僕、いつもそばにいる (boku, itsumo soba ni iru) – aku, akan selalu disisimu - 2
Lalala~ Anmitsu~ /dicakur
WARNING! Shonen-ai. Maybe.. OOC :' judul sama cerita rasanya agak ga nyambung..
Dedicated for All Anmitsu Fans, and especially Nami chan aruji~
..ehm, ga tau mau ngomong apa. Baca A/N dibawah ya arujih, balasan review~ x'D /disampluk
HAPPY READING!
…
Pagi telah datang. Cahaya matahari bersinar terang, menandakan hari ini cerah, dengan pohon-pohon sakura yang masih berbunga. Wangi sakura yang khas semerbak menjadi wewangian pembuka pada pagi hari itu.
Sungguh pagi yang indah untuk beraktivitas.
"Ehhmm.." suara seorang pemuda yang sedang meregangkan tubuhnya terdengar.
Rupanya Yamatonokami Yasusada.
Setelah dia meregangkan tubuhnya, dia mulai bangkit duduk. Berkedip-kedip sebentar, kemudian mengucek pelan matanya.
Yasusada masih teringat percakapannya bersama aruji kemarin malam. Mulai hari ini, Yasusada harus memikirkan cara untuk membuat Kiyomitsu mengingat kembali semua memori masa lalunya.
Tapi bagaimana caranya?
Seandainya otak Kiyomitsu memiliki pegas ataupun alat yang jika diputar, dapat memerbaiki memorinya, semua pasti mudah.
Masalahnya, saat ini, Kiyomitsu adalah seorang manusia.
Yang tidak akan mungkin memiliki benda-benda asing macam itu didalam otaknya.
"..Hahh.. Kiyomitsu.." desah Yasusada pelan, sambil menutup mukanya dengan telapak tangannya, "Kau benar-benar membuatku gila,"
"Ah, selamat pagi, Yasusada! Pagi yang cerah ya!" terdengar suara yang memberikan salam pertama begitu Yasusada keluar kamar sambil mengikat rambutnya.
Selesai mengikat rambutnya, Yasusada mendongak untuk memberikan balasan salam, sambil melihat siapa yang pertama menyapanya.
Ah.
Ya Tuhan.
Angin seolah mengerti objek indah yang sedang menyibakkan poninya. Angin tiba-tiba berhembus cukup kencang, dan menerbangkan kelopak-kelopak bunga sakura, yang memberikan pemandangan dramatis dengan orang itu sebagai tokoh utamanya. Poninya berantakan kembali, dan membuat orang tersebut terlihat lebih cantik dan err—seksi?
"Aaahh! Rambutkuuu! Berantakan lagi!" kata orang itu sambil memajukan bibirnya.
Tidak.
Yasusada tidak boleh kalap.
Yasusada menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Oh—Ah, Selamat pagi, Kiyomitsu. Err—kau sedang apa?" Tanya Yasusada akhirnya kepada seseorang tadi, yang ternyata adalah Kiyomitsu.
Ya, itu adalah pertanyaan bodoh dari seorang Yamatonokami Yasusada.
Sedang apa?
Jelas-jelas KIyomitsu sedang memegang sapu.
Kenapa kau masih bertanya seperti itu, Yasusada?
Bagaimana kalau Kiyomitsu risih dengan kebodohanmu?
"Hm? Haha, Yasusada, kau masih mengantuk? Jelas-jelas aku membawa sapu, tidak mungkin kan aku memasak sekarang? Dasar, kau ini aneh!" jawab Kiyomitsu sambil menunjukkan tawa khasnya yang indah, "Nah, biar kau tidak mengantuk, bantu aku menyapu halaman! Aku tidak mau menyapu sendiri!"
Hua.
Senyum Kiyomitsu.
Membuat Yasusada jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya.
"Haaahh~ capek sekali.." keluh Kiyomitsu setelah mereka akhirnya selesai menyapu halaman citadel yang seluas lapangan itu.
"Haha, otsukaresama (terima kasih atas kerja kerasnya), Kiyomitsu. Sudah sana, duduk dulu. Aku akan ambilkan teh," kata Yasusada sambil menaruh sapunya disamping Kiyomitsu.
Kiyomitsu mengangguk saja.
Segera setelah Yasusada membalikkan badan dan pergi ke dapur, Kiyomitsu duduk di serambi citadel.
Kiyomitsu menggoyang-goyangkan kakinya, sambil melihat sakura yang masih berguguran.
Kemudian, Kiyomitsu menyenderkan kepalanya ke tiang.
"..Yasusada. Yamatonokami Yasusada," gumam Kiyomitsu perlahan tiba-tiba.
Kiyomitsu menoleh kearah sapu yang tadi digunakan oleh Yasusada. Bayangan Yasusada tiba-tiba terlintas dibenaknya.
"..Aku rasanya familiar dengannya. Tapi.. dimana? Aku saja masih baru kali ini menjadi manusia.. selama menjadi pedang pun, aku tidak mengingat apapun. Tidak mungkin aku pernah bertemu Yasusada sebelumnya," pikir Kiyomitsu sambil tetap melihat langit yang berwarna biru.
Wewangian sakura yang lembut menyapa indera penciuman Kiyomitsu. Angin yang berhembus sepoi-sepoi menyentuh kulitnya. Kiyomitsu menutup matanya, menikmati semuanya itu.
Bersamaan dengan Kiyomitsu menutup mata, bayangan Yasusada yang sedang tersenyum, yang membantunya menyapu beberapa saat tadi, hinggap dibenaknya.
Segera, Kiyomitsu membuka matanya, dan memegang dadanya. Wajahnya tiba-tiba memanas tanpa sebab, dan jantungnya berdetak tidak karuan, sesaat setelah dia mengingat senyum Yasusada.
"Ke-kenapa.. dadaku rasanya sesak..?" pikir Kiyomitsu bertanya-tanya, "Wajahku—wajahku juga panas.. kenapa.. kenapa ini?" Kiyomitsu memegang pipinya.
Senyum Yasusada.
Entah sejak kapan, menjadi hal terindah bagi Kiyomitsu.
Kiyomitsu menutupi wajahnya dengan tangannya. Wajahnya masih panas. Dia bingung bagaimana mendinginkannya.
"Maaf Kiyomitsu! Kau menunggu lama ya—eh? Kau kenapa?" Tanya Yasusada yang tiba-tiba datang, dan melihat Kiyomitsu menutupi wajahnya.
Kiyomitsu hanya menggeleng.
Yasusada memiringkan kepalanya bingung.
Kemudian, Yasusada mengambil posisi duduk di sebelah Kiyomitsu. Yasusada melihat gesture tubuh Kiyomitsu yang sepertinya kaget. Yasusada tambah bingung.
Anak ini kenapa?
Berniat baik, yaitu menenangkan, Yasusada memberanikan diri untuk menepuk pelan kepala Kiyomitsu—hanya menepuk kepala. Yah, walau Yasusada sebetulnya ingin memeluk Kiyomitsu.
Tapi Yasusada masih tau batas.
