Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Master's Haruno
Chapter 2
.
.
Don't Like YA Don't Read
.
Enjoy for Reading…
.
.
Sakura terdiam dipelukan Sasuke, dan pria tampan ini masih bingung dengan kejadian cepat tadi. dia mengerutkan dahinya, kedua tangannya memegang bahu Sakura dan mendorongnya menjauh.
Terlihat kalau pria ini sedang marah. "Siapa kau?" ucapnya.
Sakura mengandahkan kepalanya, dia masih enggan membuka matanya dan mulai merengek. "Aku hanya ingin tidur." Sakura memegang sisi tubuh Sasuke.
"Bangun dan buka matamu!" Sasuke mengguncang tubuh Sakura sekali lagi.
Sakura masih menutup matanya sambil meringis, dia menggeleng. "Biarkan aku tidur denganmu." Kedua tangan Sakura tidak pernah meninggalkan sisi tubuh Sasuke.
Mendengar ucapan Sakura tadi membuat Sasuke tertawa. "Apa? Kau memintaku untuk tidur denganmu?" Sakura dengan mata tertutup mengangguk menjawab pertanyaan Sasuke. Pria ini menganga sambil memegang kepala Sakura, "Dengan penampilan kau saat ini…" Sasuke menjauhkan kepala Sakura, dia melihat gadis di depannya dari atas sampai bawah, Sakura mengenakkan celana jeans usangnya dan kaos polos berwarna pink seukuran tubuhnya. Sasuke menatap wajah Sakura lagi sambil mengernyit. "Kau memintaku untuk tidur denganmu?"
Sakura mengangguk, tangannya sudah merambat menuju bahu Sasuke, dia meringis dan ekspresinya putus asa. "Ayo tidur. Aku bisa tidur jika bersamamu." Tangan Sakura turun dan melingkar di tubuh Sasuke.
"Aku tidak bisa tidur denganmu," Sasuke masih berusaha menjauhkan Sakura, tangan kanan Sasuke meninggalkan sisi kepala Sakura dan membuka satu mata Sakura. "Jangan bermimpi!" setelah itu dia mendorong Sakura ke tempat kasur di tempat Sakura duduk tadi. Sakura mengaduh sambil membuka mata dan terduduk memandang Sasuke, pria ini menunjuk Sakura. "Kau! Hanya karena kau terus menyentuhku, dan memintaku tidur denganmu," Sasuke menunjuk dirinya sendiri. "Kau pikir, aku akan terpikat?"
Sakura menunduk dan membenarkan rambutnya yang tergerai berantakan, Sasuke kemudian mencium jari telunjuk yang dibuat menunjuk Sakura tadi dan dia mengernyit saat menciumnya, dia menunduk mencium pakaiannya dan juga kedua tangannya lalu wajahnya semakin mengernyit. Dia menatap Sakura. "Kapan terakhir kali kau mencuci rambutmu?" Sakura masih terdiam sambil mencium rambutnya sendiri, Sasuke mendekat ke Sakura dan langsung menjauh saat mencium aroma rambut Sakura.
Seburuk itukah aroma rambut Sakura, Sasuke?
"Jika kau mau merayu seseorang, cucilah rambutmu dulu!" Sasuke berseru dan memandang tangannya, dia kemudian mengambil sapu tangan yang ada di kantong jas dada kirinya dan mengelap kedua tangannya.
"Kalau aku mencuci rambutku, kau juga tidak akan tidur denganku." Sakura menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, Sasuke masih sibuk membersihkan kedua tangannya, gadis ini menatap sekelilingnya dan menatap Sasuke kembali. "Kenapa kau datang ke sini?"
Sasuke sudah selesai membersihkan tangannya dan memasukkan sapu tangannya ke dalam saku, dia menatap Sakura intens. "Kudengar… kau bicara tentang masa laluku?" ucapnya, Sakura menatap Sasuke dengan wajah mengernyit. "Apa yang kau dengar tentangku? Atau kau memang… tahu sesuatu tentangku?" Sakura menatap sepatu Sasuke. Pria ini belum selesai bicara. "Apa kau… dan Yukie saling mengenal?"
Sakura menatap Sasuke, "Nama gadis itu Yukie?" kemudian Sakura menunduk dan menatap lantai.
Sasuke terlihat terkejut, dahinya berkerut. "Apa ini?" Sasuke melangkah mendekat ke Sakura. "Bagaimana kau tahu Yukie?" Sasuke berseru di depan Sakura.
"Aku melihatnya." Ucap Sakura masih menunduk. "Gadis itu… aku melihatnya."
"Apa?" wajah Sasuke mengernyit, ekspresinya terlihat bingung. "Apa kau masih tidur? Gadis itu…"
"Dia sudah mati, kan?" Sakura menyela sambil menatap Sasuke.
Hening untuk beberapa detik saat Sasuke mendengar ucapan Sakura, mulutnya masih menganga, kemudian dia mengangguk.
"Benar. Yukie sudah lama meninggal." Sasuke masih mengenyitkan wajahnya. "Jadi, kapan dan bagaimana kau melihatnya?"
"Aku melihat… gadis itu berdiri si sampingmu baru-baru ini." Sakura sesekali menatap Sasuke dan lantai saat berbicara dengan pria tampan di depannya, Sasuke semakin memperdalam kerutan di dahinya. "Aku… bisa melihat orang mati."
Perlahan dahi Sasuke mulai mengendur kerutannya dan Sakura menunduk setelah mengakui kelebihannya yang bisa melihat sesuatu yang belum tentu bisa dilihat orang lain.
.
.
Sai, dia berjalan ke sebuah restaurant yang menjadi tempat berkumpul dengan rekan kerja di perusahaan barunya. Pesta penyambutan ketua petugas keamanan Mall Uchiha, dia sudah masuk restaurant dan bergabung dengan semua rekannya yang sudah datang semua.
Sai duduk di depan petugas bernama Suigetsu, dia bawahannya. Mereka tengah membicarakan seseorang saat ini, seseorang yang sangat dekat dengan mereka. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke, CEO perusahaan mereka bekerja, membicarakan pria tampan itu adalah topik yang sangat ditunggu-tunggu.
Suigetsu memberikan segelas kecil minuman ke Sai, dia melanjutkan kembali ceritanya. "Gadis si Tuan itu adalah hantu." dia mengambil makanan dan kembali berbicara. "Cerita ini sangat terkenal di Mall Uchiha. Presdir Sasuke masih mengenang kenangan cinta pertamanya, itu sebabnya dia masih belum menikah." Ucapnya sambil tersenyum.
Rekan yang lain mengangguk saat mendengar cerita dari Suigetsu, Sai sendiri menunduk sambil memainkan gelas digenggamannya.
"Setiap kali dia ingin menikah, hantu gadis itu akan muncul," ucap rekan lain yang duduk di samping Sai, "dan gadis itu akan merusak hubungannya, bukan?" rekan itu bertanya sambil menatap Suigetsu yang duduk di depan Sai.
"Gadis yang sudah mati?" Sai menatap Suigetsu. "Apa yang kau ceritakan ini tentang pelajar gadis yang tewas karena kecelakaan mobil yang dulu berkaitan dengan Presdir Sasuke?" tanyanya.
"Benar!" seru Suigetsu. "Kecelakaan itu sangat terkenal. Saat aku masih muda, aku melihatnya diberita." Tangan Suigetsu membuat gesture memutar saat berbicara. "Bocah kaya dan pacarnya, keduanya diculik bersama. Dulu menjadi kasus 'Penculikkan sepuluh milliar Yen'."
Sai tampak berpikir setelah mendengar cerita Suigetsu, dia memasang ekspresi serius saat ini.
"Mereka kehilangan uang tebusan, tapi tidak pernah menangkap pelakunya, bukan?" petugas keamanan yang duduk bersebelahan dengan Sai kembali bertanya.
Sai melirik rekannya itu sambil meminum minumannya. Wajahnya masih serius penuh perhitungan. "sepuluh milliar saat itu… kini setara dengan seratus milliar Yen." Suigetsu terperangah dengan ucapannya dan rekannya pun sama terperangah.
"Seratus milliar yen?" seru rekan-rekannya.
"Milliar!" Suigetsu menggelengkan kepala, dia kembali bercerita. "Aku yakin yang mengambil uang itu…" Suigetsu memandang Sai dengan ekspresi tidak senang. "Dia hidup dengan sangat baik sekarang."
Sai tersenyum melihat ekspresi rekan di depannya ini. "Tapi…" Sai meletakkan gelasnya di meja. "Apa semua karyawan memanggil Presdir Sasuke dengan sebutan 'Tuan'?"
Suigetsu kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya, dia tidak pernah membiarkan mulutnya untuk istirahat, tangannya bergerak di depan Sai. "Uchiha Sasuke adalah raja di Mall Uchiha, Perusahaan besarnya." Jari telunjuknya kini menunjuk-nunjuk udara. "Itu sebabnya dia dipanggil 'Tuan'. Dia juga dikenal sebagai 'Firaun'—kejam," Sai mendengus geli sambil menunduk mendengar cerita rekannnya ini, Suigetsu masih melanjutkan ceritanya. "Tuan yang masih hidup sementara bertindak seperti Firaun.
"Jadi, bisa dimaklumi gadis yang diculik dengannya akan menjadi hantu gentayangan karena merasa tidak adil." Sai berhenti tersenyum dan menatap Suigetsu, pria di depannya mengangkat kedua tangannya. "Tuan…" dia meniru suara perempuan sambil meniru hantu-hantu yang di film-film, rekan-rekannya melihat aksi konyol Suigetsu. "Cari keadilan bagiku…"
Semua rekannya tertawa dan Sai kembali terkekeh sambil memutar-mutar gelas minumannya.
"Rumor mengatakan, dia menangis seperti itu sambil bergentayangan di Mall Uchiha." Suigetsu masih bercerita dan kembali duduk karena tadi sempat berdiri sebentar, Sai meminum minumannya. "Dan karena itu, aku tidak bisa tidur di malam hari." Ucap Suigetsu sambil mengangkat gelas minumannya dan mengarahkannya ke tengah. "Mari bersulang untuk itu. Tos!"
"Bersulang!" seru yang lainnya dan bunyi dentangan gelas menyertai mereka, Sai tidak ikut bersulang karena dia sedang meminumnya dan tentu saja ekspresinya kini sedang memikirkan sesuatu yang sepertinya sulit dijabarkan.
Semua rekannya kembali berbicara santai dan memilih topik lain lagi.
.
.
Sakura masih terduduk dan di depannya masih berdiri Sasuke yang menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, setelah menjelaskan atau memberitahu kemampuan Sakura kepada Sasuke, pria ini masih terdiam di depannya.
Sakura menatap lantai. "Ada kecelakaan dimana aku hampir mati, tapi entah bagaimana aku kembali hidup." Sakura bermaksud menjelaskan kejadian yang sudah menimpannya ini, dia masih menunduk, tidak berani menatap langsung mata onxy Sasuke. "Sejak itu…" Sakura memberanikan diri melirik Sasuke dari balik bulu matanya. "aku bisa melihat orang mati."
"Jadi, maksudmu kau melihat Yukie yang meninggal lima belas tahun lalu kemarin lusa?" tanya Sasuke, dan Sakura menatap Sasuke dengan anggukan mantap.
"Hari itu… saat kau marah padaku lalu pergi, saat itulah aku melihatnya."
.
Kejadian ini bermula saat Sakura ingin menemui Uzumaki Naruto dengan memberikan selembar kertas dan ternyata Sasuke yang menemuinya dan merobek selembar kertas itu.
"Jika dia mati, maka semuanya berakhir. Jangan mengganggu orang yang masih hidup." ucap Sasuke sambil menyebar serpihan kertas ke udara dan berbalik meninggalkan Sakura.
Sakura yang melihat serpihan itu menunduk lesu dan dia mendesah menatap punggung Sasuke yang kian menjauh, dia diam namun memikirkan ucapan Sasuke. Sakura juga tidak ingin mengangganggu kehidupan orang lain, dia sering diganggu oleh kehidupan orang yang sudah mati.
Siapapun tidak akan mau mengerti.
Sakura berjalan meninggalkan tempat dia berdiri dan saat dia sampai di jalan setapak menuju jalan raya, dia melihat Sasuke berdiri di dekat pohon, menyaksikan sarang laba-laba yang ada di batang pohon di depan Sasuke, pria ini menyaksikan laba-laba sedang memangsa kupu-kupu berwarna putih cantik yang terjebak di jaring laba-laba.
Ekspresi wajah Sasuke serius menatap predator kecil ini merangkak mendekati mangsanya, Sakura yang sedari tadi menatap Sasuke dari belakang menyadari ada sosok lain di depan Sasuke saat ini, Sakura menggerakkan kepalanya ke samping dan dia melihat sesosok gadis cantik berdiri tidak jauh dari Sasuke, gadis ini menatap Sasuke meski terhalang oleh sarang laba-laba.
Sasuke masih menatap sarang laba-laba itu dengan mengernyitkan wajahnya, kemudian dia mengangkat tangannya dan menghilangkan sarang laba-laba di depannya, itu bersamaan hilangnya sosok gadis cantik tadi di depannya.
Membuat Sakura menoleh ke kanan ke kiri mencari sosok itu.
Sasuke sudah meninggalkan tempatnya berdiri.
Itulah kejadian Sakura menemui sosok yang mengikuti Sasuke.
.
.
"Meskipun hanya sesaat… aku melihat gadis itu." Sakura menatap Sasuke, selesai dengan cerita bagaimana dia menemui sosok itu.
"Kau mau bilang, kau bisa melihat hantu?" Sakura mengangguk sambil mengerutkan bibir. Sasuke melihat sekelilingnya. "Apa di sini ada hantu sekarang?" tanyanya, dia kembali menatap Sakura. "Ada berapa?"
Sakura melihat sekelilingnya, dan dia berdiri saat melihat kursi goyang di dekat tiang lampu dan sebuah kincir angin bergoyang dengan sendirinya. "Lihat kursi yang di sana?" Sakura menunjuk kursi goyang, Sasuke masih menatap Sakura. "Apa kau melihat kursinya bergoyang dan kincir anginnya berputar meski tidak ada angin?"
Sasuke menatap kursi goyang dan kincir angin dengan santai. "Lantas?" tanyanya.
