Because of Love
Jaeyong, Johnsol, Ilyoung, etc.
Warn!BL, typo(s), OOC.
NCT SM ENTERTAINMENT
"Hah? Aku pasti salah dengar."
"Kau tidak salah dengar, sungguh."
"Tunggu sebentar, aku butuh waktu untuk memproses semuanya."
"Mau memintaku untuk menunggu lama juga tidak apa-apa, waktuku semuanya akan kuberikan untukmu, kok."
"Jijik, Jeno."
"Bercanda, Jaemin."
Setelah tenggelam dalam pikirannya sendiri, berusaha untuk memproses semua informasi yang baru diterimanya selama beberapa menit, Jaemin akhirnya kembali memfokuskan pandangannya pada sahabatnya, dan membuka mulutnya untuk bicara. "Parah."
"Na Jaemin, yang benar saja. Aku memberikan waktu beberapa menit padamu untuk berpikir, dan kau hanya bisa mengeluarkan satu kata?"
Jaemin mengangkat kedua bahunya. "Itu yang pertama kali terlintas di otakku begitu mendengar ceritamu. Lagipula, memangnya kau mengharapkan aku untuk mengatakan apa? Hal yang dilakukan kekasih dan sahabat Taeyong hyung padanya memang parah kok. Benar-benar parah. Aku kira Taeil hyung dan Taeyong hyung itu semacam relationship goals. Habisnya mereka terlihat sangat menyayangi satu sama lain, sih. Hubungan antara Doyoung hyung dan Taeyong hyung juga seperti bestfriend goals, aku tak pernah mengira kalau hal seperti ini akan terjadi."
"Relationship goals? Bestfriend goals? Jaemin, kau ini kelamaan main tumblr atau bagaimana, sih?"
"Ha. Lucu."
Jeno dan Jaemin saat itu sedang berada di kafe langganan mereka, kafe yang selalu mereka kunjungi setiap pulang sekolah. Menu yang mereka pesanpun selalu sama. Caramel macchiato untuk Jeno, dan vanilla latte untuk Jaemin. Mereka selalu pergi ke kafe tersebut sejak hari pertama mereka menjadi siswa SMA, dan selain karena letaknya yang memang terletak di depan gedung sekolah mereka, juga karena harganya yang terjangkau dan rasa minuman dan makanannya yang enak.
Sejak detik pertama keduanya duduk di tempat biasa mereka duduk, Jaemin sudah memberondong Jeno dengan banyak pertanyaan, mulai dari kemana dia pergi kemarin, dengan siapa dia pergi, apa saja yang ia lakukan, sampai jam berapa ia pulang ke rumah. Jaemin memang selalu begitu, hasrat ingin tahunya sangat besar sampai kadang-kadang ia bisa berlebihan dan menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak penting.
Jeno dengan sabar menjawab satu per satu pertanyaan Jaemin, dan tiba-tiba saja mereka sudah sampai di topik tentang Taeyong dan kesedihannya. Dan karena Jeno memang benar-benar terbuka dengan Jaemin dan tidak bisa menyembunyikan apapun dengan sahabatnya itu, dan ia juga tahu kalau Taeyong tak akan keberatan kalau ia menceritakan masalahnya pada Jaemin karena Taeyong sudah menganggap Jaemin sebagai keluarganya sendiri, ia menceritakan semuanya pada Jaemin. Semua yang ia tahu tentang masalah Taeyong dengan kekasih—mantan, kata Taeyong—dan sahabatnya itu.
"Jadi, kemarin itu kau seharian ke taman bermain untuk menghibur Taeyong hyung? Kau harusnya mengajakku, Jeno. Aku kan bisa membantu menghibur hyung."
"Ya, tentu saja. Kau kan memang badut hiburan."
Jaemin memukul lengan Jeno main-main, terbiasa dengan ejekan yang keluar dari mulut Jeno—meskipun sebenarnya disebut badut hiburan bukan benar-benar ejekan. Lagipula mereka sudah bersahabat sejak kecil, aneh rasanya kalau masih merasa tersakiti karena ejekan ringan seperti itu.
"Lalu Taeyong hyung sekarang bagaimana? Sudah lebih baik?"
"Yah, dia sudah mencoba untuk tersenyum seperti biasanya, sih, tapi aku tahu dia masih sedih," Jeno berkata setelah meminum caramel macchiatonya. "Taeyong hyung itu tipe orang yang lebih senang menyembunyikan rasa sedihnya daripada menunjukannya, dan ia benar-benar pro kalau dalam masalah menyembunyikan perasaan dengan senyum andalannya itu. Untungnya aku tahu hyung luar dalam, jadi dia tidak bisa membohongiku."
"Kalau aku jadi Taeyong hyung, aku juga pasti akan sedih sekali," muncul gurat sedih di wajah Jaemin ketika ia membayangkan rasa sedih yang Taeyong rasakan saat ini. "Dikhianati kekasihmu dan sahabatmu sekaligus. Coba bayangkan. Pasti sedih sekali."
"Susah sebenarnya, kalau mau membayangkan situasi yang Taeyong hyung sedang alami saat ini. Habisnya, aku punya sahabat yang aku yakin tidak akan mengkhianatiku, ya kan?"
"Maksudmu aku?"
