Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 3: Welcome to Pandora

Seaneh-anehnya hari-hari seorang street child, Gil tidak pernah mengalami hari seaneh hari ini.

Pertama, adiknya tiba-tiba hilang entah kemana dan ketika dia kembali, tubuhnya sudah penuh luka. Kemudian, dia terpaksa menggendong Vincent dan melarikan diri dari seorang gadis yang bersenjatakan cambuk mematikan. Ketika dirinya dan Vincent terpojok, dua orang yang tidak kalah anehnya dengan gadis tadi menyelamatkan dirinya. Dan sekarang, sementara salah satu dari penyelamat mereka bertarung dengan gadis itu, pertempuran yang tidak masuk akal antara kelinci dan singa, yang satu lagi menyeret mereka menjauh dan sekarang memaksa Gil untuk mengikutinya.

"Errr, terima kasih karena sudah menyelamatkan kami. Tapi, kau mau membawa kami kemana?" tanya Gil sambil terengah-engah. Pergelangan kakinya terasa nyeri di tempat cambuk Lotti mengenainya dan Vincent terasa sangat berat di punggungnya.

"Tidak apa-apa, ini memang daerah kekuasaan kami, jadi kami tidak akan membiarkan Darks Sabrie bertindak seenaknya. Omong-omong, panggil saja aku Break!" sahut anak laki-laki di sebelahnya. "Soal kemana aku membawamu, aku membawamu ke Pandora."

"Pandora?" tanya Vincent heran.

"Yup, Pandora!" jawab Break riang. "Ayo cepat, teman-temanku sudah menunggu!"

"Tunggu! Maksudmu, ada anak-anak lain yang sepertimu dan temanmu tadi? Anak-anak yang memiliki binatang seperti singa dan kelinci raksasa itu?" tanya Gil tidak percaya. Entah kenapa, dia memiliki bayangan mengerikan akan Pandora.

"Maksudmu chain? Yup, walaupun jumlahnya tidak banyak, sih. Kalian juga bisa memilikinya kalau kalian memutuskan untuk bergabung dengan kami." Break menjelaskan.

"Apa yang kau maksud dengan bergabung?"

"Ah, sudahlah! Biar Oz atau Jack yang menjelaskan! Sekarang yang penting adalah menjauhkan kalian dari Dark Sabrie! Aku tidak yakin berapa lama Oz bisa menahan Lotti!"

"Jadi nama temanmu itu Oz?"

"Yup."

Break berbelok menuju sebuah jalan yang jarang dilewati. Jalan itu termasuk di dalam daerah kumuh bekas perang yang terjadi beberapa dekade yang lalu. Daerah itu tidak pernah dihuni lagi dan penuh dengan gedung-gedung dan rumah-rumah kosong. Kabarnya daerah itu dihantui, sehingga tidak ada penduduk yang lewat daerah situ. Bagaimanapun juga, street children dan gangster tidak ada yang mempercayai mitos itu. Bagi mereka, daerah itu adalah tempat untuk menghabiskan malam di bawah atap dan perkelahian antar geng.

"Kalian punya markas di daerah sini?" tanya Gil sambil melihat sekelilingnya.

"Tentu saja! Kalau kita membangun markas di pusat kota, bisa-bisa kita ditangkap polisi nanti!"

"Cukup masuk akal."

Setelah sekian lama berlari, akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan kosong yang cukup besar. Break mengetuk pintu bangunan itu, dan pintunya terbuka sedikit. Terdengar bisikan seseorang dari dalam, "Xarxs-nii?"

"Iya, Sharon. Ini aku!"

Setelah memastikan identitas mereka, pintu itu terbuka lebar, menampakkan seorang gadis berambut peach panjang yang tersenyum hangat kepada mereka.

"Mana Oz?" tanya gadis itu. Senyum hangatnya digantikan oleh kerutan khawatir di dahinya.

"Melawan Lotti, sepertinya. Ayo kalian berdua, masuk!"

Break mendorong Gil dan Vincent masuk dengan paksa.

"Welcome to Pandora!"

.

"Zwei?" tanya Break kepada seorang gadis berambut biru yang sedang asyik melamun sambil menyandar di dinding. Selain gadis itu, Break, Sharon, Gil dan Vincent, tidak ada orang lain di dalam bangunan yang mereka sebut markas itu.

"Hei, Break! Kau sudah pulang rupanya." gadis yang dipanggil Zwei itu menengadahkan kepalanya. Kemudian pandangannya tertumbuk pada Gil yang mengekor Break dan Vincent yang masih berada di punggung Gil. Zwei mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa?"

Break menghela nafas, "Aku tahu ini giliranmu. Tapi kami membutuhkan Echo!"

Zwei mendesah, "Kenapa sih selalu begini? Giliranku selalu terganggu!" Zwei masih terus mengomel sambil memejamkan matanya. Gil dan Vincent hanya bisa menatap bingung ke arahnya.

Sesaat kemudian, omelan Zwei berhenti. Kemudian tubuhnya mulai mengejang. Gil memekik sambil berlari menghampiri gadis itu. Tapi Sharon menahannya.

"Tenang, ini normal." kata Sharon menenangkan Gil.

"Normal?" Gil memekik. Sepertinya definisi normal berbeda antara dirinya dan orang-orang di sini.

"Diamlah dan lihat, kalau kau tak percaya!" Sharon berkata lembut. Gil menelan ludah dan tanpa daya melihat tubuh Zwei yang masih mengejang.

Beberapa detik kemudian, Zwei berhenti mengejang. Dia membuka matanya. Sepertinya tidak ada yang berubah dalam dirinya. Tapi, Gil menyadari bahwa Zwei telah berubah menjadi orang yang berbeda.

