UNFORGIVEN HERO (REMAKE)

Chapter 3

Cast:

Zhang Yixing as Elena

Kim Junmyeon as Rafael Alexander

Kang Seulgi as Victoria

Kim Minseok as Donita

Jung Seoyun as ibu Rahma

Genderswitch. OCC

Sorry for the typo. Story milik Santhy Agatha. EXO milik SM kecuali Zhang Yixing #dihajar

WARNING: Rate M, GS, Remake

Yixing tak pernah tahu, ada sosok dibalik kenyamanannya itu. Kim Junmyeon, pria yang sudah membunuh ayahnya. Dia berusaha membayar kesalahannya dengan menjadi guardian angel bagi Yixing. Masalahnya adalah, Junmyeon jatuh cinta pada Yixing. Dia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga dia berusaha membuat sebuah jalan agar Yixing berjalan ke arahnya

.

.

.

SULAY

Cerita remake dari novel Santhy Agatha

.

.

=CHAPTER 3=

"Selamat pagi."Suara itu menyapa ramah dan Yixing menoleh, menatap seorang laki-laki yang lumayan tampan sedang berdiri di sebelah mejanya. Lelaki itu tersenyum ramah.

"Selamat pagi juga," Yixing tersenyum juga, berusaha mengingat-ingat, sepagian ini Minseok telah membawanya ke berbagai ruangan di perusahaan ini, memperkenalkannya sebagai anak baru, tetapi sepertinya dia tidak ingat pernah diperkenalkan dengan lelaki ini.

Lelaki di depannya, meskipun berpakaian rapi dan berdasi tampak urakan dan santai, senyumnya juga seperti anak nakal di dalam tubuh dewasa.

Lelaki itu mengangkat alis, tampak sadar dengan pengamatan Yixing, lalu tertawa dan mengulurkan tangannya.

"Hai, kenalkan, tadi aku sedang keluar kantor jadi tidak sempat berkenalan, aku Leo, IT Manager di sini, aku tadi mendengar ada anak baru yang cantik jadi buru-buru ke sini untuk mengajak berkenalan," katanya dalam canda.

Pipi Yixing memerah mendengar candaan lelaki itu, tetapi dia menyambut uluran tangan Leo dengan senyum juga.

"Aku Yixing."

Leo meremas tangan Yixing sambil tersenyum lucu sebelum melepaskannya, lalu mengedipkan sebelah matanya.

"Aku tahu tempat makan siang yang enak, mungkin kita bisa…"

"Leo"

Suara dalam yang dingin itu menyela percakapan mereka. Leo langsung menoleh ke arah suara dan tersenyum.

"Oh Mr. Suho, selamat pagi."

Junmyeon sedang berdiri di pintu ruangannya, ekspresinya datar dan tidak terbaca.

"Kebetulan kau ada di sini, tolong ke ruanganku sebentar, ada beberapa hal tentang usulan program baru untuk data intregrated kemarin yang harus kutanyakan kepadamu."

Leo memutar bola matanya lucu ketika menatap Yixing, lalu menganggukkan kepalanya dan mengikuti Junmyeon masuk ke ruangannya.

Sementara itu Yixing tersenyum geli sambil menatap punggung Leo. Meskipun tampak urakan dan tidak serius, lelaki itu tampaknya lelaki yang baik dan menyenangkan.

.

.

Yixing merapikan berkas-berkasnya sambil melirik jam dinding, sudah jam delapan malam. Besok hari yang sibuk untuk Mr. Suho dan syukurlah akhirnya Yixing sudah selesai menyiapkan semuanya, meskipun akhirnya dia harus ketinggalan bis karyawan.

Suara di pintu membuat Yixing mendongakkan wajahnya dengan waspada. Mr. Suho berdiri di sana, sepertinya baru pulang dari pertemuan bisnisnya di luar.

Lelaki itu mengerutkan mata melihatnya, "Kenapa kau masih ada di sini?"

Mata itu sungguh tajam, Yixing membatin, "Eh, saya menyelesaikan berkas-berkas ini dulu, untuk besok."

Junmyeon menatap tidak suka, "Lain kali tinggalkan saja pekerjaan itu dan lanjutkan besok," dia melirik jam tangannya, "Ini sudah terlalu malam untuk bekerja, seharusnya kau sudah di rumah dan beristirahat. Aku akan menyuruh supir mengantarmu pulang."

Yixing menggelengkan kepalanya panik, "Tidak perlu, saya bisa naik bus"

"Ikuti perintah atasanmu," Junmyeon menatap tajam membuat Yixing menelan ludahnya, "Sebelum itu, aku ingin bicara di ruanganku. Kau tidak keberatan membuatkan kopi untuk kita berdua?"