Segera setelah Yasusada memegang kepala Kiyomitsu, Kiyomitsu langsung loncat dari tempat duduknya, lalu berdiri. Kemudian langsung berlari meninggalkan Yasusada sambil berteriak,
"A-aku tidak apaa! Aku mau mandi dulu! Aa—sampai bertemu makan malam!"
Yasusada bengong melihat tingkah Kiyomitsu.
Hei.
Ada apa ini?
Yasusada bingung, dan mulai berpikir,
"Aku salah apa?"
Sudah jam makan malam. Yasusada segera bersiap menuju ruang makan. Dia masih bingung dengan tingkah laku Kiyomitsu tadi siang, namun Yasusada memilih mengacuhkannya.
Setelah sampai didepan ruangan yang biasa digunakan untuk makan para toudan, Yasusada membuka shouji nya.
"Semuanya, otsukaresama—" kata Yasusada ceria.
Sapaan Yasusada dibalas para toudan yang sudah berkumpul disana dengan 'ah, iya. Otsukare,' atau 'iya, kau juga'
Yasusada mengedarkan pandangannya, dia mencari tempat kosong yang ada disana. Sebelah kiri.. sudah dipenuhi oleh awataguchi. Di pojok-pojok meja, sudah ditempati oleh para couple yang ber lovey-dovey setelah seharian bekerja dan ber shitsujin. Yasusada menghela napas. Kemudian matanya menangkap sosok Kiyomitsu yang disebelahnya masih kosong. Yasusada langsung saja menuju lokasi dimana Kiyomitsu duduk.
"Hei, Kiyomitsu. Disini kosong kan?" Tanya Yasusada begitu dia sudah ada disamping Kiyomitsu.
"Ah, iya kosong ko—" kata-kata Kiyomitsu langsung terputus begitu melihat dengan siapa dia berbicara, yang ternyata Yasusada.
Melihat wajah Yasusada dengan senyum hangat yang terukir di bibir tipisnya itu membuat pipi Kiyomitsu memerah dan salah tingkah.
"Syukurlah, aku duduk disini ya," kata Yasusada sambil duduk, dan mulai menyamankan duduknya.
Kiyomitsu hanya mengangguk.
Para toudan disana semakin berisik. Mereka berbicara, bercanda, melepas penat setelah sebagian dari mereka yang bekerja, setengahnya lagi melakukan shitsujin. Mereka menunggu makan malam mereka dengan sabar.
Kiyomitsu dan Yasusada hanya saling terdiam. Canggung.
Mereka bingung mau membicarakan apa.
Hingga akhirnya, Yasusada mulai membuka mulut dan angkat bicara,
"Kiyomitsu,"
Kiyomitsu, yang merasa namanya dipanggil, langsung menjawab dengan terbata-bata,
"A—a, i-iya? Ada—ada apa, Yasusada?"
Mengatakan 'Yasusada' saja membuat pipi Kiyomitsu semakin panas.
"Ano—masalah tadi siang, kau tak apa?" Tanya Yasusada langsung, "Aku khawatir kau tiba-tiba lari begitu,"
"Ah.. err, itu.." Kiyomitsu kaget dia langsung ditembak dengan pertanyaan seperti itu.
Ditembak dan langsung tepat sasaran. Tepat, karena Kiyomitsu tidak bisa menjawabnya.
Mana mungkin kan dia bilang langsung, 'saat itu aku memikirkanmu dan aku jadi bingung! Makanya aku pergi begitu saja! Aku tidak sanggup melihatmu!'
Mana mungkin, kan.
Yasusada melihat Kiyomitsu terdiam saja, mulai bingung.
"Kiyomitsu kenapa?" pikir Yasusada sambil memiringkan kepalanya.
"Kiyomitsu..?" panggil Yasusada, yang langsung membuat tingkah Kiyomitsu gelagapan.
Kiyomitsu memandang ke arah bawah, lalu mulai menjawab terbata,
"A-are? Anoo.. aku tadi—"
"MAKAN MALAM SUDAH SIAAPP!" kata-kata Kiyomitsu terputus dengan teriakan Mitsutada di ruangan itu sambil membawa nampan.
'syukurlah..' batin Kiyomitsu berkata seperti itu begitu Mitsutada dan yang lainnya membawa makan malam mereka.
Yasusada juga terlihat sudah tidak terlalu ingin tahu lagi penyebab Kiyomitsu lari tiba-tiba pada siang tadi.
Yah, setidaknya saat ini, kondisi aman. Kiyomitsu bisa makan malam dengan tenang, pada hari ini.
TRANG
Suara pedang yang bertubrukan terdengar diruangan itu.
"UHUK!" terlihat seorang laki-laki yang jatuh terduduk sambil memegangi mulutnya.
Begitu lelaki itu menjauhkan telapak tangannya, terlihatlah—darah? Darah di telapak tangannya.. dari mulutnya.
"SOUJI! KAU TAK APA!?" terdengar suara laki-laki lain, dan terlihat dia mendatangi laki-laki yang sedang jatuh terduduk itu.
"A-aku tak apa, jangan khawatirkan aku, Kondou san.." laki-laki itu mulai berjalan bangkit, lalu mulai menebaskan pedangnya ke orang-orang yang berdatangan menyambutnya dengan sabetan pedang juga.
"Souji! Kita mundur sekarang! Kondisimu sedang tidak baik! Lihat, pedangmu juga sudah hampir patah seperti itu! Dia rusak parah!" teriak laki-laki yang tadi dipanggil 'Kondou san' kepada laki-laki dengan darah dimulutnya, yang dipanggil 'Souji'.
"Tidak.. selama fraksi anti shogun ini belum mati.. aku tidak akan mundur! Aku tidak boleh menyerah! Kashuu.. Kashuu Kiyomitsuku ini juga pedang yang sangat kuat. Sampai patah pun, dia akan terus bersamaku!"
"Tapi Sou—"
"Jangan hentikan aku, Kondou san!" Souji mulai memasang kuda-kudanya, menghadapi musuh yang sangat banyak didepannya, lalu berteriak, "ORAORAORAAA!"
CRASSH
Kemudian, hanya gelap yang terlihat.
"GYAAA!" teriakan seorang laki-laki cantik terdengar membahana di tengah malam yang sepi itu.
Dia langsung bangun, terduduk, terengah-engah. Dia memegang dada sebelah kiri –jantung—nya, dan keringat menetes dari pelipisnya. Tubuhnya lengket penuh keringat. Keringat dingin. Mata merah rubynya masih menunjukkan tanda-tanda shock.
Merah ruby.
Ya.
Laki-laki cantik yang sedang terengah-engah ini adalah Kiyomitsu.
Kashuu Kiyomitsu.
Kiyomitsu masih terengah-engah. Dia menelan ludahnya susah payah, kemudian menyeka keringat dari pelipisnya.
"Mimpi.. apa itu tadi?" Kiyomitsu bergumam pelan, "Souji.. Kondou.. itu siapa?"
Mimpi yang Kiyomitsu lihat tadi masih terbayang-bayang dibenaknya. Siapa kedua orang itu? Kenapa menyebutkan namanya, Kashuu Kiyomitsu? Ada hubungan apa dua orang itu dengannya?