"Tidak. Aku punya sahabat rahasia yang tidak kau ketahui keberadaannya," Jeno memutar bola matanya, sarkasmenya mulai keluar. Semua karena sahabatnya yang kadang bisa berlebihan bodohnya. "Ya tentu saja kau, Na Jaemin. Memangnya aku punya sahabat lain?"
"Ya siapa tahu," Jaemin tertawa. "Omong-omong, hyung itu ada di sini lagi hari ini, dan tatapannya masih saja tertuju kesini. Aneh."
"Lama-lama aku takut padanya, kau tahu?" Jeno berkata, tahu jelas siapa orang yang dimaksud Jaemin tanpa bertanya. "Padahal dia kelihatannya baik, karena waktu itu dia sempat menolongku dan mengambilkan bukuku yang jatuh. Entahlah, mungkin saja dia hanya langganan di kafe ini seperti kita, Jae. Dan mungkin saja ia tidak punya maksud apa-apa dengan melihat ke arah kita terus."
"Tapi kan mencurigakan, Jen. Mana mungkin dia tidak punya maksud apa-apa kalau setiap hari dia terus memandang ke arah sini," nada curiga jelas ada dalam suara Jaemin. "Jangan-jangan dia suka padamu."
"Tidak mungkin, lah. Jangan-jangan dia suka padamu."
"Tidak mungkin lah juga."
"Ya kesimpulannya, abaikan saja hyung itu. Kita bahkan tidak tahu namanya, dia juga tidak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan, kan."
"Lebih tepatnya belum."
"Na Jaemin, bisa tidak positif sedikit?"
"Hanya jaga-jaga, Jeno. Siapa tahu, kan?"
.
.
.
"Pagi, Taeyong hyung! Tumben hari ini datang agak siang, biasanya datang paling pagi."
"Aku hari ini agak kesiangan, Ten," Taeyong berkata seraya menaruh tasnya di sudut ruangan, ruangan dengan lantai kayu dan cermin sebagai pengganti dinding. Tempat kerjanya sejak satu setengah tahun yang lalu. "Maaf terlambat."
"Tidak, hyung. Kau tidak terlambat sama sekali, kok," Ten, atau Chittaphon Leechaiyapornkul, adalah salah satu pelatih tari lainnya yang selalu kebagian shift bersama dengan Taeyong. Ten berasal dari Thailand, tetapi bahasa Koreanya sudah sangat fasih meskipun tentu saja, aksennya tetap terdengar aneh dan berbeda. "Aku baru saja mau mulai pemanasan, lagipula anak-anak belum ada yang datang. Santai saja, hyung."
Taeyong tersenyum pada Ten, sebelum ia membuka jaket yang ia kenakan dan menaruhnya di atas tasnya. Taeyong memulai peregangan, bersiap-siap sebelum mulai mengajar.
Taeyong sudah suka menari sejak ia kecil. Dulu, ketika ia kecil, ia selalu menggerakkan tubuhnya mengikuti irama apapun yang ia dengar. Ketika ia beranjak besar, ia mendaftarkan diri di salah satu studio tari di dekat rumahnya, dan juga selalu menjadi anggota dari klub tari di sekolahnya. Taeyong memang berbakat dalam hal menari, dan karena ia berbakat, serta fakta bahwa menari adalah satu-satunya hal yang benar-benar ia suka lakukan, Taeyong memutuskan untuk menjadi pelatih tari. Sehingga ia bisa menari dan menghasilkan uang di saat yang bersamaan, meskipun kedua orangtuanya jelas-jelas tidak menyukai pekerjaannya itu.
Tapi Taeyong bisa sangat keras kepala kalau mengenai hal yang benar-benar ia inginkan, sehingga kedua orangtuanya akhirnya menyerah dan membiarkan Taeyong melakukan apapun yang ia inginkan.
Selain menjadi hobi dan pekerjaannya, menari juga membuat Taeyong melupakan masalah-masalahnya, meskipun hanya untuk sesaat. Ketika ia menari, ia memfokuskan segala pikiran dan perhatiannya pada gerakan-gerakan tari, dan hal itu sukses membuatnya melupakan masalah-masalah yang ia hadapi. Karena itulah Taeyong suka menghabiskan waktunya di dalam studio tari ketika ia memiliki masalah.
Sejak hari dimana Taeyong mengetahui hubungan yang dimiliki oleh Taeil dan Doyoung dibelakangnya, Taeyong belum pernah sekalipun berbicara pada keduanya. Setiap telepon dan pesan yang masuk ke dalam ponselnya, jika itu dari Taeil maupun Doyoung, selalu ia abaikan. Taeyong tahu suatu saat nanti ia harus menghadapi keduanya, tapi untuk saat ini, Taeyong merasa bahwa dirinya belum siap. Masih ada beberapa bagian dari dirinya yang belum memproses jelas kenyataan yang ia hadapi saat ini.
Meskipun Taeyong masih merasa sedih, sangat sedih karena apa yang dilakukan Taeil dan Doyoung, entah mengapa ia tidak merasa marah. Ia tahu bila orang lain yang berada di posisinya saat ini, mereka pasti akan marah besar kepada Doyoung, atau Taeil, atau dua-duanya. Tapi Taeyong tidak. Ia tidak marah, baik pada Doyoung maupun Taeil. Apalagi Doyoung. Kim Doyoung sahabatnya. Sahabatnya yang selalu ada untuknya, dan meskipun Taeyong suka sekali mengejek Doyoung dan mengajak Doyoung bertengkar, tapi Doyoung adalah orang yang paling ia sayangi kedua setelah Jeno.
