Robotique Monogatari
Bleach © Tite Kubo
Genre : Romance, Melodrama, Comedy, Fantasy.
Pairing : Ichigo Kurosaki x Rukia Kuchiki
Warning : OOC, Slight, Full Dialogue, Full Narration, etc.
.
.
.
''Tidak! Aku punya pilihan!'' ujarnya tegas.
''Apa?'' Ryūken terlihat bingung dengan pernyataan Isshin yang tedengar penuh percaya diri.
''Berapa lama pihak kepala Rumah Sakit memberiku waktu?''
''Sekitar, satu minggu.'' sambar Ryūken tanpa jeda.
''Baiklah kalau begitu.'' ujar Isshin sembari melenggang keluar dari ruangan itu, setelah sebelumnya melirik Ichigo dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
'Ichigo... Tunggulah sebentar, ayah akan menjemputmu dari garis kematian sial ini...'
.
.
.
·•· Karakura High School ·•·
''Ayo teman-teman semua, sebelum mulai bertanding voli kita melakukan pemanasan bersama-sama terlebih dulu!'' teriak nyaring seorang perempuan diaula olahraga sekolahnya.
''Seperti biasa ya, Orihime selalu bersemangat kalau sudah menyangkut jam pelajaran olahraga.'' tutur seorang gadis bercepol satu.
''Kau salah Momo! Dikelas kita yang paling bersemangat dengan pelajaran ini kan Rukia! Kau lupa ya?'' sambar temannya yang lain sembari melirik kearah Rukia.
Rukia yang saat itu pun menjadi bahan lirikan teman-temannya yang lain sama sekali tak bergeming. Gadis itu terlihat sedang melamun.
''Rukia? Rukia, apa kau baik-baik saja?'' tanya gadis tadi.
Rukia mengerjapkan kedua matanya ketika merasakan hentakan kecil pada punggungnya, ''Eh? Y-Ya? Ada apa Tatsuki?''
Tatsuki menarik sebelah alisnya keatas, ''Ada apa denganmu, Rukia? Kau sakit?''
''Sakit? Tidak. Aku sehat kok.'' bantah Rukia sedikit gugup.
''Ah! Benar juga! Rukia, aku lihat kali ini kau lesu sekali, tidak seperti biasanya.'' Momo menatap dalam kedua violet milik Rukia.
''Ah? Aku– Aku bersemangat kok! Lihat ini!'' Rukia meyakinkan teman-temannya seraya melakukan gerakan pemanasan.
''Wah! Rukia-chan sepertinya lebih bersemangat daripada aku! Kalau begitu Rukia-chan saja yang memimpin pemanasan!'' ujar Orihime sembari menarik tangan Rukia, membawa gadis bertubuh kecil itu didepan teman-temannya yang sudah berbaris rapih sedaritadi.
''A–Aku? Ta–Tapi―''
.
.
.
''PRIIITTT!''
Bunyi pluit yang ditiup seorang murid yang menjadi wasit saat itu menandakan pertandingan voli telah dimulai.
''BUUUGGG!''
Suara bola voli yang dipukul nyaring oleh salah seorang murid yang tengah menservis pun terdengar tak lama setelah pluit dibunyikan.
Bola voli terus bergulir melayang diatas udara dari sisi lawan ke sisi lawan yang lain, pun kerja sama tim masing-masing saat itu terlihat kompak.
Suara riuh dari teman-teman lain yang tengah menyaksikan pertandingan pun ikut menyeruak. Mereka memberikan semangat kepada kedua kubu agar dapat bermain dengan baik.
Semua bermain dengan serius, namun tak jarang gelak tawa ikut menyumbang suasana disana, pertanda bahwa dibalik keseriusan mereka terdapat juga kehangatan dalam permainan sengit yang sedang dimainkan murid-murid kelas satu itu.
Permainan berlangsung dengan baik diawal, hingga akhirnya sebuah insiden yang tak diinginkan terjadi.
Bola voli yang dipukul dari arah berlawanan mengarah kepada Rukia yang saat itu sedang tidak fokus.
Meskipun sudah diberikan alarm dari teman-temannya untuk memukul atau setidaknya menghindar dari bola yang tengah mengarah pada Rukia saat itu, tanpa dapat dihindari lagi bola pas menghantam wajah Rukia hanya dalam hitungan detik.
Rukia tersungkur begitu saja, kedua matanya berkunang-kunang. Ia masih mencoba untuk menyadarkan diri dari situasi ini.
''Rukia! Kau tidak apa-apa?'' Momo yang jaraknya tidak jauh dari Rukia langsung mendekat.
Tidak hanya Momo, yang lainnya pun ikut mendekat untuk meyakinkan keadaan Rukia.