Kopi itu mengepul panas dan menguarkan aroma nikmat ke seluruh penjuru meletakkan di meja di depan sofa tempat Mr. Suho duduk dan menunggunya, lalu dengan gugup dia duduk di depan Junmyeon, menunggu.

Lelaki itu tercenung, seolah bingung mau bicara apa. Tetapi itu tidak mungkin bukan? Orang sekelas Mr. Suho tidak mungkin bingung harus bicara apa.

"Kau sudah tiga bulan di sini," Junmyeon memulai, "Bagaimana perasaanmu?"

Yixing tersenyum, "Saya senang. Banyak hal yang bisa saya pelajari."

"Apakah rekan-rekan kerja menciptakan suasana yang kondusif untukmu?"

Yixing mengangguk, "Mereka sangat baik dan membantu."

Kali ini kening Junmyeon berkerut, "Kudengar kau dekat dengan IT Managerku?"

Pipi Yixing memerah. Astaga. Darimana Mr. Suho bisa mendapat informasi macam itu? Dan kenapa pula bos sekaliber Mr. Suho harus peduli dengan gosip percintaan karyawannya?

Leo. Nama itu menguar di benak Yixing. Ya. Mereka dekat. Itu karena Leo sangat gigih mendekatinya. Dia mengajak makan siang bersama, kadangkala dia menghampiri Yixing dan mengajak mengobrol tentang berbagai hal. Ya. Yixing nyaman bersama Leo, cukup nyaman sampai membiarkan Leo mengantarnya pulang ke asrama beberapa hari lalu. Lelaki itu berkenalan juga dengan ibu asrama. Tetapi, entah kenapa ibu asrama tampak tidak suka dengannya, padahal Leo begitu baik...

"Yixing?" Junmyeon bertanya lagi, mengembalikan Yixing ke dunia nyata.

Yixing mengerjapkan matanya, menatap dan sadar bahwa dia belum menjawab pertanyaan lelaki itu.

"Ya.. Kami cukup dekat, hubungan kami cukup baik."

"Begitu," Mr. Suho tercenung. "Aku cenderung tidak menyetujui hubungan dekat dengan rekan sekerja. Karena berdasarkan pengalaman, ketika hubungan itu memburuk, performa di tempat kerja ikut memburuk."

Yixing menghela napas, "Hubungan kami belum sejauh itu untuk..."

"Ya. Aku mengerti. Kalian dekat, tetapi belum menyentuh konteks asmara. Tetapi tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi bukan?"

Junmyeon menatap Yixing tajam, seolah menembus hatinya.

Yixing menganggukkan kepalanya, "Saya tidak bisa membantah kemungkinan itu, meskipun saya tidak bisa memastikan. Tetapi kalaupun itu terjadi, saya berjanji akan berusaha untuk tidak mencampurkannya dengan profesionalisme pekerjaan saya."

Junmyeon terdiam dan Yixing menanti. Hening lagi, kali ini lama, dan entah mengapa terasa menegangkan bagi Yixing, lalu Junmyeon tersenyum samar.

"Oke. Kita lihat saja nanti," tatapan mata lelaki itu begitu misterius, "Pulanglah. Aku sudah menyuruh supirku menunggumu di depan. Dia akan mengantarmu pulang."

Ketika Yixing pergi, Junmyeon masih tercenung di ruangan kerjanya. Leo dan Yixing hampir menjadi sepasang kekasih, itu yang dilaporkan oleh Nyonya Jung kepadanya. Junmyeon memang memintanya mengawasi Yixing di tempat kerjanya. Seminggu yang lalu Nyonya Jung juga meneleponnya dari asrama, memberitahunya bahwa Yixing membiarkan Leo mengantarkannya pulang ke asrama. Dan beberapa hari kemudian Leo mulai rutin datang, bahkan di hari minggu.

Junmyeon tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya. Tidak pernah menyangka bahwa mungkin Yixing akan bertemu lelaki yang dia sukai di tempat kerjanya. Seharusnya dia tahu, Junmyeon mendesah, Yixing terlalu cantik. Seharusnya dia memperkirakan bahwa akan ada beberapa orang yang tertarik untuk mendekatinya.

Dan itu mengganggu Junmyeon, dia harus menghentikan ini semua sebelum terlalu jauh.

Mata Junmyeon terpaku pada cangkir kopi Yixing. Ada sisa lipstick di sana. Lipstick Yixing, bekas bibir Yixing. Lalu, karena didorong oleh luapan gairah dan perasaannya, Junmyeon mengambil cangkir itu, lalu mengecup lembut bekas bibir Yixing di sana.

"Kau akan menjadi milikku Yixing, seperti yang seharusnya terjadi, karena hanya aku-lah yang berhak menjagamu," gumamnya penuh tekad

.

.

