Passion
Pair:
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rate: M
Length: Parts
Summary:
It's like some kind of my wildest dream that become true. / NamJin, GS! Seokjin and Jungkook. / The continuation story from 'Desire'.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
Part 2: Countdown to Wedding Day!
Aku hanya bisa terdiam dengan senyum kaku masih terpasang di wajahku saat aku mendengar ucapan ibu Namjoon yang terdengar begitu santai. Wanita itu berjalan menghampiriku dan aku merasa aku sekecil plankton saat ini. Namjoon menatapku dengan tatapan datar dan aku tidak tahu apa yang berada dalam kepala pria itu.
Ibu Namjoon mengulurkan jarinya dan menyentuh ujung rambutku yang bergelombang, "Aku.. tidak suka dia, Namjoon."
Namjoon menghela napas pelan, "Mom.."
Ibu Namjoon menoleh ke arah Namjoon, "I love her!" pekiknya.
Hah?
Aku membulatkan mataku tidak percaya saat mendengar pekikan seperti gadis sekolahan keluar dari mulut wanita berwibawa tinggi dan jelas high-class seperti ibu Namjoon.
Namjoon menggeleng pelan, "Ibu, kurasa kau baru saja membuat calon istriku terkena serangan jantung."
Ibu Namjoon menoleh dengan gerakan cepat dan menatapku, "Oh my! Aku tidak bermaksud, sayangku. Sungguh. Aku hanya terlalu senang akhirnya Namjoon berhenti bermain-main dengan para jalang diluaran sana yang hobinya membuang uang anakku."
Sebelah alisku langsung naik saat mendengar itu,
Oh, jadi Namjoon sering bersama banyak perempuan?
Ibu Namjoon mengibaskan sebelah tangannya, "Kau harus tahu kalau Namjoon itu sangat liar, Dear. Aku bahkan pernah memergokinya sedang 'bermain' dengan tiga wanita sekaligus. Apa itu namanya? Foursome?"
Kali ini lidahku kelu total. Tuhanku, apa salah dan dosaku sehingga harus terus berada di sekitar orang-orang dengan kata-kata dewasa yang keluar begitu lancarnya?
"Bu, Seokjin tidak terbiasa dengan itu."
Kedua alis ibu Namjoon bertaut bingung saat mendengar ucapan penuh nada pasrah dari Namjoon. "Tidak biasa? Apa kau biasanya hanya melakukan vanilla sex?"
Aku tergugu, aku tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun saat mendengar rentetan kalimat dewasa lainnya meluncur dari mulut ibu muda ini.
Namjoon melangkah menghampiri kami dan merangkul bahuku yang tegang, "Bu, Seokjin ini masih utuh. Dia belum disentuh siapapun jadi berhentilah mengucapkan kata-kata yang membuatnya tidak nyaman."
Dan kali ini ibu Namjoon memekik.
Kurasa sebaiknya aku mulai berpikir ulang untuk menjadi istri Namjoon.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah mengetahui statusku yang masih 'bersih dan suci', ibu Namjoon benar-benar gembira. Dia bahkan menceritakan ini pada ayah Namjoon dengan begitu bersemangat hingga aku malu sendiri. Astaga, aku cuma masih perawan, tapi mereka memperlakukan aku seolah aku adalah Dewi Hestia, si dewi perawan yang terkenal.
"Jadi Seokjin, kenapa kau mau menjadi milik Namjoon kami yang berandalan ini?" tanya ibu Namjoon.
Saat ini aku sudah duduk bersama dengan kedua orangtua Namjoon. Di depanku ada secangkir darjeeling tea namun saat ini lidahku kelu untuk merasakan apapun, bahkan aku tidak berani memegang cangkir karena tanganku bergetar hebat.
"Eh? Itu.. karena.."
"Anak kami tidak mengancammu, kan?" kali ini ayah Namjoon yang bersuara.
Namjoon mengerang kesal, "Tidak bisakah kalian percaya padaku sekali saja? Aku tidak melakukan itu!"
Ibu Namjoon mendesis kesal, "Tidak bisa! Kau itu sudah menghamili banyak anak gadis orang sejak kau sekolah menengah! Duh, ibu sampai pusing mengurusmu."
