Chapter 3
SENPAI
ルキア クロサキ
"Di-dia?!" pekik Rukia tertahan. Orang yang sama-sama ia panggil 'mikan' sekarang berada di hadapannya persis.
"Gadis Asusila?!" sepertinya Ichigo pun baru sadar jika gadis di depannya adalah gadis yang baru saja ia beri sumpah serapah.
"Kakak saling kenal?"
Disclaimer Bleach © sapa ya?#digorok Tite-san
SENPAI © ChapChappyChan
Pairing : Ichigo x Rukia (lah!)
Genre : romance (semoga bener-bener bisa kerasa) humor (nggak tau juga)
Warning : no flame-typo(s)-00C-abal-garing-ruwet-mulek-bertele-tele-#pingin bikin fic yang bagus tapi ada adaaaaa aja yang kurang
Note: maaf karena author PR nya banyak dan sering pulang sore jadi tidak bisa cepet update.
SPECIAL THANKS :3
hendrik widyawati
wiii-widd-widdya-saan! Uhuk! Pelukan maau-t mu! XD
hehe..bagus deh kalau kerasa feeling nya pas itu XD
ia..kan yang pesen romance pertama kali ke saya kan anda..jadi saya termotiv..gitu deh. Arigatou review nya yaa..:*
Reiji Mitsurugi
Hehe #nyengir #jelek tauk!#plak!
Hiks..saya senang..ada yang pengertian juga..:')
Wehehe..doumo arigatou :*
nenk rukiakatehaha..kagak papa kok..sante aja lagee #jadi alay#plak
akhirnya..ada yang pengertian juga...
iya..ini..moga berasa...XD
arigatou review nya ya.. :*
Rukaga Nay
Maaf, bukan maksud saya begitu. Tadinya pas ngetik banyak loh, ada 5 lembaran. Tapi waktu di publish entah kenapa jadi pendek #orang font nya 14 #plakplakplak
Gomen ya..
Hiks..itu yang saya harapkan..teriakan semangat dari reader #mewek. Ok, arigatou reviewnya :*
MizunoHikari
Gomen telah mengecewakan. Hehe..betul itu. Yang penting ichi ketemu ruki. XD
Gomen, saya tidak bisa update cepet. PeeR saya banyak. Pulangnya sore banget. Jadi ya..dimohon jangan terlalu berharap saya update kilat XD. Nggak ding. Saya pasti akan berusaha cepet kok. Kalau update, saya usahakan nggak molor sampek sebulan :D. Arigatou reviewnya :*
Matsun Matsuru
Hiks..iya, saya juga pas baca ulang juga ngrasa nggak puas banget. Padahal nulisnya dapet 5 halaman lho #orang font nya 14!#plak
what? 140 tanda tangan?! Saya aja Cuma 20! #curcol juga
Iya, ini..semoga bisa (agak) memuaskan. Arigatou review nya :*
shinshi
sebenernya sengaja sih XD #plakplakplak
iya, ini, semoga suka ichiruki nya. Tapi di tahap ini ichi masih belum klepek-klepek. Jadi, di tunggu pada tahapnya ya...Xp. arigatou reviewnya :*
lavender kururu-chan
Wah..iya deh kayaknya. Soalnya saya pun juga hampir mimisan membayangkannya XD. Kalo mau lihat dance nya Ruki,bisa di klip opening bleach ke 10. Itu inspirasi saya XD. Salam kenal juga. Arigatou review nya :*
can-can
gomen ya can-san. Saya pun nggak bisa update kilat. Tapi saya berterimakasih sekali karena sudah meng'ganbate' saya. arigatou reviewnya. Jangan kapok mampir di fic saya :*
Naruzhea AiChi
Iya..gomen banget..ya.. soalnya saya waktu update ch 2 tu malem-malem ketauan Kaa-san dimarahin. Ya udah deh. Jadi pendek gitu. Tapi yang ini semoga (agak) memuaskan. Jangan kapok review ya X). Arigatou :*
Tanpa basa basi lebih banyak lagi, Yonde kudasai! Hope you like it! X3
"TIDAK!" bermaksud menyanggah dan benar-benar tidak mau menyuguhkan jawaban jujur, dua insan SMA itu malah kompak berujar. Keduanya pun saling menatap dan berisyarat 'jangan contek kalimatku!'. Yachiru hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menatap dua anak remaja dihadapannya.
