Maaf lama update(kagak ada yang nunggu lo buat update XD #plakk), chapter final kali ini semoga memuaskan para pecinta KanameZero. Ya, karena baru-baru ini extra chapter Vampire Knight menghancurkan hati saya. Saya pikir chapter ekstra dari manga Vampire knight akan mengungkapkan kisah rahasia KanameZero (ya kagak mungkinlah). Tapi ternyata hanya memunculkan YUKI YUKI dan Yuki ! Ugh ! Kalo YUKINA(chara yg di sekaiichi hatsukoi) sih gak apa2 hahaha.

Duh malah ngomong kagak jelas nih author ! udah langsung cek aja deh, Dijamin ceritanya bikin kepala pusing, kepala gatel dan hati yang tak karuan (kok kayaknya bahaya banget baca nih cerita )

-xxXXXXXXXXXXXxxx-

CHAPTER 3

"Ugh.. My body is hurt," keluh Zero ketika berhasil mendapatkan sedikit kesadarannya. Sekujur tubuhnya mungkin masih terasa sakit, namun ketika sebuah sentuhan hangat menyentuh pipinya membuat Zero lebih fokus untuk mencari tahu sumbernya, dan mengabaikan rasa sakitnya.

"Zero, kau baik-baik saja ?" sebuah suara lembut membelai telinganya. Suara yang sangat dirindukannya. Kaname.

"Tch. Aku masih hidup, Kaname." Respon Zero.

"Let me prove it,"

Tiba-tiba Kaname memberikan sebuah ciuman possesive sesaat setelah Zero mendaptkan kesadarannya. Ciuman itu bahkan membuat Zero sulit bernafas karena Kaname masih belum mau menarik dirinya selama lebih dari 20 detik.

"Kaname, apa yang- Mmm," Zero berhasil memprotes setelah Kaname menarik diri sesaat untuk menatap Zero sesaat, namun sayang Kaname kembali melanjutkan ciuman rindunya pada Zero untuk membuat Zero menghentikan protesnya.

Wajah blushing Zero dan nafasnya yang berat membuat Kaname terpaksa mengehntikan serangan ciumannya pada Zero.

"Maaf Zero, aku tak bisa menahan diri," ujar Kaname tanpa dosa.

"Maaf saja tidak cukup Kaname," Zero menarik kemeja Kaname dan mendekatkan Kaname padanya. "Kau harus membayarnya," lanjut Zero.

Zero membalas ciuman possesive Kaname dengan ciuman ringan namun memabukan. Ia melanjutkan serangannya pada leher Kaname yang indah. Zero menancapkan taringnya dan mulai menghisap darah Kaname perlahan. Menikmati setiap teguk diri Kaname yang merasuk ke dalam dirinya.

"Sepertinya kau sangat merindukan darahku,Zero," bisik Kaname. Perlahan ia mulai menempatkan jemarinya di antara helai rambut Zero yang lembut dan mengelusnya perlahan.

"Not your blood," Zero menarik diri dari dari leher Kaname kemudian menatapnya dalam. "But you, I miss you..." lanjut Zero mengalihkan matanya dari tatapan Kaname yang semakin memabukkan. Zero takut wajahnya semakin memerah, entah karena alasan apa.

Tunggu, bukankah alasannya sudah jelas ? Tentu saja hanya Kaname alasannya. Dan Zero benci mengakui hal itu.

"You really are my cutest vampire," bisik Kaname.

"Huh ? Apa kata- Mmm.." Lagi-lagi Kaname membungkam Zero dengan ciuman possesive yang membuat Zero tak berkutik. Kedua tangan Kaname mencengkram erat kedua tangan Zero dan memaksanya untuk tunduk di bawah Kaname. Zero tak bisa melawan hasrat liar Kaname yang telah terpendam begitu lama. Posisinya sudah tepat, Kaname sudah berada di atas Zero dan menghimpit Zero dengan tubuhnya yang seksi.

"Kaname ! Apa yang ingin kau lakukan ?" protes Zero sambil berusaha melawan.

Kaname tersenyum singkat, namun berbahaya. "Saatnya pembalasan Zero. Kau sudah membuatku menunggu begitu lama. Bersiaplah,"

"Tunggu dulu Kaname ! Ugh,,Ahhhh.." Zero tak berkutik ketika Kaname menggigit titik sensitifnya dengan lembut. Kaname melanjutkan serangannya pada leher Zero menciuminya dengan lembut dan possesive. Seolah memberi tanda, Zero hanyalah miliknya seorang.

"Kaname.. Please, Dont ... Ngghhh" Zero tak bisa melawan, hanya bisa mempererat cengkramannya pada bahu Kaname yang berotot dan sexy. Sial, Kenapa dia selalu dipermainkan oleh Kaname.

"Sorry Zero, I wont hold back anymore..."Bisik Kaname lembut di telinga Zero sembari menciuminya dengan lapar.

"Sial, sepertinya aku tak punya pilihan," balas Zero sembari tersenyum pasrah menatap wajah tampan Kaname yang hanya berada satu sentimeter darinya.

"Aku memang tidak memberimu pilihan,"

-xxXXXXXXXXXXXxxx-

BRAK !

"Kaname-sama !" Seperti biasa, Aidou membuka pintu tanpa mengetuk atau meminta izin. Namun kali ini kebiasaan buruknya benar-benar membuatnya dalam posisi yang tidak tepat.

"Huh ?" Kaname melirik ke arah pintu dengan tidak senang. Siapa orang yang berani mengganggu kesenangannya bersama Zero.

"Eh ?" Aidou kaget ketika melihat pemandangan 'sexy' yang ada di depannya. Kaname dan Zero berada di balik selimut tebal, dengan posisi Kaname berada di atas Zero. Tentu saja keduanya 'bermain di tempat tidur' tanpa sehelai baju pun menutupi tubuhnya. Tangannya memeluk erat seluruh tubuh Zero dengan aura possesive yang sangat terasa. Bahkan taringnya pun tak mau kalah meninggalkan jejak kepemilikan di sekitar bahu Zero, hingga meninggalkan titik titik merah di sekitarnya.

"Go-gomenasai ! Lanjutkan saja !"

BRAK ! Aidou segera menutup pintu dengan kasar dan segera mengambil nafas untuk menenangkan diri.

