Persona : Now It's Our Turn! (Chap.4)

Disclaimer : Persona 3 dan 4 bukan milik saya, yah saya mengakui itu… TwT
P3 & P4 milik Atlus w
Warning : Cerita ini mengandung Gajeness yang berlebihan, Lebay yang berlebihan, dan humor yang garing (atau mungkin juga nggak ada humornya) jadi, mohon maaf jika ceritanya tidak berkenan di hati anda… m(_ _)m

Note : saya berterima kasih untuk yang menyempatkan diri me-review fic saya yang aneh bin abal plus Gaje ini, hontou ni arigatou XD

Karena review kalian lah, itu membuat saya semangat *terharu* well, kita lanjutkan saja ceritanya, yosha!


+Souji POV+

Aku berusaha berlari secepat mungkin menghindari para shadow yang mengejarku dan juga Minato. 'Sial! Mereka cepat sekali, kalau aku tak menemukan tempat persembunyian kita berdua bisa tertangkap para shadow itu!' pekik ku dalam hati. Ku menengok ke belakangku, ku lihat Minato berusaha mengejarku dan para shadow itu mengikuti di belakangnya. "Sial…" desis ku.

Aku terus berlari, memperhatikan sekitar. Yang terlihat hanyalah tiang-tiang tinggi dan jalan yang panjang. "Tempat macam apa ini? Hanya ada jalan dan tiang-tiang begini!" teriakku.

"Mungkin…semacam jalan menuju dunia lain…" sahut Minato.

"Hah? Jalan menuju dunia lain? Kita memang lagi di dunia lain kali sekarang! Ini bukan di Inaba! Dan juga bukan di bumi!" sahutku lagi, sambil memperhatikan bulan berwarna merah yang bersinar terang. Masih sambil berlari.

"Souji…lebih baik…kita lanjutkan pembicaraan kita lain kali, sekarang…pikirkan... keselamatan kita dulu…" ucap Minato, di sela nafasnya yang tersengal-sengal.

'Dia memang benar, tapi bagaimana caranya?' batinku. Aku melirik ke kiri dan ke kanan lagi, berharap ada sesuatu yang dapat menyelamatkan kita, entah itu senjata ataupun orang yang berbaik hati mau menolong kita, walaupun tampaknya itu mustahil.

DRAAKKKK!

Aku berhenti berlari, kaget melihat sesosok Shadow berukuran besar mendarat tidak jauh dari tempatku berdiri. Di belakang, ada shadow yang mengejar kami berdua, dan di depan ada shadow yang menghalangi jalan kami untuk kabur. Ah…mungkin ini memang akhir dari hidupku…

+Normal POV+

"Shadow lagi? Bagaimana caranya kita kabur kalau begini?" tanya Minato, kaget. Ia tampaknya baru menyadari ada Shadow di depan mereka, bahkan ukurannya lumayan besar. "Souji, bagaimana ini?"

"Mana kutahu! Mungkin ini memang akhirnya ya…" sahut Souji, pasrah.

"Hei! Jangan begitu! Kita nggak boleh menyerah! Aku belum mau mati!"

"Aku juga belum mau mati! Tapi gimana caranya kita bisa mengalahkan shadow ini? Tanpa senjata? Nggak mungkin! Kecuali…"

"Kecuali apa?"

"Kecuali…jika ada keajaiban yang bisa menolong kita…"

"Itu sama aja dengan pasrah, tahuuu!"

Semakin lama, para shadow itu semakin mendekati tempat mereka berada. Souji hanya bisa menutup mata, dan pasrah. Sedangkan Minato berusaha mencari cara untuk kabur dari tempat itu. 'Bagaimana ini…aku belum mau matiiiiii!' batin Minato.

"Ah! Aku punya sesuatu yang mungkin bisa menolong kita!" pekik Minato.

"Apa itu?"

Tangan Minato mencari sesuatu di balik jaket tipisnya yang ia pakai. Dan, ia mengeluarkan sebuah…pistol! Yak! Pistol! Souji terperangah melihat pistol itu.

