Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: K+ / T
Genre: Sudah pasti romance
Warning: AU, OOC, EYD tidak diperhatikan, Typo bertebaran, love/hate relationship
Ini adalah fanfic pertama saya, jadi mohon di maklumi kalau ada salah.
Happy reading!
.
.
.
-Moving Day-
.
.
.
Hinata semalam tidak bisa tidur, kenyataan bahwa orangtuanya harus menetap di negeri orang selama berbulan-bulan karena tuntutan pekerjaan, membuat gadis berumur 15 tahun itu shock. Bayang-bayang kelam tentang dirinya akan tinggal bersama seseorang yang menurutnya secara official masuk ke dalam daftar orang nomor satu yang harus di hindari, telah menghantuinya. Akibat ini semua kepala Hinata terasa agak pening.
Sejak jam pelajaran pertama gadis itu sama sekali tidak memperhatikan apa yang telah di jelaskan oleh senseinya. Ya, masa bodo dengan itu semua. Pokoknya, selama 3 hari ini, Hinata bakalan kepikiran mulu, soal kepidahannya.
Hinata bingung bukan main, Sasuke itu kan orang yang harus ia hindari gara-gara dia selalu ngerjain Naruto, dan Hinata gak suka nih, Hinata itu kesel sama Sasuke, cuma biar rada halus bilangnya jadi menghindar aja, intinya harus jauh-jauh deh dari Sasuke biar Hinata gak makin kesel sama dia. Hinata kan gak suka nyari ribut.
Nah, tapi gimana carannya Hinata mau menghindar kalo kenyataannya mereka harus tinggal serumah?
Hinata hanya bisa berdoa bahwa saking kayanya keluarga Uchiha, si Sasuke itu di beliin rumah sendiri yang tentu aja beda dari tempat keluarga intinya dan dia tinggal disana. Jadi Hinata gak bakalan satu hunian deh sama Sasuke. Semoga Kami-sama mengabulkan.
"Hyuuga."
Hinata langsung tersentak dari lamunannya ketika Iruka-sensei memanggil. "Y-ya, sensei?"
"Coba tolong jelaskan kembali apa yang baru saja saya jelaskan di depan. Secara ringkas."
"E-eh.." Hinata menelan ludah, keringat dingin keluar dari pelipisnya tanpa ia sadari.
Hinata kan dari tadi kerjaannya ngelamun doang, gimana mau jelasin ulang coba.
Udah deh, kalo gini ceritanya, mendingan pasrah aja.
"M-maaf s-sensei, s-saya tadi kurang m-memperhatikan." ujar Hinata dengan jujur.
Iruka-sensei menghela nafas. "Ya sudah, cuci muka sana. Kau seperti tidak tidur semalaman. Sudah sana." perintahnya kepada Hinata.
"B-baik sensei."
Hinata segera berdiri dan melangkah menuju pintu belakang kelasnya untuk keluar.
Setelah menutup pintu kelasnya, dia menghela nafas.
Toilet berada diujung koridor dekat kelas 1A, kelasnya Naruto. Ini artinya Hinata bisa melihat Naruto lagi belajar. Membayangkan hal kayak gitu aja udah bikin gadis keturunan Hyuuga itu tersenyum manis.
Hinata mulai melangkah dan kemudian berjalan pelan saat mulai melewati kelas 1A, matanya melirik mencoba mencari seseorang dengan rambut berwarna kuning cerah, tetapi Hinata malah mengerutkan dahi, ia heran karena orang yang dicari tidak ada di tempat, yang Hinata lihat justru Sasuke. Gadis itu menundukkan kepala saat ia mulai melewati jendela bagian belakang kelas 1A.
Sepertinya ini bukan hari keberuntungannya, bahkan untuk menghilangkan mood jeleknya dengan cara melihat Naruto di hari ini saja Hinata tidak bisa.
Dengan sedikit enggan dia memasuki toilet untuk membasuh muka seperti yang di perintahkan oleh senseinya.
Setelah itu, Hinata menatap pantulan dirinya di cermin, ia sedikit meringis, bukan karena sakit, tapi karena dia baru menyadari bahwa ada lingkaran hitam di sekitar matanya akibat dia tidak bisa tidur semalam. Walaupun gak terlalu kentara tetap saja bikin makin badmood.
