A.N: Makasih banget buat yang menyempatkan diri untuk nulis review di chapter sebelumnya. I highly appreciate that. Seriously. Karena bagi author, review itu feedback paling berharga. /love love/

Makasih juga untuk yang udah follow sama favouritestory ini. Bahagia banget pas ada notif dari e-mail, isinya dari semua. Aaaa ~ /hug hug semua reader tersayang/

Untuk reviewer dengan username aka-chan (berhubung review pake akun guest, jadi bales sini aja TwT): THANK YOU SO MUCHfor your review. But sorry, I can't update this story everyday. I would love to if I could. Unfortunately, I don't really have a lot of spare time to update. But I would always try my best to update quickly. I mean, I promise I wouldn't let my readers wait longer than a week. ;) once again, thank you for the review and thank you for expecting that this story would become a good one. I hope I could meet your and all of the readers' expectation. /much love/

Chapter ini akan sedikit lebih pendek dari chapter sebelumnya dikarenakan saya senang menghentikan chapter di bagian-bagian yang bikin greget. /eh

Anyway, silahkan menikmati chapter 2 ~ ! /cium cium/


Disclaimer: Semua karakter Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei. Tapi hatinya Kiba itu milikku. /digeplak/

Warning: YAOI. Boys love story. Gak suka, tolong jangan dibaca.

Ada beberapa karakter yang tidak tinggal di Konoha yang aku munculkan di cerita ini. Forgive me. Aku hanya kekurangan karakter-karakter yang seangkatan dengan Naruto. lol


- In Too Deep –


- Chapter 2 –

Naruto mengernyitkan keningnya begitu dia merasakan ada cahaya hangat yang menyentuh pelipisnya. Dia lalu perlahan membuka matanya dan menggeram begitu cahaya itu mengenai matanya, membutakannya untuk sesaat. Naruto menutupi cahaya itu dengan tangannya kemudian membalikkan badannya membelakangi jendela kamarnya dan terbaring diatas lengan kirinya. Semalam setelah Sasuke pergi begitu saja, Naruto langsung melemparkan badannya ke kasur tanpa menutupi jendelanya dengan gordennya yang berwarna abu-abu. Pantas saja di pagi hari itu sinar matahari yang baru seperdelapan muncul dari ufuk timur, bisa masuk ke kamar Naruto.

Setelah beberapa lama terdiam, Naruto membuka matanya perlahan kemudian memandangi bayangannya sendiri yang terlihat di cermin yang ada di kamarnya. Dia menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, kejadian malam kemarin terputar lagi di ingatannya. Dia mengingat punggung Sasuke. Dia mengingat bagaimana Sasuke berkata bahwa apa yang mereka miliki sudah berakhir. Naruto menggeratakkan giginya. Dia tahu ini semua salah dia. Salah dia yang dengan bodohnya mengatakan tiga kata terkutuk itu.

Naruto menggeram lalu menghela nafas dan bergerak untuk berbaring tengkurap. Dia menggesek-gesekkan mukanya ke atas bantal dengan sedikit frustasi. Bagaimana aku harus menghadapi Sasuke hari ini di Sekolah? Apa yang akan dia katakan? Apa dia akan diam saja dan menganggap apa yang terjadi kemarin itu tidak pernah benar-benar terjadi? Naruto menghela nafas sambil bertanya-tanya dalam hati.

"Ugh.. Mau bagaimanapun juga, aku harus tetap pergi ke sekolah. Aku tidak tahu harus menjawab apa kalau Kiba atau Sai bertanya kenapa aku bolos." Gerutunya kesal lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan dengan lunglai ke kamar mandi.


"Tidak mungkin Sasuke seperti itu. Dia seorang Uchiha. Pasti Naruto yang memang menggoda dan mendekati Sasuke dari awal."

"Tapi aku mendengarnya sendiri."

"Kau tidak mempunyai bukti. Bagaimana mungkin seorang Uchiha melakukan hal sehina itu. Pasti Naruto. Aku sudah menyadari dari dulu. Dia sering memandang Uchiha dengan tatapan yang aneh. Pasti Naruto yang memang gay!"

