"Ngga mau!"
"Saya juga… OGAH!"
Sementara Donovan hanya geleng-geleng kepalanya pertanda pening. Kalau bukan karena salah satunya merupakan anak tuan besarnya, pria ubanan tersebut akan dengan senang hati melempar keduanya ke dalam sumur supaya sekuel film Sadako menikung dikit ke genre humu.
"Begini tuan dan… TUAN!" tentu saja frasa terakhir ditekankan untuk menyindir Ibuki.
"—hanya untuk seminggu ini, kalian berdua akan bersekolah bersama. Segala keperluan dan ketentuan sudah saya urus. Alasannya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, nilai-nilai akademik Ibuki jauh di bawah rata-rata sehingga dia memerlukan pembelajaran khusus."
"Nasib otaknya itu sih." ketus Shindo tanpa belas kasihan. Di lain pihak, Ibuki berjuang menahan hasrat untuk melempar pot bunga terdekat seandainya pecah belah tersebut tidak seharga tiket non promo liburan ke Hawaii.
"Dan kamu, anak muda. Jangan lupa kita juga sudah sepakat." ada tepukan singkat di bahu sang buttler muda saat kepala pelayan membisikkan kalimat tersebut di telinganya. Berusaha agar yang berambut ikal sebisa mungkin tidak mendengar, "Berarti tidak ada lagi yang perlu dicemaskan."
GLEK.
Cemas, dong. Mana mungkin seorang Ibuki Munemasa tidak cemas.
"Baiklah silahkan kalian berdua berangkat, kalau berjalan dari sekarang tidak akan terlambat."
Dengan muka masam, dua makhluk adam itu terpaksa meninggalkan mansion megah keluarga Shindo menuju sekolah.
Pelajaran Berharga
(Teruntuk Ibuki Munemasa)
.
Inazuma Eleven Go Galaxy © Level-5
warning: AU. OOC parah. Penghancuran karakter. Typo. Slash.
Pair: MuneTaku (Ibuki X Shindo)
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
.
.
Ketiga; Mulutmu Harimaumu.
["Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong, segala sesuatu di dunia adalah hampa."*
—Tong Sam Chong, XX tahun. Pernah punya misi ke barat.]
.
Ibuki menyeret dua tungkainya selambat siput, menghiraukan peluh yang tengah menetes deras melewati garis mukanya. Perjalanannya semakin menyusahkan karena Shindo di atasnya tidak berhenti mengomel.
"Seumur hidup, baru kali ini gue pergi ke sekolah jalan kaki. Emang mobilnya ke mana sih?"
Kalau boleh dikonfirmasi lanjut, tuan mudanya bahkan tidak menapak di tanah sama sekali. Kenyataannya sekarang dia sedang memikul Shindo bak properti kuda lumping. Dengan alasan takut kakinya lecet dan hasil pedicure-nya terkelupas akibat perjalanan jauh, Shindo memaksa Ibuki menggendongnya di punggung sampai tujuan.
Well, untunglah pemilik surai pucat itu seorang atlet yang rajin makan makanan bergizi dan berlatih keras sehingga dia tidak langsung KO di atas aspal dengan diagnosa patah tulang belakang.
Meski begitu, mengangkat sesuatu dalam jangka waktu lama melebihi setengah timbangan berat badannya tetap saja sebuah perjuangan. Pangeran di buku cerita manapun tidak akan pernah mengangkat seorang putri lebih dari sepuluh menit atau dia akan tewas sebelum cerita dinyatakan tamat.
"Hosh… hosh…" ketika suara napasnya menjadi sebuah kata, "Masih jauh nih? Hosh… emang anda sekolah di mana sih?"
"Kamu sendiri sekolah di mana? Kok bisa-bisanya tiba-tiba nimbrung?" Shindo sewot mendadak.
"Loh, kan saya yang duluan nanya?!"
"Kan gue tuan mudanya!"
"E—anjeer, pake nyolot! Lempar, nih!"
"Monyong, malah ngelawan!"
Selanjutnya, mereka tidak menyadari pasang kaki Ibuki sudah menempel di gerbang sebuah bangunan berlambang petir raksasa karena terlalu sibuk adu mulut. Yang lebih meresahkan, ternyata kehadiran mereka sudah lama menjadi pusat perhatian murid-murid yang beredar di area pintu masuk. Jelas sekali siapapun di sekitar sana memasang tampang WAW kemudian berbisik-bisik tidak jelas sambil menunjuk-nunjuk.