"Apa?!"
Oh, sialan.
Pekikanku keluar tanpa bisa kucegah.
Kedua orangtua Namjoon dan Namjoon kali ini menoleh ke arahku yang baru saja mengeluarkan pekikan dengan nada melengking.
"M-maksudku.." ujarku gugup karena aku merasa terintimidasi dengan tatapan mereka.
"Mom, kalau aku sampai batal menikah dengan Seokjin, itu semua salahmu." Namjoon berujar dengan nada kesal sementara ibunya membalasnya dengan tatapan sengit.
Ibu Namjoon mendengus sementara ayah Namjoon tengah menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk menahan tawa.
"Seokjin, biarkan saja kedua orang ini. Mereka memang begitu." Ayah Namjoon terkikik pelan, "Aku tidak banyak bicara, aku hanya ingin menanyakan apakah kau memang serius dengan Namjoon atau tidak?"
Duh,
Apakah aku boleh mengatakan kalau aku ingin memikirkannya dulu?
"A-aku.."
"Dad, tentu saja dia ingin menikah denganku. Dia itu tunanganku."
Ayah Namjoon melempar Namjoon dengan koran yang ada di meja, "Diam dulu, bocah!"
Aku tersenyum kecil kemudian mengangguk, "Kurasa aku yakin, Mr. Kim."
"Eiy, jangan memanggilku seformal itu. Kau boleh memanggilku 'Daddy'." Ayah Namjoon mendesah pelan, "Aku rindu sekali, dulu Namjoon kecil memanggilku seperti itu."
Namjoon menghela napas pelan, "Aku ke sini karena aku butuh persetujuan kalian. Orangtua Seokjin hanya mau menerima lamaranku kalau kalian datang ke sana bersamaku dan melamar Seokjin sekali lagi."
Ibu Namjoon mendelik padanya, "Kalau aku jadi orangtua Seokjin, aku tidak akan mau anak gadisku yang lugu dan polos seperti Seokjin menikah denganmu yang sangat tidak polos."
"Mom, ayolah, itu masa lalu."
"Kau harus berjanji tidak akan memperlakukan Seokjin di ranjang seperti kau memperlakukan para jalang itu! Demi Tuhan, Seokjin terlalu baik untukmu."
Namjoon mengangguk-angguk, "Ya, aku janji. Dia akan kuperlakukan seperti yang dia inginkan."
Ow,
Aku merona.
Namjoon sialan dengan mulut manisnya yang juga sialan.
Aku menggigiti bibirku dengan gugup sementara wajahku terasa panas dan dewi batinku tengah menari salsa di dalam benakku.
Sialan, kenapa mulut Namjoon hebat sekali dalam urusan berkata-kata manis?
Oh ayolah, bahkan mulut itu juga hebat dalam urusan lainnya seperti.. mencium?
Aku mencubit pahaku sementara aku bisa merasakan dewi batinku terkikik-kikik ceria.
Astaga, aku ingin keluar dari segala lamunan liar soal Kim Namjoon ini.
"Jadi, Seokjin.."
Oh, astaga. Terima kasih Tuhan!
Aku menatap ibu Namjoon yang baru saja memanggilku, "Ya?"
"Kau ingin pesta pernikahan yang seperti apa? Apa kau mau mengadakan pesta lajang juga? Aku tahu bar bagus yang penuh dengan pria tampan."
….
Tuhan, aku harus bereaksi seperti apa?
.
.
.
.
.
.
Setelahnya semuanya berlalu dengan begitu cepat untukku. Orangtua Namjoon begitu bersemangat untuk pergi ke rumah orangtuaku dan aku baru menyadari kalau ibu Namjoon selucu itu. Dia begitu bersemangat hingga orangtuaku tidak bisa mengatakan apa-apa selain iya.
Dan setelahnya aku disibukkan dengan berbagai persiapan untuk pernikahan. Ayah Namjoon ingin kami melaksanakan pernikahan di Korea, ibuku ingin aku melaksanakan pernikahan di kampung halaman kami, sedangkan ibu Namjoon ingin kami melaksanakan pernikahan di Las Vegas.
