.
.
.
ENTERTAINMENT
Authors: Enma-chan and Sei Matthew
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Rate: T
Genre: Romance/ Humor
Pairing: PRUSUKPAN, etc
Warning: OCC, OC, shonen-ai, kata kasar, typo, kelebayan, flashback tanpa pemberitahuan, dll
.
.
Chapter 3: How I Meet Your Brother, not your Mother
.
.
Aliran sungai Han, menciptakan pantulan sinar rembulan dengan indahnya. Seorang pemuda berambut hitam berdiri menatap sungai dengan wajah yang sendu.
"Kang Ho..."
"[1]Jingshu... kenapa kau disini?" pemuda itu menatap perempuan cantik yang berada tak jauh darinya.
Perempuan itu tersenyum, "Aku hanya berjalan-jalan disekitar sini, dan kebetulan aku melihatmu" permpuan itu menatap kearah langit.
"Jingshu... Ada yang ingin aku katakan padamu" pemuda itu menatap langit kembali.
"Apa itu?" perempuan itu mengalihkan pandangannya ke pemuda yang ada didepannya.
Pemuda itu mendekati perempuan itu dan memeluknya, "Aku mencintaimu Jingshu..." ucap pemuda itu lembut
"Kang Ho?" perempuan itu terkejut, "Aku mohon terimalah cintaku ini," pemuda itu memeluk perempuan didepannya.
Perempuan itu membalas pelukan pemuda itu, "Aku juga mencintaimu Kang Ho"
Pemuda itu mengeratkan pelukannya dan berguman terima kasih...
*hening*
*hening*
*hening*
"CUT!" suara sang sutradara terdengar jelas.
"Good Job, Yoong Soo!"
"Kerja bagus!"
"Terima kasih juga atas kerjasamanya, semua." Kata Yoong Soo sambil membungkukkan badan.
"Nah, karena scene yang ini sudah selesai. Kita hentikan saja dulu shooting hari ini. Selamat beristirahat!"
"Terima kasih banyak, pak sutradara!" kata semua kru yang ada.
Young Soo berjalan menuju van-nya diikuti oleh manajernya.
"Mau langsung pulang atau makan diluar dulu?"
"Hmm… mungkin makan dulu. Aku lapar, nih!" kata Yoong Soo semangat. Yah, mau secapek apa pun, kalau tentang makanan dia jagonya.
JGREEEK *pintu van dibuka*
"Halo, Yoong Soo…"
"Ka… kakak?"
.
.
.
Di ruangan ini dia duduk sendiri bersama gitar akustik kesayangannya. Ya, siapa lagi kalau bukan (si ganteng) Kaoru[2]? Dari wajahnya dapat terlihat bahwa ia sangat menikmati permainan gitarnya. Musik klasik canon terdengar di seluruh ruangan. Membuat setiap hati yang mendengarnya menjadi sejuk.
TAK
"Ah. Putus?" kata Kaoru heran. Mengapa senarnya bisa putus hanya dengan memainkan satu lagu? Sungguh aneh.
"Kaoru, mengapa kau berhenti bermain?" tanya Meimei. Ia membawa teh hangat dan juga cemilan.
"Senarnya putus, Mei." katanya. Diciumnya Meimei lembut. Lalu ia mengambil cangkir teh miliknya.
"Hm… mau kuambilkan senar yang baru?"
"Tidak usah, Mei. Hanya saja… aku…"
KRIIIIIING
"Biar kuangkat telponnya." Kata Meimei. Ia berjalan cepat menuju telepon yang ada di pojok kanan ruangan.
"Siang… oh, kak Yao."
"…"
"Eh? Apa?"
"Ada apa, Mei?" tanya Kaoru cemas.
"I… itu…"
.
.
.
"Uuummm… berat…" kata Kiku pelan. Ia membuka matanya perlahan. Sepertinya ia tidur dengan sangat nyenyak kemarin.
"Eeeeh?"
Kiku kaget melihat ada tiga ikan pepes, er… maksudnya tiga orang di kasurnya. Ada Alfred yang ketiduran di lantai dengan kepala di atas kasurnya. Lalu Arthur ketiduran di samping Alfred dengan posisi memeluk Kiku dari samping. Sedangkan Gilbert duduk di kursi sambil memegang tangan Kiku dari arah yang berlawanan dengan Alfred-Arthur.