Kasian. Ngga pernah liat orang cakep, ya? batin Ibuki kepedean.
Keduanya memasuki kelas berkapasitas sekitar dua puluh lima orang dengan nuansa kuning muda yang menyenangkan. Seluruh isi kelas (masih) memandang heran ketika mereka berjalan menuju bangku yang ada, bahkan mereka cukup terkejut saat mendapati wajah asing menyalami mereka semua satu persatu persis seperti tamu undangan hadir di pesta kawinan. Untunglah Shindo segera menjewer dan menarik remaja berheadband gelap itu menuju bangku miliknya.
"Ngapain sih kamu?! Malu-maluin!" sesungguhnya Shindo ingin sekali memasang jarak aman biar terhindar dari cipratan aib.
"Kok malu? Itu kan sopan!? Memangnya anda tidak pernah menyapa teman-teman kalau masuk sekolah?"
"T-tidak pernah." jawab Shindo dengan volume super kecil, sengaja agar luput dari telinga pelayannya, "Ngomong-ngomong, Nih! Tempat dudukmu di sini. Di sebelahku."
"Lah? Terus teman sebangku anda mau diusir ke mana?"
Yang ditanya membuang muka sembari menaruh tasnya di meja, "…a-aku… tidak pernah punya teman sebangku…"
Bohong kalau Ibuki tidak melihat sirat sepi dari pancaran mata tuan mudanya, tapi niatnya bertanya dihentikan Shindo yang menyodorkan sebuah buku cetak setebal batu bata ditumpuk dua.
"Apa nih?"
"Kumpulan rumus matematika. Kalau pelajaran kita sama, harusnya kamu bisa lancar mengerjakan soal apapun dengan petunjuk buku ini sampai bab bilangan berpangkat."
Ibuki kentut pelangi.
"MASA PAGI-PAGI UDAH LANGSUNG BELAJAR?"
Shindo mengerutkan alis, "Kita ke sekolah kan emang buat belajar. Emang mau ngapain lagi?"
"Pagi-pagi itu bagusnya nyontek PR, tanya-tanya gosip, kalau ada yang jadian tagih PJ. Intinya sosialisasi!"
Bibir Shindo membentuk garis lurus mendengar rentetan kalimat ngaco Ibuki. Dijewer telinga itu sekali lagi supaya dia menurut. "Acara sosialisasi batal sampai nilai matematikamu bisa di atas enam."
"Kalau nilai saya bisa di atas enam hadiahnya apa, nih!?"
Shindou langsung pasang seringai meremehkan, "Ngga mungkin!"
"Mungkin donk!" Ibuki kalap, pake acara gebrak meja.
"Ngga bakalan walau ada pemain bola yang bisa bertanding lawan alien di galaksi sekalipun!"
"Kampret!" rambut putihnya diacak-acak pakai tangan, memikirkan kalimat lain untuk melakukan counterattack.
Melihat buttler amatirnya usek di tempat, yang berambut ikal menyunggingkan senyuman kemenangan. Gumpalan pustaka di tangannya dilempar tepat ke muka Ibuki plus soal-soal pilihan berganda dan cerita yang harus dipecahkan bak telur di atas wajan.
"CIUMAN PERTAMA GUEEE!" ratap Ibuki merasakan hidungnya melesak ke dalam sementara bibirnya mendadak jontor layaknya Jynx. **
"Kalau gagal ngerjain soal-soal itu kamu bakal dapet ciuman kedua. Cepet beresin sebelum bel masuk sekolah bunyi!"
Pasrah. Mau tidak mau Ibuki segera duduk untuk membuka menu soal,
"Ngomong-ngomong Ibuki," di sela-sela mengisi jawaban dengan tampang malas, yang dipanggil segera menoleh, "Selama di sekolah, cukup panggil aku dengan nama dan berhenti berformal-formal."
"Loh, tapi kan—"
"MANA JAWABANNYA?!"
Buset, galak!
"Ehehe… wani piro?" Ibuki malah semakin menjadi-jadi. Sementara Shindo dengan cuat segitiga siku-siku di pelipisnya refleks menginjak ujung sepatu Ibuki tanpa ampun.