"Ugh, tapi…"

"Tidak. Aku yakin, Naruto lah yang menggoda dan Sasuke hanya masuk dijebakan Naruto. Naruto itu dari dulu emang anak yang nakal."


Naruto turun dari bus kota kemudian memandang gerbang sekolah dan memperhatikan beberapa orang yang berlalu-lalang melewati gerbang sekolah dan masuk ke gedung sekolah. Dia menghela nafas dalam-dalam kemudian menepuk pipinya dengan telapak tangannya sendiri.

"Yosh! Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Naruto." Ucapnya pada dirinya sendiri dengan suara yang cukup pelan sehingga tidak ada yang mendengarkannya. "Kalau kau bertemu dengan Sasuke, berlaku lah seperti biasa dan anggap tidak pernah terjadi apa-apa."

Naruto pun mengangguk pada dirinya sendiri kemudian melangkah masuk ke lingkungan sekolah. Dia sengaja datang beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi untuk menghindari kontak langsung dengan Sasuke. Karena Naruto tahu, Sasuke selalu datang pagi-pagi. Dulu pun dia pernah melakukan sedikit sesi berciuman ketika Naruto tidak sengaja datang terlalu pagi dan kelas masih sepi pada saat itu. Naruto menggelangkan kepalanya, menghilangkan sedikit flashback tentang hari itu di kepalanya.

Naruto berjalan memasuki koridor sekolah dengan memasang senyum lebar dan girangnya seperti yang biasa ia lakukan. Naruto tersenyum genit kearah seorang perempuan yang tengah memandanginya. Perempuan itu memandang Naruto dengan pandangan geli kemudian berbisik ke teman perempuan yang berdiri disampingnya. Naruto mengangkat alisnya namun memilih untuk tidak menghiraukan hal itu. Beberapa orang pun—tanpa Naruto sadari—memperhatikan Naruto dengan tatapan yang aneh sepanjang Naruto berjalan menyusuri koridor dan masuk kelasnya.

"Sai!" Naruto langsung duduk di tempat duduknya, tepat di samping tempat duduk Sai, dan menyapa Sai yang terlihat sudah siap dengan buku dan tempat pensil di atas mejanya.

Sai menoleh ke arah Naruto dan mengangguk ke arahnya, "Yo."

Begitu Naruto terduduk, bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Naruto melihat ke samping kanannya, tempat Kiba duduk, namun tidak melihat Kiba disana.

"Kiba bolos?" tanya Naruto ke arah Sai, menghiraukan Sasuke yang kemudian duduk di bangku tepat di depan Naruto.

Sai mengangkat bahunya, "Mungkin. Atau mungkin dia telat. Semalam dia bilang dia pergi dengan Tamaki, anak perempuan SMA Suna dan mungkin pergi mabuk? Kau tahu Kiba."

Naruto tertawa kecil, "Heh, Kiba. Anak itu, entah kapan dia akan berhenti bermain dengan wanita."

Sai tidak menjawab dan hanya terdiam.

Naruto menoleh ke arah Sai, hendak bertanya ada apa. Tidak biasanya Sai tidak merespon perkataan Naruto. Bahkan biasanya, meskipun Naruto hanya berkata 'hm', Sai pun akan menjawab dengan 'hm', sampai Naruto yang berhenti merespon. Namun niatnya bertanya terhenti begitu Iruka masuk ke kelas dan memulai pelajaran sastranya.


Naruto menghela nafas begitu dia masuk ruang ganti pakaian setelah pelajaran olahraga. Dia tidak bisa berkonsentrasi ketika tadi mereka bermain bola basket. Kali ini tim para pria dibagi menjadi dua dan mereka harus saling merebut skor dari tim yang lain. Dan tentu saja, tim Naruto harus melawan tim Sasuke. Dan dia sangat tidak bisa berkonsentrasi. Sangat tidak bisa. Bagaimana mungkin dia bisa berkonsentrasi melawan Sasuke dengan baju olahraganya dan wajahnya yang dipenuhi keringat? Sangat tidak bisa.

Naruto dengan kesal membuka bajunya dan melemparnya ke dalam loker miliknya. Terkutuk kau dan badan sexymu, Sasuke! Gerutu Naruto dengan kesal dalam hati.

"Oh, jadi begini badan seorang gay?" ujar Neji, pria bermata pucat yang baru saja masuk ruang ganti begitu Naruto membuka bajunya.

Naruto mengerutkan keningnya kemudian membalikkan badannya dan menatap Neji dengan tajam, "Apa kau bilang?"

Neji mendengus, "Kau gay dan kau punya masalah dengan pendengaranmu, Nargay?"

Lee, pria berambut potongan mangkuk terbalik yang tadinya berdiri dibelakang Neji memandang Naruto, "Oooh! Ooh! Jadi rumor itu benar? Naruto GAY!" ujarnya dengan penuh semangat, tidak peduli dengan teman-teman sekelasnya yang memperhatikan mereka dan mulai berbisik sambil memandangi Naruto.

"Berani-beraninya kalian menyebarkan gosip! Apa buktinya? Aku tidak..." Naruto melirik Sasuke yang ternyata sedang berdiri di depan pintu masuk dan kemudian menatap Sasuke dengan penuh amarah. "Aku bukan GAY!" ujarnya dengan kesal sambil menepuk loker dengan telapak tanganya dengan penuh tenaga, membuat loker di belakangnya sedikit bergoyang.

Naruto lalu mengambil seragamnya dengan kesal dan melangkah pergi dari ruangan itu. Menatap Sasuke dengan benci begitu dia melewati Sasuke sambil menggerakan mulutnya membentuk kata-kata 'F*ck You!' tanpa mengeluarkan suara.

Sasuke hanya menatap Naruto dengan dingin dan membiarkan semua orang mulai membicarakan Naruto begitu pria berambut kuning itu berjalan pergi menjauh sambil memakai seragamnya.


Naruto meletakkan piring makan siangnya dengan kasar. Masih merasa kesal dengan apa yang baru saja terjadi di ruang ganti. Kiba, yang memang datang telat dan baru menunjukkan batang hidungnya pas jam istirahat makan siang, terkejut dengan tingkah Naruto.

"Dude! Bisa lebih tidak kasar? Aku sedang mencoba menikmati makan siangku." Kiba membentangkan jemarinya, menunjukkan semangkuk udon kari yang ada di depannya.

Naruto menatap Kiba dengan kesal, "Diam kau, Kiba!"

Kiba menoleh ke arah Sai yang duduk di sebelah Naruto, "Ada apa dengan temanmu itu, Sai?" tanya Kiba dengan bingung. Dia memang tidak mengetahui apa yang terjadi di ruang ganti baju tadi karena dia memang baru saja datang.

Sai memandang Naruto di sampingnya dan menggelengkan kepalanya.

Kiba mengangkat alisnya, merasakan ada sesuatu yang janggal. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kantin dan menemukan tidak sedikit orang sedang melihat kearah meja mereka sambil berbisik. Dia pun mengerutkan keningnya dan memandang Naruto, "Apa yang aku lewatkan?" tanyanya kemudian.

Naruto menggertakkan giginya, "Abaikan saja mereka!"

"Oh, kau belum mendengar kabar yang beredar, Kiba?" ucap seorang pria berkulit gelap sambil mengemut sebatang lolipop, yang tadinya duduk di belakang mereka, berjalan menghampiri tempat Naruto, Sai dan Kiba duduk.

"Apa yang sedang kau coba katakan, Omoi?" Kiba menatap Omoi dengan bingung.

"Naruto, temanmu ini, Kiba. Dia gay. Dan semua orang memanggil dia Nargay." Jawab Omoi, tersenyum licik dengan batang lolipop yang masih menempel di mulutnya.

Kiba mengedipkan matanya kemudian mengalihkan pandangannya ke Naruto, "Naruto?"

Naruto menatap Omoi dengan kesal, "Berhenti menyebarkan gosip, Omoi! Aku bukan gay!" ujar Naruto, cukup keras sehingga semua orang di kantin bisa mendengar.

"Oh? Kau yakin? Aku dengar kau selalu memandang Sasuke dengan tatapan yang seolah kau ingin menerkamnya? Kau tahu maksudku?" ucap Omoi, masih dengan senyuman mengejek dan menyebalkan.

Kiba masih mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dia kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak. Naruto tidak mungkin gay. Dia dan aku sering pergi untuk mencari perempuan."

Omoi mendengus, "Tidak pernahkah kau berpikir bahwa itu hanya sebuah kamuflase? Mungkin saja sebenarnya selama ini dia mengikutimu pergi kemana-mana karena sebenarnya dia ingin.." Omoi mengangkat tangannya dan menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya untuk membuat gerakan isyarat untuk tanda kutip, ".. mencobamu. Mungkin dia sedang menunggumu sampai kau lengah, Kiba."

Kiba mengedipkan matanya kemudian menatap Naruto dengan tidak percaya.

"Mau bagaimana pun, dia gay dan hanya peduli dengan sex." Ucap Omoi dengan asal.

Naruto menggertakkan rahangnya lalu berdiri dan dengan tidak berpikir panjang, dia langsung menghantam tulang pipi Omoi dengan tinjunya. Membuat batang lolipop yang ada di mulutnya patah. Omoi menggeram lalu meludahkan lolipop di bibirnya, beserta sedikit cipratan darah.

Dia lalu meraih kerah baju Naruto dan menarik baju Naruto, "Heh, faggot! Beraninya kau menyentuhku dengan tanganmu yang kotor dan menjijikkan itu!" ujarnya marah lalu balas memukul pelipis Naruto dengan keras.

Naruto terhuyung. Namun dia tidak mau kalah. Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pening yang tertinggal ketika Omoi mendaratkan kepalan tangannya di pelipisnya. Dia kemudian melayangkan tinjunya lagi ke arah Omoi. Omoi yang sudah mengantisipasi gerakan itu lalu menangkap tinju Naruto dan mencengkeram tangan Naruto. Naruto menggeram kesal dan dengan gesit dan dibakar oleh rasa amarah, dia melayangkan tangan kirinya yang bebas dari cengkeraman Omoi dan mendaratkannya di perut Omoi.

"Gah!" Omoi mengaduh begitu kepalan tangan Naruto menikam ulu hatinya.

Baru saja Omoi hendak membalas Naruto, Kakashi dan Gai dengan buru-buru menghampiri mereka dan menghentikan perkelahian mereka.

"Kalian berdua berhenti!" Ujar Gai, guru olahraga sambil menahan Omoi.

"Naruto, Omoi. Kalian berdua ikut saya ke ruang guru!" seru Kakashi lalu menyeret Naruto yang masih ingin menghantam Omoi dengan tinjunya, meninggalkan Kiba yang diam terpaku di bangkunya dan Sai yang dengan diam memperhatikan.

"Aku bisa jalan sendiri!" geram Naruto sambil melepaskan cengkeraman Kakashi dari kerah belakang baju seragamnya.

Kakashi hanya menghela nafas dan terus berjalan di ikuti Naruto, Omoi dan Gai menuju ruang guru.

'Ini semua pasti ulah Sasuke. Siapa lagi yang tahu aku gay, yang memang bukan, selain dia! F*CK!' gerutu Naruto dengan marah dalam hati. Bersumpah dalam hatinya, jika ia bertemu dengan Sasuke, dia tidak akan pernah memaafkan pria tampan yang sexy apabila wajahnya dipenuhi keringat itu. Dan Naruto pun membuat catatan dalam hatinya, untuk berhenti berpikir bahwa Sasuke itu sexy.


- end of chapter 2 –

Maafkan aku, fans Omoi diluar sana. Tidak bermaksud membuat Omoi menyebalkan. Lololol

ANYWAY, REVIEW! PLEASE ~