KONNICHIWA MINNA!
Maaf Ricchan sempat hiatus beberapa bulan. Ricchan sekarang kelas 3 SMA, jadi mungkin akan jarang update.
Berhubung Ricchan diliburkan seminggu karena kabut asap (doakan Ricchan ya! " Ricchan jadi bisa update. Ada dua fic yang masih continue, Ricchan udah update keduanya. Juga Ricchan update 2 chap sekaligus sebagai permintaan maaf Ricchan.
#masih ada yang nungguin ga ya?
Ngingetin aja, ceritanya semua kisedai + kuroko punya marga yang sama, yaitu Kiseki, dan nama yang diapakai adalah nama kecil semua tokoh. (Kiseki Seijuuro, Kiseki Ryouta, dst). Selebihnya akan semakin jelas seiring bertambahnya alur cerita :D
'KISEKI'
Kuroko no basuke bukan milik Ricchan,
kalau Ricchan yang buat ntar ujung-ujungnya jadi
cerita fangirl gaje XD
tapi fic 'Kiseki' murni milik Ricchan
dan hanya dibuat demi kesenangan semata
[genre : romance, school life, harem]
[pair : kisedai + kuroko X OC/reader]
[Setting : SMA Seirin]
Pintu yang terbuka membawa perasaan aneh tersendiri. Aku tersadar akan tugasku-bebanku. Pandangan mata setengah tak percaya dan setengah merendahkan tertuju ke arahku. Aku mendengus, melangkah masuk dengan langkah paling angkuh yang kubisa. Yuuhi-sekretaris kakek dulu mengiringi, sambil sesekali memandang tajam pada orang-orang yang memandangku.
Aku hanya gadis labil yang hanya anak SMP. Aku sadar mengapa mereka tak percaya bahwa aku bisa memimpin perusahan. Bahkan ini bukan keinginanku! Aku tak mungkin menginginkan kematian kakekku sendiri bukan?
"Nona, saya sudah memberi tahu pihak sekolah bahwa anda akan izin seminggu ini. anda harus mengetahui seluk beluk perusahaan ini sebelum anda memimpin. Saya akan memandu anda sebaik mungkin Nona," Yuuhi memasuki ruang kerja yang dulunya milik kakek. Aku mengekor masuk. Aku sudah sering kesini. Namun ini pertama kalinya aku masuk dengan namaku yang tertulis di atas meja.
Meja kerja itu rapi, namun penuh dengan berkas-berkas bertumpuk. Sejak seminggu lalu, mungkin lebih. Sebagai pewaris aku sudah dididik sejak dulu untuk mengurus perusahaan. Aku tak lagi merasa asing, namun aku tak mengungkiri rasa canggung.
"Siapkan rapat umum Yuuhi. Semua orang harus memberi salam pada pemimpin baru mereka." Yuuhi mengangguk, pamit.
Aku mencoba duduk di kursi kakek. Ruangan ini cukup besar, ada sofa, mini pantry, bahkan lemari penuh buku dan kamar mandi pribadi. Namun entah kenapa terlihat sepi.
'Apa ini yang selalu kakek lihat tiap hari?'
Pintu diketuk, Yuuhi masuk dengan menenteng sebuah map. Rapat umum akan diadakan setelah makan siang. Yuuhi membacakan jadwal penting sampai seminggu kedepan. Dia juga mengatakan bahwa dia akan mengirim pesan.
Kami mulai berkeliling perusahaan. Setiap divisi, bahkan sampai office boy sekalipun ku datangi. Ini hari pertamaku. Mereka harus tahu bahwa mereka telah memiliki pemimpin baru. Mereka harus percaya padaku.
Makan siang kuhabiskan di cafe. Aku tak niat makan di kantin perusahaan. Pandangan mata orang-orang itu membuatku risih.
Ponselku bergetar. Aku memang sengaja memasang mode silent. Aku harus fokus pada setiap berkas yang kutangani.
"[Name]cchii!"
Suara melengking Ryouta menyapa pendengaranku. Sengaja aku jauhkan hpku dari telinga. Suara Ryouta bisa saja merusak pendengaranku.
"DIMANA KAU SEKARANG? JANGAN LUPA JANJI KITA NANTI SORE!" teriaknya, aku belum sempat membalas, namun sambungan telah terputus.
Aku tak menelfon balik. Hanya mengirim pesan, memberitahu bahwa aku tak bisa hadir nanti sore. Semenit kemudian pesan masuk berturut-turut.
"[Name], kau harus datang. Perintahku itu mutlak"
"[Name], aku bukannya ingin kau datang, tapi menepati janji itu penting –nodayo"
"[Name]-cchi kami tunggu sampai kau datang –ssu!"
"[Name]-chan, jangan bekerja terlalu keras."
"Oi boncel, kau sudah janji! Awas kau kalau tak datang"
"[Name]-chin. Aku akan menghancurkanmu kalau kau tak datang"
Aku menghela nafas. Menyimpan hp tanpa membalas pesan mereka.
