Believed You
Haruno Sakura adalah gadis yang amat sempurna, namun, kini kesempurnaan itu telah sirna. Sampai kelas 3 SMA Sakura menjalani hari-harinya yang monoton. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pemuda di bawah pohon sakura. Sejak saat itu, takdirnya mulai bergerak. Sakura ditunangkan dengan pemuda bersurai blonde. Namikaze Naruto namanya. Tentu saja pertunagan mereka akan bertemu dengan yang namanya pernikahan. Banyak sekali rahasia Sakura yang mesti dikuak. Kini langkah apa yang dapat Naruto lakukan?
XOXOXOXOXOXO
Sakura membuka kedua membuka matanya. Gadis itu segera bangkit dari tempat tidurnya sembari menguap lebar. Diregangkannya kedua tangannya lebar-lebar ke udara. Kedua irisnya mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Mengagumi penataan ruangan yang baru ia lakukan semalam. Mengucek kedua matanya sebentar dan segera mengambil handuk untuk membersihkan diri.
Sakura langsung mengepak barang-barang miliknya sesudah sekolah setelah acara Naruto mengajaknya untuk tinggal bersama di mansion milik keluarganya, namun ia baru saja pindah kemarin malam tepatnya saat malam minggu ke mansion Namikaze. Sehingga ia membutuhkan waktu hingga tengah malam untuk merapikan barang-barangnya.
Kalau soal surat-surat sama barang-barang sih untungnya ada keluarga yang mau membantu Sakura sehingga ia tak terlalu kerepotan mengurusi semuanya, termasuk menghubungi neneknya akan kepindahannya ke mansion tunangannya itu.
Sakura mandi selama 10 menit lamanya, gadis itu sudah bersiap keluar dengan menggunakan sebuah dress simple berwarna putih gading yang panjangnya sekitar tiga senti di atas lutut. Rambutnya yang panjangnya sepunggung ia ikat satu.
Kamar Sakura berada di lantai dua yang tepat di samping kirikamar Naruto. Sedangkan, kamar Namikaze Minato dan Kushina berada di lantai pertama.
Setelah menuruni beberapa anak tangga Sakura segera menuju dapur untuk membantu Kushina memasak.
"Ohayou, Kaa-san." Sapa Sakura sembari membenarkan letak ikatan rambutnya.
"Ohayou mo, Sakura-chan. Pagi sekali kamu bangun." Sapa Kushina sambil tersenyum. Sakura langsung membenahi kembali ikatan rambutnya dan mulai mengambil apron berwarna hitam.
"Ehehe, ada yang bisa kubantu Kaa-san?" tanyanya sambil menatap Kushina yang sedang sibuk memotong beberapa daging.
"Hm… bisa minta tolong cucikan sayur dan juga memotong buah-buah ini?" tanyanya sambil menunjuk sekeranjang penuh sayuran dan buah-buahan. Sakura mengangguk pelan menyanggupi.
Sakura segera mencuci beberapa sayuran dan segera memotong kecil-kecil buah yang Kushina minta untuk dipotong.
"Bagaimana dengan kamar barumu? Apa kau merasa nyaman?" Tanya Kushina tanpa mengalihkan perhatiannya dari daging yang sedang ia olah.
Sakura menghentikan sebentar kegiatan memotong buah dan mulai berpikir sebentar. "Hm… aku merasa baik-baik saja dan juga nyaman dengan kamar baruku, kok, Kaa-san." Jawabnya jujur lalu ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Syukurlah… Kalau perlu bantuan kau bisa minta tolong ke Naruto. Jangan sungkan-sungkan." Kata Kushina senang. Mendengar berita bahwa Sakura akan pindah ke mansion mereka langsung membuat pasangan Namikaze itu tersenyum senang. Mereka kira Sakura akan pindah bulan depan. Tapi, ternyata Sakura akan pindah minggu ini juga.
"Ha'i, Kaa-san."
"Tunggu sebentar di sini, aku mau memberikan kopi untuk Minato." Kushina lalu segera mengambil sebuah cangkir dan mulai menuangkan isinya.
"Ha'i." timpal Sakura pelan.