Sumpah, seharusnya aku membawa kamera karena aku sangat ingin memotret wajah kedua orangtuaku dan juga ayah Namjoon saat ide itu terlontar dari mulut calon ibu mertuaku yang tidak terduga. Reaksi ayahku adalah kaget luar biasa, ibuku yang mengerutkan dahi tidak setuju namun dengan senyum paksaan di wajahnya, dan ayah Namjoon yang jelas-jelas memandang istrinya dengan tatapan tidak percaya.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, pernikahan kami akan dilaksanakan di Jeju. Hanya itu jalan tengahnya karena orangtuaku ingin pernikahan dengan suasana asri, ayah Namjoon ingin itu dilaksanakan di Korea, dan ibu Namjoon ingin pernikahan mewah dengan suasana yang wah.
Sementara aku dan Namjoon hanya duduk diam dan mengiyakan saja semua perdebatan diantara orangtua kami. Namjoon sibuk, jadi dia mengatakan dia menyerahkan semua urusan pernikahan ini pada orangtua kami dan juga padaku.
Dan aku yang memang tidak ahli dalam urusan berdebat jelas saja berakhir dengan menuruti segala perdebatan yang ada. Aku mengiyakan saja saat mereka mengatakan akan melaksanakan pernikahanku dengan mewah.
Setelah urusan lokasi, kami mulai menentukan dekorasi. Aku bersikeras ingin ada banyak bunga pink di dekorasi pernikahanku sementara ibu Namjoon mengatakan kalau bunga pink itu tidak seksi.
Sungguh,
Apa hubungannya antara keseksian bunga dan upacara pernikahan?
Untungnya ibuku yang baik hati membelaku dengan mengatakan kalau warna pink adalah warna kesukaanku dan pastinya aku ingin ada banyak warna itu di hari spesialku.
Ketika mendengar itu, ibu Namjoon langsung tersenyum haru dan menghubungi seluruh penjual bunga di sekitar Negara Korea untuk mengirimkan aneka jenis bunga berwarna pink yang mereka miliki ke Korea satu hari sebelum hari pernikahanku.
Hari ini adalah jadwalku untuk memilih gaun pengantin. Namjoon bilang dia akan memakai tuksedo manapun yang sesuai dengan gaun yang aku pilih. Karena itu yang pergi untuk memilih gaun pengantin hanya aku dan ibu Namjoon. Ibuku sedang sibuk mengurus beberapa detail kecil dekorasi dan Yoongi sudah kembali ke Jepang untuk bekerja dan dia berjanji akan datang di hari besarku.
Aku baru saja berjalan keluar dari rumahku bersama ibu Namjoon ketika tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan rumahku dan sosok gadis dengan tubuh langsing dan tinggi dengan rambut hitam kelam bernama Jeon Jungkook keluar dari sana.
"Kejutan!" pekiknya riang sebelum dia berlari dan memelukku dengan begitu erat.
Aku tertawa dengan begitu gembira dan membalas pelukan Jungkook, "Jungkook! Apa yang kau lakukan di sini?!"
Jungkook melepaskan pelukannya dan mengedipkan sebelah matanya, "Sebagai teman sekamar yang baik, aku harus membantumu untuk menyiapkan hari spesialmu, kan?"
"Kau teman sekamar Seokjin?"
Jungkook melepaskan pelukannya saat ibu Namjoon bertanya padanya, "Benar sekali! Aku teman sekamar Seokjin di Seattle, namaku Jeon Jungkook."
Ibu Namjoon tertawa kecil, "Kau manis sekali. Kebetulan hari ini Seokjin akan memilih gaunnya. Kau mau ikut?"
Jungkook mengangguk dengan wajah berbinar, "Tentu!"
.
.
.
.
.
.
.
Aku duduk di sofa yang berada dalam butik sementara ibu Namjoon dan Jungkook sibuk memilihkan gaun untukku. Ibu Namjoon ingin aku sedikitnya punya tiga gaun untuk dipakai di pagi hari, siang hari, dan malam hari.
Dan ucapan itu langsung dibalas oleh Jungkook dengan kalimat kalau saat malam sebaiknya aku dibiarkan saja tanpa gaun untuk memudahkan Namjoon.