''Astaga! Rukia-chan! Hidungmu berdarah!''
''Rukia! Rukia! Kau bisa mendengar kami kan? Rukia!''
Tak ada satupun jawaban keluar dari mulut Rukia yang dapat menjawab kekhawatiran teman-teman saat itu.
Semuanya menjadi panik...
''Minggir! Minggir! Biar aku bawa ke ruang kesehatan!'' ujar seorang laki-laki yang menerobos masuk dari kerumunan.
''Abarai? Benar! Cepat tolong gendong Rukia-chan ke ruang kesehatan!'' seru Orihime yang masih panik.
Tanpa berbasa-basi, laki-laki berambut merah yang dikuncir tinggi keatas itu pun buru-buru menggendong Rukia ala bridal-style. Teman-teman terdekat Rukia kala itu juga ikut mengantarkan Rukia karena cemas akan keadaan gadis itu.
.
.
.
·•· Cabang Pusat Laboratorium dan Industri Karakura ·•·
Sebuah bangunan yang tidak begitu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Dilihat dari aktivitas orang-orang didalamnya, kebanyakan seperti tengah melakukan suatu penelitian.
Setiap dari mereka―yang kedua tangannya masing-masing tengah sibuk dengan tabung reaksi dan alat-alat penghitung massa, beserta benda-benda terkait yang menunjang latar belakang pekerjaan mereka― menggunakan jas putih polos sebagai seragam umum dengan masker menghiasi wajah.
Tak salah lagi, ini adalah salah satu cabang pusat gedung institusi penelitian milik Karakura yang sudah sangat diakui di Jepang.
''Profesor, ada seorang tamu mencari anda.''
Laki-laki yang tengah mengutak-atik sesuatu dihadapannya itu pun berbalik menghadap sekretarisnya.
''Seingatku, aku tidak membuat janji dengan siapapun hari ini. Suruh ia menunggu saja sampai aku selesai.''
''Tapi, Profesor... Aku sudah mengatakan itu, tapi ia tetap bersih keras ingin bertemu anda.'' terang sekretaris tersebut yang kelihatannya sudah terlihat pucat.
''Hhh! Memangnya siapa sih?'' tanya laki-laki itu mulai sedikit emosi.
''Laki-laki berjanggut itu bilang, ia teman dekat Profesor.''
''Laki-laki berjanggut?''
.
.
.
''Apa kabar, Urahara?'' tanya seorang laki-laki yang baru saja muncul dari balik pintu.
''Jadi benar kau, Isshin? Aku sempat ragu tamu yang dimaksud tadi itu kau.'' sambung Urahara yang tentu saja terkejut dengan kedatangan Isshin.
''Memang ada yang salah jika aku datang kemari?'' tegas Isshin kembali.
''Ah? Bu-Bukan begitu. Hanya saja, mengingat terakhir kali kita bertemu aku―''
''Ya! Karena itulah aku kesini.'' potong Isshin.
''Maksudmu?''
''Urahara, situasiku sekarang ini tidak bisa berbasa-basi karena menyangkut hidup anakku, Ichigo.''
''...''
''Kedatanganku kemari ingin menerima tawaranmu waktu itu dan memastikan berapa persen kemungkinan Ichigo dapat hidup dengan cara ini?''
Tanpa disadari Urahara menjatuhkan alat-alat kerja ditangannya ketika mendengar tutur kata temannya itu, ''Isshin?''
''Jawablah, Urahara! Berikan kepastiannya, Ichigo tidak bisa menunggu lebih lama lagi!''
Suara tegas dari tiap kata-kata yang keluar dari mulut Isshin membangunkan kediaman Urahara, ''Ah? Um... Kira-kira tujuh puluh persen.''
Dengan tatapan mata yang terus mengarah pada Urahara, Isshin berpikir sejenak.
''Apa kau yakin cara ini dapat menghidupkan Ichigo?''
Urahara mengangguk pasti, ''Ya! Dengan melihat persiapan yang aku punya, ditambah dengan latar belakangmu sebagai seorang dokter, aku yakin bisa!''
''Kalau begitu apa kau bersedia melakukannya sekarang juga jika aku memintamu?'' tanya Isshin tanpa berbasa-basi.
''A-Apa? Isshin?''
''Bisa tidak?''
''Tentu bisa! Tapi, kau harus memenuhi beberapa permintaanku ini, dan tentu saja semua ini ada risiko dimasa mendatang, kau mengerti maksudku?''
''Segala keputusan dalam hidup itu pasti selalu ada risikonya, baik atau buruk tetap harus dihadapi. Aku sudah memikirkan ini. Beri tahu saja padaku apa permintaanmu itu agar aku bisa menjemput Ichigo kedunia ini lagi.''