"Oh..Yachi pikir kalian malah pacaran.."
Kalimat 'jleb' yang gadis kecil itu utarakan –dengan innocent- membuat dua insan yang bertitle Gadis Asusila dan Mikan-senpai memerah wajahnya. Tiba-tiba otak Mikan-senpai yang tak lain adalah Ichigo tidak sengaja memutar file porno alamiah dengan pelaku utama adik kelasnya itu. Memory yang tadi pagi benar-benar tak bisa ia lupakan walau dengan sekuat tenaga ia berusaha. Ia kini memalingkan wajahnya dan mengacak rambutnya kasar demi menyucikan pikirannya kembali. Gadis Asusila yang Yachiru panggil Kak Rukia itu pun tak jauh beda dengan senpainya. Ia sekilas berpikir, senpai yang baru saja membelakanginya itu memang tampan sih, tubuhnya juga sek- what?! Senpai dihadapannya ini jahat padanya! Kenapa malah memujinya? Rukia pun menggelengkan kepalanya keras-keras dengan pikiran miring-tapi jujur-nya. Berusaha menormalkan otaknya.
"Biar kuluruskan, kau kenal bocah ini?" dirasa telah cukup waras akan kondisinya, Ichigo memberanikan diri berbicara pada adik kelasnya itu. Yang ditanya pun mengangguk. Awalnya Rukia sebal dan merasa berani pada senpainya itu. Tapi,setelah mengeksplorasi kenyataan yang ia ungkapkan dalam hati tadi, dirinya jadi malu sendiri. Dan tak kuat berujar panjang."Kalau begitu, tolong antarkan dia pulang." Lanjut Ichigo.
"Baiklah. Yachi,ayo kita pul-"
"TIDAK BISA!" Rukia yang hendak menggandeng Yachiru pun kaget mendengar teriakan tiba-tiba dari gadis kecil itu. Ichigo yang hendak berbalik untuk pulang pun jadi menunda niatnya."Kakak Mikan tadi sudah janji mengantarku pada ayah kan?! Janji tak boleh diingkari tau!"sungut Yachiru dengan bibir mengerucut. Akh, ini pelajaran buatmu, Ichigo. Jangan buat janji sembarangan pada anak kecil yang punya daya ingat tinggi."Pokoknya Kakak harus mengantarkanku!" bukan hanya daya ingat tinggi, tapi juga keras kepala.
"Ah, tapi Kakak Mik- hey! Namaku Ichigo! Eh, maksudku, aku tidak tau rumahmu." Bukan Ichigo namanya jika tak bisa beralasan."Yang tau rumahmu kan dia, jadi kau diantar dia saja ya.." dengan sedikit nada membujuk, Ichigo kembali berkata sambil menunjuk Rukia.
"Aku tidak mau tau! Pokoknya Kak ichigo harus mengantarku! Kata Ayah, orang pengecut itu orang yang suka mengingkari janji, dan Yachi pikir Kak ichigo tidak pengecut. Benarkan?" hey Ichigo, kau mau dibilang pengecut oleh anak yang usianya untuk masuk TK pun belum boleh? Tunjukkan harga dirimu Ichigo..
"Baiklah..Kakak antar.." kelihatannya rasa kasihan dan rasa semangat menolong yang pertama kali Ichigo tunjukkan, entah hanyut kemana setelah peralihan beberapa emosi yang baru saja ia alami. Jawaban yang ia ucapkan malah terdengar sangat tak ikhlas.
"Tidak usah. Biar aku saja yang antar. Rumahnya lumayan jauh dari sini." Rukia pada akhirnya berhasil menenangkan diri dan berujar pada senpainya karena merasa tidak enak hati dengan nada bicara tak ikhlas senpainya itu.