Taeyong sangat menyayangi Doyoung, bahkan melebihi rasa sayangnya pada Taeil.
Bahkan Taeyong malah merasa bersalah pada Doyoung. Ia merasa kalau saja ia tidak menerima pernyataan Taeil dulu dan menyakiti hati Doyoung, maka semuanya akan baik-baik saja. Doyoung akan bahagia dengan Taeil, dan Taeyong akan bahagia melihat Doyoung bahagia. Bukannya seperti ini, dimana ketiga-tiganya malah merasa sakit.
"Hyung, kenapa? Ada masalah?"
"Eh?" Taeyong tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Ten. Ia baru sadar bahwa bukannya melakukan peregangan, ia malah berdiri diam memandang kosong ke arah cermin. Ia jelas sekali sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai-sampai Ten, yang susah sekali sadar akan perasaan dan situasi orang-orang di sekelilingnya, jadi sadar kalau ia sedang ada masalah.
"Mm, begitulah. Tapi bukan masalah besar."
"Begitu? Tapi kenapa sepertinya masalah hyung itu sangat besar? Habisnya sampai melamun begitu," Ten berkata seraya menarik lengan Taeyong, menariknya agar duduk bersamanya di atas lantai kayu. "Masih ada beberapa menit sebelum anak-anak datang, kalau hyung mau cerita, aku akan mendengarkan."
Taeyong terdiam sesaat, mempertimbangkan antara bercerita pada Ten atau tidak. Ten adalah teman terdekatnya di studio tari, dan mereka sering berbagi cerita tentang kehidupan satu sama lain sebelumnya, tetapi Taeyong tidak pernah berbagi masalahnya pada Ten.
Tapi Taeyong tahu Ten adalah orang baik, dan Taeyong, meskipun ia lebih suka menyembunyikan kesedihannya, sebenarnya selalu merasa perasaannya lebih ringan setiap kali ia menceritakan masalahnya pada seseorang.
"Ten, apa yang akan kau lakukan kalau kekasihmu berselingkuh dengan sahabatmu sendiri?"
Tampak ekspresi terkejut pada wajah Ten begitu Taeyong menyelesaikan pertanyaannya. Ten tahu tentang kekasih Taeyong, Moon Taeil, karena Taeil sering menjemput Taeyong setiap kali shiftnya mengajar selesai. Ten juga tahu tentang sahabat Taeyong, Kim Doyoung, karena Taeyong beberapa kali sempat menceritakan tentangnya.
"Aku… tidak pernah mengalami situasi seperti itu jadi aku tidak terlalu tahu," Ten berkata dengan hati-hati, takut mengatakan sesuatu yang salah. "Tapi menurutku, aku pasti akan merasa sedih. Dan marah, mungkin. Apalagi karena ini sahabatku sendiri. Diselingkuhi kekasih dengan orang yang tidak dikenal saja sakit sekali, apalagi dengan sahabat, kan?"
Taeyong menganggukan kepala, setuju dengan ucapan Ten. Tapi tetap saja, aku tidak bisa merasa marah pada Taeil dan Doyoung.
"Tapi daripada marah, mungkin aku akan lebih ke arah kecewa. Kecewa karena aku benar-benar percaya pada sahabatku, tapi ia malah mengkhianatiku seperti itu," Ten menjelaskan. "Dengan orang yang tidak dikenal, akan lebih mudah merasa marah pada mereka, membenci mereka, karena setidaknya, kita tidak mengenal dan mempercayai mereka sebagaimana kita mengenal dan mempercayai sahabat kita sendiri, kan? Kalau dengan sahabat sendiri, susah sekali untuk merasa marah dan benci, karena mereka, yah, seorang sahabat. Seseorang yang kita percaya dan memegang peran spesial dalam hidup kita."
Taeyong menganggukan kepala, lalu muncul senyum di wajahnya. "Ten, aku baru tahu kau bisa sebijak ini."
"Jangan meremehkanku, hyung," Ten tertawa. "Aku ini bisa bijak disaat-saat tertentu."
Taeyong ikut tertawa, sebelum ia terdiam, memikirkan kata-kata Ten. Kecewa. Ya, harusnya Taeyong merasa kecewa pada Doyoung. Harusnya Taeyong kecewa karena sahabatnya itu mengkhianatinya.
Meskipun ada sedikit rasa kecewa dalam hati Taeyong, rasa bersalahnya pada sahabatnya itu lebih besar. Ia masih menyalahkan dirinya sendiri karena menerima pernyataan cinta Taeil, meskipun disaat yang sama ia juga tahu sahabatnya memendam perasaan pada pria itu. Seharusnya Taeyong, sebagai sahabat yang baik, menolak Taeil sehingga persahabatannya dengan Doyoung tak akan rusak seperti ini.
Seharusnya ia mementingkan kebahagiaan Doyoung daripada kebahagiaannya sendiri.
Kemarin malam, Taeyong mengingat-ingat semua momen dimana ia pergi bersama dengan Taeil dan Doyoung, dan ia baru sadar, bahwa selama ini, keduanya memang suka curi-curi pandang pada satu sama lain. Taeil juga tampak lebih lembut dan lebih perhatian pada Doyoung, dan ada sesuatu dalam cara Taeil menatap Doyoung, begitu juga sebaliknya, yang berbeda dari cara Taeil menatap Taeyong.
