Disclaimer : Masashi Kishimoto.


Uchiha Sasuke berjalan menyusuri halaman dengan langkah perlahan. Pelajaran pada jam terakhir nampaknya sungguh tak bersahabat dengan suhu udara siang itu.

Ha... Sasuke mendesah. Dua bab mengenai sejarah Jerman yang harus ia hapalkan sebelum besok. Oke. Bahasa Jerman memang penting untuk para musikus karena itu banyak dipakai, tapi –hei! Siapa peduli tentang Negara Jerman?

"Hei, Sasuke!!" Sasuke mendengar suara Naruto kemudian ia menoleh, "Hn?"

"Aku ada kelas setelah ini. Kau duluan saja dengan Hinata!" Naruto berseru dari jendela ruangan lantai dua. Pemuda berambut hitam mengangguk. Ia tahu akhir-akhir ini Naruto sering mendapat bimbingan khusus, tapi untuk apa pastinya ia juga masih bingung.

Lalu ia melanjutkan langkahnya. Ah! Ia melihat Hinata yang sudah menunggunya dan Naruto berdiri di dekat gerbang sekolah. Tanpa pikir panjang, ia menghampiri gadis itu. "Sudah lama?" tanyanya.

Gadis itu tidak menjawab. Sebagai gantinya ia dengan lincah memainkan jemarinya yang berarti, "Iya. Hampir saja aku pergi duluan. Mana Naruto-kun?"

"Dia ada kelas," jawab Sasuke apa adanya.

Hinata kembali memainkan tangannya. "Belakangan ini dia selalu sibuk."

"Tahun ini kami ujian kelulusan."

"Benar juga, ini tahun terakhir kalian sedangkan aku masih menunggu setahun lagi!"

Sasuke tersenyum melihat gadis itu mengerutkan bibir. Ia tahu Hinata iri pada mereka berdua yang hampir lulus. Sebenarnya Hinata juga berada pada angkatan yang sama dengan mereka tapi karena sebuah kecelakaan, ia jadi harus vakum sekolah. Lima tahun lalu Hinata terjatuh dari rumah pohon kemudian semenjak itu ia menjadi tak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Tapi Sasuke tidak bisa mengingat penjelasan panjang dari dokter mengenai penyebab pastinya.

Karena itu Hinata tidak sekolah selama setahun penuh untuk memulihkan diri dan juga untuk mempelajari bahasa isyarat. Belajar bahasa isyarat tidak semudah yang terlihat, tapi sekarang gadis itu sudah lincah menyimpul jemarinya untuk menggantikan kata yang tak terucap dari bibir mungilnya.

"Ayo pulang," ajak Sasuke. Hinata mengangguk lalu mereka meninggalkan gerbang. Sementara itu di kursi panjang di dekat hall, ada tiga pasang mata yang menatap kedua orang itu berlalu.


"Kalian lihat tadi?" siswi berambut pirang panjang diikat ekor kuda, bertanya pada dua temannya. Yang satu berambut merah muda panjang tergerai dan yang satunya berambut cokelat gelap dan dicepol dua.

"Lihat apa, Ino?" Siswi dengan dua cepol di kepalanya, bertanya pada temannya.

"Sasuke pulang bersama cewek rambut hitam yang tadi berdiri di gerbang." gadis yang bernama Ino itu berkata.

"Oh, itu sih adik kelasku!" Gadis berambut merah muda dengan nama Sakura memastikan.

"Iya, siapa namanya?" tanya Ino lebih lanjut.

"Hinata. Dia adik sepupu Neji," jawab si cepol dua.

"Padahal aku mengincar Sasuke waktu kelas satu, tapi harapanku langsung kandas lihat saingan cantik begitu. Sungguh sial!" kata Ino.

"Ya ampun Ino, Sai kamu kemanakan?" Sakura memprotes.

"Memang aku kemana?" Seorang pemuda berambut hitam bertanya pada tiga gadis itu, mendengar namanya disebut-sebut sambil memberikan senyum bisnisnya.

"Aa, Sai!" Ino terlonjak.

"Kalian sedang membicarakan aku ya?" tanya pemuda yang dipanggil Sai itu.

"Jangan ge-er dulu deh! Ayo kita pulang!" Ino membantah untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.