Seperti seorang pengintai yang mengawasi dari jauh, Junmyeon membatin, setengah benci kepada dirinya sendiri yang berlaku seperti pengintai, mengawasi Yixing dan Leo. Mereka berdua sedang berkencan, tentu saja. Dan Junmyeon di sini, mengawasi mereka. Jalanan ini memang dikondisikan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati berjalan-jalan sambil berbelanja. Café-café yang cozy bertebaran dengan nuansa ala barat, berpayung eksotis di pinggir-pinggir jalan, menawarkan suasana makan yang berbeda. Ada juga penjual bunga di sana, dan beberapa penjual cinderamata lainnya.

Junmyeon terus mengawasi ketika Leo mengajak Yixing berhenti di depan penjual bunga, lalu memberikannya setangkai mawar putih. Perbuatan sederhana yang membuat pipi gadis itu merona merah. Dada Junmyeon terasa panas. Kurang ajar Leo. Lelaki itu merusak semua rencananya dengan mendekati Yixing. Junmyeon semakin mantap untuk menyingkirkan lelaki itu, dengan langkah yang cukup elegan tentu saja.

Suara tawa pelan membuat Junmyeon mengalihkan perhatian dari pasangan yang berbahagia itu. Junmyeon menoleh ke arah Hyuna yang duduk di dalam mobil disebelahnya.

"Kenapa kau tertawa?"

Bibir Hyuna yang berwarna merah mencebik, "Karena tatapanmu itu, kau seolah-olah ingin membunuh laki-laki itu."

"Memang."

Hyuna mengkerutkan alisnya, "Jadi dia yang harus kuincar? Dia tampak jatuh cinta kepada gadismu itu, kau yakin dia bisa tergoda olehku?"

"Semua laki-laki normal akan tergoda olehmu kalau kau memutuskan merayu, Hyuna. Karena itu aku meminta tolong kepadamu," gumam Junmyeon tenang.

Hyuna tertawa lagi, "Kau tidak tergoda olehku, apakah ada sebab khusus atau memang kau bukan lelaki normal?"

"Ada sebab khusus," Junmyeon langsung menutup diri, "Kau sudah setuju untuk membantuku dan tidak bertanya-tanya."

"Oke, aku tidak akan mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaanku," Hyuna tersenyum menggoda, "Apakah sebab khususmu itu itu adalah gadis itu?"

"Hyuna," nada suara Junmyeon penuh peringatan. Membuat Hyuna mengangkat bahunya dan menyerah, tidak bertanya lagi. Lelaki ini memang tidak bisa diajak bercanda, batinnya dalam hati.

"Jadi kapan aku harus melaksanakan rencanamu itu?"

"Akhir pekan ini, aku akan mengadakan pesta akhir tahun, mengundang beberapa kenalan dan karyawanku di rumahku. Kau dekati Leo saat itu."

"Oke, Junmyeon. As You Wish."

.

.

"Pesta tahunan yang diadakan oleh Mr. Suho selalu meriah," Minseok tersenyum sambil duduk di depan meja Yixing. Dia sudah tampak kepayahan membawa perutnya yang semakin membesar, cuti hamilnya tinggal beberapa hari lagi, tetapi dia tampak bersemangat,

"Makanannya benar-benar kelas tinggi, Mr. Suho benar-benar tidak pelit kepada kami, para karyawannya. Kau tidak boleh melewatkannya."

Yixing tertawa dan memainkan pena di tangannya,

"Apakah semua karyawan diundang?"

"Tentu saja. Dan sebagian besar tidak akan melewatkannya. Pesta akhir tahun di rumah Mr. Suho merupakan salah satu hal yang ditunggu-tunggu, kau akan datang kan Yixing?"

Leo sudah mengajaknya untuk datang bersama. Yixing membatin dalam hati, tiba-tiba merasa hatinya hangat.

Dia belum lama kenal dengan Leo, tetapi entah kenapa semua terasa pas. Mereka bisa mengobrol berjam-jam tanpa merasa bosan. Bahkan Yixing sadar bahwa hubungan mereka bisa berjalan lebih jauh.

"Pipimu memerah," Minseok tertawa, "Kau akan datang dengan Leo ya?"

Pipi Yixing makin memerah, dia menatap Minseok hati-hati, "Apakah sejelas itu?", tanyanya berbisik.

"Apanya?"

"Tentang hubungan kami," Yixing mendekatkan bibirnya ke telinga Minseok dan berbisik pelan, "Bahkan Mr. Suho sempat menanyakannya kepadaku."

Minseok mengernyitkan keningnya, " menanyakan kepadamu? Wah itu tidak pernah terjadi sebelumnya, setahuku beliau tidak pernah mempedulikan gosip percintaan karyawannya, kalau sampai Mr. Suho bertanya, mungkin gosipnya sudah meledak sedemikian rupa," Minseok terkekeh, "Tapi tidak ada ruginya, kalian pasangan yang cocok, dan Leo akhirnya berlabuh juga."

