Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Poppy : Tentu saja naked. He he he. Hmm, kalau tentang rate M, kita lihat saja nanti. XD

aishanara87 : Mereka bakal ketemu soalnya Akako ingin membantu Kaito kembali jadi manusia lagi. Kalau soal Kaito dengan tiga wanita jadi rumit, sepertinya tidak akan terjadi. Kerumitan selalu menjadi masalah Ai. XD

Day-chan Dragneel : Trims atas concrit-nya. Sebenarnya aku juga tahu, tapi masalahnya aku sangat malas, jadi itulah yang terjadi (LOL). Semoga itu tidak terlalu mengganggumu dalam membaca. Mungkin suatu hari nanti, aku akan berusaha melakukan sesuatu tentang itu. Lanjut ke cerita, Conan tidak akan ikut andil karena Ai tidak akan cerita padanya, sementara Kaito akan tahu bahwa Ai = Shiho saat dia benar-benar bertemu face to face dengan Conan dan saat itu dia juga masih berbentuk kucing. XD

Aiwha : Iya, masih mesum seperti biasanya. XD

Rawr : Aku akan berusaha. Kalau sekarang Kaito belum tahu kalau Ai = Shiho, tapi nanti dia akan tahu saat dia masih menjadi kucing. XD

Jellal : Nggak, soalnya Kaito bakalan tahu Ai = Shiho saat dia masih menjadi kucing. Kenapa Kaito menjijikkan di mata orang-orang? Itu karena kutukan Akako, ada di bagian monolog-nya Akako di awal chapter 2. Memang di FB namamu siapa? XD

u don't know me : LOL. Aku lupa chapter berapa, pokoknya yang kasus kereta api, yang Kaito nyamar jadi Shiho. Lalu karena setiap hari aku harus meng-klik gambar kucing (kalau kamu sempat mengunjungi blogku dan membaca tentang Clixsense, kamu pasti akan tahu maksudku), maka muncullah ide cerita ini. XD

Lavemo : Trims atas saran dan kritiknya. Seperti yang sudah kamu katakan, itu adalah gaya penulisanku. Kenapa bisa begitu? Itu karena pengalaman tidak menyenangkan yang kurasakan saat membaca cerita tanpa keterangan siapa yang bicara. Sering terjadi, ketika aku membaca sampai di tengah-tengah pembicaraan, aku mulai kebingungan dialog ini punya siapa, sehingga malah jadi tidak enjoy dan melelahkan. Penulisnya memang tahu benar siapa yang bicara, tapi kalau pembaca? Tunggu dulu. Membuat pembaca berpikir keras mengenai siapa yang sedang bicara karena tidak ada keterangannya, menurutku adalah sesuatu yang tidak perlu dilakukan oleh seorang penulis. Jadi begitulah. Makanya meskipun aku sudah memiringkan kalimat yang merupakan monolog suatu tokoh, aku tetap memberi keterangan. XD

Guest : ShinShi ya? Kalau angst mau nggak? XD

nana chan : Terima kasih sudah menyukai cerita-ceritaku. Untuk saat ini, hanya bisa seminggu sekali karena aku masih sangat sibuk. Nggak papa kan? XD

Renesmee cullen : KaitoxShiho. XD

wiro sableeng aL : Okeeeee!

Waktunya curcol!

Chapter tiga sudah hadir. Chapter ini masih seputar perkembangan hubungan Ai dan Kaito-neko dengan disisipi kedatangan Detektif Cilik ke rumah Ai untuk bertemu Kaito-neko. Kalau di chapter kemarin ada yang penasaran kenapa Kaito jadi kucing dan tidak jadi binatang lain saja akibat kutukan Akako, mungkin para pembaca akan menemukan jawabannya di chapter ini, meskipun sebenarnya sudah terjawab juga dalam kunjungan Ai dan Kaito ke dokter hewan di chapter kemarin.

Penulis juga tidak bosan untuk mengajak para pembaca sekalian mengunjungi blog penulis, yaitu dmsclick blogspot com dan kalau bisa juga join dengan penulis. XD

Selamat membaca dan berkomentar!


