Title: Its Not Like That, Darling
Pair : Yewook
Author: ChieKyu_SparKyu Follow yah readers..
Genre: Romance
Rate : T = M
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, orangtua nya dan SMEnt. Fict ini saya adaptasi dari komik milik Nagae Tomomi yang judulnya sama dengan fict ini.
Warning : Genderswitch, Gaje, abal, typho(s)
Summary: Aku bukanlah dirinya. Kumohon lihatlah diriku #Crack summary#
*****Yewook*****
"Aku bilang sama orang tuaku kalau tinggal di rumahmu. Jadi tolong bantu aku ya, Minnie," mohon Wookie dengan raut wajah memelas. Saat ini mereka berdua sedang makan siang bersama di kantin kampus.
Minnie sontak melebarkan matanya. "Mwo? Jadi kau mau tinggal dengan Yesung sonsae dengan merahasiakannya dari orang tuamu?" teriak Minnie.
"Haish.. Jangan keras-keras!" Wookie membungkam Minnie sambil menengok ke sekitarnya.
"Bagaimana kalau nanti fansnya bertanya padamu. Lalu apa yang akan kau lakukan?" cerocos Minnie begitu tangan Wookie terlepas dari bibirnya.
Wookie memutar bola matanya. "Yang kulakukan? Yah, aku tinggal pindah saja," ujar Wookie cuek seraya meniup-niup poninya.
"Tapi.. setiap kali aku berdekatan dengannya, aku langsung berdebar-debar. Huh.. Melelahkan sekali," lanjutnya.
"Hmm.. Apa memang benar itu perasaan Eunhyuk?" tanya Minnie meragukan.
Wookie mengerutkan keningnya. Tak mengerti. "Maksudnya?"
"Bagaimana kalau debaran itu berasal dari dirimu sendiri? Bukan dari hati Eunhyuk?"
"Tak mungkin. Aku tak seceroboh itu dengan perasaan." Wookie mengibas-ngibaskan tangannya. Menyepelehkan.
"Hm.. Wookie, apa kau tahu mengenai jembatan gantung?" tanya Minnie.
"Jembatan gantung?" bingung Wookie.
"Iya. Jembatan gantung. Kau pasti akan berdebar-debar kalau melewati jembatan gantung atau jet coster kan?"
Wookie menganggukkan kepalanya. "Hmm.."
"Itu artinya saat berdekatan dengan lelaki, kau akan mudah jatuh cinta. Jadi berhati-hatilah," ungkap Minnie dengan diakhiri dengan seulas senyuman.
Wookie menatap Minnie tak percaya. "Apa maksudnya seperti itu? Teori darimana? Jangan sembarangan ya!" emosi Wookie.
Minnie mengendikkan bahunya. "Aku kan juga tak tahu kebenarannya. Coba saja kalau mau tahu kebenarannya," ujar Minnie seenak jidatnya.
Plukk
Wookie menggeplak kepala Minnie. "Kau kira aku bahan percobaan apa? Dasar," protes Wookie yang hanya dibalas cengiran tak berdosa oleh Minnie.
OoOoOoOoO
"Aku pulang.." teriak Yesung.
"Wah, Yesung oppa sudah pulang," sambut Wookie lalu menarik Yesung menuju ruang makan.
"Wow.. Kau yang masak ini semua?" takjub Yesung saat melihat meja makannya telah dipenuhi oleh berbagai macam makanan.
"Hehe... Tadinya sih mau buat makan malam, tapi kurasa hasil tak begitu memuaskan," sahut Wookie.
Yesung tersenyum. "Kau tak harus melakukan ini kok."
"Habisnya, aku tinggal disini tanpa membayar apapun sih. Jadi aku ingin melakukan sesuatu untukmu," Wookie mengelak.
'Aku memang ada disini untuk Kibummie, tapi sekarang aku tak tahu apa yang harus kulakukan padanya,' inner Wookie.
Yesung menyeringai. "Yang penting.." Ditariknya tangan Wookie hingga gadis itu kita berada dalam dekapannya. "Mari kita saling mengakrabkan diri," lanjut Yesung.