Kushina langsung pergi sambil membawa secangkir kopi yang Sakura tebak adalah… Americano Coffee. Beberapa menit kemudian sosok Kushina kembali ke dalam dapur.
"Maaf menunggu lama." Ucap wanita paruh baya tersebut sembari mengerjakan kembali pekerjaannya. Sakura hanya mengangguk pelan dan meneruskan pekerjaannya.
"Ah, Sakura-chan, sepertinya sudah cukup buahnya. Kau tak perlu memotongnya lagi." Kata Kushina sembari mengagumi potongan Sakura yang sangat bagus. Kushina lalu mencomotnya, Sakura pun ikut-ikutan mencomot buah yang baru saja ia potong.
"Ah, baik. Akan kubantu membawakan makanannya."
Sebelum Sakura mengambil makanan yang sudah siap saji Kushina langsung menahan tangan Sakura pelan. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri atau kalau perlu aku akan menyuruh Minato untuk membantuku. Lebih baik kau membangunkan Naruto di kamarnya."
"Baiklah…" Sakura lalu meletakkan pisau serta apron yang masih melekat di tubuh rampingnya dan melangkah menuju lantai dua, di mana kamar Naruto berada. Langkahnya terhenti saat ia berada tepat di depan pintu kamar Naruto. Sakura menghela napas pelan, mencoba menetralkan jantungnya yang sedang berdetak cepat.
Sati ketukan…
Dua ketukan…
Tiga ketukan…
"Naruto?"
Panggil Sakura ragu-ragu…
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Narusaku
Genre : Drama/Romance
Warning : Fast plot, OOC, Typo(s), etc
.
.
.
XOXOXOXOXOXO
Tak ada jawaban dari dalam walau Sakura sudah berkali-kali mengetuk pintunya. Ia bingung antara masuk ke dalam atau tetap menunggu di luar sampai Naruto sendiri yang keluar.
Sepertinya opsi kedua tak mungkin karena menurut informasinya yang baru ia dapatkan tempo hari saat Naruto tidur di pangkuannya, pemuda blonde itu amat susah sekali untuk dibangunkan.
Setelah hampir semenit lamanya Sakura berpikir sekaligus menunggu, akhirnya gadis bersurai soft pink itu pun masuk ke dalam kamar tunangannya.
Dengan pelan Sakura mulai membuka pintu kamar milik Naruto. Langkah demi langkah Sakura jejakkan. Dengan langkah pelan dan amat hati-hati Sakura mulai mendekati tempat tidur Naruto yang berukuran king size.
Sakura tersenyum kecil melihat Naruto yang masih sibuk tidur. Amat nyenyak, membuat Sakura tak tega membangunkannya. Sakura kembali melangkah mendekati Naruto yang sedang asyik terbuai dalam alam mimpi. Setelah dirasa cukup dekat Sakura mulai mengguncang pelan bahu Naruto agar pemuda itu terbangun.
"Naruto." Panggil Sakura pelan, berharap pemuda itu bisa langsung terbangun. Walau sepertinya tak mungkin. Sakura menghela napas pelan, gadis itu mulai berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Naruto.
Bisa Sakura rasakan terpaan napas lembut Naruto yang mengenai lehernya sekilas, membuatnya merinding. Sakura terkekeh pelan dibuatnya. Gadis musim semi itu dengan iseng mulai mengulurkan tangan kanannya untuk mencolek-colek pelan pipi Naruto.
Bosan dengan pipi, berganti ke rambut untuk memainkan surai-surainya. Jari telunjuknya dengan iseng dari rambut turun ke dahi, turun lagi ke hidup untuk mencubit ujung hidungnya pelan, kemudian turun lagi sampai akhirnya di atas bibir Naruto. Gerakan Sakura langsung terhenti. Tubuhnya langsung menegang.
Jari telunjuk Sakura yang sebelumnya mengusili wajah tunangannya kini ia tarik perlahan. Merasa malu atas apa yang baru saja ia lakukan terhadap tunangannya. Tangan kanan Sakura kini mengambang di udara, sampai sedetik kemudian tangan lain yang berwarna tan menggenggam tangan Sakura posesif.