Di Sini Untukmu

By Enji86

A day that feels like a year is passing
I'm holding back the tears I've barely kept inside
I still can't even feel the pain
I just hoped that this nightmare would pass

In front of me isn't the soft and warm person I used to know
But a stranger is looking at me

The wind is blowing again, a farewell is coming to me
I'm not even ready but it looks like it's going to rain
Goodbye, the last words, goodbye
Now the love that I was just getting to know is leaving me

It hurts, it hurts when I've been holding it in only for a day
It hurts so much that I don't even know where it hurts

Wherever my eyes go, wherever you are
Traces of you still remain
So I can't take my eyes off them

The wind is blowing again, a farewell is coming to me
I'm not even ready but it looks like it's going to rain
Goodbye, the last words, goodbye
Now the love that I was just getting to know is leaving me

Like a fool, it washes over me, this longing comes to me
I still haven't let you go but the tears of memories are washing over me
Goodbye, the last words, goodbye
Now the love that I was just getting to know is leaving me

(Farewell is Coming by Kang Minkyung)

Chapter 3 – Melukai Ai Lagi

Ai membawa Kaito yang berada di dalam handuk kembali ke kamarnya setelah dia selesai memandikan Kaito. Sementara itu, rona merah tetap setia menghiasi wajah Kaito, meskipun rona merah itu tidak terlihat karena tertutup oleh bulu di wajahnya.

"Dia sudah menyentuh semuanya! Dia sudah menyentuh semuanya!" ucap Kaito berulang-ulang dalam hati. Dia benar-benar tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Ai sudah menyentuh semua bagian tubuhnya, bahkan bagian intimnya, saat memandikannya tadi. Seorang gadis kecil sudah menggerayangi seluruh tubuhnya! Ini benar-benar memalukan!

Sesampainya di kamarnya, Ai menaruh Kaito, yang masih berada di dalam handuk, di atas tempat tidurnya dan mulai mengeringkan tubuh Kaito dengan handuk yang membungkus tubuh Kaito. Lalu setelah bulu Kaito agak kering, dia meletakkan Kaito di pangkuannya dan mulai menyisiri bulu Kaito agar rapi seperti semula.

Kaito yang sudah bisa mengendalikan dirinya kembali dari rasa malu, mulai menikmati perlakuan Ai padanya. Sejujurnya dia mulai menyukai, atau mungkin memang sudah, ketika Ai menyentuh tubuhnya. Sentuhan Ai membuatnya merasa tenang dan nyaman. Tadi malam dia bahkan tidur dengan nyenyak, sesuatu yang sangat sulit didapatkannya karena mimpi buruk tentang kematian ayahnya selalu menghantuinya.

Kaito pun mulai terkantuk-kantuk di pangkuan Ai karena hari ini memang hari yang sangat melelahkan baginya. Ai yang menyadari hal ini pun tersenyum melihatnya.

"Apa kau mengantuk?" tanya Ai.

"Meow," jawab Kaito.

"Kalau begitu tidurlah, sementara aku menyelesaikan menyisir bulumu," ucap Ai.

"Meow," sahut Kaito. Kemudian dia menutup matanya dan tak lama kemudian dia sudah terlelap.

Setelah Ai selesai merapikan bulu Kaito, dia meletakkan Kaito di tempat tidurnya dengan hati-hati agar Kaito tidak terbangun. Dia menatap Kaito yang tidur dengan nyenyak sambil tersenyum.

"Bukankah dia sangat lucu?" ucap Ai dalam hati.

Ai kemudian ikut berbaring di sebelah Kaito. Dia juga merasa agak lelah setelah memandikan Kaito dan melihat Kaito yang tidur dengan nyenyak membuatnya mengantuk dan ingin tidur juga. Lagipula nanti malam dia harus mengerjakan antidot sampai dini hari.

Ai pun menutup matanya dan tak lama kemudian dia juga sudah terlelap.

XXX

"Jadi apa nama yang kau berikan untuk kucing itu?" tanya Conan saat mereka berjalan ke rumah Ai sepulang dari sekolah keesokan harinya. Ayumi, Genta dan Mitsuhiko berjalan di depan mereka berdua dengan bersemangat.

"Aku memanggilnya Neko-chan," jawab Ai sehingga Conan sweatdrop.

"Err, kau menamai kucing dengan kucing?" tanya Conan dengan agak sinis.

"Aku tidak berniat memeliharanya, makanya aku tidak menamainya dengan nama yang khusus," jawab Ai.

"Ooh, tapi kenapa kau tidak mau memeliharanya?" tanya Conan sehingga Ai tersenyum kecil.

"Orang seperti aku tidak bisa memelihara binatang," jawab Ai.

"Tapi bukankah kau sangat menyukai binatang? Jadi kenapa tidak bisa?" tanya Conan dengan bingung.