.
.
.
"Gila benerrr, baru hari pertama udah masuk UKS aja…."
Ibuki pasrah melihat kaki kirinya sekarang dibalut perban cantiq. Dia jadi ingat pertemuan pertama mereka juga dihiasi acara injak-menginjak, tapi kali ini tampaknya kakinya sudah lelah berkorban sehingga memutuskan untuk bengkak.
Pelajaran pertama sudah dimulai, Ibuki terpaksa meminta ijin untuk mengurus lukanya terlebih dahulu sebelum kembali ke kelas. Dilihatnya buku rumus matematika yang masih siaga di tangannya—berpikir apa sebaiknya dia membukanya dan membiarkan otaknya korslet, atau melemparnya balik ke muka Shindo lalu kabur ke Alaska.
"Hai!"
Disapa mendadak oleh seorang gadis imut dengan wajah penuh senyum, Ibuki langsung melek sempurna, "H-hai juga…"
"Aku melihatmu dengan Shindo-sama tadi pagi. Kamu dari keluarga mana?"
"Eh, Aku? Margaku Ibuki." perasaannya saja atau dia melihat pancaran energi yang luar biasa seram menguar di sekujur gadis tersebut padahal dia yakin tidak ada manusia normal sanggup melancarkan jurus kamehameha.
"Hmm… Ibuki? belum pernah dengar. Politikus luar kota, ya?"
"Hah?"
PLOK. PLOK.
Tepukan tangan nyaring mengakhiri konversasi.
"Hei, hei, Yamana… berhenti mengganggunya. Bel masuk sudah berbunyi, ayo kembali ke kelas!"
Gadis berkepang dengan helai merah muda itu manyun tapi terpaksa menurut. Sebelum pergi dia mendekati Ibuki sekali lagi,
"Jangan sampai tanganmu menyentuh Shindo-sama, ya. Aku bisa memutuskan semua jarimu loh…" lalu dia berlalu dan aura seram sebelumnya hilang tak berbekas.
Sumvah, kalau tidak ingat gengsi, Ibuki sudah kencing berdiri.
"Jangan takut, Ibuki-kun, dia hanya salah satu penggemar Pangeran."
Kali ini seorang gadis—atau wanita, mengingat sepertinya usianya jauh di atas murid-murid lain. Plus dia juga memakai baju bebas dan sepatu hak tinggi.
"Penggemar? Pangeran?"
"Gosip tentangmu langsung menyebar sejak pagi, apalagi karena kau datang bersama Shindo Takuto yang sangat terkenal di sekolah ini. Saking tenarnya, dia dijuluki Pangeran."
"Makhluk nyebelin kayak gitu bisa beken?" Ibuki pengen ngemut sepatu saking gondoknya. Kalau Shindo bisa mendapat julukan Pangeran, paling tidak dia harus bisa mendapat gelar Presiden.
"Dia kan anak konglomerat, wajar kalau terkenal. Belum lagi sikapnya yang misterius dan dingin, anak perempuan suka tipe seperti itu."
Meh.
"—Oh iya, namaku Otonashi haruna. Guru UKS di SMP Raimon ini."
"Salam kenal, Bu. Nama saya Ibuki Munemasa."
"Tidak usah terlalu formal tidak apa-apa. Begini-begini umur kita cuma beda sepuluh tahun, hohoho…"
"Beda segitu sih sama aja udah tua, Bu…"
Ibuki diusir seketika dari UKS.
.
.
.
"OTAK GUE MERIAAANG!" pekik Ibuki sembari mencomot kursi sembarangan lalu duduk di depan bangku Shindo, membuat pemilik meja harus mengamankan bekal-bekalnya dulu karena gempa bumi dadakan.
"Heh! rusuh bener!" Shindo naik pitam, "Biasa aja napa!?"
"MANA BISA TENANG DIKASIH SOAL SULIT BEGINI!? APA ITU AKAR? APA ITU INTEGRAL?
Yang kriting anteng pura-pura tuli. Bahkan di saat Ibuki masih berjuang fokus dengan isi buku cetak, ujung sumpitnya berasil mencomot sepotong sosis dan dua buah bakso di dalam bekal si albino.
"Euh, permisi... senior Shindo..."
