Title : Darkness Against the Enemy

Cast : Chanyeol Baekhyun Xiumin Sehun

Genre : Adventure, Romance, Hurt, Yaoi

Note : Peringatan yaa.. ini cerita bxb jika kurang berkenan silakan pergi dari lapak saya.. saya menulis hanya sesuai imaginasi saya saja, jika ada kritik atau saran silakan isi kotak review.. Buat yang udah ngasih review makasih banyak yaaa.. kalian adalah penyemangatku..

.

.

.

.

.

_o0o_

Tidak ada yang bisa memuaskan diri kecuali orang itu bisa merasakan kepuasan dari dirinya sendiri.

_._._._._._._._._._._._._._._._._._._

.

.

.

.

.

Part 2

Kalimat itu terus terngiang di kepala. Kalimat itu tidak ada yang salah. Kalimat itu yang selalu membuatku bungkam. Diam, tak bisa berbuat apapun.

Aku menggeram frustasi, meremas rambutku kuat, kemudian pergi meninggalkan anak kembarku yang tengah tertidur pulas.

Anggap saja aku egois. Tapi aku harus meluapkan seluruh emosi dan pikiran yang mengganggu ini. Kemudian kuambil kunci mobil yang berada di nakas.

Aku menengok ke arah jam yang ada di tanganku. Sudah pukul 01.00 pagi buta, masih ada tujuh jam lagi untuk pergi ke kantor dan menyelesaikan seluruh pekerjaan yang kutinggalkan kemarin.

Mobil sudah kunyalakan, kemudian pedal gas kuinjak kuat-kuat dan melaju kencang dijalanan. Beruntung ini pagi buta, jadi keadaan jalanan lumayan lengang. Hanya satu atau dua kendaraan saja yang lewat. Traffic light kuterobos tanpa rasa khawatir. Mobil kubelokkan ke arah kiri menuju sebuah gedung terpencil yang tidak terlalu diketahui keberadaannya oleh sebagian orang.

Tidak ada yang tahu tentang hobiku yang satu ini kecuali satu orang. Oh Sehun. Entah kenapa dia mengetahui semuanya tentangku.

Ketika aku memasuki gedung itu, keadaan sudah lumayan ramai dan berisik. Semua orang bersorak-sorai meneriakkan nama seseorang yang sedang beradu di tengah-tengah ruangan. Saling bersahutan untuk mendukung jagoan mereka. Gelas-gelas yang berisi alkohol berserakan di meja sekitar ruangan.

Aku berjalan menuju ke sebuah tempat di pojok ruangan. Tempat ini sangat strategis, karena bisa langsung melihat pertandingan dengan jelas.

Ada dua laki-laki yang berada di tengah lingkaran merah. Salah satu dari laki-laki itu aku sangat mengenalnya, dia berbadan tegap dan sangat atletis, namun memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari petarung satunya. Dia bernama Kim Minseok, petarung terhebat yang ada di klub ini.

Aku mengamati pergerakan Minseok. Gerakannya sangat cepat dan tak terlihat. Hingga dalam waktu yang singkat, ia mampu memukul telak lawannya dan membuatnya jatuh di lantai pertandingan.

Semua yang menonton berteriak senang karena mereka memenangkan taruhan dan sebagian ada yang kecewa karena jagoannya kalah.

Minseok membantu lawannya berdiri, kemudian wasit yang berdiri di tengah mereka mengangkat tangan Minseok ke atas dan menyatakan pemenangnya.

Aku melihatnya menatapku. Dia berjalan ke arahku dengan senyumannya yang lebar. Tampak rasa puas terpancar di wajahnya.

Mungkin saat ini dia terkejut akan kehadiranku, karena beberapa minggu terakhir ini aku jarang sekali kesini dikarenakan pekerjaan yang sangat padat. Bahkan untuk istirahat-pun kadang tidak bisa. Namun dengan bodohnya, kemarin aku meninggalkan seluruh pekerjaanku dengan mudahnya dan sekarang bukannya menyelesaikan pekerjaan itu, tapi aku malah datang ke tempat ini.

Dia menepuk pundakku pelan kemudian berkata, "Akhirnya kau kesini lagi setelah beberapa minggu tak terlihat." Aku tersenyum menatapnya.

Aku sudah berada di klub ini sejak lima tahun yang lalu, ketika aku masih berada di kelas dua menengah atas. Minseok lah yang mengajakku kesini. Dia yang menceritakan padaku tentang seluruh aktifitas yang ada di klub dan dikarenakan aku sangat suka dengan tantangan, maka dari itu aku menerimanya. Kebetulan juga aku adalah pemegang sabuk hitam hapkido, jadi daripada kemampuan tersembunyiku itu terbuang sia-sia maka lebih baik kugunakan untuk bertarung di lingkaran merah. Sekaligus juga, aku bisa melampiaskan seluruh beban yang ada. Sejujurnya Minseok lebih tua lima tahun dariku, namun entah mengapa jalan pikiranku sangat sejalan dengannya dan dia adalah kakak yang baik juga buatku.

