Sinopsis

SMA Pulau Rintis. Sebuah sekolah di kawasan Pulau Rintis di kota yang tak begitu dikenal. Hanya beberapa penduduk lokal, dan sedikit pindahan dari kota yang mau bersekolah disana. Membosankan. Tidak menarik. Dan beberapa pembullyan muncul disekolah yang tak begitu dikenal. Hanya ada hela nafas, dan kehidupan monoton para siswa kota hujan.

Namun bagaimana jika keadaan itu berputar dengan datangnya ketiga siswa tanpa cela, dan kecerdasan diatas rata-rata? Jangan tanyakan tentang wajah. Mereka terlalu sempurna. Seperti mimpi saja. Inilah sebuah cerita. Sebuah kisah klasik, dimana semua orang jatuh cinta kepada ke tiga pangeran sekolah.

Warning : Tulisan kacau, kebudayaan kacau, dan kesalahan-kesalahan lain yang bisa ditulis bakal panjang kali lebar.

Bab 1 Part 2 : BoBoiBoy Taufan

Kesenangan adalah yang utama. Tentu saja, untuk Taufan yang menggunakan kesenangan sebagai sumber kekuatan utama. Kesenangan bukan lagi keinginan. Namun sebuah kebutuhan yang setara dengan udara untuk bernafas. Karena itulah dia selalu risih melihat kakaknya yang memiliki wajah cemberut permanen. Ingin rasanya dia menata ulang wajah itu. Memilin bibirnya agar tertarik untuk membentuk senyum. Tapi tentu saja, dia tak pernah bisa melakukannya.

Sekolah adalah satu dari segala hal yang menurutnya membosankan. Pelajarannya sulit. Tapi ada beberapa yang dia sukai. Dia kan saudaranya tidak sekolah satu atau dua kali. Mereka selalu keluar masuk sekolah, setiap mereka pindah wilayah. Namun semembosankan apapun itu sekolah, dia harus tetap memiliki kesenangan. Dan kencan adalah salah satunya.

Taufan bersiul pelan. Menatap kumpulan cewe manis yang mengintip dari jendela. Beberapa cowo yang geram dengan kedatangan mereka. Mungkin cemburu. Dan pemkiran itu membuat Taufan terkikik geli. Seperti kata Gempa. Dia menyukainya. Cewe-cewe disini manis-manis. Kulit pucat, karena kurangnya matahari. Dan beberapa atletik. Khas manusia kota hujan.

"Kau tahu Halilintar?" Halilintar mendelik kesal. Menatap Taufan yang buka suara di koridor menuju ruang guru. "Mereka kelihatan enak." Yang dibalas dengan sikutan di ulu hati oleh Gempa ketika Taufan menjilat bibirnya sendiri. "Ouch ..."

"Jaga perilakumu, Taufan." Desisnya.

"Oke deh." Taufan mengangkat bahu acuh. Agak bersyukur karena yang menyikut ulunya itu Gempa. Karena jika itu Halilintar, dia tak yakin bisa melanjutkan perjalanan. Tenaga Halilintar itu gila, jika kau mau tahu. Dan Taufan berani bertaruh, Halilintar akan menambahkan listrik dalam sikutan itu.

Lagi-lagi matanya menggerayangi kelas-kelas. Yang kemudian menemukan gadis pink di depan ruang guru. Membawa setumpuk buku. Dan dengan gentle dia mendahului saudaranya dan mengambil alih tumpukan buku. Memberi kedipan kecil padanya, berharap respons manis dari cewe itu.

"Taufan?!" Gempa memperingatkan. Sementara Taufan mengacuhkannya.

Dilihatnya penampilan, hijab pink. Jaket pink. Mata senada. Tubuh tinggi semampai. Wajah yang anggun namun cukup keras. Dahi berkerut cukup kesal. Hidung kecil yang mancung, minta ditarik. Pipi cubby. Uh ... dia modis. Tipikal anak orang kaya, dengan jeans semata kaki. Mungkin anak yang sering ditinggal orang tuanya. Kelihatan dewasa soalnya. Dan Taufan yakin gadis ini masih 17 tahun, atau bahkan kurang.

"Aku siap membantu nona." Taufan membungkuk layaknya pangeran dari negeri dongeng. Memberikan senyum terbaiknya. Meskipun cewe itu Cuma memandang datar.