"UKH!" tiba-tiba, Kiyomitsu merasakan sakit yang amat sangat pada kepalanya.
Kiyomitsu terus memegangi kepalanya sampai kepalanya menyentuh lututnya. Sakit sekali. Dalam kepalanya, terngiang suara;
'Kiyomitsu.. Kiyomitsu.. Kashuu Kiyomitsu..'
Terus menerus Kiyomitsu merasa ada yang memanggilnya dari jauh sekali. Tapi Kiyomitsu tidak tahu siapa yang memanggilnya.
"..ukh.." Kiyomitsu masih merintih kesakitan.
Sekitar lima belas menit, rasa sakit di kepala Kiyomitsu berangsur-angsur menghilang. Dia mulai bisa menegakkan tubuhnya perlahan. Keringat masih setia membasahi tubuhnya.
Setelah rasa sakit di kepalanya sudah tidak terlalu parah, dia melihat ke arah samping kanannya. Belum ada futon yang tergelar. Berarti Yasusada belum ke kamar mereka sejak makan malam tadi.
Ya,
Kiyomitsu tidur sekamar dengan Yasusada.
Tapi, tak biasanya Yasusada belum ke kamar hingga selarut ini.
Entah kenapa, Kiyomitsu merasa kesepian begitu mendapati sebelah kanannya kosong. Perlahan, Kiyomitsu berjalan dan meninggalkan kamarnya. Dia berjalan menyusuri citadel dengan pelan-pelan, mencoba mencari sosok Yasusada di halaman, namun nihil.
Kiyomitsu juga memberanikan diri untuk mencari didapur, namun tak menemukan siapapun dan apapun begitu dirinya sampai disana. Kiyomitsu menghela napas panjang. Dia merasa kecewa.
Dengan tidak menemukan Yasusada dimanapun, Kiyomitsu serasa ingin menangis sekarang. Air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya, siap untuk keluar.
Tak tahu kenapa, saat ini Kiyomitsu sangat membutuhkan Yasusada.
Tiba-tiba, sesaat sebelum air mata Kiyomitsu jatuh ke pipinya, seolah ada lampu yang bersinar terang di kepala Kiyomitsu.
Dia belum mencari di dojo.
Dengan semangat, Kiyomitsu berjalan menuju luar. Segera setelah berada di teras, Kiyomitsu segera memakai geta dan berjalan menuju dojo yang berbeda bangunan dengan tempat peristirahatan para toudan. Saat langkah Kiyomitsu sudah dekat dengan dojo, alangkah senangnya Kiyomitsu saat dilihatnya lampu dojo masih bersinar terang –yang menandakan masih ada keberadaan seseorang didalam sana—
Langsung saja Kiyomitsu masuk dalam dojo setelah sampai disana. Dan benar, didalam dojo ada Yasusada yang masih berlatih teknik-teknik pedang.
"HEEAAA!" Yasusada berteriak sambil mengayunkan pedangnya ke arah sasaran.
Kiyomitsu tersenyum melihat Yasusada terengah-engah, dan keringat mengucur deras dari kulitnya. Yasusada terlihat lelah. Saat yasusada menurunkan pedangnya dan menyeka keringatnya, Kiyomitsu memanggilnya,
"..Yasusada, mau kuambilkan minum?"
Panggilan Kiyomitsu yang tiba-tiba itu membuat Yasusada terlonjak kaget.
"HUWAA!" teriak Yasusada, "A-ah.. Kiyomitsu, kau rupanya.. sejak kapan kau disini? Mengagetkanku saja.."
Kiyomitsu yang melihat Yasusada kaget, malah tersenyum lebih lebar.
"Barusan," jawab Kiyomitsu.
"Oh.." respon Kiyomitsu sambari menaruh pedang kayunya kembali ke tempatnya, "Ngomong-ngomong, kau tidak tidur? Ini sudah larut,"
Mendengar pertanyaan Yasusada, Kiyomitsu hanya bisa terdiam dan menunduk. Dia tidak bisa mengatakannya dengan jujur.
Melihat Kiyomitsu hanya terdiam, Yasusada merasa heran lagi.
"Kau hari ini aneh.. apa kau ada masalah?" Tanya Yasusada langsung.
Kiyomitsu masih terdiam seribu bahasa, tidak mengindahkan pertanyaan Yasusada. Masalah? Entah, Kiyomitsu sendiri tidak bisa mengatakan apakah hal-hal yang membuatnya bingung hari ini, tentang mimpinya, itu adalah masalah.
Yasusada menghela napas begitu Kiyomitsu tetap diam. Yasusada melangkahkan kakinya mendekati Kiyomitsu, lalu –lagi-lagi—menepuk kepala Kiyomitsu. Kiyomitsu langsung membulatkan matanya merasakan kelembutan dari Yasusada. Kiyomitsu mengangkat kepalanya, memandang Yasusada.
"Cerialah. Aku tidak tahu masalah apa yang kau hadapi, tapi Kiyomitsu yang kutahu tidak pernah sekelam ini," Yasusada tersenyum, "Kalau kau ingin bercerita, aku akan selalu ada untuk mendengarkanmu,"
Kiyomitsu masih memandang Yasusada. Tiba-tiba saja perasaannya menghangat, dan akhirnya airmata lolos dari matanya.
"Hiks.." isak Kiyomitsu sambil mengangkat tangannya, guna menutupi wajahnya yang mulai basah karena airmata.
Yasusada yang melihatnya, menjadi panik. Kiyomitsu tiba-tiba menangis. Yasusada langsung gelagapan menenangkannya.
"A-are..? Ki-Kiyomitsu, kau kenapa tiba-tiba menangis? Apa.. apa aku melakukan kesalahan..?" Tanya Yasusada panik sambil mendekati Kiyomitsu.
Kiyomitsu tidak menjawab, dia masih saja terisak sambil menutupi mukanya. Membuat Yasusada semakin bingung.
Sungguh.
Yasusada paling benci melihat Kiyomitsu menangis.
"..Kiyomitsu.." panggil Yasusada lagi, dan akhirnya Kiyomitsu menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan pada Yasusada bahwa dia tidak apa-apa.
Mencoba menerima, Yasusada akhirnya menyerah. Yasusada hanya bisa berdiri didekat Kiyomitsu.
Serius, sekarang ini Yasusada ingin sekali memeluk Kiyomitsu.
Ingin sekali merengkuh tubuh Kiyomitsu yang kecil itu dalam pelukannya, menenangkannya, mencium keningnya.
Namun apa daya, Yasusada bukan siapa-siapa sekarang.
Saat ini, yang bisa dilakukan oleh Yasusada hanyalah tetap ada, tetap berada disamping Kiyomitsu.
Walaupun Kiyomitsu sama sekali melupakan Yasusada, perasaan Yasusada pada Kiyomitsu tidak akan pernah luntur sedikitpun.
Yasusada sangat mencintai Kiyomitsu dengan segenap hati, perasaan, jiwa, dan raganya.
"..Yasusada.." panggil Kiyomitsu tiba-tiba.