Sakura bersandar mendekatkan bibirnya ke telinga Sasuke, gadis ini berbisik. "Ada satu di sana." Dan sosok itu adalah seorang laki-laki berpakaian seragam sekolah, sosok itu memiliki mata hitam semua, dan bibir hitam, dia berjongkok di kursi goyang dan menggoyangkan kursi dan bermain memutarkan kincir angin. Itu yang dilihat Sakura.
Saat Sasuke melihatnya adalah kursi goyang kosong yang bergerak maju mundur dan kincir angin yang berputar. "Kau mau bilang… ada hantu di kursi itu?" tanyanya sambil beralih menatap Sakura.
Gadis ini masih menatap kursi di depannya. "Kadang mereka datang mencariku, atau menemukanku di jalanan. Aku berusaha mengabaikan mereka… tapi mereka terus mengikutiku." Sakura mulai menunduk dan mengenggam kedua tangannya di dada, sosok hantu laki-laki itu beralih menatap Sakura, gadis ini tersentak. Sasuke masih mendengar penjelesannya. "Kadang… mereka berbicara denganku." Sosok itu kemudian tersenyum lebar ke Sakura. "Dan kadang… mereka meminta bantuanku." Sosok itu turun dari kursi goyang dan membenarkan seragam sekolahnya yang dibuka semua kancingnya, sosok itu juga mengenakan kaos.
"Mereka terus mengikutiku, sehingga aku tidak bisa tidur." Suara Sakura mulai bergetar, Sasuke menatap kursi di depannya dan kursi itu bergoyang pelan, tidak seperti diawal dia melihatnya, dahi Sasuke berkerut. "Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Sosok itu berjalan mendekat ke Sakura dan tiba-tiba sudah berada di depan Sakura, gadis ini berteriak dan memegang lengan Sasuke.
Sekali lagi, Sasuke mengatupkan bibir saat Sakura tiba-tiba menyentuhnya, dia menatap kursi tadi lagi. Sosok itu juga menghilang dan kursi sudah berhenti bergoyang. Tangan Sakura masih memegang lengan Sasuke, dia melihat depan dan terperangah sambil melambaikan tangan satunya, memeriksa sosok itu tidak ada di depannya lagi.
Sakura memegang erat lengan Sasuke, membuat pria ini menghela napas sambil menutup matanya. Gadis ini menatap lengan Sasuke dan mendongak menatap pria di depannya. "Tapi, saat kupegang kau seperti ini, mereka akan menghilang." Ucap Sakura sambil mengusap-usap lengan atas Sasuke sampai bahunya, pria ini mengernyitkan wajahnya saat melihat tangan Sakura semakin menjadi menyentuh tubuhnya.
"Aku belum pernah bertemu orang sepertimu," Nada suara Sakura terdengar senang sekali, dia menatap Sasuke dengan mata berbinarnya. "Itu sebabnya kau spesial bagiku." Sasuke mengalihkan perhatiannya ke depan dan Sakura semakin merapat mendekat ke Sasuke. "Aku ingin tahu, apa artinya aku bagimu? Aku merasa…" Sasuke memutar matanya, Sakura masih mengoceh dan terus mengoceh dan masih menempel ke tubuh Sasuke semakin dekat. "aku bisa tidur nyenyak, dan hidup normal jika bersamamu.
"Aku ingin tetap bersamamu." Sakura tersenyum senang sambil menyandarkan dagunya ke lengan Sasuke.
Sasuke tersenyum miring sambil menunduk menatap Sakura yang berdiri di sampingnya. "Kau begitu ingin bersamaku?" Sakura tersenyum sambil mengangguk, masih bersandar di lengan Sasuke. "Kenapa tidak bilang saja, kau pemilik gedung ini? Jika iya, aku akan mau denganmu, karena apa? Gedung ini sangat mahal sekali." Sasuke kemudian menyentak lengannya dan Sakura menjauh darinya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Sasuke membersihkan jasnya.
Sakura menutup bibirnya dengan kedua tangannya, dia mulai merengek. "Aku benar-benar sangat menderita." Gadis ini menurunkan kedua tangannya di depan bibir. "Kau mungkin tidak tahu bagaimana rasanya karena kau tidak bisa melihat dan mendengar mereka, tapi aku sangat ketakutan." Sakura menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan merengek lagi.
"Aku tidak takut akan sesuatu yang tidak bisa kulihat dan kudengar. Kaulah yang kutakutkan, yang bisa kulihat dan kudengar."
Sakura menurunkan telapak tangannya dan menatap Sasuke, pria ini menatap Sakura dan melirik ke arah kursi goyang. Setelah itu, Sasuke beranjak dan berjalan menuju kursi goyang, pria ini melihat sejenak kursi goyang dan kincir angin yang ada di atasnya lalu berbalik menatap datar Sakura.
"Kau takut dengan kursi ini karena terus bergerak?" Sasuke menginjak bagian bawah kursi goyang dan bergeraklah kursi itu dan tangannya memukul keras kincir angin dan menyebabkan kincir angin itu bergerak di atasnya, Sasuke memandang Sakura yang kaget dengan perbuatan berani Sasuke, gadis ini masih mengatupkan kedua tangannya di depan mulut, dia meringis melihat aksi Sasuke. "Bagaimana? Apa ini membuatmu lebih takut?"
"Kau…" Sasuke berbicara sambil berjalan mendekat ke arah Sakura. "Jika kau menggangguku lagi, maka aku akan membuatmu lebih takut." Sasuke sudah melewati Sakura, namun bunyi kincir angin dan kursi goyang berhenti, membuat Sasuke ikut berhenti karena tidak lagi mendengar bunyi berisik kincir angin yang dia gerakkan tadi. Pria ini menoleh dan menatap kursi goyang dan kincir angin dengan wajah mengernyit.
Sakura jelas kaget dan menduga ini akan terjadi, dia masih mengaitkan kedua jari tangannya. Sosok yang tadi menghilang tadi kini kembali lagi, dan dia menghentikan benda benda yang digerakkan Sasuke, sosok itu menggelengkan kepala mendengar ucapan Sasuke, dan hal ini membuat Sakura semakin takut.
"Tidak peduli bagaimana kau akan membuatku takut… menurutku tidak akan lebih menakutkan dari apa yang kulihat sekarang." Sakura menatap sosok itu dan sosok itu menyeringai ke arahnya, Sakura mengatupkan kedua tangannya lagi, Sasuke sendiri menatap Sakura dengan wajah masih mengernyit. "Aku akan kabur dan tetap di sampingmu."
Sakura mendekat ke Sasuke, dan pria ini langsung menjauh sambil menyipitkan mata menatap Sakura. "Jadi, bukan karena aku punya banyak uang atau karena aku sangat tampan." Sakura sudah memegang lengan Sasuke lagi, gadis ini memuja pria di depannya ini, dia ingin tempat untuk bersembunyi. "Kau ingin bersamaku karena takut dengan hantu?" Sasuke tersenyum dengan ucapannya, dia mengangguk sambil menatap Sakura. "Bukankah itu cara pendekatan yang sangat baru."
"Itu lebih seperti pendekataan yang menyedihkan." Ucap Sakura, dia mulai mengernyitkan wajah dan merengek. "Aku sangat kesepian dan menyedihkan karena terus menjalani hidup seperti ini." Sakura menyandarkan lagi kepalanya ke lengan Sasuke, dan pria ini harus mencium rambut Sakura yang belum dikeramasnya itu.
Wajah Sasuke menjauh dari rambut Sakura dan menggeleng, menghilangkan bau yang membuatnya ingin pingsan ini, dia menarik napas dan menahannya. Sasuke menatap Sakura sambil memasang senyum. "Dengar… Nona Haruno Sakura." Sakura mendongak dari sandarannya dan Sasuke melanjutkan. "Bahkan ketika gadis terkenal Candy (karakter dalam kartun) yang ingin mendekati pria kaya, tidak peduli betapa kesepian dan sedihnya dia…" Sasuke menghilangkan senyumnya dan menghentak tangannya sehingga tangan Sakura terlepas dan gadis ini menjauh dari jangkauannya, Sasuke masih melanjutkan ucapannya.
"Dia selalu mengikat rambutnya sebelum mendekati pria." Sasuke menaruh kedua tangannya di sisi kanan dan kiri pelipisnya, membuat gestur bentuk kuciran rambut. "Cucilah rambutmu yang bau itu, dan cepatlah sadar."
Sakura menunduk sambil mendesah. "Kau melihatku sebagai gadis miskin yang mencoba merayu pria kaya, bukan?" Sasuke menyerah, dia kesal harus menjelaskan lagi ke Sakura. dan gadis ini menatap Sasuke dengan senyum lima jarinya. "Aku akan mencobanya." Sakura membawa kedua tangannya ke kepala, dia mengikat rambutnya menjadi dua, kanan dan kiri sambil memiringkan kepala ke arah Sasuke, masih dengan senyum senangnya. "Tidak bisakah aku menjadi Candy-mu?"
"Hanya karena kau mencobanya…" Sasuke bersandar mendekat ke Sakura dengan senyum miringnya. "kau pikir kau bisa merayuku?" Senyum Sakura hilang. "Kenapa kau tidak mencoba memikat teman hantumu? Kau gadis Candy mesum dengan rambut kotor."
Sakura menyisir rambut dengan tangannya dan dia tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri. "Nona Haruno." Ucap Sakura masih tersenyum ke arah Sasuke. "Haruno Sakura. Namaku Nona Haruno—Musim Semi."
"Nona Haruno?" ulang Sasuke sambil mengangguk. "Jika kau Musim Semi…" wajah Sasuke berubah datar sambil menggeleng. "…maka aku tidak mau merasakan Musim Semi lagi." setelah itu Sasuke berbalik meninggalkan Sakura.
Gadis bersulai merah muda ini tersenyum memandang punggung Sasuke. "Musim Semi akan datang, dan aku akan tetap di sampingmu." Sakura meletakkan kedua tangannya kedua sisi bibirnya, senyumnya tidak luntur. "Lain kali aku akan mencuci rambutku!" teriaknya ke arah Sasuke.
Pria ini mengabaikan Sakura dan turun melalui tangga yang dilaluinya tadi, dia menyesal datang ke sini, setelah sampai di bawah, Sasuke masih menggelengkan kepala karena sia-sia saja dan buang-buang waktunya.
Sesampainya di mobilnya, Kakashi ternyata di luar menunggunya. "Sasuke-sama," Sasuke berhenti membuka pintu mobil dan menatap sekretarisnya ini. "Apa sudah selesai dengan Nona Haruno?" Sasuke menatap Kakashi dan pria ini kembali berucap. "Maksudku, apa kau bertemu Nona Haruno Sakura?"
Sasuke segera menunjuk mulut Kakashi, memintanya untuk tidak melanjutkan ucapannya lagi. Sasuke berbalik dan mendongak menatap ke lantai sepuluh, Sakura ternyata sedang menatapnya di balik tembok yang menjulang sampai ke dadanya. Sakura menatapnya dalam diam, begitu juga Sasuke.
Dan Kakashi ikut memandang ke arah lantai sepuluh.
"Aku seharusnya tidak pernah datang kesini. Ayo!" Sasuke masih menatap Sakura di atas sana.
Kakashi yang mendengar ucapan Sasuke langsung bergegas membuka pintu untuk Sasuke, dan pria ini berbalik memasuki mobilnya, Kakashi menutup sambil menatap sejenak ke arah Sakura, pria berambut perak ini kemudian masuk ke bangku pengemudi.
Sakura memandang mobil yang mulai perlahan bergerak meninggalkan Apartementnya.
Sai, yang baru saja pulang dari perkumpulan petugas atau rekan kerjanya di Mall Uchiha berhenti di ujung jalan karena melihat mobil Presdir tempatnya bekerja terparkir di halaman, dia menatap Sasuke saat pria ini memasuki mobilnya dan berlahan mobilnya meninggalkan wilayah ini dan juga melewatinya.
"Apa yang mau dia dilakukan di sini?" Sai bergumam sambil berpikir memandang jalan setapak.
Kemudian Sai beralih memandang ke arah lantai sepuluh yang masih terlihat Sakura memandangi mobil yang bahkan sudah berbelok itu, Sakura masih diam memandang bawah, dia tidak menyadari Sai di sana, dia mendesah sepeninggalan Sasuke dari Apartementnya dan Sai memikirkan sesuatu, karena setelah itu pria ini berjalan lagi memasuki Apartement.
Sakura kembali mendesah, dia menjauh dari pinggiran balkon. "Mungkin dia sudah menganggapku gila?" Gadis ini merajuk dan duduk di tempat kasur tadi. "Tapi, aku benar-benar bisa melihat mereka(hantu)."
Sakura duduk termenung memikirkan kejadian tempo hari yang membuatnya melihat gadis cantik yang berdiri tidak jauh dari Sasuke, Sakura yakin dia melihat gadis itu memandang ke Sasuke dengan ekspresi sedih.
Wajahnya mengernyit mengingat nama gadis ini. "Yukie?" Sakura menautkan kedua tangannya di atas paha. "Aku juga benar-benar melihat gadis itu, dan berdiri di sampingnya." Sakura meremas rambutnya dan mengacak-acaknya. "Aku hanya perlu tempat persembunyiaan, kenapa dia mengataiku merayunya," Sakura mencium rambutnya dan mengernyit. "Aku juga perlu mencuci rambut ini."
.
.
.
Suasana di dalam mobil masih hening, Kakashi beberapa kali melirik Sasuke dari kaca spion di atasnya, Sasuke sendiri memandang jendela.
"Apa kau baik-baik saja, Sasuke?" Kakashi mencoba menanyakan suasana hati Sasuke saat ini.
"Hn, aku hanya perlu pulang dan membuat kopi maka suasana hatiku akan baik-baik saja."
Kakashi mengangguk. "Baiklah." Setelah itu dia tidak mengatakan apa-apa, suasana kembali hening sampai Kakashi mengantarkan Sasuke di depan Apartement mewahnya.
Sasuke berjalan menuju kamarnya dan segera mandi, dia hanya perlu air panas untuk menghilangkan lelah ditubuhnya, tubuh atletis Sasuke yang terawat kini dibasahi air yang turun dari shower. Perut sixpack yang tertutupi dibalik kaca yang beruap karena air panas membuat pipi siapa saja akan merona jika melihat memandang seperti ini.