Semoga saja Naruto tidak melihat dirinya hari ini, ya biarpun sebenernya Hinata aja gak yakin Naruto tau keberadaannnya di sekolah ini apa tidak.
Hinata keluar dari toilet, kemudian ia mendapati Sasuke baru saja keluar dari pintu depan kelas 1A.
Terkadang Hinata merutuki dirinya sendiri, garis nasib apa sih yang di milikinya?
Berharap ketemu gebetan malah ketemu orang yang harus di hindari. Bukan ketemu sih, ngeliat doang, soalnya kan Hinata gak mungkin ngomong sama Sasuke, kenal aja nggak.
Gadis itu berjalan untuk kembali ke kelasnya yang ada di 1B, sedangkan Sasuke sepertinya ingin ke toilet.
Mereka berjalan semakin dekat, Hinata yang melangkah dengan agak menundukkan kepalanya merasa di tatap dengan mata tajam Sasuke, rasanya sangat tidak nyaman.
Hinata menggigit bibir serta menahan nafas tanpa sadar, dengan keberanian yang secuil Hinata mencoba untuk melirik kearah Sasuke ketika hampir berpapasan untuk memastikan,dan ternyata itu hanya imajinasi Hinata. Uchiha Sasuke sama sekali tidak menatapnya.
Setelah saling melewati, Hinata memegang dadanya, ia merasa jantungnya berdetak kencang. Sasuke memang menyeramkan, benar-benar tipe orang yang harus Hinata hindari.
.
.
==XXX==
.
.
Pulang sekolah Hinata dikejutkan oleh fakta yang keluar dari bibir adiknya.
"Nee-chan, sepertinya besok kita sudah bisa pindah." ujar Hanabi tiba-tiba saat Hinata baru saja memasuki pintu utama.
Hinata menatap Hanabi, "B-besok? B-barang-barang nee-chan belum selesai di packing semua." balas Hinata.
"Kata siapa?" Hanabi menampilkan senyum penuh arti.
Sifat aneh adiknya membuat Hinata heran. Ia kemudian bergegas menuju kamar dan masuk ke dalam. Setelah itu, Hinata sedikit terkejut dan bingung mendapati barang-barangnya sudah rapih, alias dimasukkin ke dalam kardus.
"H-Hanabi-chan…" Hinata membalikkan badan dan melihat Hanabi yang berdiri menyandar di pintu sambil menyilangkan tangan di dada.
"Ya?"
"I-ini kamu semua…"
"Ya nggak lah nee-chan," Hanabi kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mendekati Hinata, "tadi itu, tiba-tiba ada orang banyak gitu bantuin nge-packing. Katanya sih dari keluarga Uchiha. Beberapa barang juga udah dibawa kesana."
"E-eh? U-Uchiha?" Hinata bingung.
"Iya, mereka baik banget nee-chan, kayaknya kedatangan kita di tunggu-tunggu banget, makanya mereka bantuin. Akhirnya besok kita udah bisa pindah deh." jelas Hanabi dengan wajah riang.
'Besok…' pikir Hinata.
Tiba-tiba Hinata tersadar akan sesuatu, "Kamu gak sekolah? Kok pulangnya cepet?"
"Emang lagi pulang cepet kok." Hanabi kemudian pergi meninggalkan Hinata yang curiga.
.
.
==XXX==
.
.
Keesokan harinya.
Pikiran Hinata menerawang entah kemana, hari ini dia siap-siap untuk sekolah lebih pagi dari biasanya. Hinata selalu berangkat jam 7.15 mengingat rumahnya agak jauh dari sekolah, tetapi pakaiannya sudah rapih saat jam 6.30, ia juga menyuruh supir untuk siap berangkat. Hanabi belum keliatan batang hidungnya, jadi Hinata pergi tanpa pamit sama adiknya itu.
Akibat itu semua, Hinata sampai sekolah jam 7.03, suasana masih damai karena bel sekolah berbunyi sekitar 1 jam lagi lamanya.
Masuk ke dalam gedung sekolah, Hinata bukannya pergi menuju kelas malah mengganti tujuan ke perpustakaan. Hinata membuka pintu perpustakaan, tempat itu sepi sekali, hanya diisi oleh pengawas yang sibuk mengerjakan tugas-tugas mereka yang belum selesai. Seolah tidak peduli, Hinata kemudian mengarah ke rak buku bagian shoujo manga.