Yixing gantian mengernyitkan keningnya, "Akhirnya berlabuh juga? Apa maksudmu?"

"Ups," Minseok seolah merasa bersalah telah kelepasan bicara,

"Aku tidak bermaksud membuka keburukan Leo. Tetapi sepertinya sejak bertemu denganmu dia sudah berubah. Dulu Leo terkenal playboy, suka gonta ganti pacar dengan status yang tidak jelas. Tapi manusia kan bisa berubah dan kuharap kehadiranmu bisa merubah Leo menjadi lebih baik."

Yixing merenung. Benarkah Leo dulunya playboy? Tetapi lelaki itu sangat sopan, sangat menghormatinya, sangat baik. Mungkin benar kata Minseok, Leo sudah berubah lebih baik. Yixing sangat berharap begitu.

.

.

Malam pesta itu, Leo menjemputnya meskipun agak terlambat. Lelaki itu tampak rapi dan elegan dengan kemeja dan jas santai warna biru tuanya, "Maafkan aku terlambat," Leo menatap Yixing menyesal setelah dia menjalankan mobilnya, "Tadi ban mobilku kempes di jalan."

Yixing menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Leo."

Leo menatap Yixing lama dengan pandangan penuh arti, membuat Yixing bingung. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Tidak kenapa-kenapa," lelaki itu mengalihkan pandangannya dengan senyum dikulum, "Hanya saja kau sangat berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang pernah dekat denganku. Mereka pasti akan merajuk dan marah-marah jika aku telat menjemput, meski dengan alasan apapun. Tetapi kau berbeda, kau menerima alasanku dengan penuh pengertian."

Yixing hanya tersenyum menanggapi pernyataan Leo, tetapi kemudian Leo menggenggam sebelah tangannya dengan lembut. "Perasaanku kepadamu juga berbeda Yixing. Kuharap kau merasakan hal yang sama."

Apakah itu pernyataan cinta? Yixing bertanya-tanya dalam hati, menatap Leo mencari jawaban.

"Maukah kau menjadi kekasihku Yixing? Aku mencintaimu, dan aku berjanji akan menjadi kekasih yang baik."

Yixing menatap Leo dalam senyum lalu terkekeh,

"Jawabannya nanti saja yah setelah pesta."

Leo membalas senyum Yixing, lalu terkekeh geli, "Dasar, kau sengaja ya, mau menyiksaku sepanjang pesta, harap-harap cemas akan jawabanmu?"

Mereka lalu tertawa bersama.

.

.

Benar kata Minseok kemarin, Mr. Suho benar-benar tidak pelit kepada para karyawannya. Pesta yang diadakannya di rumahnya sangat elegan dengan menu makanan yang mewah dan luar biasa. Para pelayan berdiri hilir mudik menawarkan makanan kecil dan minuman di nampan. Sementara di meja prasmanan, makanan tampak tidak ada habis-habisnya.

"Ramai sekali di sini," Leo menggenggam lengan Yixing dengan lembut, "Mungkin kita harus minggir supaya tidak tertabrak."

Mereka terlambat datang ke pesta itu. Karena Leo terlambat menjemputnya tadi, jadi mereka ketinggalan acara pembuka, sambutan oleh Mr. Suho sebelum acara makan-makan dimulai. Sekarang semua tamu sudah membaur saling bercakap-cakap satu sama lain, menikmati hidangan. Pesta ini diadakan di kebun di halaman belakang rumah Mr. Suho yang sangat indah. Rumah itu bergaya western dengan cat putih mendominasi keseluruhan bangunannya. Dan warna lain yang dominan adalah hijau. Warna itu memenuhi hamparan rumput luas yang tertata rapi, dengan lampu-lampu kuning yang temaram, menambah keeksotisan suasana pesta. Sementara itu, meja prasmanan dihidangkan di gazebo luas, di tepi kolam renang.

Pemilik pesta itu, Mr. Suho tampaknya tidak ada. Yixing membatin, matanya sudah mencari kemana-mana, tetapi dia tidak bisa menemukan sosok itu.

"Aku akan mengambilkanmu minum," Leo bergumam lembut, "Tunggu di sini ya."

Yixing menganggukkan kepalanya dan tersenyum, lalu membiarkan Leo menembus kerumunan orang yang lalu lalang, mencari minuman. Dia berusaha mencari-cari orang yang dikenalnya, tetapi tidak menemukannya, Minseok bilang dia tidak mungkin datang dengan kandungannya yang sudah sebesar itu, meskipun sebenarnya dia sangat ingin.

