Yak, inilah dia chapter 3 dari Seivoca JHS! Selamat membaca semuanya! XD

DISCLAIMER : I DO NOT OWN VOCALOID

Chapter 3 : Masa Orientasi Sekolah (PART 2)

"Ayo kita mulai Guess and Run Game!" seru Akaito membahana di ruangan itu.

"Dell, bagikan gelas plastik ke anak-anak itu," perintah Akaito.

"Cih, dasar ketua OSIS pemalas," ejeknya pelan.

"Apa kau bilang? Aku tidak mendengarmu," Akaito menempatkan tangannya ke belakang telinganya tanda ia ingin mendengar lagi.

"Bagus jika kau tak mendengar, baka," kata Dell seraya membagikan gelas plastik ke calon siswa-siswi baru.

"Nah, baiklah semuanya sudah dapat? Kita mulai yang pertama. Silahkan, Ring," kata Akaito seraya mempersilahkan Ring yang akan membacakan petunjuknya.

"Baiklah, Akaito. Clue pertama," Ring melihat ke sekelilingnya. Anak-anak itu sedang terlihat bersemangat untuk melempar gelas plastik ke orang yang akan menjadi korban nantinya. Ring mendengus geli.

"Bersiaplah. Clue pertama, cowok ini berambut kuning," semuanya saling berpandangan. Rambut cowok berwarna kuning ada lebih dari satu. Sedangkan cowok yang mempunyai rambut berwarna kuning hanya memiliki ekspresi matilah-aku-kalau-aku-yang-kena.

"Dan clue yang kedua..." Ring menahan nafas agar anak-anak itu menjadi lebih penasaran.

'Jika Len yang kena, aku akan membalasnya atas kejadian pagi ini,' batin Rin (lihat Seivoca JHS chapter 2)

"Clue yang kedua adalah... Orang ini menyukai pisang!" seru Ring dan membuat Rin dengan bahagia dan tega melempar Len, dengan tenaganya yang super mega kuat, dengan gelas plastik yang telah disediakan.

"Yeay, kita hajar Len!"

"Horee, Len yang kena~"

"Dasar bocah shota pencinta pisang," kata-kata ini membuat Len mendeath glare Rinto yang mengucapkan kata-kata itu.

"Lempari Len, semuanya!"

"Yah, airnya dibuang-buang buat lemparin Len."

Eh?

Apa...?

Air...?

Tunggu...

"GUMII!" teriak Len dengan cetar membahana.

"LEEN!" balas Gumi tidak mau kalah. Len menatapnya dengan ekpresi aku-sudah-menduga-kalau-gadis-ini-agak-tidak-normal.

"Pft, Len basah kuyup! Great job, Gumi-chan!" Rin tertawa dengan bahagianya. Sementara Len hanya cemberut menyaksikan dirinya menjadi bahan tertawaan satu ruangan bahkan termasuk Meiko-sensei yang sekarang sedang berusaha untuk tetap terlihat bijaksana di depan calon murid-muridnya meskipun dia terlihat dengan jelas sedang berusaha menahan tawanya.

"Kenapa kamu memasukkan air ke dalam gelas itu, Gumi?" Len bersyukur masih ada yang mau menegur Gumi. Tapi ketika dilihat sumber suaranya ternyata berasal dari Akaito yang juga sedang menahan tawanya, ia langsung cemberut dan menatap Gumi, lagi, dengan tatapan aku-akan-membunuh-gadis-ini-di-dunia-selanjutnya.

"Aku kira itu tadi buat minum, senpai," katanya dengan innocent. Seketika Len sweatdrop.

"Kau tidak mendengarkan kalau gelas plastik itu untuk dilempar ya?" Len menjerit frustasi baik dari mulut maupun dari hati. Gumi nampak tertegun sejenak.

"Oh iya, lupa," cengirnya. Len langsung menjambak rambutnya.

"Sudah, sudah, sekarang orang kedua," Ring berhasil menguasai dirinya untuk tidak tertawa lagi.

"Mudah-mudahan Gumi..." batin Len dengan tega.

"Cluenya adalah orang ini berambut hijau..." belum selesai Ring membacakan clue, Len sudah berteriak kesenangan.

"Len, ada masalah?" Ring bertanya dengan tajam tapi tidak bisa bertahan lama karena melihat Len yang sudah basah kuyup. Rin seketika menjitak kepala Len.

