Kaga: gomennasai *bows* update-annya lama bangets ya, Kaga lagi sibuk banget soalnya… gomen ne *bows*
Degel: cepat lanjut saja ceritamu!
Kaga: okelah…
Here we go
THE RETURN OF THE CRUEL VAMPIRE DOLL
Mata lavendernya berubah kuning dengan iris horizontal di tengah bola matanya. Masih dengan noda darahku yang tertempel di sebagian mulut dan mengalir sampai leher jenjangnya yang putih. Aku merasa sangat pusing, pastilah. Pastilah Kirito meminum darahku sangat banyak.
Kirito masih menatapku dengan tatapannya yang dingin, "darah yang sudah lama kuinginkan. Sejak dulu aku mencoba darahmu, Kirishima…" ucapnya pelan. Matanya masih berwarna kuning keemasan dengan iris horizontal dibagian tengah bola matanya.
Kirishima? Ia meminum darah Kirishima? Kenapa? Apa maksud semua ini? Apa Kirishima menjadikan dirinya tumbal untuk boneka, karyanya yang paling ia sayangi? Tumbal? Mendengarnya saja sudah ngeri.
"Darah yang kurindukan… akhirnya kudapatkan kembali," suara yang dalam dan dingin sedingin matanya yang terus menatapku yang terkulai lemah di lantai, lemah darahku hampir terkuras habis.
"Da…darah Kirishima… k…kau menjadikannya tumbal…?" tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.
Tapi, "tumbal? Apa maksudmu Kirishima? Bukankah kau yang memintaku meminum darahmu agar aku bisa semakin kuat dan kuat. Juga semakin kejam pada manusia, makanya kau memberiku darahmu…" jawabnya dengan senyum menyeringai yang terpancar dari wajah putihnya.
Aku terkejut, sangat terkejut. Kenapa? Kenapa Kirishima melakukan ini? Membiarkan dirinya menjadi tumbal Kirito? Tumbal boneka buatannya sendiri demi membalas manusia?
"Dan sekarang aku mendapatkanmu lagi… tak akan kulepaskan, walau roh menyusahkan itu menghalangiku, tapi sudah kubereskan… dan sekarang hanya aku dank au, Kirishima. Tak akan kulepaskan," Kirito mengangkat tubuhku yang lemas dan memindahkanku ke ranjang.
Aku tak mampu menjawab, terlalu lemah untuk mengatakannya. Mengatakan bahwa roh yang kau bunuh itulah penciptamu yang sesungguhnya.
Perlahan, aku mulai kehilangan kesadaran. Mataku mulai gelap, menggelap dan akhirnya tak terlihat apapun, apapun.
Begitu kubuka mataku, dan melihat makanan yang disediakan dan sepertinya sengaja menyediakan makanan manusia. Lengkap dengan susu dan buah-buahan.
Kupaksakan tubuhku bangun, memandang makanan yang tersedia di meja sebelah ranjang mewah yang sekarang kutempati. Di dalam kamar tanpa jendela dan pintu. Mataku masih berkunang-kunang, pusing sekali. Pastinya darahku berkurang sangat banyak.
Saat hampir saja tubuhku limbung dan menghantam tanah, aku merasakan sebuah tangan menahan jatuhnya tubuhku. Tangan keras yang terbuat dari bahan porselen putih yang mulus, tangan sebuah boneka yang bergerak karena darah makhluk yang mungkin tak pernah ada.
"Kau masih terlihat sangat lemah, Kirishima. Malam ini tidurlah, besok malam kita lakukan pembantaian," Kirito menidurkan tubuhku lagi di ranjang.
Tapi langsung kugenggam tangannya dengan sangat erat sebelum ia menghilang lagi, "Kirito dengarkan aku…" dengan suara lemah kupaksa diriku berbicara. "Kirishima… bukanlah aku… roh yang kau bunuh itulah Kirishima…" aku mempererat genggaman tangan kerasnya.
Kirito terdiam sejenak, lalu, "sepertinya aku terlalu banyak meminum darahmu, kau jadi melantur seperti ini. Tidurlah dulu," ucap Kirito melepaskan genggaman tanganku lalu menghilang seperti biasa.
Sial! Kenapa jadi begini? Kenapa denganmu Kirishima? Apa yang telah kau lakukan sehingga boneka ini jadi begini? Jadi brutal begini? Aku harus menghentikannya. Menghentikan boneka brutal itu. Aku tidak boleh membiarkannya membantai manusia malam nanti.
Aku terbangun pada malam harinya seperti diatur oleh boneka yang mengatur segala boneka di dunia. Begitu terbangun sosok Kirito berdiri disampingku, ia menatapku masih dengan matanya yang dingin.
"Sudah sadar Kirishima? Kita lakukan malam ini, kekuatanmu adalah pusatnya. Selama ada kau apapun bisa kulakukan," tangan keras Kirito menarik tanganku dan menggendongku di belakang punggungnya.
"Kirito dengarkan aku… kumohon. Hentikan semua ini," ujarku pelan, masih terasa sangat lemas. Tapi harus kupaksakan, kalau tidak dalam semalam kota ini akan menjadi kota hantu.
Mendengar itu Kirito malah terkekeh pelan, "kau mau mengatakan apa? Ini semua yang kau inginkan sampai memberikan darahmu padaku." Kirito berkata lalu mendarat di atas sebuah gedung besar. "Di tempat ini penuh dengan manusia tamak yang licik," hanya dengan pijakan kaki Kirito, gedung itu hancur bersama manusia yang berada di dalamnya.