DUAKK
"Jangan mendekat!" teriak Wookie setelah menendang Yesung hingga terjerembab di lantai.
"Aku sudah bilang, kalau kau berani menyentuhku, aku akan keluar dari sini!" amuk Wookie.
"Eomma..."
Sontak Wookie dan Yesung menoleh ke sumber suara. "Bummie..."
'Ugh... Dia pasti berpikir ayah dan ibunya sedang bertengkar,' pikir Wookie.
Wookie menghampiri Yesung yang masih terduduk di lantai. "Nggak apa-apa kok Kibumie. Lihat, kita tak musuhan kan.." Wookie mengelus-elus kaki Yesung sebagai bukti kepada Kibummie.
"Benar kok, Bummie.. Kami nggak ada apa-apa kok," sahut Yesung sambil memeluk erat Wookie.
Wookie mendengus kesal. "Lepaskan aku. Jangan ambil kesempatan deh," bisik Wookie yang sepertinya tak dihiraukan sama sekali oleh Yesung.
"Bummie.. Ayo kelitiki dia.." ajak Yesung.
"Baik.. Ayo appa kelitiki eomma... Hahahaha"
"Hahaha.. Stop.. Hahaha.." teriak Wookie tak tahan. Dengan sekuat tenaga akhirnya ia lepas juga dari kelitikan maut(?) dari dua lelaki beda usia tersebut.
"Dia mulai tertawa semenjak kau ada disini. Terima kasih ya," ucap Yesung tulus seraya menampilkan senyuman manisnya.
"Ah.. Ka.. Karena itulah aku ada disini." Wookie terpesona melihat senyuman Yesung. Jantungnya terasa berdetak sangat cepat. "Oh iya, aku keluar sebentar ya.."
"Memangnya kau mau kemana?"
"Eh.. Ke.. Kemana ya?" ucap Wookie bingung.
'Uhh.. Gara-gara Minnie bicara yang nggak-nggak nih, aku jadi salah tingkah gini setelah melihat senyumannya itu..' dumel Wookie dalam hati.
CLEKK
"Eh.." Wookie sedikit terkejut ketika menemukan seorang wanita telah berada di depan pintu saat ia membuka pintu tersebut.
"Selamat sore.." sapa Wookie ramah.
"Mana Yesung?" tanya wanita itu dengan sedikit jutek.
Wookie melongokkan kepalanya ke arah ruang keluarga. "Yesung oppa... Ada tamu nih.."
"Eh.. Jessica-ssi, ada perlu apa kemari?" tanya Yesung.
Jessica memberikan sebuah bungkusan kepada Yesung. "Hm.. Aku cuma memberikan ini buatmu. Dimakan ya, Yesungie," ucap Jessica dengan gaya sedikit... centil.
"Tentu saja. Terima kasih."
"Baiklah, aku pergi dulu ya. Makan yang banyak ya.." pamit Jessica lalu pergi meninggalkan apartemen Yesung setelah melirik Wookie sekilas dengan lirikan sinisnya.
.
.
.
"Whoaa... Benar-benar jauh sekali dari buatanku," takjub Wookie ketika Yesung membuka bungkusan makanan dari Jessica tadi.
"Hm.. Ngomong-ngomong wanita itu siapa?" Wookie ingin tahu.
"Ng? Oh dia? Dia tetangga. Suaminya tinggal di tempat lain. Makanya dia jadi punya banyak waktu. Dia juga sering menjemput Bummie di penitipan anak," terang Yesung.
"Humm.. Sikapnya memang tak bagus, tapi masakannya enak sekali," ujar Wookie dengan mulut mengunyah makanan.
Yesung memandang Wookie penuh arti. Wookie menjadi risih dibuatnya. "Kenapa? Ada yang salah denganku?"
Yesung langsung mengalihkan pandangannya. "Aniyo.. Hanya saja makanannya jadi kelihatan enak kalau kau yang memakannya."