"Terserah padamu, cantik." Sai menurut pada gadis yang kini adalah kekasihnya. "Baiklah je– Sakura-san, Tenten-san, kami pulang dulu." Ia memberi salam pada dua gadis lainnya, kemudian mereka berdua pergi.

"Aih, aih, mesranya. Aku jadi iri." Tenten yang tengah bertopang dagu berkomentar.

"Yang harusnya bilang begitu kan aku!? Kau sih tidak berhak!" protes Sakura.

"Tenten!" seorang siswa dengan rambut panjang berwarna hitam memanggil Tenten dari kejauhan.

"Itu Neji! Tuh, aku benar kan?" seru Sakura sementara Tenten masih belum beranjak "Cepat hampiri!" perintah Sakura.

"Tapi..."

"Jangan tidak enak padaku, lagipula aku juga mau pergi," tegas Sakura.

"Baiklah, aku duluan ya!" kata Tenten pada akhirnya.

"Ya, dadah!" Sakura melambaikan tangan pada sahabatnya dan ia pun menepuk kedua pipinya. "Dan sekarang waktunya untuk kerja! Aku harus semangat!" Lanjutnya, menyemangati dirinya sendiri.


Hinata memandang ke arah mentari sore sambil menyeruput sedikit demi sedikit secangkir cokelat panasnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada aktivitas orang-orang disepanjang jalan. Sesekali ia menggoreskan pensil pada lembar kertas putih yang ada di hadapannya. Dia sedang menggambar sketsa untuk tugas lukisan yang akan dikumpulkan bulan depan. Kali ini sensei memberi tema Interaksi, dan membebaskan muridnya dalam memvisualisasikan tema tersebut ke dalam gambar.

Interaksi, tema yang sangat sulit untuknya. Tidak banyak orang yang bisa bahasa isyarat dan itu mempersulitnya untuk berkomunikasi dengan orang asing. Walau guru maupun teman sekelasnya tidak ada yang keberatan dengan keadaannya tetap saja itu sulit dilakukan. Tak banyak orang yang sabar menunggunya menulis kalimat yang ingin ia sampaikan, jadi tak banyak pula yang ingin memulai untuk berinteraksi dengannya. Ia lebih banyak diam jika di sekolah. Interaksi, mengapa pula itu yang harus jadi tema lukisan? Apakah para sensei sedang megintimidasinya? Tidak tahukah mereka bahwa itulah dilema terbesarnya saat ini?

Hinata menghela nafas panjang. Percuma berkontroversi dengan dirinya sendiri. Lagipula ia sudah duduk di sebuah cafe outdoor di dekat perempatan jalan dengan harapan bisa mendapat inspirasi ketika mengamati orang-orang yang berlalu lalang disepanjang jalan. Dia ingin melihat bentuk interaksi yang biasa orang umum lakukan.

PLUK!

Tak sengaja, pensilnya jatuh dan terinjak oleh seorang bapak-bapak yang tengah berdiri di dekat mejanya. Hinata yang panik menepuk punggung bapak itu dan berkata dengan tangannya. "Maaf, pensil saya ada di kaki anda," Tentu saja bapak itu tidak paham dengan apa yang disampaikan Hinata, "Kau sedang apa, nak?"

Hinata menengok kanan kiri untuk mencari alat tulis tapi tidak ada orang yang bisa meminjaminya. Bapak itu jadi bingung dan menyangka Hinata sedang mempermainkannya, "Maumu apa, hah?!" kata pria paruh baya itu dengan nada meninggi. Hinata yang gemetar tidak bisa berpikir apa-apa. Tiba-tiba seseorang bersuara dari belakang Hinata.

"Maaf, tuan. Gadis ini bilang pensilnya terinjak oleh anda." kata seorang gadis dengan seragam pelayan cafe.

"Darimana kau tahu?" Pria itu menanyainya.

"Dia berbicara dalam bahasa isyarat dan anda pasti tahu apa yang maksud," jawab gadis itu tegas namun ramah. Si bapak kemudian menyadari apa yang Hinata bilang benar, bahwa ia sedang menginjak sebuah pensil. Lalu ia mengambilkan dan memberikan benda itu pada Hinata.

"Maaf ya, nak" kata pria itu sementara Hinata membungkuk tanda terima kasih. Setelah bapak itu berlalu, ia berbalik pada orang yang telah menolongnya.