"Tapi kan Kak Ichigo tadi sudah berjanji padaku.." rengek Yachiru seraya menarik-narik manja kemeja bagian bawah Ichigo. Melihat hal yang anak kecil itu minta darinya serta tak mau dibilang pengecut, akhirnya Ichigo pun bersikeras mengantar anak itu walau nantinya ia diajak duel dengan ayah tercinta perkara pulang telat.
"Aku akan mengantarnya sampai rumah. Kau bisa tunjukkan jalannya." Ucap Ichigo pada Rukia.
Tanpa mengharap jawaban, Ichigo berjalan mendahului Rukia. Yang diajak bicara malah betah berdiri sambil memandangi Ichigo yang mulai berjalan menggandeng Yachiru. Yachiru tampak nyaman dengan gandengannya. Senyum merekah dua orang yang saling bergandengan itu memperindah suasana sore yang menyejukkan. Bisa membuat terpukau seseorang yang dari tadi hanya mematung entah menunggu apa. Pesona yang ditebarkan dua orang itu khususnya Ichigo, memberi sedikit sentuhan magic pada penglihatan Rukia. "Kenapa dia terlihat lebih tampan dari Kaien–senpai kalau seperti itu?" pikir Rukia diantara sadar dan tak sadar. Sedikit demi sedikit, sudut senyum terukir dari bibir manis Rukia. Sungguh suguhan yang pas di sore hari.
"Mau sampai kapan disitu,hah? Aku bilang, tunjukkan jalannya!" tiba-tiba terdengar suara bass yang membentaknya. Menghancurkan segala imajinasi indah yang jarang ia nikmati.
"Ugh! Aku menyusul!" sungguh sirna sudah. Bayangan ketampanan dari senpai yang sudah jauh di depannya itu hancur seketika akibat bentakan kasar yang ia terima."Dasar Mikan!"
:
:
:
"Kak Rukia! Yachi ingin es krim.."
Ditengah perjalanan yang terasa suntuk, mengingat rumah Yachiru yang memang lumayan jauh, Yachiru bermaksud meminta berhenti di sebuah kedai es krim yang berada beberapa langkah lagi di depan. Dan sepintas, Rukia sempat bertanya-tanya. Bagaimana bisa Yachiru tau jika di depan ada kedai es krim? Membaca saja dia belum bisa.
"Aku juga lapar." Ichigo malah mendukung usul Yachiru. Eh, kalau dipikir-pikir, dari tadi kau juga terus berusaha meredam suara perutmu kan Rukia?
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya.." tak dapat dipungkiri lagi, mereka bertiga akhirnya memasuki kedai es krim itu.
:
:
:
Mereka berjalan kearah counter untuk memesan makanan yang mereka inginkan. Suasana kedai tersebut bisa dibilang ramai. Mungkin menikmati makanan di kedai sambil memandangi lalu lalang Karakura disore hari dengan sedikit bercengkrama adalah aktifitas yang menyenangkan bagi pelanggan disitu. Mulai dari cengkramaan sesama teman, sepasang kekasih, anggota keluarga, atau mungkin antara senpai, adik kelas dan anak dari teman ayah si adik kelas yang tak sengaja ditemui sedang tersesat oleh si senpai. Tapi whatever status apa yang sedang kalian sandang. Pokoknya, kalian bisa dengan puas bersendawa seusai dari kedai itu.
"Aku mau beef burger extra lemak." Ujar Rukia pada pelayan setelah menemui pilihan makanannya di daftar menu.
"Eeh? Ekstra lemak? Kau ingin gendut?" cerocos Ichigo tiba-tiba membuat Rukia merona akibat kata 'gendut' yang secara terang-terangan Ichigo ucapkan. Sebenarnya, Rukia berupaya supaya 'itu' nya tambah berisi dengan memakan makanan yang banyak mengandung lemak agar ia bisa dibilang wanita yang lebih 'dewasa'. Tapi Ichigo berkomentar dengan tak tau tujuan utama Rukia tersebut. Dan haruskah Rukia beritau alasannya? Oh, siapa yang mau Ichigo mimisan untuk yang kedua kalinya?
"Kau saja yang tidak tau kasiat lemak bagiku!" jawab Rukia.
"Lemak itu ya membuat gendut. Memang apa lagi?"