"Haha.. Ada-ada saja kau ini. Kau sendiri kenapa tidak makan? Tak lapar?"
"Aku jarang makan malam. Biasanya sih aku hanya memasakkan makanan untuk Bummie sedangkan aku hanya makan snack dan minum bir."
"Memang itu cukup buatmu?" heran Wookie.
"Hmm..."
'Jadi dia tak pernah makan malam kalau tak ada yang memasak untuknya?' pikir Wookie.
o0o0o0o0o0
-Wookie POV-
"Jadi perumpamaan jembatan gantung itu mulai efektif ya?" Kubaringkan tubuhku di kasur. Uhh.. Lelah sekali rasanya.
"Tapi kan dia menyukaiku karena ada Eunhyuk di dalam diriku. Dia sebenarnya tak pernah memikirkan aku. Uh.. Kenapa rumit sekali."
CEKLEK
Kutolehkan kepalaku ke arah pintu. Ternyata itu Bummie.
"Bummie, kau mau tidur bersamaku ya? Ayo sini," ajakku.
Bummie langsung berlari ke pelukanku.
"Hore.. Mari kita tidur bersama.." sorak.. Yesung.
Loh? Kenapa si brengsek ini ikut juga sih. Tapi baiklah. Ini demi Bummie.
Kini kami sudah berbaring di kasur bertiga.
"Jangan macam-macam ya!" ingatku.
"Kenapa? Bukankah kau sendiri yang mengajak Bummie untuk tidur bersama?"
"Iya.. Tapi kan aku tak mengajakmu," kesal Wookie.
"Tapi aku kan appanya Bummie. Jadi aku harus bersamanya kemanapun."
"Ah.. Itu cuma alibimu saja.."
PLUKK
Kurasakan sebuah tangan kecil menyentuh payudaraku lalu kulihat Bummie menciumi payudara yang tertutup piyama itu. Ah, sepertinya dia ingin minum ASI lagi. Oh, God.. Kurasa suatu hari aku harus memberitahunya kalau aku bukanlah ibunya.
"Kau pasti keenakan, Bummie.." ujar Yesung dengan tatapan err.. mupeng.
Ah.. iya.. Aku lupa kalau ada dia disini. "Dia bukan orang mesum sepertimu."
"Aku kan lelaki normal. Wajar dong kalau aku berpikiran seperti itu. Lagian aku juga sudah melihat apapun yang ada pada tubuhmu. Kau sungguh indah tanpa sehelai benangpun," godanya. Oh.. God.. Tolong jangan ingatkan aku kejadian memalukan itu lagi.
"Aish.. Lupakan kejadian itu. Jangan berisik. Bummie sudah tidur." hardikku.
o0o0o0o0o0o
-Author POV-
"Hoamm..." Wookie meregangkan ototnya yang terasa kaku sekali.
"Mereka kemana ya?" Wookie beranjak dari ranjang.
"Dia tak melakukan apapun padaku semalam. Ternyata dia tak sejahat yang kukira. Hihihi," gumam Wookie.
Wookie mengendus (?). "Ng.. Seperti bau nasi. Apa dia memasak ya sekarang?"
Wookie berjalan menuju dapur. "Selamat pa..." Wookie tercekat begitu melihat pemandangan di depannya. Yesung yang kini duduk di kursi makan dengan Jessica yang mengalungkan tangannya ke leher Yesung dari belakang.
"Ya ampun! Jadi kau menginap disini ya?" tanya Jessica dengan sinis tanpa melepaskan tangannya di lehar Yesung.
Wookie menatap Jessica dan Yesung tak kalah sinis. Ditariknya tubuh Jessica menjauh dari Yesung sehingga tubuhnya menabrak meja. "Hei.. Apa-apaan.." protes Jessica.
"Apa kau!" hardik Wookie.
"Dan kau, Yesung-ssi. Kau membawaku kesini karena kau masih mencintai Eunhyuk kan?" tunjuk Wookie.
"Hm.. Yeah.." jawab Yesung terkesan santai.