Gawattt ! Kaname-sama pasti akan membunuhku !

"Cih, Mengganggu saja," omel Kaname seraya menjilat tetes darah terakhir dari bahu Zero. Perlahan ia mengubah posisinya hingga berada di samping Zero seraya mengelus rambut sang pemuda perak itu dengan mesra. Belum, Kaname masih belum puas.

"Kaname, sebaiknya kau mengecek situasi saat ini. Sepertinya, salah satu 'vampir' mu membawa berita yang penting sampai-sampai dia mendobrak masuk seperti tadi," ucap Zero datar. Malam yang panas bersama Kaname membuat Zero sudah lelah berekspresi. Seluruh ekspresi,hasrat dan emosinya sudah terkuras habis bersama Kaname hanya dalam satu malam.

"Tapi aku masih belum puas," respon Kaname sembari memainkan tangannya menelusuri pipi Zero yang lembut dan bersih.

Zero meraih tangan Kaname yang menyentuh pipinya. Kemudian ia memiringkan tubuhnya hingga kedua matanya menatap Kaname dalam. Zero membalas sentuhan lembut Kaname dengan sebuah senyum lembut dan ciuman ringan di pipi Kaname yang lembut.

"Kita masih bisa melanjutkannya nanti, Kaname," bisik Zero di telinga Kaname. Sebuah bisikan halus yang membuat aliran darah Kaname menjadi tak karuan.

"Zero..."

"Hm? Kana...Hmpmmm..." Lagi-lagi Kaname memberikan ciuman dahsyat yang membuat Zero tak mampu berkata apa-apa.

"Maaf Zero, nanti malam kita lanjutkan lagi," ucap Kaname tanpa dosa seraya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Ah, Zero sebaiknya kau jangan menyusulku untuk mandi bersamaku karena aku khawatir kita malah akan melanjutkan urusan kita yang tadi-"

"Shut up ! You Pervert pureblood !" seru Zero kesal sambil melemparkan bantal ke arah Kaname.

"I love you, Zero.." ucap Kaname sembari tersenyum dan menutup pintu kamar mandi dengan pelan.

Cih !Those words is really irritating !

Beberapa jam kemudian, Kaname sudah bepenampilan elegan seperti biasanya. Ia menuruni tangga untuk menuju ruang santai. Di sana beberapa sahabat terpercaya nya, Takuma cs sudah berkumpul dan sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang serius.

"Kaname-sama !" seru Takuma ketika melihat sang pureblood turun dan menyebarkan aura khas bangsawan seperti biasanya. Aidou yang melihat kedatangan Kaname sedikit khawatir meengingat apa yang baru saja terjadi. Ia memundurkan langkahnya sembari menyembunyikan tubuh kecilnya dibalik tubuh Akatsuki yang tinggi besar.

"Sepertinya ada masalah serius," ujar Kaname pelan.

"Yes, there is quite a big problem , Kaname-sama," jawab Takuma,

"What is it ?"

"Vampire Association dan Hunter Association , keduanya memutuskan bekerja sama untuk mengincar kepalamu," seorang pria tinggi besar dengan santai menjawab pertanyaan Kaname. Ia menghisap rokoknya perlahan dan menatap Kaname dengan tatapan dingin. Sosok yang tak asing bagi Kaname. Yagari-sensei.

"What do you mean ? SENSEI ?" Tanya Kaname dingin.

"Kaname-kun, kepala Hunter Association telah memutuskan untuk bekerja sama pada kepala Vampire Association yang baru, Kuran... Rido ," ucap seorang pria berkacamata dengan rambut coklat muda terurai panjang. Sang kepala sekoolah, Cross Kaaien.

"Apa ? Dia masih hidup ?" tanya Kaname tak percaya.

"Begitulah, Sang pureblood wanita, Sara Shirabuki dan Mantan Ketua Vampire Association, Asato Ichijou bekerja sama untuk membangkitkan , sang Kuran Legendaris, Kuran Rido. Dan sepertinya, Rido sangat tertarik untuk berperang denganmu," lanjut Kaien.

"Dan aku dengar alasan Vampire Association memilih untuk mengkhianatimu adalah karena kau melanggar salah satu larangan bagi seorang pureblood. Yang kutahu pureblood hanya boleh berpasangan dengan sesama pureblood," kata Yagari tajam. Ia melirik ke satu arah di mana seorang lelaki tampan bermata violet menatap seisi ruangan dengan tatapan kosong.

"Zero..." bisik Kaname pelan.

"Jadi ... dia... Kuran Rido... dia masih hidup ?" bisik Zero tak percaya.

"Ya, dan dia berencana untuk menghancurkan Kaname-sama karena –"

"Aidou ! Hentikan !" potong Kaname segera. Ia tak ingin Zero mendengar ucapan tidak perlu dari Aidou.

"Tapi sensei ! Kenapa Hunter Association juga bekerja sama untuk menghancurkan Kaname ?" tanya Zero.

"Karena mereka khawatir jika keturunan terakhir Hunter Legendaris Kiryuu memilih untuk memihak para vampire dan para vampire akan memanfaatkannya untuk mendominasi dunia. Jadi mereka setuju untuk bekerja sama dengan Vampire Association untuk melenyapkan Kaname dan mendapatkanmu kembali," jawab Yagari.

"Apa ? Aku tidak mungkin-"

"Aku tahu keterikatanmu dengan Kaname bukan berarti kau memihak para vampire untuk mendominasi dunia. Tapi keterlibatan Kuran Rido yang menyebarkan perang denganmu membuat Hunter Association juga ikut terpengaruh. Ditambah lagi Kaito juga terlibat dalam kerjasama itu..."

"Kaito.. dia..." Zero tak melanjutkan ucapannya. Hanya saja ekspresinya yang sedih menunjukan rasa bersalahnya pada Kaito. Jika saja ia tetap bersama Kaito, mungkin masalah ini tidak akan terjadi.

"Jadi Kaname-sama, apa yang akan kita lakukan ?" tanya Akatsuki.

"Minna ... Kalian masih bersedia membantuku ? Bahkan setelah aku meninggalkan Vampire Association..."

"I'll always by your side and fight with you, Kaname-sama !" seru Aidou.

"Tentu saja kami akan selalu membantumu , Kaname-sama," tambah Akatsuki.

"I will follow you whatever you decide, Kaname-sama," ucap Takuma.