Bau darah menyeruak keluar bau anyir yang terasa, berapa banyak orang yang menjadi korban di dalam tempat ini? Ini harus dihentikan, harus dihentikan. Tidak boleh berlanjut.
"Kirito… sudah cukup. Hentikan…" suaraku lirih, melihat banyak korban yang jatuh karena ulah boneka hidup.
Anyir, bau anyir yang membuatku ingin muntah. "Hahaha… kau tidak kuat bau darah ya? Tenang saja ini akan selesai dengan cepat," ucap Kirito, lalu melompat ke atas sebuah gedung tak jauh dari gedung hancur yang telah memakan banyak korban itu.
Memang benar aku tidak kuat mencium bau anyir darah, tapi bukan hanya itu, aku juga tak ingin tinggal sendirian di dunia ini. Kembalikan semua teman-teman dan keluargaku. Kugenggam erat bahu Kirito, "Kirito… sudah hentikan… jangan dilakukan lagi…" ucapku dengan nada pelan.
Tapi Kirito malah kembali terkekeh, "tenang saja Kirishima… bau anyir ini akan segera menghilang… dan di dunia ini hanya tinggal kita berdua saja," Kirito kembali menginjakkan kakinya disebuah gedung pusat perbelanjaan dan hal yang sama terulang kembali. Kali ini lautan darah mengalir hingga aku bisa melihat sebanyak apa manusia yang menjadi korban boneka hidup ini.
Gemetar tanganku melihat semua ini, perutku mual, hentikan. Kalau tidak populasi manusia akan musnah, hentikan semua ini. Hentikan. Kirishima bantu aku menghentikan boneka buatanmu yang mulai mengamuk ini.
"Indah bukan, Kirishima? Lautan merah darah manusia yang tamak, bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Kirito lagi, ia menapakkan kakinya pada lautan darah itu.
"Bukan…" ucapku pelan, "Kirito… hentikan semua ini. Bukan ini yang kuinginkan, bukan pembantaian seperti ini. Kirito hentikan semua ini, aku bukan Kirishima. Roh yang lenyapkan itulah Kirishima, bukan aku. Aku ini Akira," aku memandang Kirito yang menurunkanku.
Begitupun dengan Kirito yang menatapku dengan sangat terkejut, lalu kembali tertawa, "apa yang kau katakan Kirishima? Kau ingin aku meminum darahmu lagi ya?" Kirito bertanya dengan wajah polosnya.
Aku terkejut, kenapa? Kenapa boneka ini bisa begini kejamnya? Apa yang telah Kirishima lakukan saat membuat Kirito hingga boneka ini bisa menjadi sangat kejam seperti ini.
"Apapun yang kau inginkan Kirishima," Kirito mendekat perlahan, ia menggenggam erat pundakku. Semakin kuat saja genggamannya, sekali lagi aku merasakan sesuatu yang tumpul tertancap di leherku.
"Sa…sakit…" napasku semakin berat, terasa darahku mulai habis. Lemas, lemas sekali, ia menghisap darahku perlahan namun sangat banyak.
Mendengar rintihanku, perlahan ia tarik kembali kedua taringnya yang menancap di leherku. Matanya yang kuning keemasan menatapku, "kau tidak apa-apa Kirishima? Aku terlalu banyak meminum darahmu, ya?" tanyanya dengan wajah polos.
Lagi? Dia memanggilku dengan nama Kirishima lagi? Aku bukan Kirishima… aku ini Akira, kenapa? Kenapa kau samakan kami?
Kirito masih menggenggamku erat, matanya berkilat merah. Aku kembali di gendongnya di balik punggungnya yang keras, tapi nyaman. Tapi aku tak akan membiarkan mataku terlelap kembali, Kirito harus dihentikan. Walau dengan kondisi begini ia akan mengatakan bahwa aku sedang melantur, tapi aku harus menghentikannya, menghentikan boneka yang mengamuk ini.
Tapi rasa nyaman ini membuaiku, membuatku semakin ingin terlelap. Tapi aku harus bisa. Harus aku yang melakukannya, tidak ada yang bisa, harus aku.
"Kirito… aku ingin pulang…" ucapku pelan, sekarang hanya ini yang bisa kulakukan. Menghambat pergerakannya, menghentikan sementara pembantaian yang dilakukannya.
Kirito terdiam, masih memegangiku di punggungnya yang keras dan besar, "baiklah… hari ini sampai disini dulu. Sepertinya kau memang butuh tidur sebentar," Kirito melesatkan kakinya kembali ke kastilnya di Yunani.
Yunani? Aku sudah pergi sangat jauh dari rumah, aku benar-benar ingin pulang. Ingin kembali ke rumah.
"Tidurlah dulu. Sebentar lagi pagi, akan kusiapkan sarapan," Kirito membaringkanku di ranjang mewah di dalam ruangan tanpa pintu dan jendela itu. Dengan adanya boneka yang bukan makhluk hidup ini ruangan itu bisa keluar masuk dengan sangat mudah.
Aku hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan boneka hidup yang sekarang sedang kerasukan sesuatu sehingga membantai semua manusia.
T.B.C
Kaga: chapter 3 sampai disini dulu ya… makin amburadul yak? Gomennasai *bows*
Degel: terus lanjutannya! Aku benar-benar penasaran nih!
Kaga: iya. Iya sabar ayah! Ini idenya lagi buntu! Yaaah minta review ya, onegaishimasu *bows*