"Maafkan dia, Ring-senpai, obatnya sudah habis," Rin mengeluarkan senyum malaikatnya.

"Baiklah," Ring sempat berhenti untuk tertawa pelan tapi langsung memasang ekspresi serius lagi, "Orang ini berambut hijau muda kebiru-biruan dan bergender cowok." Len langsung menatap Mikuo dengan bahagia. Dan orang-orang lain pun juga menatap Mikuo. Sementara Mikuo memasang ekspresi aku-sudah-pasti-kena-dan-mati-untuk-kali-ini.

"Clue kedua adalah... Dia menyukai daun bawang!" Tanpa perlu dikomando lagi, semuanya langsung menyerbu Mikuo.

"Mikuo, kau kena!"

"Setelah Len, kemudian Mikuo, bahagianya hari ini," kata Piko yang langsung disambut death glare oleh Len dan Mikuo.

"Aku bisa melempari salah satu fansku," kata Luka dengan wajah datar.

"Horee, kita melempari Mikuo!"

"Aku tidak mau menggunakan air lagi, aku mau menggunakan lumpur saja!"

Eh?

Tidak salah dengar...?

LUMPUR?!

"GUMIIIII!" jerit Mikuo yang lebih frustasi dari Len tadi. Sementara Len hanya tertawa puas dengan tanduk berada di kepalanya menurut Mikuo.

"MIKUOO!" jerit Gumi lagi tidak mau kalah. Len menatap Mikuo dengan tatapan benar-apa-yang-aku-duga-kalau-cewek-ini-agak-tidak-normal.

"Ukh, lumpur..." cicit Gakupo. Sementara Miki menatapnya malas.

"Kau ini cowok atau cewek? Sama lumpur aja kok jijik," kata Miki menatapnya sinis.

"Ah iya, baiklah. Aku tidak jijik lagi kok," Gakupo beroptimis ria. Sementara Miki menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan "terserah kau sajalah"

"Aku benci hari ini," kata Mikuo menyadari tubuhnya sudah dipenuhi lumpur. Suasana ruangan itu tidak jauh beda dari suasana saat Len diguyur air tadi, hanya beda di Meiko-sensei yang sekarang sedang tertawa lepas.

"Sebenarnya, lumpur itu didapat Gumi darimana?" bisik Miku kepada Kaito.

"Entahlah, aku pun tak tahu, untunglah bukan kita berdua yang kena, untunglah Mikuo yang kena," balas Kaito.

"Hoi, aku dengar kalian berdua," kata Mikuo sambil memfacepalmkan mukanya.

"Fufufu, sudah sudah kalian semua, sekarang kita lanjut ke orang terakhir," Ring masih berusaha menguasai dirinya sendiri.

"Siapapun yang menjadi orang terakhir, maka, orang itu akan sangat beruntung," kata Mikuo yang masih dipenuhi lumpur dengan evil grinnya.

"Baiklah, clue pertama, cowok ini berambut merah panjang," kata Ring sambil berusaha menahan tawanya. Kaito langsung menatap seseorang yang sangat dikenalnya. Sementara yang ditatap hanya memberi tatapan ada-apa-ini-sepertinya-akan-ada-sesuatu-buruk-terjadi-kepadaku. Anak yang lain masih bingung siapa yang dimaksud karena tidak ada cowok berambut merah panjang di antara ke 15 calon siswa-siswi baru. Padahal orang yang dimaksud berada tepat di depan mereka...

"Dan clue kedua adalah cowok ini memiliki adik dengan rambut berwarna biru yang menjadi calon siswa baru di antara kalian," seketika semuanya langsung menatap Akaito begitu Ring selesai menyebutkan clue yang kedua.

"Khukhukhu, akhirnya..." suara tertawa Teto membuat Akaito merinding.

"Kita bisa membalas dendam kita..."

"Huahaha, kena kau, senpai."

"Kasihan nasibmu, nii-san."

"ES KRIM!"

What?

Lagi...?

ES KRIM?!

"JANGAN GUMIIII!" Akaito berteriak histeris menatap Gumi ngeri.

"IYA SENPAIII!" balas Gumi tidak mau kalah seraya melemparkan gelas plastik jumbo yang berisi es krim vanilla ke arah Akaito. Len melemparkan tatapan yang sama lagi. Sudah-kubilang-bahwa-ia-agak-tidak-normal.