Urahara tersenyum mantap mendengar tutur kata Isshin yang sama sekali tak terdengar ragu ditelinganya. Kelihatannya temannya itu sedang mencoba bangkit dari keterpurukan.
''Baiklah! Kalau begitu permintaanku yang pertama...''
.
.
.
·•· Ruang Kesehatan Karakura High School ·•·
''Unh...''
Suara dan gerakan dari gadis yang tengah berbaring diatas ranjang ruang kesehatan itu tertangkap oleh sepasang telinga dan mata seorang anak laki-laki yang sedaritadi setia menemaninya.
''Rukia? Kau sudah sadar? Bisa mendengarku? Rukia? Rukia!''
''Argh! Berisik sekali sih! Iya, iya apa? Kau pikir aku ini tuli? Berteriak sekencang itu...'' marah Rukia yang mencoba bangun dari ranjang tempatnya berbaring.
''Hhh~ Syukurlah kau masih hidup!'' ujar laki-laki itu sambil bernafas lega.
'Plak!' Rukia menjitak kepala teman laki-lakinya itu cukup keras.
''Aduh! Hei! Apa yang kau lakukan?'' laki-laki itu mengelus-elus puncak kepalanya yang terasa sakit.
''Hanya terhantam bola voli mana mungkin aku mati! Dasar kau Renji bodoh!'' ketus Rukia yang sepertinya merasa disumpahi mati oleh perkataan Renji.
''Apa aku bodoh?'' Renji mengacungkan ibu jari kearah dirinya sendiri, ''Heh! Yang bodoh itu kau! Bola voli sebesar robot gaban itu saja kau tidak bisa lihat! Jangankan memukul, menghindar saja tidak! Aku jadi kasihan padamu, sudah badan kecil matamu juga terlalu sipit untuk melihat benda sebesar bola voli yang menghantammu itu!''
''Apa katamu!? Kau cari mati ya denganku? Badanku kecil itu memang fakta, tapi mataku tidak sipit tahu!'' ketus Rukia yang sepertinya mulai tersulut emosi akan kata-kata Renji.
Sebelah tangan sang gadis sudah bersiap mendaratkan pukulan kedua diatas kepala temannya itu.
''Eh? Kuchiki sudah sadar?'' penjaga ruang kesehatan, yakni Unohana Retsu baru saja datang memasuki ruangan.
Niat Rukia yang sempat ingin dilampiaskan kepada Renji mau tak mau harus ia tahan.
''Eh? I-Iya Unohana-san...'' jawab Rukia sembari tersenyum.
Unohana membalas senyuman itu, ''Bagaimana bisa kau terhantam bola? Kau pasti tidak berkonsentrasi.''
''Ya, dia sedang melamunkan aku, Unohana-san~'' canda Renji.
''Ya, benar! saat itu tenggorokanku terasa kering, cuaca juga entah kenapa panas sekali, lalu tiba-tiba saja muncul kepala Renji didepan mataku, aku jadi membayangkan tengah meminum jus nanas saat itu, Unohana-san.'' olok Rukia kemudian sambil memandang Renji dengan tatapan meledeknya.
Mendengar kedua anak murid itu saling mengejek satu sama lain Unohana jadi tak bisa menahan gelak tawanya, ''Hahaha~ Kalian berdua ini lucu sekali.''
''Apa? Unohana-san tidak salah? Kalau aku sih memang lucu, tapi Renji apanya yang lucu? Melihat rambutnya yang mencuat seperti itu saja aku seram~'' lagi, Rukia membuat Unohana harus mengocok perutnya.
''Apa katamu barusan? Jangan sembarangan ya! Rambutku ini gaya harajuku-style tahu!'' marah Renji yang mencoba membela diri.
''Harajuku-style? Kau itu terlalu memaksakan gaya harajuku-style yang tidak cocok dan tidak perlu untukmu, dasar bodoh!'' goda Rukia yang ikut mentertawakan ejekannya itu kepada Renji.
Merasa kalah terus diejek Rukia, Renji menjadi kesal seraya mengepalkan sebelah tangannya dihadapan sang gadis, ''Ish! Kau ini...!''
''Hahaha~ Sudah! Sudah! Jangan bertengkar.'' sambung Unohana sebelum kedua murid dihadapannya itu kembali saling mengejek satu sama lain.
''Nah Rukia, bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa lebih baik? Hidungmu sudah tidak berdarah lagi kan?'' segelintir pertanyaan Unohana yang tengah mengkhawatirkan Rukia terlontar begitu saja.
''Ah? Aku sudah merasa lebih baik Unohana-san! Arigatou~'' jawab Rukia mantap.
