JEJU AFFAIR - CHAPTER 3.
Author: gachihae.
Genre: Drama, Romance, Crime.
Cast: Park Chanyeol, Oh Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Yoon Ahra(OC), all member Red Velvet.
Rated: M.
Warning: boyslove, boy x boy, yaoi, mature content, little criminal content, tidak untuk ditiru, alur kecepetan, typo(s).
Disclaimer: cast punya sment dan keluarganya, cerita punya saya, jika ada kesamaan adegan itu merupakan ketidaksengajaan, saya hanya pinjam nama.
Summary: "Park Chanyeol memanfaatkan Sehun yang merupakan sekretaris Wu Corp untuk menjatuhkan Wu Yifan dan Oh Sehun yang sudah muak dengan semua ini, akankah ia berkhianat? atau memihak?"
.
.
.
.
.
.
.
.
DONT LIKE DONT READ
.
.
.
.
.
.
.
.
DONT COPAS DONT PLAGIAT
.
.
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa Tuan yakin akan melakukan ini? Dana ini akan menjadi ilegal dan sangat berbahaya jika kita sampai ketahuan." ujar seorang berseragam kepada sang Tuan yang duduk membelakanginya dikursi kebesarannya.
"Kita sudah melakukan ini sejak 7 tahun lalu yang bahkan sampai sekarang belum ada yang bisa mencium keberadaan kita. Aku tidak akan ragu, kau konfirmasi pemesanannya dan besok aku akan transfer uangnya." ujar sang Tuan memerintah anak buahnya itu.
"Apa kau yakin dengan sekretarismu itu? Apa dia memihak pada kita?" ujar orang berseragam itu lagi, ia tampak ragu dengan rencana Tuan nya kali ini. Pasalnya membangun kerja sama dengan Black Stone itu tidak mudah, akan sulit keluar dari sana jika kau sudah bersedia untuk terlibat.
"Aku yang membayarnya, dia hanya anak dari keluarga biasa dan dia bekerja padaku. Kau tenang saja, awasi segala hal dan ikuti perintahku." ujar sang Tuan memutar kursinya menghadap anak buahnya.
"Baiklah Tuan Wu." orang berseragam itu membungkukkan badannya memberi hormat sebelum pergi meninggalkan atasannya, dan mulai melaksanakan tugasnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mobil yang dikendarai Chanyeol melaju meninggalkan kedai ramen itu, Sehun yang duduk disebelahnya seperti orang tidak bersalah yang melupakan begitu saja kejadian didepan kedai ramen itu.
"Kenapa kau tidak bawa mobil?" ujar Chanyeol memecah keheningan, Sehun langsung menoleh kearah Chanyeol yang juga sedang melihatnya tapi hanya sekilas dan kembali fokus melihat jalanan didepannya.
"Rumahku dekat sini, makanya setiap hari aku berjalan kaki ke kedai ramen itu." Chanyeol yang mendengar jawaban Sehun agak tidak suka, ia tidak bisa membiarkan orang seperti Sehun jalan kaki sendirian ditengah malam. Bagaimana kalau ada orang jahat? Berlebihan.
"Dimana rumahmu?" tanya Chanyeol lagi, ia mengurungkan niatnya yang ingin memarahi Sehun agar tidak keluar malam hanya dengan berjalan kaki tapi tidak jadi.
"Itu... didepan sana kau belok kanan, lalu akan terlihat gedung apartemen ku disisi kiri jalan." ujar Sehun sambil menunjukkan jalan dimana tempatnya tinggal.
Chanyeol terdiam dan fokus menyetir, memang sangat cepat dan sangat dekat. Ia memarkir mobilnya dibasement apartemen Sehun dan mematikan mesin mobilnya tapi keduanya tidak ada yang beranjak dari sana.
Chanyeol melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan dirinya kearah Sehun, jarak wajah mereka sangat dekat. Sehun hanya memandang Chanyeol, memperhatikan apa yang akan dilakukan laki-laki ini.
'Klek...'
Suara sabuk pengaman yang lepas dari kuncinya. Chanyeol menarik dagu Sehun dan mengecup bibirnya sekilas setelah melepas sabuk pengamannya. "Waktunya turun tuan putri." ujar Chanyeol.
Ia langsung keluar dari mobilnya, berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Sehun kemudian membuka kursi penumpang dan mengambil kantung berisi soju dan ramen yang tadi ia pesan.
Sehun keluar dari mobil dan menatap kearah Chanyeol. "Apa aku harus membantu?" ujar Sehun kembali mengingat kejadian didepan kedai ramen tadi.
Chanyeol mendekatkan wajahnya kearah Sehun dan mengecup bibirnya lagi. "Aku tidak ingin melukai jari tangan mu." ujar Chanyeol dengan smirk dibibirnya dan nada mengejek dari kalimatnya. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Sehun.
"Apa apaan dia itu." Sehun yang diledek hanya bisa memanyunkan bibirnya dan terus menggerutu sepanjang jalan, ia berlari menyusul Chanyeol yang sudah lumayan jauh.
Mereka menaiki lift yang terdapat dibasement apartemen itu, Sehun menekan angka 3 yang akan mengantarkan mereka menuju lantai 3.
Chanyeol yang melihat Sehun masih ngambek dengan kejadian tadi berniat untuk semakin menggodanya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun, sampai-sampai Sehun bisa merasakan hembusan nafas Chanyeol dipipinya.
"Wae?" bentak Sehun ketus, pasalnya ia kesal dipandang terus seperti itu. Wajahnya jadi makin merona karena ulah Chanyeol.
"Kau lucu saat sedang kesal." ujar Chanyeol seraya mengecup pipi Sehun dan kembali menegakkan badannya seperti semula.
"Ck." Sehun berdecak kesal karenanya. "Berhenti menciumku." ujar Sehun, ia menyilangkan tangannya didepan dada tanda ia benar-benar marah.
"Sayangnya tidak bisa." ujar Chanyeol sambil mengecup pipi Sehun sekali lagi, ia tertawa puas karena berhasil menggoda Sehun.
'Ting...'
Pintu lift itu terbuka dan Sehun buru-buru langsung keluar dari sana. Wajahnya benar-benar merah antara kesal dan senang karena Chanyeol terus menciumnya. Chanyeol hanya bisa mengekori Sehun dan ia berhenti didepan pintu kamar bernomor 216.
Sehun mengetikkan kata sandi untuk membuka kunci rumahnya. "Beritahu aku berapa kodenya?" ujar Chanyeol dari belakang Sehun. Itu akan memudahkannya jika akan berkunjung kesana nanti.