Taeyong baru sadar kemarin malam, bahwa ia sudah benar-benar bodoh. Taeil dan Doyoung sudah menyukai satu sama lain dari awal, dan kalau diibaratkan dalam drama, Taeyong ini pemeran antagonis yang mengganggu jalannya cerita cinta kedua pemeran utama.
Taeyong merasa dibodohi, tapi ia tetap tak bisa merasa marah. Ia malah merasa makin bersalah.
"Hyung, anak-anak sudah mulai berdatangan. Ayo mulai kerja, jangan bersedih terus. Kau jadi jelek kalau kebanyakkan melamun begitu."
"Apa kau bilang tadi? Jelek? Ya Chittaphon!"
.
.
.
"Jung Jaehyun, aku punya film baru, mau lihat tidak?"
"Musnah saja kau, Nakamoto."
"Aduh sadisnya," Nakamoto Yuta, teman sekelas Jaehyun di salah satu kelasnya di universitas, adalah seorang pemuda yang berasal dari Jepang dan pindah ke Korea Selatan beberapa tahun yang lalu karena pekerjaan orangtua. Yuta, yang asli dari Jepang dan selalu menggunakan logat kental Osaka ketika berbicara dalam bahasa Jepang, ketika berbicara bahasa Korea, akan menggunakan logat Busan, meskipun Yuta sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Busan. Semua itu pengaruh dari teman-temannya yang kebanyakkan berasal dari Busan namun merantau ke Seoul. "Nanti kau kekurangan asupan film dewasa kalau tidak ada aku, Jaehyun."
"Cih, di internet juga banyak."
"Tapi kualitasnya tidak sebagus kualitas filmku, tahu!"
"Jadi kau menghampiriku hanya ingin menawari film saja? Benar-benar tidak penting," Jaehyun berkata, menatap Yuta yang wajahnya telah dihiasi cengiran ala Nakamoto Yuta. "Atau kau mau minta ditraktir lagi?"
"Benar sekali! Aku tahu aku bisa percaya padamu, Jae!" Yuta berkata dengan senang, seraya mendudukkan diri di samping Jaehyun dan merangkul pria yang lebih tinggi darinya itu. "Orangtuaku belum mengirim uang bulanan, jadi aku tidak punya uang sama sekali sekarang, padahal aku benar-benar lapar."
"Tidak punya uang sama sekali? Tumben. Biasanya meskipun orangtuamu belum mengirimu uang, kau masih punya uang di dompet hasil jualan film nistamu itu."
"Bisnis sedang lesu, Jae," Yuta memasang ekspresi sedih yang sudah jelas dibuat-buat. "Semua orang yang kutawari dari kemarin tidak ada yang mau beli, katanya lebih bagus kualitas video di internet. Hah! Bilang saja mereka itu tidak modal. Sudah tahu film-film di internet itu illegal, pembajakan, masih saja nonton di internet. Mereka itu benar-benar tidak tahu kerja keras orang-orang yang membuat film sih."
"Lagakmu seperti kau peduli pada orang-orang yang membuat film saja. Paling kau hanya peduli pada bisnismu itu, ya kan?"
"You know me so well, Jae."
Jaehyun tertawa. Yuta memang seorang pribadi yang lucu dan mampu membuat orang tertawa dengan mudah, bahkan dengan kata-kata yang Yuta sendiri tidak maksudkan untuk membuat orang tertawa. Jaehyun benar-benar tak menyesal duduk di sebelah Yuta pada hari pertama ia datang ke kelasnya, sehingga ia dapat berteman dengan pria asal Jepang itu. Yuta benar-benar teman yang menyenangkan, meski ia sering minta traktir dan mengajak Jaehyun menuju jalan yang sesat—alias menawarinya untuk beli dan menonton film dewasa—Yuta tetap merupakan teman terdekat dan teman terfavorit Jaehyun di universitas.
Meski Jaehyun sendiri tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung pada Yuta, karena bisa gawat kalau Yuta tahu, nanti penyakit terlalu percaya dirinya kambuh, dan ia juga bisa-bisa lebih sering lagi minta traktir pada Jaehyun. Dompet Jaehyun bisa mengadakan demo besar-besaran kalau itu sampai terjadi.
"Kapan kau mau mentraktirku? Hari ini? Omong-omong, aku bosan ditraktir di kafe itu terus, Jae. Memangnya tidak ada pilihan lain, apa? Aku sedang ingin pizza, tidak sedang ingin makanan manis."
"Kau ini sudah untung ditraktir, ini malah protes," Jaehyun menghela napas. Untung Yuta salah satu teman dekatnya, kalau tidak, sudah pasti Jaehyun akan kesal setengah mati saat ini.
"Aku tahu kau ke kafe itu untuk melihat kekasihmu itu—calon, maksudku, tapi kan tetap saja. Kasihani aku lah, tuan Jaehyun. Kau mau aku diabetes karena makan makanan manis setiap hari?"
"Salahmu sendiri, minta ditraktir olehku. Kan kau bisa minta ditraktir oleh yang lain."