Cewe itu mendesah, mengambil catatan ditumpukan buku yang dibawa Taufan dan membacanya teliti. "BoBoiBoy bersaudara." Katanya membuat Taufan dan yang lain berjengit kaget. Sedangkan Gempa sudah tepaku menatap gadis itu tanpa berkedip. Taufan bingung, ada apa dengan adiknya? Jika dia haus sekarang, sepertinya nggak mungkin deh. Gempa yang paling 'bersih' diantara mereka semua. Berterimakasihlah pada sikap tak tegaan milik Gempa, yang tidak dipunyai kedua saudaranya. "Aku sudah memperkirakan salah satu dari kalian akan bersikap seperti ini. Tapi maaf, Taufan ... aku benar kan? Aku bukan seperti cewe lain yang akan terpesona melihatmu tebar pesona. Tapi jika kau berkenan membawakan itu. Aku akan berterimakasih."

Taufan mengerjap. Ini cewe pertama yang bersikap begitu padanya. Bahkan semasa dia menjadi manusia, dia sudah terbiasa dengan respon manis cewe yang digombali. Apa lagi sampai membantu seperti ini. Halilintar tertawa dalam diam. Membuat Taufan melempar tatapan jengkel padanya. Meski dia tahu Halilintar jarang tertawa, tapi sekalinya tertawa itu menyakitkan. Karena itu akan terjadi jika Taufan dipermalukan. Cihh ...

"Jadi kenapa kau didepan ruang guru?" Gempa mengambil perhatian si cewe pink. Sedikit gugup meski tertutup sempurna dengan sifat kalemnya. Bahkan Taufan cukup kesulitan untuk memilah ekspresi yang dia punya. Baik Halilintar maupun Gempa, sama-sama hebat menyembunyikan ekspresi mereka. Berbeda dengannya yang langsung menguarkan segala perasaan dalam ekspresinya. Jadi jangan salahkan dia jika sering keceplosan. "Oh dan maaf, siapa namamu?"

"Kau pasti BoBoiBoy Gempa, dan ini Halilintar." Katanya. Menunjuk Gempa dan Halilintar bergantian. Gempa mengangguk, sedangkan Halilintar menurukan topinya lebih rendah. "Aku Yaya. Ketua OSIS. Aku diminta untuk mengantar kalian kekelas masing-masing. Aku dan Halilintar ada di 2 A, Taufan di 2 C, dan Gempa 2 B. Aku akan menjelaskannya sambil jalan."

Halilintar mendengus. Sedikit tak nyaman mendapati cewe pink didepannya itu sebagai teman sekelasnya. Taufan terkikik geli. Kakaknya memang antisosial tingkat akut. Jadi tidak heran mendapati cewe galak, namun ramah dan kelihatannya bakal sering mengganggunya jadi teman sekelasnya. Hell no ... Taufan tahu betul Halilintar suka sendirian.

Dengan 5 buku tebal yang dibawanya, Taufan berjalan mengikuti mereka di barisan paling belakang. Berjalan dengan gaya sok keren, tidak mau turun harga diri meski membawa setumpuk buku. Taufan aukui dia badboy. Suka kencan sana sini. Paling susah mengontrol diri. Tak heran jika dia yang paling buas diantara mereka bertiga. Taufan tahu Halilintar melewati masalalu yang bahkan dia sembunyikan dari keuda adiknya. Mungkin suram. Bisa jadi Halilintar lebih buas darinya, dulu. Tapi yang pasti adalah sekarang. Taufan lah yang paling buas. Taufanlah yang paling sering membawa masalah. Bahkan kemarin Taufan hampir memangsa seorang gadis yang terjatuh ditempat yang salah, dan waktu yang salah. Hanya karena darahnya terlampau menggoda untuk dicicipi.

Taufan yang berdiri di salah satu atap rumah penduduk setelah kabur dengan alasan jalan-jalan. Sejak sebulan yang lalu mereka sampai disini. Karena Taufan tak tahu tentang tetek bengek pendaftaran sekolah dia hanya bisa diam diri dirumah. Tentu saja dia bosan. Siapa yang tidak bosan jika seorang hiperaktife berdiam diri dirumah? Tentu Taufan akan segera meninggalkan rumah, setelah meletakkan catatan dimeja. Dia yakin kakaknya akan mencari dan menyeretnya pulang. Tapi dia tak peduli.

Ini jalanan yang padat penduduk. Rumah-rumah saling berdempetan, dan hanya dipisahkan oleh sekat lima inchi antar dinding. Taufan menghela nafas. Ini sama membosankannya seperti dirumah. Hujan yang tidak kunjung berhenti membuatnya basah kuyup. Topi miringnya jadi menyebalkan untuk dipakai. Tapi dia enggan untuk melepaskan. Menarik nafas dalam, sebelum terkesiap dengan apa yang dirasakannya. Sebuah darah termanis yang pernah dia cium.