"Ra-ha-si-a," jawab Ai sambil tersenyum dan menatap ke depan sehingga Conan menatapnya dengan tatapan 'oi oi'-nya sebelum dia mengalihkan pandangannya ke depan juga.

Tak lama kemudian, mereka berlima sudah sampai di rumah Ai. Ai mengajak teman-temannya ke kamarnya untuk melihat Kaito dan ternyata Kaito sedang tidur pulas.

"Jadi ini kucingnya?" tanya Ayumi dengan nada agak kecewa setelah melihat Kaito. Dia tadi sangat bersemangat untuk melihat kucing Ai, tapi begitu melihatnya, dia langsung merasa tidak suka dengan kucing itu.

"Mmm. Ada apa? Apa ada yang salah dengannya?" tanya Ai.

Belum sempat Ayumi menjawab, Genta sudah mendahuluinya.

"Yang benar saja, Haibara. Kenapa kau memelihara kucing jelek dan menjijikkan seperti itu sih? Aku saja ingin menendangnya begitu melihatnya," sahut Genta sehingga Ai langsung menatapnya dengan kaget.

"Genta-kun, jangan bilang begitu pada Haibara-san," ucap Mitsuhiko dengan agak marah.

"Tapi aku bicara yang sebenarnya," ucap Genta, tidak mau kalah.

"Genta-kun, Mitsuhiko-kun, sudahlah," ucap Ayumi pada kedua temannya. Lalu dia menoleh ke Ai sambil tersenyum. "Jangan dipikirkan, Ai-chan. Menurutku kucingmu cukup manis kok," ucap Ayumi.

"Menurutku juga begitu," ucap Mitsuhiko dengan gugup karena dia berbohong.

"Oh, benarkah? Terima kasih, Yoshida-san, Tsuburaya-kun," ucap Ai sambil tersenyum pada Ayumi dan Mitsuhiko. Dia tahu ucapan Ayumi dan Mitsuhiko barusan adalah bohong. Ayumi dan Mitsuhiko juga tidak menyukai Neko-chan.

Sementara itu, Conan hanya diam saja dan menatap kucing yang sedang tidur itu dengan wajah tanpa ekspresi.

Ai kemudian mengajak teman-temannya keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang tengah untuk main video game agar Kaito tidak terganggu tidurnya. Setelah itu, Ai pergi ke dapur untuk membuat minuman bagi teman-temannya dan kembali ke ruang tengah beberapa saat kemudian dengan membawa minuman dan snack. Dia duduk di sebelah Conan yang sedang menonton teman-teman kecil mereka bermain.

"Hei, Kudo-kun, menurutmu Neko-chan bagaimana?" tanya Ai beberapa saat setelah dia duduk di sebelah Conan.

"Biasa saja. Kenapa kau bertanya?" jawab Conan sambil balik bertanya.

"Tidak ada. Hanya ingin tahu pendapatmu saja," sahut Ai.

"Jadi Kudo-kun tidak membenci Neko-chan, huh? Lalu kenapa Profesor Agasa, Yoshida-san, Tsuburaya-kun dan Kojima-kun tidak suka pada Neko-chan? Ini aneh," pikir Ai dengan kening berkerut.

Conan pun mencuri pandang ke Ai yang kelihatannya sedang berpikir keras. Sejujurnya dia tidak menyukai kucing itu. Kucing itu kelihatan menjijikkan, meskipun dia tidak tahu kenapa. Itu membuatnya bingung dengan dirinya sendiri dan membuatnya merasa bodoh karena merasa tidak suka pada seekor kucing. Makanya dia pun berbohong pada Ai.

Setelah puas main game, keempat teman Ai itu pun pamit dan pulang ke rumah masing-masing. Ai langsung pergi ke kamarnya setelah mengantar teman-temannya ke pintu depan dan menemukan bahwa Kaito masih tidur. Dia pun naik ke tempat tidurnya dan mengamati Kaito dengan seksama.

"Hmm, tidak ada yang salah dengan Neko-chan. Dia kucing yang sangat lucu. Jadi kenapa mereka tidak menyukainya ya?" Ai bertanya-tanya dalam hati dengan bingung.

XXX

Kaito bangun dari tidur siangnya saat hari sudah sore. Dia pun meregangkan tubuhnya sambil tersenyum senang.

"Aah, ternyata jadi kucing ada enaknya juga. Aku bisa tidur sepuasnya tanpa ada yang mengganggu," ucap Kaito dalam hati. Memang tadi dia sempat terbangun karena suara ribut-ribut saat teman-teman Ai datang, tapi dia hanya mengacuhkannya dan tidur kembali.