"Pikiranmu sempit sekali.."
"Kau saja yang punya pikiran menyimpang!"
"Terserah. Apapun yang terjadi, aku tetap akan makan itu!"
" Apa kau mau tidak dibilang menarik oleh seorang pria akibat kau makan lemak, ha?"
"Memang siapa yang bakal bilang aku tidak menarik?!"
"Ak- maksudku, ya pria yang melihatmu lah!"
"Lalu, apa pedulimu?!"
"Bukan begitu. Hanya saja-"
"Maaf, saya rasa anak kalian akan menangis jika kalian tidak segera berhenti." Seorang pelayan perempuan muda tersenyum canggung saat berkata seperti itu pada dua orang yang tengah asyik bercekcok ria. Daritadi tatapan matanya tertuju pada Yachiru yang sudah merengut dan berkaca-kaca. Seolah-olah, ia tak mau orang tuanya berpisah gara-gara percekcokan. HEY!
"DIA BUKAN ANAK KAMI!" lagi-lagi sepasang insan itu berujar dengan kompak.
"Lagi pula apa anda tidak lihat seragam kami?! Kami masih SMA tau!" Ichigo yang sudah salting, merona dan tak tahan lagi dengan ucapan ngawur pelayan itu, segera berteriak menyanggah.
"Sudahlah. Yachi benar-benar sudah lapar." Jujur saja, Rukia sempat shock dengan kata-kata pelayan dihadapannya itu dan ia hendak berteriak-teriak menyalahkan pelayan itu jika saja pandangannya tak beralih ke Yachiru. Tapi ia sungguh kasihan ketika sadar Yachiru sudah meremas perutnya dan hendak menangis seperti yang dikatakan pelayan tadi."Satu beef burger extra lemak dan satu original burger+eskrim cone. Pesanan yang lain tanya saja pada dia." Rukia buru-buru menuntun Yachiru untuk mencari tempat duduk.
"Hey-hey..tunggu..argh!" Ichigo menuntut perhatian dari Rukia yang sudah menjauh. Namun, ketika merasa sia-sia. Ia pun memesan makanannya pada pelayan yang menurut nya bodoh atau apa.
:
:
"Jelas-jelas aku masih pakai seragam SMA! Siswa SMA idiot mana yang sudah punya anak dan dengan bangga mengajaknya makan di kedai bersama orang tua yang mengenakan seragam SMA nya?! Dasar bodoh!" umpat Ichigo setelah beberapa menit lalu selesai beranjak dari counter dan tengah membawa makanan yang telah di pesan oleh istri dan anaknya. Ups..
"Dimana sih mereka tadi?!" Ichigo menyusuri setiap meja seraya terus melakukan hobby nya. Mengumpat.
Akhirnya pandangannya menemukan seorang gadis berambut hitam yang sedang memangku dan mengelus-elus gadis kecil berambut pink. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat menuju mereka.
"Lama sekali!" bukannya dibantu karena barang bawaannya banyak, tapi Ichigo yang kepayahan itu malah dihujam dengan perkataan kasar.
"Bukannya membantu malah-"
"Kau tau, Yachiru sudah tidak kuat lagi menahan laparnya!" Ichigo sempat terkejut melihat ekspresi dan emosi yang diberikan si junior padanya. Jujur, sebelumnya ia tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari seorang itu dari ibunya Tatapan marah dan kecewa akan sesuatu. Apalagi intonasi yang Rukia berikan membuktikan bahwa ia benar-benar marah.
"Es krim nya sudah datang ya." Seseorang yang dipermasalahkan akhirnya menoleh pada Ichigo. Benar saja. Gadis kecil itu sedikit pucat. Oh mengapa kau tak memperhatikan hal sebahaya itu, Ichigo?
Ichigo yang merasa bersalah pun akhirnya buru-buru memberikan es krim yang Yachiru minta. Yang diberi es krim tentu tanpa di komando langsung menyahut pesanannya. Dengan datangnya es krim itu, Yachiru jadi kembali bersemangat walau wajahnya masih sedikit pucat."Kak Rukia..Yachi lihat-lihat pemandangan disana ya..boleh kan?" tiba-tiba Yachiru berseru sambil menunjuk-nunjuk jendela kedai yang tak jauh dari tempat Rukia berada.