Yixing berdiri di tempat itu beberapa saat, melayani beberapa teman yang menyapanya. Tetapi lama kemudian dia mengernyit karena Leo tak kunjung datang.

"Kau datang sendirian di sini?" suara itu sangat familiar, membuat Yixing menoleh dengan tegang. Dan benar juga. Mr. Suho yang berdiri di sana, dengan segelas minuman di tangannya, menatapnya dengan pandangan yang tidak terbaca.

"Eh tidak," Yixing menoleh ke belakang, mencari sosok Leo yang tak kunjung datang, "Saya datang bersama Leo."

"Lalu di mana dia?" Mr. Suho mengernyitkan keningnya, tampak tidak suka.

"Dia…. Katanya dia sedang mengambilkan minuman."

"Oh," Junmyeon menatap ke arah pandangan Yixing

"Dia bodoh membiarkan pasangannya sendirian di sini, bisa-bisa pasangannya dicuri orang,"

Matanya yang tajam melembut dan Yixing bisa melihatnya, ternyata Mr. Suho menyimpan kelembutan di dalam dirinya, dibalik sikap dingin yang selalu ditampilkannya.

"Kau mau kutemani masuk dan mencari kekasihmu? Mungkin dia tersesat di dalam sana," Junmyeon mengedikkan bahunya ke arah bagian dalam rumah.

"Eh, tidak… mungkin saya akan menunggu di sini."

"Kita akan mencarinya, lagipula aku butuh Leo, ada beberapa hal tentang pekerjaan yang ingin kubicarakan dengannya," dengan lembut Junmyeon menghela Yixing supaya melangkah bersamanya, memasuki pintu kaca besar yang menjadi pembatas antara taman kolam renang dengan bagian dalam rumah.

Beberapa orang tampak duduk di bagian dalam rumah, asyik bercakap-cakap di semua sudut. Yixing memandang ke sekeliling, juga ke bar yang menyediakan minuman, tetapi Leo tidak ada di sana.

"Mungkin dia ada di atas," Junmyeon mengedikkan bahunya ke arah tangga menuju lantai dua yang tampak temaram.

"Apakah lantai atas juga dibuka untuk pesta?" Yixing menatap Mr. Suho dengan ingin tahu.

Lelaki itu tersenyum miring menanggapi. "Tidak. Tapi di sana ada kamar mandi. Mungkin Leo memutuskan memakai kamar mandi di lantai atas. Ayo," Sekali lagi Junmyeon menghela Yixing mengajaknya menaiki tangga.

Sepertinya tidak ada tamu yang naik ke lantai dua, mungkin sudah menjadi peraturan umum bahwa lantai dua adalah area pribadi pemilik rumah dan bukan area pesta. Mr. Suho mungkin salah, Yixing melirik ragu kepada laki-laki yang sedang berjalan di sebelahnya, Leo tidak mungkin berani naik ke lantai dua rumah Mr. Suho tanpa izin.

"Kamar mandi di lantai dua ada di ujung lorong," Junmyeon menunjuk, "Biasanya ada beberapa tamu yang ingin tahu yang tersesat di sini,"

Mereka terus berjalan menuju ke area kamar mandi di ujung lorong sampai sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Suara itu sudah pasti adalah desahan seorang perempuan, sebuah desahan yang menyiratkan arti yang tak terbantahkan. Pipi Yixing memerah, itu suara perempuan yang sedang bercinta. Meskipun tidak berpengalaman setidaknya Yixing bisa membedakan suara desahan seperti itu.

Diliriknya Mr. Suho yang berdiri di sebelahnya, apa yang akan dilakukan Mr. Suho mengetahui ada orang yang bercinta di salah satu kamar di rumahnya? Apakah yang sedang bercinta itu tamu rumah ini?

Junmyeon hanya melirik ke arah Yixing dan mengangkat bahu sambil tersenyum miris.

"Rupanya ada yang sedikit lupa diri di pestaku ini. Tunggu sebentar, aku akan mengingatkan mereka agar mencari kamar di motel terdekat dan tidak mencemari salah satu kamar tamuku."

Masih sambil tersenyum, Junmyeon membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Yixing menatap dan langsung mundur selangkah dengan kaget. Pemandangan di depannya membuat jantungnya serasa mau lepas.

Yang ada di depan mata Yixing sungguh tak terduga. Sama sekali tidak terduga. Tangannya gemetar, menutup mulutnya yang mengeluarkan suara terkesiap karena kaget.

Di depannya, tampak Leo setengah duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang. Rambut Leo acak-acakan, jasnya sudah terlepas entah dimana, kemejanya terbuka kancingnya, menampakkan kulit dadanya yang kecoklatan.