Ya, di situasi begini Hinata butuh sedikit hiburan dengan membaca beberapa komik bertemakan komedi yang romantis. Dia mengambil sebuah komik dan membuka beberapa halamannya sesaat, setelah merasa cocok dia kemudian duduk di lantai sambil menyadar ke rak.
Sudah hampir 40 menit Hinata membaca komik di perpustakaan dengan antengnya, kemudian ketika lagi asik-asiknya membaca ia mendengar seseorang melangkah cepat, alhasil konsentrasi Hinata pecah. Gadis itu menengok kearah lorong utama perpustakaan, menunggu pelakunya lewat.
Seketika suara langkah itu berhenti, Hinata terpaku melihat siapa pelaku yang sedang berdiri di lorong utama sambil menyandarkan tangannya di ujung rak tersebut.
Laki-laki itu seperti mencari seseorang, wajahnya terlihat agak lelah. Lalu, seolah menyadari keberadaan Hinata laki-laki itu menolehkan kepala ke arah gadis yang ada jauh disampingnya.
"Maaf, apakah kau melihat seseorang lewat sini barusan?"
'Naruto-kun…' ucap Hinata dalam hatinya yang berbunga-bunga. Saking senengnya Hinata tidak bisa menjawab pertanyaan Naruto, jadi selama beberapa detik mereka hanya saling menatap.
"Hei.." Naruto bingung melihat gadis yang ditanyain sama dia malah bengong.
Laki-laki itu kemudian mengernyitkan dahinya.
"Tunggu sebentar." Naruto melangkah mendekati Hinata.
'Naruto-kun.. berjalan kearahku..'
"Sepertinya aku pernah melihatmu.."
Mata Hinata melebar karena sedikit terkejut dengan kalimat yang keluar dari bibir Naruto.
"E-eh?" Hinata bingung dan gak yakin sama pendengarannya. Naruto inget sama dia? Yakin, tuh?
"Ah, kau cewek yang hampir jatuh di tangga kan?" kata Naruto ketika ia sudah merasa cukup dekat dengan Hinata.
Gadis di depannya tidak berkata-kata.
Naruto kemudian berjongkok agar lebih nyaman untuk mengobrol dengan Hinata. "Siapa namamu? Aku merasa kita pernah bertemu jauh sebelum kejadian di tangga itu."
Hinata menatap mata biru Naruto, "E-em.. H-Hyuuga Hinata." katanya berusaha untuk terlihat tenang, padahal dalam hati udah gak tau perasaannya terbang kemana. Jujur, Hinata gugup setengah mati.
"Ooh, Hinata-chan rupanya. Aku Naruto, Uzumaki Naruto." laki-laki itu nyengir lebar sambil menunjuk dirinya.
Pipi Hinata memerah, Kami-sama terima kasih, Hinata hari ini bahagia sekali.
"Naruto." suara berat terdengar dari lorong utama tempat Naruto tadi berdiri.
Sentak, kedua orang yang baru saja saling berkenalan secara langsung itu menengok ke pemilik suara. Orang yang baru saja menghancurkan momen indah Hinata, adalah…
"Hoi Teme," ya, Uchiha Sasuke. "kemana saja kau?" Naruto segera berdiri dan menghampiri Sasuke.
"Hanya mengembalikan beberapa buku. Ayo." ajak Sasuke kepada Naruto.
"Oke. Aku mencarimu kemana-mana kau tau?" lalu Naruto mengikuti Sasuke pergi tanpa melihat kembali ke Hinata.
Walaupun begitu, Hinata gak peduli Naruto tidak menengok kebelakang ataupun pada Sasuke yang merusak momen bahagianya, dia masih berada di awang-awang. Bayangkan, seorang Hinata, berbicara sama pangeran pujaannya yang terkenal itu.
Gadis itu masih terpaku dan tersenyum lebar mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Tapi hal tersebut hanya sesaat karena tiba-tiba handphone Hinata bergetar, menandakan bahwa ada sms yang masuk. Ia merogoh kantongnya, kemudian ketika melihat layar Hinata sedikit terkejut, waktu menunjukkan pukul 7.56. Ia langsung menutup komik yang dibacanya dan mengembalikan ke rak, lalu bergegas ke kelas karena 4 menit lagi waktu belajar akan dimulai.
