Part 2
"Ahhhh...shitt...ahhh...Jonggiie..ahhhh..ingiin... keluarr..ahhhhhh..." desahnya dan seketika ituu juga cairan kristalnya menyembur keluar.
Kurasakan celanaku terasa sesak.
'SHIT! Aku menginginkannya!' umpatku.
Part 3
Seperti orang kerasukan, Yunho membuka seluruh pakaian yang ia kenakan lalu mulai mencium seluruh lekuk tubuh indah milik Jaejoong. Jaejoong berusaha untuk mendorong Yunho, namun sia-sia, dia tak memiliki kekuatan yang lebih sekarang akibat kekerasan yang ia terima, vibrator yang terus mengoyak bagian bawahnya dan tenaganya yang terkuras akibat mansturbasi.
"Andwae..hiks..jebal..hikss..." Jaejoong terus meronta saat Yunho membuat tanda merah keunguan hampir disetiap permukaan kulit dada, bahu dan lehernya. Sakit? Tentu saja, jika Yunho melakukannya dengan lembut mungkin Jaejoong tidak akan menjerit kesakitan. Sayangnya, Yunho melakukannya dengan kasar seperti orang kelaparan.
"Arghhh...and...aah..waee...ahhhh.." desah Jaejoong saat tangan Yunho meremas-remas juniornya. Jaejoong mendongakkan matanya keatas seraya memejamkan matanya, harus dia akui bahwa sekarang tubuhnya mengalami kenikamatan yang luar biasa.
"ARGHHHHH..YUNHO..AAA...HHHHH..." pekik Jaejoong saat mencapai puncaknya. Apa yang dilakukan Jaejoong? Kenapa dia menyebut nama namja brengsek yang sedang mempermainkannya sekarang? Hilang kesadaran? Mungkin.
Yunho menghentikan aksinya, lalu mengeluarkan vibrator yang tertanam di hole Jaejoong. Lalu menatap intes namja yang ada dihadapannya. Jaejoong hanya menutup mata dan pasrah dengan tindakan lain yang akan ia terima dari Jaejoong hanya menutup mata dan pasrah dengan tindakan lain yang akan ia terima dari Yunho. Tapi Kenapa Yunho menatap Jaejoong sekarang? Merasa kasihan? Merasa bersalah? Entahlah hanya Yunho, Tuhan serta author yang tahu.
BLESS
"ARGHHHHH...hiks..." dengan sekali hentakan Yunho menanamkan juniornya dengan sempurna kedalam hole Jaejoong. Jaejoong memegang kuat sprei saat Yunho dengan brutal menghujam hole Jaejoong. Miris melihat Jaejoong terus menahan sakit dan terus berteriak kesakitan, tapi Yunho tak mengubris Jaejoong. Yunho mendongakan kepalanya keatas dan memejamkan matanya seraya menikmati sensasi yang diberikan hole Jaejoong untuk juniornya.
"Oh! Shitt..ahh..damn... so soft..ahhh.." umpat Yunho berulang-ulang.
Seorang namja dengan kemarahannya terus memasuki istana mewah tempat musuhnya berada. Dia terus menembaki semua orang yang menghalanginya. Hingga sampailah ia disebuah kamar dengan desain oriental mewah. Disana tampak Changmin tengah memangku Junsu diatas sofa dan menatap licik namja yang masuk ke istanahnya tanpa izin, bahkan menembaki beberapa bodyguard dikediamannya.
"Jun..su.." gumam namja itu seraya menatap horor Changmin. Dadanya mulai naik-turun tak beraturan, nafasnya tersengal-sengal, dan raut wajahnya menampakan kemarahan yang luar biasa.
"Annyeong Park Yoochun~ssi. Long time no see. May I help you?" sapa Changmin dengan santainya.
"Where's my son?" tanya Yoochun berusaha setenang mungkin.
"hmm~ Died.."
"FUCK YOU!" Yoochun mengarahkan pistolnya kearah Changmin, siap menembak namja dihadapannya. "Calm down.." Changmin mendudukan Junsu disebelahnya lalu merangkul dan selimut yang menutupi tubuh Junsu. Yoochun mulai membalakan matanya serta mengangakan mulutnya. Hatinya sakit – perih saat melihat orang yang paling ia cintai tak memiliki tangan lagi bahkan Junsu terlihat seperti mayat hidup.
"A-apa yang kau lakukan padanya?" darah Yoochun mulai mendidih. Dia bersumpah akan membunuh Changmin dengan tangannya.
"Nothing~ hanya memberinya hukuman.. hahahaha .." ucap Changmin enteng seraya tertawa seakan Ia menikmati semua permainannya.