"Es krim..." Akaito menatap adiknya tersayang yang sedang menatapnya dengan penuh hasrat, seketika Akaito merinding hebat.

"Kaito, tidak, kau dengar aku? Jangan lakukan itu," Akaito melangkah mundur sementara Kaito melangkah mendekat dengan cepat.

"Vanilla..." Akaito menatap horror adiknya itu.

"Tidak, Kaito! Jangan lakukan itu! Aku masih perawan! Tidaak!" jeritnya seraya mengguyur dirinya sendiri dengan sejumlah air yang banyak.

"Eh, apa yang aku lakukan tadi?" Kaito menatap sekelilingnya bingung. Akaito yang sedang menatapnya horror sedangkan teman-temannya yang sedang berguling di lantai sambil tertawa keras.

"Tidak, Kaito! Jangan lakukan itu! Aku masih perawan! Tidaak!" suara Akaito menggema lagi. Tapi tidak dari bibir Akaito, melainkan handphone IPhone 5 milik Dell. Sedangkan semuanya tertawa makin keras. Semua anggota OSIS sudah mengetahui apa yang akan menjadi bahan pembicaraan di sekolah nantinya saat semester baru telah dimulai.

"Dell, kau ini..." Akaito mencoba untuk merebut handphone Dell namun entah kenapa ia malah terjatuh dengan sendirinya.

"Aku ketua OSIS yang terbully," kata Akaito seraya membawa ranting untuk pundung di pojokan.

"Sudah semuanya, sekarang saatnya makan siang!" Dell mengambil alih. Sementara Meiko-sensei membagikan sejumlah makanan berisi 2 tempura masing-masing anak beserta nasinya, tidak lupa disertai sup miso yang menjadi pelengkap makan siang mereka.

"Uwaaah, itadakimasu!" seru Len dengan ceria. Akhirnya waktu makan siang yang telah dia tunggu-tunggu sejak tadi kesampaian juga.

"Apa tidak ada terong?" tanya Gakupo dengan sedih sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya menggunakan sumpit.

"Masih untung dikasih makan, lagian kalau makanan kita semua itu terong, siapa yang mau makan? Masa cuma kamu? Rugi di kita-kita dong?" bantah Miku dengan ekspresi jijik membayangkan menu makan siangnya hari ini adalah terong.

"Biar saja, daripada menu makan siang kita penuh dengan daun bawang," balas Gakupo tidak mau kalah.

"Apa sih? Dasar terong!" seru Miku lagi tidak mau kalah.

"Terong itu enak tau! Dasar wanita daun bawang!" balas Gakupo lagi.

'Apa-apaan mereka ini? Berantem kok hanya karena terong dan daun bawang, ada enggak bahan berantem yang lebih seru?' batin anak-anak yang melihat pertengkaran tidak jelas itu.

"Miku-chan, ayo kita makan bersama," Kaito memanggil Miku dengan lembut. Muka Miku memerah dengan spontan.

"Cailah, belum jadi anak baru aja udah begitu huahaha," Len menganggu. Lagi.

"Len... Sudah kubilang, jangan mengganggu!" jerit Rin dengan frustasi. Len hanya nyengir tanpa merasa bersalah sedikitpun. Rin, Len, Rinto dan Lenka sedang makan bersama membentuk lingkaran. Tanpa mereka sadari, Lenka selalu menatap seseorang. Seseorang dengan rambut berwarna merah menyala yang juga tengah menatap dirinya.

"Lenka, kamu ngapain curi-curi pandang ke Akaito-senpai?" Rin menatap Lenka dengan tatapan iseng sekaligus ingin tahu.

"Eh, enggak kok, enggak, cuma...liat," sekali lagi Lenka mencuri pandang ke Akaito dan dibalas dengan senyuman ramah dan malu-malu olehnya.

Sementara di tempat Kaito, ada Kaito, Miku, Mikuo, Gumi, dan Luka. Mereka juga membentuk lingkaran seperti kelompok makan Len.

'Sejak kapan nii-san suka curi-curi pandang ke cewek begitu? Ceweknya Lenka lagi. Kebagusan buat nii-san,' batin Kaito. Emang dasar adik durhaka ya begini.