"Iya, tapi jangan jauh-jauh." Persetujuan dari Rukia membuat bocah itu melonjak gembira dan menjauh dari seseorang yang sudah lama ia anggap sebagai kakak.
Kini di meja itu tinggal lah Ichigo dan hening dan canggung. Sampai detik itu tak ada salah satu dari mereka yang berani berujar. Jangankan berujar, menyentuh makanan pun mereka belum sempat. Sampai-sampai makanan yang mereka pesan menjadi dingin. Sesekali mereka saling melirik dan tak sengaja bertemu pandang. Tapi dengan cepat mereka berpaling. Entah mengapa, atmosfer diantara mereka dari pertama bertemu sampai sekarang sangatlah kacau. Awalnya mereka saling benci dan tak segan untuk membentak atau mempermalukan satu sama lain. Tapi setelah agak lebih jauh mengerti dan mengalami beberapa kejadian dengan berbagai emosi yang berbeda, mereka malah jadi sulit untuk memposisikan diri mereka. Mereka bingung, apa suasana yang harus mereka ciptakan terhadap lawan komunikasinya. Dan batas apa yang harus mereka bangun diantara mereka. Yah, dari tadi, itulah yang mengisi pikiran mereka berdua. Sampai akhirnya..
"Maafkan aku karena telah membentakmu barusan, Senpai," Rukia yang juga merasa bersalah pun meminta maaf. Dan kali ini ia berani menatap Ichigo.
"Tak apa, memang aku yang salah. Membiarkan bocah itu menahan lapar. Bodohnya aku.." jawab Ichigo dengan dibubuhi sedikit cengiran."Kelihatannya ia belum makan sejak tadi siang. Wajahnya pucat sekali." Sekarang Ichigo terenyum lemah seraya menatap balik Rukia. Meminta untuk dimaafkan.
"Setidaknya dia sudah semangat lagi. Senpai tak perlu khawatir."
"Ahaha.." Ichigo tertawa garing."Sekarang yang ku khawatirkan adalah kau. Kau pasti juga sudah susah payah menahan laparmu kan? Tak usah sungkan, aku pun sudah lelah merasa canggung seperti ini. Aku juga lapar." Ichigo kembali menebarkan -benar. Rukia merasa sangat berbeda dengan senpai yang tadinya mati-matian ingin gadis bernametag Chappy itu. Ia merasa bahwa, senpai nya itu galak sih..tapi dia punya sisi menyenangkan juga kok. Rukia jadi tersenyum sendiri mengingat betapa bencinya ia tadi pada senpai nya itu.
"Eh? Kenapa malah senyum-senyum sendiri begitu? Jangan bilang kau terpesona padaku."
DEG
"E-eh! Ti-tidak! Jangan GR ya, Senpai!" owh, lucu juga melihat Rukia yang pertama masuk SMA adalah gadis yang judesnya minta sembah sujud, tapi sekarang menjadi lembek, soft gimana gimana gitu..XD di tambah, Rukia menonyor pelan bahu Ichigo karena secara reflek tak mau ketahuan rona merahnya. Tapi yang ditonyor seketika berhenti tertawa dan mengelus bahu yang sebenarnya tak sengaja mendapat sentuhan hangat dari kulit Rukia. Mengetahui apa yang telah ia lakukan, Rukia pun diam dan menunduk.
"Uuugh..ternyata sore-sore begini banyak yang jalan-jalan sama ayahnya ya..Yachi jadi sebel kenapa Ayah pake acara ilang segala." Tiba-tiba saja Yachiru kembali mendekat ke meja dimana Ichigo dan Rukia berada."Eh? Kak Rukia sama Kak Ichigo kok bengong? Ah iya..Yachi habisin ya burgernya.."
Tak ada yang membalas perkataan Yachiru. Sepasang pelajar SMA di meja itu hanya diam dan berkutat dengan pikirannya masing-masing. Mereka membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan pikiran dan menetralisir suasana diantara mereka.