"Aku juga," Shiki ikut berbicara.

"Arigatou Minna," bisik Kaname lega karena semua sahabatnya berada di pihaknya.

"Zero-kun, apa yang akan kau lakukan ? Jika kau berniat berada di pihak Kaname maka kau harus bersiap melawan Kaito. Selain itu-"

"Sensei, aku ingin memastikan. Sensei ada di pihak siapa ?" tanya Zero langsung ke intinya.

"Yang kami inginkan hanyalah hidup damai seperti biasa. Jika Kuran Rido ada dalam vampire Association, hal itu tidak akan pernah terwujud, karena itulah-"

"Kami ada di pihak Kaname, Kiryuu-kun. Aku sudah berjanji akan akan menciptakan dunia damai antara manusia dan vampire bersama Kaname. Kau tak melupakan perjanjian kita kan? Kaname-kun ?" jawab Kaien tegas.

"Of course, Headmaster Cross," jawab Kaname.

"Sou ka," respon Zero sambil menghela nafas.

"Jadi Zero –"

"Aku akan mengakhiri perang konyol ini. Aku tak akan membiarkan pembantaian itu terulang lagi. Tidak lagi !" ucap Zero perih. Membuatnya harus teringat kembali pada malam pembantaian klan Kiryuu.

BRAK ! BRUAK !

Suara gemuruh terderah dari luar mansion. Terdengar suara suara raungan seperti binatang liar yang kelaparan. Tak berapa lama, terdengar suara pintu utama terbuka. Sekumpulan vampire level E berhamburan memasuki Kuran Mansion.

DOR ! SRET !

Tembakan Yagari-sensei dan tebasan pedang Cross-Headmaster menghentikan serangan dari level E. Tak diragukan lagi, mereka adalah hunter profesional, atau bisa dikatakan hunter legendaris.

"Sepertinya Rido sudah memulai aksinya," komentar Yagari santai.

"Yah, seperti yang sudah kau lihat, Rido-sama tidak main-main," ucap seorang wanita lengkap dengan aura pureblood yang menyesakkan. "Bukankah sekarang saatnya menyerah ? Kaname-sama ?" lanjut Sara.

"Tidak kusangka, ada juga hunter yang memihak Kuran-sama," komentar Ichijou di sebelah Sara.

"Kakek.." bisik Takuma melihat kakeknya, Asato Ichijou, yang lebih memilih memihak Kuran Rido.

"Lama tak bertemu, Takuma," sapa Ichijou dingin.

"Tsk,"

"Apa yang kalian inginkan ? Membunuhku sekarang ?" seru Kaname tenang.

"Tidak, kami tidak berhak melakukannya Kaname-sama, Kami hanya diperintahkan untuk menangkap anda hidup-hidup," ujar Sara menatap Kaname dengan intense.

"Kalian terlalu percaya diri. Tidak akan kubiarkan kalian menyentuh Kaname-sama !" seru Aidou kesal melihat master kesayangannya di ancam.

"Kalau begitu bersiaplah, Aku tak akan segan-segan," ucap Sara sambil memberi tanda para level E untuk menyerang.

Namun tiba-tiba sebuah gelombang kekuatan yang sangat besar membuat seluruh level E terhenti tiba-tiba. Aura khas pureblood yang mengintimidasi hingga membuat seluruh vampire dan hunter terpaksa menghentikan pertarungan.

"Hentikan, Aku tidak mengizinkan kalian menodai Kuran mansion dengan pertarungan sia-sia," ucap Kaname santai namun menekan.

"As expected from Kuran-sama. What a strong power," bisik Ichijou kesal.

"Tenanglah Ichijou-san, jika Kaname-sama tidak ingin ada pertumpahan darah di sini, itu berarti dia bersedia ikut bersama kita secara sukarela. Right ? Kaname-sama ?" Sara berkata dengan tenang. Beruntung, Darah pureblood nya membuat dia bisa mengimbangi aura menyesakkan yang muncul dari Kaname.

"Baiklah, jika pamanku tak mau menjemput kematiannya sendiri, biarkan aku yang mengantarkannya padanya," ucap Kaname sinis. "Ah, Takuma dan yang lain, sisanya aku serahkan pada ka-"

GREP !

Zero segera menarik tangan Kaname dan menatapnya tajam. "Jangan memutuskan seenaknya, Kaname. Aku tahu kau tidak lemah tapi Rido tidak akan memintamu datang tanpa mempersiapkan sesuatu," ucap Zero tidak senang.

Kaname tersenyum dan membelai pipi Zero dengan lembut. "Aku akan kembali Zero. Aku sudah berjanji untuk melanjutkan urusan kita yang belum selesai.. nanti malam," ucap Kaname lembut.

Kaname ! You Bastard ! Dont say it with such a gentle voice, Like nothing will happen. It makes me more worry about you. Im afarid of losing you !

"Kaname, You-"

"Ah, it reminds me. You are the last survivor of Kiryuu clan ,right ? I was ordered to bring you together with Kaname-sama," seru Sara.

"Apa yang kau mau dari Zero ?" seru Kaname tidak senang. Jujur saja tidak masalah jika hanya dirinya yang mengambil resiko dengan mendatangi Rido, tapi kenapa Zero juga harus ikut ?

"Entahlah, sepertinya ada urusan pribadi antara bocah Kiryuu itu dan Rido-sama 'yang belum terselesaikan'. Lagipula mantan partnermu sedang menunggumu,hunter-san," ucap Sara dengan nada sok elegan.

"Kaito..."

"Wait a minute ! Why should Zero-"

"Baiklah, aku akan pergi," potong Zero segera.

"Zero,aku tidak setuju !"

"Dont get me wrong, Kaname. Selain urusan yang harus kuselesaikan dengan Kaito ,aku juga harus memastikan bahwa kau tidak berbuat sembarangan," respon Zero.

"You really are stubborn, Zero !" keluh Kaname.

"Thanks for your compliment," respon Zero sinis.

-xxXXXXXXXXXXXxxx-

VAMPIRE ASSOCIATION BASEMENT

Sara dan Ichijou membawa Zero dan Kaname di sebuah lapangan luas. Di tengah lapangan, Rido tengah asyik menghisap darah para budaknya, entah vampire atau manusia. Tempat itu dikelilingi oleh banyak vampire dari beberapa tingkat dan juga beberapa vampire hunter yang juga ikut berjaga.