"Terima kasih, ya, semuanya… uhuk."
BRAK
"KIKUUU SAYAAAAAAAANG!"
Pintu kamar Kiku terbuka disertai teriakan tak elit dari luar.
"Eh, siapa sih ganggu orang aja?"
"Mimpiku yang AWESOME ini terganggu tau!" 'Padahal lagi mesra-mesranya sama Kiku~'
"Berisik banget, Git! Kiku tuh punya gueee!"
krik krik krik…
hening…
Ketiga orang yang baru sadar dari alam mimpi mereka harus syok dengan kedatangan (yang ternyata ada) dua orang tamu yang sudah berdiri dengan deathglare di depan pintu kamar Kiku.
"Oooh… jadi ini yang kalian lakukan pada adikku tercinta aru..." kata Yao sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Wah, wah… pantas saja kakakku tersayang sakit. Pasti dia menderita di sini…" kata Yoong Soo.
Ketiga orang itu hanya bisa menjauhkan diri dari Kiku dan diam membatu. Takut di kungfu sama kakak-adik yang brother complex-nya tinggi ini.
"Uhuk. Sudahlah… aku sudah merasa baikkan kok… uhuk."
"Kakak nggak boleh memaksakan diri seperti ini, kak!" mulai deh acara dramanya Yoong Soo kambuh. Dia ngeliat Kiku dengan tampang sedih sambil memegang tangan Kiku.
"Aku nggak apa-apa kok, Yoong Soo. Uhuk."
"Duh, adikku sayang… kok sakit nggak telpon sih aru?"
"Loh, terus kak Yao tau dari mana aku sakit?"
"Elisabeta. Tadi pagi dia telpon aru. Pas tau aku langsung ke tempat shooting-nya Yoong Soo aru."
"Iya, terus kita langsung ke sini deh, kak."
"Kalian ini… aku baik-baik saja kok…" kata Kiku. Dia mencoba untuk berdiri.
"Kakak dan Yoong Soo ke bawah bikin makanan saja ya? Mereka nggak bisa masak sih…" kata Kiku sambil menunjuk Trio AGA (Alfred, Gilbert, Arthur).
"Baiklah. Ayo Yoong Soo!" kata Yao sambil memicingkan matanya ke arah Trio AGA. Yang diliatin langsung merinding disko. Yoong Soo pun mengikuti Yao ke dapur.
"Kiku, kakak dan adikmu benar-benar terkena brother complex, ya? Atau malah family complex?" kata Gilbert.
"Family complex, eh?" kata Kiku pelan. 'Mungkin mereka ada benarnya juga…'
"KIKU! MAKANANNYA SUDAH SIAAAAP!" Teriak Yoong Soo dari bawah. Trio AGA pun membantu Kiku untuk ke dapur bersama.
.
.
.
Hmmm… punyak keluarga yang jago masak itu memang enak, ya? Mungkin bakat Kiku memasak itu berasal dari Yao ya? Hmmm… Yoong Soo juga masakkannya enak-enak… nggak kayak Trio AGA ini. Cuma bisa mengandalkan masakkan Kiku untuk hidup setiap harinya, atau mereka hanya makan mie instan dan fastfood. Kasihan…
"Kak Kiku?"
Ditengah-tengah nikmatnya makan ala Asia Timur ini, datang suara yang berasal dari depan ruang makan. Suara perempuan… (hiii… kuntilanak. Takut ah… *ditendang*)
"Meimei?" tanya Kiku. Ia berjalan keluar ruang makan.
"Ah… ternyata kau disini, Kiku! Ada kak Yao dan kak Yoong Soo juga!" kata Meimei sambil memeluk Kiku. Senang sekali bertemu dengan kakak iparnya ini. Sudah lama mereka tidak berkumpul satu keluarga seperti ini.
"Kau sudah menemukan Kiku, Mei?" yak, muncullah Kaoru dari balik dinding. "Lama tak bertemu, Kiku…" senyumnya hangat.