Pria ini selesai mandi dan memakai celana training panjang gelap dan membungkus badan tegap kekarnya dibalutan sweater berwarna biru gelap, Sasuke mengeringkan rambutnya sejenak dan berlalu berjalan ke dapur untuk membuat kopi.
Arsitektur Apartement Sasuke benar-benar menakjubkan, seperti halnya dia membangun Mall dengan asitektur yang canggih, di dalam rumahnya pun diisi dengan barang-barang mahal dan canggih, Sasuke berjalan ke tempat mesin kopi berada, dia sangat suka kopi hitam tanpa gula. Benar-benar ciri khasnya.
Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam.
Dan kopi buatan Uchiha Sasuke siap untuk dicicipi, dan siapapun tidak mau mencobanya karena kopi itu pastilah sangat pahit. Tapi Sasuke meminum kopi itu seperti halnya meminum minuman yang paling enak di dunia.
Sasuke berjalan menuju ruang tengahnya masih dengan meminum kopinya dan dia dikejutkan dengan gorden yang tiba-tiba terlepas sendiri ikatan talinya. Sasuke melirik sebentar ke arah gorden dan menoleh menatap gorden itu beberapa detik.
"Di sana. Di sana ada satu."
Ucapan Sakura terngiang di kepalanya saat memandang gordennya.
Sasuke berjalan mendekat ke arah gorden, dia berlahan membawa tangan kanannya yang bebas dari gelas dan menyibak dengan kasar gorden itu. Sasuke berdecak.
"Jika hantu memang ada…" Sasuke menatap dirinya di jendela. "…maka aku ingin memanggil mereka." Matanya berubah tajam menatap pantulan dirinya di jendela. "Memanggil Fujikaze Yukie." Ucapnya dengan ekspresi marah dan kemudian Sasuke menutup jendela dengan gorden digenggamannya tadi.
Suasana di salah satu sekolah dipinggir Konoha, terdapat Sekolah Menengah Atas khusus perempuan, di salah satu kelas sedang mengadakan kelas tambahan dikarenakan untuk menghadapi ujian akhir nanti, kelas itu minim pencahayaan jika di lihat dari luar. Namun jika dilihat lebih dekat lagi, bisa dilihat bahwa di dalam kelas tersebut sedang melakukan aktivitas di tengah ruangan, dengan pencahayaan dari lilin.
Jika dilihat lagi, ada dua orang perempuan yang sedang memainkan sesuatu, sebagian teman-temannya ada yang menonton aksi kedua perempuan itu dan ada juga yang tertidur. Aksi kedua perempuan itu membuat suasana di dalam kelas yang sudah minim cahaya menjadi mencekamkan dikarenakan ucapan salah satu orang gadis.
"Arwah… arwah… datanglah." Ucap gadis itu. "Arwah… arwah… datanglah." Gadis itu masih mengucapkan kalimat itu.
Gadis itu bernama Shizuka, dia bersama salah satu temannya memegang sebuah pena berwarna merah, di bawah pena yang mereka putar, terdapat kertas dengan gambar lingkaran besar dan tanda silang besar yang dipisahkan garis lurus, Shizuka dan temannya itu memutar pena itu di atas kertas, masih mengucapkan ucapan yang keluar dari mulut Shizuka.
"Arwah… arwah… datanglah." Begitulah Shizuka membuat suasana yang sudah sepi menjadi mencengkamkan karena membuat bulu di tengkuk leher menjadi merinding. Shizuka masih mengucapkan kalimat itu. "Arwah… arwah… datanglah."
Berbeda dengan Shion, gadis cantik yang duduk di sebelah Shizuka ini menatap permainan temannya ini dengan alis terangkat tinggi. "Sedang apa mereka?" tanyanya dengan melipat tangannya di dada, meski begitu dia melihat pena yang diputar-putar oleh Shizuka dan teman lainnya di depan Shizuka saat ini.
Karui. Gadis berkulit hitam namun terlihat manis ini menanggapi pertanyaan Shion yang duduk di belakangnya, dia pun ikut menonton pertunjukan yang dilakukan Shizuka. "Mereka memanggil arwah, Ayame."
Gadis berkacamata bernama Shiho membelalak menatap Karui, karena nyatanya, salah satu teman mereka yang bernama Ayame itu telah meninggal kemarin karena kecelakaan.
"Kenapa dia memanggil arwah, Ayame?" ucap Shiho, raut wajahnya mulai takut karena dia merasa tidak nyaman dengan suasana yang mencekam seperti sekarang ini. Ditambah, tempat duduk Ayame berada di belakang Shion dan Shiho, di meja Ayame terdapat foto dan juga bunga untuk ucapan berbela sungkawa dari satu kelasnya.
Shizuka sendiri tidak mempedulikan ocehan ketiga orang yang duduk di samping bangku itu, dia tetap melanjutkan ucapannya. "Arwah… arwah…" pena yang digerakan Shizuka berhenti berputar dan berhenti di tengah garis lurus yang memisahkan lingkaran besar dan tanda silang tadi. teman yang ikut memutar pena itu pun memandang pena. "Kau sudah datang?" ucap Shizuka lagi.
Pena itu bergerak digambar lingkaran besar, Shion diam memperhatikan itu, Shiho semakin panik dan Karui tenang memperhatikan. Pena itu berhenti bergerak dan pena itu berhenti di tengah-tengah lingkaran, yang menandakan bahwa... "Dia ada di sini." Shizuka berucap lagi, bahwa arwah itu telah datang menyanggupi panggilannya.
Suasana semakin senyap, dan di lorong, di luar kelas, terdapat sosok yang berjalan mendekat perlahan ke arah kelas yang sedang melakukan ritual yang bisa dikatakan tidak wajar.
Kembali ke Shizuka, pena itu bergerak lagi dan berhenti di garis lurus, seolah-olah pena itu menjawab pertanyaan yang diajukkan oleh Shizuka.
Shiho, dibalik kacamata bundarnya merasa semakin takut dengan kegiatan Shizuka.
"Apa kau…" Shizuka menatap tajam pena di genggamannya, "Ayame?" pena itu kembali bergerak dan menuju ke kolom lingkaran besar, menandakan bahwa jawabannya adalah 'iya'. Dan jawaban ini membuat sebagian orang-orang yang merasa suasana semakin tidak enak dan mereka melihat sekeliling ruangan, Shion bahkan menahan napas.
Karui memandang kedua temannya, meski wajahnya tenang, dia sedang merasa takut sekarang. "Itu benar Ayame."
"Mereka hanya bercanda, jangan dipedulikan" Shiho yang takut menanggapi Karui dengan ucapannya yang tergagap sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa kau mati?" Sekali lagi, Shizuka tidak mengindahkan ocehan yang terjadi di sampingnya, dia tetap melakukan permainan di luar kewajaran ini. "Apa orang yang bertanggung jawab atas kematianmu…" Shizuka berhenti berbicara dan melirik ke arah Shion dan lainnya duduk. "…ada di ruangan ini? Beritahu kami."
Shion maupun Shiho menatap pena itu dengan ketakutan yang semakin terlihat, dan sesosok yang berjalan tadi kini telah sampai di depan kelas yang suasananya berubah menakutkan dan menyesakkan.
"Apa dia… ada di sini?" Shizuka terus memancing arwah Ayame untuk menjawab pertanyaannya. Dan pena yang ada di genggamannya bergerak-gerak, Shizuka menatap ke pena itu. "Kami tanya, apa yang bertanggung jawab atas kematianmu ada di ruangan ini?"
Karui menatap permainan itu dengan tenang, dia mampu menyembunyikan ketakutannya, berbeda dengan Shion dan Shiho yang napasnya mulai memburu karena dadanya berdebar ketakutan. Pena yang digenggam Shizuka dan temannya itu bergerak, dan gerakkan pena itu mengarah ke arah ketiga gadis yang duduk bersampingan dengan Shizuka.
Shion tersentak kaget, Karui menatap Shion dan Shiho yang menutup mulutnya karena terkejut. Pena itu masih mengarah ke mereka bertiga, Shizuka menatap sinis ke mereka.
Sampai suara gesekkan pintu kelas membuat mereka yang di dalam kelas berteriak karena kaget, sosok itu masuk dan menekan tombol lampu, kelas kembali bercahaya. Ternyata sosok itu adalah wali mereka.
Mendapati semua muridnya terlihat kaget dan tidak duduk di tempatnya, membuat sang wali ini mengenyitkan wajah. "Apa yang kalian lakukan? Kembali ke tempat duduk kalian." Ucapnya, dan semua murid kembali ke tempat masing-masing, wanita itu berbalik menutup kembali pintu geser di belakangnya.
Shion masih terkejut dengan kejadian barusan, bahkan dia terengah-engah karena kaget. Dia menatap depan dan mengatur napasnya, karena kelas akan segera dimulai. Karui yang terganggu menoleh ke belakang.
"Apa menurutmu Ayame benar-benar di sini?" tanyanya ke Shion.
Shion yang melipat kedua tangannya di atas meja menatap Karui dengan tatapan bosan. "Jangan menanggapi lelucon seperti itu."
Shiho membenarkan kacamatanya dan menarik buku. "Sudah, sudah, kita lupakan kejadian tadi, sekarang kita belajar saja."
Karui terdiam dan berbalik menghadap depan.
Namun, dari luar jendela, ada sosok berseragam sama dengan satu kelas itu, sosok itu terbang di udara dan berhenti di jendela dekat dengan tempat duduk Shion, Shiho dan Karui berada. Karui memandang keluar jendela, namun gadis ini tidak bisa melihat sosok itu.
Tapi, sosok itu memandang ketiga gadis itu di luar kelas dan masih melayang.
Karui yang masih memandangi luar jendela mendapati ponselnya bergetar di atas mejanya, dia sontak menoleh dan membuka pesan gambar yang terkirim kepadanya.
Dia membuka gambar yang dikirimkan kepadanya dan tersentak kaget, dia segera menoleh ke belakang. "Ini Ayame."
"Apa?" Shiho yang sedang mengerjakan tugas mendongak sambil membulatkan mata, Shion sendiri sedang menggigit jarinya.
Detik berikutnya, kedua ponsel gadis cantik ini berbunyi, Shion dahulu dan kemudian Shiho.
Shion membuka gambar yang dikirimkan kepadanya, Shiho pun sama, dia membukanya dan tersentak kaget. Dia berteriak dan menjatuhkan ponselnya, dia melihat sekelilingnya dan menutup mulutnya karena semua orang kini menatapnya. Gambar yang dikirimkan ke ketiga gadis ini adalah, foto mereka bertiga dan terdapat sosok wajah di belakang mereka. Ini membuat Shion kembali bernapas terengah-engah karena terkejut.
Dan saat Shiho mengambil ponselnya, figura yang terdapat di meja Ayame terlihat.
Foto gadis cantik yang sedang tersenyum, menghadap ke depan kelas.
oOo
Keesokkan harinya, foto itu tersebar luas, dan saat Izumi membuka iPadnya, dia segera menghubungi atasannya, Uchiha Itachi, gadis cantik ini mengetuk pintu kantor yang menjadi Direktur di Mall Uchiha ini.
"Masuk," ucap Itachi dari dalam. kemudian Izumi masuk dan Itachi mendapati raut wajah panik Izumi membuatnya mengernyitkan dahi. "Ada apa?" tanyanya.
"Kau harus melihat ini, Direktur."
Izumi menyerahkan iPad miliknya dan Itachi melihat gambar yang ditunjukkan kepadanya. Detik berikutnya, pria berparas tampan ini menatap Izumi dan segera berdiri dari tempat duduknya.
"Kau ikut aku." Pria ini menyerahkan iPad ke Izumi lagi dan keluar kantor bersamaan dengan sekretarisnya ini.
Pria ini berjalan cepat keluar dari kantornya dan turun menggunakan eskalator menuju lantai bawah Mall Uchiha, dia berdiri menatap Pancuran yang terdapat di lantai satu ini.
"Apa foto ini diambil di depan Pancuran Mall Uchiha kita?"
Izumi mendekat dan berdiri sejajar dengan Itachi, gadis cantik ini menyerahkan kembali iPadnya ke Itachi. "Ya. Foto ini sudah tersebar di Internet sekarang." Jelas Izumi sambil melambaikan tangan ke depan.
Itachi kembali menatap gambar di iPad dan beralih menatap Pancuran di depannya, dia merasa kurang yakin. "Bukankah foto ini terlihat buram?" ucapnya, Itachi dan Izumi meneliti dengan seksama gambar foto. "Kau tahu, terkadang ada cahaya dalam foto jika kamera tidak fokus."
Izumi terlihat tidak setuju dengan pendapat atasannya ini. "Tapi, lihatlah gambar gadis yang lain dalam foto ini, mereka tertangkap dengan jelas." Komentarnya, "Dan, bukankah menurutmu posisi gadis itu berdiri sedikit aneh?" Izumi mengomentari sosok berwajah tidak jelas di belakang ketiga gadis yang berfoto dengan gaya lucu mereka. "Perhatikan ini!"
Izumi membawa iPadnya dan berjalan mendekat di pinggiran Pancuran dan berdiri tepat di posisi yang sama dengan gambar yang dia perlihatkan ke Itachi. Izumi memprediksi gadis ini berdiri di mana dan dia melambaikan tangannya sambil menoleh ke Itachi. "Mereka berdiri di sini saat foto sedang diambil."
Itachi mengangguk. "Kau benar," dia melipat tangannya di depan dada. "Tidak mungkin dia masuk ke dalam air untuk mengambil foto itu." Dan Itachi teringat akan suatu hal, dia melepas lipatan tangannya. "Kalau begitu… apa itu berarti benar-benar hantu?"
Izumi berbalik menatap Itachi. ""Jika foto ini asli… maka berarti ini adalah foto paranormal."
Itachi kembali mengangguk. "Kurasa kau benar, dan kupikir kita sebaiknya memberitahukan hal ini ke Sasuke." Izumi mengangguk dan Itachi berjalan ke kantor keponakannya itu.
.