Perhatian mereka segera teralih pada dua sosok junior yang sudah hinggap tegap di depan mereka, terlihat dari badge sekolahnya yang menampilkan angka tunggal. Rambut mereka begitu gahoel, bahkan salah satunya berani memakai maskara tebal ke sekolah. Ibuki segera maklum, mungkin ibunya pedagang kosmetik dan inilah cara anak berbakti membantu dagangan ibunya.
"Hai!" yang jawab malah Ibuki. Sementara pemilik nama yang dipanggil langsung masang tampang what the hell.
"Hai..." senyumnya manis, "Senior Ibuki, ya?"
"Ngga usah panggil dia senior, umurnya cuma seminggu lagi." kalimat Shindo bikin anak tersebut menjerit tertahan sebelum matanya berkaca-kaca salah paham. Di pihak lain, Ibuki menahan hasrat nampar Shindo pakai meja.
"Pilihan kalimatnya, tolong! Kesannya gue punya penyakit kronis!"
Seandainya Ibuki sadar kalau isi otaknya tergolong dalam level tidak terselamatkan.
"Namaku Matsukaze Tenma, kalau dia Tsurugi Kyousuke." tunjuknya pada si anak pedagang kosmetik, meski tuduhan ini masih dalam ranah asumsi Ibuki.
"Yo, Matsukaze! Tsurugi!" yang dipanggil terakhir mendengus, "Ayo kita makan bareng." si rambut salju tepuk-tepuk bangku kosong yang kali ini entah dia samber dari meja mana lagi.
"T-tapi ini kan kelas senior... kami lebih baik makan di kantin atau di atap."
"Mau di mana aja, kalau udah makan nanti keluarnya sama juga."
YA GUSTI! JOROK!
Ingatkan Shindo kalau ini baru sehari. Sementara dia masih harus bersama Ibuki selama lima hari ke depan—si ikal ingin menjerit histeris.
"Ah, iya. Ini! Hampir saja kelupaan…" Tenma menjulurkan beberapa lembar kertas dengan cetak dialog, "Maaf ya. Karena kecerobohan penulis naskah, senior Shindo harus berjuang menghapalnya lagi."
"Ha? 'Paan, tuh? Putri dan Pangeran kodok?" Ibuki kepo pas nyimak judulnya.
"Naskah untuk acara drama kelas di festival sekolah. Kami semua termasuk dalam pemerannya…"
"Wah, kok asik!? Pentasnya kapan?"
Tenma menjawab antusias, "Dua hari lagi. Lusa."
"HAH!? CEPET BANGET!?"
"Soalnya durasi fic ini juga ngga bakal panjang-panjang."
"Ha? Oh, gitu yah… terus Shindo perannya apa nih?" Ibuki nyerocos seakan-akan yang dibicarakan tidak ada di tempat, aura menekan Shindo menguar lagi. Menciptakan latar belakang angker gluduk-gluduk.
Tenma tahu nyawanya dalam bahaya kalau pembicaraan ini diteruskan, mulutnya tiba-tiba gagap, "A-ah, euh… itu… senior Shindo jadi..."
"Putri." Tsurugi mengucapkannya tanpa merasa bersalah.
HAHAHAHA. Bisa dipastikan tawa gelegar membahana itu datang dari Ibuki. Meski dengan muka memerah, Shindo berjuang celingak-celinguk nyari gagang sapu. Bukan buat mukul, tapi buat nerbangin pelayan kampretnya ke Azkaban. Gratis.
Sekali Ibuki ngakak toa, seluruh penghuni kelas nengok. Kelas-kelas tetangga juga ikut penasaran sampai ngintip-ngintip dari jendela. Kurang malu apa?
"SHINDO BAKAL JADI PUTRI!? BUHAHAHAHAHAHAHA!"
Si rambut angin alias Tenma masih senyum bersalah, apalagi sekarang sumpit yang dipegang Shindo terlihat patah dua. Misinya untuk mengemban rahasia salah satu anggota teather pupus sudah. Tsurugi sih tetap anteng di sebelah, jauh dari rasa bersalah.
Setelah Ibuki mulai waras, Tenma buka suara lagi. "Apa senior tertarik ikut? Kami kekurangan satu pemain lagi. Yang berperan jadi kodok baru saja mundur karena terserang diare."