'Klik...'
Pintunya terbuka dan Sehun berjalan kedalam apartemennya diikuti Chanyeol dibelakangnya. "Cari tahu saja sendiri." ujar Sehun ketus, ia masih kesal dengan Chanyeol.
"Baiklah, aku akan mencaritahunya." ujar Chanyeol, ia berjalan menuju meja diruang tengah apartemen Sehun. Terdapat satu buah sofa, meja panjang dan televisi didepannya.
Ruangan ini sederhana tapi entah kenapa Chanyeol nyaman melihatnya, ia meletakkan kantong itu diatas meja dan berjalan kedapur untuk mengambil gelas dan mangkuk.
"Kau tinggal sendiri?" tanya Chanyeol, pasalnya rumah ini sangat sepi dan Chanyeol tidak melihat siapapun selain Sehun dan dirinya sekarang.
"Iya, orangtua ku tinggal di Jepang." ujar Sehun, ia membuka lemari tempat menyimpan mangkuk dan gelas, mengambilnya dan membawanya keruang tengah. Chanyeol yang melihat Sehun sudah membawanya kembali keruang tengah.
Ia hanya bisa memperhatikan Sehun yang sedang mempersiapkan makanan untuk mereka. "Kau cocok jadi seorang istri." ujar Chanyeol, ia mengambil tempat duduk diseberang meja sehingga berhadapan dengan Sehun.
"Mana ada laki-laki menjadi seorang istri." ujar Sehun sambil meletakkan ramen telur milik Chanyeol dihadapan sang empunya. Ia mengeluarkan 6 botol soju itu dan menatanya diatas meja.
"Ada, buktinya kau yang akan menjadi istriku nanti." Chanyeol melepas topinya dan menaruhnya diatas meja, ia merapihkan sebentar rambutnya, mengambil sumpit dan mulai menyuap ramen itu kedalam mulutnya.
"Rasanya aku ingin menjambak rambut merahmu itu." ujar Sehun kesal, ia membuka satu botol soju dan menenggaknya hingga tinggal setengah untuk melampiaskan kekesalannya.
"Tentu saja kau akan menjambaknya, sebaiknya isi dulu tenagamu sebelum menjambak rambutku." ujar Chanyeol, ia menunjuk ramen Sehun dengan sumpitnya yang mulai dingin karena hanya didiamkan oleh sang empunya.
Sehun mulai memakan ramennya dengan cepat dan ia benar-benar berpikir untuk menjambak rambut Chanyeol setelah ini. Tapi apa yang ada diotak Sehun dengan Chanyeol itu beda maksud.
"Makan pelan-pelan Sehun, nanti kau akan tersedak jika seperti itu." Sehun menghentikan acara makannya, ia mengambil botol soju yang tadi dan menghabiskannya, membuat pipinya merona karena efek soju tapi ia masih sadar sepenuhnya.
"Aku sudah selesai. Bisakah sekarang aku menjambak rambutmu?" ujar Sehun dengan senyum yang dibuat-buat. Chanyeol hanya bisa tertawa melihatnya.
"Sabar sayang, kita bahkan belum memulainya." Chanyeol ikut menghentikan acara makannya dan menyingkirkan mangkuk ramennya dan Sehun dari hadapan mereka.
"Bicara apa sih? Aku tidak mengerti?" Sehun seperti sudah hampir kehilangan kesadarannya akibat satu botol soju yang diminumnya secara brutal. Tetapi walaupun ia mabuk, Sehun termasuk orang yang masih bisa mengendalikan dirinya dan mengingat segala kejadian yang terjadi walaupun ia sedang mabuk.
Pipinya memerah dan pandangannya berubah sayu, Chanyeol yang melihat itu berusaha mati-matian menahan hasratnya karena ini baru awal dari permainannya.
"Ayo kita taruhan, siapa yang bisa menghabiskan soju paling banyak tanpa mabuk, dia yang akan menang." Chanyeol menyunggingkan smirknya dan mengulurkan tangannya kehadapan Sehun tanda sebagai perjanjian mereka.
Sehun tertawa mendengarnya. "Siapa takut?" ujarnya seraya menjabat tangan Chanyeol dan mulai mengeluarkan senyum nakalnya. Sekarang ia tahu kemana arah pembicaraan Chanyeol.
Sehun berjalan kedapur, ia mengambil delapan gelas dan menaruhnya diatas meja, empat untuknya dan empat lagi untuk Chanyeol. Setelah menaruh gelas itu Sehun tidak langsung duduk melainkan membuka hoodie Chanyeol yang masih dipakainya.
Sengaja membuat gerakan menggoda saat membukanya untuk menarik perhatian Chanyeol, bahkan saat Sehun membuka hoodie itu membuat kemeja putih yang dikenakannya ikut terangkat memperlihatkan perut datarnya dan pinggul rampingnya. Setelah berhasil membukanya Sehun menaruhnya diatas sofa dibelakangnya dan kembali duduk dihadapan Chanyeol.
Sehun membuka dua kancing kemejanya dan berakting seolah ia kepanasan walaupun tubuhnya benar-benar berkeringat. "Panas sekali." ujar Sehun seraya mengibaskan tangannya didepan lehernya menarik perhatian Chanyeol untuk menatapnya.
Chanyeol semakin menunjukkan seringaiannya. Ia tidak berdiri dari duduknya tapi ingin membalas Sehun, Chanyeol memposisikan badannya setengah berdiri dengan bertumpu pada lututnya.
Ia membuka kaos tanpa lengannya dengan gerakan manly yang membuat Sehun mampu menggigit bibir bawahnya karena ia benar-benar melihat Chanyeol topless sekarang.
Chanyeol melempar kaosnya kearah sofa dibelakang Sehun. "Kau benar, suasana disini panas sekali." ujar Chanyeol dengan suara beratnya sarat akan nafsu yang kemudian kembali duduk dihadapan Sehun.
Sehun menyimpan poninya dibelakang telinganya, mulai membuka semua botol soju itu dan menuangkannya kedalam gelas, tersisa satu botol soju yang sudah tidak mampu lagi ditampung oleh delapan gelas yang dibawa Sehun.
"Karena kau tadi sudah meminum satu gelas maka aku juga akan meminumnya, jadi kita impas." ujar Chanyeol mengambil satu botol yang tersisa dan menenggaknya tanpa berhenti dalam satu tegukan.