"Kau punya pistol? Ja…jadi…kau mengenakan jaket di malam musim panas untuk menyembunyikan pistol itu? Kau…ternyata benar-benar orang yang jahat!" pekik Souji, ketakutan. Siapa yang tidak takut, ia berada di dunia antah berantah, dikepung oleh shadow, dan kini, seseorang disampingnya yang ia kira baik malah mempunyai sebuah pistol? 'Ini memang akhir hidupku…'

"Ini bukan pistol biasa kok! Dan aku tegaskan sekali lagi, aku bukan orang jahat!" bantah Minato.

Souji masih ragu, "jadi, maksudmu itu adalah pistol ajaib yang bisa mengeluarkan magic bukan mengeluarkan peluru, hah? Jangan bercanda!"

"Bukan begitu! Ini...pistol ini biasa aku sebut 'Evoker'. Ini…untuk men-summon persona ku keluar…" gumam Minato, tidak yakin atas perkataannya sendiri. Masalahnya, ia sudah lama sekali tidak menggunakan persona setelah pertarungan terakhir dengan Nyx itu. Dan ia tidak yakin apakah personanya bisa ter-summon atau tidak.

"Persona? Ja…jadi kau mempunyai persona juga?"

"Don't tell me…you…"

"Aku…juga memiliki persona…namun aku men-summon personaku menggunakan kartu…bukan meggunakan Evoker seperti mu…"

"Hee…tampaknya menarik, aku ingin mendengar tentang personamu…tapi tampaknya, kita harus menyingkirkan para shadow ini dahulu…baru kita melanjutkan cerita kita…" gumam Minato, sambil tersenyum. Kemuadian ia mengarahkan Evokernya ke kepalanya sendiri.

"Hei? Apa yang kau lakukan? Kau mau bunuh diri?"

"Sudah kubilang ini bukan pistol biasa, ini adalah caraku men-summon PERSONAKU!" Minato menekan pelatuk Evokernya, sedangkan Souji hanya dapat menutup matanya.

SIIIINGGGGGG…

Hening. Itulah yang dirasakan Souji, perlahan ia membuka matanya karena penasaran apa yang terjadi. Dilihatnya Minato sedang menatap 'Evoker'-nya dengan tatapan tidak percaya.

"ARGHHHH! Kenapa personaku tidak keluar? Tidakkkk! ORPHEUSSSS! MESSIAHH!" Minato sekali lagi menembakan Evoker kekepalanya sendiri. Tetapi tidak terjadi apa-apa. "Ti…tidak …TIDAKKK MUNGKINNNN!" Minato melemparkan Evokernya ke tanah dengan penuh kekesalan dan…kekecewaan. "Ini tidak mungkin…kenapa…personaku…? Kita akan mati disini!"

Souji membungkukan badannya lalu mengambil Evoker itu, diperhatikannya Evoker itu. "I…ini…" Souji terpaku memperhatikan Evoker itu yang tiba-tiba bersinar. "A…apa ini…" Souji menoleh ke arah Minato, Minato meperhatikan Evoker itu, dan lalu mengambil Evoker itu. "Kenapa bersinar?"

SRIINGGGGGG!

Tiba-tiba sebuah cahaya, diikuti oleh kartu turun tepat di depan muka Souji.

I am thou…thou art…

Minato mengarahkan Evoker itu kekepalanya sendiri, dan Souji membuka tangannya seolah hendak mengambil kartu itu. "Per…so…na!" mereka berdua mengucapkan kata itu, berbarengan.

"Izanagi-no-Okami!" panggil Souji.

"Messiah!" teriak Minato. "Kenapa aku bisa mengeluarkan personaku padahal tadi tak bisa…?"

"Mungkin…kita harus melakukannya secara berbarengan…"

"Mungkin…ah! Bukan saatnya untuk bertanya-tanya! Kita harus melenyapkan semua shadow disini!"

"Heh, asal ada persona, semua akan baik-baik saja! Izanagi-no-Okami! Megidolaonnn!"