Yasusada langsung memandang Kiyomitsu begitu namanya dipanggil.
"Hn?" Tanya Yasusada sambil tersenyum lembut.
Kiyomitsu mulai menghapus air mata dari matanya, menghapus air mata yang menghiasi pipinya, lalu memandang Yasusada dengan mata sembab dan wajah memerah.
"..Hiks, Yasusada.." Kiyomitsu terisak lagi.
Yasusada masih memandang Kiyomitsu dengan pandangan teduh dan senyum masih terukir di bibirnya.
"..aku.. boleh tanya sesuatu?" kiyomitsu memandang Yasusada.
"Hm? Tentu saja. Selama aku tahu jawabannya, aku pasti akan menjawabnya. Kau mau bertanya apa?" kata Yasusada pelan.
Kiyomitsu lagi-lagi diam. Dalam pikirannya berkecamuk, antara bertanya atau tidak pada Yasusada. Namun, melihat Yasusada yang sangat mengkhawatirkan dirinya, Kiyomitsu akhirnya memutuskan untuk berkata jujur pada Yasusada.
"..Anoo, itu.." Kiyomitsu berkata pelan sambil tetap memandang Yasusada, "..itu.."
"Katakan saja," kata Yasusada tetap dengan nada yang lembut pula.
"err.." Kiyomitsu akhirnya menoba mengatakannya, "Apa.. kau tahu.. siapa itu.."
Lagi-lagi Kiyomitsu menghentikan kalimatnya, membuat Yasusada semakin bingung.
"Siapa?" Tanya Yasusada.
"Kau tahu.. eetoo.." Kiyomitsu menggigit bibirnya, "Siapa itu.. Souji dan Kondou..?"
Yasusada langsung merasakan ada sesuatu yang menghantam dadanya keras-keras. Souji? Kondou? Kenapa tiba-tiba Kiyomitsu bertanya tentang mereka?
Apa Kiyomitsu mulai mengingat mereka secara samar-samar?
Ataukah ada yang memberitahu Kiyomitsu?
"Anoo, Kiyomitsu.. kenapa kau bertanya tentang dua orang itu?" Tanya Yasusada balik.
"..err, aku hanya ingin tau.. aku penasaran," Kiyomitsu meremas yukata tidurnya, "..sebetulnya aku tadi bermimpi aneh.. tentang mereka,"
"Mimpi buruk?" Yasusada mendudukkan dirinya di lantai dojo, kemudian Kiyomitsu mengikutinya.
"Aku tidak tahu apakah itu bisa disebut mimpi buruk atau tidak. Tapi aku merasa sangat takut setelah aku bangun dari mimpi itu. Seolah-olah.. aku seperti mendapat tekanan yang sangat besar.." Kiyomitsu menyentuh dadanya, "..yang membuat kepalaku sangat sakit, dadaku sakit.. dan aku merasakan ada yang hilang dari diriku.. lalu..lalu.."
"Lalu?" Tanya Yasusada lagi.
Kiyomitsu semakin mencengkeram yukatanya, menggigit bibirnya lagi.
"Lalu.. aku.. aku.. merasa sangat kesepian.. dan takut saat menyadari kau tidak ada disampingku, Yasusada.." kata Kiyomitsu sambil menunduk dalam, tidak sanggup memandang Yasusada, wajahnya memanas dan memerah.
Yasusada membulatkan matanya. Jantungnya serasa melompat saat mendengar Kiyomitsu mengatakan hal itu.
Ternyata,
Memang cinta itu kuat.
Sekalipun Kiyomitsu melupakan segalanya, perasaan dan hatinya tidak bisa melupakan cinta mereka berdua begitu saja.
Sungguh,
Yasusada sangat bahagia sekarang.
Kesempatan mengembalikan ingatan Kiyomitsu masih ada.
"..anoo, Yasusada? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," kata Kiyomitsu perlahan dan tiba-tiba, yang membuat Yasusada tersadar dari lamunannya.
"A—ah, iya. Maaf ya kalau aku tadi tidak ada saat kau mengalami hal seperti ini," kata Yasusada tersenyum lagi, "Baiklah.. aku akan bercerita semuanya,"
Kiyomitsu memiringkan kepalanya, bingung.
"Semuanya?"
"Ya, tentang orang yang bernama Souji dan Kondou.. serta, tentang siapa kau yang sebenarnya,"
Mendengar Yasusada berkata begitu, Kiyomitsu langsung membuka matanya. Siapa Kiyomitsu yang sebenarnya? Apa maksudnya?
"..Maksudmu..?" tanya Kiyomitsu.
Yasusada menutup matanya, menghela napas panjang, dan mulai bercerita,
"Kiyomitsu, kau tahu apa itu.. shinsengumi?" Tanya Yasusada, dan dijawab dengan gelengan oleh Kiyomitsu, "Shinsengumi adalah sekelompok samurai yang sangat terkenal di Kyoto beberapa ratus tahun silam. Mereka sangat kuat. Mereka bertugas untuk menjaga kedamaian kota Kyoto. Anggota dari Shinsengumi sangatlah banyak. Namun, ada tiga samurai, yang harus kau ketahui namanya di Shinsengumi. Yaitu; Kondou Isami, Hijikata Toshizou, dan Okita Souji,"
Yasusada melihat badan Kiyomitsu menegang setelah dia mengatakan nama Okita Souji.
"..Kondou Isami adalah ketua dari Shinsengumi. Samurai yang sangat luar biasa. Kemudian, Hijikata Toshizou dan Okita Souji. Rasanya mereka adalah Kondou dan Souji yang muncul di mimpimu. Mereka berdua adalah samurai yang sangat hebat. Terlebih Okita. Sampai akhir hayatnya, dia bertahan dan teguh pada pendiriannya. Dia sangat setia pada shinsengumi,"
Saat Yasusada bercerita, di kepala Kiyomitsu memutar terus ingatan mimpi dimana Souji memuntahkan darah. Kiyomitsu mulai merasakan pusing kembali.
"..Souji.. kenapa memuntahkan darah..?" Tanya Kiyomitsu perlahan.
Yasusada menghela napas lagi, mencoba untuk kuat mengingat semua hal yang dulu tidak ingin diingatnya.
"Di Ikedaya, Okita mengalami sakit yang sangat parah. Dan kambuh. Penyakit itu membuat Okita lemas dan memuntahkan banyak darah. Penyakit itu lah yang membawa dia ke kematian, walau usianya tergolong masih muda," Yasusada menjelaskan, dan malah dihadiahi pandangan, penyakit-mengerikan-apa-itu, dari Kiyomitsu, "..nama penyakit itu adalah TBC. Penyakit yang mematikan dan pada saat itu, masih belum ditemukan obatnya,"
Kiyomitsu semakin menguatkan remasannya. Entah kenapa.. mendengarkan cerita Yasusada, membuat kepalanya yang sudah berat, menjadi semakin berat.
"..Lalu, apa maksudmu dengan aku—"
"..Ketiga orang yang kubilang tadi, memiliki pedang yang sangat luar biasa, "Yasusada tidak menghiraukan pertanyaan Kiyomitsu, "Kondou Isami, memiliki pedang bernama Nagasone Kotetsu. Hijikata Toshizou, memiliki pedang bernama Izuminokami Kanesada dan Horikawa Kunihiro. Sedangkan Okita Souji.."