:
:
:
"Hoahm..habis makan..Yachi ngantuk.." seusai dari kedai itu, mereka bertiga melanjutkan perjalanannya. Hari sudah semakin gelap. Waktu menunjukkan pukul 17:45 dan mereka sebenarnya sudah hampir sampai di rumah Yachiru.
"Eh? Yachi ngantuk?" ujar Rukia mensejajarkan posisinya dan mengelus kepala Yachiru. Tiba-tiba saja Ichigo mendahului langkah dua gadis yang bersamanya dan berjongkok tepat di depan Yachiru.
"Kalau ngantuk, aku gendong. Tidur saja di punggungku. Dengan begitu nanti kau tak akan tau jika aku lempar ke sungai.." canda Ichigo.
"Kalau begitu Yachi nggak usah digendong aja! Kak Ichigo jahat!"
"Hahaha..kau ini.. aku hanya bercanda kok. Ayo naik."
"Awas ya kalau aku dilempar ke sungai! Aku bilangin Ayah!" walau mengancam begitu, Yachiru tetap saja naik ke punggung Ichigo dan Ichigo kembali berjalan beriringan dengan Rukia. Rukia hanya bisa tersenyum tipis melihat percakapan Ichigo dengan Yachiru."Hoaahmm..mm..Yachi tidur ya.." dan akhirnya bocah pink itu terlelap di punggung Ichigo dengan senyum manis.
:
:
"Senpai suka anak kecil ya?" Rukia tak mau terus bercanggung ria dengan senpai nya itu, maka ia membuka percakapan.
"Mm, entahlah. Soalnya aku juga punya adik perempuan sih. Memangnya kenapa?"
"Hm..Senpai beda sekali dengan saat pertama bertemu. Tak disangka bisa selembut ini."
"Jangan khawatir. Besok ketika di sekolah, aku akan jadi seorang senpai seperti yang tadi pagi kok." Disuruh untuk jangan khawatir, Rukia malah merasa 100 kali khawatir dari yang sebelumnya. Dan lihatlah ekspresi Ichigo ketika mengucapkan kalimat itu. Seolah-olah semua akan baik-baik saja jika ia menjadi sosok OSIS galak seperti tadi."Ngomong-ngomong, bukan Cuma aku saja yang berbeda. Bukankah kau tadi adalah seorang junior jutek yang tidak sopan pada senpai nya? Kenapa sekarang jadi kalem begini?"
"A-aku tidak jutek dan tak sopan pada senpai nya! Hanya saja tadi aku sebal dengan para senpai yang bertingkah ini semaunya pada para junior." Aku Rukia. Ia jadi teringat ketika ia dihukum lari lapangan tadi.
"Oo..jadi kau berpikir aku juga seperti itu? Jika yang kau maksud adalah menghafal nama senpai, itu memang tugas murni kalian. Tapi jika perbuatan seenak jidatku tadi kan juga gara-gara kau juga." Perkataan Ichigo memang benar. Rukia juga sudah menyadari sikap buruknya tadi.
"Maafkan aku, Senpai. Berarti.."
"Berarti apa?"
"Aku kan sudah minta maaf, berarti hukuman yang aku dapat bisa dibatalkan kan?" sungguh, Rukia mengatakannya dengan intonasi semangat. Pancaran matanya terlihat bling-bling mengharapkan permintaanya terkabulkan oleh senpai tampan di hadapannya. Sang senpai pun menghela nafas seraya tersenyum manis.
"Baiklah, asalkan kau jadi pacarku.."
.
.
Ngrik
.
.
"BODOH! SEENAKNYA SAJA MEMBATALKAN HUKUMAN! SALAH SENDIRI BERTINGKAH SEPERTI ITU PADAKU!" lanjut Ichigo. Untungnya Yachiru tidak terbangun. Sifat dasarnya untuk memaki seseorang dari jiwa seorang Ichigo kembali bangkit. Jika sudah menyangkut tentang urusan sekolah dan organisasi yang dianutnya, dimohon buang jauh-jauh wajah manis dan kalem Ichigo dari benak anda.