Dan seorang perempuan cantik sedang duduk mengangkangi pinggangnya, perempuan itu setengah telanjang, dengan gaun yang sudah melorot sampai ke pinggang. Dua insan itu sedang berciuman dengan begitu panas, pinggul si wanita menggesek- gesek selangkangan Leo dengan begitu bergairah. Mereka tampak lupa diri.

Junmyeon melirik sekilas ke arah Yixing yang pucat pasi, lalu dia bergumam sedikit keras.

"Aku rasa kalian harus mencari hotel, dan meninggalkan rumahku."

Suara Junmyeon tenang, namun tak terduga bagi pasangan yang sebelumnya terlalu larut dalam nafsu. Leo yang tersadar pertama kali. Dia menoleh ke arah Junmyeon, lalu berseru kaget ketika melihat Yixing. Dan dengan gerakan reflek langsung mendorong perempuan yang mengangkanginya itu menjauh dari tubuhnya.

Ekspresi keduanya tampak berseberangan. Leo tampak pucat pasi dan penuh rasa bersalah, sedangkan perempuan itu, meskipun tadi terdorong oleh Leo sampai hampir jatuh, tampak begitu tenang, berdiri dengan elegan sambil merapikan gaunnya, lalu tersenyum manis.

"Well, tak kusangka kita tertangkap basah di sini sayang," bisiknya sambil melirik mesra kepada Leo.

"Mungkin benar kata sang tuan rumah, kita harus pindah ke hotel."

"Diam Hyuna!"Leo menyusul berdiri sambil berusaha merapikan pakaiannya, dia lalu menatap Yixing dengan cemas, "Yixing, aku bisa menjelaskan, semua ini hanyalah salah paham."

Salah paham? Yixing mengigit bibirnya untuk menahan perasaan. Bagaimana mungkin ini salah paham, di depan matanya sendiri dia melihat Leo sedang bercumbu dengan begitu panasnya. Padahal beberapa jam sebelumnya lelaki ini menyatakan cinta dan memintanya sebagai kekasihnya. Bagaimana mungkin ini bisa dikatakan salah paham? Pemandangan di depannya jelas-jelas merupakan bukti bahwa Leo ternyata masih lelaki yang sama, pemain perempuan seperti yang dikatakan oleh Minseok. Mungkin dia memang sedang mengincar Yixing sebagai korbannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang pemain perempuan selain mendapatkan seorang gadis yang masih lugu dan mudah ditipu.

Dan bodohnya.. Yixing mempercayai Leo, dia bahkan memiliki perasaan indah yang ditumbuhkannya dengan begitu bodoh kepada lelaki itu. Hatinya terasa sakit, sakit dan sesak yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Dikepalkannya kedua tangannya, dia bahkan tak mampu menatap Leo, dipalingkannya kepalanya dengan mata yang terasa panas membasah.

"Yixing…" Leo mengerang melihat mata Yixing yang mulai berkaca-kaca, "Sungguh aku tidak melakukannya dengan sengaja, aku terlalu banyak minum dan Hyuna menggodaku dan aku…."

"Aku menggodamu?" Hyuna melipat lengannya dengan senyum simpul, "Kau yang menyeretku ke kamar terdekat karena tidak bisa menahan gairah."

"Diam Hyuna!" sekali lagi Leo membentak perempuan bernama Hyuna itu. Dia lalu berusaha mendekat ke arah Yixing, "Yixing, aku…."

"Menjauhlah dari Yixing," Junmyeon melangkah ke depan Yixing, menghalangi Leo, "Aku harap kalian segera meninggalkan tempat ini."

Leo terpaku, menatap ke arah Yixing, menyadari bahwa perempuan itu bahkan tidak mau menatap ke arahnya. Dia menghembuskan nafas dan menatap Yixing penuh harap, "Aku harap kita bisa berbicara nanti," lelaki itu menyerah dan melangkah pergi meninggalkan kamar.

"Well aku rasa aku harus pergi juga," Perempuan bernama Hyuna tampak ceria, sama sekali tidak terpengaruh dan merasa malu karena terpergok bercumbu dengan seseorang di kamar orang lain pula. Hyuna merapikan gaun dan rambutnya dengan genit, lalu melangkah melewati Junmyeon dan Yixing. Dalam kilatan satu detik, yang tentu saja tidak dilihat oleh Yixing, Hyuna mengedipkan matanya kepada Junymeon.

.

.

"Kau mau minum?"

Pesta sudah usai. Para tamu sudah pulang. Hanya Yixing yang masih duduk di dapur modern milik Junmyeon. Setelah kejadian tadi Junmyeon mengantarnya ke sana dan menyuruhnya duduk menenangkan diri, menyuruh pelayan menyediakan cokelat hangat untuknya, lalu meninggalkannya untuk menemui para tamunya, dan berjanji akan mengantarkannya pulang nanti.