"Long time no see, Kaname..." ucap Rido menyeringai.

"Aku tidak berharap bertemu denganmu lagi, paman... Rido. Tapi sepertinya kau sangat menyukai kematian, sampai-sampai kau repot-repot kembali dari neraka hanya agar aku membunuhmu kembali. Then, I shall grant your wish," Kaname melepaskan sebuah kekuatan yang dahsyat tanpa ragu, hingga membuat vampire level rendahan yang ada di sekitarnya berteriak frustasi.

"As expected from my cute nephew," ujar Rido sinis. Ia membalas Kaname dengan melepaskan kekuatan imbang yang menandingi Kaname. Membuat aura pertarungan di sana benar-benar seperti neraka.

"Tch, aura ini membuatku sulit bernafas. Itulah kenapa aku membenci pureblood," keluh Zero sambil berusaha tetap berdiri. Bagaimanapun dia adalah vampire biasa yang mau tidak mau terpaksa takluk dengan kekuatan para pureblood. Meskipun hanya Kaname saja, satu-satunya pureblood yang berhasil menaklukan jiwa dan raga Zero (XD ).

"Get ready for your second death, Rido !" ujar Kaname bersiap menyerang dengan cakarnya. Namun Rido dapat menghindarinya dengan mudah, entah kenapa ada sedikit perubahan dari kekuatan Rido dibandingkan sebelumnya.

"Gerakan yang bagus, Kaname,,, tapi..."

DOR !

"Damn !"

Entah dari mana, sebuah peluru perak menembus punggung Kaname. Membuatnya terpaksa melompat mundur dan memaksa sikap waspada. Secara spontan Zero yang semenjak tadi hanya mengamati pertarungan pun mulai mempererat Bloody Rose miliknya dan menggunakan insting vampirenya untuk mendeteksi kebeadaan musuh.

"Kali ini aku memiliki seseorang yang akan merepotkanmu, Kaname," lanjut Rido sambil melirik sosok pemuda tampan berambut coklat yang tak lain adalah...

"Kaito, He is really here," bisik Zero ketika melihat partnernya muncul dari kegelapan. Zero mulai menggerakan kakinya untuk mendekati Kaito. Namun langkahnya dihentikan oleh Sara dan Ichijou.

"Jangan mengganggu, Kiryuu-boy," ujar Ichijou.

"That should be my line, vampire.." ujar Zero sambil menembakan Bloody Rose tanpa ragu. Membuat Ichijou dan Sara harus mundur untuk menghindar. Zero menggunakan kesempatan itu untuk mendekat tapi...

GREP !

Entah apa yang terjadi, namun Rido tiba-tiba sudah berada di belakang Zero. Ia memeluk tubuh Zero sekaligus menguncinya. Tangannya menyentuh pipi Zero dengan lembut, sedangkan lidahnya sudah tak tahan menjilat leher Zero yang begitu menggoda.

"Aroma mint, aku suka..." bisik Rido pelan. Membuat seluruh tubuh Zero bergidik ngeri sekaligus muak.

"You filthy pureblood, Let me go !" ujar Zero berusaha melawan. Namun sia-sia, Cengkraman Rido tak mau lepas.

"Zero !" teriak Kaname spontan ketika menyadari Rido berani menyentuh vampire eksklusifnya tanpa ijin.

Unforgivable ! I will kill him for sure !

Kaname secepat mungkin hendak menyelamatkan Zero dari cengkraman pamannya namun seseorang menghalangi Kaname.

"Kau punya urusan yang harus diselesaikan denganku,pureblood," ujar Kaito dingin.

"Jangan tersinggung hunter-san. But Zero is more important than dealing with you," ujar Kaname sambil menyerang Kaito tanpa membuang waktu.

"Tch," Kaito terpaksa mundur untuk menghindar.

"Kuran Rido ! Dont touch him with your filthy hand," ujar Kaname sambil mengirimkan gelombang serangan pada Rido.

"Cih," Rido yang baru saja hendak menancapkan taringnya pada Zero terpaksa melompat menghindari serangan Kaname, namun masih dengan membawa Zero dalam genggamannya. Ia mendarat dengan mulus di atas bangunan tertinggi.

"Maaf keponakanku, aku mengubah pikiranku. Aku akan menunda pembalasan dendamku padamu karena aku lebih tertarik untuk menyelesaikan urusanku dengan bocah Kiryuu ini," Rido menyeringai di bawah sinar bulan. Membuat seluruh jiwa Kaname semakin marah.

"Let me go already, filthy pure- Hmpphh " Rido menutup mulut Zero dengan ciuman tiba-tiba.

"So sweet..." bisik Rido.

Disgusting. I dont wanna someone else to kiss me but Kaname.

Entah kenapa, sesaat setelah Rido mencium Zero. Pemikiran itu muncul di otak Zero.

Hal ini membuat Kaname semakin marah. Amarahnya tak tertahankan,

Unforgivable ! Extremly Unforgivable ! Even a death is not enough to atone his sin ! That damn filthy vampire , Kuran Rido !

Rido tertawa senang melihat amarah Kaname dan juga ekspresi putus asa yang dimiliki Zero. "Ayo kita lanjutkan di tempat lain, my sweet Kiryuu. Kalian berdua, tahan Kaname agar tidak mengganggu" Ujar Rido sembari menghilang dari kegelapan.

"As you wish, Rido-sama !" ujar Sara dan Ichijou bersamaan.

"Wait !" Kaname berusaha mengejar tapi Sara dan Ichijou menghalangi di depannya.

"Sebuah kehormatan bisa menghadapimu, Kaname-sama." Ujar Sara sombong.

"Jangan mengganggu. Aku sedang kesal dan tak bisa menahan diri," respon Kaname dingin.

"Maafkan aku Kaname-sama, tapi tolong jangan remehkan aku. Aku juga pureblood , sama sepertimu.." respon Sara tak mau kalah.

"Like I care," Kaname menyerang Sara tanpa membuang waktu. Namun di saat yang sama Sara melepaskan kekuatan khususnya. Kekuatan mengintimidasi, membuat seluruh vampire yang ada di tempat itu melindungi Sara dari serangan Kaname. Beberapa hunter juga terhipnotis sehingga secara spontan menyerang Kaname tanpa peduli pada nyawa mereka.