Chanyeol bukan tipe orang yang mudah mabuk apalagi hanya dengan soju seperti ini, Sehun memperhatikan Chanyeol ketika ia meminum sojunya. Bagaimana gerak jakunnya yang naik turun dan pandangan Sehun semakin turun tertuju pada abs Chanyeol yang terbentuk sempurna. Membuat Sehun tidak tahan ingin mengelusnya.
Melihat Chanyeol sudah selesai dengan sojunya dan menaruh botol kosong itu dimeja, Sehun bergerak untuk memulai permainan mereka. "Baiklah kalau begitu, kita mulai sekarang." ujar Sehun.
Keduanya langsung berlomba menghabiskan empat gelas besar berisi soju dihadapan mereka, saat Chanyeol sampai digelas terakhir dan Sehun sampai digelas ketiganya tiba-tiba ia tersedak dan menyemburkan soju itu kearah Chanyeol.
Sehun terbatuk karenanya, ia yang melihat dada Chanyeol basah karena semburan sojunya langsung berlari mengambil tissue yang berada dimeja dapur dan kembali keruang tengah.
Ia berjalan menghampiri Chanyeol, baru ingin mendudukkan diri disamping Chanyeol tapi ia langsung ditarik hingga terjatuh dipangkuan Chanyeol, Sehun terdiam dibuatnya.
Chanyeol mengambil tissue yang berada ditangan Sehun dan menaruh tempatnya diatas meja. "Bukannya tadi aku sudah bilang untuk pelan-pelan? Jadi tersedak seperti ini kan." ujar Chanyeol seraya mengelap bibir dan dagu Sehun yang terkena tumpahan soju tadi.
Ia membuang bekas tissuenya begitu saja, ketika Chanyeol tak sengaja melihat ada soju yang mengalir dileher Sehun ia langsung melingkarkan tangannya dipinggang Sehun, menariknya lebih dekat dan menjilat tumpahan soju yang mengalir dileher Sehun.
Sehun yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan desahan karena lidah panas Chanyeol yang bergerak disekitar leher dan tulang selangkanya.
Chanyeol menarik kepalanya untuk melihat bagaimana ekspresi wajah Sehun sekarang, matanya sayu dan pipinya merona parah. Chanyeol sudah bersiap untuk menerkamnya tetapi ia menahannya, ia ingin Sehun yang memulainya lebih dulu.
Merasa ditatap seperti itu Sehun mengalihkan pandangannya, ia mengambil tissue diatas meja itu dan mulai mengelap dada bidang Chanyeol secara pelahan.
"Maaf." ujar Sehun mengelap area yang terkena soju hingga bersih dan membuang tissuenya begitu saja, ia memanyunkan bibirnya dan memainkan jari lentiknya menelusuri abs Chanyeol.
"Maafkan aku?" ujar Sehun merajuk, karena Chanyeol hanya diam saja tanpa ekspresi, sejujurnya Chanyeol sedang menahan dirinya. Ia hanya memasang tampang datarnya seolah ia marah kepada Sehun.
Sehun mengalungkan tangannya dileher Chanyeol ia mendekatkan wajahnya. "Oppa~ mian~" ujar Sehun tepat didepan bibir Chanyeol dengan suara sengaunya sengaja memanggilnya 'oppa' hanya untuk menggodanya dan ia masih memanyunkan bibirnya.
Kesabaran Chanyeol benar-benar sudah habis, ia menangkup pipi Sehun dan mencium bibirnya, tidak ada lagi kata lembut. Chanyeol menghisap bibir Sehun melahapnya habis, tidak membiarkan Sehun membalasnya sedikitpun, ia benar-benar menguasai permainannya.
Sehun meremas rambut belakang Chanyeol melampiaskan perasaannya. "Nghh." Sehun mendesah karena Chanyeol menggigit bibirnya, ia membuka mulutnya membiarkan Chanyeol menelusuri rongga mulutnya, menekan lidahnya dan melilitnya.
Tangan Chanyeol tidak tinggal diam, ia mulai memasuki kemeja Sehun meraba perutnya. Chanyeol dibuat terlena dengan kelembutan perut Sehun, benar-benar halus seperti kulit bayi.
Chanyeol melepas ciumannya menyisakan benang saliva diantara bibir mereka, wajah Sehun sudah merah sepenuhnya. Ia hanya bisa menatap Chanyeol dengan mata sayunya.
"Anak nakal itu harus dihukum." ujar Chanyeol dengan suara beratnya, Sehun kembali memajukan bibirnya yang sudah bengkak dan mengkilat itu.
"Hukum aku oppa~" ujar Sehun dengan aksen nakalnya, ia mengelus dada Chanyeol turun hingga absnya lalu semakin turun keatas gundukan dibalik celana Chanyeol yang sudah mengeras itu.
Chanyeol mendekatkan wajahnya ketelinga Sehun. "Dimana kamarmu sayang?" bisik Chanyeol kemudian mengecupi telinga Sehun lalu turun ke lehernya.
"Dibelakangku~" ujar Sehun memeluk leher Chanyeol dan melingkarkan kaki dipinggangnya, Chanyeol menggendong Sehun seperti koala, ia berjalan kearah kamar Sehun.
Bibirnya masih menciumi leher Sehun, tangannya yang menangkup pantat Sehun sebagai tumpuan agar Sehun tidak terjatuh dari gendongannya juga tidak bisa tinggal diam, ia mulai meremas-remas pantat berisi milik Sehun itu.
Sehun membantu Chanyeol membuka pintu kamarnya, mereka memasuki kamar Sehun dan Chanyeol menutupnya dengan kakinya. Ia berjalan kearah kasur Sehun yang langsung meniduri dan menindih Sehun disana.
Chanyeol membuka satu persatu kancing kemeja Sehun sambil terus menciumi tubuhnya, mulai dari dada sampai perutnya. Ketika ia tiba dipangkal perut Sehun, Chanyeol mendongakkan kepalanya keatas.
Menatap Sehun yang sedang menatapnya dengan mata sayunya dan menggigit bibir bawahnya seolah menggoda Chanyeol, Sehun menarik bahu Chanyeol dan membalikkan posisi menjadi ia yang diatas.
Didudukinya perut Chanyeol, ia membuka kemejanya dengan gaya sensual dan melemparnya begitu saja. Chanyeol hanya memperhatikan Sehun, ingin melihat sampai mana aksi anak nakal yang satu ini.