Kaito kemudian menyadari kalau dia merasa lapar sehingga dia melihat ke sekelilingnya dan menemukan Ai yang sedang tidur tidak jauh darinya. Dia pun bangkit dan menghampiri kepala Ai.

"Dia benar-benar gadis kecil yang manis. Kalau sudah besar nanti, dia pasti akan jadi wanita yang sangat cantik," ucap Kaito dalam hati sambil menatap wajah Ai yang masih terlelap. Lalu dia teringat ucapan Ai bahwa Ai bisa mati kapan saja sehingga dia menatap wajah Ai dengan tatapan kasihan. "Tapi sepertinya dia tidak akan bisa tumbuh dewasa. Sungguh gadis kecil yang malang. Aku ingin sekali menolongmu, Ojou-chan. Tapi menolong diriku sendiri saja, aku tidak bisa, jadi bagaimana bisa aku menolongmu?" lanjutnya dalam hati.

Lalu perut Kaito mulai melakukan protes. Tapi Kaito, yang pada awalnya ingin membangunkan Ai untuk minta makan, jadi tidak mau membangunkan Ai dan menganggu Ai hanya karena dia lapar, sehingga dia mendudukkan dirinya dan terus menatap wajah Ai dengan prihatin.

Ai terbangun beberapa saat kemudian, lalu dia menoleh dan melihat Kaito yang sedang menatapnya sehingga dia otomatis tersenyum.

"Kau sudah bangun?" tanya Ai. Kemudian dia mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi wajah Kaito. "Kenapa kau berwajah seperti itu?" tanya Ai dengan bingung. Lalu seperti baru menyadari sesuatu, Ai kemudian tersenyum geli. "Ah, kau pasti lapar ya?" tanya Ai lagi.

Kaito pun langsung merasa kesal. Dia berwajah sedih karena simpati pada Ai, tapi Ai malah menganggap dia berwajah sedih karena kelaparan. Dia tidak serendah itu.

"Meow! (Aku memang kelaparan, tapi aku berwajah sedih begitu bukan karena lapar, tapi karena mengkhawatirkanmu, tahu!)," seru Kaito dengan kesal.

Ai pun tertawa kecil melihat Kaito yang sepertinya mengeong padanya dengan kesal.

"Ya, ya, baiklah. Aku akan segera membawakan makananmu. Kau pasti akan sangat menyukainya. Jadi jangan marah-marah lagi, ya?" ucap Ai. Dia menepuk kepala Kaito, lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke pintu, tanpa mempedulikan Kaito yang kembali mengeong padanya dengan kesal.

"Meow! (Sudah kubilang bukan begitu!)," seru Kaito dengan kesal.

Kaito pun menghela nafas ketika Ai sudah menghilang ke balik pintu.

"Apa yang sedang kulakukan? Meskipun aku mengeong sampai suaraku habis, dia pasti tidak akan mengerti apa yang kukatakan," omel Kaito pada dirinya sendiri.

Ai pergi lumayan lama sehingga Kaito jadi bertanya-tanya dan dia sangat lega begitu dia melihat Ai kembali. Namun kelegaan itu langsung sirna begitu dia melihat Ai kembali dengan piring berisi dua ekor ikan bakar. Dia pun langsung membeku di tempat sementara matanya memandang dua ekor ikan itu dengan ngeri.

"Ayo kemarilah, Neko-chan. Aku membawakan makanan kesukaanmu," ucap Ai pada Kaito.

Melihat Kaito hanya diam di tempatnya sambil menatap dua ekor ikan yang dibawanya, Ai pun menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Haah, kau ini benar-benar manja," ucap Ai. Dia pun bangkit dari lantai dan menghampiri tempat tidur.

Ai mengangkat Kaito dari tempat tidur dengan niat membawa Kaito ke piring ikannya, tapi Kaito yang sudah sadar dari kondisi terpananya segera meronta dalam pelukannya.

"Iya, iya, aku tahu kau lapar," ucap Ai yang benar-benar salah paham karena dia tidak tahu kalau Neko-chan-nya itu phobia ikan. Dia berpikir Kaito meronta karena ingin segera makan.

Ai meletakkan Kaito di pangkuannya sambil memegangi Kaito dengan erat karena Kaito terus meronta.

"Iya, sabar sebentar, Neko-chan," ucap Ai sambil mengambil daging ikan bakar dengan sumpit. Lalu dia menyodorkannya pada Kaito. "Ayo, buka mulutmu," ucap Ai.