Matanya reflek berubah sewarna langit. Menyapu gang-gang kecil untuk melihat sekeliling. Mencari mangsa yang dengan bodohnya telah mengaktifkan inner buas yang mati-matian di tahannya. Angin bergerak kencang seperti biasa ketika dia kembali lost control. Berputar seperti tinado kecil, dan meyapu dedaunan di sekitarnya. Mulutnya tertarik senang. Menyeringai ketika menemukan apa yang sedari tadi dicarinya. Seorang cewe yang hanya bisa dia lihat samar-samar. Taufan sedikit terkejut, bagaimana darah manusia sejauh hampir 1 blok dari tempatnya berdiri menyapu hidungnya dengan kuat? Apa indra penciumannya terlalu sensitif?

Taufan menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan berbagai pikiran yang menganggungnya. Menjadikannya hanya memiliki satu tujuan, memakan gadis itu. Dia melompat turun. Siap untuk menerjang, dan memakan habis cewe malang yang berada ditempat yang salah, dan waktu yang salah. Sebaiknya salahkan takdir yang membuatnya harus tewas ditangannya. Tewas untuk memenuhi hasrat buasnya. Namun sebelum dia menerjang cewe itu, tangan kokoh menarik jaketnya. Membuatnya tak bisa menjalankan keinginannya, dan malah membuatnya berkeringat dingin.

Pelan-pelan di tolehkannya kepala untuk melihat seseorang yang dengan kasar menghentikan gerakannya. Seseorang yang dia tahu betul siapa itu. Seseorang yang mampu menghentikannya dengan kasar. Siapa lagi jika bukan kakaknya yang pemarah tingkat akut. BoBoiBoy Halilintar.

"Berhenti bersikap bodoh!" Halilintar mendesis. Matanya yang kelam, terasa dingin seperti ular. Membuatnya begidik seperti tikus kecil yang tak bisa kabur dari terkaman sang pemangsa.

Ludah diteguk paksa. Mata Taufan dengan sendirinya kembali kewarna semula. Diikuti dengan angin yang semakin menghilang. Mungkin orang-orang terbangun karena angin yang dibuat Taufan. "Tapi aku lapar, kak." Rengeknya.

Diliriknya cewe tadi. Terlihat linglung, namun kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat. Membuat Taufan mendesah kecewa sekaligus lega. Kecewa karena mangsanya pergi darinya. Dan lega karena ia menang dari pertarungannya dengan inner buasnya. Meski dengan bantuan kakak pemarahnya. Dan dia tahu sebentar lagi hukuman dari kakaknya akan menanti.

"Sudah kukatakan untuk tidak membunuh orang." Taufan memekik ketika Halilintar menariknya paksa. Membawanya pulang dengan kecepatan diatas rata-rata. Dengan sedikit kepayahan Taufan mengangkat dirinya. Tidak ingin diseret ditanah dengan kecepatan setara cahaya. Kakaknya memang gila. Taufan mengakui itu, meski dia takkan mampu mengatakannya secara langsung. Dia masih menyayangi nyawanya.

Pintu rumah ditendang keras. Menimbulkan bunyi berdebum kencang, dan membuat Taufan meringis pelan. Kakaknya sedang marah. Ingatkan Taufan untuk meminta maaf pada engsel pintu yang menjadi korban. Taufan kembali memekik, saat Halilintar melemparnya kedalam seperti boneka yang tak lagi dipakai. Membuatnya meluncur mulus dan berhenti setelah menabrak meja yang membuat kaki-kakinya patah, sebelum punggungnya mencium dinding. Taufan mengerang. Bangkit berdiri, dan menatap Gempa dengan mata berkaca-kaca. Karena dia takkan menang jika menatap bengis Halilintar. Kemampuan bertarung Halilintar sama sekali tak bisa dibandingkan dengannya apalagi Gempa.

Gempa meletakkan bukunya. Menghela nafas, dan menatap Taufan yang membuatnya sedikit girang. Gempa pasti membantunya lepas dari hukuman mengerikan Halilintar. Gempa mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa? Membunuh orang lagi eh?"

Taufan mengangguk. Seperti anak kucing yang patuh pada majikan. Minta belas kasihan dari pada dilemparkan pada anjing mengerikan yang dinamakan Halilintar. "Habis darahnya manis." Rajuknya, yang kemudian berjengit ketika merasakan tatapan menusuk dari Halilintar.

Gempa menghela nafas. Mengambil kantung darah yang belum diminumnya. Kemudian melemparkannya pada Taufan. Taufan menangkapnya dengan mudah. Segera menyesap isinya hingga habis tak tersisa dalam satu tegukan. Taufan menyerngit. Rasanya jadi hambar. Darah pendonor yang sudah lama diambil. Tak cukup segar, sehingga dia tak cukup puas. Ini adalah darah yang dibeli atau dicurinya dari rumah sakit-rumah sakit. Satu dari pilihan lain agar mereka tak membunuh orang. Meski Taufan lebih memilih darah ini dari pada darah binatang. Tapi setelah merasakan bau darah gadis itu yang begitu nikmat. Taufan tak bisa cukup hanya meminum darah pendonor.