Selama ditinggalkan sendirian Yixing terus merenung, kejadian tadi berulang-ulang di matanya. Dan sangat tidak disangkanya. Begitu bebaskah kehidupan Leo sehingga dia bisa bercumbu begitu saja dengan sembarang wanita yang ditemuinya di pesta? Rasa sakit menusuk dadanya, membuatnya menghela nafas berkali-kali.

Setidaknya dia belum jatuh cinta terlalu dalam kepada Leo, setidaknya dia belum menumbuhkan perasaannya terlalu jauh…

Rupanya lama sekali Yixing berkutat dengan pikirannya, karena pesta pada akhirnya usai. Mr. Suho datang menemuinya, dan duduk bersamanya di dapur, melihat cangkir cokelat hangatnya yang hampir kosong dan menawarkan minuman lagi. Yixing menggeleng menjawab pertanyaan Junmyeon. Tidak. Dia tidak ingin minum apapun. Dia hanya ingin pulang dan mungkin menangis sendirian di kamarnya.

"Saya hanya ingin pulang…" gumam Yixing akhirnya, melirik jam di dinding dapur yang sudah semakin malam.

Junmyeon mengikuti arah lirikan Yixing dan tersenyum lembut, "Aku akan mengantarkanmu pulang, jangan cemas…. Apakah kau baik-baik saja Yixing?"

Pipi Yixing memerah. Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dia patah hati dan merasa dikhianati, dan juga malu. Malu kepada Mr. Suho yang menatapnya dengan penuh perhatian kepadanya saat ini. Malu mengingat percakapan mereka beberapa malam yang lalu tentang hubungannya dengan Leo. Mr. Suho pasti menertawakan kebodohan dan kepolosannya dalam hati karena dia begitu mudah ditipu.

"Tidak semua laki-laki seperti Leo," Junmyeon membalikkan badan, melangkah menuju bar yang ada di samping dapur. Dan menuang minuman, lalu meletakkan salah satu gelasnya di depan Yixing, "Ini minumlah."

"Ini apa?" Yixing mengernyit, menatap ke arah gelas minuman di depannya. Cairan itu berwarna bening dan keemasan.

"Itu champagne. Rasanya manis dan tidak begitu keras. Mungkin bisa sedikit menenangkanmu."

Yixing menatap gelas itu dengan ragu. Menimbang- nimbang. Seumur hidupnya dia tidak pernah meminum minuman beralkohol dan tidak yakin akan reaksinya setelah meminum itu. Apakah dia akan mabuk dan menari-nari seperti orang gila nantinya?

Junmyeon mengamati Yixing yang tercenung sambil menatap gelasnya dan tersenyum.

"Satu gelas tidak akan membuatmu mabuk. Kau bisa menyesapnya pelan-pelan. Kalau kau merasa tidak mampu, kau bisa berhenti tanpa menghabiskannya."

Yixing menghela napas panjang. Oke. Dia merasa layak meminum segelas champagne mahal setelah apa yang dialaminya tadi. Dengan cepat dia meneguknya. Rasa manis langsung menyebar di rongga mulutnya diikuti rasa hangat yang pekat. Dan kemudian terbatuk-batuk.

Junmyeon mengernyitkan alis melihat cara Yixing minum champagne-nya lalu tertawa.

"Aku bilang disesap, sayang, jangan diteguk sampai habis, kau akan kehilangan aromanya kalau begitu," lelaki itu mendekati Yixing yang terbatuk-batuk lalu mengusap punggungnya dengan lembut.

"Kau tidak apa-apa?" Yixing menganggukkan kepalanya, tiba-tiba menyadari kedekatan Junmyeon yang terasa panas di belakangnya.

"Saya rasa, saya harus pulang sekarang," Yixing meletakkan gelasnya dan mencoba berdiri, dia agak terhuyung, sehingga Junmyeon harus memegang lengannya.

"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang. Ini sudah terlalu malam," dengan lembut Junmyeon menggandeng lengan Yixing dan membawanya keluar. Ketika melangkah, tiba-tiba Yixing terjatuh, membuat Junmyeon harus menangkapnya lagi. Kali ini setengah memeluknya begitu dekat.

Junmyeon menatap wajah yang sangat menggoda, yang begitu dekat dengannya, bibir itu. Astaga, bibir itu begitu ranum dan lembut, pasti terasa manis ketika disesap, mengalahkan rasa champagne yang paling mahal sekalipun. Junmyeon lupa diri, dan kemudian, tanpa peringatan, ditariknya Yixing ke dalam pelukannya dan dikecupnya bibirnya lembut.