Setelah 15 menit, Akaito pun mulai mengambil posisinya untuk membimbing calon kouhai-kouhainya ini, "Yak, waktu makan siang telah selesai, mari kita ke sesi berikutnya!"

Dengan segera, mereka berkumpul di depan Akaito dengan berbaris seperti tadi semula. Semuanya memandang Akaito dengan antusias. Semuanya berpikir hal yang sama. Siapa tahu sesi berikutnya akan menjadi sesi yang menyiksa orang-orang tertentu seperti sesi sebelumnya.

"Sesi berikutnya adalah..." Akaito menahan kata-katanya. Seluruhnya menahan nafas menunggu kata-kata Akaito, "pembentukan kelompok!"

"Ambil tissue buat lemparin Akaito-senpai!" Len memprovokasi kawanan buasnya. Kirain sesinya bakal menyiksa orang lagi. Ternyata enggak toh. Sementara Akaito hanya cengar-cengir begitu ia tahu sudah berhasil membuat penasaran anak-anak itu.

"Nah semuanya silahkan ambil undian disini, satu kelompok akan ada 5 orang, karena kalian ada 15 orang, maka akan ada 3 kelompok. Orang-orang yang mengambil nomor undian sama akan menjadi 1 kelompok," kata Akaito seraya menyuruh anak-anak itu untuk mengambil nomor undian dari sebuah kotak.

"Ah, kenapa sih aku selalu gak jauh-jauh dari kamu? Udah bosen aku lihat mukamu," kata Miki setelah mengintip nomor undian Gakupo. Mereka sama-sama mendapat nomor 1.

"A-ano Miki, kita sama lho," Lenka menunjukkan nomor undian yang tertera nomor 1 kepada Miki.

"Lenka-chan nomor 1?" tanya seseorang dari belakang Lenka. Lenka yang sedikit terkejut segera membalikkan tubuhnya dan melihat seorang Mikuo Hatsuna.

"Mikuo? E-eh iya, aku nomor 1 ehe," Lenka mencoba tersenyum ramah. Tapi 2 orang di situ menganggap senyuman ramah itu sangat imut. Orang yang satu merasa senang karena senyuman itu ditujukan untuk dirinya. Sementara orang yang lain merasa kesal karena senyuman itu ditujukan untuk Mikuo.

"Hn, baiklah, yoroshiku." muka Mikuo memerah tanpa sebab. Ternyata dia akan mengidolakan orang lain selain Luka.

"Ehe, hai kalian, aku juga di kelompok 1 nih," ucap seseorang yang sedang memegang nomor undian bernomor 1.

"Teto, eh? Syukurlah ada kau dan Lenka. Setidaknya aku masih bisa berbicara dengan orang normal disini," kata Miki dengan ekspresi memuja kepada Teto dan Lenka.

"Apa maksudmu?" tanya Gakupo dan Mikuo dengan tajam tapi bermaksud untuk meramaikan suasana. Sementara Teto dan Lenka hanya sweatdrop melihat pertengkaran Miki, Gakupo, dan Mikuo.

Di tempat dan waktu yang sama, "Ya ampun! Lagi-lagi kamu. Gak ada yang lain apa selain kamu, Len?" Rin menjerit begitu melihat nomor undiannya sama dengan nomor undian Len. Sebenarnya Rin senang satu kelompok dengan Len, tapi apa boleh buat? Gengsi sedikit lah.

"Iya ya, Rin. Lagi-lagi kamu. Tapi enggak apa-apa deh, kalo lombanya nanti tentang akademis kan lumayan satu kelompok sama kamu," tawanya dengan bangga. Rin mendengus geli. Teman baiknya satu itu selalu membanggakan kemampuan akademis milik Rin. Padahal Rin sendiri biasa saja mengetahui bahwa ia sendiri lah yang memiliki kemampuan itu.

"Kyaaa, Rin. Kita satu kelompok!" Miku menunjukkan nomor undian yang bernomor 2 kepada Rin dan Len yang sedang tertawa bersama. Dapat dilihat bahwa Miku sedang bersama Kaito yang juga memegang nomor undian bernomor 2.

"Wah wah, kalian lagi kalian lagi," Len menatap dengan tatapan malas yang diketahui Miku dan Kaito setelah itu adalah candaan Len. Tapi sudah terlambat. Kepalanya telah menjadi sasaran empuk sepatu boots Rin.