''Begitu ya?'' Unohana memandang Rukia dengan seksama, dan tak lama kemudian, ''Renji, lebih baik kau kembali kelapangan olahraga.'' wanita itu melirik Renji.
''Eh? Ke-Kenapa?'' jawab Renji.
''Itu karena jam pelajaran olahragamu masih berjalan. Bukankah sebentar lagi akan ada pengambilan nilai passing oleh gurumu? Lagipula sekarang Rukia butuh istirahat.'' terang wanita itu halus.
''Oh, iya! Benar juga!'' Renji menepuk jidatnya, ''Kalau begitu aku permisi dulu, Unohana-san!'' sambung Renji sembari berdiri dari posisinya yang semula duduk.
''Dan kau Rukia...'' Renji melirik anak gadis yang masih terduduk diatas ranjang ruang kesehatan didepannya, dan gadis itu pun mengarahkan pandangannya kepada Renji.
Renji terlihat sedikit canggung, kedua tangannya mengepal erat, dan kedua matanya ia arahkan kebawah lantai, ''Ce-Cepat sembuh ya!''
Tak lama setelah berkata demikian, Renji langsung berlari menuju pintu keluar tanpa berkata yang lain-lain lagi.
''Hm? Ada apa dengan anak itu? Dasar aneh.'' ujar Rukia yang masih melihat kearah pintu yang sempat diterobos Renji.
Unohana hanya tersenyum melihat kejadian itu, ''Hhh~ Masa-masa murid sekolahan itu memang masa-masa dimana cinta sedang tumbuh dan bersemi ya, Rukia?''
''Eh? U-Unohana-san bicara apa?'' Rukia sedikit gelagapan, ''Ja-Jangan berpikiran yang bukan-bukan Unohana-san. Aku dan anak itu mana mungkin! Tidak seperti yang Unohana-san pikirkan kok!''
Melihat Rukia salah tingkah seperti itu membuat Unohana kembali tertawa kecil, ''Kau yakin? Aku perhatikan anak itu sangat perhatian sekali dengan keadaanmu sejak pingsan tadi. Ia tidak hentinya berwajah cemas ketika menjagamu disini loh.''
Tidak seperti biasanya Unohana bercanda sedekat ini dengan Rukia. Memang mereka terlihat dekat dibeberapa kesempatan, namun tidak pernah Unohana menggoda Rukia soal hubungan percintaan gadis itu sendiri.
''Ah! Unohana-san, kami kan teman sekelas wajar saja kalau dia mengkhawatirkanku. Teman-teman sekelasku yang lain juga pasti akan melakukan hal yang sama.'' terang Rukia yang nampaknya sedang berusaha membuat Unohana mempercayainya.
Tanpa tahu harus berkata apa lagi untuk menggoda muridnya itu, lagi-lagi Unohana malah kembali tertawa. Dan hal itu sukses membuat Rukia sedikit meringis kesal.
.
.
.
·•· Karakura Hospital ·•·
Sebelah tangan Isshin masih terus saja bergantung diatas kenop pintu dihadapannya. Terlihat sekali ada sedikit keraguan yang tengah menghantui dirinya saat ini.
Didalam kepala Isshin terus saja terngiang baris demi baris kata-kata yang diucapkan Urahara kepadanya sewaktu berada diruang praktek teman SMA-nya itu.
·•· flashback on ·•·
''Permintaanku yang pertama adalah kau harus percaya.''
Isshin hanya melebarkan kedua matanya tak mengerti.
Tak perlu berpikir lama, Urahara nampaknya mengerti expresi wajah Isshin ketika itu.
''Kau harus percaya padaku, percaya pada proses yang akan kita lakukan ini akan berhasil, dan percaya pada dirimu. Karena hanya dengan percaya kita seolah melihat masa depan begitu cerah. Pengharapan dan kerja keras terasa tidak akan terbuang sia-sia.'' terang Urahara yang kelihatannya tengah membangun rasa optimis didalam diri Isshin.
''Ya, aku akan percaya.'' Isshin tersenyum kecil, ''Tidak! Aku percaya!'' ralat pria berjanggut itu mantap.
Urahara ikut tersenyum melihat Isshin yang nampaknya sudah mulai bersemangat.
''Kedua, aku butuh seorang dokter ahli yang berlatar belakang sepertimu untuk membantu proses ini. Kau bisa mendapatkannya?''
Awalnya Isshin ragu untuk mengatakan 'Ya', namun terus terbayang-bayang akan wajah Ichigo dikepalanya, membuat ia tidak bisa berpikir dua kali dalam hal ini.
''Aku seorang dokter, bekerja di Rumah Sakit, menemukan rekan seprofesiku bukanlah hal yang sulit.''