Yixing terkejut, luar biasa terkejut ketika lelaki ini, atasannya tiba-tiba memeluknya dengan begitu erat dan mengecup bibirnya. Tetapi kecupan itu tidak dimaksudkan sebagai paksaan. Mr. Suho menciumnya dengan lembut, tetapi tidak kasar, lelaki itu seolah memberi kesempatan Yixing menolak kalau dia tidak mau. Dan Yixing tidak punya tenaga untuk menolak. Aroma jantan itu, parfum bercampur harumnya anggur memenuhi seluruh inderanya, membuatnya tertarik tanpa daya. Dia tidak pernah sedekat ini dengan lelaki sebelumnya, sehingga rasa ingin tahu memenuhi dirinya. Mungkin ketika dia mendapatkan akal sehatnya nanti dia akan menyalahkan anggur yang diminumnya. Tetapi sekarang Yixing hanya ingin merasakan ciuman itu, merasakan lebih jauh lagi.

Junmyeon memperdalam kecupannya menjadi lumatan- lumatan bergairah, bibirnya membuka dan melumat bibir manis Yixing, menjilatnya lembut lalu menyesapnya dengan penuh gairah, darah Junmyeon menggelegak, gairahnya yang begitu lama tidak tersalurkan tiba-tiba semakin naik, membuatnya mempererat pelukannya, dan memperdalam lumatannya. Ciuman itu yang semula hanya dilakukan untuk mencicipi, berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki, merasakan keseluruhannya.

"Yixing" Junmyeon mengerang penuh gairah, suaranya dalam dan tersiksa, "Oh ya ampun, setiap saat aku selalu membayangkanmu. Membayangkan bisa menyentuhmu seperti ini, menyiksa diriku hingga seluruh tubuhku terasa sakit karena merindukanmu. Aku pikir aku pantas menerima itu, sebuah hukuman untukku. Tetapi sekarang, sekarang kau ada dalam pelukanku, dan aku tidak tahu harus bagaimana," lelaki itu berucap pendek-pendek dengan nafasnya yang tersengal, dengan bibir yang begitu dekat dengan bibir Yixing sehingga membagi panas nafasnya.

Yixing mendengarkan ucapan Junmyeon itu, tetapi pikirannya terlalu berkabut untuk mencernanya. Dia hanya menangkap bahwa Junmyeon membayangkannya. Membayangkannya? Benarkah?

Tetapi kemudian seluruh pertanyaan di benaknya lenyap ketika lelaki itu melumat bibirnya lagi. Kali ini tanpa batasan apapun, bibir lelaki itu panas, dan terbuka dan melumat keseluruhan bibirnya seolah ingin melahapnya.

Yixing tidak pernah menduga sama sekali Mr. Suho yang begitu dingin dan seolah tidak berperasaan bisa menjadi lelaki yang begitu penuh gairah dalam berciuman. Ciuman itu membuatnya lemas, sehingga harus bergantung pada tubuh Mr. Suho. Kedua lengannya melingkari tubuh Mr. Suho dan atasannya itu seolah tidak keberatan. Lelaki itu membungkukkan tubuhnya lalu setengah mengangkat tubuh Yixing seolah ingin menghapus batasan tinggi badan di antara mereka, dan melumat Yixing dengan menggila, sepenuh gairahnya.

"Kau sangat menikmati ciumanku rupanya, sayang," bibirnya menggoda, menjilat lembut, lidahnya menelusup pelan sebelum kemudian menciumnya lagi dengan bergairah, "Aku juga."

Junmyeon menatap Yixing, perempuan itu sepertinya sudah takluk ke dalam cumbuannya. Apakah karena pengaruh anggur? Junmyeon tidak mau Yixing takluk kepadanya karena anggur. Dengan lembut digodanya Yixing lagi hingga perempuan itu mengerang, kebingungan dengan gairah aneh yang baru pertama dirasakannya.

"Yixing yang begitu polos dan suci…kau tidak tahu betapa inginnya aku menjadi orang pertama yang merusakmu"

Bibir mereka masih bertautan dalam kecupan dan pagutan-pagutan yang panas. Kemudian jemari Junmyeon mulai menelusuri lengan Yixing, naik turun di sepanjang lengannya dengan panas dan penuh gairah.

Yixing merasakan sekujur tubuhnya panas. Entah karena pengaruh anggur yang diteguknya tadi, entah karena elusan . Mungkin satu gelas anggur yang diteguknya langsung di saat perdananya mencicipi champagne terlalu berlebihan baginya. Kepalanya mulai berkunang-kunang, tetapi walaupun begitu seluruh inderanya masih hidup. Dipenuhi oleh jutaan sensasi aneh yang menyelimutinya.

Junmyeon sendiri masih sibuk melumat bibir Yixing, bibir yang dirindukannya sejak lama, bibir yang hanya bisa dibayangkannya di malam-malam kesepiannya. Lelaki itu mulai lupa diri, diangkatnya tubuh Yixing yang setengah mabuk dan di bawanya ke kamarnya.

.

.

=TBC=