaf tadi aku telah menubrukmu," ujar Karin.

"Tidak apa-apa kok. Auw!"

"Eh? Kau baik-baik saja?" tanya Karin khawatir.

"Sepertinya kakiku terkilir," jawabnya.

"Biar ku lihat. Sebaiknya kakimu diperban dulu. Kita ke rumahku saja. Dekat dari sini kok. Aku bantu kau berjalan,"

Karin lalu membopong pemuda itu sampai ke rumahnya.

.

.

To Be Continued

.

.

Review Please?