''Kalau begitu yang terakhir.'' Urahara berjalan menuju meja kerjanya kemudian menuliskan sesuatu diatas kertas kecil.
Tak lama kemudian ia mendekati Isshin dan menyodorkan kertas itu, ''Aku butuh segala jenis obat-obatan dan beberapa jenis lainnya yang sudah kutulis spesifikasinya disini.''
Isshin mengambil sepucuk kertas itu sembari membacanya sebagian, ''Ini bukan masalah untukku. Kalau begitu aku pergi sekarang ya, Urahara!''
Dengan secepat kilat Isshin telah menghilang dari ruangan Urahara. Sepertinya ia sudah kembali menemukan rasa semangatnya akan hidup anak laki-lakinya, Ichigo.
''Cih! Dasar tua bangka!'' seru Urahara sendirian dengan sebuah kipas kecil digenggaman tangan yang diangkat sejajar dagu, ''Kemarin kau terlihat putus asa, sekarang bersemangat sekali. Hm~''
·•· flashback off ·•·
Isshin terlihat menarik nafas panjang, tak lama kemudian ia mengetuk pelan pintu dihadapannya sembari menunggu jawaban dari dalam ruangan.
''Ya, masuk!'' sambut suara seorang laki-laki didalamnya.
Isshin buru-buru membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu, ''Hei, Ryūken! Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja? Ha?''
Melihat sikap Isshin yang aneh tentu saja menjadi sebuah tanda tanya bagi Ryūken yang tengah duduk dimeja kerjanya.
''Ada apa denganmu? Bukankah tadi pagi kita baru bertemu?'' Ryūken menatap Isshin dengan pandangan tajam.
Tanpa memperdulikan pandangan itu, Isshin langsung mengambil langkah menuju kursi diseberang meja Ryūken kemudian mendudukinya.
''Hei! Aku belum menyuruh kau duduk.'' Ryūken kembali menatap Isshin jengkel.
''Ah~ Kau ini. Apa aku perlu bayar untuk duduk dikursi ini?'' sambung Isshin sembari memberikan cengiran khasnya.
Sikap Isshin betul-betul membuat Ryūken merasa ada yang aneh. Apalagi jika mengingat sikap yang ditunjukan rivalnya tadi pagi, yang masih terlihat sedih dan sangat terpuruk.
Ryūken memejamkan sepasang matanya sembari menghela nafas, ''Hhh~ Kalau kau bersikap begitu hanya untuk meminta bantuanku berbicara kepada kepala Rumah Sakit atas perizinan pencabutan alat bantu pada anakmu, maaf aku tidak bisa bantu.''
''Eh? Hahaha~ Aku memang kesini untuk meminta bantuanmu tapi bukan bantuan seperti itu yang aku inginkan.''
''Lalu?''
''Ehm! Begini, langsung saja ya?'' tanya Isshin dan hanya dibalas tatapan datar dari Ryūken.
Isshin masih terlihat santai dan menjelaskan, ''Jadi, aku ingin kau membantuku untuk menyelamatkan Ichigo.''
Perkataan yang terdengar bodoh bagi Ryūken sampai ia tak tahu harus berkata apa. Didalam kepalanya ia berfikir apakah Isshin benar-benar sudah gila atas masalah yang tengah dirundunginya saat ini?
Awalnya Ryūken masih terdiam, dengan Isshin yang masih menunggu jawaban dari rekan seprofesinya itu untuk angkat bicara.
Namun tak lama kemudian...
''Apa aku terlihat seperti seorang dewa di kuil shinto yang mungkin bisa mengabulkan permintaan tiap orang yang berdoa disana?'' ujar Ryūken yang mulai bertampang konyol, ''Memang aku punya kekuatan dari mana bisa menyelamatkan anakmu? Jangan bercanda, Isshin.''
''Aku memang tidak sedang bercanda.'' kali ini Isshin terlihat lebih serius dari yang sebelumnya.
''Apa maksudmu?''
''Aku dan temanku memiliki sebuah rencana atau mungkin lebih tepat disebut program untuk Ichigo. Untuk mendukung keberhasilan semua ini kami butuh pertolonganmu.''
''Rencana? Program?'' Ryūken mulai berwajah kebingungan.
''Temanku adalah seorang Profesor, beberapa penemuannya pernah dijadikan sebuah temuan masa kini oleh media informasi, prestasinya juga diakui dunia. Kisuke Urahara, kau pasti tahu kan? Atau paling tidak mendengar namanya?''
''Lalu?'' respon dari Ryūken nampaknya tak menjawab maksud Isshin yang sebenarnya.
''Dia berusaha membantuku untuk menghidupkan Ichigo tanpa peralatan medis, dengan penemuannya. Singkatnya menggabungkan materi Alami dan Ilmiah.''