"Aku merelakannya untuku mu, agar kau bisa menjaganya. Tapi apa yang kau lakukan? Kurang puaskah kau menyakitiku dan Suie selama ini?!"
"Belum! Aku terlalu membenci mu Yoochun. Kau tau kan, kalau diriku sangat terobsesi pada Junsu. Seharusnya kau melepasnya dari awal, bukannya malah menikahinya!"
#FLASHBACK#
"Suie sayang Minnie, Minnie kan hyungnya Suie~"
"Minnie, sepertinya aku jatuh cinta..."
"Minnie, Chunie menembakku. Aku harus bagaimana?"
"Mianhae, aku sangat mencintai Chunie.."
"Aku menyanyangimu sebagai hyungku Minnie, mengertilah~"
"Aku akan menikah dengan Chunie minggu depan, kau akan datang kan?"
Ku jambak-jambak rambukku sekuat mungkin, berusaha menghilangkan semua memory-memory otakku tentang namja yang amat ku sayangi. Kim Junsu. Dialah namja mampu membuatku terpanah saat pertama kali melihatnya, namja yang bisa membuatku bahagia dan tersenyum, namja yang amat ku cintai meski ku tahu dari dulu Junsu hanya menganggapku sebagai hyungnya.
Perih
Sakit
Aku benar-benar menderita saat aku tahu dia jatuh cinta pada orang lain, saat aku tahu dia berpacaran dengan orang lain, saat aku mendengar penolakannya dan yang terakhir dan yang amat menyakitiku adalah dia sudah menikah. Kau mau tau bagaimana rasanya? Rasa sakit dihatiku melebih rasa sakit didadaku yang terkena goresan pisau yang ku buat sendiri.
Tes
Tes
Kurasakan darahh mengalir segar dari tanganku. Aku sedang menyanyat telapak tanganku dengan cutter. Tapi rasa sakit dan sesak didalam dadaku tak kunjung hilang.
"ARRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHHH..."
PRANK PRANK PRANK PRANK
Ku banting semua barang yang ada didekatku. Aku mengamuk seperti orang kesetanan. Aku tak dapat mengontrol emosiku. Aku tak bisa seperti ini terus. Tidak! Aku tidak mau!
"SUIE! AKU AKAN MEREBUTMU!"
Lotte Hotel
"Kau mengkhianati ku Chun.. Kau tega.." air mata Junsu mulai mengalir saat didapatnya sang suami tidur diranjang tanpa busana bersama seorang yeoja.
"Kau salah Suie, aku tidak-"
"Kita bercerai mulai saat ini! Hiks.." Junsu mulai berlari keluar untuk menjauhi Yoochun. Ia tak sanggup berlama-lama melihat pemandangan yang ada didepannya.
"SUIE~~~" teriak Yoochun. Ia mengambil pakaiannya dan memakainya secepat mungkin. Ia ingin mengejar Junsur. Ia ingin menjelaskan semuanya. Ia benar-benar tak tahu dengan apa yang terjadi.
"Hahahah.." Changmin datang dan mulai menatap Yoochun dengan tatapan mengejek dan penuh kemenangan.
"Brengsek.." umpat Yoochun.
"kau lengah chun, sebentar lagi Suie akan jatuh ketanganku. Bersiaplah untuk merasakan apa yang kurasa selama tiga tahun ini.."
#FLASHBACK END#
"Kau tahu Park Yunho?" tanya Changmin, sementara Yoochun menatap Changmin dengan heran. Park Yunho? Bukankah seharusnya Jung Yunho?
"Dia anakmu Yoochun~ssi.." lanjut Changmin.
"Mwo?"
"Nde. Anakmu. Bukankah wajahnya lebih mirip dengan mu ketimbang aku? Well, aku merasa sangat sakit saat tahu akan hal itu. Tapi aku merasa puas bahkan aku sudah menyayangi anakmu sekarang. Sifatnya mirip denganku.." ujar Changmin dengan evil smirknya.
"Aku bersumpah akan membunuhmu Changmin!" hardik Yoochun.
"Calm down.. Lalu soal anak angkatmu, aku rasa Yunho sudah membunuhnya. Atau lebih tepatnya mereka berdua sama-sama telah mati. Aku sudah membunuh anak yang belum pernah kau sentuh itu.." jawab Changmin enteng. Yoochun tak dapat menahan tangisnya, ia merasa gagal dalam melindungi semua orang-orang yang ia ssayangi.
"Lalu, tinggal Junsu~ lihatlah dia, seperti mayat hidup bukan? Tapi aku tetap mencintainya. Karena rasa cintaku yang besar, aku rasa aku perlu membunuhnya.." Changmin mengeluarkan pelatuknya dari saku celananya dan mengarahkannya kearah kepala Junsu.