"Keras sekali~" ujar Sehun menelusuri abs Chanyeol dengan jari lentiknya, ia sengaja memindahkan posisi duduknya menjadi diatas kejantanan Chanyeol, menggesekkan pantatnya dengan kejantanan Chanyeol yang sudah mengeras dibawah sana.
"Kau memang benar-benar anak nakal." Chanyeol memasukkan tangannya kedalam celana Sehun dan meremas pantat berisinya itu. "Kau.. benar-benar harus dihukum." lanjut Chanyeol membalikkan posisi kembali diatas Sehun.
"Hukum aku oppa~~" ujar Sehun dengan suara sengaunya, ia sudah sama bernafsunya seperti Chanyeol dan Sehun tahu jika ia tetap menggoda Chanyeol seperti itu ia yakin besok tidak akan selamat.
Tanpa babibu Chanyeol langsung menarik celana Sehun hingga tanggal seluruhnya dan membuangnya begitu saja, serius bahkan juniornya saja sama menggodanya seperti pemiliknya.
Ia mendekatkan kepalanya kewajah Sehun, diraupnya lagi bibir Sehun dihisap dan digigitnya bibir itu seolah akan hilang jika Chanyeol melepasnya barang sedetik saja.
Sehun meremas rambut Chanyeol, ia membalas ciuman Chanyeol membuat lidah mereka saling bertarung didalam mulut Sehun, bertukar saliva walaupun akhirnya tetap Chanyeol yang menguasai ciuman itu.
Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka membiarkan untaian benang saliva menggantung diantara bibir mereka, Chanyeol baru saja ingin menyerang leher Sehun tapi langsung ditahan oleh pemiliknya.
Ditangkupnya kedua pipi Chanyeol. "Hari senin kita rapat sayang~ jangan membuat tanda disana." ujar Sehun memperingati Chanyeol, bisa bahaya kalau sampai dilehernya banyak bercak-bercak merah.
"Maaf baby~ aku hampir melupakannya." ujar Chanyeol dan ia pun langsung merubah haluan serangannya menjadi dada Sehun, ia menautkan jarinya diantara jari Sehun, saling menggenggam diantara kedua sisi kepala Sehun.
Dikecupinya seluruh permukaan dada itu, Chanyeol sangat tidak tahan melihat puting Sehun yang berwarna pink merona, dilahapnya puting itu Chanyeol menggigitnya dengan gemas.
"Yak! Park! ja-jangan digigit nghh~" Sehun menjambak rambut Chanyeol, rasanya seperti seluruh tubuhmu tersengat listrik saat Chanyeol menggigitnya.
Chanyeol yang mendengar itu malah menghisap puting Sehun dengan kencang. Membuat pemiliknya juga berteriak kencang akibat ulahnya "Ouhh Chanyeol mhh~" lenguh Sehun.
Ia menggigit bibir bawahnya menahan desahannya agar tidak terlalu keras, Chanyeol masih saja mengerjai kedua puting pinkish itu dengan mulutnya, ia melihat Sehun yang menggigit bibirnya langsung menghentikan aksinya.
"Jangan digigit sayang, aku ingin mendengar suara indahmu itu." dielusnya bibir Sehun dan dikecupnya, Chanyeol kembali turun ke perut datar Sehun, ia takjub bahkan pinggangnya lebih langsing dibandingkan dengan pinggang wanita kebanyakan.
Chanyeol mengusakkan pipinya keatas kulit perut Sehun, ia suka dengan kelembutan ini tapi ia lebih suka dengan yang berada dibawah perut Sehun. Chanyeol menurunkan kepalanya melewati kejantanan Sehun yang sudah mulai mengeluarkan sedikit precumnya.
Ia menyelipkan tangannya dibalik lutut Sehun, menarik pahanya agar terbuka lebar. Dikecup dan dihisapnya paha dalam Sehun membuatnya meninggalkan banyak tanda diantara keduanya.
Sehun mendorong bahu Chanyeol dan bangkit dari posisi berbaringnya, posisi mereka sekarang menjadi duduk saling berhadapan.
"Kau tidak boleh curang~" Sehun menelusuri dada Chanyeol turun hingga absnya. "Aku suka ini, sangat suka~" ujar Sehun seraya mengecup singkat bibir Chanyeol. Chanyeol hanya bisa memperhatikan apa yang akan dilakukan Sehun selanjutnya.
Ia memainkan jarinya diatas kejantanan Chanyeol yang masih tertutup celana. Dibukanya celana itu secara perlahan, gerakan Sehun benar-benar lambat membuat Chanyeol tidak tahan ia sudah sesak.
Chanyeol bangkit dari duduknya ia turun dari kasur untuk membuka celananya, dilempar begitu saja kesembarang arah. Ia memperhatikan reaksi Sehun, benar-benar diluar dugaan bahkan kejantanan Chanyeol jauh lebih besar daripada milik Sehun.
"Apa yang kau inginkan hm?" ujar Chanyeol ketika ia menaiki kasur Sehun, menghampiri Sehun dan mengelus pipinya. Sehun memasang wajah polosnya tapi kalimatnya sangat jauh dari kata polos.
"Boleh aku memakannya?" ujar Sehun dengan wajah memohon sambil memainkan jarinya diatas dada bidang Chanyeol. Ia bahkan mempoutkan bibirnya seperti anak kecil yang menginginkan permen lolipopnya.
"Tapi aku ingin kita taruhan sayang." ujar Chanyeol mengelus pipi Sehun, dikecupnya bibir itu. "Jika kau bisa membuatku mengeluarkannya hanya dengan mulutmu, aku akan bermain lembut. Tapi, jika kau tidak bisa melakukannya aku akan bermain kasar sayang." Chanyeol membuat peraturan yang sama sekali tidak ada untungnya untuk Sehun.
Sehun tersenyum. "Mari kita lihat." dikecupnya bibir Chanyeol, ia mengecup bahu Chanyeol menggigit dan menghisapnya, meninggalkan tanda disana sebelum memulai permainannya dengan adik Chanyeol dibawah sana.
Chanyeol menyandarkan punggungnya dikepala ranjang, ia memperhatikan gerakan Sehun. Ia bergerak turun kebawah dengan sangat sensual, bahkan ketika kepalanya sudah bertemu dengan milik Chanyeol ia sengaja mengangkat pantatnya agar Chanyeol bisa melihatnya.
Dielusnya kepala kejantanan Chanyeol dengan jari lentiknya yang langsung berdiri tegak merespon Sehun dengan cepat, membuat Sehun senang akan hal itu. Dikecupnya ujung junior Chanyeol dan dijilatnya dengan sensual.