Halilintar melenggang pergi kekamarnya. Membuat Gempa maupun Taufan menyerngit heran. Sebegitu marahnya kah Halilintar? Tumben dia tidak menghukum Taufan langsung. "Kau mau Halilintar?" "Tidak."

"Dinginnya..." Gumam Taufan. Menatap Halilintar yang masih berjalan kekamarnya. Dan tersentak ketika pintu kamar kakaknya ditutup kencang. "Dia beneran marah?"

"Jangan terlalu menggodanya, Taufan." Gempa terkekeh. Membantu Taufan berdiri, dan kembali membuka buku yang tadi dilupakannya. Taufan menyerngit, lalu tersenyum lebar dan mengoceh. "Darahnya sangat manis, bung. Aku tak bisa menahan diriku."

Gempa mendengus. "Jalankan kesepakatan kita dengan baik Taufan." Tegurnya. "Kau ingin pindah lagi?"

Taufan mengangkat bahu. "Tidak." "Apalagi setelah kita baru sampai."

Gempa terkekeh, "Tidur sana!" perintahnya. Yang kemudian meninggalkan Taufan untuk menuju kekamarnya. Menatap pintu sebentar, kemudian mengangkat bahu. Taufan tahu apa yang dipikirkan Gempa sekarang. Pintu itu tak bisa ditutup lagi. Dan Taufan hanya terkekeh bila mengingatnya.

Gempa menyikut ulunya lagi. Memberinya peringatan tersirat. Taufan hanya terkekeh, menjulurkan lidahnya. Dan membuat Gempa mendengus. Taufan tak tahu apa saja yang diceritakan Yaya sepanjang koridor. Dia terlalu banyak melamun. Namun ia segera tahu ketika melihat papan nama 2B di atas pintu kelas yang hampir dilaluinya. Di ujung koridor dekat dengan tangga. Sedikit tidak menyenangkan, tapi jika melihat kelas lain, munkin ini lebih baik. Dilantai 2 dekat dengan studio music. Dan Taufan akan dengan senang hati menghabiskan jam makan siang didalam sana. Karena dia tidak makan.

"Taufan ini kelasmu."Katanya, kembali mengambil alih buku yang dibawa Taufan. Menyerngit pelan, ketika melihat sang guru telah mengajar. "Dan Mr. Burner sepertinya sudah mengajar. Masuklah! Yang lain ikut denganku!"

Taufan tak sempat memprotes, karena Gempa kembali memperingatkannya. Mengucapkan kata 'Jaga sikapmu' tanpa suara. Sedangkan Halilintar hanya mendengus kesal. Mungkin dia cukup bosan. Taufan tersenyum lebar. Membungkuk seperti pangeran abad 19, sebelum mendapat peringatan jelas dari Halilintar. Kebiasaannya sebagai cowo gentle abad 19 kembali. "Kau 100 tahun terlalu muda untuk melakukan gerakan itu, Taufan."

Taufan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal gugup. "Aku suka film yang berlatar di tahun itu, madam. Maafkan aku."

Yaya mendengus. Membuat Taufan kembali sadar dia keceplosan memanggil gadis didepannya dengan madam. Namun segera berbalik, dan meninggalkan mereka bertiga untuk masuk kelas. Setelah mendapat peringatan dari Halilintar, dan Gempa. Uhh... Hati ini mungkin cukup berat untuknya. Dan dia berharap untuk tidak keceplosan lagi nanti.

To Be Continued

AN : Author Ngebacot :v

Yuhuuuuu ... selamat datang di Secret World part. 3 :v dengan sudut pandang dari Taufan. Dan dengan ini Remake Chapter 1 tuntas. Berjalan ke chapter 2 nanti. Fufufufu... aku bingung ini gaya bahasanya kenapa campur aduk sih. Grrrrr... disini Taufan lebih kutojolin sebagai BadBoy. Maaf penggemar Taufan san. #DihajarPenggemarTaufan

Oh dan dan dan ... kufikir ini akan jadi panjaaaang :v karena Secret world yang dulu itu alurnya agak kucepetin tapi 11 chapter belum selesai. Lah ini bagimana? #OkeCukupCurhatnya

Terimakasih telah membaca mereview memfollow memfavorid.

Review tetap menjadi kebutuhan untuk Arin agar bisa berkembang.

See you next chapteeeer ^^