Kaito yang sudah berada dalam kondisi panik segera meronta dengan lebih keras. Dia mengayunkan kakinya kesana kemari, tidak peduli apa yang diterjangnya. Kakinya sempat menerjang sumpit berisi daging ikan yang disodorkan Ai padanya sehingga sumpit itu lepas dari tangan Ai.

Ai pun berusaha keras menenangkan Kaito yang tiba-tiba mengamuk, sampai akhirnya dia menjerit kesakitan dan melepaskan Kaito karena tangannya otomatis memegang pipinya yang berdarah karena tersabet cakar Kaito.

Kaito yang merasa lega setelah berhasil melepaskan diri dari Ai, langsung menoleh ke Ai dengan marah, tapi tatapan marahnya langsung berubah menjadi ngeri begitu dia melihat pipi dan tangan Ai yang sedang memegang pipi Ai, berlumuran darah. Dia kemudian melihat jejak kaki kucing berdarah di lantai dan melihat kakinya yang bercakar juga bernoda darah.

Tiba-tiba pintu kamar Ai terbuka dan Profesor Agasa muncul dari baliknya sehingga Ai dan Kaito langsung mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.

"Ai-kun, ada ap...," ucapan Profesor Agasa langsung terhenti begitu dia melihat pipi Ai yang berdarah. Dia pun segera menghampiri Ai.

"Ai-kun, kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Profesor Agasa dengan cemas. Kemudian matanya menangkap jejak kaki berdarah milik Kaito yang berakhir pada Kaito yang hanya berdiri diam. Dia pun menatap Kaito dengan marah.

"Jadi ini perbuatanmu, huh? Kau harus diberi pelajaran," ucap Profesor Agasa dengan marah.

"Jangan, Profesor. Dia tidak sengaja," ucap Ai untuk menahan Profesor Agasa agar tidak memarahi Kaito. Kemudian dia merintih karena pipinya yang berdarah terasa nyeri setelah bicara.

Profesor Agasa yang mendengar rintihan Ai akhirnya sadar kalau dia harus merawat luka Ai terlebih dahulu dan menangani kucing itu nanti. Dia pun segera menggendong Ai untuk membawanya ke klinik dokter terdekat sambil memberi tatapan memperingatkan pada Kaito bahwa dia belum selesai dengan Kaito.

Setelah Ai dan Profesor Agasa menghilang dari pandangannya, Kaito pun terduduk lemas di lantai. Dia sudah melukai Ai. Lagi.

XXX

"Kau harus membuang kucing itu, Ai-kun," ucap Profesor Agasa saat mereka sampai di rumah setelah Ai berobat ke dokter.

"Profesor, aku baik-baik saja. Bukankah tadi dokter juga bilang kalau lukaku ini tidak parah dan akan segera sembuh?" ucap Ai.

"Tapi dia sudah melukaimu, Ai-kun. Dia tidak baik untukmu, jadi dia harus pergi," ucap Profesor Agasa.

"Profesor," ucap Ai dengan putus asa. Kemudian dia menghela nafas. "Aku janji ini tidak akan terjadi lagi. Aku akan membuatnya bertingkah baik. Baru setelah itu, aku akan mencarikan majikan untuknya. Makanya untuk sementara ini, ijinkan Neko-chan tinggal di sini, ya? Aku mohon," ucap Ai.

Melihat Ai yang menatapnya dengan tatapan memohon, membuat Profesor Agasa menghela nafas. Dia benar-benar tidak ingin melihat kucing itu lagi di rumahnya ini, tapi dia juga tidak tega pada Ai yang sepertinya sangat menyukai kucing itu. Lagipula Ai bilang ini hanya sementara, jadi dia pun memutuskan untuk mengabulkan keinginan Ai.

"Baiklah, tapi ini hanya untuk sementara. Kau harus segera mencarikan majikan untuknya," ucap Profesor Agasa sehingga Ai tersenyum senang.

"Aku pasti akan melakukannya. Terima kasih, Profesor," ucap Ai.

"Sekarang istirahatlah," ucap Profesor Agasa.

"Mmm. Selamat malam, Profesor," ucap Ai. Kemudian dia pergi ke kamarnya dengan gembira.

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Ai-kun bisa sangat menyukai kucing menjijikkan itu," gumam Profesor Agasa sambil geleng-geleng kepala setelah Ai menghilang dari pandangannya.

Bersambung...