DUARRR! Beberapa dari shadow tersebut terkena serangan Souji dan kalah, sedangkan sisanya mengamuk, mungkin karena kaget dengan serangan Souji atau karena teman-temannya mati, entahlah…

"Messiah! God Hand!" Minato berhasil melenyapkan shadow yang mengamuk tadi. "Hee…sudah lama aku tak bertarung, rasanya asyik sekali!"

"Ahahahah! Aku juga merasa begitu! Heahhhh! Agidyne!" Souji menyerang satu-satunya shadow yang tersisa, yaitu shadow yang paling besar, tapi sayangnya shadow itu tidak terlalu mudah untuk dilenyapkan.

"Biar aku saja yang melenyapkannya! God Hand!" tapi sayangnya ternyata serangan Minato pun tidak dapat melenyapkan shadow itu. Berkali-kali Souji dan Minato mengeluarkan skill mereka dan bertarung melawan shadow itu, namun tampanya shadow itu terlalu kuat dan sulit untuk dikalahkan. "Sial, dia susah dikalahkan…bagaimana ini Souji? Apa kita kabur saja?"

"Tapi…kita sudah sejauh ini!"

"Kau benar…kita harus mengalahkannya!"

ZREETTTTTTT!

Entah apa yang terjadi, tapi Souji dan Minato merasa tubuhnya lagi-lagi tersengat arus listrik yang entah dari mana asalnya. "UARGHHHH!"

+Minato POV+

Sekujur tubuhku sakit semua, terutama kepala, apa mungkin akibat sengatan-arus-listrik-yang-entah-dari-mana tadi ya? Aku mencoba membuka mataku dengan perlahan, kulihat langit yang gelap di hiasi oleh bintang-bintang yang berkerlap-kerlip dengan indahnya. Tunggu! Perasaan tadi kita berada di bawah langit ungu gelap dengan bulan purnama berwarna merah ya? Kenapa langit ini seperti langit di Inaba?

"Minato! Kau sudah bangun?" sayup-sayup kudengar suara seseorang memanggilku, aku berusaha mengangkat tubuhku dan melirik ke arah suara itu berasal. "Souji…kita dimana?" tanyaku, bingung.

"Kita sudah kembali ke Inaba!" jelas Souji, dengan wajah berseri-seri.

"Apa? Benarkah itu?" aku memperhatikan sekitarku. "Benar! Tapi…kenapa kita berada di depan Amagi Inn?"

"Aku tak tahu…dan aku tak peduli. Yang penting kita sudah kembali ke Inaba dengan selamat! Well, walaupun tubuhku sakit semua da nada beberapa luka gores…tapi aku senang kita kembalii!"

Aku tersenyum melihat kesenangan Souji. Aku pun senang bisa kembali ke Inaba. "Lebih baik kita istirahat, kau segeralah pulang ke rumahmu dan istirahat. Besok kita bertemu di Junes untuk membicarakan peristiwa aneh tadi…aku sudah cape sekarang…"

"Yah, kau benar…masih ada yang perlu di bahas tentang peristiwa tadi…lagipula aku juga penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan personamu…" gumam Souji, sambil nyengir.

"Aku juga penasaran dengan ceritamu…hei, berika aku nomer HP mu biar aku dapat menghubungimu dengan mudah…"

"Oke!"


Yoshaaa! Tamat lagi nih chap.3 nya =w= makin gaje kan? XD

Tadinya mau bikin persona Souji sama Minato 'beda dari biasanya' tapi nggak jadi…=3= mungkin di fic lain aja kali yah… :9

Well, bagi yang baca jangan lupa review yah :9 walaupun aku tahu kalian pasti merasa mual membaca fic gaje plus abal ini tapi sempatkanlah me-review sebelum ke kamar mandi atau ke puskesmas terdekat okeh? *ting-ting #dilemparin duren sama readers

Okey deh! Arigatou for reading this fic, mohon maaf bila ada typo/salah kata, review please~~ *lari ke rumah sakit gara-gara dilemparin duren sama pembaca*