Seperti dugaan, selama pelajaran Hinata tidak akan memperhatikan hal-hal yang di jelaskan oleh senseinya. Pikiran gadis itu selalu memutar ulang kejadian di perpustakaan.
.
.
==XXX==
.
.
"Ah! Aku ingat. Sasuke, aku akhirnya tau siapa nama cewek yang di tangga itu." kata Naruto tiba-tiba saat mereka duduk di meja kantin, jam istirahat.
Sasuke yang hanya minum jus tomat menatap Naruto berbicara dengan mulut penuh ramen.
"Namanya Hinata, Hyuuga Hinata." lanjut laki-laki berambut kuning tersebut setelah menelan makanan di mulutnya. "Aneh sekali, aku merasa pernah bertemu dengannya di suatu tempat, tapi bukan disini." Naruto menyipitkan matanya seolah berpikir keras.
Kemudian dia berdecak serta menggelengkan kepala, dilanjutkan dengan memakan ramennya kembali.
Sasuke yang melihat kelakuan sahabatnya itu hanya bisa mengendus pelan. "Sudah berkali-kali kau berkata seperti itu sejak kejadian di tangga. Kau terobsesi sama cewek itu?" tanya Sasuke.
"Hm?" Naruto memaksa untuk menelan ramennya terlebih dahulu sebelum menjawa. "Yaa, hanya sedikit penasaran saja."
"Jadi, kau sudah mulai melupakan si rambut pink itu?" Sasuke melirikkan matanya ke seseorang di belakang Naruto.
Naruto melihat Sasuke dengan bingung, ia kemudian membalikkan badan. Senyum sumringah pun terpasang di bibirnya. "Sakura-chaaan!" seru Naruto sambil melambaikan tangan ke seorang siswi yang sedang berjalan menuju meja mereka.
Naruto kembali melihat Sasuke, "Kalo yang ini, aku gak bakalan lupa lah, Teme."
Sasuke yang mendengar perkataan Naruto hanya memasang tampang stoicnya.
"Hai, Sasuke-kun." sapa Sakura, gadis itu tiba-tiba sudah mengambil bangku dan duduk di meja yang sama dengan dua pria pujaan sekolahnya.
Sasuke membuang muka, akhirnya sapaan Sakura untuk Sasuke diambil alih oleh Naruto. "Sakura-chaan~" balas Naruto.
Sakura menatap Naruto dengan kesal, "Aku tidak berbicara denganmu, kau tau?"
"Ya, aku tau, tapi gak salah kan kalo nyapa?" cibir Naruto sambil menyingkirkan mangkuk ramennya yang sudah kosong,
"Kau tidak perlu manyapaku dua kali."
"Itu perlu, karena sapaan pertama tadi kamu tidak menjawab. Bukannya jawab malah ngomong sama si Sasuke-teme itu." balas Naruto.
"Ah, sudahlah." Sakura memutar bola mata sambil mengibaskan rambut pinknya seolah tidak peduli dengan perkataan Naruto. Gadis itu merubah fokus kearah Sasuke serta menopang dagu.
"Sa.."
"Aku pergi." belum selesai Sakura bicara, tiba-tiba Sasuke berdiri dan meninggalkan dua sejoli yang susah banget diatur itu berduaan.
Sakura berdecak. Lalu menatap Naruto yang bingung, "Kau harus mentraktirku makan, Sasuke jadi pergi dariku akibat perbuatanmu!"
"Eh?" Naruto makin bingung, traktir sih boleh demi pujaan hatinya ini, tapi traktir apaan?
Laki-laki itu diam sejenak dan tak lama berkata, "Ramen?"
.
.
==XXX==
.
.
Pulang sekolah Hinata tidak bisa menemukan supirnya di tempat parkir biasa. Hal tersebut, membuat dia terpaksa mengeluarkan handphone dengan tujuan menelpon supirnya, tetapi ketika layar menampilkan menu utama Hinata baru ingat kalau tadi pagi ada sms dan dia belum sempat membaca gara-gara terlalu memikirkan Naruto.
Kejadian saat di perpustakaan hari ini benar-benar membuat Hinata di mabuk kepayang dan tak bisa berhenti tersenyum.