"Diamlah sebentar saja, baka." Rin menekan kata-katanya di bagian "baka"nya. Len masih meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya yang dia rasa sudah mulai agak berbenjol sekarang.

"Ah, ternyata aku sekelompok dengan kalian! Sayang aku tidak sekelompok dengan Luka," Gumi berteriak mendekat kepada Rin, Len, Miku, dan Kaito yang melangkah mundur karena ketakutan atau entahlah apa yang mereka rasakan.

"Ah, bertambah lagi satu orang yang tidak normal," kata Len disertai dengan gelas plastik, yang entah kenapa dipegang Gumi, mendarat di kepalanya.

"Sepertinya kita harus mengakui kalau kelompok 2 berisi anak-anak yang sepertinya sedikit tidak normal," kata Rin mengakui.

"Aih, aku normal kok Rin," kata Len dengan jurus puppy eyesnya.

"Justru kamu yang paling enggak normal," batin Rin, Miku, dan Kaito.

Sementara itu, orang-orang yang tersisa...

"Ah, aku sekelompok sama Luka-chan, sepertinya kita berjodoh Luka-chan," kata Luki dengan senyum memikatnya, sementara Luka hanya menatap Luki datar selama 3 detik lalu membalikkan badannya menuju Neru yang juga satu kelompok dengannya. (Masukkan suara hati milik Luki yang retak disini).

"Ah aku tidak sekelompok dengan Rin-chan," kata Rinto sembari melihat nomor undiannya yang tertera nomor 3.

"Kau sekelompok denganku, Rinto-kun," kata sebuah suara di belakang Rinto yang sepertinya sengaja diimut-imutin. Rinto merinding sejenak sebelum menoleh ke arah orang yang memanggil itu.

"Piko!" jerit Rinto sesaat sebelum dia menemui ajalnya. Belum ding. Len kemudian berseru kecewa. Sepatu Rinto melayang menuju kepala Len. Untuk kesekian kalinya Len meringis kesakitan pada hari ini.

"Nah, kalian sudah mengetahui kelompok masing-masing bukan? Sekarang, karena sudah mulai agak sore, sebaiknya kalian mandi," Akaito berdiri di depan tiang bendera untuk menghadap anak-anak itu.

"Mandi...bersama," Len pun langsung nosebleed.

"PERVERT!" teriak Rin yang sudah memerah dan memanas wajahnya.

"Tidak mandi bersama Len," Akaito terlihat berpikir sejenak, "...tapi sepertinya itu ide yang cukup bagus."

"TIDAK! KALIAN SEMUA MESUM!" teriak para cewek yang merasa malu membayangkan hal itu akan terjadi.

"Tentu saja tidak," Akaito tertawa dengan puasnya, "kamar mandi cewek ada di situ," katanya seraya menunjuk bagian pojok kiri dari sekolah itu, "dan kamar mandi cowok ada di situ," katanya lagi seraya menunjuk bagian pojok kanan dari sekolah itu. Terang saja yang cewek menghela nafas lega.

"Juga kami disini akan mengawasi kalian dulu baru kami semua mandi," kata Dell mengingatkan dan sekaligus mengancam para cowok dengan tatapannya yang berbunyi awas-kalau-kalian-dekat-dekat-dengan-kamar-mandi-cewek.

"Ah yang cewek tidak diancam kan? Berarti aku boleh ngintip dong!" kata Gumi dengan ceria. Semuanya menatap Gumi horror termasuk para cewek maupun cowok, anggota OSIS, serta para guru.

"E-er, o-oke, baiklah, sekarang semuanya langsung mandi, saya sudah suruh kalian untuk menyiapkan baju untuk 3 malam kan? Kami sudah menghubungi orang tua kalian untuk membiarkan kalian menetap di sekolah ini pada malam ini dan malam-malam selanjutnya. Bersiaplah menghadapi ketakutan anda," Akaito mengakhiri penjelasan singkatnya dengan seringaian licik.

TO BE CONTINUED

Wah, ada apa dengan sekolah itu ya? Menarik... Dan mengapa mereka disuruh untuk menginap? Nantikan kisah selanjutnya hanya di Seivoca JHS chapter 4!

Thank you very much! PLEASE REVIEW~~