Sakura yang kaget langsung jatuh terduduk ke belakang. Naruto yang sebenarnya sudah bangun dari tadi menyeringai pelan lalu ia menarik tangan kanan Sakura untuk mendekat ke arahnya.
Sakura yang baru saja meringis pelan karena jatuh terduduk kini tubuhnya ditarik oleh Naruto untuk bangun. Namun, sayangnya kaki Sakura belum siap sehingga gadis itu terpeleset dan menindih tubuh Naruto yang masih terbaring di kasur king size-nya. Kedua lengan Naruto langsung melingkari pinggang Sakura posesif membuat empunya menegang.
"Naru… to?" panggil Sakura ragu-ragu. Naruto menarik tengkuk Sakura pelan lalu menyentuhkan kening Sakura dengan keningnya. Seketika itu juga Sakura menahan dirinya untuk tak bernapas.
"Hm?" gumam Naruto pelan.
"Kau sudah bangun dari tadi, bukan? Menyebalkan…" Sakura lalu menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah di bahu kiri Naruto.
"Menjahili tunanganku bukan tindakan yang salah bukan?" goda Naruto sambil mengelus surai soft pink milik Sakura dengan tangan kanannya.
"Apaan… Sudahlah, Tou-san dan Kaa-san sudah menunggu kita untuk sarapan. Cepat ganti baju dan juga cuci muka, Naruto." Ucap Sakura sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Naruto. Namun sayangnya usahanya sia-sia saja karena Naruto makin mengertakan dekapannya.
"Tidak akan." Jawab Naruto yang membuat tunangannya itu menggeram pelan.
Sakura menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri dari amarah yang siap meledak-ledak kapan saja. "Haah, jangan buat aku marah Naruto."
"Sedang aku coba, Sakura-chan." Kata Naruto sambil nyengir tak berdosa.
"Menyebalkan…" desis Sakura pelan, mencoba untuk menahan diri agar tidak mencekik leher tunangannya itu dengan ganas.
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian tahu."
Keheningan menyerang mereka berdua. Sakura sedang bingung mencari cara agar Naruto mau menuruti permintaannya itu. Sedangkan Naruto sedang berpikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk menjahili tunangannya itu.
"Apa kau ingin aku memenuhi permintaanmu itu, Sakura-chan?" Tanya Naruto yang membuat Sakura mengangkat kepalanya ke atas kepala Naruto beberapa senti.
"Ya, lalu… tunggu dulu, kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu?"
"Yep." Naruto mengangguk pelan sedangkan Sakura mendesis pelan. Sakura kini tampak memutar otaknya dengan cepat.
Sakura menghela napas pelan dan Naruto tahu arti helaan napas Sakura. Pemuda blonde itu menyeringai pelan. "Hm… baiklah, asal permintaanmu tak mesum." Ucap Sakura tanpa menyembunyikan raut tak suka dari wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu… morning kiss." Kedua iris Virdian Sakura langsung mengecil setelah mendengar permintaan itu dari mulut Naruto.
"Haah… yang benar saja. Itu tetap saja termasuk…"
"Bukankah wajar kalau tunangan berciuman?" potong Naruto sambil menarik tengkuk Sakura untuk lebih mendekat ke arahnya. Kedua tangan Sakura menahan dirinya agar tak makin mendekat ke arah Naruto, walau ia tahu itu sia-sia saja.
"Me-Memang sih, tapi tetap saja…" Sakura lebih memilih tak melanjutkan kalimatnya karena malu. Ia kemudian mengelihkan pandangannya dari Naruto.
"Kau benar-benar manis, Sakura-chan." Kata Naruto. Pemuda itu kemudian bangkit yang tentunya Sakura juga ikut-ikutan bangkit. Sakura lalu menatap bingung Naruto.
Naruto tersenyum kecil ke arah Sakura. Pemuda itu mulai mendekatkan wajahnya. Sakura yang ingin mengalihkan pandangannya namun tak bisa karena tangan kiri Naruto ternyata sudah menahan tengkuk Sakura.
Sakura kira Naruto benar-benar akan memintanya morning kiss. Tapi yang terjadi Naruto malah mengigit pelan ujung hidung Sakura hingga sedikit kemerahan.