Kiyomitsu memandang Yasusada yang menggantungkan kalimatnya. Yasusada balas memandang Kiyomitsu, lalu melanjutkan kalimatnya,
"Okita Souji, memiliki pedang yang sangat sulit dikendalikan. Yaitu.." Yasusada mengepalkan tangannya, "..kita. Kashuu Kiyomitsu dan Yamatonokami Yasusada,"
Dapat dipastikan, Kiyomitsu langsung oleng dari duduknya.
Dia kaget, tentu saja.
Jadi, dia dan Yasusada sudah berpartner dari dulu? Tapi kenapa Kiyomitsu tidak mengingatnya?
"..Jadi.. Kita..?"
"Ya.. aku sudah tahu tentangmu dari awal. Aku kaget saat pertama kali melihatmu yang melupakan segalanya.. aku sangat khawatir," kata Yasusada.
"Kenapa.. kenapa aku tidak mengingatnya..?" Kiyomitsu memegang kepalanya, tangannya bergetar, tubuhnya menggigil.
Dia bingung, takut. Kepalanya sakit.
"Aku—aku tidak tahu, Kiyomitsu.. tapi aku rasa, dalam dirimu masih tersimpan secercah memori tentang masa lalumu, sehingga kau bermimpi seperti itu.." Yasusada mencoba berbicara santai dengan Kiyomitsu, "Sudahlah. Jangan terlalu dipaksa mengingat dengan ceritaku. Biar—eh, Kiyomitsu?"
Kiyomitsu sekarang sedang memegang—lebih tepatnya mencengkeram—kepalanya. Tubuhnya menggigil, tangannya tidak berhenti bergetar. Air mata mulai keluar dari mata merah Kiyomitsu. Kiyomitsu sudah tidak bisa melihat Yasusada. Tidak bisa mendengar Yasusada yang memanggil namanya. Sekarang yang ada di dalam pandangan, benak, dan pendengaran Kiyomitsu adalah suara pedang yang beradu, suara teriakan, suara jeritan para manusia yang sekarat, darah yang bercipratan dimana-mana.. semua hal itu seperti filmstrip, yang berputar di kepala Kiyomitsu. Dan yang berada di filmstrip terakhir adalah,
Senyuman Yasusada.
"AAAARRGGHH!" jerit Kiyomitsu sambil mencengkeram kepalanya lebih kuat.
"KIYOMITSU!" Yasusada langsung mendekati Kiyomitsu, memegang tubuh Kiyomitsu yang menggigil hebat.
Kepala Kiyomitsu sangat sakit. Amat sakit. Rasanya seperti akan meledak kapan saja. Semua kenangan mengerikan terputar lagi di dalam benak Kiyomitsu. Sekarang dia melihat tambahan lagi, dia melihat pedang yang sudah tidak memiliki mata. Dan pedang itu dilepaskan begitu saja.
Pedang itu adalah dirinya.
Kashuu Kiyomitsu.
"Akh.." Air mata Kiyomitsu mengalir semakin deras. Kepalanya semakin sakit.
"Kiyomitsu.." Yasusada memanggil Kiyomitsu lagi, namun sekarang ini, Yasusada lebih berani.
Dia mengangkat tubuh Kiyomitsu, dan membawanya dalam pelukannya.
Kiyomitsu, yang merasa tubuhnya terangkat dan dipeluk, mulai menempelkan tubuhnya lebih mendekat kepada tubuh Yasusada.
"Akh.. Uukkhh.." Kiyomitsu masih mengerang kesakitan.
Yasusada yang melihat kondisi Kiyomitsu, menjadi sangat iba. Dia bingung harus bagaimana. Didalam kepalanya berkecamuk banyak hal. Dia tidak bisa melihat Kiyomitsu menderita seperti ini.
"..sada," gumam Kiyomitsu sambil mencengkeram yukata Yasusada.
Yasusada, yang merasa Yukatanya dicengkeram oleh Kiyomitsu, langsung membuang semua pikiran yang ada di otaknya, dan berfokus pada Kiyomitsu.
"Ya? Aku disini, Kiyomitsu. Tenanglah," kata Yasusada sambil tersenyum melihat Kiyomitsu yang masih menenggelamkan tubuh dan kepalanya mendekat kepada tubuh Yasusada.
Yasusada memegang tangan Kiyomitsu yang sedang mencengkeram yukatanya, dan mengelusnya perlahan.
"..Yasusada.. jangan.. tinggalkan aku.. sendirian.. aku takut.. hiks.." kata Kiyomitsu tetap terisak.
Mendengar kalimat Kiyomitsu, Yasusada langsung memegang tangan Kiyomitsu lebih erat.
"Tidak akan pernah, Kiyomitsu. Aku akan selalu ada disisimu," kata Yasusada mantap.
"..karena aku selalu mencintaimu, sampai kapanpun," lanjut Yasusada dalam hatinya.
Saat ini, Yasusada sedang mengamati wajah Kiyomitsu yang sedang tertidur pulas disampingnya. Melihat Kiyomitsu yang tertidur nyenyak dengan wajah damai seperti itu, senyum hangat otomatis terukir di bibir Yasusada.
Yasusada melihat tangan kirinya yang masih dipegang erat oleh Kiyomitsu. Ya, kemarin Kiyomitsu meminta untuk tidur satu futon dengan Yasusada, dengan berpegangan tangan. Melihat Kiyomitsu yang masih terguncang, tentu saja Yasusada mengiyakan.
Tangan kanan Yasusada yang bebas, mulai bergerak untuk mengelus surai hitam kecoklatan milik Kiyomitsu. Kemudian turun ke pipi Kiyomitsu, dan berakhir di bibir tipis Kiyomitsu. Yasusada tanpa sadar mengelus bibir Kiyomitsu dengan ibu jarinya.
Lembut.
..seketika Yasusada ingin merasakan bibir Kiyomitsu, namun dia mencoba bertahan. Yasusada hanya mengelus perlahan, merasakannya dengan ibu jarinya.
Dipegang seperti itu, Kiyomitsu langsung mengerang pelan karena merasa tidurnya terganggu. Tak selang lama, mata Kiyomitsu terbuka perlahan.
Yasusada yang sadar, mulai menarik tangannya, dan menunjukkan senyum hangatnya.
"Ohayou Kiyomitsu. Sudah pagi lho, ayo bangun dan sarapan," kata Yasusada.
Kiyomitsu hanya mengangguk pelan, kemudian meregangkan otot-ototnya. Kiyomitsu bangun, duduk, dan memandang Yasusada yang juga mengikutinya.
Saat Yasusada membalas pandangan Kiyomitsu, Kiyomitsu tersenyum hangat, lalu memeluk Yasusada secara tiba-tiba.
…bayangkan bagaimana keadaan jantung Yasusada.
"Ohayou, Yasusada," kata Kiyomitsu dipelukan Yasusada, "Aku cuci muka dulu ya, sampai ketemu di ruang makan," Kiyomitsu berdiri, kemudian keluar dari kamar mereka.