Ia kemudian membaca 2 sms yang masuk, ternyata dari adiknya.
Sms 1:
'Nee-chan kenapa sekolah? Lupa hari ini kita harus pindahan? Nee-chan sengaja ya membuatku mengurus ini sendirian? Ayo pulang! Gerbang belum di tutup kan?'
Ah, iya, Hinata lupa kalau dia harus membantu adiknya pindahan. Perasaan bersalah membuat gadis itu menggigit bibir dengan cemas.
Sms 2:
'Nee-chan, kenapa di telponnya gak diangkat sih? Ya sudah, nanti pas pulang nee-chan langsung ke kediaman Uchiha ya. Aku sudah disana, kutunggu.'
Telepon? Di handphone Hinata tidak ada missedcall sama sekali.. lagian apa-apaan ini? Kerumah Uchiha? Sekarang? Hinata mana tau rumah keluarga Uchiha dimana..
Haruskah dia bertanya pada anggota Sasuke fanclub?
Tiba-tiba handphone Hinata bergetar. Melihat nama adiknya tertera di layar gadis itu langsung mengangkat teleponnya.
"Nee-chan!" seru Hanabi tepat ketika Hinata baru saja mengangkat.
"Y-ya, H-Hanabi-chan?"
"Kemana aja sih? Udah pulang belum?" nada khawatir sedikit terdengar dari suara Hanabi.
"Y-ya, aku baru saja pulang." jawab Hinata.
"Oke, ingat ya ke rumah Uchiha."
"B-baiklah.."
"Nee-chan tau kan dimana?" tanya Hanabi dengan sedikit perasaan curiga mengingat kelakuan kakaknya ini.
"Em…"
"Jangan bilang gatau.."
"M-maaf Hanabi-chan." ujar Hinata dengan rasa bersalah, dia ini terkadang bikin repot adiknya, padahal orangtua Hinata menitipkan Hanabi untuk dijaga sama dia, tapi sekarang? Kesannya kayak Hanabi yang jagain Hinata.
"Nee-chan satu sekolah kan sama Uchiha Sasuke?"
Pas sekali, saat Hanabi bilang seperti itu, Sasuke baru saja keluar dari pintu utama sekolah. Hinata memandang laki-laki itu dengan tatapan merana. "Iya.."
"Tanya dia aja, bila perlu pulang bareng sama dia, kan satu rumah."
Mendengar kata-kata Hanabi, Hinata hanya bisa menghela nafas.
"Aku gak liat Uchiha-san.." Hinata berbohong, padahal jelas-jelas sekarang ini matanya terpaku pada Uchiha Sasuke yang sedang berjalan ke arah parkiran dan kemudian masuk ke dalam sebuah mobil mewah.
"Ya sudahlah, nanti biar ku kirimkan alamatnya. Pakai taksi ya nee-chan."
"Iya, terima kasih H-Hanabi-chan."
Telepon pun terputus, mendingan pulang-pergi sekolah naik taksi deh daripada bareng sama Sasuke yang seram itu, ngeliat matanya aja Hinata gak berani. Gak apa-apa deh bayar mahal.
Hinata mulai berjalan meninggalkan lahan parkir.
Hari ini, gadis itu benar-benar merasa hidupnya dibawa naik turun, kemarin dia sempet bingung banget gara-gara tau kalo harus satu rumah sama Sasuke, terus hari ini pagi-pagi dibawa keawan sama Naruto, eh, pas pulang jatoh lagi mengingat nasibnya tinggal bersama Sasuke ditambah rasa bersalah karena ngerepotin adiknya, Hanabi. Hinata melihat langit senja diatasnya dan kemudian merasakan handphonenya bergetar, menandakan sms masuk.
Dari adiknya, sesuai janji, Hanabi mengirimkan alamat dimana kediaman Uchiha berada.
Sudah dekat ke gerbang sekolah, Hinata pun melihat mobil Sasuke melaju melewatinya dan keluar sekolah, meninggalkan Hinata yang sebenernya satu tujuan.
Setelah mobil Sasuke hilang dari pandangan, Hinata segera menekan beberapa tombol handphonenya untuk memesan taksi dan tak perlu waktu lama ia menunggu.
Ketika taksi itu sampai Hinata langsung masuk dan menyebutkan alamat tujuannya.