Sasuke yang sedang duduk di kursi kebesarannya disibukan dengan laporan dan rekaman suara yang diberikan oleh Kakashi kepadanya. Dan suara langkah kaki yang mendekat ke mejanya membuatnya menghentikan aktivitas kerjanya, Sasuke menatap datar pamannya yang berjalan mendekat.
"Ada apa?" ucap Sasuke sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya yang saling bertautan.
Itachi langsung menyerahkan selembar foto yang diletakkan di papan ke arah Sasuke. "Kau harus melihat ini, ketiga gadis ini berfoto dan ada hantu yang muncul di foto mereka," Sasuke menerima foto itu dan mengernyit menatapnya. "Itu foto paranormal."
Sasuke meletakkan papan itu dengan keras. "Apa maksudmu, foto paranormal?" dahi Sasuke mengerut dengan ucapannya sendiri. "Apa itu masuk akal?"
"Aku sudah mencobanya sendiri." Itachi berjalan dari ujung meja ke tengah meja Sasuke dan menatap pria di depannya. "Kecuali dia hantu…" Itachi bersandar mendekat ke Sasuke. "... maka tidak mungkin baginya ada dalam gambar itu."
Sasuke bersandar ke sandaran kursinya. "Aku yakin foto ini direkayasa." Bantahnya, Sasuke dan pemikirannya yang realistis pastinya dengan mudah mengeluarkan ucapan ini, karena baginya hal ini tidaklah masuk akal dan penuh dengan omong kosong. "Kau tentunya ingat, citra perusahaan kita sudah rusak sejak pembatalan pernikahan Yamanaka Ino." Sasuke menunjuk dan mengetuk-ngetuk foto di mejanya. "Dan kini, kita harus mendapatkan masalah tidak masuk akal ini juga?"
Itachi yang masih bersandar mendekat ke Sasuke kini mendesah, mau dijelaskan seperti apapun, keponakannya ini tidak akan pernah mendengar, apalagi yang keluar dari mulutnya. Tidak satupun yang akan didengar Sasuke.
Sasuke kembali meletakkan tangannya di atas meja dan bersandar mendekat ke Itachi. "Direktur Itachi, beginikah caramu mengatasi masalah?"
Itachi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku sudah meminta agar foto ini dihapus dari Internet." Ucap Itachi, pria ini kemudian melambaikan tangan. "Tapi, karena insiden ini, Mall Uchiha menjadi urutan pertama dalam situs pencarian." Sasuke mendengus dan memandang arah lain, Itachi masih belum selesai berbicara. "Paranormal Mall Uchiha dan Hantu Mall Uchiha." Itachi tertawa, dia tidak melihat Sasuke yang kini ikut tertawa dengannya, atau lebih tepatnya tertawa terpaksa. "Semua karyawan berasumsi ini sangat menarik." Itachi semakin tertawa sambil melipat tangannya di dada.
"Kau merasa ini menarik?" Sasuke tertawa, Itachi terdiam kemudian saat mendengar suara tawa Sasuke, Sasuke sendiri saat ini sedang menyeringai, dia melihat foto dan mengetuknya lagi. "Kau menikmati…situasi ini?" senyumnya hilang dan wajah datar yang terpasang saat ini, ekspresi tadi hanya bualan semata.
Itachi berdeham. "Maksudku…" tangannya menunjuk dan berdesis. "…hantu memang menakutkan. Tapi, itu cukup menarik juga."
Sasuke muak, dia menggebrak mejanya dan berdiri, dia berjalan ke arah jendela besarnya, di sana terdapat terompong berwarna emas dan berdiri kokoh menghadap luar jendela.
"Bukan waktunya tertarik dengan hantu sekarang." Sasuke berucap sambil menyibak membuka gorden yang menutupi jendela kantornya. Sasuke mendekat ke teropongnya dan meneropong melihat bangunan di depannya. "Mall besar yang akan berdiri di jalan kejayaan Mall Uchiha akan terus naik lantai demi lantai setiap hari. Dan itu akan dibuka dua bulan lagi."
Sasuke terus menerepong dan Itachi mendekat, berdiri di samping Sasuke. "Ada sesuatu di depan kita yang jauh lebih menakutkan dari hantu." Pria ini masih terus meneropong.
Itachi berkacak pinggang dan menatap di luar jendela. "Hanya tinggal dua bulan lagi?" ucap Itachi, Sasuke sudah selesai meneropong. "Mereka membangun cepat sekali." Tangan Itachi ingin meraih teropong Sasuke, namun pria ini sudah menyingkirkan teropong itu dari jangkauan Itachi.
Itachi menatap Sasuke, pria ini masih memasang wajah seriusnya. "Kau harus fokus jika kau tidak mau kehilangan pekerjaan dalam dua bulan ini." Itachi menyerah, dia mendesah dan kembali memasukan kedua tangannya ke dalam saku. "Beritahu karyawan, jangan terpancing dengan cerita hantu. Suruh mereka untuk memancing para pelanggan. Buat pelanggan agar menghabiskan uang mereka." Itachi menatap Sasuke. "Uang mereka!" Sasuke berseru dan Itachi menjauhkan kepalanya karena merasa ngeri mendengar suara Sasuke.
Sasuke kembali meneropong ke luar jendela, dia terperangah karena saingannya akan membangun Mall lebih tinggi darinya. Dan dibandingkan apapun, hal ini lebih menakutinya daripada hantu.
Seperti yang sudah diketahui dari awal, bahwa foto itu sudah tersebar di Internet, kini ada dua petugas keamanan Mall Uchiha yang sedang melihat potret itu dan membahas foto tersebut.
"Apa menurutmu ini asli? Maksudku, hantu ini?" ucap salah satu petugas keamanan.
Di sampingnya, ada Suigetsu yang sedang memakan hotdognya. "Itu asli, kau tidak lihat bagaimana sosok di belakang itu."
Pria di samping Suigetsu mengangguk. "Yeah, kurasa kau benar. Dan kau tahu, aku kenal seseorang yang bekerja di Stasiun TV. Haruskah kuserahkan ini kepadanya?" Suigetsu yang memakan hotdognya dan salah satu tangannya yang memegang ponsel membelalak menatap rekannya. "Kudengar akan diberi hadiah jika ceritanya terpilih."
Suigetsu merentangkan tangannya dan mereka berhenti berjalan. "Bung, dengarkan aku," Suigetsu menunjuk ponselnya dengan tangannya yang memegang hotdog. "Foto ini punyaku. Dan dia adalah hantuku." Suigetsu menunjuk dirinya sendiri dengan mulut penuh hotdog. "Punyaku. Jangan konyol." Suigetsu menunjuk rekannya itu dan tertawa, petugas keamanan itu hanya mengerutkan dahi menatap Suigetsu.
Karena siapun tahu, foto itu bukan milik siapapun, dan untuk apa pria berambut violet ini mengaku-ngaku foto ini miliknya karena berada di ponselnya.
Suigetsu kemudian meninggalkan rekannya itu, petugas itu hanya menggeleng. "Baik, baik, itu punyamu." ucapnya sambil menyusul Suigetsu.
Dan seorang gadis berambut merah jambu terlihat setelah kedua petugas itu pergi meninggalkan tempat mereka tadi, gadis ini tidak lain adalah Sakura yang kini berada di Mall Uchiha, dia hanya iseng berjalan-jalan menikmati hari karena memang dia pengangguran.
Tidak semua tahu penderitaannya.
Sakura berjalan-jalan di lantai satu, saat dirinya berbelok, pandangannya terhenti saat melihat papan pengumuman yang terletak di samping Pancuran yang sedang ramai dibicarakan itu. Sakura berhenti di depan papan itu dan membacanya.
Mall Uchiha:
Mencari Karyawan Paruh Waktu.
Dan senyum Sakura terukir.
.
.
.
Sakura berjalan di jalan setapak yang dia lewati dengan senyum yang tidak henti-hentinya keluar, dia sedang menuju kafe tempat kakaknya bekerja.
Dia sudah sampai dan masuk ke dalam kafe, dia menemukan gadis berambut merah darah dengan kacamata membingkai wajahnya sedang membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan pelanggannya.
Karin menaruh gelas-gelas di nampan yang dia bawa, dia mengelap meja sampai bersih. Karin berbalik setelah pekerjaannya selesai, dan…
"Astaga!" Karin tersentak kaget karena mendapati Sakura berdiri di depannya dengan seringai lima jari dan lambaian tangan ke arahnya.
"Hai kak."
"Haruno Sakura, kau membuatku kaget!" ucap Karin, dan gadis merah muda ini menanggapinya dengan menyeringai. Karin menatap Sakura dari atas sampai bawah. "Apa yang kau lakukan di siang hari begini, kau seharusnya tidur. Apa kau datang mencariku?"
Sakura menggeleng dan tersenyum. "Tidak, kak," Karin menaikkan sebelah alisnya. "Aku…" Sakura berhenti bicara dan bersandar mendekat ke Karin. "Aku baru mendapatkan pekerjaan di Mall Uchiha."
"Apa?!" Sakura terkekeh melihat Karin terkejut. Gadis berkacamata ini mendesah sambil membenarkan kacamatanya. "Kau duduk di luar, aku akan menyusulmu setelah mengembalikan ini."
Sakura mengangguk. "Baiklah, aku akan memesan minuman terlebih dahulu."
Karin mengangguk dan berlalu masuk ke dalam kafe, Sakura berjalan menuju tempat pemesanan, dia memilih kopi hitam dan tentu saja ada rasanya, dia membeli dua gelas besar, seorang kafetaria tersenyum setelah menyerahkan pesanan kepada Sakura dan dibalas oleh gadis musim semi ini.
Sakura berjalan keluar kafe untuk mencari tempat duduk, dia menemukan tempat di ujung. Sakura meletakkan kedua gelasnya di atas meja dan menunggu kakaknya datang.
Beberapa menit kemudian Karin berjalan mendekat ke meja Sakura sambil membawa nampan.
"Sekarang. Bisa kau ulangi ucapanmu tadi?"
Sakura terkekeh. "Aku diterima bekerja di Mall Uchiha, kak."
Karin menghela napas. "Sakura… aku belum lama menjadi Manajer di sini." Raut khawatir terpasang di wajah Karin. "Jika kau diseret polisi atau dibawa ambulans lagi. Maka aku tidak bisa lagi bekerja di sini."
"Karin-nee, itu tidak akan terjadi di sini." Ucap Sakura sambil menggeleng, dia bersandar mendekat ke Karin. "Karena ada sesuatu yang spesial di sini." Sakura tertawa dan menutup kedua mulutnya dengan kedua tangannya yang terkepal.
"Kenapa?" Karin melihat sekeliling kafe dan menatap kembali ke Sakura. "Apa kau tidak bisa melihat hantu jika berada di sini?" tanyanya semangat, jelas sekali kalau Karin senang jika mengetahui hal itu benar.
"Aku tahu tempat bersembunyi, dimana aku tidak bisa melihat mereka." Sakura terkekeh sambil mengambil gelas minumannya dan meminumnya.
Karin mendesah sambil melihat gelas yang sama dengan Sakura. "Tapi, kenapa kau minum dua gelas kopi?" tanya Karin, Sakura menatap kakaknya yang sudah memasang wajah khawatir. "Itu karena kau terlalu mengantuk untuk tetap terjaga di siang hari, 'kan?"
Sakura yang masih menyeruput minumannya menggelengkan kepala. "Tidak." Dia mengambil gelas minuman itu dan membuka penutup gelasnya. "Ada bocah… yang terus mengikutiku, dia meminta kepadaku untuk minum kopi. Jadi, aku memesan ini untuknya juga." Sakura meletakan penutup gelas tadi dan ternyata sosok itu sudah duduk di samping Sakura, sosok itu yang dilihat semalam oleh Sakura saat Sasuke mengunjunginya malam itu, bocah laki-laki yang memutar kincir angin dan menggerakan kursi goyang.
Saat Sakura meletakkan kembali minumannya di atas meja, Karin menganga dengan dahi berkerut. Ternyata adiknya membawa hantu di tempat kerjanya. Dan bocah laki-laki itu menghirup kopi yang menguar dari dalam gelas, dia menatap Sakura dan menyeringai, Sakura sendiri mengedikkan kepala ke arah hantu itu sambil tersenyum.
Karin menatap Sakura masih dengan mulut menganga, Sakura mengambil minumannya. "Kak, aku pergi dulu." Sakura berdiri dan meninggalkan Karin dengan hantu di depannya, meski dia tidak bisa melihatnya, tetap saja itu membuatnya takut.
"Hei! Hei, Sakura! Kenapa kau meninggalkannya begitu saja?!" Sakura melambaikan tangan dan berlalu pergi, Karin menghela napas sambil menatap gelas yang dibuka Sakura tadi, dengan tangan sedikit gemetaran Karin memindah gelas itu ke nampan dan membawanya masuk ke kafe lagi.
Di belakang sekolahan, sekolah khusus perempuan itu terdapat tiga gadis yang sedang membicarakan sesuatu.
"Foto ini diambil pada hari Ayame meninggal, bukan?" Shion, gadis cantik berambut pirang itu sedang menatap ponselnya.
"Kau benar," Karui mengangguk, dia tetap memasang wajah tenangnya, namun jika diteliti lagi, dia sedang panik juga, Karui sedang berpikir. "Tapi, kenapa Ayame yang sudah meninggal ada difoto ini?"
Shiho membenarkan kacamata bundarnya sambil menggigit jarinya mendengar ucapan Karui. Dia terlihat sangat panik.
"Apa Ayame yang sudah meninggal… mengirim ini kepada kita?" Shion mendongak dari ponselnya dan menatap kedua temannya. "Dia mengirim ini untuk menunjukkan kebencian dia kepada kita?"
Shiho kembali membenarkan kacamatanya. "Aku yakin ada seseorang yang iseng." Komentarnya, raut wajahnya tetap khawatir dan takut. "Anak-anak lain mengatakan kalau Ayeme meninggal juga karena kita."
"Itu karena kecelakaan mobil!" bantahan Shion membuat Shiho menunduk. "dan itu bukan karena kita."
Suasana hening, mereka bertiga tenggelam dalam pikiran masing-masing, Karui masih memikirkan sesuatu. "Sebenarnya…" ucapnya, Shiho dan Shion menatap Karui yang sedang menatap tanah. "…aku merasa karena kesalahan kita dia meninggal. Jika kita tidak begitu pada hari itu…" Karui menatap Shion dan Shiho, kedua gadis itu terdiam. "Dia mungkin saja tidak akan meninggal.