"Kau ini satu-satunya temanku yang mau mentraktirku, Jung Jae. Yang lainnya langsung menendangku begitu aku meminta mereka mentraktirku lebih dari tiga kali."
"Kau kan memang pantas ditendang."
"Iya, tuan Jaehyun. Hamba bersedia tuan katai, tuan ejek, yang penting perut hamba bisa kenyang."
Jaehyun menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan Yuta. Yuta, kalau dilihat sekilas, akan tampak seperti seseorang yang tenang dan tidak banyak omong, salahkan wajahnya yang tampak seperti wajah orang kalem itu. Tapi kalau sudah menjadi temannya, apalagi teman dekat, duh. Semua sifat asli Yuta akan keluar kalau sudah bersama dengan teman dekatnya.
Jaehyun baru akan mengajak Yuta pergi dan makan di restoran pizza—Jaehyun sedang baik hari ini—ketika terdengar bunyi yang berasal dari ponselnya, bunyi yang menandakan bahwa ada seseorang yang meneleponnya.
"Hansol hyung," Yuta bergumam, membaca nama yang tertera pada layar ponsel Jaehyun yang ia letakkan di atas meja. "Hansol? Oh, sahabatmu itu ya?"
"Iya," Jaehyun menganggukan kepalanya, sebelum mengangkat telepon dari sahabatnya itu. "Halo, hyung?"
"Jung! Aku lapar, dan aku lupa bawa dompet. Youngho sedang tidak bisa diganggu karena sedang ada tugas, jadi pilihanku satu-satunya tinggal kau, Jung! Aku tunggu di depan gedung perpustakaan, ya! Lima menit! Dah, aku sayang padamu!"
"Lah, hyung? Hansol hyung!"
Jaehyun hanya bisa menggerutu kesal karena sambungan yang diputus sepihak oleh Hansol sebelum ia bisa mengatakan apapun. Hansol memang biasa begitu, seenaknya saja. Terus, apa-apaan aku sayang padamu? Hansol selalu mengatakan itu hanya kalau ada maunya.
"Yuta, ayo ikut. Mau ditraktir, kan?"
"Tentu saja!" Yuta menyambut, dengan semangat bangkit dari duduknya. "Kita mau kemana? Ke restoran pizza, kan?"
"Lihat saja nanti."
"Tuan Jung, kau memang yang terbaik!"
.
.
.
Pencet, atau tidak. Pencet, atau tidak.
Doyoung menggigit bibirnya, ada keraguan dalam hatinya. Saat ini ia sedang berada di depan pintu rumah Taeyong sejak 12 menit yang lalu, dan ia sama sekali belum mencoba untuk memencet bel atau mengetuk pintu rumah sahabatnya itu. Yang bisa ia lakukan hanya menggigit bibir sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah Taeyong, mempertimbangkan apakah ia akan memencet bel atau tidak.
Doyoung ingin meminta maaf pada Taeyong, ia berniat untuk melakukan apapun agar Taeyong memaafkannya, bahkan bila ia harus bersujud di kaki Taeyong agar sahabatnya itu mau memaafkannya, Doyoung akan segera bersujud di kaki Taeyong. Doyoung bersedia melakukan apapun.
Tapi ia takut, ia takut Taeyong akan langsung membanting pintu rumahnya di depan mukanya begitu ia melihat bahwa Doyounglah yang bertamu. Ia takut Taeyong akan langsung menamparnya—meski ia tahu kalau ia pantas mendapatkannya—begitu ia melihat wajahnya. Tapi yang paling ia takutkan adalah, Taeyong yang langsung mengatakan bahwa ia sudah tidak mau bersahabat lagi dengan Doyoung.
Doyoung menyayangi Taeyong, sungguh. Ia sangat menyayangi Taeyong, dan ia benar-benar merasa bersalah karena telah mengkhianati Taeyong.
Akhirnya setelah mengumpulkan cukup keberanian, Doyoung memencet bel rumah Taeyong. Sekali, dan ia sudah berniat untuk pergi ketika tidak juga ada tanda-tanda orang akan membuka pintu rumah tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari dalam rumah.
"Jeno, kau dengar bel, kan? Cepat buka pintunya, sana!"
Doyoung dengan refleks langsung melangkahkan kakinya mundur begitu mendengar suara Taeyong yang menyuruh adiknya untuk membuka pintu.
Doyoung benar-benar lupa dengan keberadaan Jeno.
Bagi Doyoung, lebih baik Taeyong yang membuka pintu dan langsung menampar serta mencaci-makinya, daripada Jeno. Lee Jeno, adik Taeyong yang sangat menyayangi kakaknya sampai-sampai dikira mengidap brother complex itu.
Jeno itu jauh lebih menyeramkan daripada Taeyong, apalagi kalau menyangkut perasaan kakak tersayangnya itu.
Doyoung menyesal sudah memencet bel.
"Siapa—Doyoung hyung?"
"Er, hai, Jeno. Boleh aku masuk?"
"Kami tidak menerima pengkhianat di rumah ini," Doyoung sebenarnya ingin segera lari begitu melihat ekspresi dingin di wajah Jeno. Jelas sekali laki-laki yang berusia empat tahun di bawahnya itu marah besar padanya. "Pergi."
"Jeno, siapa tamunya?"
Doyoung mendengar seruan Taeyong dari dalam, dan berdasarkan bau yang Doyoung bisa cium saat ini yang berasal dari dalam rumah tersebut, Taeyong sedang memasak untuk makan malam.
