"Kalau begitu, beritahu aku siapa yang memberikan kalung itu pada kau? Dan apa alasannya kalung itu berharga sangat buat kau?"

Ying kini menatap mata Fang dengan begitu serius. Memintanya menjawab pertanyaanya. Tapi Fang hanya bisa diam dan kembali membaca buku yang diambilnya.

"Fang, kau dengar, ma? Jawab." Tanya Ying agak kesal. Tangannya ikut beraksi menggebrak meja perpustakaan. Membuat semua orang yang ada di perpustakaan itu memperhatikan mereka.

"Ying tenanglah. Ini perpustakaan kau tahu?" Fang berusaha menenangkan Ying yang sepertinya kesal. Ia mengambil tasnya lalu berlari keluar. Fang bingung dibuatnya. Ia segera menyusul Ying yang kelihatannya akan meledak sebentar lagi.

"Hoi tunggu lah. Kau ni kenapa?!" Fang menangkap tangan Ying dan mencengkeramnya dengan erat. Mengunci Ying agar tidak lari lagi. Ying berusaha melepaskan tangannya yang telah digenggam Fang dengan kokoh.

"Lepaskan aku, ma." Ying mulai memberontak.

"Kau ni. Ada apa lah?" Tanya Fang seolah-olah bingung dengan keadaan yang sebenarnya terjadi.

"Halah jangan pura-pura, ma. Kau masih suka memikirkan orang itu kan?" Ying mulai menyadari air matanya telah meleleh dan membasahi pipinya. Fang tidak tega melihatnya, ia perlahan melingkarkan tangannya di tubuh Ying dan mendekapnya. Iya, benar ia masih suka memikirkan orang yang memberikan kalung itu. Terutama sekarang ia telah kembali.

"Tak delah. Pikiran kau je. Percayalah." Fang mengelus lembut rambut Ying yang hitam bersinar diterpa matahari.

...

Boboiboy mengeluarkan benda kesayangannya, lalu menyimpannya di lacinya lagi. Kalung bintang. Salah satunya telah ia berikan pada Fang 6 tahun lalu. Apakah ia masih menyimpannya?

Boboiboy menggulingkan tubuhnya di kasur miliknya yang masih sama seperti 6 tahun lalu. Hanya saja sekarang jadi begitu pendek untuk tubuh Boboiboy yang meninggi. Tiba-tiba handphone Boboiboy bergetar.

"Halo. Ye ada apa Yaya?" Tanya Boboiboy pada suara di ujung sana.

"Eh, h-hai Boboiboy. Aku nak ingin mencuba nomormu je. Mungkin je salah. Hehehe " Dari ujung sana suara Yaya cukup bergetar. Entah ada apa dengan dia.

"Haish mana mungkin lah. Sudah, kukira ada apa." Boboiboy menghela napasnya lalu mematikan telpon dari Yaya yang dianggapnya tidak penting.

Boboiboy kembali berbaring mengambil kalung bintang kesayangannya tersebut dan menatapnya lekat-lekat. 'Macamana sebenarnya perasaan Fang padaku?'

Tapi tiba-tiba ia tersadar. Kalau Fang sekarang sudah ada yang punya. Boboiboy membenamkan wajahnya ke bantal. Berharap ia akan segera tertidur dan bangun dalam keadaan yang berbeda.

...

Selepas sekolah ini, Fanglah yang kedapatan tugas membersihkan kelas. Fang menunggu semua temannya pulang, agar ia dapat leluasa membersihkan kelas. Namun ada seseorang yang sedari tadi menunggunya.

"Kau nak pulang?" Tanya Fang dingin sambil mengambil sapu dan lap. Boboiboy yang masih duduk dengan tenang di kursinya itu perlahan menatap Fang.

"Nanti je. Aku mau lihat kelab bola sepak latihan." Jawab Boboiboy melancarkan alasannya dengan santai. Sambil memperhatikan Fang yang sedikit risih dengan kehadiran Boboiboy.

"Kau suka pada Ying?" Tanya Boboiboy tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka berdua. Fang yang sedari tadi menyapu menghentikan sapuannya dan terdiam menatap Boboiboy. Fang hening sebentar.

"Iyelah." Jawabnya tak pasti. Ia kembali menyapu kelas, lalu melanjutkannya dengan mengelap kaca jendela. Keheningan sekarang terjalin dengan baik diantara mereka berdua. Boboiboy yang pura-pura menatap latihan kelab bola sepak yang diketuai Gopal serta Fang yang sibuk mengerjakan tugasnya.