"Menuturku Ayame masih bersama dengan kita, karena dia membenci kita."
Ucapan Karui membuat Shiho semakin panik dan Shion terdiam dengan raut yang sulit untuk dijelaskan.
.
.
.
Kurenai sedang berjalan menuju kantor suaminya, Itachi. Dia biasanya mengunjungi suaminya itu untuk mengajaknya makan siang atau sekedar berbicara di dalam kantor suaminya.
Sepanjang perjalanan, dia mendapati tatapan pegawai Mall Uchiha menatapnya dengan segan sambil membungkuk dan setelah Kurenai melewatinya, mereka mulai membicarakan suatu hal, dan ini menganggu telinganya. Wanita yang terlihat masih cantik meski usianya sudah terbilang tidak muda lagi ini melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kantor Itachi.
Itachi mendongak dari dokumen di depannya saat melihat pintu kantornya di buka. "Oh, Sayang, kau datang." Itachi berdiri dan menghampiri Kurenai yang sudah duduk di kursi tamu di tengah ruangan.
Itachi melepas jas kantornya dan menyampirkannya di gantungan di belakang pintu. Kurenai duduk diam menunggu suaminya untuk bergabung bersamanya.
"Kau mau minum sesuatu, Sayang?" Itachi berjalan ke meja minumannya.
Kurenai berdeham. "Teh saja." Itachi mengangguk dan membuatkan minuman untuk istrinya itu, cukup lama mereka terdiam dan Itachi merasa aneh dengan hal ini.
Pria ini menoleh menatap Kurenai. "Ada apa?" Itachi melihat raut wajah Kurenai yang terlihat berbeda langsung bertanya, dia sudah selesai membuat minuman dan mendekat, menaruh dua cangkir minuman di meja dan duduk di sofa tunggal. "Apa ada masalah?" tanyanya lagi.
Kurenai menatap Itachi. Mata merahnya menatap serius Itachi. "Aku melihat banyak orang menatapku tadi, apa terjadi sesuatu di sini?"
"Oh, tentang itu," Itachi berdiri lagi, mengambil papan di meja kerjanya dan memberikannya ke Kurenai dan Kurenai melihat sekilas foto itu dan menaruhnya ke meja sambil mengambil cangkir minumannya. "Foto itu tersebar di Internet, dan kau bisa lihat kalau ada hantu gadis di dalam foto itu, dan hantu itu dikaitkan dengan Presdir Sasuke."
Kurenai melihat papan yang terdapat lembaran foto itu lagi, dia kembali menatap Itachi, "Lalu, siapa hantu di foto ini?" tanyanya sambil menyeruput minumannya.
"Rumor beredar kalau gadis itu yang meninggal karena Presdir Sasuke."
Kurenai menaruh cangkir minumannya ke meja dengan keras, membuat Itachi terlonjak kaget sambil menatap Kurenai yang menatapnya marah.
"Itu tidak masuk akal!" Seru Kurenai, matanya yang berwarna merah itu memancarkan kilatan amarah. "Siapa yang mengatakannya?!"
"Bukan aku!" Itachi mengibaskan kedua tangannya, dia menunjuk pintu keluar. "Kubilang, karyawan yang bercerita." Kurenai kemudian menatap pintu luar, Itachi kembali berbicara. "Semua orang tahu insiden itu karena kasus itu sangat terkenal. Mereka selalu mengatakan, ada arwah gadis yang mengikuti Presdir Sasuke."
Kurenai mendesah. "Gadis itu sudah lama meninggal." Kurenai mengambil papan itu dan menatap lama foto itu. Foto ketiga gadis yang wajahnya dibuat buram dan di belakang mereka terdapat sosok yang ikut terlihat di foto tersebut.
Itachi terlihat tertarik dengan cerita gadis yang berkaitan dengan Sasuke, dia bersandar ke Kurenai. "Apa hantu di foto ini… benar-benar gadis yang sama?" tanyanya.
Kurenai dengan teliti melihat foto. "Aku ingat dia mempunyai rambut panjang. Dan dia hampir seumuran dengan anak-anak ini saat dia meninggal." Ucap Kurenai, wanita ini menerawang jauh, menatap ke arah lain selain foto di depannya. "Tapi, aku tidak ingat wajahnya."
Itachi tertawa sambil menunjuk papan yang digenggam Kurenai. "Bisa kumaklumi kau lupa di usiamu saat ini." Kurenai menoleh perlahan ke Itachi, dan Itachi berhenti tertawa.
Mereka terdiam dan Itachi menutup mulutnya sambil berdeham, pria ini kemudian menarik papan yang digenggam Kurenai.
"Sebaiknya kita makan siang sekarang, Sayang."
Yeah… Kurenai sensitif jika disinggung soal umurnya, karena umur Kurenai yang terpaut jauh dengan Itachi dan pria ini tidak ingin berurusan dengan Kurenai yang sedang marah.
.
.
.
Sasuke sedang berjalan mengelilingi Mall-nya, dia sedang berada di lantai satu, lantai yang terdapat Pancuran yang sedang hangat, ah bukan, tapi sedang panas-panasnya dibicarakan orang karena…
"Kudengar di sini ada hantu." Seorang gadis berbicara pada kekasihnya sambil menangkup kedua tangannya karena takut, mereka sepasang kekasih yang sedang duduk di pinggiran Pancuran besar di Mall Uchiha.
Laki-laki di samping gadis itu mengernyit sambil memegang kamera di tangannya. "Hantu?" ulangnya.
Gadis itu mengangguk. "Ya."
"Kalau begitu, ayo kita foto." Laki-laki itu mengarahkan lensa kamera ke mereka, gadis itu terlihat tidak mau karena takut jika hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Sasuke yang berhenti dan menatap pasangan itu diam sambil terus menatap apa yang akan terjadi, matanya menyipit, terlihat bahwa pria tampan ini sedang menahan kesal karena mendengar ucapan kedua pemuda itu. Kakashi pun setia mendampingi Sasuke dimanapun dia berada, pria ini berdiri di belakang Sasuke.
Laki-laki itu sudah menshutter kameranya. "Coba kita lihat hasil fotonya." Ucapnya sambil melihat galeri foto di kamera.
Sasuke masih menyipitkan mata. "Apa foto paranormal itu masih dibicarakan banyak orang?" tanyanya.
"Bagaimanapun Direktur Itachi dan timnya sudah berusaha mengurusnya, tapi cerita seperti ini tidak akan mudah mereda." Sasuke melirik Kakashi, pria berambut perak ini menaruh kedua tangannya di belakang dan mendesah. "Terlebih lagi, ada rumor yang tidak masuk akal beredar juga."
Berita buruk menampar Sasuke, pria ini menarik napas panjang sambil menutup mata, dia menghembuskan napas dan berbicara dengan geraman yang tertahan. "Kini rumor apa lagi?"
Kakashi menoleh ke Sasuke, pria ini bingung mengatakan hal ini. "Tentang itu…" Sasuke menatap Kakashi dan teriakan seorang gadis mengalihkan perhatian mereka.
Gadis yang sedang bersama kekasihnya tadi itu terjatuh ke dalam kolam Pancuran.
"Apa ini? Aku jadi basah!" gadis itu berseru.
Laki-laki itu menolong kekasihnya. "Kau tidak apa-apa?" Gadis itu berdiri dibantu kekasihnya. "Cepat keluar."
Gadis itu sudah basah kuyup, dia menatap kekasihnya. "Aku seharusnya tidak berdiri di Pancuran hantu ini."
"Maaf." Laki-laki itu menarik keluar gadis itu dan menjauh dari Pancuran.
Sasuke sudah menahan napas, dia semakin terlihat kesal sekarang.
"Pancuran hantu." Bisiknya, pria ini berjalan mendekat ke Pancuran, dia mengelili Pancuran mewah miliknya. "Apa mereka tahu betapa mahalnya Pancuran ini? Ada empat pilar Dewi di Pancuran itu." Sasuke menunjuk Pancuran dengan marah, dia mendiskripsikan betapa mahal dan mewahnya Pancuran yang menghiasi Mall miliknya. "Jadi, kau mau bilang Dewi ini telah tersingkir oleh satu hantu?" Sasuke manatap Kakashi dengan kesal.
Kakashi tersenyum sambil mereka terus berjalan mengelili Pancuran. "Hantu menakutkan lebih mengejutkan daripada Dewi cantik." Ucap Kakashi sambil menunjuk Pancuran, Sasuke mendesah frustasi di sampingnya. "Kecantikan membantu orang tenang, tapi ketakutan membuat orang gugup. Mereka mempunyai daya tarik sendiri, sehingga orang tidak bisa berhenti penasaran."
Mereka berdua berjalan menuju seseorang yang sedang mengepel lantai dan orang ini sedang membelakangi kedua pria yang tengah membicarakan pesona hantu dan Pancuran dengan pilar Dewi ini.
Sasuke menatap petugas kebersihan itu dengan dahi berkerut, Kakashi menatap orang di depannya dengan perlahan senyumnya mengembang sambil berucap. "Itu sebabnya orang tertarik dengan cerita seperti itu."
Orang itu berbalik dan masih mengepel, namun Sasuke sudah terperangah melihat orang yang berdiri di depannya sampai orang ini berhenti mengepel dan mengangkat kepalanya dengan senyum merekah di ujung-ujung bibirnya.
"Betapa mengejutkan dan menakutkannya." Sasuke berbisik, orang itu adalah Sakura, dia masih memasang senyum lima jarinya sampai Sasuke berjalan mendekat ke arahnya. "Sedang apa kau? Apa yang kau lakukan di sini?"
Sakura menggerak-gerakkan tongkat pelnya. "Aku sedang bersih-bersih." Sakura menunjukkan name tag yang bertengger manis di dada kirinya ke arah Sasuke. "Aku baru bekerja di sini."
Sasuke mengandahkan kepala, dia tahu siapa dalang dari semua ini, dia melirik Kakashi lewat bahunya, dan pria ini perlahan menjauh dari Sasuke.
Mendengar Sakura terkekeh membuat Sasuke menoleh ke arah gadis merah jambu ini. "Aku yakin masih ada banyak tempat yang perlu dibersihkan. Lalu, kenapa dari semua tempat itu, kenapa kau bersih-bersih di sini?"
"Itu karena…" Sakura masih menyeringai, tangan kirinya terangkat melayang ke arah Sasuke, jari telunjuknya menunjuk dada pria ini dan Sasuke berhasil menghindar dari sentuhan gadis di depannya. "Karena kau berada di sini."
Sasuke tertawa mengejek, dan Sakura sudah mengigit jarinya, pria ini menatap Sakura dengan ekspresi masih tertawa. "Kau benar-benar melakukan segala cara. Ketika seorang wanita ingin merayu pria kaya, semua itu selalu dimulai dengan mendapatkan pekerjaan dimana wanita itu bisa melihat pria incarannya. Menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk saling melihat dan berbagi makanan." Sasuke menundukkan kepala menatap Sakura, senyum mengejek keluar dari bibir seksinya. "Itu yang kau pikirkan, bukan?"
Sakura diam menatap Sasuke, gadis ini menggigit bibir bawahnya. Sakura menatap bawah sambil menghela napas. "Aku tahu kau tidak percaya padaku… tapi kau tahu, bukan itu yang kuharapkan darimu."
"Ah… kau bilang, itu karena hantu, bukan?" Sakura mengangguk dengan ekspresi sedih. "Hantu." Sasuke berbisik dan menunjuk Pancuran di sampingnya. "Kudengar ada hantu di sini. Apa kau datang ke sini untuk bertemu dengan temanmu?"
Sakura menatap Pancuran sebentar dan beralih menatap Sasuke. "Kau bilang, ada hantu di sini?" Sakura melihat lagi Pancuran dan meneliti dari kiri ke kanan, Sasuke sudah menurunkan tangannya dan menatap Sakura yang masih memindai Pancuran, pria ini akhirnya ikut menatap Pancuran juga. "Tidak ada hantu." Ucapan Sakura membuat Sasuke langsung menoleh menatap gadis ini.
"Tidak ada?" tanya Sasuke.
"Ya, tidak ada. Jika memang ada hantu…" tangan Sakura terulur ke arah Sasuke lagi, dan pria ini dengan sigap menghindari tangan Sakura, gadis ini menarik tangannya dan tersenyum sambil mengigit jarinya. "…aku sudah pasti akan memegangmu."
"Sungguh tidak ada? Kau yakin?" Sakura mengangguk. Sasuke menyeringai sambil menatap Pancuran miliknya. "Sudah kuduga. Pancuran ini terlalu mahal untuk ditempati hantu yang berkeliaran."
Sakura ikut memandang Pancuran. "Ya, aku yakin, tidak ada hantu di sana."
"Baguslah." Sasuke menatap Pancurannya dengan senyum mengembang.
Sakura kemudian menatap Sasuke, gadis ini terlihat senang. Dia terkekeh dan mengigit jarinya. "Presdir… jadi, kau sudah percaya padaku?" senyum seringai menghilang dari bibir Sasuke. Pria ini menatap Pancuran dengan ekspresi datar. "Benar, bukan? Kau sudah percaya padaku, 'kan?"
Sasuke diam sejenak, dia kemudian menoleh ke arah Sakura. "Percaya apa?" tanyanya dengan wajah datar. "Sudah sewajarnya tidak ada hantu di sana. Bukan karena aku percaya padamu, tapi karena memang tidak ada hantu." Ucapan Sasuke membuat senyum Sakura perlahan namun pasti menghilang dengan sendirinya, Sasuke menoleh ke Pancuran dan menatap Sakura lagi, "Dan kau, aku tidak mau kau bersih-bersih di sini."
"Kenapa?"
"Ini juga sudah sewajarnya aku mengusirmu dari sini." Sasuke melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajah dan mengibasnya. "Enyahlah, Nona Haruno." Sasuke berbalik dan meninggalkan Sakura yang terperangah dengan perilaku Sasuke tadi.
Sakura menarik napas dalam-dalam dan mengeratkan genggaman tongkatnya dengan erat. Dia menggigit bibir bawahnya masih dengan menatap punggung tegap Sasuke yang semakin menjauh.