"Kau mau bertanding? Kulihat dari raut wajahmu kau sangat ingin melakukannya." Dia membuatku keluar dari lamunanku, aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

"Ahh, kalau begitu kau tunggu disini sebentar. Akan kucarikan penantang terhebat di klub beberapa hari terakhir ini." Dia tersenyum sebentar, mengedipkan sebelah matanya, lalu berlalu meninggalkanku.

Sepertinya aku memang memerlukan orang terhebat untuk melawanku saat ini. Aku ingin mengeluarkan seluruh emosi yang menjadi beban pikiranku. Dan Minseok-lah yang selalu mengetahui apa yang ada dipikiranku dan membantuku untuk menjadi lebih tenang lagi. Dia kakak yang hebat menurutku.

Tidak berapa lama kemudian, dia datang dengan seseorang yang berada di belakangnya. Kemudian, Minseok duduk di sampingku dan orang itu duduk tepat di depanku. Orang yang dibawa Minseok memiliki tubuh yang sangat tinggi dan badannya lumayan bagus. Sangat kelihatan sekali kalau dia senang berolahraga.

"Perkenalkan, dia Jonathan, teman lamaku." Minseok mulai memperkenalkan temannya. "Dia ini sebenarnya orang Korea, namun sebagian dari dirinya adalah orang Amerika juga. Dan dia ini memang tinggal di Amerika, tapi mulai tahun ini katanya dia mau tinggal disini untuk beberapa tahun kedepan."

Aku yang mendengarkan penjelasan Minseok hanya diam dan mengangguk mengerti. Menurutku wajahnya sedikit familiar, tapi aku tidak tahu siapa itu.

"Dia yang melawanku tadi di lingkaran merah," lanjut minseok

Ya, benar. Aku ingat sekarang, dia yang melawan Minseok tadi. Pantas saja sangat familiar.

"Hyung, apa kau bercanda membawa dia sebagai lawanku?" Aku bertanya keheranan.

Aku tidak salah kan bertanya seperti itu? Sebab, dia saja melawan Minseok hanya dalam hitungan detik sudah terkapar dan kalah. Minseok yang mendengar ucapanku tertawa keras.

"Ya!! Kenapa kau bodoh sekali. Jelaslah aku tidak akan menyuruh Jo buat melawanmu." Minseok menjawab pertanyaanku tadi. Aku mengernyitkan dahi. "Aku membawanya kesini hanya ingin memperkenalkannya padamu, dia ini anggota baru di klub, hanya itu saja. Dan tentunya kau sudah tau siapa petarung terbaik dan tidak terkalahkan di klub kan?"

"Lalu?" Aku balik bertanya

"Tch," dia memukul kepalaku dengan sendok.

Aku menatapnya, memelototkan mataku. "Kau tahu, ini sakit sekali. Lanjutkan bicaramu dan jangan memukulku dengan sendok lagi."

"Jadi," dia memberikan jeda sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya lagi, "kau itu terlalu bodoh Kyeongie." Dia berteriak gemas padaku, aku hanya memutar bola mataku malas. "Sudah cepat ganti bajumu, aku tunggu kau di lingkaran merah tiga menit dari sekarang." Minseok berkata sambil mendorongku untuk segera bersiap-siap.

Aku berjalan melewati orang-orang yang masih berkumpul dan sibuk dengan taruhan mereka lagi untuk menuju ke ruang ganti, sementara Minseok sudah menuju podium untuk mengumumkan petarung selanjutnya. Dan untuk Jo atau siapalah tadi, aku tidak tahu dia ada dimana.

Ketika aku mulai membuka baju, tiba-tiba ada yang bersuara dari arah belakang, "Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya."

Reflek, aku menolehkan kepala. Menatapnya sekilas kemudian mengambil sarung tinjuku dan memakainya. Aku tidak terlalu mempedulikannya.

"Aku tidak suka diabaikan," dia menarik bahuku agar aku menghadap kearahnya. Aku menatap matanya datar, "jangan suka mengabaikan orang kalau kau tidak mau diabaikan."

"Lalu aku harus menjawab apa?" Jawabku. Aku melepaskan tangnnya yang ada di bahuku dan berjalan menuju tempat pertandingan.

"Setidaknya kau mengatakan 'ya' atau kalimat lainnya." Balasnya, dia mencoba menyejajarkan langkahnya dengan langkahku.

"Apa yang kau ucapkan tadi hanya sebuah pernyataan bukan pertanyaan, jadi aku tidak perlu membalasnya." Lanjutku acuh.

Kurasa dia kesal dengan jawabanku. Karena sekilas ku lihat tangannya mengepal kuat. Ketika dia ingin membalas perkataanku, tiba-tiba Minseok datang dan menyuruhku untuk segera naik ke atas ring.

TBC