"Jangan bilang iya! Kau mencoba berselingkuh dengan orang lain, hah?" Emosi Wookie memuncak.
Wookie merasa tubuhnya terhuyung ke belakangan. "Lihat kemari! Apa hubungan dengan Yesungie, hah?" teriak Jessica. Sedangkan Yesung tak berbuat apa-apa. Ia hanya menonton saja apa yang dilakukan oleh dua wanita di depannya itu. Uhh.. -_-
Wookie mendengus sebal. "A.. Aku.. Baby sitter. Makanya aku tinggal disini."
Jessica tersenyum remeh. "Cihh.. Baby sitter? Apa kau tak salah? Bahkan memasak pun kau tak bisa," ejek Jessica.
GLEKK..
Wookie tercekat. Ia tak bisa menyangkal ejekan Jessica karena itu memang kenyataan yang ada. Baby sitter tak bisa memasak? Apa dia layak disebut baby sitter?
"Hah.. Benar kan dugaanku? Dasar baby sitter gadungan," hina Jessica.
Emosi serasa memenuhi Wookie hingga ubun-ubun. Rasanya dia ingin sekali memakan wanita sialan ini hidup-hidup. "Kau sendiri apa? Bukankah kau tinggal terpisah dengan suamimu? Itu cukup untuk menunjukkan bahwa kau bermasalah kan?" ejek Wookie. Yesung lagi-lagi hanya memasang tampang datarnya. Seakan tak ada upaya untuk menghentikan pertikaian tak penting ini. Sungguh lelaki tak berguna.
"Jangan bicara sembarangan ya?"
Jessica mengangkat tangannya tinggi berniat untuk menampar Wookie. Sedangkan Wookie hanya menutup matanya seakan bersiap menerima tamparan Jessica.
PLAKK
Wookie mendengar bunyi tamparan cukup keras. Tapi kenapa dia tak merasa sakit? Aneh sekali, pikirnya.
Dibukanya perlahan mata karamelnya itu. Punggung, itulah yang dilihatnya pertama kali. Punggung Yesung di depannya? Apa Yesung melindunginya dari tamparan Jessica?
"Omo? Yesungie, mianhae. Kau tak apa kan? Kau sih kenapa melindunginya segala?" shock Jessica begitu tahu yang terkena tamparannya bukan Wookie melainkan Yesung.
"Karena.. Dia berarti bagiku," sahut Yesung.
"Mwo? Kalau begitu aku tak mau lagi menjemput Bummie di penitipan," geram Jessica.
"Aku yang akan melakukannya.. Bwekk!" Wookie menjulurkan lidahnya.
"Huh.. Menyebalkan," Jessica berlari keluar dari apartemen Yesung.
-Wookie POV-
"Kyaa... Sejak kapan aku menempel begini," pekikku setelah menyadari diriku bersandar di punggung datar Yesung oppa.
'Dia berarti bagiku'
Perkataannya masih terngiang di telingaku. Dia bicara soal Eunhyuk kan?
Ah iya.. Pasti iya. Aku berdebar-debar pasti karena Eunhyuk.
"Ini.. Kompres pipimu," suruhku dengan menyodorkan sebuah sapu tangan basah kepada Yesung oppa.
Diterimanya kompres pemberianku tanpa suara. Apa ia marah padaku?
"Ehm.. Kau.. suka.. dengan wanita itu?" tanyaku pelan.
"Entahlah.."
Aku terbelalak kaget. "Mwo?"
"Dia memang sering memberikanku lebih, sih. Dia bahkan memberi apa yang tak kuminta."
Kupikir dia hanya memikirkan Eunhyuk saja. Ini sangat membuatku kecewa. "Tapi dia kan sudah bersuami?"
"Hmm.."
"Itu namanya selingkuh!" Hey.. kenapa aku jadi terbawa emosi begini sih. "Kau terlalu terlena pada semua pemberiannya," lanjutku.