Sedangkan Sasuke, dia berjalan cepat menaiki eskalator dengan Kakashi di belakangnya. Setelah sampai di lantai dua, dia bertemu Itachi yang sudah berlari ke arahnya dengan Izumi di belakangnya.
"Presdir Sasuke…" Sasuke berhenti berjalan dan menatap Itachi yang sedang mengatur napasnya. Itachi menunjuk Sasuke. "Ada masalah."
.
.
.
Sasuke membuka pintu kantornya dengan keras, di belakangnya ada Itachi, Kakashi dan juga Izumi.
Itachi baru saja selesai makan siang dengan Kurenai, dan dia mendapat berita buruk dari sekretarisnya, Izumi, saat dia kembali ke kantornya. Itachi segera menemui Sasuke dan memberitahukan berita ini.
"Aku tidak tahu bagaimana Stasiun TV tahu masalah ini, tapi foto paranormal sudah disiarkan di berita mereka hari ini."
Sasuke berhenti berjalan, dan menatap Itachi. "Kenapa foto yang direkayasa bisa disiarkan di berita?" nadanya sudah berubah dingin dan siapapun tahu kalau Pengusaha muda ini sedang kesal.
"Rumor terus beredar sampai ceritanya semakin membesar." Jelas Itachi. "Sepertinya insiden masa lalumu dikaitkan dengan rumor yang beredar."
Wajah Sasuke mengernyit, Kakashi berjalan ke meja kerja Sasuke dan mengambil remote TV, dia menyalakan TV dan siaran yang mereka bicarakan sedang berlangsung. Sasuke berbalik menatap TV.
"Ada foto yang tersebar di Internet baru-baru ini." Pembawa acara memulai acara dengan membawa selembar foto yang diarahkan ke kamera, dia melihat foto itu dan duduk di kursi, dilayar TV terlihat jelas foto yang sedang dibicarakan, tiga gadis sedang berfoto dengan pose masing-masing, wajah mereka sedikit dibuat buram dan masih ada sosok di belakang mereka. Pembawa acara kembali berbicara. "Wajah seorang gadis muda terlihat di belakang tiga gadis yang tersenyum." Setelah mengucapkan hal itu, foto diperbesar dibagian sosok di belakang ketiga gadis tadi.
"Foto yang menangkap gambar hantu seperti yang dilihat di foto ini, kami menyebutnya foto paranormal. Kalau begitu… siapa gadis di foto ini?" Pembawa acara itu meletakkan selembar foto tadi di meja depannya, dia menautkan jari-jarinya dan masih menatap layar kamera yang sedang tersiar langsung merekamnya. "Saat menyelidiki misteri foto ini, kami menemukan hubungan antara lokasi foto ini diambil dengan insiden tragis dulu."
Sasuke yang sudah duduk di kursi kebesarannya masih menatap layar TV di depannya, Kakashi, Itachi dan juga Izumi pun sama, masih menatap acara infotaiment itu.
"Kalian ingat kasus "Penculikan sepuluh milliar Yen" yang mengguncang negeri ini lima belas tahun lalu?" di layar TV memperlihatkan sebuah artikel lama, dimana foto Sasuke remaja diperlihatkan dengan jelas di layar TV saat ini, sang pembawa acara masih berbicara. "Tuan Uchiha diculik bersama pacarnya," dan gambar berikutnya adalah, foto Sasuke remaja dan di sampingnya foto gadis, namun tidak diperlihatkan wajahnya. "Saat polisi mengintai pelaku yang meminta tebusan, pacarnya yang diculik dengannya kehilangan nyawa dalam kasus tragis ini." Kakashi menatap Sasuke, pria ini khawatir dengan Sasuke yang diam menyaksikan berita yang membawa-bawa masa lalu Sasuke. Itachi melipat tangan di depan dada dan masih menatap layar TV.
"Tuan Uchiha yang diculik…" Foto Sasuke remaja diperbesar memenuhi layar TV dengan wajah diburamkan, Itachi terperangah sambil menunjuk layar TV dan juga Sasuke yang masih terdiam. "…saat ini menjadi CEO pusat perbelajaan tempat dimana foto ini diambil." Dan foto Sasuke saat ini dengan setelan jas yang sama yang dikenakan sekarang terlihat di layar TV, begitu pula dengan Kakashi yang berdiri di belakangnya. Paparazi bekerja dengan keras rupanya. "Ada rumor aneh yang tersebar di sekitar Mall."
Bukan hanya di dalam kantor Sasuke saja, di luar kantornya, di Mallnya sendiri, TV di sekitar Mall dan terutama toko elektronik saat ini sedang menayangkan tayangan yang sama dengan Sasuke.
Seorang pria dalam TV sedang melakukan wawancara. "Hantu mantan kekasih Presdir, telah menghantui Mall ini, semua karyawan di sini sudah tahu rumor tersebut." Suigetsu dan salah satu temannya berhenti saat mereka melewati toko eletronik yang menonton acara tersebut. Pria yang bersama Suigetsu membelalakan mata melihat layar TV. "Aku tidak tahu apakah karena itu, tapi patroli malam sangat menakutkan dan jujur saja, semua karyawan wanita di Mall ini…" Suigetsu berdeham sambil berjalan mundur dengan pelan, dia berbalik dan menabrak Sakura yang saat itu sedang membersihkan pot sambil menonton TV, bahkan teman Suigetsu melambaikan tangan saat dirasa dia kenal dengan orang yang berada di layar TV itu meski orang itu bercerita sambil membelakangi kamera. "Hantu Nona Fujikaze yang dikabarkan menghantui lantai dasar Mall ini." Sekali lagi, foto sosok itu diperbesar di layar TV.
Sakura menyipitkan mata melihat sosok yang terlihat di layar TV, dia memiringkan kepala memikirkan sosok itu. "Gadis yang kulihat bukan gadis itu." Ucapnya.
Sang pembawa acara kembali berbicara setelah sesi wawancara dengan seseorang yang bekerja di Mall Uchiha ini. "Salah satu penulis kami mendatangi kepala Anbu yang bertugas dalam kecalakaan dulu." Sasuke menatap TV dengan wajah datar, Kakashi melirik Sasuke masih dengan raut wajah khawatir, mereka masih menyaksikan acara tersebut. "Mari kita lihat bagaimana pendapatnya."
Dan seorang pria paru baya terlihat di layar TV, dia adalah Jiraiya, kepala Anbu yang dulunya ikut menyelamatkan nyawa Sasuke. "Kasus ini akan segera jatuh tempo." Ucap Jiraiya, pria ini tidak membelakangi kamera seperti pemuda pertama tadi. "Karena kami sudah menutup kasus ini tanpa menangkap pelakunya. Aku yakin korban merasa tidak adil." Sasuke mengeratkan tangannya yang di atas meja saat mendengar komentar dari Jiraiya.
Pembawa acara kembali berbicara. "Lalu, siapa kira-kira gadis di foto ini? Mungkinkah hantu ini mendiang Nona Fujikaze? Atau… ini ulah orang iseng?" Di ruang tim keamanan yang saat ini terdapat tiga orang termasuk Sai, kini menonton acara infotaiment yang membahas masa lalu pemilik Mall terbesar di Konoha. Sai seperti memikirkan sesuatu, dia kemudian beranjak keluar dari ruangan.
"Tapi, satu hal yang pasti, tempat dimana foto ini diambil…" Sasuke yang semula menatap arah lain kembali menatap layar TV, ekspresinya masih datar atau dia sedang menahan sesuatu keluar dari dirinya? "…ada arwah gentayangan yang mati muda." Melihat pembawa acara itu membuat napas Sasuke sesak, dia segera mengambil remote yang tidak jauh dari jangkauannya dan mematikannya.
Semua orang yang tadinya menatap layar TV, kini menatap Sasuke yang sudah beranjak berdiri dan keluar kantornya. Dia hanya ingin mendatangi seseorang, dia berjalan cepat menuju basement tempat parkir mobilnya, bahkan dia mengabaikan pegawai dan juga orang-orang yang menatapnya saat ini.
Saat sampai dibelokkan dia dikagetkan dengan Sakura yang menghentikan langkahnya.
"Permisi," Sakura menunduk sebentar, Sasuke sedang tidak dalam selera yang bagus untuk meladeni Sakura. gadis berambut merah jambu ini takut-takut menatap Sasuke. "Itu bukan dia. Gadis yang di foto itu bukan Fujikaze Yukie," Sasuke sudah mengernyit, ekspresinya sudah mulai mengeras. "sepertinya ada kesalahpahaman."
"Kau! Diamlah dan menyingkir!" Sasuke melewati Sakura yang sudah menganga mendengar ucapan kasar yang dikeluar Sasuke tadi, gadis ini hanya mendesah lesu karena maksud baiknya ditolak secara mentah-mentah. Sai, pria ini menatap Sakura dari kejauhan sampai gadis itu berjalan kembali untuk memulai pekerjaannya.
Sedangkan Sasuke, dia sudah menyuruh Kakashi untuk menyiapkan mobil untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Setelah dia sampai di basement, Sasuke segera memasuki mobil dan mereka berlalu meninggalkan Mall Uchiha.
.
.
.
Shion, Shiho dan Karui sedang berada di lorong sekolahan, mereka sedang istirahat. Dan mereka masih membahas masalah foto mereka, Shion menunggu seseorang yang melewati tempat mereka berdiri saat ini menjauh untuk tidak mendengar apa yang akan dia bicarakan.
Shion kemudian melihat ponselnya. "Kau melihat di TV, 'kan?" Shiho menatap Shion yang masih melihat ponselnya. "Mereka bilang, ini hanya hantu yang selalu berkeliaran di Mall Uchiha."
"Tapi, kau tahu kalau itu Ayame." Ucap Karui tidak setuju dengan asumsi Shion, gadis berkulit gelap ini menatap kedua sahabatnya ini. "Kita semua tahu itu."
"Haruskah kita ke sana? Ke Mall Uchiha." ucapan Shiho membuat Shion dan Karui menoleh ke arahnya.
Sasuke keluar dari mobilnya begitu dia sampai ke tempat tujuan, dan tepat sekali saat dia baru saja memasuki gedung, Sasuke sudah mendapati Jiraiya yang ingin berjalan keluar.
Jiraiya mendapati Sasuke yang berdiri di depan pintu keluar dan menyapanya. "Sasuke. Ada apa?" Jiraiya bertanya sambil tetap berjalan keluar, Sasuke mengikutinya.
"Kenapa kau mau diwawancara dan terlibat dengan cerita konyol?" ledakan amarah Sasuke akhirnya keluar. Pria ini sudah menahannya saat mendengar foto paranormal itu dan ditambah sekarang menjadi rumit seperti ini.
Jiraiya berbalik menatap Sasuke, pria paru baya ini sedang membawa koran di tangan kirinya. "Undang-undang pembatasan untuk kasus ini akan segera jatuh tempo. Aku berharap dengan wawancara akan memberi informasi baru untuk kasus ini." Jelas Jiraiya.
Dan Sasuke tersenyum mengejek mendengar alasan Jiraiya. "Kau pikir hal ini akan mengejutkan orang dengan cerita hantu seperti itu, membuat pelaku ketakutan dan akhirnya akan menyerahkan dirinya sendiri?" Sasuke menggelengkan kepala, kenapa pemikiran Anbu dangkal sekali, batin Sasuke.
"Jika pelaku melihatnya, aku yakin pelaku akan sedikit merasa bersalah." Jiraiya berseru, dia tentu tidak menyukai opini yang disampaikan Sasuke, dia ingin berbalik meninggalkan Sasuke, namun dia berbalik menatap Sasuke lagi. "Fujikaze Yukie meninggal sebagian juga karena kesalahanmu. Apa kau tidak sedikit merasa bersalah padanya?" pertanyaan Jiraiya membuat Sasuke membuang muka, dia tidak ingin dikaitkan lagi dengan masalah ini, dan Jiraiya masih belum selesai dengan racun yang ingin dikeluarkan dari mulutnya. "Kau sepertinya hidup dengan baik sebagai Presdir Mall Uchiha.
"Dari semua orang, bukankah harusnya kau tidak pernah melupakannya?" Jiraiya menatap pria tampan di sampingnya dengan pandangan prihatin.
"Kau sepertinya tidak suka melihatku hidup dengan baik." Sasuke mengeluarkan senyum mengejeknya lagi, kemudian dia menoleh ke sampingnya, menatap Jiraiya. "Lupakan masa lalu. Manusia harus terus menjalani hidup. Aku tidak pernah lupa ucapan yang kau ucapkan padaku lima belas tahun yang lalu."
Jiraiya menatap jalanan di depannya. "Apa aku mengatakan begitu? Pokoknya…" Jiraiya kembali menatap Sasuke. "…aku tidak akan menyerah akan kasus ini."
Sasuke menggeleng dan menatap jalanan. "Kalau begitu, uangku yang hilang…pastikan kau dapatkan kembali juga." Sasuke berjalan meninggalkan Jiraiya, namun ucapan pria paru baya ini menghentikan langkah Sasuke.
"Kau yakin baik-baik saja dengan semua hal ini?" Sasuke berbalik ke belakang, menatap Jiraiya yang kembali berbicara. "Kau mengalami gangguan pasca trauma setelah insiden itu, bukan?" Sasuke menatap Jiraiya yang menaikan koran ditangan kirinya, Sasuke mengernyitkan dahinya. "Apa kau bisa membaca sekarang?"
Sasuke berusaha mengabaikan ocehan Jiraiya dan tersenyum. "Aku sudah lebih baik sekarang."
Jiraiya mengangguk dan menurunkan tangannya tadi. "Jadi, kau tidak hidup dengan baik, 'kan?" setelah mengucapkan hal itu, Jiraiya berbalik dan meninggalkan Sasuke yang menatap punggung pria paru baya itu.
Sasuke terlihat tertekan sekarang, dengan mendesah keras dia ikut meninggalkan gedung kantor Anbu dan memasuki mobilnya yang terdapat Kakashi, pria ini menunggu Sasuke di dalam mobil karena ini perintahnya. Setelah itu mereka berlalu meninggalkan gedung Anbu dan menuju ke tempat yang diinginkan Sasuke meski hari sudah terbilang sangat sore atau sebentar lagi malam akan datang.