Dimasukkannya kejantanan itu kedalam mulutnya yang bahkan hanya muat setengah, Sehun menggenggam junior Chanyeol yang tidak muat masuk kedalam mulutnya. Ia meremas kejantanan Chanyeol yang tidak masuk kedalam mulutnya yang juga tidak berhenti menghisap dan mengeluar masukkan kejantanan Chanyeol dari dalam mulutnya.
Siapa yang pernah menduga? Chanyeol memang seorang laki-laki dengan birahi yang tinggi, tapi ia bukan orang yang bisa dengan cepat mendapatkan orgasmenya. Chanyeol bahkan tidak mengeluarkan desahannya sama sekali, ia akui mulut Sehun yang paling sempurna tapi kelembutan itu tidak cukup untuknya.
'Plak...'
Ditamparnya pantat Sehun hingga memerah oleh Chanyeol, salahkan kulitnya yang terlalu putih itu. "Hisap yang benar sayang." ujar Chanyeol, tangannya benar-benar tidak bisa diam, dielusnya pantat Sehun dan diremasnya. Ia mengelus lubang berkerut Sehun dengan satu jarinya, hanya mengelusnya pelan tapi efeknya jauh dari kata pelan.
"Mmhhh~" Sehun mendesah dengan mulut yang masih dipenuhi kejantanan Chanyeol membuat sensasi bergetar mengalir dari suara desahannya. "Oh shit!" Chanyeol menarik kepala Sehun.
Ditatapnya Sehun, rambutnya basah karena keringat, matanya sayu karena nafsu, dan bibirnya bengkak karena Chanyeol. Dikecupnya bibir itu "Kau kalah sayang." ujar Chanyeol.
Dibaringkannya tubuh Sehun, Chanyeol memperhatikan tubuh itu dari kaki hingga kepala. Betisnya yang ramping tanpa bulu, pahanya yang halus hingga bokoknya yang sangat berisi itu, dielusnya pinggang Sehun. Bahkan pinggang ini sangat ramping, perutnya datar dengan abs samar, dadanya yang cukup bidang dengan puting pinkish kesukaan Chanyeol, bahunya yang sempit lengannya yang ramping bahkan jari-jarinya juga lentik dan jangan lupakan wajah itu. Wajah yang bisa membuat Chanyeol tegang hanya dengan tatapan sayunya.
Ia hampir tertawa melihat Sehun, bibirnya dimajukan, tangannya disilangkan didepan dada dan wajahnya dipalingkan tidak ingin menatap Chanyeol. Ia kesal karena kalah dari permainan ini dan harus menerima hukuman, padahal tadi ia menghisap kejantanan Chanyeol lebih dari 10 menit bahkan mulutnya sudah kram. Jangan orgasme, precum saja tidak keluar, kejantanannya hanya mengkilat karena saliva Sehun.
"Kau marah padaku?"
"Ani."
"Jangan berbohong sayang." dielusnya pipi Sehun yang sudah merona itu entah karena marah mungkin.
"Lakukan saja sesukamu." ditariknya wajah Chanyeol, diciumnya kasar bibir itu. Sehun melampiaskan kekesalannya lewat ciuman mereka dan Chanyeol sangat merasakan itu.
Chanyeol melepaskan ciuman itu, ia memasukkan kedua jarinya kedalam mulut Sehun yang paham dengan maksudnya dan langsung menghisap jari Chanyeol, dikecupinya Sehun mulai dari leher hingga turun ke bahu, Chanyeol membuat tanda dibahu Sehun kemudian beranjak ke tulang selangka Sehun dan membuat tanda kedua disana.
Chanyeol sibuk membuat tanda disepanjang leher hingga pangkal perutnya sedangkan Sehun sibuk menghisap jari Chanyeol, melumuri jari itu dengan salivanya hingga mengkilat dan licin.
Ia mendekatkan wajahnya ketelinga Sehun. "Sudah berapa kali kau melakukannya?" ujar Chanyeol, ia mengarahkan jarinya yang sudah basah karena saliva itu kebelahan pantat Sehun, dielusnya pintu masuk itu.
"Kau yang pertama." Sehun memejamkan matanya dan memeluk leher Chanyeol, ia menyembunyikan wajahnya dibahu Chanyeol. Ia tidak siap dengan ini, walaupun yang awal hanya jari tapi Sehun itu masih 'perawan' apalagi dengan milik Chanyeol, bahkan ia tidak sanggup membayangkannya.
Chanyeol mengecupi telinga Sehun sambil memasukkan satu jarinya kedalam lubang sempit Sehun, ia merasa jarinya menghilang didalam lubang Sehun benar-benar masih sempit. Sehun makin mengeratkan pelukannya, menahan perih dengan itu.
Dielusnya kepala Sehun bahkan Chanyeol tidak berhenti mencium bahu dan lehernya bergantian untuk menghilangkan rasa sakit yang Sehun rasakan, dirasa Sehun cukup tenang Chanyeol menambah dua jari sekaligus menjadi tiga didalam lubang Sehun.
"Akh!" Sehun mendesah lemah, ia sudah tidak sanggup merasakan ini. Kepalanya terkulai lemas dibahu Chanyeol, ia mulai menggerakkan ketiga jarinya itu membuat Sehun menggigit bahu Chanyeol sebagai pelampiasan rasa sakitnya.
Perlahan cairan itu mulai keluar membasahi jari Chanyeol membuatnya menggerakkan jarinya lebih cepat, Sehun mulai menerima itu. Ia mulai merasakan bagaimana kenikmatan itu untuk pertama kalinya.
"Sshh mhh Ch-Chanyeol~" rintihan Sehun tidak berhenti keluar dari mulutnya, tanpa berhenti menggerakkan jarinya Chanyeol memperhatikan wajah Sehun yang masih memeluk lehernya, sangat dekat.
Rintihannya lemah, tapi tatapannya seolah meminta lebih. Chanyeol mengeluar masukkan jarinya dengan sangat cepat hingga terdengar bunyi 'plok.. plok.. plok..' Sehun meremas rambut Chanyeol, kepalanya terkulai lemas diatas bantal.
Tubuh Sehun mulai bergetar, ketika ia hampir sampai Chanyeol melepas ketiga jarinya dari lubang Sehun, sungguh pemandangan yang indah melihat reaksi tubuh Sehun dan wajahnya membuat Chanyeol ingin mengerjainya terus.
"Park! jangan main-main~" Sehun sungguh kesal dengan itu, ia menjambak rambut Chanyeol dengan sisa tenaganya melampiaskan perasaannya, Sehun benar-benar lemas sekarang.