Yasusada masih duduk terdiam, seperti patung. Wajahnya memerah dan panas. Tawa perlahan terkembang di wajahnya.
Rasanya, harapan benar-benar ada.
"Loh, Yasusada, kau akan shitsujin?" Tanya Kiyomitsu yang masuk kedalam kamarnya, dan menemukan Yasusada sedang bersiap, masih memasang armor didadanya.
"Un," jawab Yasusada singkat sambil memakai haori shinsengumi kebanggannya, "Kata aruji, shitsujin kali ini sedikit lama dan sedikit berbahaya. Jadi mungkin aku baru bisa pulang besok malam, atau lusa pagi,"
"..Begitu," kata Kiyomitsu, yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah sedihnya.
Melihat Kiyomitsu yang wajahnya tertekuk seperti anak kucing yang minta diadopsi, Yasusada tersenyum dan menghela napas.
"Kau tidur sendiri dulu ya malam ini. Aku besok pasti sudah pulang," kata Yasusada sambil berjalan mendekati Kiyomitsu.
"Janji?" Tanya Kiyomitsu, sambil menatap Yasusada.
"Iya" Yasusada memberi senyum terbaiknya.
Kiyomitsu balas tersenyum.
"Baiklah, hati-hati ya. Jangan sampai terluka parah," kata Kiyomitsu.
Yasusada tersenyum, dan mengangguk.
"Yosh, aku berangkat ya,"
Malam esok harinya, Kiyomitsu hanya memandang makan malamnya sambil menghela napas. 2 hari ini, selama kepergian Yasusada untuk shitsujin, Kiyomitsu tidak nafsu makan. Entah kenapa, makan tidak bersama Yasusada itu membuatnya tidak berselera. Entah sejak kapan hal ini dimulai, Tapi Kiyomitsu merasa tidak lengkap kalau tidak ada Yasusada.
Kiyomitsu merasa Yasusada adalah.. sahabat terbaiknya.
Sahabat? Benarkah itu?
Kiyomitsu pun bingung.
Jika hanya sahabat.. mengapa dadanya selalu berdetak kencang saat dia diperlakukan sangat baik oleh Yasusada?
…sebetulnya, apa hubungan mereka dulu? Hanya sekedar partner kan?
Kiyomitsu masih belum bisa mengingat dengan jelas. Dia hanya bisa mengingat kenangannya tentang shinsengumi, berbeda dengan ingatan tentang Yasusada yang sepertinya masih terkubur, entah dimana.
"..Loh Kiyomitsu? Kenapa tidak dimakan? Nanti makananmu jadi dingin lho," kata seseorang yang tiba-tiba mendatangi Kiyomitsu.
Ternyata Horikawa.
"Ah, Horikawa. Entah kenapa aku tidak nafsu makan, hehe," jawab Kiyomitsu seadanya sambil tersenyum lemah pada Horikawa.
Melihat senyum lemah Kiyomitsu, Horikawa langsung duduk disebelah Kiyomitsu, kemudian menepuk pelan kepala Kiyomitsu.
"Kau pasti memikirkan Yasusada ya? Tenang saja, dia pasti tidak apa-apa. Dia kan kuat. Lagipula, malam ini dia pulang kok. Aruji baru saja mendapat pesan dari kelompok Yasusada. Sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang," kata Horikawa menenangkan Kiyomitsu.
"E-eh? Tidak, tidak. Aku tidak memikirkan Yasusada kok.." kata Kiyomitsu, dan dia merasa wajahnya tiba-tiba memerah tanpa sebab yang jelas.
"Eh? Benarkah? Aku kira kau khawatir dengannya," kata Horikawa.
"Kha-khawatir.. iya sih, tapi aku percaya dengan Yasusada.." kata Kiyomitsu sambil tersenyum hangat.
Melihat senyum Kiyomitsu, Horikawa ikut tersenyum. Yasusada pasti senang KiyomitsuNYA sudah kembali.
Ya,
Horikawa mengira, ingatan Kiyomitsu tentang Yasusada sudah kembali.
..padahal belum.
Parahnya, satu citadel sudah mengira bahwa ingatan Kiyomitsu tentang Yasusada sudah kembali, karena melihat kedekatan mereka 2 hari kemarin, dan Kiyomitsu yang hari ini galau tentang Yasusada.
"..Yasusada pasti senang melihatmu seperti ini," kata Horikawa.
"Eh? Kenapa?" Tanya Kiyomitsu bingung.
"Haahh.. karena pada saat ingatanmu hilang, Yamatonokami seperti orang gila," kata Taroutachi yang tiba-tiba masuk dalam obrolan Kiyomitsu dan Horikawa, sambil menenggak sakenya lagi, "Dia melamun sambil menggumamkan namamu terus menerus,"
"Eh..?"
"Iya, aku masih ingat dia menangis saat kau melupakan semua tentang dia, haha," kata Horikawa sambil mengingat-ingat kejadia beberapa hari yang lalu.
"Menangis..?" Tanya Kiyomitsu bingung.
"Iyalah, siapa coba yang tidak menangis kalau dilupakan oleh orang yang disayanginya?" kata Taroutachi juga terkekeh pelan.
"Iya juga. Oleh karena itu, kami rasa setelah ingatanmu kembali seperti ini, Yasusada lebih tenang," kata Horikawa tersenyum hangat pada Kiyomitsu, "Jaga kekasihmu baik-baik ya,"
Diluar citadel, petir menyambar sangat keras. Kemudian hujan deras tiba-tiba jatuh dari langit.
Semua berteriak kaget dengan petir yang tiba-tiba menyambar.
Tapi tidak dengan Kiyomitsu.
Kiyomitsu terdiam shock, seolah-olah petir yang barusan menyambar dan hujan deras diluar itu mengenainya.
Apa?
Kekasih?
Yasusada.. adalah kekasihnya?
Apa..?
"Yasusada.. kekasihku..?" gumam Kiyomitsu pelan, yang sudah pasti tidak didengar oleh toudan lain.
Kiyomitsu merasa bingung, kepalanya pusing. Sakit yang luar biasa tiba-tiba menderanya, seperti pada saat dia mengingat tentang Okita Souji.
Dia tidak lagi bisa mendengar para toudan yang berisik diruang makan. Dia tidak bisa melihat Horikawa yang duduk disampingnya. Samar-samar dia mendengar teriakan bersahut-sahutan yang memanggil namanya, namun seketika itu juga, semua suara itu melebur, dan hilang. Bahkan saat ini dia tidak bisa melihat pandangan apapun selain warna hitam.
Ya,
Lagi-lagi Kiyomitsu jatuh pingsan.
"Kiyomitsu, aku ingin menjadi manusia," kata sosok yang memakai haori shinsengumi dan rambut hitam kebiruan yang dikuncir ekor kuda. Sosok dengan tipikal santai, baik, dan liar di suatu kesempatan.
Kiyomitsu —sosok dengan surai hitam kecoklatan dan memakai cat kuku merah, sosok yang elegan dan cantik—terkekeh pelan.