"Good job, my boys," komentar Sara senang.

"Merepotkan !" keluh Kaname sambil menahan serangan membati buta dari para vampire dan para hunter.

"You let your guard down , Kaname-sama!" Ichijou menyerang Kaname menggunakan pedangnya dari samping, namun...

DOR ! DOR !

Dua peluru perak Kaito menyerempet tangan Ichijou sehingga pedang miliknya gagal menembus jantung Kaname. Ichijou dan Sara sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Namun keduanya segera mengambil sifat tenang sambil tetap mencoba membaca situasi.

"Ada apa ini, hunter-san ?" tanya Sara dingin.

"I change my mind," respon Kaito santai. " Aku tidak akan membiarkan Zero jatuh ke tangan Rido," lanjut Kaito.

Kaname tersenyum sinis mendengar jawaban Kaito. "Lalu apa kau akan membiarkan Zero jatuh ke tanganku saja, hunter-san ?" goda Kaname.

"I will deal with you later, Kuran. Saving Zero is the top priority," respon Kaito santai.

"Baiklah,apa boleh buat" Kaname melangkah maju bersamaan dengan Kaito di sebelahnya. Kombinasi hunter-pureblood yang cukup berbahaya.

"Cih, para hunter memang tidak bisa dipercaya," ujar Ichijou kesal.

"Bersiaplah Kaname-sama," ujar Sara santai. Bersamaan dengan hal itu seluruh budak hipnotisnya menyerang Kaname dan Kaito secara membabi buta.

"Mereka lemah tapi merepotkan," komentar Kaito kesal.

"Kau terlalu banyak mengeluh, Kaito. Singkirkan saja mereka secepat mung-"

WUSSHHHH ! CRAK ! Serangan api dan es membuat para level E yang mengerubungi Kaname berubah menjadi abu. Kaname menyunggingkan senyumnya ketika melihat dua orang vampir kepercayaannya muncul dalam situasi yang tepat.

"Anda baik-baik saja, Kaname-sama ?" seru Aidou masih sambil menyerang para level E.

"Maaf kami terlambat, Kaname-sama," Akatsuki muncul di belakang Aidou untuk membantunya.

Kaname tersenyum. "Setidaknya kalian masih datang,"

"Kaname-sama ! Jangan membagi perhatianmu saat bertarung !" seru Ichijou yang tiba-tiba datang meyerang, namun seseorang muncul menahan serangan Ichijou. Seseorang yang membuat Ichijou menyipitkan matanya karena kesal.

"We meet again, grandfather," sapa Takuma dingin.

"Cih," Ichijou mundur menghindari serangan Takuma kemudian tersenyum puas memandang kedatangan cucunya. " Lets have some fun, my grandson !"

"Kaname-sama, Serahkan dia padaku. Sepertinya ada urusan yang lebih penting menunggumu," ucap Takuma ketika menyadari situasi yang ada. Ia tak melihat Zero ataupun Kuran Rido di tempat itu. Dan jelas, telah terjadi sesuatu.

"Terima kasih, Takuma," ujar Kaname singkat.

"Kaname-sama. Please make sure, my father will rest in peace," ujar seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Kaname. Seorang vampire berambut merah dengan ekspresi datar. Shiki muncul sambil menghabisi beberapa level E yang mengganggu pemandangan.

"Tentu Shiki," respon Kaname singkat.

Ia hendak menggunakan kesempatan itu untuk berlari menerjang sekumpulan level E yang masih frustasi karena harus bertarung menghadapi duo es dan api (AidouAkatsuki). Namun, di luar dugaan , Sara menyerang Kaname secara langsung.

"Im sorry, Kaname-sama. Kau tidak boleh lewat," bisik Sara santai.

DOR ! DOR ! Dua peluru perak memaksa Sara mundur dari hadapan Kaname.

"Aku akan mengurus dia, Kau urus Kuran Rido," ujar Kaito dingin.

"Kau terlalu percaya diri, hunter-san. Kau tak mungkin bisa mengalahkan pureblood sepertiku," ucap Sara percaya diri.

"Jangan tersinggung Kaito. Tapi jika kau mati melawan Sara , Zero tak akan pernah memaafkanku," ucap Kaname.

"Tch," Kaito hanya berdeccak mendengar Kaname yang meremehkannya.

"Jangan tersinggung Kuran. Aku tak akan membiarkan muridku yang berharga mati oleh pureblood itu," Yagari muncul dengan santai. Seperti biasa ia menghisap rokoknya sambil bersandar menatap Kaito yang heran melihat kemunculan gurunya.

"Kaname-kun, pergilah. Aku akan mengurus sisanya," tambah Cross-headmaster muncul di sebelah Yagari-sensei. Ia mencopot kacamatanya dan mengeluarkan pedangnya dengan santai. Membuat siapa saja langsung mengakuinya sebagai salah satu Hunter legendaris.

"Sensei, Cross-headmaster," bisik Kaito tak percaya.

"Menarik sekali, duo hunter legendaris sampai repot-repot melawanku," bisik Sara santai.

"Kuran, Jika sampai terjadi sesuatu pada Zero. Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup !," ucap Kaito dingin dan serius.

"Aku tidak akan pernah menyesal. Tidak selama Zero masih ada di dunia ini," balas Kaname sembari menatap tiga orang hunter melawan seorang pureblood.

"Cih,"

"Just make sure You wont die, hunter, "

-xxXXXXXXXXXXXxxx-

Vampire ini. Dia yang bertanggung jawab atas pembantaian seluruh Klan Kiryuu beberapa tahun. Zero sangat membencinya. Kuran Rido.

"Just kill me already, you Damn pureblood !" bisik Zero frustasi. Ia menatap Bloody Rose yang ada sekitar 5 meter dari tempat ia terbaring. Kekuatan pureblood dari Rido membuat Zero tak bisa bergerak sama sekali. Ia hanya terbaring menatap Rido yang sedang bermain-main dengan tubuhnya.

So disgusting ! I dont wanna someone else to touch me...but...Kaname ! Shit ! I cant think someone else ! Just him !

"Tak heran, kenapa keponakanku sangat terikat padamu, Kiryuu," bisik Rido santai. Tangannya masih menjelajahi seluruh tubuh Zero dengan perlahan. Dengan santai ia membuka satu per satu kancing kemeja yang menutupi tubuh Zero yang terlalu indah.