Mendengar penjelasan Isshin yang dirasa semakin tidak masuk akal, kontan membuat Ryūken merasa Isshin tengah mempermainkan dirinya. Bahkan menganggap laki-laki itu memang benar sudah gila.
''Kau mau beromong kosong memasukan alat-alat atau mesin tekhnologi kedalam tubuh manusia agar hidup kembali? Seperti anime astroboy begitu?'' Ryūken mempertegas maksud Isshin agar membuatnya mengerti.
Isshin hanya mengangguk pelan namun pasti. Di kedua tatapan matanya pun sama sekali tak terlihat adanya keraguan.
''Ka-Kau... Kau gila!''
''Ya, itulah yang aku katakan kepada temanku pertama kali ketika mendengar hal yang sama. Jadi, bagaimana? Kau mau membantuku kan, Ryūken?'' Isshin nampak belum putus asa untuk meminta tolong.
Semua ini Isshin lakukan demi seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Seseorang yang tidak mungkin bisa ia relakan begitu saja untuk pergi meninggalkannya dari dunia. Seseorang yang sedikit-banyak memiliki kepribadian yang sama dengan Masaki.
Ya, dia adalah anak laki-laki tercintanya yang seolah terus berteriak didalam kepalanya meminta tolong. Seolah terus mengulurkan tangannya untuk disambut dari garis kematian yang tidak dikehendaki siapapun. Ya, anak itu, darah dagingnya dengan Masaki, Kurosaki Ichigo.
''A-Aku... tidak tahu.'' ujar Ryūken yang masih belum yakin dengan topik pembicaraan yang dirasanya seperti lelucon ini.
Tak lama kemudian laki-laki berkacamata itu mencoba kembali menenggelamkan diri dengan setumpuk pekerjaan yang masih menanti diatas meja kerjanya.
Isshin mulai terlihat sedikit panik sekarang, ''Ayolah, Ryūken! Selain kau, aku tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa lagi. Kita berada di Perguruan Tinggi yang sama bersama-sama menuntut ilmu kedokteran, hanya kau teman yang aku percaya.''
''Kau lupa selama menuntut ilmu kedokteraan di Perguruan Tinggi kita ini adalah rival?'' ketus Ryūken tanpa menatap Isshin.
''Apa? Aku tidak pernah menganggapmu begitu.''
''Ya, hanya kau yang tahu isi kepalamu.''
''Jika aku menganggapmu rival, apa aku pernah membanding-bandingkan kemampuan kita selama ini?''
Ryūken masih terus saja membaca dokumen kerjanya, namun bukan berarti telinganya tertutup untuk mendengarkan suara Isshin.
''Kita bahkan selalu disandingkan bersama dalam perlombaan tingkat A dan memenangkannya berkat hasil kerja sama kita yang baik. Apa sungguh selama ini kau menganggap aku rival? Aku menganggap kau temanku.''
Tak jemu Isshin terus meyakinkan Ryūken dengan setiap kata-kata yang terucap dari mulutnya. Berharap pria dihadapannya itu percaya dan menyambut permintaan tolong darinya.
Entah sekeras apa pendirian Ryūken, hingga kata-kata pamungkas terakhir yang terlontar Isshin tak mampu menerobos kerasnya dinding pendiriannya itu.
Nampaknya, Isshin juga sudah mulai kehabisan kata-kata. Tak ada lagi yang dapat ia sampaikan kepada temannya itu.
''Baiklah. Terlepas dari bagaimana kau menganggapku. Aku tetap membutuhkan bantuanmu.'' ujar Isshin sembari bangkit dari kursi tempatnya duduk, ''Tidak! Tapi, aku sangat-sangat membutuhkan bantuanmu.''
''...''
''Permisi.'' Isshin bangkit dari kursinya sembari melenggang kearah pintu keluar, namun ketika pintu sudah dibuka...
''Seorang dokter tidak akan pernah membiarkan pasiennya meninggal begitu saja, tanpa memberikan mereka kesempatan untuk berjuang hidup.'' itulah hal terakhir yang diucapkan Isshin sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Ryūken.
Begitu mendengar suara ayunan pintu yang telah tertutup rapat, Ryūken menutup cover dokumen yang pura-pura dibacanya tadi.
Ia menghempaskan tubuhnya kebelakang kursi yang ia duduki, seraya melonggarkan dasi dan membuka satu kancing atas kemejanya.
Entah kenapa pria itu merasa kehilangan oksigen ketika mendengar setiap perkataan Isshin. Mulai dari rencananya yang ingin menghidupkan Ichigo menjadi seorang robot, hingga fakta bahwa Isshin selalu mempercayainya sebagai seorang teman, terakhir sebuah kata-kata penutup yang tidak asing baginya cukup memberikan tamparan tersendiri.