"Hah? Kodok?" Ogah. Ibuki baru mau nolak mentah-mentah kalau tidak ingat di cerita itu si kodok bakal henshin jadi pangeran super duper ganteng. padahal kemampuan akting do'i nol besar menjurus minus, tapi menurutnya ini kesempatan besar untuk menunjukkan ketampanannya pada dunia. Menyembunyikan karya sempurna Tuhan adalah kejahatan besar, yakinnya.
Lagian kalau jadi model papan atas dan punya banyak uang, dia bisa ngerusak semua mobil Shindo tanpa takut biaya ganti rugi. Niat yang sangat mulia.
"Mau deh! Bungkuss!" Ibuki acung ibu jari.
"Jadi kodok kebagusan buat dia, jadi tiang listrik aja." Shindo yang jadi korban pertama langsung nyolot, "Itu juga masih kebagusan."
"Ish! Ada yang sirik karena gagal dapet peran pangeran kodok tampan, malah jadi putri!" Ibuki bales nyolot.
"A-anu, senio—"
"Eeeeeh, dasar kodok!" Shindo tendang meja sampe mental. Satu kelas loncat.
"Senior Ibuki, sepertinya—"
"Kacang! Kacang rebus! Kacang panjang!" Tsurugi malah keliling jualan kacang. Tenma hanya bisa nangis di tempat.
.
.
.
Bersamaan dengan ketukan di pintu, Ibuki melangkah masuk sembari membawa teh pun makanan kecil seperti sebelum-sebelumnya. Bedanya, sore itu dia tidak melihat Shindo mesra dengan piano-nya.
Kebetulan di hari senin, yang bersangkutan bebas dari jadwal kursus musik dan entah kenapa Ibuki ikutan-ikutan lega. Terutama karena tuannya sekarang sedang asik bercanda dengan sepasang kucing berwarna kontras. Hitam dan putih.
"Ahahaha, Lute… Aria… jangan menjilatku begitu!"
Walau tidak ada denting piano mengalun, tapi Ibuki menikmati kedamaian yang berbeda.
"Tuan Shindo, ini tehnya…"
Properti berbalut keramik kuno di tangannya kemudian ditaruh di atas meja. Iris lavendernya masih mengamati malaikat salah gender yang sekarang kembali di posisi duduk, tengah memperbaiki rambutnya yang sempat acak-acakan karena berguling di atas karpet. Mungkin paras cantik Shindo yang kemerahan juga hanya akibat pantulan sinar matahari senja. Ibuki sendiri tidak yakin dengan matanya.
"Makasih…"
Shindo meraih cangkir dan hendak menuangkan teh, tapi Ibuki menyela, "Biar saya saja."
Tanpa sengaja kulit mereka bersentuhan, adegannya persis kayak di iklan-iklan sabun mandi. Efeknya, hampir saja teko di tangan keduanya jatuh berkeping-keping. Tapi karena Ibuki anti menambah daftar hutang, dia cekatan menyelamatkan fragmen mewah itu dengan susah payah. Untunglah isinya juga tidak ada yang tumpah.
"So-sorry."
"Maaf juga…"
Awkward.
"Terus kenapa masih di sini?"
"Kan belum disuruh keluar."
Seharusnya Shindo bisa saja langsung menyuruh biang kerusuhan itu keluar, tapi nyatanya malah tercenung lalu menggigit bibir.
"Gimana rumus matematikanya udah paham belum?" topik dialihkan terlalu jauh.
"Belum dong!" jawab Ibuki bangga, "Baru baca halaman pertama tiba-tiba saya mau pingsan."
Hela napas panjang Shindo membuat suasana kaku di ruangan sedikit mencair. "Menurutku kamu tipe yang cepat belajar. Sebenarnya kau cukup pintar, kalau hanya mengulang pelajaran seharusnya mudah…"
Hati Ibuki berbunga-bunga mendengarnya. Telinganya tidak mungkin salah dengar kali ini, Shindo—yang menurutnya jutek, galak, dan raja tega itu—sungguh-sungguh memujinya.
"…pasti kamu wibu."