"You Bastard, Dont touch Akhhh ~" Zero menjerit ketika Rido menjilat titik sensitif Zero dengan liar. Rido sudah tak tahan lagi, ia melanjutkannya ke area leher Zero yang sexy.

"Indah sekali, aku ingin memilikimu seutuhnya..." bisik Rido. Entah kenapa suara Rido terdengar begitu menjijikan. Membuat amarah Zero membara, membuatnya ingin merobek leher Rido untuk membuat pureblood sialan itu diam.

"Aghhh..." Zero mengerang ketika Rido sudah memulai aksinya. Ia menancapkan taringnya pada leher Zero yang sexy. Menghisap darahnya perlahan kemudian berpindah lokasi. Membuat beberapaa bekas gigitan menodai leher Zero.

"So sweet ~" Rido menjilat setiap tetes darah Zero bagaikan madu yang sangat berharga. Tak membiarkan setetes pun terbuang sia-sia.

"You Damn pureblood !" rutuk Zero sebisanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengumpat dan mencaci pureblood sialan yang ada di depannya.

"Saa~ Time to feed me with your blood using your mouth, My sweet Kiryuu," Rido mencengkram kedua tangan Zero untuk membuatnya diam. Perlahan Menindih tubuh Zero untuk mengunci pergerakannya, meskipun tanpa melakukannya pun Zero tetap tak bisa bergerak karena kekuatan pureblood miliknya. Namun entah kenapa, berada di posisi ini membuat Rido bisa semakin menikmati tubuh Zero.

"Tch!" Zero kehabisan kata-kata untuk mengutuk Rido. Ia hanya berdecak singkat.

Ada apa ini ? Aku menyerah ? Pasrah ? How pity...

WUSHHHHHH ! Sebuah kekuatan dashyat membuat Rido terhentak kaget.

"How dare you touch my precious vampire ! Kuran Rido !" bisik Kaname dingin. Ia muncul dengan kekuatan plus amarah yang tak terbendung.

"Kaname ..." Zero kaget sekaligus lega ? Ya, tentu saja ia lega melihat sosok tampan yang begitu ingin dilihatnya sejak tadi.

"Kau benar-benar keponakan yang merepotkan, Kaname-kun," Secara perlahan Rido menjilati sisa darah yang ada di sudut bibirnya. Darah manis yang seharusnya hanya bisa dirasakan oleh Kaname. Aroma mint yang seharusnya hanya menyebar di tubuh Kaname. Zero hanya milik Kaname.

Kaname tak merespon ucapan Rido. Ia meresponnya dengan memberikan serangan tiada henti. Gelombang kekuatan sang Ancestor Kuran tak dapat dihentikan. Namun diluar dugaan, kekuatan Rido tak seperti terakhir kali Kaname bertarung dengannya. Ada sesuatu yang aneh. Kekuatan Rido meningkat secara drastis.

"Kekuatan itu..." Bisik Kaname kesal. Peningkatan kekuatan yang drastis bagi seorang vampire hanya disebabkan dua hal. Yang pertama, Ketika seorang vampire meminum darah belahan jiwanya dan yang kedua adalah Kanibalisme. Ketika seorang vampire meminum darah dari satu klannya. Dengan kata lain...

"Akhirnya kau sadar juga, keponakanku. Ya, aku sudah meminum darah, ah tidak , lebih tepatnya aku menghisap kekuatan dari salah satu klan kita. Kuran Clan. Seperti yang kau tahu, satu-satunya keturunan Kuran yang mungkin adalah..."

"Yuuki..."

"Ya, Kuran Yuuki, adik tersayangmu,," ucap Rido senang.

Kaname terdiam mendengar ucapan Rido. Dosa yang dilakukan Rido sudah tak dapat diampuni lagi. Ia sudah membunuh Yuuki, adik Kaname. Ia sudah menyebarkan kebencian dan menyebabkan pertarungan diantara para vampire. Dan yang paling tak bisa dimaafkan adalah dia sudah berani menyentuh Zero. Satu-satunya vampire eksklusif milik Kaname.

Kenyataannya, Vampire adalah makhluk yang sangat possesive. Ketika ada orang lain berani mencuri sesuatu dari seorang vampire maka yang pantas bagi orang itu hanyalah kematian.

Tanpa banyak bicara Kaname menyerbu ke arah Rido dengan kecepatan yang tak bisa dilihat. Terlalu cepat tanpa Rido sadari darah sudah mengucur dari dadanya. Pada detik berikutnya giliran Rido yang melancarkan serangan menembus perut kanan Kaname.

Kaname mundur sambil melirik luka yang ada di perutnya. Ia masih menatap Rido dengan tatapan dingin. Sementara Rido membalasnya dengan senyuman yang memuakkan.

"Tak kenal ampun seperti biasanya, huh ? Kaname-kun !"

Giliran Rido yang menyerang ke arah Kaname, ia memperlihatkan taringnya yang seputih mutiara. Bersiap merobak kulit Kaname yang indah.

Taring itu... taring yang digunakan untuk menyentuh Zero, Ck. Memuakan !

Kaname tak menghindari serangan Rido, ia membiarkan tangan kanannya dirobek oleh taring Rido yang setajam pisau. Ia bahkan membiarkan kuku-kuku tajam Rido menembus dadanya yang indah. Membuat aliran darah mengalir deras dari tubuhnya. Dalam beberapa detik, tempat itu langsung didominasi oleh aroma coffee khas milik Kaname.

"Kaname !" Zero terbelalak kaget ketika mendapati darah mengalir dari tubuh Kaname dengan sia-sia.

Bergerak ! Ia harus bergerak untuk menyelamatkan Kaname. Ia tak boleh membiarkan Kaname mati ! Tidak sebelum pureblood itu menyelesaikan urusan dengannya !

"Hee ? ada apa ini Kaname-kun ? Apa yang terjadi dengan niatmu mengirimku ke neraka ?" tanya Rido menarik tubuh Kaname dengan kasar masih sambil mengamati Kaname yang berlumuran darah. Bagi Rido melihat orang lain berselimutkan darah adalah sebuah pemandangan yang sangat indah.

Kaname menaikan kedua sudut bibirnya. Tersenyum sinis.