"Kenapa kau ingin menjadi manusia, Yasusada?" Tanya Kiyomitsu pada sosok yang memakai haori shinsengumi itu.
"..Hm, kenapa ya. Aku ingin melindungi Okita dengan lebih baik, hehe," kata Yasusada sambil tersenyum.
Kiyomitsu mendengus pelan.
"Lagi-lagi Okita. Apa kau tidak ingin melindungiku?" Tanya Kiyomitsu sambil mengerucutkan bibirnya imut.
Yasusada menoleh memandang Kiyomitsu yang sedang merajuk. Tawa Yasusada seketika lepas, dan menimbulkan keheranan di wajah Kiyomitsu.
"Haha, tentu saja aku ingin melindungimu! Aku ingin menjadi manusia.. selain melindungimu dan Okita, aku juga ingin bisa memelukmu, menciummu, dan menyentuhmu dengan lebih leluasa. Kalau hanya berupa jiwa seperti ini.. jangankan menciummu, menyentuhmu saja aku tidak bisa," kata Yasusada sambil memandang Kiyomitsu.
Kiyomitsu yang melihat mata Yasusada menjadi sendu, hanya bisa salah tingkah. Dengan pandangan Yasusada, dan kata-katanya.
Keheningan tiba-tiba menyapa mereka berdua. Kiyomitsu juga terdiam, enggan membuka percakapan.
"..aku menyanyangimu, Kiyomitsu. Sampai kapanpun," kata Yasusada tiba-tiba, yang langsung membuat Kiyomitsu memerah hingga telinganya.
Kiyomitsu terdiam, kemudian tersenyum,
"Aku.. juga, Yasusada,"
"Uhmm.." erang Kiyomitsu begitu dia merasakan sakit tiba-tiba dikepalanya.
Dia sudah sadar.
Cahaya yang sangat terang menyusup masuk kedalam matanya, membuat Kiyomitsu memicingkan matanya.
Begitu dirasa nyawanya sudah terkumpul semua, Kiyomitsu bangkit duduk. Dia melihat sekeliling –yang rupanya dia sudah berada di kamarnya—, dan menemukan sosok Yasusada yang masih memakai haori sedang tertidur sambil duduk di pojok ruangan.
Tubuh Yasusada kotor terkena lumpur, pada wajahnya terdapat banyak bekas luka sayatan, dan hakama serta yukatanya robek disana sini. Kiyomitsu mengira, Yasusada pasti sampai shinken hissatsu (mode serius) dalam shitsujin kali ini.
Perlahan, Kiyomitsu mendatangi Yasusada yang sedang tertidur lelap. Begitu berada didepan Yasusada, Kiyomitsu berjongkok dan mengamati Yasusada.
"..Ehmm.. Ki..yomitsu.." igau Yasusada tiba-tiba, dan seketika membuat Kiyomitsu memerah, teringat mimpinya.
Kiyomitsu mengarahkan telapak tangannya ke arah luka Yasusada, diwajahnya.
"..Dasar. lakukan teirei (perbaikan) dulu, baru tidur. Dasar Yasusada bodoh," kata Kiyomitsu sambil mengelus pipi Yasusada perlahan.
Tiba-tiba senyum Kiyomitsu terkembang,
"Tadaima, Yasusada. Maafkan aku ya membuatmu menunggu lama," kata Kiyomitsu, air mata menetes dari mata merah rubynya.
"Ehhmm.." Yasusada mengerang perlahan merasakan sentuhan di lukanya, kemudian membuka matanya perlahan.
Didepan matanya, dia langsung disuguhi pemandangan Kiyomitsu yang menunduk, dan menangis dalam diam, serta tangan Kiyomitsu yang menyentuh pipinya.
Sontak saja, Yasusada bingung.
Bingung, namun bahagia melihat Kiyomitsu sudah sadar.
"A-ah, Kiyomitsu.. kau kenapa? Kau tak apa? Bagaimana perasaanmu? Kenapa kau menangis? Hei.." tanya Yasusada bertubi-tubi, namun dijawab gelengan oleh Kiyomitsu.
Yasusada tidak tahu harus berbuat apa. Kemarin malam, begitu dia pulang dari shitsujin, dia langsung diberi kabar bahwa Kiyomitsu jatuh pingsan. Belum selesai Yasusada terkejut dengan berita itu, Yasusada juga mendengar bahwa Kiyomitsu sudah tahu kalau dulu, dia adalah kekasihnya.
Yasusada semakin bingung. Dia takut Kiyomitsu masih belum bisa mengingatnya, dan Kiyomitsu tidak bisa menerima fakta tersebut begitu dia tahu.
Rencana Yasusada adalah, membiarkan Kiyomitsu mengingatnya perlahan, bertahap.
Tidak secara langsung begini.
Sekarang Kiyomitsu ada didepannya, menangis.
Yasusada tidak tahu tangisan apa ini.
Kiyomitsu menangis karena sedih? Atau takut? Atau bingung? atau kecewa? Atau apa? Yasusada tidak paham.
"..Kiyomitsu," kata Yasusada membuka percakapan akhirnya, "Maafkan semuanya ya, mereka memberitahumu aneh-aneh.. anoo.. tentang kau dulu adalah kekasihku.."
Kiyomitsu tetap terisak,
"..itu memang benar, tapi-tapi.. kau tidak usah memaksanya untuk menerimanya.. atau mengingatnya.. aku.. aku—"
Kata-kata Yasusada terputus.
Kiyomitsu membungkam bibir Yasusada.
Dengan bibirnya.
Yasusada membulatkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang Kiyomitsu lakukan.
Setelah Kiyomitsu melepaskan bibirnya, Kiyomitsu menghapus air matanya, dan memandang Yasusada.
"Kau terlalu banyak bicara, Yasusada," kata Kiyomitsu, pura-pura kesal, "apakah menjadi sepasang kekasih itu adalah hal yang aneh-aneh untukmu? Huh,"
Yasusada masih bingung,
"Ki..yomitsu..?"
"Hah, padahal kau bilang dulu kalau menjadi manusia, kau ingin memelukku, menciumku.. tapi dari awal aku datang sampai sekarang, aku tidak mendapatkannya. Dasar pembohong," kata Kiyomitsu masih pura-pura kesal.
"Kiyo.. kau.." kata Yasusada masih belum percaya.
Kiyomitsu akhirnya tersenyum, dan memandang Yasusada.
"Iya, aku sudah mengingat semuanya. Maafkan aku ya Yasusada, aku sampai melukaimu seperti ini. Tadaima, Yasusada. Aku mencintaimu," kata Kiyomitsu dengan mata yang berkaca-kaca.
Yasusada langsung menubruk Kiyomitsu hingga Kiyomitsu jatuh telentang, dengan Yasusada di atas.
"Yasu—uph!"
Yasusada langsung mengunci gerakan Kiyomitsu, dan mengunci bibirnya. Yasusada mengulum bibir Kiyomitsu, menjilatnya, dan membuat Kiyomitsu mendesah, hingga membuka mulutnya. Langsung saja Yasusada memasukkan lidahnya, menjilat semua yang ada dalam mulut Kiyomitsu. Yasusada mengelus surai lembut Kiyomitsu, membuka yukata merah Kiyomitsu, dan menyentuh dada Kiyomitsu, yang membuat Kiyomitsu mendesah lebih keras.