Selama perjalanan jantung Hinata berdebar, apa yang harus ia lakukan nanti di depan Sasuke? Tunggu, lupakan Sasuke, bagaimana jika nanti dia bertemu dengan nyonya Uchiha, alias ibunya Sasuke? Hinata pernah ketemu sih, dan ibunya Sasuke baik, tapi bagaimana dengan ayahnya? Kalau tidak salah namanya Fugaku, ayah Hinata beberapa kali pernah menyebutnya.
Bagaimana kalau ayah Sasuke mempunyai sifat yang sama dengan anaknya? Apa yang harus Hinata lakukan?
Tanpa sadar Hinata merinding membayangkan itu semua. Dia sedikit menghela nafas, Hinata sekarang pengen pasrah aja, lagipula dia hanya harus menahan ini semua dengan waktu beberapa bulan kan? Bukan suatu yang besar. Dia harus menerima nasibnya dan berusaha sekuat tenaga mengingat sekitar 2 minggu lagi ujian untuk kenaikan kelas, semoga dia satu kelas dengan Naruto di tahun kedua nanti. Membayangkan satu kelas sama pangeran pujannya saja, bisa langsung merubah mood Hinata, gimana kalo beneran?
"Nona, sudah sampai." ucap supir taksi yang sukses bikin lamunan Hinata tentang satu kelas sama Naruto buyar.
Gadis itu melihat sang supir, "Eh? O-oh.. iya.." sebelum mengeluarkan dompet Hinata melihat keluar jendela, rumah keluarga Uchiha besar sekali, pagarnya tinggi di sekitar pilar ada ukiran-ukiran Celtic, pokoknya keren deh. Membuat Hinata menelan ludah.
Kemudian Hinata langsung mengeluarkan dompet dan membayar taksi, setelah itu dia turun dan disinilah dia, di depan gerbang kediaman Uchiha. Baru saja Hinata mau mencari bell untuk masuk tiba-tiba gerbang didepannya terbuka.
Gadis itu mengintip kedalam dan disana tidak ada siapa-siapa.
Akhirnya tanpa disuruh Hinata memasuki gerbang tersebut dengan sangat perlahan sambil melihat sekeliling, saat sudah sampai di depan pintu utama gadis itu terdiam lagi, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu, tetapi ketika hampir mengayunkan tangannya tiba-tiba dia merasakan seseorang dibelakang, rasa merinding menjalar dari punggung hingga lehernya. Gak mungkin ada hantu kan sore-sore begini? Lantas karena rasa penasaran ia langsung menengok kebelakang dan mendapati Uchiha Sasuke berada disana.
Gadis itu menelan ludah dan menahan nafas.
Sasuke menatap Hinata dengan penuh tanya. Seolah berkata 'apa yang kau lakukan disini?'
Hinata bingung, 'Apa dia belum tau tentang kepindahanku? Duh, jangan bilang dia mikir aku salah satu fansnya yang terlalu maniak hingga berani untuk ngikutin dia sampe kerumahnya.' pikirnya.
Hinata hanya menatap Sasuke dengan diam, tubuhnya terasa kaku dan tidak dapat bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh otaknya. "E-em…" gumam Hinata.
Disaat gadis itu belum mengeluarkan sepatah katapun Sasuke tiba-tiba berjalan melewatinya serta membuka pintu utama, dia meninggalkan Hinata yang bengong dan gak tau harus ngapain.
"E-eh…" Hinata menghela nafas, dia benci ini. Gadis itu menggigit bibirnya.
"Nee-chan!" Hanabi berlari dari dalam dan menghampiri Hinata, dia melihat Sasuke lalu berkata. "Nee-chan datang bersama dia?" tanya Hanabi sambil melirik kearah Sasuke yang sudah hilang dari pandangan.
"Tidak.." jawab Hinata dengan lemas.
"Kenapa lemas begitu sih?"
Hinata hanya menggelengkan kepala.
"Ya sudah, ayo masuk. Obaa-chan sudah menunggu."
Dan begitulah, Hinata ditarik masuk ke dalam rumah keluarga Uchiha, dimana dia akan tinggal disana selama berbulan-bulan lamanya.
Semoga Hinata akan betah tinggal bersama Sasuke.
.
.
.
.
-TBC
terima kasih sudah membaca :)