Seluruh aliran darah yang ada di dalam tubuh Sakura kini dengan cepat berpindah ke wajah Sakura untuk membuat rona kemerahan yang membuat Naruto terkekeh pelan saat melihat perubahan wajah Sakura yang amat cepat.
"Baka…" gumam Sakura sembari menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah ke dada bidang milik Naruto. Sekarang Sakura berpikir darimana Naruto mendapatkan sisi mesumnya seperti tadi. Sepertinya kata-kata Naruto di atap hanyalah timpalan spontan darinya.
Dan juga… sepertinya lagi Minato dan Kushina harus menunggu beberapa menit lagi untuk menunggu dua sejoli yang sedang sibuk itu.
XOXOXOXOXOXO
Sarapan sudah selesai setelah Naruto dan juga Sakura mendapat sedikit interogasi dari Kushina, sedangkan Minato hanya diam saja sambil meminum kopinya dengan santai. Dalam interogasi ini kebanyak Narutolah yang menjawab pertanyaan dari Kushina Sakura hanya menambahkan sedikit dan terkadang mengangguk-angguk pelan membenarkan jawaban dari Naruto.
Kini Sakura dan juga Kushina sedang sibuk mencuci peralatan makan yang baru saja digunakan. Kushina bagian mencuci serta membilas sedangkan Sakura bagian yang mengeringkan dan juga menumpuknya seperti semula. Kalau bertanya di mana Minato dan Naruto jawabannya adalah mereka sedang sibuk bermain catur di ruang keluarga yang berhubungan langsung dengan dapur dan juga ruang makan.
Dapat Sakura lihat Naruto mengerutkan keningnya, berpikir keras untuk mengalahkan ayahnya. Dalam hati Sakura tertawa karena jarang sekali mendapati Naruto yang sedang sibuk berpikir. Ekspresinya sangat lucu bagi Sakura.
"Sangat lucu, bukan?" Tanya Kushina seraya bisa membaca apa yang sedang Sakura pikirkan sekarang. Gadis bersurai soft pink itu menoleh sebentar ke arah Kushina lalu kembali pada pekerjaannya.
"Ya, begitulah." Jawab Sakura jujur, pasalnya di mansion Sakura sama sekali tak ada momen-momen hangat seperti ini. Membuat sebuah gemuruh di dalam hati Sakura.
"Akan sangat menyenangkan sekali kalau pemandangan seperti ini ditambah satu orang lagi yang berasal dari kalian, ya…" goda Kushina sambil sedikit mencuri-curi pandang ke Sakura dan juga Naruto. Sakura yang mengerti betul makna dari kalimat Kushina langsung merona hebat. Wajahnya kini bagaikan kepiting rebus.
"Ahaha…" hanya tawa kikuk yang dapat Sakura lontarkan sebagai sebuah timpalan.
"Sakura, kau tahu? Saat aku pertama kali melihatmu… saat kau berumur sekitar lima tahunan mungkin, aku merasa bahwa aku dapat mempercayakan Naruto kepadamu. Aku tahu ini aneh, tapi… aku merasa kalau kita memiliki sifat yang sama sehingga saat keluarga kalian mempercayakan Naruto sebagai calon tunanganmu, aku takkan ragu lagi." Ucap Kushina dengan nada lembut yang membuat hati Sakura tersentuh.
"Waktu itu kau sedang tidur di dalam gendongan Mebuki, aku langsung terpesona oleh kecantikanmu, lho…" goda wanita paruh baya itu, membuat Sakura mengulum sebuah senyuman manis di wajah ayunya.
"Terima kasih atas pujiannya… dan juga terima kasih untuk mempercayakan Naruto padaku, Kaa-san." Kata Sakura sembari ber-ojigi.
"Aku juga, Sakura-chan." Timpal Kushina sambil ber-ojigi juga. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama-sama. Menyadari bahwa sifat mereka sangatlah sama. Mungkin saja kalau Sakura merupakan kloningan dari Kushina.
Naruto kemudian memasuki dapur untuk mengambil minuman, namun, melihat Sakura tersenyum bersama ibunya memuat Naruto tak bisa menahan diri untuk memeluk Sakura.