Aku ingin sekali melempar Jungkook dengan kursi tapi aku langsung terdiam dengan wajah bodoh saat ibu Namjoon justru mengangguk dan menyetujui ucapan Jungkook.
Setelah berkeliling cukup lama di butik itu, ibu Namjoon datang menghampiriku dengan sebuah gaun panjang berwarna putih yang bagian bawahnya agak melebar seperti rok Disney Princess. Bagian atasnya memiliki lengan yang agak menggembung, kerah sabrina dengan belahan dada yang cukup lebar.
"Ini cocok untuk pagi hari saat pemberkatan." Ibu Namjoon menyodorkan gaun itu padaku. "Kesannya sangat berkelas dan juga kau akan terlihat seperti putri negeri dongeng. Sangat cocok dengan tema dekorasi pestanya."
Jungkook kembali dengan gaun lainnya dan dia menyodorkan gaun di tangan kanannya padaku, "Kalau begitu ini untuk siang. Tema pestamu garden party kan?"
Gaun yang diberikan Jungkook adalah sebuah gaun dengan pakaian atas yang terbuat dari kain tile halus berwarna putih, bagian dada dilapisi oleh kain di bagian dalam sementara bagian punggungnya terbuka tanpa kain dalaman, di bagian punggung juga ada jejeran kancing-kancing mungil yang memanjang mulai dari tengkuk hingga panggul.
Bagian bawah rok didesain seperti mermaid dress dengan panjang yang tidak terlalu panjang. Aku sangat yakin gaun itu tidak akan terseret di bawah kakiku.
Aku mengangguk karena aku sangat suka dengan kedua gaun pilihan mereka. Kemudian aku melihat Jungkook tersenyum aneh kemudian dia menyodorkan sebuah gaun lainnya.
"Nah yang ini untuk acara malammu bersama Namjoon."
Aku menaikkan sebelah alisku dan memperhatikan potongan kain di tangan Jungkook. Gaun itu mungkin gaun pengantin paling seksi yang pernah kulihat. Gaunnya pendek, sangat, panjangnya hanya setengah pahaku dan punggungnya terbuka lebar, polos. Bagian depan gaun terlihat seperti tube top yang potongannya rendah, aku yakin bagian atas dadaku akan mengintip.
"Gaun itu terlihat sangat rapuh. Dia bisa turun kapan saja." ujarku sambil menatap gaun itu dengan ngeri.
Jungkook menatap gaun di tangannya, "Justru itu tujuannya. Kau tidak mau Namjoon merobek pakaianmu karena dia sudah tidak sabar, kan?"
Aku menggeleng keras seraya membentuk tanda 'X' besar dengan kedua lenganku.
Ibu Namjoon yang baru saja mengurus pembelian kedua gaun yang sebelumnya datang menghampiri kami, "Ada apa?"
"Auntie, bukankah gaun ini akan sangat keren dipakai di acara malam hari Namjoon dan Seokjin?" ujar Jungkook kemudian dia mengangkat gaun di tangannya.
Ibu Namjoon memperhatikan gaun itu dengan seksama sementara aku semakin menggeleng panik.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau memakai itu! Aku bahkan ragu apa aku bisa memakai pakaian dalam di balik gaun itu!" ujarku seraya terus menggeleng.
Ibu Namjoon menatapku, "Tapi itu kan memang tujuannya, sayang."
Aku terkesiap, mulutku membulat dan terbuka lebar seperti ikan. "Kenapa kalian tidak berikan aku lingerie saja? Gaun itu sama seksinya dengan lingerie!"
Ibu Namjoon tertawa, "Duh, kalau kau pakai lingerie, aku khawatir Namjoon malah akan merobek-robek kain malang itu. Namjoon bisa jadi sangat ganas kalau sudah 'panas'." Ibu Namjoon mengedipkan sebelah matanya, "Aku tahu dari mantan pacarnya."
Jungkook memasang wajah penuh dengan binar tertarik, "Benarkah? Sudah kuduga Kim Namjoon itu memang yang tahan lama di ranjang. Sayang sekali dia sudah tertarik pada Seokjin lebih dulu."