Fang mencoba meraih jendela bagian atas yang cukup kotor karena jarang dibersihkan. Ia mencoba berjinjit. Biarpun badannya tinggi, tetapi kotoran itu masih tidak terjangkau juga. Sesosok yang sedikit tinggi darinya sekarang telah berada di belakangnya. Berada kurang dari satu sentimeter dari pundaknya. Mencoba sedikit menjinjit. Lengannya yang kokoh mengenai lengan Fang yang kesulitan menggapai kotoran di jendela itu.

"Sini biar ku bantu."

Boboiboy perlahan menarik kain yang digenggam Fang dan berjinjit lebih dekat ke arah jendela membuat Fang terhimpit diantara Boboiboy dan jendela tersebut. Posisi yang membuatnya tidak nyaman. Jantungnya mulai berdetak saat wajah Boboiboy mengenai rambut navyblue Fang. Nafasnya yang hangat menghipnotis Fang yang begitu dekat dengannya saat ini.

Boboiboy perlahan menjauh memberikan ruang agar Fang dapat keluar, lalu memberikan kain lap itu ke Fang sambil tersenyum dengan lirih. Wajah Fang mulai memerah dan jantungnya masih belum normal. Ia mengambil lap itu tanpa menatap mata Boboiboy. "Terimakasih."

"Ish kau ni, kalau bicara lihat mata lawan bicara kau lah." Boboiboy memaksa Fang menatapnya. Disentuhnya wajah Fang yang begitu merah dan diangkatnyalah wajah putih berbingkai kacamata ungu itu menatap mata Boboiboy. Fang tidak memberontak. Ia hanya bisa mengikuti tangan Boboiboy membawa matanya menatap mata Boboiboy.

"Haloo, Fang, kau masih disini, ma?"

Ying memasuki kelas dan melihat Fang tersenyum padanya. Di depannya terlihat Boboiboy menatapnya juga dengan penuh heran. "Aku di sinilah."

Ying dengan cepat menuju ke arah laki-laki berkacamata ungu itu dan memeluk tangannya dengan manja. Boboiboy masih berdiri berhadapan dengan Fang dan menatap semua kejadian yang begitu cepat. Setelah mendengar suara Ying, Fang langsung menyingkirkan tangan Boboiboy dari wajahnya. Lalu menjauh beberapa langkah. Cepat dan menyakitkan.

Ying kelihatan begitu manja sambil sesekali bermain dengan rambut Fang dengan mengacak-acaknya pelan.

"Haiya, rambut kau lembut sangat, ma. Hihihi." Fang yang rambutnya diacak merasa tidak risih.

"Haish sudahlah, nanti aku tak hensem lagi. Nanti tak populer lagi. Disana banyak wanita menungguku" Jawabnya sambil tertawa pelan dan mencubit pelan hidung Ying.

"Aduh, kamu jangan mencuba untuk selingkuh ya, ma."

Boboiboy diliputi keheningan sekaligus kecanggungan. Ia melihat ke arah pasangan yang membuat sesak dadanya. Tangannya yang kokoh perlahan mulai mengepal.

"Eh aku nak balik ya." Ujar Boboiboy berpamitan pada mereka berdua.

"Haiya, kau masih disini Boboiboy?" Kelihatannya Ying baru menyadari adanya Boboiboy disana.

"Hahaha iyelah. Aku tadi nak lihat latihan kelab bola sepak. Dah, aku nak balik." Boboiboy melambaikan tangannya lalu mengambil tasnya.

"Boboiboy, Fang dan aku juga nak balik. Macamana kalau kitorang balik bersama, ma?" Tanyanya sambil tersenyum. Tangannya yang mungil masih memeluk lengan Fang dengan manja. Mana mungkin Boboiboy kuat dengan pemandangan seperti ini.

"Iyelah. Jom."

...

Saat ini Boboiboy, Ying dan Fang berjalan pulang bertiga. Dengan formasi Ying diantara Boboiboy dan Fang menggandeng erat Fang. Suasana canggung terjadi di antara mereka. Boboiboy yang terhalang oleh Ying memperhatikan Fang. Melihatnya dengan lirih. Fang sadar diperhatikan. Tapi ia diam saja dan berjalan dengan tenang.

"Haiya, Boboiboy kau nak ikut kelab bola sepak?" Tanya Ying disela hening mereka.

"Eh, iya aku masih bingung." Jawab Boboiboy canggung matanya masih melirik ke arah Fang yang kelihatannya mulai risih dengan pandangan Boboiboy.