"Ya, lama tak ketemu…" kata Kiku. Entah dapat ilham dari mana, Kiku langsung memeluk Kaoru lama. Dan itu membuat Yao dan Yoong Soo cemburu, terutama Trio AGA. Meimei? Dia Cuma senyum saja.
"YA AMPUUUUUN! INCEST BOOOKKK!" teriak Elisabeta yang entah dari mana dia muncul. Seperti biasa, lengkap dengan kamera SLR dan tissue penuh bekas nosebleed-nya.
"Ah…" Kiku yang sadar pun menjauh dari Kaoru. Ia mempersilahkan semuanya duduk di ruang makan. Ya, walaupun di dorm ini hanya ada empat orang, tetapi meja makan mereka memang dibuat lebih besar untuk hal-hal tak terduga seperti ini.
"Nah, lebih baik kita makan dulu! Itadakimasu!" kata Elisabeta senang sambil makan dengan lahap.
.
.
.
"Jadi, bagaimana? Mau?" tanya Elisabeta.
"Kalau aku sih tidak keberatan menggantikan Kiku. Tapi apa tidak apa-apa?"
"Jujur aku tidak mau." Kata Kiku tegas.
"Eh, kenapa? Tubuhmu masih lemas, Kiku." kata Arthur. Ya walaupun semenjak insiden itu mereka jadi nggak suka Kaoru, tapi tetap saja konser harus berjalan.
"Ya, lagipula Kaoru juga memang sudah diakui oleh dunia internasional. Tidak apalah kita memakainya…" kata Alfred. Jujur saja, perkataan Alfred itu menyinggung perasaan Kiku.
"Uh, walaupun begitu, aku juga masih bisa bermain bass! Aku masih bisa dengan kalian!" kata Kiku nggak mau kalah.
Dan pertengkaran antara Elisabeta dan trio AGA dengan Kiku ini terus berlanjut. Sementara Kaoru hanya diam mengamati semuanya. Tapi seperti biasa, yang menang tentulah Elisabeta dan Trio AGA.
"Kiku, hanya sekali ini kok…" akhirnya Kaoru angkat bicara. Kiku hanya memandangnya. Lalu ia meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
.
.
.
"Kiku… masih marah?" tanya Kaoru. Ia bermaksud mencairkan suasana hati Kiku yang mungkin saja masih kacau.
"Kaoru…" Kiku membalikkan badannya. Ditatapnya Kaoru dengan tatapan sedih.
"Kaoru… apa aku salah?"
"?" Kaoru mengerutkan keningnya.
"Apa aku salah kalau perasaan ini masih ada?" tanya Kiku. Nada suaranya agak meninggi. Perasaannya campur aduk antara sedih, senang dan takut.
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara isak tangis Kiku. Kaoru mendekati Kiku perlahan, dipeluknya sepupu yang lebih tua darinya itu.
"Maaf… tapi a-"
"Aku tahu, Kaoru. Makanya aku berusaha untuk meninggalkan segalanya. Ya, meninggalkan rumah dan ayah. Memang itu untuk lebih fokus pada sekolahku. Tapi… sebenarnya hanya untuk menghindar darimu…" kata Kiku ditengah isak tangisnya. Ia mempererat pelukannya dengan Kaoru. Sedangkan Kaoru hanya bisa diam, dia tahu semua itu.
"Iya, aku tahu… bagaimana kalau aku mainkan sebuah lagu untukmu? Hm?" dilepaskannya pelukan Kiku. Ia mengambil gitar milik Kiku yang ada di samping kasurnya.
.
.
.
Hari itu ditempat yang sunyi, aku mendengar suara dentingan piano. 'Indahnya…'
Aku berjalan menuju arah suara itu. Kutemukan seorang anak bertubuh kecil dan imut bermain dengan grand piano putih milik pamanku. Aneh, aku tak pernah melihatnya. Siapa dia?
.
"Perkenalkan Kaoru, ini anakku, Kiku. Kiku, ini Kaoru."
Oh, tenyata dia anak paman. Dengan malu-malu ia menjabat tanganku.
"Kalian berdua bermainlah… yang akur ya!"
.