Rasanya Rukia kini menjadi butiran debu yang tengah sirna tertiup angin akibat kalimat menyakitkan benar-benar tertipu dengan buaian kata-kata 'pacar' yang telah membius pendengaran Rukia hingga badannya serasa melayang bagai layangan.
Nyali Rukia sekarang menjadi ciut. Ia hanya bisa tertunduk takut akan kegalakan senpainya. Yah, memang pada dasarnya Rukia bersifat seperti itu.
"Hm..makannya, jangan main-main denganku. Jika sudah jadi senpai di sekolah, aku ya jadi begini ini."
"Sepertinya aku besok ingin bolos saja.." lirih Rukia.
"Apa kau bilang?!" ups..
:
:
:
"Permisi...Pamaaaan..."
Setelah beberapa percakapan tegang, akhirnya mereka sampai juga di rumah Yachiru.
"Hm? Rukia?" akhirnya pintu pun terbuka juga, memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sangar. Ichigo yang melihatnya tampak cengo. Ia berpikir, apa jangan-jangan rumah Yachiru kemasukan rampok? Tapi kenapa rampok itu kenal dengan adik kelasnya?
"Paman Zaraki, aku mengantarkan Yachiru tadi dia terse-"
"YACHIRU?! Hampir saja tadi aku ikut tersesat gara-gara dia menuntunku ke tempat yang aku tidak tau arahnya! Aku sangat khawatir karena aku nyaris saja tersesat bersamanya!" kata pria yang dipanggil Zaraki itu. Rukia hanya sweatdrop mendengarnya.
"Bukan saatnya berkata seperti itu Paman.." Rukia hanya meringis.
"Ng? Ayah? Ah! Ayah!" Yachiru pun kemudia terbangun. Ia langsung melompat kearah ayahnya."Ayah hilang kemana saja?! Yachi cari nggak ketemu ketemu!"Ayah dengan anak memang tak ada bedanya.
"Paman, kalau begitu saya pulang dulu.." ujar Rukia yang diikuti bungkukan badan Ichigo. Dan tanpa menghiraukan jawaban dari sang pemilik rumah, Rukia langsung melenggang. Takut jika ia nanti masuk kedalam percakapan tak penting antara anak dan ayah yang sudah dipastikan bisa berlangsung sampai berjam-jam.
:
:
:
"Lihatlah, sudah gelap. Aku antar kau pulang." Sebenarnya Ichigo sudah benar-benar terlambat untuk pulang. Tapi karena melihat Rukia yang notabene adalah seorang wanita, dan hari sudah gelap maka ia memutuskan untuk mengantar pulang adik kelasnya itu terlebih dahulu.
"Tidak usah, Senpai. Rumahku hanya berjarak dua rumah dari sini. Tenang saja. Tidak apa-apa kok. Senpai langsung pulang saja."
"Benar?"
Rukia pun mengangguk mantap. Tanpa ada keraguan sedikit pun. Rumahnya memang hanya berjarak dua rumah dari tempat mereka berada sekarang. Dan di sekitar situ penerangan cukup baik. Lagi pula jalan di situ masih ramai.
"Baiklah. Hati-hati.." Ichigo pun beranjak seraya melambaikan tangannya pada Rukia. Diikuti Rukia yang juga mulai berjalan pulang setelah tersenyum pada senpai nya.
:
:
Rukia merasa lelah. Seharusnya pukul 15:00 tadi dia sudah sampai di rumah dan berbaring di kasur empuknya. Tapi pukul 18:00 ini dia baru bisa menginjakkan kaki nya di tempat bernaungnya. Rukia cepat-cepat membuka pagar rumah dengan taman kecil yang indah di depannya. Kemudian memasuki tempat nyaman yang ia sebut rumah.
"Jadi di situ rumahnya ya..."
TO BE CONTINUED
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...nggak sanggup, nggak kuat. Aduuuh! Karakter yang saya buat jadi acak-acakan! Maunya sih Ichi ama Ruki sama-sama menganut sinisme dan terjadi perang diantara mereka. Tapi kok yang awalnya sinis malah jadi lembek gini? Akh..
Minta pendapat dengan review nya ya...muah muah muah #plakplakplak
review?