"Macamana kalau kau gabung ke kelab matematik, ma? Atau, kelab bola keranjang sama Fang nanti. Iyakan, iyakan? Hihihi." Tanya Ying sambil menoleh riang ke Fang.

"Tak lah. Tak kan aku izinkan Si Boboiboy ni masuk kelab ku." Fang berkata tanpa menoleh ke arah Boboiboy. Wajahnya kelihatan angkuh.

"Ish, siapa pula yang nak masuk kelab kau." Boboiboy mulai terpancing emosi. Boboiboy membuang mukanya mengalihkan pandangannya.

"Baguslah. Jangan cuba-cuba kau injakkan kaki kau di kelab ku." Jawab Fang kali ini menoleh ke arah Boboiboy.

"Terserah kaulah. Sampai kapanpun tak de lah aku masuk ke kelab kolot kaulah." Boboiboy merasa ditantang Fang akhirnya ikut dalam perdebatan masalah kelab sekolah mereka.

"Ish, berani benar kau!" Fang mulai mengepalkan tangannya siap melayangkan pukulan ke arah Boboiboy. Boboiboypun siap menangkis pukulan Fang.

"Haiya, sudah-sudah! Jangan ribut disini,ma."

Ying melerai mereka. Mencoba menenangkan Fang yang sepertinya benar-benar kesal kelabnya disebut 'kolot' oleh Boboiboy. Fang menolehkan pandangannya dari Boboiboy melepaskan tangannya dari Ying lalu melipat tangannya. Boboiboypun sepertinya masih agak emosi, namun ia lebih stabil. Boboiboy menolehkan pandangannya ke jalan di depannya. Dia jadi malas dengan Fang.

...

Siang ini Yaya benar-benar sibuk mengurus acara sekolah yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Yaya jadi lebih sering tampil di depan umum mengabarkan berita-berita tentang acara sekolah. Hal ini kelihatan sekoali membuatnya lelah.

"Gopal, kau tolong aku mencetak poster ni ya." Perintahnya pada Gopal, sang wakil. Dengan malas Gopal mengambil sample poster yang diberikan Yaya untuk diperbanyak. Entahlah mengapa si Gopal ini bisa ditunjuk menjadi wakil ketua dari organisasi sekolah ketua kelab bola sepak saja sudah membuatnya lelah.

"Sudahlah Yaya. Kau rehat dulu je." Gopal memberikan instruksi pada Yaya yang kelihatan lelah.

"Taklah. Kalau bukan aku. Siapa lagi? Kau? Kau mana dapat diandalkan." Yaya menanggapi Gopal sambil terus mengacak-acak susunan acara yang telah dibuatnya dan mengaturnya agar lebih baik.

"Iyelah terserah kau je." Gopal memutar bola matanya dan berjalan keluar untuk memperbanyak poster itu. Sudut matanya masih memperhatikan Yaya yang belum berhenti juga. Ia merasa khawatir. Tapi, sepertinya Yaya tidak ingin dikhawatirkan.

"Hoi, Gopal!" Panggil seseorang tidak begitu jauh dari arah Gopal berjalan. Si sumber suara itu berlari menuju Gopal yang sedang akan memperbanyak poster itu.

"Hoi Boboiboy. Ada apalah?" Tanya Gopal sambil terus berjalan.

"Aku nak gabung dengan kelab kau. Boleh?" Tanyanya memelas. Gopal menatapnya dengan ekspresi bahagia lalu memeluk Boboiboy sampai ia sesak.

"Egh, Go..pal. sesak." Rintih Boboiboy yang terjepit Gopal.

"Boleh, boleh. Besok kau datang. Latihannya mulai selepas sekolah. Oke?" Gopal tersenyum lalu menunjukkan jempolnya.

"Haha oke! Terbaik lah kau Gopal!"

Booboiboy berlari pergi setelah mendapat persetujuan dari ketua kelab bola sepak. Ia melihat sebuah ruang yang pintunya tidak ditutup. Seorang anak perempuan yang ia kenal sedang ada di dalam. Kelihatan begitu serius dengan pekerjaannya.

"Hai Yaya." Sapa Booboiboy melihat Yaya di dalam ruangan tersebut.

"Oh hai Boboiboy. Maaf. Aku lagi sibuk." Sapa Yaya balik tanpa menoleh ke arah Boboiboy. Boboiboy mendekati Yaya yang sedang mencoret-coret kegiatan acaranya.