"Hai, Echo." sapa Break. Gil hanya Vincent bisa menganga tak percaya.

"Zwei berkepribadian ganda. Echo adalah kepribadiannya yang lain. Tidak ada yang tahu yang mana kepribadian asli dan yang mana yang bukan, bahkan mereka saja tidak tahu. " Sharon menjelaskan kepada Gil dan Vincent.

"Zwei memberitahuku kalau kalian membutuhkanku." Echo berkata dengan nada datar. "Memangnya ada apa?"

"Echo, mereka terluka. Bisakah kau mengobati mereka?" tanya Break. Anak laki-laki itu kemudian menyuruh Gil meletakkan Vincent di atas sebuah kantung tidur yang tidak Gil maupun Vincent perhatikan sebelumnya.

Echo mengangguk, "Aku akan mencoba" Echo mengambil obat-obatan dari sebuah kotak dan mulai mengobati Vincent. Break mengalihkan perhatiannya kepada Sharon.

"Dimana yang lain?" tanyanya kepada Sharon. Sementara itu Gil duduk di sebelah Vincent, memastikan kondisi adiknya dengan cemas.

"Jack, Alyss, dan Alice masih memata-matai Dark Sabrie. Sementara Rakuen no Music, sepertinya mereka sedang ada di alun-alun. Tadi pagi mereka bilang mereka akan pulang sekitar... sekarang?" jawab Sharon sebelum membantu Echo mengobati Vincent dan Gil.

Tepat saat itu pintu markas terbuka dan tiga orang melangkah masuk. "Yo! Ada yang mencari kami?" tanya orang yang berada di tengah. Dia satu-satunya anak laki-laki diantara ketiga orang itu. Dia mirip dengan Oz, tapi beberapa tahun lebih tua dan rambut pirang panjangnya dikepang.

"Huss, jangan geer Jack." kata seorang gadis yang berada di sebelah kanannya. Gadis itu memiliki rambut berwarna perak dan bermata ungu. Gadis yang berada di paling kiri tampak seperti copy paste gadis berambut putih tadi, hanya saja rambutnya berwarna cokelat. Gadis berambut cokelat itulah yang pertama kali menyadari keberadaan Gil dan Vincent.

"Oh, hai! Kalian anak baru ya?", tanya gadis berambut cokelat itu kepada Gil. Segera setelah gadis itu menyapa mereka, barulah kembarannya dan anak laki-laki itu menyadari keberadaan Gil dan Vincent.

"Namaku Alice. Ini kembaranku, namanya Alyss. Dan dia, Jack, kakak Oz." gadis itu memperkenalkan dirinya dan teman-temannya. "Omong-omong, Break, mana Oz?"

"Sepertinya dia masih bertarung melawan Lotti.", Break mendesah.

"Hah? Lotti? Kenapa dia bisa bertarung dengan Lotti?" Jack agak histeris ketika mendengar adiknya sedang dalam bahaya. Alyss berusaha menenangkannya.

"Tenang, Jack. Oz pasti selamat. Dia petarung yang hebat. Sudah, jangan panik! Yang lain saja santai, kan?" hibur Alyss.

"Tapi Oz baru menggunakan B-Rabbit dua hari yang lalu! Aku takut terjadi apa-apa dengannya!"

"Iya juga sih..."

Sebelum mereka semua sempat berbicara lebih lanjut, pintu markas menjeblak terbuka. Suara pertengkaran tertangkap oleh telinga mereka semua. Vincent tiba-tiba duduk tegak, membuat Echo terkejut, dan Gil menegakkan punggungnya. Mereka berdua menajamkan pendengaran mereka. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa familiar di dalam pertengkaran itu.

"Ketukanmu terlalu cepat, Reo. Seharusnya kau perlambat sedikit!"

"Enak saja, ketukanku sudah pas. Kau yang terlalu lambat!"

"Apa katamu!"

"Sudah, sudah. Permainan kalian bagus kok."

Gil dan Vincent membelalakkan mata mereka tidak percaya. Suara salah seorang dari mereka, sangat kakak beradik itu kenal.

"Perkenalkan, Rakuen no Music, pemusik jalanan paling terkenal di Sabrie!" kata Sharon dengan bangga.

"Sharon, kita tidak seterkenal itu!" terdengar suara malu seorang anak perempuan.

Gil dan Vincent menatap tiga orang pendatang baru itu. Yang di kiri adalah seorang anak laki-laki berambut hitam panjang acak-acakan dan memakai kacamata bulat besar yang menyembunyikan matanya, di tangannya terdapat sebuah seruling kayu yang dibuat dengan halus. Yang ditengah adalah seorang gadis berambut pirang dan berwajah mirip dengan Oz dan Jack, sepertinya dia adalah adik mereka.

Tapi Gil dan Vincent mengabaikan dua orang tadi. Yang mereka perhatikan adalah orang yang ketiga, anak laki-laki, satu tahun lebih muda dari Vincent. Anak laki-laki itu memiliki rambut berwarna beige dan iris sewarna batu safir. Dia sedang memeluk sebuah kotak biola.

Anak laki-laki itu juga menatap Gil dan Vincent dengan shock, kemudian dia berteriak,

"Gil! Vincent!"

"Elliot!"

TBC

A/N:

Yo, ini mungkin update terakhir Aoife untuk sebulan ke depan. Karena nanti bulan maret laptop Aoife disita, hiks. Terpaksa deh, kembali ke zaman batu, nulis fanfic di buku.

RnR, ok?