Doyoung rindu masakan Taeyong.
"Bukan siapa-siapa, hyung! Hanya orang iseng," Jeno berkata, tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah Doyoung. "Kenapa masih di sini? Sana pergi."
"Aku… aku ingin minta maaf, Jeno. Aku mohon biarkan aku bertemu dengan Taeyong hyung. Dia tidak mau mengangkat telepon ataupun membalas pesanku, dan aku benar-benar ingin meminta maaf padanya."
"Tentu saja Taeyong hyung tidak akan mengangkat telepon ataupun membalas pesan darimu, kau sudah mengkhianatinya. Kau tidak pantas disebut sahabat lagi, kau tahu?" Jeno berkata, terdengar jelas kemarahan dalam suaranya, dan Doyoung harus memaksa kakinya untuk bertahan diam, dan bukannya lari terbirit-birit dari Jeno yang sedang dalam mode menyeramkan seperti ini. "Lagipula mau kau minta maafpun, memangnya kau kira itu akan menghapus rasa sakit Taeyong hyung? Tidak. Meskipun kakakku memaafkanmu, dia tidak akan pernah mempercayaimu seperti dia mempercayaimu dulu. Meskipun kakakku memaafkanmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
"Jeno, aku mohon, aku perlu—"
"Jeno, kenapa kau masih berdiri di depan pintu begitu—Doyoung?"
"Taeyong hyung!" Ada kelegaan dalam wajah Doyoung begitu melihat sosok Taeyong, karena setidaknya ia bisa terlepas dari tatapan tajam yang diberikan Jeno untuknya. "Hyung, aku—"
"Hyung, ayo masuk, aku sudah lapar," Jeno berkata, menarik tangan Taeyong yang kini juga berdiri di depan pintu rumah, berniat untuk membawa kakaknya itu ke dalam dan membanting pintu tepat di muka Doyoung. "Ayo, hyung."
"Sebentar, Jeno," Taeyong menahan tangan Jeno yang sudah akan menariknya ke dalam rumah. "Doyoung, mau makan malam bersama? Kebetulan aku buat terlalu banyak untuk dua orang."
"Hyung!"
"Sst, Jeno. Tidak boleh tidak sopan begitu pada tamu," Taeyong berkata, lalu menatap Doyoung dengan senyum di wajahnya. "Ayo masuk, Doyoung."
.
.
.
"Jaehyun, kenapa kau tidak pernah bilang padaku kalau kau punya sahabat tampan sekali seperti Hansol?"
"Hm, seingatku aku sering menceritakan tentang Hansol padamu."
"Ya, memang sering, tapi kau tidak pernah bilang kalau ia memiliki wajah yang tampan!"
Jaehyun memutar bola matanya, lelah dengan reaksi berlebihan Yuta setelah bertemu dengan Hansol beberapa menit yang lalu. Kini Jaehyun dan Yuta tengah berada di toilet restoran pizza yang mereka kunjungi, dengan Jaehyun yang ditarik paksa oleh Yuta beberapa menit setelah mereka sampai di restoran tersebut, dan meninggalkan Hansol yang hanya bisa menatap kepergian mereka dengan tatapan bingung.
"Kau ini benar-benar berlebihan deh, Nakamoto," Jaehyun berkata. "Sudahlah, ayo kita kembali. Bisa gawat kalau kita meninggalkan Hansol hyung sendirian terlalu lama, aku sedang tidak mood untuk mendengarkan amukannya."
"Tunggu, Jung Jae! Aku belum siap, sebentar," Yuta melangkahkan kakinya mondar-mandir di depan Jaehyun. Jaehyun yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, lelah sekaligus heran melihat sikap temannya itu.
"Kau ini kenapa, sih? Aneh."
"Aku? Aku baik-baik saja. Sangat baik, malah," Yuta menjawab setelah akhirnya ia menghentikan langkah kakinya, dengan senyum lebar yang tertera di wajahnya. "Ayo kita kembali, Jae. Aku sudah siap."
Jaehyun, meskipun masih heran dengan sikap Yuta, tetap mengikuti langkah Yuta berjalan keluar dari toilet. Keduanya berjalan menuju meja yang berada di dekat jendela, dan Hansol ada di sana, ponsel berada di tangan dan senyum aneh di wajahnya. Jaehyun yang melihatnya langsung tahu alasan di balik senyuman aneh itu. Apalagi kalau bukan sesuatu yang berhubungan dengan Johnny Seo? Pasti Hansol sedang saling berkirim pesan dengan Johnny. Hanya Johnny yang bisa membuat Hansol tersenyum seperti itu.
Jaehyun baru akan membuka mulutnya untuk menggoda Hansol, kalau saja Yuta tak membuka mulutnya duluan. "Halo! Hansol, kan? Aku Yuta. Nakamoto Yuta."
"Ah," Hansol buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, kaget karena ia tak menyadari bahwa Jaehyun dan temannya sudah kembali dari toilet. "Umm, iya. Aku Hansol, Ji Hansol."