"Sa-Ku-Ra-chan." Panggil Naruto seraya memeluk Sakura dari belakang yang membuat Sakura sendiri terlonjak kaget atas perbuatan tunangannya itu.
"Naruto, kau suka sekali mengagetkanku." Geram Sakura sambil menoleh ke arah Naruto yang sedang nyengir. Melihat tingkah laku mereka berdua yang mesra mengingatkannya akan Minato dan juga dirinya semasa muda dulu.
"Ya ampun Naruto, kalau kau terlalu mesra terhadap Sakura-chan aku jadi khawatir untuk meninggalkan kalian berdua di mansion." Goda Kushina yang membuat rona kemerahan di kedua pipi Sakura.
"Ah, kalau itu, aku akan memukul Naruto sebelum ia sempat menyentuhku." Ancam Sakura lalu ia menyeringai ke arah Naruto yang masih saja setia memeluknya dari belakang.
"Kaa-san ini aneh-aneh saja, aku tak mungkin menyentuh apalagi menghamili Sakura-chan sebelum ia lulus kuliah setidaknya atau sampai ia berhasil meraih mimpinya." Timpal Naruto yang entah mengapa sedikit menusuk hati Sakura.
Sakura kemudian terkekeh kaku pelan. Naruto yang sepertinya mulai mencium bau kejanggalan dari Sakura lantas menatap tunangannya dengan tatapan sendu. Naruto mulai mengeratkan pelukannya. Sakura yang merasa sesak mulai menoleh kembali ke arah Naruto. Mendapati mimik Naruto yang sendu membuat Sakura hanya diam tak berkomentar.
"Oh ya? Manis sekali anakku ini…" goda Kushina lagi sambil mencubit pipi kanan Naruto dengan gemas. Sepertinya wanita paruh baya itu sama sekali tak menyadari perubahan mimi keduanya. Naruto langsung mengaduh kesakitan karena mendapat cubitan maut di pipinya dan mulai merengek ke Sakura.
"Naruto, katanya cuma mau ambil minum." Ujar Minato sembari memasuki dapur."Ternyata malah bermesraan bersama Sakura." Godanya saat Naruto masih saja memeluk Sakura dari belakang. Naruto terkekeh pelan sedangkan Sakura langsung merona.
"Hehe, maaf, maaf, Tou-chan. Ini juga baru mau ambil kok, sekalian buat Tou-chan." Timpal Naruto sambil nyengir tak bersalah ke arah Minato. Naruto lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil jus jeruk. Minato dan Kushina berbincang-bincang ringan, sedangkan Sakura… gadis itu memandang Naruto dengan raut wajah yang tak bisa dibaca.
XOXOXOXOXOXO
Terdengar sebuah ketukan di pintu Sakura membuat gadis bersurai soft pink itu menghentikan kegiatan belajarnya sebentar.
"Ya, masuk." Ucapnya kemudian sambil menatap pintunya. Sesosok pemuda berambut blonde dengan iri Sapphire-nya kemudian melengang masuk ke dalam kamar Sakura.
"Naruto, ada apa?" Tanya Sakura, pasalnya ini kali pertama Naruto masuk ke dalam kamarnya.
"Hehe, aku cuma mau mengobrol deganmu sebentar." Jawab Naruto sambil menampilkan senyuman tak berdosanya yang membuat Sakura menghela napas pelan, tak kuasa menolak.
"Dasar, kupikir ada apa." Geram Sakura pelan sambil menutup buku bacaanya. Naruto kini duduk di salah satu love seat yang telah disediakan. Kedaan menjadi hening karena Sakura menunggu Naruto berbicara namun tampaknya pemuda itu sedang memutar otaknya. Akhirnya gadis itu mulai mengambil smartphone dari meja belajarnya dan mulai memainkannya.
"Hei, Sakura-chan, boleh aku menyakan sesuatu." Ujar Naruto setelah setidaknya menghabiskan hamper semenit lamanya.
"Apa?" timpal Sakura asal sambil memainkan smartphone miliknya.