"Jika kau benar-benar ingin pergi ke neraka. Then, I shall grant your wish,"

JLEB ! Kuku tajam Kaname menembus dada Rido membuat kondisinya sama seperti Kaname. Aliran darahnya mulai mengalir deras bercampur dengan darah Kaname yang juga mengalir deras.

"Ha...hahahaha... Kau pikir serangan yang sama bisa membunhku, Kaname-kun ? Aku sudah menghisap kekuatan klan Kuran. Sekarang aku tak bisa dikalahkan bahkan oleh Kuran sepertimu !" seru Rido bangga.

"Tch, kali ini bukan aku yang akan membunuhmu. Tapi orang yang ingin membalas dendam padamu..."

DOR !

"Sayonara, Kuran Rido..."

Peluru bloody Rose Zero menembus jantung Rido dan mengakhiri nyawanya. Untuk kedua kalinya Rido harus pergi ke neraka. Perlahan tubuh Rido berubah menjadi abu, namun ia masih sempat melemparkan sebuah senyuman nakal pada Zero.

"Tidak kusangka kau yang akan menghabisi nyawaku, my sweet Kiryuu.."

DOR ! DOR !

Zero muak mendengar Rido menyebut namanya. Ia menembakan dua peluru terakhir Bloody Rose untuk mengantar Rido ke neraka. Vampire yang sudah membantai seluruh keluarganya akhirnya mati. Mati oleh tangannya sendiri. Kebencian ini, bolehkan sekarang ia melepas beban kebencian ini ?

"Zero..." bisik Kaname lemah.

"Kaname !" Zero segera menahan tubuh Kaname yang hampir ambruk karena luka di dadanya. Wajah Kaname semakin pucat, mungkin karena kehilangan banyak darah.

"Zero...kau terluka..."

"Bodoh ! Kau terluka jauh lebih parah daripada diriku ! Cepat minum darahku ! Aku tak mau melihatmu mati di hadapanku !" potong Zero cepat.

Kaname menyunggingkan senyum nakalnya. Ia ingin menggoda Zero lebih lama lama. Ia ingin melihat wajah Zero yang takut kehilangan kekasihnya. Kejam memang, tapi ini kesempatan yang jarang ia dapatkan. Melihat Zero menawarkan darahnya dengan paksa ? Kapan lagi Kaname bisa melihatnya.

"Tidak... Kau sudah kehilangan banyak darah Zero," Kaname menggelengkan kepalanya. Menolak Zero dan menjauhkan dirinya dengan lembut.

"Apa ? Kenapa kau masih keras kepala di saat seperti ini, Kaname ? Cepat minum darahku atau..."

"Atau ?"

"Atau aku tak akan membiarkanmu menyentuhku...lagi," Zero mengalihkan pandangannya dari mata crimson Kaname.

Ck, sial ! Kaname benar-benar menghancurkan harga dirinya sebagai seorang tsundere (?). That bastard ! I will make him pay later !

"Kenapa kau sangat memaksaku, Zero ?"

"Stupid ! You are mine, Kaname !There is no way I will let someone I love die in front of me !" seru Zero tanpa sadar mengungkapkan seluruh ganjalan di hatinya.

Kaname tersenyum bahagia mendengar respon Zero. Kaname tergelak pelan, hendak tertawa senang. Namun ia menahannya dan mendekatkan taringnya pada leher Zero. Untuk pertama kalinya, Zero yang menawarkan cairan manis itu padanya. Ia yakin rasanya akan lebih memabukkan daripada biasanya.

Tatapan Kaname terhenti pada sesuatu di leher Zero. Ada dua titik merah di leher Zero. Bekas gigitan ini. Bekas gigitan vampire sialan itu.

"Zero, ini..."

Deg ! Ekspresi kesedihan terukir tiba-tiba di wajah Zero. Lagi-lagi Zero mengalihkan pandangannya dari Kaname.

"Maaf Kaname. Itu bekas gigitan Rido, aku tak bisa mencegahnya," bisik Zero sedih. Terdengar jelas nada bahwa harga diri Zero yang setinggi langit benar-benar hancur.

Zero, kenapa kau minta maaf padaku? Kau lah yang tersakiti. Jika saja aku datang lebih cepat...

"Kaname, cepat lakukan ! Bersihkan bekas luka menjijikan ini ! Aku-"

Ucapan Zero terhenti ketika taring Kaname telah menembus lehernya. Zero memejamkan mata dan menikmati sensasi dai tiap tetes darahnya yang mulai menyatu bersama Kaname.

Setiap tetesan darah Zero membuat Kaname mendapatkan kekuatannya kembali. Masih dengan taring yang menempel di leher Zero, tatapannya melirrik dada Zero yang juga terdapat bekas gigitan. Secara refleks, Ia menarik taring dari leher Zero dan berpindah lokasi ke dada Zero yang tak terproteksi.

"Kaaa...name...Akhh,,"

Kaname kembali memulai aksinya untuk 'membersihkan' sisa-sisa Rido dari tubuh Zero. Ia mengabaikan erangan Zero dan tetap melanjutkan misi pembersihannya. Namun...

DOR !

Hanya sebuah peluru yang menembus pohon di sebelah Zero dan Kaname yang sedang sibuk. Kaname menghentikan aksinya dan melirik kesal pada sosok yang muncul dari balik kegelapan.

"Tch, Pengganggu !" bisik Kaname kesal.

"Maaf mengganggu vampire ! Tapi lakukan kegiatan menjijikan itu di tempat lain, tempat ini dipenuhi banyak darah dan juga vampire memuakan !" seru Kaito yang muncul dengan muka masam.

"Kaito...kau...apa yang terjadi ?kenapa-"

"Mission success ! Kuran Rido has been terminated !" potong Kaito ketika melihat abu yang ia yakini sebagai sisa-sisa dari bagian Kuran Rido.

"Kaito, Jadi selama ini kau hanya berpura-pura ? Yokatta..." Zero tersenyum lega ketika menyadar bahwa partner nya tak benar-benar berkhianat dan memihak Kuran Rido.

"Pengkhianatan itu memang hanya kepura-puraan Zero. Tapi perasaanku ... adalah kenyataan,,"

Zero tertegun mendengar Kaito, untuk kedua kalinya menyatakan rasa cinta padanya. Dia tak bisa menerima Kaito karena, ya, pureblood di sampignya sudah mengambil alih seluruh jiwa dan raganya. Ya, terlihat pureblood di sampingnya begitu tak senang mendengar 'confession' yang baru saja dilakukan Kaito.