"Jadi, sebenarnya kau lebih tua dariku?" kataku tak percaya. Jujur saja, mengingat aku saja sudah masuk dalam kategori anak imut *apa dah*. Dan dia…
"Tapi, panggil saja Kiku, ya?" kata Kiku. Wajahnya dihiasi semburat kemerahan.
"Hm… baiklah, Kiku. Kau mau mendengarkan aku bermain gitar?"
"Tentu saja!"
.
.
.
Kaoru tersadar dari lamunannya. Lagu yang ia mainkan tanpa sadar membuat dia mengingat masa kecilnya dengan Kiku. Mungkin itu kenangan yang manis yang bisa dia ingat bersama sepupunya ini.
.
.
.
"Oh? Berita itu benar, Kiku. Kaoru sudah bertunangan dengan Meimei, anak teman ayah dari Taiwan."
"Tapi, Kaoru masih terlalu kecil untuk bertunangan, kan? Dia masih 12 tahun? Aku saja yang 14 tahun belum pernah pacaran."
"Jadi, kau juga ingin kujodohkan, Kiku? Aku juga melalukan ini atas permintaan Kaoru sendiri."
'Ti… tidak mungkin!'
Berbagai perasaan berkecambuk di dalam benak Kiku. Ia tidak rela Kaoru lepas darinya. Ya, Kiku sadar bahwa dia telah mencintai Kaoru.
.
"Kaoru… kau, benar-benar sudah bertunangan dengan Meimei? Apakah berita itu benar?"
"Ya, itu benar. Maaf, KIku… aku tidak bermak-"
"Tak apa. Asalkan itu memang pilihanmu, lakukan saja!" aku meninggalkan Kaoru. Tanpa sadar, air mataku sudah membasahi wajahku. Mungkin ini yang namanya sakit hati?
.
"Ya, yah. Ini sudah keputusanku."
"Kau yakin akan hidup sendirian? Dunia luar sangat berbeda dan mengerikan!"
"Tak apa, ayah. Aku sudah memutuskan untuk mencoba hidup mandiri. Tekadku sudah bulat."
"Baiklah kalau itu keinginanmu, Kiku… memang kau yang sudah 18 tahun ini harus lebih mandiri dibandingkan adikmu, Yoong Soo dan sepupumu, Kaoru. Tapi jangan lupa untuk selalu mengunjungi kami seperti Yao, ya!"
"Iya, yah… aku pasti akan ke rumah dan member kabar kepada ayah."
Aku pun masuk ke dalam mobilku diiringi teriakkan dari Yoong Soo yang tak rela jika aku harus pergi, tatapan perpisahan dari ayah, Meimei dan mantan orang yang kukasihi, Kaoru.
'Mungkin memang hidup mandiri adalah alasanku. Tetapi tujuan utamaku adalah untuk melupakanmu, Kaoru…'
.
.
.
Petikan gitar dari Kaoru pun berhenti. Menghentikan segala memori tentang Kaoru yang ada di dalam pikiran Kiku saat ini.
"Hey, Kaoru…"
"Hm?"
"Bolehkah aku memelukmu untuk saat ini saja? Ini harus jadi saat terakhirku untuk mengingatmu sebagai orang yang kucintai… sebagai kekasih."
"Kiku, aku-"
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Kaoru. Aku tahu kau dan Meimei memang saling mencintai dan aku juga tidak ingin mempermainkan Gilbert, Arthur dan Alfred. Jadi… boleh kan?"
"Hm, boleh…"
Kiku mendekatkan tubuhnya ke Kaoru dan memeluknya hangat. Pelukan yang penuh dengan kasih sayang antara keluarga. Ya, Kiku sadar ini semua harus dia lepaskan agar semua orang bahagia. Ia tetap memeluk Kaoru sampai akhirnya terbawa oleh mimpinya sendiri…
.
.
To be continue
.
Omake
[1] Jingshu… sebenernya sih spoiler buat fanfic AsaKiku buatan Sei yang masih dalam proses, dan ga tau kapan selesainya. Soalnya yang buat cuma ngetik pas lagi galau-galaunya…
[2]ano… berhubung nggak tahu human name-nya Hongkong akhirnya memutuskan memakai nama Kaoru (itu juga dapet dari Hetalia-wiki. Dan masih bingung itu cuma fans yang kasih nama atau memang sudah dari sananya…
.