"Ehm… aku takkan berbasa-basi jadi maaf kalau terlalu blak-blakkan kesannya…" kata Naruto sambil mengalihkan pandangannya ke arah lantai. Sakura menghentikan kegiatannya sebentar dan mulai menatap Naruto sedikit serius.
"Jadi begini, boleh aku bertanya tentang… impianmu?" Tanya Naruto kemudian. Sakura lalu mengerutkan dahinya pelan setelah mendengar pertanyaan Naruto.
"Kenapa?"
"Yaah, tidak, begini aku…" Naruto lalu menggaruk pelan tengkuknya. Sakura menatap Naruto tajam, otaknya mulai berpikir keras.
"Apa ini ada hubungannya dengan perkataanmu saat di dapur waktu itu?" potong Sakura cepat-cepat seperti bisa membaca apa yang sedang pria itu pikirkan sekarang.
"Ya." Jawab Naruto mantap yang ternyata malah membuat Sakura ragu-ragu. Sakura mulai berpikir keras dan Naruto setia menunggu jawaban Sakura.
Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit…
Naruto masih terus menunggunya sambil memainkan smartphone kesayangannya. Sakura masih duduk dengan gelisah di kursi belajarnya.
"Mungkin…" ucap Sakura lirih yang membuat Naruto mengalihkan pandangannya dari smartphone ke arah tunangannya itu.
"Mungkin… menjadi dokter lalu bekerja di rumah sakit ternama." Lanjut Sakura sambil menunduk ke bawah.
"Bodohnya, itu hanya kewajibanku." Tambah Sakura cepat-cepat sambil memutar kursi belajarnya untuk membelakangi Naruto.
"Kewajiban?" Tanya Naruto memastikan dengan sedikit dahi berkerut. Sakura hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Yaah, kau tahu sendiri kalau klan Haruno bekerja di bagian kesehatan." Terang Sakura sambil mulai menerawang jauh.
"Lalu… apa kau suka menjadi dokter?"
Sakura kembali berpikir. Kedua tangannya bergerak-gerak gelisah. "Aku hanya ingin menolong orang lain, tak lebih."
Mendengar jawaban Sakura, Naruto langsung mengulum sebuah senyuman. Sedangkan Sakura masih memainkan kedua tangannya.
"Itu artinya… kau menyukainya."
Kedua iris Sakura langsung mengecil. Naruto lalu beranjak dari tempatnya dan mulai mendekati Sakura perlahan. Kedua lengannya melingkar di bahu Sakura perlahan. Gerakan tangan Sakura langsung terhenti dan kini Sakura menahan napasnya.
"Ya, walau itu bukanlah impianku." Jawab Sakura asal, namun tidak berbohong.
"Apa kau begitu menginginkannya?" Tanya Naruto yang kemudian mendekatkan salah satu pipinya dengan salah satu pipi Sakura juga yang membuat gadis itu sedikit geli karena surai-surai Naruto mengenai kulitnya.
"Yaah… kau pasti tahu jawabannya." Timpalnya sambil memandang Naruto lewat ekor matanya.
"Hm… walau pada akhirnya kau memiliki pekerjaan?" Tanya Naruto lagi. Sakura memutar kedua bola matanya pelan
"Ya…" jawab Sakura agak dongkol sebenarnya.
"Mungkin… ini bisa menjadi solusimu sih…" ucap Naruto degan segaja menggantungkan kalimatnya, berusaha menggoda Sakura lagi.
"Apa sih? Segera katakan…" Sakura kini berusaha mati-matian untuk menahan amarahnya yang siap meledak. Sebenarnya ia ingin sekali mencubit pipi Naruto kuat-kuat tapi tak jadi.
"Baiklah." Naruto memundurkan sedikit kepalanya agar tepat di telinga Sakura. Tubuh Sakura langsung menegang saat ujung bibir Naruto bersinggungan langsung dengan telinga Sakura ditambah deru napas hangat Naruto yang menyapu permukaan kulit Sakura.
"Kalau begitu, jadilah istri dari Namikaze Naruto."
Tubuh Sakura membeku sedangkan wajahnya memerah dengan sempurna tanpa bisa disembunyikan lagi. Melihat wajah Sakura, Naruto langsung terkekeh lalu tertawa pelan. Benar-benar reaksi di luar dugaan. Naruto piker Sakura langsung akan berteriak kepadanya atau memukulnya.