"Entahlah. Aku tak peduli.. Soal apapun," tuturnya dengan pandangan kosong. Dia terlihat kesepian. Mungkin kematian Eunhyuk membuatnya menjadi tak bergairah untuk hidup bahkan Kibum juga demikian.
SRETT
Kurasakan tubuhku terhempas begitu saja ke dalam pelukan Yesung oppa. "Bagiku... Selama kau ada disini, aku tak peduli pada yang lain," bisiknya lembut.
Kucoba melepaskan diri dari pelukannya. Aah! Aku tak punya kekuatan lebih untuk lepas darinya.
"Kini aku tak perlu siapa-siapa lagi. Karena.. kau ada disampingku," bisiknya lagi dengan semakin mengeratkan pelukannya.
Aah.. Kurasakan leherku mulai basah karena lidah Yesung oppa yang kini bergerilya menjangkau seluruh bagian leher dan pundakku.
Sentuhan ini.. Seharusnya terasa nikmat. Tapi mengapa terasa begitu menyakitkan bagiku kala aku menyadari bahwa sebenarnya yang ada di pikirannya adalah Eunhyuk, bukan aku.. :(
"Enghh..." erangku saat merasa daging leher digigit kecil olehnya.
"Sstt.. Diamlah.." perintahnya sembari menarik tengkukku lebih dekat lalu mencium bibirku ganas.
Digigitnya bibir bawahku untuk mencoba menerobos bibirku yang kukunci rapat. "Engh.." ringisku sakit sehingg ia berhasil menerobos masuk ke dalam gua mulutku. Diabsennya satu persatu menghuni mulutku. Lidahnya serasa berputar membelit lidahku. Pertarungan lidah pun terjadi.
Jujur aku menikamati semua sentuhan yang ia berikan. Tapi lagi-lagi sakit menyerang hatiku.
Apa kau begitu mencintainya? Apakah kau juga merasa sakit? Tapi.. Kalau kau membuang semua kenangan tentangnya, maka akulah yang akan lebih tersakiti.
"Uhh.." erangku tertahan ketika kurasakan sebuah tangannya menyusup ke dalam piyama biru yang kukenakan. Tangannya bergerak lembut ke arah punggungku lalu mengusapnya perlahan. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk membuka kancing piyama yang kukenakan.
Kudorong dadanya untuk melepaskan ciumannya. Bagaimanapun juga, aku tetap butuh oksigen untuk bernapas.
Dilepasnya ciuman tadi lalu berbisik, "Tenanglah.. Nikmati saja.."
Didorongnya tubuhku hingga berbaring di atas meja makan sambil menciumi lagi leherku. Aish.. Leherku pasti sudah penuh dengan kissmark darinya.
Sentuhan Yesung oppa begitu memabukkan bagiku hingga tubuhku terasa kaku.
"Appa.. Eomma.." Kudengar suara Bummie memanggil kami.
"Bummie.." Aku dan Yesung oppa terkaget akan kehadiran Bummie disini. Padahal kan dia tadi masih tidur. Semoga saja dia tidak melihat apa yang kami lakukan tadi.
"Kyaaa... Sudah kubilang jangan menyentuhku.." teriakku. Refleks kudorong Yesung oppa dengan keras lalu berlari ke kamar mandi.
-Wookie POV End-
OoOoOoOoOo
"Appa..." panggil Bummie seraya menarik-narik celana Yesung.
"Apa, Bummie?" Yesung mensejajarkan posisi di depan Bummie.
"Uhm.. Tadi apa yang dilakukan appa sama eomma?" tanya Bummie polos.
Gubrak.. Yesung membisu. Tak tahu harus menjawab apa. Tak mungkin kan kalau ia menjawab pertanyaan itu dengan jujur kepada anak sekecil Bummie?
Oh, Bummie... Kenapa kau harus hidup dengan orang sepervert Yesung? Membuatmu dewasa sebelum waktunya saja -_-
TBC
Gimana tambah gaje kan? Mianhae..
Gomawo buat yang udah review di part kemarin.. Mianhae di part ini aku nggak bias bales review kalian..
At Least.. Review again ne?