"ANDWAE!"
DORRR
Seorang namja imut dengan pipi gembul yang sedang merona merah menatap malu namja tampan dihadapannya. Ia merasakan jantungnya berdebar dengan kencang saat mendengar pujian demi pujian yang didengarnya dari namja yang amat ia cintai.
"Kau tau, aku amat bahagia hari ini Suie baby.." Suara husky dari mulut si namja tampan itu terdengar sangat merdu di telinga Junsu. Junsu terus menggengam erat tangan namja yang melingkar sempurna dipinggangnya. Kepalanya ia letakan diselal leher milik namja itu dan Junsu sangat merasa nyaman bersender didada bidang milik namja yang merupakan suaminya sekarang.
"Na do. Saranghae Chunie. Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." pinta Junsu dengan malu-malu. Benar-benar menggemaskan. Yoochun sedikit terkekeh dengan tingkah imut Junsu.
"Kenapa kau tertawa? Aku kan tidak sedang melawak.." rajuk Junsu lalu mempoutkan bibirnya. Lucu.
"Aigoo~ Suie baby ngambek eoh? Menggemaskan.." goda Yoochun diikuti dengan kekehannya.
"Ikh! Chunnnniiiieee!" rajuk Junsu seraya bangun dari pangkuan Yoochun.
GREB
"Aigoo. Jangan marah Suie, aku kan Cuma bercanda.." Yoochun melingkarkan tangannya lagi kepinggang Junsu lalu mendekapnya dengan erat namun lembut. Sesekali ia menciumi tengku, telinga dan bahu Junsu.
"Ih..hihi..geli chun.." Junsu sedikit bergidik kekika mendapat perlakuan itu.
"Suie, aku ingin jadi appa. Suie siap jadi umma, aniya?"
BLUSH
Muka Junsu memerah seperti udang rebus, dia tau apa yang dimaksud ucapan Yoochun. Bukankah untuk mendapakan anak berarti harus melakukan sebuah proses? Tapi kenapa Junsu harus malu dan menolak? Bukankah itu sudah menjadi kewajibannya?
"i-itu chun.. hmm, apa aku bisa ha-hamil? A-aku kan nam...ja..." ucap Junsu dengan perasaan sedihnya. Ya Junsu sadar, mereka berdua adalah sesama namja dan sangat mustahil jika mereka mengharapkan seorang anak.
"Suie..." Yoochun membalikan tubuh Junsu agar bisa menatapnya.
"Tidak ada yang mustahil jika kita percaya, kita hanya bisa berusaha. Untuk selanjutnya biar Tuhan yang menentukan. Lagi pula jika memang hal itu benar-benar mustahil, kita bisa mengadopsi anak-anak yang imut-imut di panti asuhan. Kau mau kan mengurus anak kita?" kedua tangan Yoochun menangkup kedua pipi Junsu. Junsu menjawab dengan anggukan dan senyuman bahagia. Betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Yoochun.
"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Junsu seraya memeluk Junsu dan menaruh dagunya dibahu Yoochun – mencium aroma khas tubuh Yoochun.
"Keduanya tak masalah. Tapi aku lebih menginginkan anak laki-laki agar dia bisa menjagamu nantinya. Yunho. Park Yunho. Aku rasa itu nama yang bagus.." ucap Yoochun dan Junsu pun langsung menatap Yoochun dengan intens.
"Waeyo baby? Tidak suka?"
"Aniyaa! Aku sangaaaattt suka.." jawab Junsu dengan aegyo nya.
"Hahaha .. kau sangat lucu eoh.. hahaha.." tawa Yoochun. Karena kesal akhirnya Junsu melumat bibir suaminya, awalnya Yoochun agak kaget, namun beberapa detik kemudian, Yoochun membalas ciuman Junsu dan membawa Junsu kedalam surganya.
"ARGGGHH..." aku berteriak sekencang mungkin saat terbangun dan baru menyadari bahwa aku hanya bermimpi. Mimpi apa tadi? Sial.
"Park Yunho. Aku rasa itu nama yang bagus.."
" Tapi aku lebih menginginkan anak laki-laki agar dia bisa menjagamu nantinya.."
"SHITTT! ARGHH..."
PRANK
PRANK
BRAK
BUGH
PRANK
Aku terus menendang dan membuang serta melemparkan barang yang ada disekitarku. Entah apa yang kurasakan, eantah kenapa aku harus mengamuk. Aku benar-benar merasa bingung, kepalaku benar-benar sakit. Rasanya ada ribuan jarum yang menyerang kepalaku.
DUGH
DUGH
DUGH
Aku mulai menghantam dinding dengan kepalaku, berusaha menghilangkan rasa sakitnya.