Chanyeol hanya tertawa melihat Sehun seperti itu, dikecupnya bibir Sehun berkali-kali. Sungguh ia mencintai namjanya ini, ditatapnya Sehun tepat dimatanya. "Aku akan mulai, jika kau merasa sakit pukul aku, gigit aku, cakar aku, lakukan apapun padaku." ujar Chanyeol.
Sehun menggelengkan kepalanya membuat Chanyeol bingung, dipeluknya leher Chanyeol "Jika aku merasa sakit aku akan mencium mu." ujar Sehun mengecup bibir Chanyeol. "Sekarang lakukan." ujarnya dengan tatapan yang meyakinkan membuat Chanyeol membuang rasa ragunya.
'aish! bagaimana bisa aku bersikap kasar jika ia seperti ini' -batin Chanyeol.
Ia mulai mempersiapkan kejantanannya didepan lubang Sehun yang bahkan masih mengkilat karena cairannya sendiri. Chanyeol takut melukainya tapi ia sangat ingin melakukannya. Sehun refleks membuka lebar pahanya dan melingkarkan kakinya dipinggang Chanyeol.
Chanyeol menggesekkan kepala kejantanannya didepan lubang masuk Sehun. "Chanyeol please~" Sehun meremas bahu Chanyeol, mukanya sudah pasrah, ia sudah tidak sanggup digoda lagi seperti itu.
"Maaf baby." Chanyeol mencium bibir Sehun, melumatnya dengan lembut agar perhatian Sehun teralihkan. Perlahan-lahan dibawah sana Chanyeol mulai memasukkan kejantanannya kedalam lubang Sehun.
Asing, itulah yang dirasakan Sehun, perih dan tidak nyaman. Ketika kejantanan Chanyeol sudah masuk setengah tanpa aba-aba ia langsung menekan seluruhnya agar masuk kedalam lubang Sehun.
"Mmm!" Sehun mencakar bahu Chanyeol, teriakannya teredam oleh ciuman mereka. Chanyeol mendiamkannya, ia masih terus melumat bibir Sehun tangannya mengusap pipi itu dan ia melepas ciumannya.
Dikecupnya Sehun berkali-kali hanya untuk memberi kenyamanan agar Sehun tidak merasa sakit. Ditatapnya dalam mata Sehun. "Jika kau merasa tidak nyaman aku tidak akan melanjutkannya." ujar Chanyeol.
"Ani~~" Sehun menggelengkan kepalanya cepat, dipeluknya leher Chanyeol.
"Gerakan sekarang." bisik Sehun ditelinga Chanyeol.
"Jangan salahkan aku jika kau akan terus berteriak." imbuh Chanyeol.
Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya membuat kejantanannya keluar masuk lubang Sehun. "Shit!" Ia hanya bisa mengumpat, ini lubang ternikmat sepanjang masa. Dulu Chanyeol memang pernah mencobanya dengan laki-laki teman kampusnya, tapi tidak ada yang pernah senikmat ini.
Sudah hilang kendali Chanyeol sepenuhnya, ia menghantam lubang Sehun dengan keras hingga membuat tubuh Sehun terlonjak dengan desahan "AH... AH... AH..." disetiap hentakannya. Bahkan ranjang Sehun pun ikut berdecit akibat ulang Chanyeol.
Sehun menggerakkan pinggulnya perlawanan arah dengan Chanyeol, kakinya melingkar dengan erat dipinggang Chanyeol. Sehun sibuk mendesah akibat ulah Chanyeol, dan Chanyeol sibuk menghisap seluruh tubuh Sehun meninggalkan banyak tanda disana.
"Ch-Chanyeol~~ ahhh ku mohonn~"
"Sebentar lagi sayang."
Chanyeol mempercepat gerakan pinggulnya, Sehun merasakan kejantanan Chanyeol penuh dan berkedut didalam sana. Sehun mendongakkan kepalanya ketika ia hampir sampai dan Chanyeol membenamkan wajahnya diperpotongan leher Sehun.
"CHANYEOL!"
"SEHUN!"
Teriakan mereka memenuhi kamar Sehun, ini adalah seks pertama Sehun dan seks terlamanya. Pasalnya ini hampir dua setengah jam dan ia sudah orgasme tiga kali tapi Chanyeol? hanya satu kali.
Mereka berdua sama-sama mengatur nafas, menikmati masa orgasme mereka. Chanyeol bangkit lebih dulu, ia mengeluarkan kejantanannya dari dalam lubang Sehun.
'plop..'
Suara yang sangat jelas, membuat Sehun yang masih berbaring dan mengatur nafas memalingkan wajahnya kearah lain. Ia merona mendengar suara itu. Sehun bangkit dari posisi tidurnya ia duduk dipinggir ranjang bersiap ingin turun dari sana.
Tapi baru berdiri saja rasanya pinggang Sehun seperti ingin patah. Chanyeol yang melihat itu langsung mengambil boksernya dan memakainya, berjalan menghampiri Sehun dan berlutut didepannya.
"Yang mana yang sakit?" tanya Chanyeol, ia menggenggam tangan Sehun dan mengelusnya. Sehun dibuat makin merona karena perlakuan Chanyeol.
"Apa pantatmu sakit?" tanya Chanyeol terlalu frontal, membuat Sehun memukul bahu Chanyeol.
"Bukan pantatku, tapi pinggangku rasanya seperti akan patah." ujar Sehun, ia mempoutkan bibirnya menambah keadaan kalau ia ingin dimanja oleh Chanyeol. Dikecupnya kedua tangan Sehun.
"Kau ingin apa? Biar aku ambil kan." ujar Chanyeol, ia menatap Sehun tepat dimatanya ingin menunjukkan bahwa ia tulus dengan perasaannya.
"Aku ingin bajuku, dan aku ingin mandi. Badanku lengket sekali dan aku tidak akan bisa tidur." ujar Sehun mengutarakan keinginannya. Chanyeol berdiri dari berlututnya, mengecup kening Sehun.
Ia berjalan memunguti bajunya dan baju Sehun yang berserakan, menaruhnya kedalam keranjang baju kotor disebelah pintu kamar mandi Sehun kemudian ia menghampiri Sehun lagi.
"Kenapa kau menaruh baju ku?" ujar Sehun bingung, setidaknya ia butuh pakai baju sekarang. Saat sudah sampai didepan Sehun, Chanyeol langsung menggendongnya ala bridal dan membawanya kekamar mandi.