.
.
.
Sakura saat ini kedatangan kedua tamu anak kecil di rumahnya dan melakukan makan malam bersama di rumahnya. Yashamaru dan Nawaki sedang memakan makanan mereka, sedangkan Sakura memandang foto yang menampilkan ketiga gadis dan sosok hantu di belakang mereka, Sakura mencetak foto itu tadi siang.
"Siapa gadis ini?" Sakura bergumam.
"Bukahkah kau bilang, dia itu hantu?" Yashamaru berkomentar sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Sakura menatap Yashamaru. "Apakah dia benar-benar arwah gadis yang mati itu?" tanyanya dengan ekspresi bingung.
Yashamaru mengangkat bahu. "Itu bisa jadi, bukankah kak Sakura bilang padaku, kalau bisa melihat hantu? Bukankah akan lebih mudah jika kau mencarinya saja?"
Sakura mengangguk. "Benar. Jika aku bisa menemukannya, maka aku bisa membantunya. Dan mungkin jika aku membantunya, dia mungkin bisa meluruskan kesalahapaham ini." Yashamaru mengangguk sambil memasukkan kembali nasi ke dalam mulutnya, Sakura menatap Yashamaru dan Nawaki bergantian. "Apa ibumu… tidak pulang lagi malam ini?"
"Tidak, kurasa dia terlalu sibuk mencari uang."
Sakura mengangguk. Gadis ini tidak bisa mengabaikan kedua bocah cilik yang selalu ditinggalkan ibunya bekerja ini. "Baiklah, makan yang banyak, dan jika kalian mengantuk, tidurlah di sini saja, mengerti?" Sakura berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya. "Kalian di sini saja, aku akan ke Mall Uchiha."
Setelah Sakura berlalu meninggalkan Yashamaru dan Nawaki sendirian, Yashamaru berbisik ke Nawaki. "Meskipun dia kelihatan aneh, kita harus bertingkah seolah-olah kita mempercayainya." Yashamaru mengambil salada dan menaruh nasi begitu juga sayur kemudian mengulungnya. "Dengan begitu, dia akan terus memberi kita makan." Nawaki mengangguk, Yashamaru menyondorkan gulungan salada tadi. "Ini makanlah."
.
Kembali ke Sakura, gadis ini sudah sampai di Mall Uchiha dengan seragam pegawai kebersihan. Lampu di Pancuran yang masih panas dibicarakan banyak orang menyala, suasana sangat sepi dan juga gelap, hanya beberapa lampu di tiap lantai yang dihidupkan. Mall Uchiha sudah tutup.
Sakura berkeliling Mall sambil membawa selembar foto yang dia cetak tadi, mencari sosok yang mungkin terlihat sama di dalam foto tersebut. Gadis ini berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. "Aku melihat beberapa hantu saat bersih-bersih." Ucapnya sambil kembali berjalan dan langkahnya menuju ke toilet.
Sakura perlahan memasuki toilet yang sudah pasti terlihat sepi, dengan mengendap-endap Sakura membuka satu persatu pintu kamar mandi, meski takut, Sakura menahannya karena ingin membantu Sasuke dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi Presdir muda itu. Dia membuka lagi pintu kamar mandi dan belum menemukan sosok yang bisa dimintainya tolong, saat Sakura berjalan kembali ke pintu selajutnya sesosok muncul di atas toilet duduk, Sakura berbalik dan membalikkan kepala karena sosok itu sangat menakutkan sekali saat menatap Sakura.
Sakura menarik napas panjang dan memajukan tangannya yang membawa foto ke depan hantu itu, perlahan Sakura melihat kembali hantu di depannya untuk memastikan benar atau tidaknya hantu ini yang terlihat di foto, namun karena tidak tahan karena ketakutan, Sakura akhirnya berlari keluar toilet dan berlari menuju koridor Mall. Saat dia melewati eskalator, sosok hantu memakai gaun pengantin dan berambut panjang sedang menaiki eskalator, Sakura berbalik dan perlahan mengikuti sosok itu, kemudian dia memanggilnya.
"Permisi, bisa kau tunjukkan wajahmu?" dan sosok itu berbalik membuat Sakura terperangah kaget, ternyata sosok itu adalah seorang pria yang memakai gaun pernikahan. Sakura menunduk cepat. "Maafkan aku, kukira aku salah orang dan sepertinya juga bukan kau orangnya." Sakura berbalik meninggalkan hantu itu, dan hantu itu berbalik melanjutkan perjalanannya.
Sakura masih terus mencari, sampai gadis ini melihat tong sampah dan tiba-tiba penutup tong sampah besi itu berputar dengan sendirinya membuat Sakura terlonjak kaget. Gadis ini berlari mendekati tong sampah itu dan bertambah terkejut saat dia mendapati sosok mengerikan duduk di dekat tong sampah itu.
Sakura kembali mengambil napas dan memajukkan foto ke depan hantu itu. "Permisi… Apa barangakali kau pernah melihat gadis ini?" Sakura menunjuk sosok yang terlihat di foto itu ke hantu pria tua yang masih duduk ini. Dan lagi-lagi Sakura terlonjak kaget karena hantu ini hanya memutar penutup tong sampah, membuat Sakura mau tidak mau bertanya kepada sosok ini. "Um… bisakah kau melihatnya dengan jelas?" pinta Sakura sambil menahan ketakutannya yang kian meningkat.
"Ini gadis yang bergelantungan disekitar Pancuran di sebelah sana." Jelas Sakura, dan jawaban yang di dapat Sakura adalah putaran penutup tong sampah dan wajah mengerikan yang diberikan hantu itu kepada Sakura.
Sakura menyerah, dia berbalik dan meninggalkan sosok itu, gadis ini masih berlari sambil menoleh ke belakang untuk berjaga tidak ada yang mengikutinya. Sakura berhenti berlari dan duduk di kursi yang terdapat patung gadis berkepala kucing yang sedang membaca koran, Sakura mendesah keras dan bersandar di bahu patung itu.
"Mereka tidak pernah mau mendengarkan saat aku menyuruh mereka pergi." Sakura bergumam, atau lebih tepatnya dia sedang mengajak bicara patung di sampingnya saat ini, Sakura kemudian bersandar di bahu gadis berkepala kucing ini. "Jadi, tidak heran mereka tidak menjawab saat aku menanyakan sesuatu?" Sakura mendesah dan menutup mata. "Aku ngatuk sekali."
Gadis bersulai merah muda ini tidak mengetahui bayangan hitam yang berjalan mendekat ke arahnya, sosok ini sudah sampai di tempat Sakura duduk dan ternyata gadis ini sudah mulai tertidur. Sebuah tangan terulur dan memegang bahu Sakura, membuat gadis ini terlonjak kaget dengan ekspresi ketakutan, Sakura tidak berani menoleh ke belakang.
"Kau manusia?" gumamnya, kemudian Sakura perlahan menoleh menatap tangan yang masih memegang bahunya, dia memegang tangan itu dan ini tangan asli yang tidak tembus jika dipegang. Kemudian tangan itu melepas genggaman dibahu Sakura, gadis ini mendongak dan tersentak sambil berbalik membelakangi sosok ini.
"Kenapa kau duduk di sini seperti kucing pencuri?" Sakura mengenal suara ini dan dia berbalik, ternyata sosok ini adalah Sai, pria ini juga menakuti Sakura dengan menyorotkan lampu senter ke bawah wajahnya, sehingga terlihat menyeramkan. Bahkan Sai terkekeh mendapati Sakura ketakutan.
Dan Sakura jelas terlihat lega mendapati orang ini di depannya. "Ah, kamar enam ratus lima." Sakura berdiri dan membenarkan tatanan rambutnya. "Ah, benar. Aku lupa memberitahumu kalau aku bekerja di sini."
Sai mengangguk dan melihat sekeliling Mall, dia masih memasang senyum tampannya. "Saat aku melihatmu dari ruang keamanan… Kuperhatikan kau terus berkeliling."
"Aku salah satu office girl di sini." Sakura memegang name tag-nya dan menunjukkannya ke Sai. "Aku mulai bekerja di sini beberapa jam yang lalu." Jelasnya lagi.
Sai bergumam dan kembali mengangguk. "Tapi, bagian kebersihan semuanya sudah pulang."
Sakura tersenyum sambil mengangguk terus, dia terlihat sedang memikirkan jawaban atau sebenarnya alasan yang cukup logis untuk diterima Sai. "Aku kehilangan sesuatu saat bersih-bersih. Jadi, aku berkeliling untuk mencarinya." Tangan Sakura menunjuk keliling Mall dan matanya memindai lantai seolah dia benar-benar mencari sesuatu.
Sai kemudian melihat selembar foto yang digenggam Sakura, dia pernah melihat foto itu, jelas saja, karena foto itu sudah tersebar bebas di Internet dan disiarkan di TV siang ini tadi. Sakura melirik Sai dari bulu matanya dan mendapati pria ini menatap selembar foto di tangannya, segera dia memindahkannya di belakang punggung.
Mendapati Sakura memindahkan foto ke belakang membuat Sai menatap gadis di depannya, Sakura menatap ke arah lain. "Aku akan berkeliling lagi." ucap Sakura sambil menunjuk tempat di belakang Sai. Sakura membungkuk dan berniat meninggalkan Sai.
Tapi Sai sudah berbicara untuk menghentikan Sakura. "Aku akan menemanimu."
Sakura segera menggeleng sambil mengibaskan tangan. "Tidak, tidak usah."
Bibir Sai mengerut dan dia berjalan mendekat ke Sakura. "Tapi, terlalu menakutkan bagimu kalau pergi sendirian malam-malam begini." Sai memegang bahu Sakura dan menyuruh gadis ini berjalan beriringan di sampingnya, Sakura tetap menolak dan Sai kembali berbicara. "Ada juga rumor yang mengatakan soal hantu yang berkeliaran di sini. Aku akan menemanimu."
Akhirnya Sakura berjalan bersampingan dengan Sai yang menyorotkan senter untuk mempermudah mereka berjalan di dalam kegelapan.
.
.
.
Shion, Shiho dan Karui sudah sampai di Mall Uchiha, mereka bertiga bertatapan untuk siap memasuki Mall yang baru saja tutup ini dan mungkin masih ada keamanan yang berkeliling memeriksa pintu masuk yang belum terkunci.
"Ayo masuk, sepertinya sudah tidak ada orang di area sini." Shion mengusulkan setelah melihat ke dalam Mall yang terlihat sepi di lantai dasar.
Karui mengeratkan satu tangannya di dada, dia menatap Shion. "Bagaimana kalau Ayame muncul?" tanyanya, dia mulai merasa ketakutan.
"Kalau begitu, kita bertanya padanya." Shiho mengeratkan kedua tangannya di tali ranselnya. Dia menunduk, dia masih terlihat ketakutan. "Kita akan bertanya, kenapa dia mengganggu kita."
Ucapan Shiho membuat Shion berjalan mendekat ke pintu masuk Mall, dia membuka pembatas jalan dan membukanya, mereka akhirnya memasuki Mall Uchiha yang ternyata pintu untuk menuju lantai dasar tidak tertutup dan mereka tidak menyadari sosok yang mengikuti mereka.
Sedangkan Sai dan Sakura, mereka masih berjalan di koridor Mall lantai dua, Sai menyorotkan lampu senter dan Sakura berjalan sedikit membelakang untuk bisa leluasa melihat hantu.
Suasana yang hening ini membuat Sai mengajukkan pertanyaan masih diposisinya membelakangi Sakura dan memimpin jalan. "Jadi, apa yang kau cari?"
Sakura akhirnya mendekat dan berjalan di samping Sai kembali. "Sesuatu yang tidak bisa kau lihat."
Sai tersenyum sambil menoleh ke Sakura, gadis ini tidak mengetahui hal ini. "Penglihatanku ini sangat bagus." Sai masih menyorotkan lampu senter ke depan.
"Kau tetap tidak bisa melihatnya meskipun penglihatanmu itu sangat bagus."
Sai berhenti berjalan, "Itu bukan "Kau"." Sai menghadap ke Sakura yang menatapnya dan tersenyum. "Namaku Shimura Sai. Shimura Sai."
Sakura tersenyum, dia menunjuk dirinya sendiri. "Dan namaku Haruno Sakura." Sai tersenyum, dan Sakura tiba-tiba tersentak sambil memegang Sai, pria ini segera menoleh ke belakang dan menyorotkan lampu senter, dan yang Sakura lihat ternyata adalah penutup tong sampah yang bergerak.
Sakura kembali berdiri tegak dan melepas genggaman di tangan Sai, pria ini tersenyum dan menyondorkan tangan kanannya. "Kau bisa mengandalkanku kalau kau takut."
Senyum terbentuk disudut-sudut bibir Sakura, dia menatap tangan Sai dan memegangnya. "Terima kasih." Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan pencarian sesuatu yang hilang menurut Sai dan pencarian hantu menurut Sakura.
Dan ketiga gadis tadi sudah sampai di Pancuran Mall, tempat mereka berfoto. Ketiga gadis ini berdiri berdempetan, dengan Shion dihimpit Karui dan Shiho. Mereka menatap patung di Pancuran.
"Ayame…" Shion mulai berbicara, "kami datang untuk menemuimu."
Dan bayangan di belakang mereka melewati lorong yang tidak diketahui ketiga gadis ini.
"Ada yang ingin kami katakan padamu." Giliran Shiho yang berbicara, dia mengeratkan genggaman tali di tasnya, salah satu tangannya menggandeng tangan Shion.
Sosok di belakang perlahan mendekat ke mareka. "Apa kau… di sini?" Karui sekarang yang bertanya. Nadanya terdengar tenang, namun ekspresi ketakutan tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Karena merasa sesuatu di bekalang, ketiga gadis ini menoleh ke bekalang, dan mereka tidak mendapati apa-apa karena memang mereka tidak bisa melihat sosok yang sudah dari tadi mengikuti dan mengintai mereka.
Sakura yang ingin melanjutkan pencarian di lantai dasar harus berhenti di eksalator yang berhenti bergerak dan menatap ketiga gadis yang berdiri di depan Pancuran. "Itu di sana," Sakura menunjuk ke bawah dan membuat Sai berhenti berjalan dan berdiri di belakang Sakura. "Mereka manusia."