Berbeda dengan Yuta yang tetap setia dengan senyum cerahnya itu, senyum canggung malah tertera di wajah Hansol. Yuta memang mudah bergaul dan beradaptasi dengan suasana dan orang-orang baru, sedangkan Hansol adalah tipe orang yang canggung dan kaku dengan orang-orang baru, dan Hansol juga bukan seseorang yang memiliki banyak topik dan sering membuka pembicaraan, ia lebih cenderung ke arah diam kalau sudah tidak ada hal penting yang bisa dibicarakan, kecuali ketika ia bersama dengan teman-teman dekatnya.
"Hansol hyung itu lebih tua darimu, Nakamoto. Panggil dia hyung," Jaehyun, yang sedaritadi harus mati-matian menahan tawanya karena melihat ekspresi canggung Hansol memutuskan untuk berbuat baik pada sahabatnya itu dan melibatkan diri dalam pembicaraan. Ia mendudukan diri di depan Hansol, dan menarik tangan Yuta untuk duduk di sebelahnya. "Hansol hyung, pizza yang biasa, kan?"
"Tentu saja, Jung."
"Kau tidak tanya aku mau pizza yang bagaimana, Jung Jae?"
"Kau kan pemakan segala. Tidak usah ditanya juga kau akan makan apa saja yang tersaji di depanmu."
"Itu namanya aku bersyukur! Sudah untung bisa makan, gratis pula, masa aku masih pilih-pilih lagi."
"Aku bosan dengar sejuta alasanmu itu, Yut."
Hansol yang sedaritadi memperhatikan interaksi antara Jaehyun dan Yuta tertawa kecil, senang melihat Jaehyun memiliki teman dekat lain selain dirinya dan Johnny. Jaehyun, meskipun cukup popular karena wajah tampannya, otak cemerlangnya, dan juga sikapnya yang cukup baik, tidak memiliki banyak teman dekat yang bisa ia ajak ke restoran bersama seperti Yuta, karena Jaehyun lebih sering menempel dengan Hansol dibandingkan mencoba untuk mendekatkan diri pada teman-teman sebayanya. Ketika Hansol menasehati Jaehyun untuk mencoba lebih akrab dengan teman-teman sekelasnya, Jaehyun akan selalu berasalan bahwa ia sudah dekat dengan semua teman sekelasnya. Bohong, karena Hansol tahu Jaehyun lebih senang menyendiri di kelas daripada mencoba berbaur.
Bukannya Jaehyun itu semacam anti-sosial atau bagaimana, tapi ia tipe kalau yang sudah nyaman dan percaya dengan seseorang, ia akan terus menempel pada orang itu dan menolak untuk mencoba menyamankan diri dengan orang lain. Karena itu meskipun banyak orang yang ingin menjadi temannya, Jaehyun hanya akan berbicara dengan mereka kalau ia memang harus bicara saja, tidak pernah repot-repot untuk mencoba berteman dekat kecuali kalau ada seseorang yang terus mengekorinya sampai-sampai Jaehyun mau tidak mau jadi berteman dekat dengannya.
Contohnya Yuta.
Jaehyun jadi dekat dengan Yuta karena Yuta yang terus-terusan duduk di sebelahnya ketika mereka memiliki kelas yang sama, terus-terusan mencoba bicara dengan Jaehyun, dan Jaehyun tidak tahu bagaimana, tapi pada akhirnya, ia dan Yuta menjadi teman dekat.
"Sana Yuta, kau yang pesan pizzanya, aku sedang malas berdiri," Jaehyun berkata, menyerahkan beberapa lembar uang pada Yuta. "Kau tahu pizza yang banyak kejunya itu, kan? Pesan yang itu. Itu pizza favorit Hansol hyung. Pesan yang ukuran paling besar sekalian."
"Siap, tuan Jung," Yuta langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke konter untuk memesan pizza.
"Jadi itu yang namanya Yuta? Yang suka nonton film dewasa denganmu itu?"
Jaehyun tertawa. "Lebih tepatnya, dia yang suka mengajakku menonton, hyung."
"Dia kelihatannya baik dan normal-normal saja, padahal."
"Penampilan kan bisa menipu."
"Benar juga, contohnya kau, Jung. Penampilanmu benar-benar menipu."
"Hah? Apa? Penampilanku benar-benar mencerminkan sifatku, kok. Aku tampan, sifatku juga baik. Apanya yang menipu, coba."
"Jaehyun, ayo kita ke psikiater. Sepertinya penyakit percaya dirimu itu sudah terlalu parah, aku ngeri memikirkan bagaimana nantinya kalau penyakitmu itu bertambah parah lagi."
Sebelum Jaehyun bisa membalas ucapan Hansol, Yuta sudah kembali, langsung mendudukkan diri di samping Jaehyun. "Pizzanya tunggu kurang-lebih 10 menit, katanya. Lama sekali, padahal aku sudah lapar."
"Bukannya kau memang selalu lapar?"
"Benar sekali, tuan Jung. Kau ini memang pintar," Yuta menepuk-nepuk kepala Jaehyun, lalu matanya beralih menatap Hansol. "Jadi, Hansol hyung. Hyung lahir tahun berapa?"
"Eh? Aku? Aku lahir tahun 1994," Hansol menjawab, nada canggung masih terdengar di suaranya. "Kalau, emm, Yuta-ssi?"
"Ah hyung, tidak usah terlalu formal begitu," Yuta tertawa. "Aku lahir tahun 1995, lebih tua dari Jaehyun, tapi Jaehyun ini memang suka kurang-ajar jadi dia jarang sekali memanggilku hyung."