"Untuk apa pakai baju kalau nanti dilepas lagi? Kita akan mandi bukannya kau bilang begitu tadi?" ujar Chanyeol, sungguh perlakuan ini membuat Sehun merona ia mengalungkan tangannya dileher Chanyeol tanpa menjawab dan menyembunyikan wajah merahnya didada Chanyeol.
Chanyeol mendudukkan Sehun di washtable dan ia beranjak menutup pintu kemudian melihat sekeliling kamar mandi Sehun. "Kau tidak punya bathup?" tanya Chanyeol ketika membuka pintu kaca dan hanya menyemukan shower didalam sana.
"Tidak, karena aku tinggal sendiri dan aku jarang berendam seperti itu, biasanya aku akan merawat diri bersama Irene, Joy, Seulgi dan Kyungsoo. Kami akan berendam dan merawat diri bersama dirumah Seulgi." jelas Sehun, Chanyeol mengerutkan keningnya. 'Sehun mengenal Kyungsoo?' -batin Chanyeol.
Ia menghampiri Sehun, memenjara Sehun dengan kedua tangan kekarnya disisi kanan dan kiri Sehun yang bertumpu pada washtable. Ia memandang wajah Sehun lama, kemudian mengecup bibirnya. Wajahnya tak beranjak dari depan wajah Sehun.
"Apa kau juga akan seperti ini didepan teman-temanmu itu?" tanya Chanyeol, ia sedikit kesal dengan pengakuan Sehun. Bagaimana bisa Sehun berendam bersama dengan wanita-wanita itu, bagaimana kalau mereka melihat tubuh Sehun dan tergoda dengannya? Chanyeol tidak rela.
Dipegangnya pipi Chanyeol, Sehun mengelus pipi itu dan tersenyum. "Aku seperti ini hanya didepan mu." bisik Sehun didepan bibir Chanyeol, ia mengecup bibir itu. Bibir yang akan sangat dirindukannya dan akan menjadi candu baginya.
Chanyeol tidak melepas bibir Sehun, ia melumatnya lagi dan mereka berciuman untuk yang kesekian kalinya, Sehun mengalungkan tangannya dileher Chanyeol dan tangan Chanyeol bergerak memeluk pinggang ramping Sehun.
Chanyeol yang lebih dulu melepas ciuman itu, dikecupnya bibir Sehun berkali-kali. Ia mendekatkan wajahnya ketelinga Sehun. "Sial, aku menginginkannya lagi." bisik Chanyeol dengan suara beratnya sarat akan nafsu.
"Tidak kita akan mandi." ujar Sehun menangkup pipi Chanyeol dan mengecup bibirnya.
"Dan akan melanjutkannya." ujar Chanyeol mengecup bibir Sehun.
"Tidak." Sehun mengecup bibir itu lagi.
"Iya." Chanyeol juga balas mengecupnya lagi.
"Tidak Park!" Sehun memukul bahu Chanyeol iya benar-benar kesal, menyesal ia menggoda Chanyeol kalau tahu badannya akan remuk seperti ini.
"Aku masih lelah, tenaga kita tidak seimbang." lanjut Sehun, ia mempoutkan bibirnya merajuk pada Chanyeol walaupun sedikit kesal mengakui kenyataan kalau Chanyeol jauh lebih kuat dibanding dirinya.
"Baiklah kita akan mandi." Chanyeol kembali menggendong Sehun, membawanya masuk kebalik pintu kaca itu dan menutupnya, ia menurunkan Sehun dibawah shower dan ia melepas boksernya menaruhnya diatas toilet yang tertutup.
Ada sesuatu yang aneh, ketika berdiri Sehun merasakan ada yang mengalir keluar dari belahan pantatnya, ia mengerutkan dahinya. Sehun melebarkan kakinya sedikit dan melihat apa yang mengalir dipahanya.
Saat itu Sehun menyadari bahwa bukan hanya ia yang sedang memperhatikan bokongnya tetapi Chanyeol juga, Sehun refleks menutup wajahnya yang sudah memerah padam akibat ulah Chanyeol.
Chanyeol menghampiri Sehun, menarik pinggangnya dan memeluknya. "Maaf aku mengeluarkannya terlalu banyak." ujar Chanyeol mengecup kening Sehun setelah tahu bahwa cairan yang mengalir dari bokong Sehun adalah spermanya yang tidak muat ditampung didalam Sehun.
Dilepasnya tangan Sehun oleh Chanyeol dari wajahnya, ditatapnya wajah itu. "Yak! Jangan menatapku!" Sehun berteriak ia benar-benar malu karena itu. Chanyeol hanya bisa tertawa ia memeluk Sehun erat, gemas dengan segalanya.
Chanyeol menyalakan shower yang menyiram air dingin ketubuh mereka, setidaknya air itu bisa mendinginkan pipi Sehun yang terasa panas karena ronanya.
Perlakuan Chanyeol benar-benar membuat Sehun luluh, ia memandikan Sehun menggosok badannya dan menyabuninya, sama sekali tidak ingin Sehun bergerak karena takut Sehun lelah dan merasakan nyeri yang masih ada di sekitaran pinggulnya.
Mereka memainkan busa sabun dan tertawa bersama, sejenak lupa dengan kenyataan bahwa dunia ini kejam diluar sana. Tapi tidak akan terasa kejam jika kau melewatkannya berdua dengan orang yang kau sayangi, seperti halnya Chanyeol dan Sehun yang sedang dibutakan oleh cinta mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bisa kau lepaskan aku? Aku sulit bergerak jika seperti ini." Sehun lelah dengan Chanyeol, ia hanya nyeri dipinggang dan itu tidak membuatnya lumpuh? Kenapa harus setiap Sehun ingin bergerak, berjalan atau berpindah tempat Chanyeol terus menggendongnya.
"Tidak bisa." gumam Chanyeol dibalik bahu Sehun, ia sedang memeluk Sehun dari belakang yang sedang mencari baju didalam lemarinya yang sekiranya muat untuk Chanyeol.
"Kurasa ini muat untukmu." ujar Sehun menyerahkan celana olahraga berwarna abu-abu yang cukup longgar jika Sehun memakainya, mungkin saja itu muat untuk Chanyeol.
Chanyeol mengambil celana itu dan akan melepas handuk dipinggang untuk memakai celananya. "Tapi..." suara Sehun membuat Chanyeol menghentikan gerakannya dan menaruh perhatian sepenuhnya pada Sehun.