Sai ikut melihat di bawah sana, ke Pancuran. "Ya. Kau benar. Kelihatannya, mereka seperti pelajar perempuan."
Sakura memiringkan kepala. "Hm… apa yang dilakukan keempat gadis itu di sana?"
Sai menoleh menatap Sakura bingung. "Bukankah hanya ada tiga gadis." Ucapnya. Dan Sakura langsung menatap Sai, dan pria ini kembali menatap bawah dan masih ada tiga orang di sana, dan saat Sakura menolehkan kepala, dia melihat empat gadis di sana, salah satunya berdiri di belakang Shion. "Hei!" teriakan Sai membuat ketiga gadis ini menoleh. "Apa yang kalian lakukan di sana?" tapi ketiga gadis itu berlari dan sosok di belakang Shion tadi berbalik dan menatap kepergian Shion, Shiho dan Karui. Sai segera turun dan masih berteriak. "Hei, berhenti!"
Sakura menatap kepergian Sai, dan tatapan gadis ini masih pada sosok yang diam di depan Pancuran, Sakura akhirnya turun dan mendekati gadis yang berseragam sama dengan ketiga gadis tadi dan posisinya membelakangi Sakura.
"Kaukah gadis itu?" dan sosok itu menoleh ke Sakura dan memberikan wajah hancur di depan mata Sakura, padahal semula jarak mereka lumayan jauh, dan hal ini membuat Sakura mengeratkan genggaman tangannya dan menutup matanya rapat-rapat karena terkejut. Sakura menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, kemudian Sakura menatap kembali hantu yang terlihat hancur wajahnya itu dan seperti biasa, sosok itu akan mengungkapkan hal yang dia inginkan.
.
Sai kehilangan jejak ketiga gadis tadi, pria ini memasang kembali pembatas yang ada di depan Mall Uchiha dan melihat kembali sekeliling untuk memastikan ketiga gadis ini masih berada di sini atau sudah pergi. Kemudian dia kembali masuk untuk menemui Sakura yang berada di dalam sendirian, saat sampai di Pancuran Sai tidak menemukan keberadaan Sakura.
Sai kemudian berkeliling untuk mengecek Mall kembali, dan disudut Mall terdapat Shion, Shiho dan Karui yang berhasil sembunyi dan lolos dari kejaran Sai. Shion mengintip untuk memastikan bahwa Sai tidak mengarah ke tempatnya dan temannya bersembunyi.
Dengan mendesah lega Shion berbalik menatap teman-temannya yang sama mendesah lega juga.
"Masalah akan semakin rumit jika kita sampai tertangkap." Shiho mengangguk setuju dengan ucapan Shion. "Seharusnya, kita tidak perlu ke sini." Shion berjalan diikuti Shiho dan Karui, mereka berhenti berjalan saat Sakura berdiri di depan mereka.
Sakura menyondorkan selembar foto di hadapan ketiga gadis ini dan mereka saling memandang satu sama lain karena ketahuan. "Ini kalian bertiga, bukan?" Sakura bertanya dengan suara pelan. dan sekali lagi ketiga gadis ini diam tidak bisa menjawab pertanyaan Sakura.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Sakura sekali lagi.
"Itu… kami… sedang…" Shion tergagap sambil ke sampingnya.
"Kami hanya tidak sengaja kemari kak, kami minta maaf." Karui segera menjawab.
Shiho mengangguk. "Benar, kami baru saja akan pulang. Kami permisi." Shiho yang dihimpit Shion dan Karui menarik tangan mereka dan membawanya menjauh dan keluar dari Mall Uchiha.
Sakura berbalik menatap punggung ketiga gadis ini, setidaknya dia mengetahui kebenaran setelah memeriksanya sendiri, Sakura membiarkan mereka pergi. Tapi setelah itu, mungkin Sakura bisa membereskan masalah dan membantu hantu gadis yang dia lihat tadi.
Mobil Sasuke berhenti di sebuah bangunan kosong, Kakashi tahu betul tempat ini dan tidak perlu ditanya kenapa pemuda tampan ini ingin ke sini.
Sasuke keluar dari mobil dan melihat sekeliling bangunan tua ini, suasana, tempat dan hal-hal di sini masih sama diingatan terdalam Sasuke. Pria ini masih berdiri di samping mobilnya sambil menatap bangunan dalam diam, lampu masih menyala untuk menghindari kesenyapan yang ada di bangunan ini.
Kakashi ikut keluar dan berdiri di samping Sasuke.
"Tempat ini tidak berubah sedikit pun dan sama persis seperti lima belas tahun yang lalu." Sasuke berbicara mengenai ingatan tentang bangunan ini dulu dan sekarang. Mata hitam kelam Sasuke menatap lurus bangunan di depan, ekspresinya datar dan penuh pemikiran yang sulit sekali untuk dijabarkan.
Kakashi melirik Sasuke. "Alasan kenapa kau jauh-jauh datang ke sini… karena kau merasa terganggu dengan undang-undang pembatasan yang akan hampir berakhir?" pertanyaan Kakashi hanya membuat Sasuke menoleh ke arah sekretarisnya ini dan kembali menatap depan.
Karena setelah itu, Sasuke berjalan memasuki gedung, Kakashi mendesah dan mengikuti Sasuke dari belakang. Bahkan Kakashi menghidupkan lampu yang terdapat di pintu depan. Sasuke sudah masuk bangunan yang hanya disinari cahaya bulan, dia melihat sekeliling di dalam bangunan.
Kakashi berdiri sedikit menjauh dari Sasuke, pria berambut perak ini menatap Sasuke. "Apa kau benar-benar tidak melihat wajah pelakunya saat kau disekap lima belas tahun yang lalu?"
Dan pertanyaan Kakashi membuat bayangan masa lalu kelam Sasuke terbayang dipikirannya, ditambah saat ini dia berada di tempat dulunya dia disekap.
.
Lima belas tahun yang lalu.
Sasuke diculik dan disekap disebuah bangunan tua jauh dari Konoha dan dia masih mengenakan seragam sekolahnya, saat terbangun dari pingsannya, Sasuke mendapati dirinya sudah terikat di kursi dengan ikatan tali yang kencang disekujur tubuhnya.
Saat Sasuke membuka matanya yang sedikit berkunang, dia mendapati langkah kaki mendekat ke arahnya, dia mengedipkan matanya berkali-kali karena penglihatannya yang masih terlihat buram. Sosok yang mengenakan gaun warna putih selutut itu kian mendekati Sasuke, dan Sasuke menyipitkan matanya agar tahu siapa sosok ini.
Dan setelah sosok itu mendekat dan berdiri di depan Sasuke, mata hitam kelam Sasuke terbelalak setelah dia dapat dengan jelas melihat sosok itu.
.
Ingatan itu menguar di memori terdalam Sasuke, dia tidak ingin membahas atau memberitahukan hal ini kepada siapapun. Termasuk Kakashi, sekretaris Sasuke yang sudah dari dulu menemaninya sampai sekarang.
Dia berdiam sejenak dan mendesah. "Aku tidak melihatnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
=To be Continued=
.
.
Semoga mata teman-teman tidak sakit membaca fic panjang ini^^
Dan beritahu jika ada Typo (ToT)
.
.
Terima kasih banyak:
.
uchihaliaharuno (yuhu… maapkan karena update lama kak Lia haha XD sudah puas dengan chapter panjang ini? Aku bagi dua ini satu episodenya, huhu-_- dan jangan ngakak lama-lama, inget pudung karena Maruko yaa XD dan maap"annya udah lewat beberapa bulan atau minggu yang lalu hihi XD dan masalah typo… itu penyakit turunan penulis, jadi mohon koreksinya untuk chapter ini juga kalo ada typo kak Lia :D terima kasih semangatnya kak! Salam hangat dariku :*)
kakikuda (sip ;) haha apakah peran Itachi yang jadi paman cocok? Apa sudah masuk kriteria menjadi paman? XD ini harus, Sakura kan kalo bicara ngelantur (macam aku ini/plak XD) yeah… Suigetsu jadi emak-emak yang suka ngegossip juga kan? Haha. Oh, syukurlah kalo feelsnya dapet, takut semua chara gak dapet feelsnya *pudung* yap.. typo yang berlebihan, terima kasih koreksinya, Indah sudah perbaiki chap sebelumnya (: hmm… sepertinya aku juga sedikit bingung jika membicarakan masalalu, mikir keras pas mau bikin adegan Saku nyeritain masalalunya, enaknya mau dibikin bagaimana? Tapi itu udah yang paling pas sih, gak tahu ternyata itu bikin kamu bingung *maapkan ._.* yeah… terima kasih untuk pujiannya, tapi cerita ini hanya remake bukan milik indah, indah hanya menambahkan saja^^ hmm… maapkan kalau indah bikin tragis, dan sudah lanjut. Semoga gak sakit mata yaa :D)
intan-sept (terima kasih koreksinya, sudah indah perbaiki chapter sebelumnya dan terima kasih sudah mau repiyu^^)
joruri katsushika (wuahh… siapa ya si Sai? Hmm.. ditunggu saja yaa hehe dan maapkan kalo updatenya gak bisa kilat, dan terima kasih sudah mau repiyu^^)
Srisavers28 (wuah… suka dengan Sai yeah? Senang begitu setelah tahu Sai datang hehe^^ harus nonton kalo lupa alur master sun *sambil maksa* /plak XD hmmm… kalo panjang itu jelas banget panjang, huhu semoga gak jenuh yaa :D dan terima kasih sudah mau menunggu. Sudah siapkan obar tetes mata? Hehe)
Laifa (wow… udah lama sekali ya? Aku baru tahu drakor ini dua tahun yang lalu sepertinya hihi. Wuah berarti sekarang udah gak tergila-gila dengan drakor yaa?)
Aika-chan (hai Aika-chan… dan masalah penulisan flashback kalo benar-benar panjang baru indah tulis Aika-chan, karena ini flashbacknya sedikit" jadi pakek tulisan miring, tidak masalah Aika-chan? terima kasih masukkan membangunmu. Semoga mata kamu gak sakit baca chap panjang ini :D dadah 'o')/)
Embah Madara (wuah… mbah, harusnya mbah nonton dramanya, keren lo mbah, indah rekomendasikan ini hehe. Yap! Karakter utama cowo memang cocok jadi Sasu, karena gak trlalu ooc banget hehe dan semoga chap ini menyembuhkan penasaran embah yaa hihi^^)
anggi (kalau dikembangkan, ditiap plot-plot sudah indah tambahkan, masalah dari sudut pandang indah biar lebih beda dari drakor aslinya, itu nanti ada di chap depan sepertinya, itupun tidak smuanya indah ganti. Karena biar feelsnya dapet. Dan terima kasih saran membangunnya Anggi-chan^^)
Guest (Woah… maapkan Indah, karena ini tuntutan cerita jadi indah tidak bisa berbuat apa-apa, dan kalo itu keputusan Guest-san untuk tidak membaca fic ini lagi, indah pun tidak bisa berbuat apa-apa juga. Dan bye~~bye~~ Guest-san (:)
yoo shi jin (Woah… big bos ke repiyu indah, ini sudah lanjut big bos^^ indah titip salam buat Wolf yaa. Salam ketjup basah :* /plak XD)
Hinata (maapkan yang tidak bisa update kilat Hinata-chan, dan jangan panggil indah autor yaa… cukup indah saja^^ terima kasih.)
hanazono yuri (sudah lanjut… terima kasih senpai^^)
Tia TakoyakiUchiha (Sudah next^^ bener banget! Seru drakor ini hehe dan masalah berapa chap? Hmm.. intinya panjang kali lebar x tinggi bagi bagi ke teman-teman supaya bisa dibaca hehe. Intinya satu eps indah bikin dua chapter^^)
raizel's wife (aaa.. terima kasih *sambil bungkuk-bungkuk* indah juga nonton drakor ini berulang-ulang kali dan gak pernah bosan eheh. Dan syukur feels humornya dapet. Siap! Indah insya allah akan menyelesaikan fic ini^^ dan terima kasih sudah mau menunggu dan menanti kelanjutannya, terutama semangatnya^^)
ice (jangan kecewa dengan chap ini karena nyatanya? Yeah… kamu tahu sendiri bagaimana hasil akhirnya XD wuah… harus nonton kamunya, atau baca ini dulu baru tonton deh hehe XD dan jangan panggil thor yaa… indah hanya memegang keypad bukan palu, jadi panggil indah oke^^ dan ini sudah lanjut… semoga gak sakit mata yaa :3)
Nurulita as Lita-san (seperti itulah Sakura, agresif yang berbeda kalo menurut indah. XD)
embunadjha1 (sudah lanjut^^)
Dolphin1099 (wuah.. tos dulu, karena ini juga drakor favorit indah *adu tos* hihi/ wuah… jangan terima kasih ke indah karena yeah… meski udah lama indah pengen remake ini drama, tapi indah kurang pede karena takut gak direspon sama teman-teman semua. Pas cerita ke teman akhirnya teman maksa suruh bikin drakor ini dalam belum fic, akhirnya karena desakan teman indah bikinin deh remakenya. Jadi, jangan berterima kasih ke indah saja hehe^^)
TheLimitedEdition (Sudah lanjut… dan jangan panggil thor dong, panggil indah saja^^ terima kasih)
.
.
Tidak lupa untuk silent reader dan yang sudah memfollow-favorite cerita ini. Indah ucapkan banyak terima kasih.
.
.
Dan … Indah masih menerima kritik dan saran yang membangun, bukan menjatuhkan tentunya. Dan tentu saja dengan bahasa yang enak dibaca, jadi lebih bisa saling memberi kenyamanan dalam menyampaikan pendapat. Itu saja. Terima kasih.
.
.
.
.
.
PS: Indah mau klarifikasi… Ekhem… cek 1.2.3. perhatian, semua Chara di fic ini tidak ada yang dari luar konteks Naruto, semua indah ambil entah itu dari Manga, Anime, Filler, OVA dan The Movie Naruto itu sendiri, entah itu dari masa kecil sampai yang Shippuden.
Jadi, kalau penasaran dengan Chara ini itu, bisa langsung tanya ke embah gugel. Insya allah embah akan menjawabnya dengan senang hati… terima kasih^^
.
.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya….