JEPRET JPRET JPRET
"Yak! Bagus! Seperti itu Kiku, Kaoru! Heyaaaa!" teriak Elisabeta dari luar kamar Kiku.
"Tenang Elisabeta, nanti mereka dengar."
"Santai, Mei. Gini-gini saya ahlinya, loh!" kata Elisabeta sambil ngacungin jempol. "Ngomong-ngomong, kau tahu dari mana soal perasaan Kiku ke Kaoru?"
"Dari pertama kali bertemu mereka. Kiku sangat polos, sehingga pikirannya mudah sekali terbaca."
"Lalu, kau tidak marah dengan hal itu?"
"Mengapa harus marah? Tak mungkin kan aku harus melewatkan sesuatu yang berhubungan dengan yaoi? Apalagi itu dialami oleh tunanganku sendiri!" kata Meimei semangat.
"Ternyata kau memang teman seperjuangan fujoshi-ku yang terbaik, Mei! Aku salut!" Elisabeta menepuk pundak Meimei sambil mengacungkan jempolnya. Dan mereka pun tertawa bersama…
.
.
Balasan review~
Rachigekusa: Chi~ makasih reviewnya, ahahaha... saya tak bermaksud membuat anda sakit jantung kok, dan soal Sidiq itu... ehm... lihat saja dichapter kedepannya~
Nih sudah saya Update~
sasutennaru : makasih reviewnya~ memang sangking imutnya Kiku kita mau jadiin dia uke buat semua seme yang ada~ hohoho
Ayano ezakiya : makasih reviewnya, ahahha... saya juga awalnya nggak nyangka bakal bikin ore-sama di pairing-in ama Kiku, hohoho...
Buat chapter depan kita bakal buat semua nation ikut berpartisipasi, entah jadi penyanyi, model atau apa pun... jadi tunggu kelanjutannya ya~
Naoto4Shirogane : penantian anda dengan duduk manis tidak sia-sia Naoto-san. Ahahaha... saya sudah Update lagi~
Misya evangeline : makashi reviewnya Misya, itu membuat kami bersemangat! Kami sangat senang Misya menikmati fanfic buatan kami, jadi tunggu kelanjutannya ya~ *ngarep*
Yukiyuki : ya memang kami akan menapilkan pair PruCan, tapi tidak dichapter ini, kami sudah membuat jadwal tersendiri soal itu. Jadi mohon maaf jika tidak ada dichapter ini atau depen...
Kaena kami mencoba bersikap adil, sehingga semua mendapat giliran masing-masing, tapi kalau soal pairing PruCan pasti nanti akan kami keluarkan. Makasih buat reviewnya~ XD
.
Sei : Terima kasih buat reviewnya!
Enma : Ya~ dan… gila! Ga nyangka gue bakal bikin ada HKxJapan!
Sei : Ya, ya…
Enma : Dan lagi ada sisipan straight HKxTaiwan-nya! Yah, ini memang demi berlanjutnya cerita sih…
Sei : Gue mau ada USUK! Lagi demen gue!
Enma : Kalo gitu bikin gih di chapter depan *ngusir* gue lagi pengen buat adegan cinta terlarang antar sepupu
Sei : Pokoknya gue mau USUK! USUK, USUK USUK!
Enma : Jah. Btw, kenapa lo ngasih judul nih chapter 'How I Meet Your Brother, Not Your Mother'?
Sei : Oh itu gara-gara gw lagi demen nonton How I Meet Your Mother ama Bones~ ahahahaha… *ketawa-ketawa girang*
Enma : *sweetdrop* Oya, buat chapter mendatang, Sei yang bakal ngetik! Dan itu artinya, pekerjaan saya berkurang! *bersorak-sorai*
Sei : *noleh* USUK! Ahahahaha!
Enma : Terserah kau lah…
Sei : Ahahahaha! Aku padamu Inspektur! *natep foto inspektur utama Bones*
Enma : Tolong abaikan anak ini. Dan akhir kata, sampai jumpa di chapter depan~ don't forget to RnR! ^^
Sei : BYE!