"Yun! Andwae!" dua buah tangan menarik lalu mendekap tubuhku. Aku bisa merasakan debaran jantung didadanya. Dia terisak. Dia menangis. Hei! Apa yang ia lakukan? Dia memelukku dengan lembut. Aku ingin sekali mendorongnya atau malah menghajarnya karena berani menyentuhku. Tapi kuurungkan niatku. Aku sangat nyaman dalam posisi ini.
"Jangan sakiti dirimu sendiri. Hiks. Aku tak mau melihatmu seperti itu. Hiks.." isaknya. Sejak kapan ia terbangun? Dia melihat semuanya?
"Untuk apa kau peduli? Seharusnya kau membenci ku. Aku sudahmenculikmu, menghajarmu, melecehkan mu bahkan memperkosamu. Sepertinya kau yang tak waras.." sergahku tanpa bergerak sedikitpun.
"Aniya. Aku memang marah dan kecewa bahkan sakit hati atas perlakuanmu. Tapi aku tak bisa membencimu, sungguh. Aku yakin kau punya alasan kenapa bisa berbuat sekejam itu. Aku rasa jika kau berubah, semua akan lebih baik.." Aku merasakan air mataku mulai jatuh. Aku sungguh tak percaya dengan tindakan Jaejoong saat ini. Aku benar-benar merasa bersalah karena aku telah menyakiti malaikat didepanku ini.
"Hiks hhiks.. mian...mianhae..hiks hikss.." isakku. Kedua tanganku mulai membalas pelukannya dengan erat.
"Sstt...gwechana.." Jaejoong berusaha menenangkan ku dalam pelukannya. Hangat. Sungguh hangat. Aku berjanji pada diriku sendiri. Tak akan menyakitinya seujung rambutpun. Aku akan menjaganya. Dia terlalu baik untuk aku sakiti. 'Saranghaeyo Jaejoong'.
Yunho dan Jaejoong menatap horor sekelilingnya dimana semua bodyguard Changmin mati tertembak dengan mengenaskan. Dengan langkah cepat mereka mulai masuk keruangan Changmin. Yunho menahan amarahnya saat melihat appanya yang siap membunuh ummanya.
"Lalu, tinggal Junsu~ lihatlah dia, seperti mayat hidup bukan? Tapi aku tetap mencintainya. Karena rasa cintaku yang besar, aku rasa aku perlu membunuhnya.." Changmin mengeluarkan pelatuknya dari saku celananya dan mengarahkannya kearah kepala Junsu. Yunho dengan cepat mengeluarkan pistolnya dan...
"ANDWAE!"
DORR
DORR
Changmin mulai menatap iritasi namja yang menembaknya.
"How...DARE..YOU!"
DORR
BUGH
Changmin mulai tergeletak dilantai tak sadarkan diri – lebih tepatnya mati, begitu juga dengan Junsu yang jatuh karena tak ada yang menahan tubuhnya.
"YUNHOOOOOO!" Jaejoong berteriak histeris saat mendapatkan Yunho terjatuh dan dadanya mengeluarkan banyak darah. Sementara Yoochun berlari mendekati Junsu dan mulai menggendongnya. Pemandangan yang tragis dimana keduanya sama-sama saling membunuh.
"Jae...ahk...ja..ga...um...ma..ku..ne..." lirih Yunho sambil menahan sakitnya.
"Hiks hiks.. andwae! Bertahanlah.. hiks..." Jaejoong menarik Yunho kedalam pelukannya.
"Sa..rang...hae...ahk.." seketika itu juga Yunho sudah tak sadarkan diri.
"YUNHOOO! ANDWAE! HIKS! IREONA! JEBAL! HUAAA..."
THE END
Hahahah ~ gimana readers? kekek ~
Mianhae ceritanya malah gaje begini .. ckckc ~ ^^
Yunpa : lah gw mati ya?
Me : Mungkin!
Jaema : Yunnie mati? ANDWAE! HIKSS
Yunpa : Uljima boo, kan cuma cerita.. cupp cupp..
Junsu : Apa tangan gw bakal balik lagi?
Me : Gak mungkin lah~
Junsu : Hiks hiks .. kenapa tanganku dibuntungin? hiks hikss..
Yoochun : Uljima Chagi.. nanti cantiknya hilang kalo nangis terus. Lagiankan ini cuma cerita~ cup cup~
Changmin : KENAPA HARUS GW YG JADI JAHAT TERUS MALAH AKHIRANNYA GW MATI LAGI! ARGGHHH~ #ngabisinSemuaMakanan#
Me : yahh namannya juga cerita ~ apakah harus ada epilognya?
Maaf FF nya jelek dan standard . ~