"Tapi apa?"
"Aku... ng..." Sehun bingung harus bicara bagaimana.
'Chup...'
Chanyeol mengecup bibir Sehun karena gemas dengan tingkahnya. "Katakan saja sayang." ujar Chanyeol, ia mengusap pipi Sehun meyakinkannya untuk melanjutkan kalimatnya itu.
"Tapi... aku rasa tidak ada celana dalam yang muat untukmu." Sehun menundukkan kepalanya, pipinya merona karena itu.
"Aku tidak membutuhkannya." Chanyeol terkekeh, ia melepas handuk itu dan memakai celana Sehun yang ternyata juga cukup longgar jika dipakai Chanyeol. Sehun memalingkan wajahnya kearah lain tidak ingin melihat Chanyeol.
Sehun membuka laci lemarinya, mengambil celana pendek dengan bahan seperti celana dalam yang panjangnya hanya satu jengkal dari pinggulnya -itu seperti celana super pendek, bukan hanya pendek.
Ia juga mengambil hoodie warna senada dengan celana Chanyeol yang ternyata itu adalah pasangan bajunya. Sehun berbalik menatap Chanyeol. "Tutup matamu atau berbalik, aku ingin pakai baju." ujar Sehun.
"Serius? Bahkan aku sudah melihat semuanya." kekeh Chanyeol, bagaimana bisa Sehun jadi mengemaskan seperti ini? padahal tadi ia sudah melihatnya untuk apa malu lagi.
"Ih pokoknya jangan lihat." Sehun menghentakkan kakinya kesal, Chanyeol berbalik memunggungi Sehun. "Aku tidak akan lihat." ujar Chanyeol.
Sehun memunggungi Chanyeol dan melepas handuk yang melilit dipinggangnya, tapi bukan Chanyeol namanya jika ia patuh. Chanyeol membalikkan badannya melihat setiap gerakan Sehun tanpa disadari oleh yang sedang ditatap.
Sehun memasukkan kakinya satu persatu kedalam lubang celana dalamnya itu, menariknya keatas dan membenarkannya hingga terasa nyaman untuk dipakai, melihat bokong Sehun yang sedikit bergoyang akibat perlakuannya tersebut membuat Chanyeol gemas sendiri ingin meremas pantat itu.
Ia memperhatikan tubuh Sehun, dimana-mana terdapat kiss mark akibat ulahnya dan Chanyeol senang akan kenyataan itu membuktikan bahwa Sehun itu miliknya. Sehun memakai hoodie itu, tangannya tenggelam karena lengan hoodie yang lebih panjang bahkan hoodie itu menutupi hampir setengah pahanya hingga celana dalamnya tidak terlihat.
Ketika Sehun membalikkan badannya ia kaget melihat Chanyeol yang sedang menyilangkan tangannya didepan dada dan memperhatikannya. Sehun yakin Chanyeol pasti melihat semuanya sejak tadi, Chanyeol berjalan menghampiri Sehun membuat Sehun memundurkan dirinya hingga punggungnya bertemu dengan pintu lemari.
"Ch-Chanyeol... jangan lagi... kumohon..." Sehun menundukkan kepalanya.
'Chup...'
Chanyeol mengecup kening Sehun lama. Sehun mengerjapkan matanya bingung, "Sudah selesai? Apa yang kau ingin kan sekarang? biar aku ambilkan." ujar Chanyeol menangkup pipi Sehun dan mengelusnya.
'Greb...'
Sehun memeluk Chanyeol, ia benar-benar dibuat merona dengan segala perlakuannya. Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku ingin tidur, aku lelah. Tapi aku harus mengganti sprei kasurku, banyak sisa... cairan kita disana." ujar Sehun dengan suara yang tiba-tiba mengecil diakhirnya, ia cukup malu untuk frontal dihadapan Chanyeol.
Digendongnya Sehun dan didudukannya ia dikursi depan meja yang merangkap rak buku tersebut (ini kayak meja belajar gitu bentuknya). "Cukup diam disini dan beritahu aku dimana kau menaruh sprei cadangan itu?" ujar Chanyeol.
"Dilemari pintu kedua bagian atas." ujar Sehun menunjuk lemarinya, Chanyeol langsung membuka lemari itu ia melihat sprei Sehun yang semuanya berwarna putih. Ia mengambilnya satu dan berjalan kearah kasur Sehun, mengganti sprei yang sudah kotor dengan yang baru beserta bantal dan guling yang sudah bersih lagi penutupnya.
Dimasukkannya sprei kotor itu kedalam keranjang baju disamping pintu kamar mandi Sehun, Sehun yang melihat itu hanya bisa diam tanpa kata. Chanyeol sungguh manis dengan segala perlakuannya, membuatnya ingin terus bermanja dengan lelaki ini.
'Hup...'
Chanyeol menggendong Sehun ala bridal menuju kasurnya dan membaringkannya disana, Chanyeol menarik selimut yang akan menutupi tubuh mereka berdua, ia menyelipkan tangannya dibawah kepala Sehun yang akan menjadi bantal bagi Sehun.
"Tuan putri mari kita tidur." dikecupnya kening Sehun, kedua matanya, kedua pipinya, hidungnya, dan terakhir bibirnya. Chanyeol memeluk Sehun membuat kepala Sehun tepat berada diperpotongan lehernya.
"Jalja Chanyeol-ie~" gumam Sehun mengusakkan kepalanya didada Chanyeol seperti anak kucing, Chanyeol mengeratkan pelukannya begitu juga Sehun, ia mengecup puncak kepala Sehun dan tersenyum mendengar Sehun memanggilnya dengan imut.
Nafas Sehun mulai berubah teratur, Chanyeol tak berhenti mengusap punggung Sehun. Ia pun ikut memejamkan matanya. "Saranghae." bisik Chanyeol sebelum ia terlelap kealam mimpinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
kalo ada yang pernah nonton drama K2 pasti tau black stone itu apa wkwk. sengaja pake nama black stone sebagai blackmarket gitu pokoknya black stone ini tempat judi, investasi uang, jual beli manusia gitu gitu dah.
maaf kalo saya updatenya lama, saya cuma bisa update kalo gak jumat ya sabtu. soalnya saya juga banyak kerjaan yang kudu diurus dan bisa update pas akhir pekan kayak gini. maaf dan makasih yang udah mau nungguin dan sempetin buat baca.
jangan lupa review, favorite, follow dll.
makasih yang udah sempetin baca sama review.
CHANHUN SARANGHAJA.
pyong.