"Nona, sudah waktunya rapat" Yuuhi mengubungiku. Segera aku kembali ke kantor.
Rapat umum itu dihadiri oleh seluruh pemimpin cabang perusahaan. Rata-rata mereka adalah pamanku, atau suami dari bibiku. Ayah Seijuuro, Ryouta, Daiki, Midorima, Atsushi dan Kuroko juga ada disana. Meski hampir bisa dibilang pertemuan keluarga, namun semua orang jelas paham posisi mereka.
"Selamat bergabung di perusahaan Nona" ujar Seijuushi, ayah Seijuuro menunduk hormat. Beberapa orang ikut menunduk.
"Senang bergabung" balasku.
Rapat tak berlangsung menegangkan. Tak ada yang keberatan dengan posisiku, setidaknya sampai sekarang. Pekerjaan datang silih berganti. Aku tak sadar bahwa langit telah berubah warna. Memang sejak tadi mataku sudah mulai sakit berhadapan dengan laptop.
Yuuhi meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul. Aku menutup laptop, menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi.
"Terimakasih Yuuhi"
"Aku tak tahu kopi seperti apa yang Nona sukai, jadi aku membuat seperti kopi Tuan Besar"
Aku tertawa ringan. "Seleraku hampir sama dengan kakek, jadi tak apa"
"Anda bekerja keras sejak tadi. Apa anda tak akan membuka pesan di hp anda Nona?"
Aku tersentak. Memang hp yang kuletakkan begitu saja di meja sesekali mengedip, tanda ada pesan masuk. 33 misscall, 78 pesan.
'Kenapa mereka masih menungguku?' batinku frustasi. Bergegas mematikan laptop dan mengemasi barang-barangku. Yuuhi tampak bingung. Aku bahkan belum meminum kopi buatannya. Kini aku berbenah lekas, padahal sebelumnya aku masih berencana melanjutkan pekerjaan yang terbengkalai sejak kakek meninggal.
"Aku ada urusan. Tolong urus selebihnya" pintaku. Yuuhi mengangguk.
Aku mengendari mobil dengan kecepatan tinggi. Sesekali menyempatkan diri melirik jam tangan. Sudah pukul 10 malam. Kenapa mereka menantiku? Bukankah aku sudah bilang aku tak akan datang!
Dari basement menuju atap gedung memakan waktu lima menit. Dari basement hanya ada lift sampai tingkat 33. Untuk ke atap aku harus menaiki jenjang sekali lagi. Aku berlari, lupa dengan heels tujuh senti di kakiku. Nafasku tersengal. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Seijuuro membaca buku di sudut atap. Tetsuya dan Shintaro entah membicarakan apa. Ryouta bermain game di hpnya, Atsushi sibuk mengungyah Meibo dan Daiki memainkan basket di tangannya. Tidak ada yang sadar dengan kehadiranku.
"BODOH!" teriakku. Air mataku sudah mengalir sejak tadi. Kakiku lemas, aku terduduk.
"Bodoh! Kenapa kalian menungguku! Padahal aku sudah bilang tak bisa datang! Kalian menungguku hampir 4 jam!" ucapku tersengal. Mereka berhanjak mendekat.
"Sampai kapan pun, kalau itu kamu, kami pasti akan menunggu"
Aku tak tahu itu ucapan siapa. Semuanya tersenyum dan mengelus suraiku. Tapi ucapan itu ampuh menghentikan air mataku.
.
.
.
"Disini nyaman-ssu!" komentar Ryouta memeluk Kon-chan, boneka panda kesayanganku. Aku mencoba merebut, namun Daiki malah menertawakanku.
"Hahaha! Boneka itu bahkan lebih tinggi darimu BONCEL!" tawa Daiki diikuti tawa keras Ryouta dan Atsushi. Kuroko jelas mencoba menahan tawa.
Aku memilih diam, membenamkan wajah pada Kon-chan. Mereka masih tertawa. Lama mereka baru diam dan mendekatiku.
"Sejak kapan kau sensitif Boncel? Balas aku! Tak seru kalau kau malah merajuk dan memeluk boneka jelek itu. Setidaknya kalau kau ingin memeluk sesuatu, ada 5 laki-laki tampan disini yang bisa kau peluk loh!"
"Lima? Kita kan berenam-ssu?"
"Iya, lima yang tampan dan satu yang cerewet"
"Hua! Kalian membullyku-ssu! [Name]cchi, katakan kalau aku juga tampan"
"Kalian berisik, bukannya aku peduli, tapi aku sedang membaca-nodayo"
Seijuuro menghampiri, duduk di samping kiriku dan berbisik. "Kota ini kecil, namun aku lebih senang melihatmu disini daripada kau yang baru bisa pulang jam sepuluh malam"
Aku bingung. Aku ingin marah, berteriak. Namun aku juga ingin tertawa. Disaat bersamaan aku ingin menangis. Pada akhirnya aku melakukan semuanya- berteriak sambil tertawa, dengan air mata di pipiku.
Perasaan apa ini?
.
.
.
Eits.. review dulu sebelum next