"Macamana, kalau pertandingan bola sepak ni dibuat rehat 2 menit per-pergantian babak? Dan acara lomba teka-teki ini diletakkan di akhir. Kurasa banyak yang akan menonton acara teka-teki ini. Aku yakin, acara ni akan ramai pastinya." Tiba-tiba Boboiboy duduk di depan Yaya dan memberikan ide tentang acara yang dibuatnya.

Yaya cukup terkejut dengan kehadiran Boboiboy yang tahu-tahu ada didepannya. Yaya memandang Boboiboy yang begitu asik memberikan ide pada Yaya tentang susunan acarnya. Wajahnya yang kelihatan dewasa, senyumnya yang manis serta topi jingganya yang menutupi rambutnya yang hitam membuat perhatian Yaya hanya tersita pada dirinya. "...ya begitulah. Cuba kau buat."

"Eh, iya iya. Sebentar. Tadi..." Yaya ,mulai mengambil kertas baru dan menuliskan acara yang disarankan Boboiboy tadi. Ditemani alunan suara Boboiboy yang menginstruksikan susunan acaranya, Yaya masih menulis.

Tidak jauh dari situ seorang pemuda berbingkai ungu berjalan sambil mengelap keringatnya. Latihan bola keranjangnya cukup berat hari ini. Terutama acara sekolah akan diadakan dua minggu lagi, membuat ia memperkeras latihannya.

Sebuah ruangan yang biasa ia lewati terbuka.

'Masih ada orang?' Batinnya sambil menoleh ke arah ruangan tersebut. Fang mendekat lalu menelusur ke dalam ruangan tersebut. Terlihat dua orang yang begitu dekat. Dua orang yang begitu dikenalnya. 'Boboiboy... Yaya..? Apa yang mereka lakukan?'

"Aih untung ada kau Boboiboy. Kalau tak habislah sudah. Ahahaha." Terdengar suara Yaya dari dalam ruangan tersebut berterimakasih pada laki-laki topi jingga yang duduk di depannya yang menatapnya sambil tersenyum. Fang berada di luar ruangan entah kenapa ia malah bersembunyi sambil mendengarkan percakapan mereka.

Tiba-tiba Gopal membawa setumpuk kertas yang berisi poster acara sekolah berdiri di depan Fang yang sedang menguping pembicaraan Yaya dan Boboiboy.

"Ha, Fang. Nak apa kau di sini?" Tanya Gopal agak keras sehingga membuat Yaya dan Boboiboy segera menoleh ke luar dan melihat keadaan.

"A-aku.. lewat sini je tadi. Kau sendiri. Nak apa kau di sini?" Tanya Fang balik

"Alah, ada apa ni?" Tanya Yaya keluar ruangan dan melihat Fang Gopal sedang bertatapan. Boboiboy lalu menyusul keluar dan melihat Fang serta Gopal ada di sana. Gopal membawa setumpuk kertas. Kelihatannya agak kerepotan, terutama kertas tersebut mulai berterbangan terkena angin. Boboiboy mengalihkan pandangannya ke Fang. Tubuh pemuda itu begitu basah akan keringat, membuat ia kelihatan semakin tampan. Keringat yang mengalir di sela-sela ototnya dan rambut navy blue nya yang lepek tersiram keringat tersebut membuatnya semakin keren. Pantas saja ia begitu populer.

"Si Fang ni intip-intip korang lah." Gopal mulai membuka suaranya.

"Sudahlah. Mana poster yang ku minta perbanyak?" Tanya Yaya mengalihkan pembicaraan. Ia mengambil selembar kertas poster itu lalu masuk kembali ke ruangannya. Gopal mengikuti Yaya dan masuk.

"Kau tak masuk?" Tanya Fang pada Boboiboy yang malah melamun di depannya.

"Eh, taklah. Dah selesai." Kata Boboiboy sambil tersenyum simpul. Kecanggungan terjadi lagi antara mereka berdua. Boboiboy masih mengamati Fang yang kelihatannya masih berlumuran keringat.

"Ambillah ni." Boboiboy memberikan selembar tisu yang tadi dibawanya dari dalam ruangan pada Fang untuk mengelap keringatnya. Sambil terus mengamati Fang. Pandangannya tertuju pada sebuah kalung yang dikenakannya.

"Selembar je? Mana cu-"

Boboiboy memeluk Fang tiba-tiba. Ikut membiarkan seragam Boboiboy hangat dengan keringat Fang. Fang yang terkejut mencoba memberontak. Namun, sepertinya ia tidak cukup kuat.