"Maaf Kaito, aku tidak bisa-"

"Aku tahu Zero. Kau tidak perlu menolakku untuk kedua kalinya," potong Kaito sambil tersenyum sinis. "Yagari sensei dan Cross headmater menitipkan pesan padaku. Kau punya misi untuk memastikan Kuran Kaname tidak membuat masalah. Dan itu artinya aku harus menemukan partner baru.."

Zero tersenyum perih mendengar ucapan perpisahan dari Kaito.

"Kau akan menemukan partner yang lebih baik dariku, Kaito."

-xxXXXXXXXXXXXxxx-

"Oi Aidou ? Kenapa aku tidak boleh menemui Kaname-sama ?" tanya Akatsuki heran. Perlahan ia melongok melihat ruangan Kaname yang tertutup rapat.

Aidou mengangkat kedua tangannya dan mendorong Akatsuki menjauhi ruangan beraura menakutkan itu. Ia melirik ruangan itu, mengingatkan padanya pada peringatan singkat dari master yang sangat dihormatinya itu.

"Jika masih sayang nyawa, sebaiknya kita menjauhi ruangan itu Akatsuki,"

"Dengar Aidou, aku masih belum lupa ketika kau menggangguku bersama Zero kemarin. Jangan sampai hal itu terulang lagi dan jika sampai ada yang mengganggu lagi, aku tak segan-segan untuk menghancurkan pengganggu itu bersamamu. Kau... mengerti ?" ujar Kaname dingin dan tenang meskipun disertai dengan kekuatan pureblood yang terasa mencekik leher Aidou

"Wa..karimashita ! K..Kaname-sama!" jawab Aidou ketakutan.

Kaname-sama is realy scary T_T(inner Aidou)

Sementara itu...

"Stop it Kaname ! Ada apa denganmu ? Kau terlalu liar..Haakkhh" Zero berusaha menahan teriakannya karena tindakan liar Kaname yang tanpa ijin menggigit titik sensitif di tubuhnya.

Dada lebar nan indah Zero pun tak luput dari serangan Kaname. Meski tangan Kaname sibuk bermain di bawah, Ia masih sempat memberikan ciuman liar yang membuat Zero sulit bernafas.

"Hmmphh,,Kana,,,me... Please..."

"Di mana lagi pria itu menyentuhmu Zero ? Aku akan menghapus semua jejak pureblood sialan itu dari tubuhmu,,," bisik Kaname hanya satu senti dari telinga Zero. Membuat seluruh tubuh Zero merona dan bergetar.

Shit ! Even its just his voice can really seduce me !

"Sudah cukup Kaname ! Semua luka di tubuhku sudah sembuh, tak ada lagi bekas gigitan Kuran Rido di tubuhku !"

GREP ! Kaname mencekram kedua tangan Zero dan menindihnya tubuh Zero dengan perlahan. Ia mendekatkan mata Garnet miliknya ke Amethyst indah milik Zero.

"Aku hanya mengabulkan permintaanmu kemarin, Zero..." jawab Kaname tanpa dosa.

Sial ! Kaname benar ! Zero benar-benar menyesali ucapan bodohnya yang meminta Kaname untuk menghapus semua bekas luka yang disebabkan Rido di tubuhnya ! Tch ! Baka ! Baka ! Baka !

"Tapi kau tetap tidak berhak melakukan ini semua sesuka hatimu, Kaname ! Tidak tanpa ijin dariku !" Zero meronta berusaha melepaskan diri dari Kaname.

"Huh ? Kenapa aku harus meminta ijin ? Kau adalah milikku,,,," jawab Kaname sambil memberikan ciuman liar pada Zero. Ia memainkan lidahnya untuk membuat sensasi ciuman itu terasa semakin liar dan memabukkan. Tak bisa dipungkiri, bahkan Zero pun harus mengakui kehebatan Kaname dalam hal yang satu itu.

"Hhh...Sial kau kaname ! Kau pikir aku ini apa ? Menjadi milikmu ? Huh..sungguh bodoh..."

"Ketika aku menolak untuk meminum darahmu, kau sendiri yang mengatakan bahawa aku ini milikmu,. Secara otomatis, bukankah kau juga milikku, Zero ?" ujar Kaname masih memberikan tatapan intens pada Zero. Menyerang Zero denan sengatan panas yang membuat seluruh wajahnya memerah bagai kepiting rebus.

Sial...sial...sial... Kenapa saat itu ia bisa mengatakan hal bodoh seperti itu ? You are mine, Kaname ? HUH? What a stupid words ! ,

"Sial," keluh Zero ketika ia kembali mengingat seluruh itu.

"Any more complaints , Zero ?" Kaname yang sudah tak sabar mulai menjilat leher Zero dengan lembut.

"No, Do as you wish, Kaname..." jawab Zero pasrah. Meski dengan senyum lebar di wajahnya. Mau bagaimana lagi ? Kali ini Kaname berhasil menembus tembok pertahanan Zero. Yah, hal yang wajar bagi seorang pureblood.

"I love you, Zero..."

Tch, Those words again.

Kenapa tiga kata itu membuat jantung Zero selalu berdetak dan membuat seluruh tubuhnya terasa panas ? Seolah gelombang kebahagian tengah mengalir di setiap aliran darahnya.

Menyebalkan ! ,

"Just do it already, Kaname," bisik Zero kesal. Entah karena kesal atau karena ia sudah tak sabar.

"With pleasure, Zeroo..."

END ?

-xxXXXXXXXXXXXxxx-

Reader 1(0rang normal) : garuk-garuk kepala

Reader 2(otaku genre menyeluruh) : Huh ? Tamat ?

Reader 3 (fujoshi pemula): Itu Zero sama Kaname mau ngapain ? Kok mau mulai2 gitu ? o_O

Reader 4 (fujoshi professional ): Wah, adegan serunya dipotong -_-

Reader 5 (si author sendiri) : cerita gue gak jelas banget dehhhh XDD

Jika ada keluhan atau apapun silahkan disampaikan di review ya, Terima kasih sudah membaca (emang ada yang baca XDD )