Demi titan taman lawang! Tuduhan Shindo barusan sangat tidak beralasan. Atas dasar apa Ibuki di-cap seorang wibu yang tiap musim ganti waifu? Kalau sekedar menjadi fans idola, kamarnya hanya penuh dengan poster Suzuki Tatsuhisa dan koleksi tur Oldcodex. Tidak lebih. ***
"OBJECTION!" ketus sang pelayan ala Phoenix Wright, tidak lupa jari telunjuk ikut dibentang lurus-lurus menuntut, "Maaf saja, ya. Social link wibu tuh rangkingnya tinggi, beda pengalaman dengan orang yang hanya Home schooling bertahun-tahun."
"T-tau darimanaa?"
Ups, "…itu,"
"Pasti Donovan, ya!?" tepat sasaran, "Kenapa sih dia harus cerita-cerita ke orang kayak kamu?!"
"Ganteng maksudnyaa?" mulai deh narsisnya Ibuki kumat.
"Ganteng? Film dari negeri antah berantah aja bilang yang ganteng itu serigala, bukan mammoth."
CTAK.
Rasanya ada sakit hati tak terkira karena dibandingkan dengan acara TV yang mutunya dipastikan tidak akan pernah menyentuh ranah box office. Tapi dianggap sebagai mammoth lumayan juga, paling tidak alas kakinya bisa melumat merak sampai gepeng.
"Salah, dink. Bukan mammoth tapi kodok."
CTAK. CTAK.
"ANDA HANYA IRI KARENA GAGAL JADI PANGERAN KODOK TAMPAN, MALAH JADI PUTRI!"
Dejavu gitu rasa kalimatnya. Hanya ditambah keps.
"Kamu sendiri tau nggak sih cerita asli pangeran kodok dan putri?"
"Taulah!" Ibuki mendengus yakin, "Tentang Pangeran yang disihir jadi kodok lalu sihir itu dipatahin sama ciuman sang putri."
Shindo masih pasang tampang datar, meyakini lawan bicaranya belum memahami betul maksudnya.
"Peranku apa?"
"Putri."
"Peranmu apa?"
"Pangeran. Kodok." di sini Ibuki masih tablo, Shindo jedukin kepala ke meja, "Terus kenapa?"
"Terus kenapa, katamu? Kalau tau nantinya sang putri sama si kodok burik bakal ciuman, kenapa peran itu malah kamu terima!?"
.
Semenit dua menit berlalu begitu saja, hanya ditemani gemersik dedaunan yang terdengar jelas dari jendela yang dibuka lebar-lebar. Ibuki mematung dengan mulut setengah terbuka, masih mencerna. Selama menunggu, Shindo sudah selesai menghabiskan satu teko teh yang disajikan, bahkan sempat dua kali bolak-balik kamar mandi karena beser.
.
"B-brengsek! Gue—saya bukan homo, ya!"
Klik-nya lama banget. Shindo keburu nikah dan punya anak.
"Gue juga bukan! Kalopun iya, ngga mungkin sama elo!"
"Ya bagus!"
"Ya udah!"
Sang pelayan yang keki hendak berlalu cepat menuju pintu keluar. Tapi baru niat doang, soalnya sekarang kakinya malah berbalik dan mendekati tuan mudanya sekali lagi,
Menariknya—
—kemudian menempelkan bibir mereka singkat.
"Tapi saya bukan laki-laki cemen yang ciut sama adegan begitu doang. J-jadi… POKOKNYA GITU DEH!"
Ibuki kehabisan kata-kata karena merasa mukanya seperti direbus. Dia bahkan tidak sanggup melihat reaksi tuan mudanya dan buru-buru lari keluar kamar, tidak mengindahkan peraturan utama; keluar jika disuruh.
Di balik pintu kamar pribadi Shindo yang sudah tertutup rapat, tubuh jangkungnya merosot. Berkali kali dia menjambak rambut putihnya sambil berteriak membatin,
APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN, IBUKI MUNEMASAAAA?!
To be continued…
.
.
.
* Petuah biksu Tong di film kera sakti.
** Salah satu jenis Pokemon
*** Nama seiyuu Ibuki
A/N:
Aduh apdetnya KELAMAAN HAHAHAHAHA, gara2 ngejadwalin beres2 utang fandom lain dulu baru balik ke fic MC… tapi akhirnya malah terbengkalai… |||OTL
Makasih banyak yang udah baca karya gado-gado ini. Setelah diputuskan, fic ini mungkin berkisar sekitar 8 chapter dengan jadwal apdet yang tidak tentu (FYI, author sangat pemalas #duk)
R&R maybe? C:
