CHAPTER 2

Hari ini Ino ada jadwal kuliah pagi. Tapi seperti selama satu bulan ini memulai kuliah, Ino tidak peduli. Dia bahkan belum pernah masuk sama sekali ke kelas, entahlah Ino lupa kelas apa jadwalnya hari ini, atau hari – hari lain. Bahkan, jujur Ino heran bagaimana dia bisa lulus SMA padahal berapa kali dia mengikuti pelajaran selama tiga tahun SMA bisa dihitung dengan jari. Mungkin kenyataan bahwa suami ibunya kenal secara pribadi dengan pimpinan yayasan sekolahnya ada hubungannya.

Ino hanya ke kampus seminggu dua kali untuk mengikuti kelas musik sebagai mahasiswa ilegal di dua kelas jurusan musik.

Ino mengambil jurusan arkeologi, yang mana Ino sama sekali tidak tertarik. Dia mengambil jurusan itu, lagi – lagi, hanya untuk membuat orang tuanya marah. Bukan marah karena ada yang salah dengan jurusan arkeologi, tapi karena mereka tahu bahwa Ino tidak pernah ada passion di jurusan itu. Mereka tahu Ino mengambil jurusan itu hanya untuk mendapatkan perhatian mereka.

HA! Get that! Seandainya mereka tidak pernah berpisah, ini semua tidak akan terjadi. Ino akan masih tinggal di rumah dan kuliah dengan serius di jurusan yang dia inginkan.

.

"Kau tidak ada kuliah hari ini, Ino?" Tanya Chouji. Dia tampak aneh dengan hanya kepalanya saja yang masuk ke pintu kamar Ino.

"Aku sedang sibuk." Jawab Ino tanpa mengalihkan konsentrasinya dari langit - langit yang sedang ia pandangi sejak 30 menit terakhir. Sejak dia kehilangan inspirasi dalam menulis lagu.

"Oh. Aku ada kelas jam 10 pagi. Jadi aku akan berangkat dulu." Chouji dengan senyuman ramahnya memberitahu Ino. "Aku membuat sarapan, kalau mau makan, ka bisa menghangatkannya dulu."

"Ok. Terimakasih."

"Oh, ya. Kalau kau mau keluar, tolong bangunkan Shika. Dia ada kelas jam 1 siang."

"Ok."

"Terimakasih Ino."

Setelah 3 jam sibuk memandangi langit – langit kamarnya, Ino bangun dan bersiap – siap untuk ke kampus. Karena jam 1 siang dia ada kelas musik.

Ah, dan membangunkan Nara Shikamaru.

Ino mengetuk pintu kamar Shikamaru. "Nara. Chouji memintaku untuk membangunkanmu."

Tak lama kemudian keluar Shikamaru dengan tampang bosan dan malas.

"Kau bisa memamanggilku Shikamaru."

"Ino." Balas Ino datar sambil berlalu ke dapur untuk sarapan, yang juga diikuti Shikamaru. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Mereka belum secara resmi berkenalan. Tapi untuk apa berkenalan jika mereka sudah saling tau nama masing – masing? Pointless.

Shikamaru terus memandangi Ino saat sedang makan. Ino tentu sadar dengan pandangan Shikamaru karena Shikamaru melakukanya dengan terang – terangan. Tapi Ino tidak menghiraukannya dan melanjutkan makannya.

"Kurasa aku pernah melihatmu." Shikmaru memulai.

"Kurasa kau pernah melihat banyak orang."

"Entahlah. Kurasa aku salah." Meski Shikamaru yakin dia tidak pernah salah dalam hal mengingat sesuatu.

Shikamaru yakin pernah bertemu dengan Ino. Tapi yang membuat Shikamaru ragu adalah, gadis yang dia anggap sebagai Ino yang pernah lihat adalah anak yang riang. Sedangkan Ino di depannya jauh dari kata riang.

Ya, mungkin akhirnya ingatan Shikamaru bisa salah untuk yang pertama kalinya.

"Mungkin."

.

"Ino." Panggil dosen musik favorit Ino, Hatake Kakashi, selesai perkuliahan saat Ino mau keluar kelas.

"Iya, Sensei?"

"Lagumu bagus." Kakashi mengeject CD tugas Ino dari laptopnya.

"Terimakasih, Sensei."

"Tapi, bukan lagu seperti ini yang aku mau, Ino." Kakashi menghela napas. "Aku memberi kali film bertema remaja. Ceria, bersemangat, penuh dengan pelangi. Tapi kau malah memutuskan untuk membuat lagu dari 5 menit kesedihan gadis protagonist saat ditinggal diputuskan kekasihnya, yang bahkan gadis itu tidak terlalu sedih."

Lagu yang Ino buat, menceritakan betapa si gadis tidak bisa bahagia tanpa orang yang dicintainya bersamanya. Dan si gadis berharap bahwa orang yang dicintainya bahagia setelah lepas darinya, yang mungin merupakan beban bagi orang itu.

Selama setahun Kakashi mengenal Ino, semua lagu yang dibuatnya bertema tragis. Lagu – lagu sedih dan miserable. Tapi memang harus diakui, lagu – lagu yang Ino buat membuat pendengarnya ikut merasakan apa yang dia rasakan. Melodi dan liriknya sangat dalam. Baik lagu yang dibuat Ino dari tugas yang diberikannya di kelas, ataupu lagu yang Ino buat diluar tugas. Ya, Ino selalu konsultasi tentang lagu – lagunya kepada Kakashi, sehingga Kakashi tau betul sampai seperti apa potensi Ino.

"Saat menonton film dari Sensei, hanya lagu itu yang terlintas dipikiranku, Sensei."

"Dunia ini sangat luas, Ino. Cobalah melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda." Kakashi menghela napas panjang. Kakashi tau kisah Ino dari sahabatnya, Asuma. Tidak heran jika Ino menyamakan 5 menit perasaan gadis protagonist di film dengan perasaannya.

"Kau sudah mempertimbangkan tawaranku?"

Ah, tawaran. Kakashi punya link di industry musik, menawari Ino untuk mengembangkan 'potensi'nya ke dunia professional. Tapi Ino tidak tertarik untuk menjadi penyanyi, idol, artis, atau apapun mereka menyebutnya.

"Maafkan aku, Sensei."

"Ah, sayang sekali. Kau punya potensi. Tapi, aku menghargai keputusanmu." Kakashi tersenyum, mungkin, karena Kakashi selalu memakai masker jadi orang tidak bisa begitu yakin. "Tapi jika suatu saat kau berubah pikiran, katakan padaku. Ok?"

"Tentu saja, Sensei" kemudian Ino pamit undur diri.

"Dan, Ino, "

Ino yang sudah selangkah di luar pintu kelas menoleh.

"Asuma akan sangat bangga padamu."

Ino hanya mengangguk. Kakashi tidak pernah berbohong. Tapi untuk yang satu ini, Ino tidak yakin bahwa perkataan profesornya itu benar.

Yah setidaknya Kakashi sensei mengatkan Ino untuk mengunjungi Mirai.

.

Dengan kemeja army dengan tiga kancing atas terbuka sehingga menunjukkan tangtopnya dan lengan dilipat sesiku, ripped jeans, sepasang sneakers, gitar dan lollipop sebesar wajahnya di tangan kanannya dan balon di tangan kirinya, Ino mendapat pandangan aneh dari orang – orang yang berpapasan dengannya.

"Kurenai Sensei." Sapa Ino pada wanita cantik yang membukakan pintu untuknya.

"Ah, Ino." Kurenai memeluk Ino. "Masuklah!"

Ino meletakkan gitarnya di sudut ruang tamu kecil senseinya. Bukan, bukan senseinya. Melainkan istri dari almarhum senseinya. Istri dari Asuma sensei.

Asuma adalah wali kelas Ino dari kelas 1 hingga pertengahan kelas 2. Orang pertama sejak perpisahan kedua orang tuanya yang mampu menembus dinding tebal yang dibangun Ino untuk melindungi hatinya. Namun, Asuma meninggal karena kanker paru – paru yang telah diidapnya selama 4 tahun. Meninggallkan istrinya yang seorang guru TK yang saat itu sedang hamil 2 bulan. Meninggalkan siswa – siswa yang menyayanginya. Salah satunya Ino. Memaksa Ino kembali membangun dinding yang lebih tebal lagi, sehingga tidak ada lagi orang yang bisa masuk dan melukainya.

Ino merupakan siswa bermasalah. Paling sering di panggil wali kelas dan guru BP karena jarang mengikuti pelajaran dan sering bolos sekolah. Asuma dengan sabar menggali informasi dari Ino. Menyadari passionnya pada musik, dan mengenalkannya pada temannya, seorang professor musik, Kakashi. Yang kemudian 6 bulan setelah kematian Asuma, Ino mulai mengikuti kelas Kakashi.

"Hai Mirai." Sapa Ino pada balita yang belum genap berusia satu tahun. Ino memberikan lolipopnya pada Mirai dan mengikat balonnya pada lengan salah satu boneka Mirai.

Ino memperhatikan keadaan apartemen kecil senseinya. Rung tamu, satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur.

"Kau makan malam disini saja Ino. Sudah lama aku makan malam hanya berdua dengan Mirai." Bujuk Kurenai dari dapur.

"Kalau tidak merepotkan."

"Apa yang kau bicarakan. Kau tidak akan pernah merepotkanku. Mirai…"

Tidak sengaja Ino melihat secarik kertas di atas TV, nota tagihan kontrakan selama 3 bulan. Tagihan listrik dan air.

'Seandainya Asuma sensei masih ada.' Hanya itu yang terlintas di pikiran Ino saat itu.

.

Karena sudah malam, Ino memutuskan untuk pulang. Ino harus menempih 5 menit jalan kaki menuju halte bis, 30 menit perjalanan bis, dan 10 menit lagi jalan kaki dari halte bis ke apartemennya.

Di dalam bis, Ino mendapati pria berambut hitam kebiruan yang kemarin menunggu lift bersamanya dan 3 orang lain. Tapi kali ini dia tidak bersama 3 orang kemarin, melainkan bersama sebuah gitar. Duduk di kursi paling belakang.

Ino memilih kursi favoritnya, paling belakang dekat dengan jendela. 2 kursi dari Pria Lift.

20 menit perjalanan, Pria Lift turun dari bis. Mengingat mereka tinggal di gedung apartemen yang sama, seharusnya Pria Lift tidak turun di halte ini. penasaran, Ino ikut turun.

Ino berjalan beberapa langkah di belakang Pria Lift. Ino yakin Pria Lift menyadarinya, namun memilih untuk tidak menghiraukan Ino.

Pria Lift berhenti di sebuah tmpat terbuka di antara lalu lalang orang berjalan, menggelar sarung tangan di depannya, lalu mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi.

Ino adalah penonton pertamanya. Tak lama kemudian, orang – orang mulai berhenti dan menjadi penonton Pria Lift.

Tekniknya dalam bermain gitar sangat baik. Seperti seorang professional. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu popular, tapi Pria Lift menyanyikannya dengan warnanya sendiri. Seolah lagu itu adalah lagunya. Tak heran orang – orang hanyut menyaksikan penampilannya.

.

"Bukankah seharunya kau membantuku?" Pria Lift menghitung uang yang terkumpul di gelaran sarung tangannya. Ino berdiri bersandar di dinding bergrafiti tak jauh dari Pria Lift.

"Apa aku akan mendapatkan bagian?"

Pria Lift menatapnya sekilas dengan senyum miringnya.

Selesai mengumpulkan uangnya, Pria Lift beranjak pergi. Ino mengekor di belakangnya.

"Penampilanmu sangat bagus. Aku suka teknik bermain gitarmu." Puji Ino dari belakang Pria Lift.

Pria Lift masuk ke dalam sebuah mini market. Ino menunggu di bangku luar mini market. Karena mereka tinggal di gedung yang sama, tidak ada salahnya mereka pulang bersama.

Pria lift keluar membawa 2 cup mi instan dan 2 botol air mineral, meletakkan salah satunya di atas meja di depan Ino.

"Terimakasih." Ino meminum air mineralnya.

"Lain kali aku tidak akan memberikannya dengan gratis."

Ino hanya tersenyum menanggapi Pria Lift.

Menunggu mi instannya matang, Ino mengeluarkan gitarnya dari case. Karena tiba – tiba sebuah melodi muncul di pikirannya.

Ino memainkan gitarnya sambil menggumamkan melodi tanpa lirik.

Pria Lift mengamati tetangganya yang sedang menikmati dirinya sendiri dengan mata terpejam dan senyum tipis terukir disana. Melodi yang gadis itu mainkan kalem dan menenangkan. Membawa Pria Lift, atau siapapun pendengarnya akan ikut tersenyum karena terbawa suasana tenteram.

Ino membuka matanya, mendapati Pria Lift sedang mengamatinya dengan senyum tipisnya. Saat menangkap tatapan mata Pria Lift,Ino segera mengalihkan pandangannya. Mengambil notebook dari dalam case gitarnya untuk mencatat melodinya.

"Kurasa itu bisa kau gunakan untuk membayarku." Pria Lift mulai makan mi instanya yang sudah masak. Ino mengikutinya.

"Kau hanya perlu lirik untuk menyempurnakan lagumu." Sambil makan mi instannya, pria lift mengomentari melodi yang Ino catat pada noteboknya.

"Aku tau."

Pria Lift meletakkan mi instannya, lalu merebut notebook dan ballpoin.

"Disini," Pria Lift menunjuk melodi pertama yang Ino buat "Lirik yang pas adalah…"

.

"Kenapa kau takut naik lift?" Tanya Pria Lift saat mereka masuk ke dalam lift dalam gedung apartemen mereka.

Tdak terasa, mereka menghabiskan waktu di depan mini market yang buka 24 jam sampai mereka menyelesaikan refrain lagu Ino, jam 3 pagi.

"Aku tidak takut. Hanya tidak suka." Jawab Ino dengan mata terpejam.

"Ya, ya. Apapun yang membuatmu senang."

Ino membuka matanya, menatap Pria Lift dengan tajam.

"Keluarlah, kita sudah sampai di lantaimu."

Ino tidak menyadarinya. Bukannya Pria Lift harunsya turun di lantai 5? Kenapa Pria Lift ikut ke lantai 6?

"Aku Uchiha Sasuke." Ungkap Pria Lift, sekaran Uchiha Sasuke, saat Ino keluar dari Lift.

"Ino," jawab Ino saat pintu lift mulai tertutup "Yamanaka Ino."