Baginya, itu semua terdengar tidak masuk akal. Namun, setiap manusia pasti memiliki perasaan iba. Dan ada kalanya perasaan itu dapat disentuh seseorang, hingga perasaan untuk ingin membantu timbul begitu saja.
.
.
.
Sementara itu di Karakura High School, berbondong-bondong murid sekolahan telah memadati pintu gerbang sekolah.
Sepertinya jam pelajaran sekolah telah usai. Beberapa dari mereka ada yang langsung ingin pulang kerumah, namun ada juga yang masih duduk-duduk santai disekitar meja kantin sekedar untuk mengobrol.
Hangat sekali rasanya melihat pemandangan sekumpulan murid-murid disana. Mereka berjalan bersama beriringan, mengobrol, bercanda, tertawa, dan masih banyak lagi.
Ya, masa-masa sekolah...
Memori yang paling indah sepanjang masa bukan?
''Rukia-chan, kau sudah tidak apa-apa kan?'' Orihime dengan teman-temannya yang lain baru saja menjemput Rukia dari ruang kesehatan sekolah.
''Iya, aku baik-baik saja kok.'' jawab Rukia.
''Apa sih yang sedang kau pikirkan sampai tidak memperhatikan datangnya bola, Rukia?'' tanya Tatsuki yang saat itu juga ada dalam kerumunan.
''Ah? Itu... Aku... Aku kepikiran makanan yang dibuat Miyako-nee dirumah. Hehehe~'' Rukia nampaknya pintar sekali berbohong dan menyembunyikan alasan yang sebenarnya dari kawan-kawannya itu.
''Hhh~ Dasar bodoh! Hanya karena itu kau jadi harus merelakan hidungmu dicium bola voli~'' ejek Renji yang tiba-tiba masuk kedalam rombongan Rukia.
''Huh! Tidak ada urusannya denganmu, Renji! Pergi sana!'' ketus Rukia sembari memukul bahu Renji.
''Hahaha~'' tawa kerumunan didekat Rukia.
''Tapi, tadi itu Renji keren sekali ya? Seperti pangeran berkuda putih sewaktu menyelamatkan Rukia ketika pingsan tadi.'' ejek Momo yang entah sejak kapan jadi punya kebiasaan menggoda Rukia.
''Ah! Momo benar sekali! Aku jadi iri dengan Rukia-chan~'' sambung Orihime seraya mengepalkan kedua tangannya sejajar dagu karena gemas mendengar perkataan Momo.
''Hei! Hei! Wajah seperti Renji apanya yang pangeran berkuda putih? Dia itu malah lebih mirip kudanya~'' Tatsuki nampaknya tengah membela Rukia.
Tak ayal gelak tawa kembali terdengar setelah Tatsuki mengeluarkan candaannya.
''Hahaha~ Aku setuju denganmu, Tatsuki! Give me five!'' sambung Rukia yang kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar disambut tangan Tatsuki untuk melakukan tos ala mereka.
''A-Apa? Dasar kalian berdua perempuan jadi-jadian!'' ejek Renji tak mau kalah kepada Rukia dan Tatsuki.
''Apa katamu!?'' saut Rukia dan Tatsuki bersamaan.
''Wah! Ada dua nenek sihir sedang marah, lari...!'' Renji buru-buru berlari sebelum akhirnya kedua anak gadis itu mengejarnya.
Disuguhkan pemandangan lucu ala anak sekolah seperti itu lagi-lagi membuat Orihime dan Momo kembali tertawa geli.
.
.
.
'Ini... Dimana?'
'Kenapa... Disini gelap sekali?'
'Dan... Siapa aku?'
Sepasang kelopak matanya terbuka, sontak memperlihatkan cahaya mata yang redup.
Sosoknya mendapatkan beberapa pemandangan yang tak pernah ia temukan sebelumnya.
Entah tempat apakah ini, tiada kata yang mampu mendefinisikan...
Disini begitu berkabut, disekelilingnya hanya terdapat lautan air, namun tak ditemukan adanya bebatuan maupun karang dan objek lain yang dapat ditemukan seperti di lautan pada umumnya.
Ia duduk diatas sebuah... Perahu?
Ya, perahu kecil yang memuat tidak lebih dari dua belas penumpang, dimana mereka semua terus duduk dan tertunduk lesu dengan tatapan kosong.
Berpakaian shihakusou putih polos. Dan, disetiap kaki mereka terlilit benang merah yang entah ujung yang lainnya terlilit kemana.
Hanya suara gemiricik air yang terdengar akibat dayungan dari seorang pengayuh perahu sedaritadi.
'Tempat apa ini?'