Merasa sudah keterlaluan, Yasusada langsung melepaskan ciumannya dan menghentikan gerakan bejat tangannya.
Dibawahnya, dia melihat Kiyomitsu yang terengah-engah dengan mulut terbuka, bibir yang basah, wajah memerah, dan yukata yang sudah tidak jelas bagaimana memakainya.
"Yasu.." panggil Kiyomitsu pelan.
Suara Kiyomitsu entah kenapa langsung menyentuh hati Yasusada, dan membuatnya meneteskan air matanya.
Yasusada bahagia.
Sangat bahagia.
Yasusada langsung mengangkat tubuh Kiyomitsu, dan membawanya dalam pelukannya.
"..Okaeri Kiyomitsu.. maaf.. maafkan aku.. hiks.." kata Yasusada sambil terisak di dada Kiyomitsu.
Kiyomitsu tersenyum sambil mengelus lembut surai kebiruan Yasusada.
"Tak masalah. Aku tahu kau sudah lama menungguku," kata Kiyomitsu lembut, "Apa kau masih mencintaiku?"
Yasusada mengangguk dengan keras dipelukan Kiyomitsu.
"Aku.. sangat mencintaimu, Kiyomitsu! Aku sangat bahagia sekarang," kata Yasusada,mendongakkan kepalanya, menunjukkan wajahnya yang basaha karena air mata.
Kiyomitsu terkekeh pelan, sambil mengusap air mata Yasusada.
"Sudah sekarang cepat mandi, ganti baju, dan obati lukamu," kata Kiyomitsu sambil turun dari pelukan Yasusada, "Otsukaresama deshita,"
Kiyomitsu mengecup singkat bibir Yasusada.
Yasusada tersenyum, dan mengangguk.
Kemudian Yasusada bangkit, lalu memeluk Kiyomitsu.
"Aku mau mandi bersamamu," kata Yasusada ditelinga Kiyomitsu, yang membuat Kiyomitsu memerah lagi.
Dan senyum Yasusada terkembang begitu Kiyomitsu mengangguk malu-malu.
"Yasusada, kenapa kau tidak langsung bilang padaku kalau kita sepasang kekasih pada saat ingatanku hilang?" Tanya Kiyomitsu di pangkuan Yasusada.
Ya, saat ini mereka berdua sedang bersantai di beranda setelah melaksanakan tugas mereka.
"Hm? Yah mana mungkin kan aku membuatmu langsung shock begitu saja? Aku ingin membuatmu mengingatku perlahan-lahan," kata Yasusada sambil menaruh tangannya di pinggang Kiyomitsu.
"Walau mengorbankan perasaanmu sendiri?"
"Begitulah,"
Kiyomitsu mengerucutkan bibirnya.
"Dasar aneh,"
"Aku hanya tidak ingin kekasihku ini mendapatkan beban mental. Aku ingin kau terus tersenyum," kata Yasusada sambil menaruh kepalanya di punggung Kiyomitsu.
Kiyomitsu yang mendengarnya, langsung memerah. Betapa Yasusada memedulikannya.
"Aku mencintaimu, Kiyomitsu," kata Yasusada.
"Ini sudah ketiga puluh kalinya dalam hari ini kau mengatakan itu," Kiyomitsu terkekeh pelan.
"Kau tidak suka?"
"Bukan begitu sih. Aku hanya takut kau akan bosan kalau kau terus berkata seperti itu,"
"Bosan? Aku malah berencana akan mengatakannya terus hingga kau muak," kata Yasusada, menaruh kepalanya di pundak Kiyomitsu.
"Sayangnya, aku tidak akan pernah muak, hingga selamanya," kata Kiyomitsu, yang memutar tubuhnya ke arah Yasusada.
"Kalau begitu, aku akan terus mengatakannya selamanya," kata Yasusada sambil menaruh keningnya di kening Kiyomitsu, "Aku mencintaimu, Kiyomitsu,"
"Hn, Aku juga mencintaimu, Yasusada," balas Kiyomitsu, "Selamanya,"
END.
A/N
BAHAHAHAHA. HAY ARUJI! BERTEMU LAGI DENGAN SAYA YANG AKHIRNYA BARU BISA UP! *buang ingus*
Maaf yang sebesar-besarnya aruji *bow 90' * Saya mengalami banyak problem *lagi-lagi*.. tapi yah, akhirnya bisa up kan? Huehehe.
Ini FF memang hanya twoshoot. Maafkan saya aruji yang sudah lama nunggu, jatuhnya malah langsung end. Saya tidak mau mem php aruji lagi hiks. Maaf.
Terimakasih aruji yang sudah mempedulikan pengumuman saya kemarin, hingga meng add FB saya. Hiks saya terharu. Mana FF di FB juga progressnya pause. Masih ada satu aja di note FB. Jadi ya.. bersabarlah kalian para aruji yang sudah masuk friendlist saya, saya hanya nyampah di FB. Hiks.
Tapi karena lapie udah ditangan, saya rasa saya bisa mulai sedikit demi sedikit masuk dalam dunia per ff an hehe
Nah, jadi jika saya lama up di ffn, kemungkinan saya up di FB huehe :)
Karena di FB itu hanyalah drabble, jadi bisalah kilat. Kalau yang di ffn.. longshoot atau berchapter.
Silakan di Add kalau mau membaca FF saya (yg masih satu) di FB: Satou Ayumu
NB: FF yang di FB tidak akan saya post di ffn :)
Spoiler: Saya sedang bikin sequel x'D sabar ya arujii
Terima kasih semuanya :") Maafkan saya huee
BALASAN REVIEW! JAJANG!
Afyb : AAAA arujii terima kasyeh dukungannyaaa huee QwQ udah temenan ya di FB? AA ini akhirnya update, silakan arujii
Riren18 : Ah aruji, segitu senengnya kah? Syukurlah ^^ terima kasih ya sudah add saya di FB, dan terima kasih sudah merespon ff saya yang di FB.. yang saya lupa judulnya /WOE!/ Ini next chapternya, selamat menikmati~
1maru – san : Sudah up, aruji ^^ maafkan saya ya yang kali ini tidak menyempilkan KaneHori QwQ Horikawanya aja yang nyempil huee, gomen _ ( :"3 _ tapi, diusahakan di ff ff saya yang lain bakal nyempil kok ^^ terima kasih sudah membaca~
Yui Kagamine : Aaa Yui aruji~ saya juga suka membaca ff Anmitsu milik aruji lhoo, bagus-bagus :"D maafkan saya yang belum sempat mereview ff aruji orz Silakan, ini sudah end kok! ^^ terima kasih review dan dukungannya yaa~
MikaelaAo : ..hehe. Sudah uplod kok, Yasu sayang :v silakan dinikmatii
TERIMA KASIH SEMUANYA!
AYUMU SAYANG KALIAN! :")
Salam,
Satou Ayumu