"Baka…" ucap Sakura lirih dengan wajah yang masih merah bak tomat matang atau kepiting rebus.
"Kenapa? Bukankah bagus? Menjadi nyonya Namikaze." Tanya Naruto sembari meletakkan dagunya di pucuk kepala Sakura.
Kedua tangan Sakura terjulur untuk memegangi kedu pipinya yang masih memerah itu. "Sudah… I-Itu sangat memalukan Naruto…"
Naruto terkekeh lagi.
Sakura hanya diam dengan wajahnya yang memerah.
"Kau sangat manis saat tersipu, Sakura-chan."
"Jangan menggodaku, baka." Geram Sakura sedikit samar karena sepertinya lebih banyak nada malu yang mendominasi dalam kalimatnya barusan itu.
"Hehe, siap-siap saja, karena sepertinya aku punya hobi baru." Ujar Naruto senang yang membuat dahi Sakura berkerut.
"Eh?"
"Hobi baruku ini pasti akan sangat menyusahkanmu… " lanjut Naruto, lalu ia menganggukkan kepalanya berkali-kali namun dengan pelan.
"Humh, apaan sih." Sakura lalu menolehkan kepalanya ke kanan, membuang muka. Keadaan mereka tetap sama seperti itu sampai akhirnya Naruto melepaskan kedua tangannya dari Sakura. Gadis itu kemudian berbalik untuk menatap Naruto.
"Sudahlah, aku akan kembali. Jangan tidur terlalu larut Sakura-chan. Oyasumi." Ucap Naruto sambil mengacak pelan rambut Sakura.
"Ha'I, Ha'I, Oyasumi, Naruto." Timpal Sakura pelan, tak berani menatap kedua iris Naruto secara langsung. Naruto kemudian berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Sakura.
Setelah sosok Naruto tak terlihat lagi oleh netra Sakura, gadis itu lalu menghembuskan napas pelan dan beranjak dari tempatnya untuk mematikan lampu belajar dan tidur. Walau sepertinya pembicaraannya dengan Naruto masih tercetak jelas di memori Sakura.
XOXOXOXOXOXO
TBC…
XOXOXOXOXOXO
Halo… di sini saya masih belum menunjukkan permasalahan tentang perebutan harta, jadi mohon ditunggu dengan sabar ya…
Karena banyak konflik jadi kemungkinan bakalan banyak character yang keluar ya…
Dan juga ada berita buruk sih… sebenarnya saya sedang melakukan persiapan untuk ujian jadi saya mungkin akan hiatus dulu dari FFn ini…
Saya juga tidak tahu sampai kapan tapi akan saya usahakan untuk tetap melanjutkan fic ini, walau saya sendiri tak tahu ini fic bakalan end di chapter berapa sih…
Dan juga terima kasih untuk yang sudah mau me-review fic abal ini… (maaf kalau ada kesalahan dalam penulisannya) :
Rohimbae88 : Makasih… ini sudah lanjut kok…
Agusgunawan72 : Udah update loo…
Guest : Haha… di fic ini Naru bisa lebih sweet lagi lho…
Guest : Makasih, ini sudah update…
Elle ns : Hahaha… saya enggak tahu ya…
Mrs. N : Makasih banget udah mau ngingetin saya…
HyperBlack Hole : Saya akan berusaha untuk memperhatikan typo lagi…
Dios : Haha, saya juga kadang bosan ama konflik cinta melulu gitu…
Miko mimi : ini sudah update, dibaca ya…
Hyuuhi Ga Ara : Makasih banget udah mau baca fic ini…
Uni-chab552 : yep, ini udah lanjut…
SR not AUTHOR : Haha, makasih banget ya…
NB : saya bikin fic lagi yang judulnya Heart Attack, trus saya bingung… enaknya dibikin oneshoot, twoshoot, atau multichap aja ya…
Di sini saya bikin karakternya bakalan OOC semua, trus yang jelas dengan pair NaruSaku kok…
Mohon bantuannya sekali…