'Siapa mereka?'
Orang itu terus membatin. Perasaan seperti khawatir dan takut bercampur didalam hatinya.
Kini ia merasakan perahu tidak lagi bergerak, ia mengangkat kepalanya guna melihat apa yang terjadi dengan si pengayuh perahu, mencari tahu penyebab perahu kecil itu berhenti melaju.
''Turun.'' kata si pendayung itu kepada semua penumpang diatas perahu.
Tanpa ada perlawanan mereka semua turun, kecuali seseorang yang tadi terus memperhatikan gerak-gerik si pendayung semenjak perahu berhenti berjalan.
''Untuk apa kami turun? Ada dimana ini? Dan... Aku–''
''Aku hanya pengantar roh. Urusanmu selanjutnya bukan denganku, melainkan dengan para dewa kematian disana. Pergilah.''
Orang itu terkejut, namun tanpa berkata yang lain lagi ia menuruti perintah sosok pengayuh perahu itu untuk turun.
'Pengantar roh? Dewa kematian?' ia terus mengulang perkataan itu dikepalanya.
'Pengantar roh?'
'Dewa kematian?'
'Mati?'
'Aku?'
·•· 続 け て ·•·
Kembali sebelumnya saya mau mengucapkan banyak-banyak 'Terima Kasih' atas apresiasi kalian para readers yang mau meluangkan waktu sekedar untuk membaca maupun mereview fic saya ini, sungguh saya terharu badai :'D gyahahaha~
Maaf juga atas keterlambatan update yang kembali terulang, nampaknya kalau ada nominasi author terlelet itu bakal disandingkan buat saya mungkin yah? D'; *guling2*
Tapi saya harap segala keterlambatan disetiap fic-fic saya bisa dimaklumi ya? *peyukkk readers yang kenceng* :'D
dan doakan agar chapter selanjutnya author ga bertemu dengan halangan yang menyangkut terlambatnya update... (ToT)9
Bagi kalian yang mungkin ada yang menunggu kelanjutan 'Ai no Ame ga Furu' itu fic sebenarnya sudah 80%, 'rencananya' akan diupdate minggu depan, seandainya dalam waktu tersebut belum diupdate juga, maka mohon maaf kemungkinan fic itu dan fic2 saya yg lain harus dilanda kendala sementara. Author berharap kalian bisa menunggu.
Semoga kalian dapat memaklumi dunia author dikehidupan nyata.. *peyukk readers lg lbh kenceng* D'x gyahaha~
Terima kasih banyak untuk para pe-review:
Reiji Mitsurugi, Ray Kousen7, hirumaakarikurosakikuchizaki , Suzuhara yamami, amexki chan, Nakamura Chiaki, AkiHisa Pyon, dsb-(silent readers)
Juga yang sudah menjadikan saya sbg fav. author berikut fic'na:
hirumaakarikurosakikuchizaki , amexki chan
Replied Review :
amexki chan: arigatou ya amex udah mau menunggu :D nampaknya authornya tega ya ngebiarin papa nya ichi harus terpuruk begitu(?) hwaaa~ *guling2* | #okesipp serahkan sama author! Oshu! xD | Thx ud review, mampir lagi kesini yaa~ :D
Nakamura Chiaki: Halloo juga :)) | wahh, jangan bicara begitu chiaki *boleh dipanggil begitu?* malah sepertinya saya yang lebih payah karena belum bisa memberikan yang terbaik dichapter sebelumnya buat kamu dan readers yang lain ._.v | Huahahaha *evil laughs* nampaknya keinginan saya untuk buat penasaran berhasil ya? uyeah! *Plakk xD | #okesipp kalo gitu, makasih banyak atas reviewnya, mampir lagi kesini yaa~ :D
Ray Kousen7: Hm... Kasih tau gak yaa? Mau tau aja? Apa mau tau bangett? *Plakk xD gyahaha~ jawabannya dichapter selanjutnya yaa *kalo ga ada halangan *dilempar sendal Dx* hahahaha~ | #okesipp, Thx ud review, mampir lagi kesini yaa~ :D
AkiHisa Pyon: Salam kenal juga *tebar bunga* :DD | terima kasih banyak yaa, jadi nambah semangat saya ini :DD | #okesipp, tengkyu ud review, mampir lagi kesini yaa~ :D
Zuzuhara Yamami: Moshi moshi ne~ :D | Hahaha gomen juga saya lama update xD | Hm.. Kapan yaa? Mau tau aja atau mau tau bangett? *digeplak* xD Secepatnya dichapter berikut ichi bisa sadar dan ketemu Rukia, jadi ditunggu saja ya :) | #okesipp, sankyu ud review, mampir lagi kesini yaa~ :D
Review