Ibu Namjoon mengangguk kemudian memberikan gaun tadi pada karyawan di toko untuk dikemas bersama gaun lainnya, "Iya. Mantan pacarnya banyak yang sampai tidak kuat bangun keesokkan harinya setelah bermain dengan Namjoon." Ibu Namjoon menatapku, "Semoga kau baik-baik saja, ya. Itu akan menjadi yang pertama bagimu, kan?"
Jungkook memekik semangat, "Ah! Aku mau punya pacar seperti Namjoon!"
"Jungkookie sudah punya kekasih, ya?" tanya ibu Namjoon.
Jungkook mengangguk, "Iya, dia vokalis band. Dan tampan sekali! Nanti akan aku perkenalkan pada Auntie, aku sudah mengundangnya ke hari besar Seokjin!"
Ibu Namjoon mengangguk semangat, "Iya! Undang mereka, ya! Pastikan mereka datang."
Jungkook mengangguk semangat.
"Hei, apa tidak ada diantara kalian yang sadar kalau kalian baru saja membeli potongan kain mengerikan untuk menjadi gaun malam di hari pernikahanku?" ujarku karena mulai jengah melihat tingkah dua orang di hadapanku.
Ibu Namjoon mengerutkan dahinya, "Itu memang gaun malammu, sayang. Coba bayangkan betapa gembiranya Namjoon saat melihatmu memakai itu."
Jungkook mengangguk setuju, "Itu benar." Kemudian Jungkook menjentikkan jarinya, "Ah! Bagaimana kalau sekarang kita pergi membeli beberapa lingerie dan pakaian dalam seksi untuk Seokjin? Auntie harus tahu kalau semua pakaian dalamnya itu kuno sekali. Kita harus membuangnya dan menggantinya dengan yang seksi, kan tidak lucu Namjoon jadi kehilangan selera karena pakaian dalam Seokjin yang kuno."
Tuhanku, apa mereka tidak sadar kalau aku berada di hadapan mereka?
Ibu Namjoon mengangguk-angguk, "Kau benar." Kemudian dia menoleh ke arahku, "Berapa ukuranmu, Seokjin?"
Aku masih tidak sanggup berkata-kata sehingga aku hanya terdiam dengan wajah bodoh kemudian aku mendengar suara tawa Jungkook.
"Tenang saja Auntie, aku sudah sering melihatnya mandi jadi aku tahu ukurannya." Jungkook meraih lengan ibu Namjoon dan membawanya keluar dari butik.
Sementara aku masih terdiam di kursi dan memikirkan bagaimana kehidupanku setelahnya. Aku yakin setelahnya aku akan merasa malu saat akan mengenakan pakaian dalam.
Astaga..
.
.
.
.
.
.
.
Setelah semua persiapan pernikahan yang menguras tenaga dan juga batinku (Sungguh, apalagi kalau yang mengurusnya adalah Jungkook yang dipadukan dengan ibu Namjoon. Kau akan mati muda), aku sudah siap untuk melangsungkan pernikahanku besok.
Hari ini aku melewati berbagai macam perawatan kecantikan seperti waxing untuk seluruh tubuh (aku benar-benar merasa seperti ayam yang dicabuti bulunya sebelum dijual ke pasar), lulur aromaterapi, hair therapy, hair mask, kemudian perawatan wajah, kuku, manikur, pedikur, dan juga pijat seluruh tubuh.
Rambutku yang tadinya berwarna coklat membosankan juga sudah diubah menjadi berwarna burgundy red dengan aksen ikal alami yang ditambahkan agar rambutku menjadi lebih bergelombang, poni depan yang menutupi dahi, dan panjang rambut yang menyentuh punggungku.
Hari ini sebenarnya Namjoon juga sudah tiba di hotel tempat kami menginap di Jeju. Tapi ibu Namjoon melarangku untuk bertemu Namjoon sedikitpun, bahkan dia mengambil ponselku dan memintaku untuk tidur cepat agar aku terlihat cantik dan segar di hari besarku.
Aku duduk bersandar di kepala tempat tidurku seraya memperhatikan acara TV yang membosankan. Kulitku terasa begitu halus dan lembut hingga aku ragu kalau ini benar-benar kulitku. Perawatan salon memang luar biasa.
Tok Tok Tok
Kepalaku sontak mendongak saat mendengar suara ketukan itu, aku bergerak turun dari kasur dan berjalan mendekati pintu, "Siapa?"