"Jaehyun itu memang kurang-ajar, aku setuju."
"Benar, kan? Aku selalu bilang padanya untuk memanggilku hyung tapi dia tidak pernah mau."
"Kalau dia sedang bandel begitu jitak saja kepalanya, Yuta."
"Terimakasih sarannya, hyung. Aku akan—"
"Halo, orang yang kalian bicarakan ada di sini, loh," Jaehyun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Yuta dan Hansol. "Dan sekedar mengingatkan, kalian sekarang bisa makan karena uangku. Jadi sebaiknya kalian berterimakasih padaku dan bukannya menjelek-jelekkan aku, oke?"
"Siap, tuan muda Jung."
"Sok sekali kau Jung."
Jaehyun, Yuta, dan Hansol membicarakan berbagai hal selagi menunggu pizza mereka datang. Mulai dari topik ringan seperti cuaca hari ini dan keadaan restoran yang sedang ramai, sampai topik berat seperti sulitnya tugas-tugas Jaehyun dan Yuta. Ketiganya larut dalam pembicaraan mereka, sampai-sampai walau pizza baru sampai melewati waktu 10 menit yang dijanjikan, tak ada satupun dari mereka yang protes. Bahkan Yuta, yang daritadi terus-terusan mengeluh lapar, tidak mengatakan apapun dan hanya memandang pizza dengan tatapan senang.
"Selamat makan!"
"Hansol hyung, kau sebaiknya mengganti rasa pizza favoritmu. Aku mulai bosan makan pizza dengan keju berlebihan seperti ini."
"Tapi ini kan enak, Jung," Hansol berkata setelah melahap satu slice pizza favoritnya. "Lagipula ini lebih baik dari rasa pizza favoritmu."
"Tidak ada yang bisa mengalahkan pizza dengan topping pepperoni, hyung."
Hansol tidak menghiraukan balasan dari Jaehyun, dan fokus pada potongan pizzanya yang kedua. Yuta yang sedaritadi mengeluh lapar kini tengah menghabiskan potongan pizzanya yang keempat, dan ia terlalu fokus makan sampai-sampai tidak sempat mengikutsertakan diri dalam pembicaraan Jaehyun dan Hansol.
Terdengar dering ponsel yang berasal dari dalam tas Hansol, dan pemuda yang memiliki mata seperti bambi itu langsung meraih ponselnya dari dalam tas. Jaehyun tahu bahwa dering itu adalah dering ketika seseorang menelepon Hansol, dan dari cara Hansol tersenyum ketika melihat layar ponselnya, Jaehyun langsung tahu siapa yang meneleponnya dan mengganggu acara makan mereka.
Johnny Seo.
"Kenapa? Aku sedang makan dengan Jaehyun, kau ini mengganggu saja. Terus kenapa kalau kelasmu sudah selesai? Kau mau aku kesana? Ah aku malas, Youngho. Aku baru makan dua potong pizza, tahu! Tanggung!"
Pasti Johnny hyung meminta Hansol hyung untuk menemuinya di universitas. Benar-benar deh pasangan ini, tidak bisa jauh-jauh dari satu sama lain sehari saja, gitu? Jaehyun menggeleng-gelengkan kepalanya, menebak dengan benar pembicaraan antara Hansol dan Johnny.
"Aduh iya, iya, aku kesana," Hansol mengapit ponselnya di antara telinga dan bahunya sembari membereskan barang-barangnya dan mengambil satu potong pizza lagi yang langsung ia jepit di antara giginya. "Hebenta!"
Hansol memutuskan sambungan telepon, lalu memasukkan ponselnya ke dalam bagian depan tasnya. "Jaehyun, Youngho sedang manja jadi aku harus menemuinya di universitas. Aku duluan, ya?"
"Iya hyung, urus saja bayi besarmu itu."
"Bayi besarku kan kau, Jae," Hansol tertawa. "Terimakasih traktirannya. Aku duluan. Dah, Yuta! Senang bertemu denganmu, lain kali kita harus ketemu lagi."
"Oh, iya. Siap, hyung."
Hansol beranjak dari duduknya, lalu tersenyum dan melambaikan tangan pada Yuta dan Jaehyun sebelum berjalan keluar dari dalam restoran. Jaehyun yang ditinggalkan hanya menghela napas sebelum melanjutkan acara makan pizzanya.
"Hansol hyung itu tampan sekali ya, Jae. Dia juga asyik diajak ngobrol meskipun agak canggung diawal. Aku suka dengannya."
Jaehyun hampir saja tersedak begitu mendengar ucapan Yuta yang tiba-tiba. Jaehyun langsung melirik Yuta, dan ia langsung merasa ngeri ketika melihat senyum aneh di wajah Yuta.
"Maksudmu kau suka dengannya dalam konteks pertemanan?"
"Entahlah," Yuta mengedikkan bahunya. "Omong-omong, Hansol hyung itu punya pacar atau tidak? Tidak, kan? Tentu saja tidak."
Astaga.
...
Hebenta : Sebentar
NCT127! Jaeyong bareng lagi, MarkHyuck juga akhirnya bareng, yay. Meskipun sedih sih trio YuJohnSol kepisah gitu :')
Makasih buat yang udah review, favs, dan follows fanfic ini ya! Thanks a lot!