"Apalah kau ni. Le-lepaskan aku!" Fang masih mencoba mendorong Boboiboy

"Kau masih menyimpannya?" Boboiboy berbisik di telinga Fang yang begitu sensitif. Fang dapat merasakan napas Boboiboy yang begitu hangat di telinganya. Suara Boboiboy yang lembut bergetar di telinga Fang dan membuat jantung Fang berdetak keras. Hal ini tidak pernah ia rasakan saat bersama dengan Ying.

Fang tiba-tiba berhenti memberontak. Tapi ia tidak membalas pelukan Boboiboy. Ia hanya diam merasakan Boboiboy yang memeluknya dengan hangat. Membiarkan keringatnya habis diserap baju Boboiboy yang menempel padanya.

Fang hanyut dalam pelukan hangat itu. Diamnya membuat Boboiboy semakin ingin mendominasinya. Belum lagi lorong sekolah yang sudah sepi karena hari sudah mulai sore. Boboiboy melepas pelukannya. Lalu mendorong Fang ke tembok dibelakangnya. Fang yang terdorong, merasakan punggungnya ,menempel di tembok. Ia tak dapat kemana-mana lagi. Tangan Boboiboy berada di sebelah kanan dan kiri Kepala Fang yang telah tersandar di tembok, menguncinya agar tak dapat lari.

Fang menatap Boboiboy dengan sedikit takut. Mata hazel itu melihatnya dengan tajam seakan hendak memakannya. Nafasnya yang hangat berhembus mengenai wajah Fang yang semakin tak mengerti apa yang akan terjadi. "Apa yang ka-"

"Mmph..."

Dengan cepat sesuatu yang kenyal itu melumat bibir Fang. Menempelkan bibirnya di atas bibir Fang. Bahkan Fang sendiri tak sadar sejak kapan bibr Boboiboy telah ada di bibirnya.

"Aih, akhirnya selesai juga. Jom kita balik." Sebuah suara dari ruangan tersebut membuat syaraf Fang bereaksi begitu cepat memerintahkan tangannya untuk mendorong Boboiboy sekuat tenaga. Lalu mengusap bibirnya dengan tangannya yang berlapiskan sarung tangan itu. Seakan ingin menghapus jejak bibir Boboiboy di bibirnya.

"Aih, korang belum balik?" Tanya Gopal menatap ke arah Boboiboy dan Fang yang ada di luar ruangan. Wajah Fang begitu merah dan ia menutupi bibirnya dengan tangannya.

Tanpa basa-basi Fang lalu lari meninggalkan mereka dengan cepat. Wajahnya semakin merah dan jantungnya tidak karuan. Meninggalkan wajah Yaya dan Gopal yang begitu heran.

"Hei, apalah si budak tu?" Tanya Gopal kelihatannya sebal pertanyaannya tak dijawab, malah ditinggal pergi tanpa basa-basi oleh Fang.

"Hei, Boboiboy." Yaya menoleh ke Boboiboy meminta penjelasan atas semua ini.

Boboiboy hanya menjawabnya dengan hening. Pandangannya kosong sambil menatap punggung Fang yang mulai menjauh.

"Maafkan aku, ...Fang"

Bersambung


Huwalah (?)

Setelah mencoba mengatur waktu yang tepat akhirnnya bisa kembali mengupdate ff ini XD tadinya mau bikin yang'hot' tapi sepertinya kurang pas kalau dibuat di chapter ini~ jadi sabarlah guys hehe

Ngomongngomong saya lagi suka dengan lagunya adu du yang Bangun Pagi XD /jangancurhatwoy

Maaf kalau di chapter ini adegannya kecepetan dan sama sekali ga hot karena kebanyakan konflik, saya malah fokus sama konflik di fic ini bukan adegan hotnya XD

Terimakasih yang masih mendukung saya ;w; reviewnya menunjukkan kalau kalian masih peduli pada saya yang hanya sebuah debu ini (?) saya masih berharap diberikan kritik dan saran serta dukungan lewat review~ curhatan boleh juga kok (?) karena entah kenapa review membangkitkan mut saya tibatiba he he

Sayamohon maaf sepertinya untuk kedepannya updatenya akan mulai lelet he he tolong dimaklumi ya ;; tapi saya akan berusaha cepat biar ga penasaran~ maafkan atas ke OOCannya, Typo, Adegan yang kurang 'hot', bahasa serta diksi yang kurang pas, ataupun plot yang ngaco

Untuk yang selama ini meriview saya minta maaf kalau saya gabisa balas semuanya. Tapi percayalah satu review dari kalian begitu berharga buat saya :") /halah

Sekali lagi banyak terimakasih sampai ketemu di chap selanjutnya ^^

Diaclaimer : Animosta Studio