"Jangan buka pintunya,"
Suara berat yang aku kenali sebagai suara Namjoon membuatku mengurungkan niat untuk membuka pintunya.
Aku bisa mendengar suara helaan napas Namjoon, kelihatannya pria itu benar-benar berdiri sangat dekat atau mungkin menempel di pintu kamarku.
"Mom melarangku menemuimu. Padahal aku baru tiba satu jam lalu."
Aku mengangguk pelan, "Bagaimana pekerjaanmu?"
"Aku bekerja keras untuk mendapatkan cuti 10 hari dimulai dari besok. Kau suka?"
Aku tersenyum kecil, "Sudah seharusnya aku senang, kan?"
Aku mendengar suara tawa pelan dari Namjoon dan aku juga balas tertawa kecil.
"Seokjin,"
"Ya?"
"Apa kau menyesal?"
Aku terdiam sebentar, "Apa maksudmu?"
"Ya, apa kau menyesal? Ini semua terlalu mendadak, kan? Aku.. aku harus mengakui sesuatu padamu."
Aku tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Namjoon melanjutkan ucapannya.
"Aku.. memang tertarik padamu di hari pertama aku melihatmu. Tapi itu hanya sekedar rasa tertarik biasa, rasa itu berubah menjadi rasa ingin memiliki dan tanpa sadar kurasa aku agak terobsesi padamu."
Kali ini aku menggerakkan tubuhku untuk duduk dengan bersandar di pintu kamarku.
"Aku suka melihat reaksimu yang sangat polos dan jujur, terlebih lagi ketika kau dengan berani mengatakan kalau kau masih perawan. Aku sangat terkejut, itu membuatku semakin ingin melindungimu." Aku bisa merasakan sedikit pergerakan di balik pintu jadi kuduga Namjoon juga sedang bersandar sama sepertiku.
"Aku ingin melindungimu, dan aku tidak pernah merasakan ini pada gadis manapun sebelumnya. Dan aku mengasumsikan rasa itu sebagai perasaan cintaku padamu. Apa menurutmu.. aku.. salah?"
"Namjoon.." ujarku pelan.
"Aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini di malam sebelum pernikahan kita. Tapi aku hanya ingin kau tahu kalau aku memang ingin bersamamu, aku ingin melindungimu dan aku amat sangat ingin memilikimu." Aku merasakan suara pergerakan lagi, "Kau mau menikah denganku, kan?"
Aku menyandarkan kepalaku ke pintu dan tersenyum kecil, "Apa aku masih bisa menolak?"
Namjoon tertawa kecil, "Ya, jika itu harus."
Aku tertawa pelan, "Aku mau menikah denganmu."
"Kalau begitu sampai ketemu besok di altar."
"Ya, aku akan mengenakan gaun putih lengkap dengan veil. Kau pasti mengenaliku."
Namjoon tertawa renyah, "Dan aku akan berdiri menunggumu di altar. Kuharap kau tidak akan pergi tiba-tiba dan membuatku berdiri di sana sendirian."
"Gaunnya memang berat dan kurasa besok aku akan berjalan agak lambat. Tapi akan kuusahakan untuk sampai di altar tepat waktu."
Namjoon tertawa lepas dan aku tersenyum lebar saat mendengar tawanya.
"Tidurlah, Seokjin. Aku harus pergi sebelum pegawai hotel mengusirku karena tertawa-tawa di depan pintu kamarmu."
"Hmm, kau juga harus tidur."
"Ya, pasti."
To Be Continued
.
.
.
.
.
.
Hai!
Lama ya? Iya, aku tahu kok.
Aku juga kangen kalian *peluk*
Oya, sekedar informasi, chapter depan itu chapter terakhirnya Passion lho. Hahahaha
Digarisbawahi ya, chapter terakhirnya Passion.
Bukan chapter terakhirnya series ini. hahaha
Bingung?
Diingat saja kalau ini adalah 'lanjutan' dari Desire dan di Desire aku menulisnya 'the next series'.
Jadi yaa…
.
.
.
Sampai ketemu di chapter terakhir dari Passion!
Jangan lupa review~ *tebar kecupan*
.
.
.
Thanks