"Terima kasih banyak."

Kemudian gadis berambut merah muda yang telah menolong Hinata itu juga membuat tanda dengan tangannya, "Tidak usah sungkan."

"Ano! Aku bisa mendengar, kok! Bicara saja!" Hinata meluruskan kesalahpahaman gadis itu.

"Oh, maaf! Aku kira kau..." Gadis yang berambut merah muda itu tidak melanjutkan topik sensitif tersebut.

"Tidak apa, aku tidak tersinggung. Malah kurasa aku belum cukup berterima kasih padamu!" Kata Hinata.

"Sudah kubilang tidak usah sungkan, bukan?"

"Oh ya! Kenalkan, aku..."

"Aku tahu kamu! Kau Hinata Hyuga kelas 2 program lukis, kan?" tebak gadis itu dengan yakin "Kita satu sekolah. Kenalkan, aku Haruno Sakura kelas 3 program lukis"

"Aa! Jangan-jangan kau Haruno-senpai yang karyanya menang lomba nasional itu!?" Hinata girang, seolah baru menemukan harta karun.

"Jangan memanggilku senpai, ah! Aku jadi merasa tua nih, panggil saja Sakura." katanya, "Memang benar sih, ada lukisanku yang terbawa oleh sensei saat ia mengantar lukisan untuk lomba." lanjut Sakura merendah.

"Baiklah, Sakura-san! Wah, aku senang sekali bisa bertemu denganmu! Aku suka sekali lukisan yang kau buat."

"Waduh, aku jadi malu. Lukisan yang mana?"

"Camelia putih."

"Oh itu?"

"Iya. Aku melihat kesedihan yang dalam pada gambar itu, tapi entah mengapa rasanya bunga itu masih mengharap akan sesuatu. Aku lupa judulnya."

"Interpretasimu menarik. Lukisan itu berjudul Penantian." Hinata menangkap ada kesedihan dibalik suara Sakura saat mengucapkan judul lukisan itu, tapi ia urung bertanya.

"... ngomong-ngomong kau sedang apa di sini?"

"Aku ada tugas untuk bulan depan tapi aku mengalami kesulitan dengan temanya."

"Kebetulan ini hampir jam istirahat. Kalau kau mengijinkan, mungkin setelah ini kita bisa mengobrol tentang itu," tawar Sakura.

Hinata mengangguk kencang.

"Oke. Aku mau melepas celemek ini sebentar, kau disini dulu ya!"

-

-

"Lihat bapak gendut yang sedang melihat jam tangan di halte itu! Pasti ia sedang membatin begini -Gawat! Sudah jam segini, kalau aku tidak cepat pulang wanita tua itu akan mengoceh seharian!-" kata Sakura sambil berekspresi aneh, memperagakan ekspresi orang yang mereka bicarakan. Hinata tertawa tanpa suara.

Masih di cafe yang sama, dua gadis itu duduk di meja yang strategis untuk melihat ke segala penjuru. Awalnya mereka berdiskusi sambil mengamati orang-orang yang melintas, tapi gara-gara Sakura mereka kini jadi main tebak-tebakan. Mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang di sepanjang jalan. Yah, hal itu lumayan membantu Hinata dalam mengamati interaksi di sekelilingnya, tapi hanya sekitar tiga puluh persen saja. Sisanya murni karena dan untuk iseng.

"Laki-laki yang disana itu, yang berdiri di sebelah cewek cantik di halte! Dari wajahnya sepertinya ia punya maksud yang tidak-tidak pada cewek itu!" Hinata merujuk pada laki-laki berwajah mesum yang berada di seberang jalan. Sakura menatap orang itu kemudian matanya terpicing.

"Kau benar! Orang itu mencurigakan sekali! Cewek memang seharusnya berhati-hati pada orang macam itu, apalagi yang cantik sepertimu," Sakura mengangguk-angguk.

"Sakura-san ada-ada saja!" Hinata terkekeh sembari menyimpul jemarinya.

"Benar kok! Lihat itu, ada dua cowok yang datang ke arah kita. Mereka pasti tertarik denganmu!" canda Sakura, menunjuk pemuda berambut pirang dan yang satunya berambut hitam yang sedang akan menghampiri mereka. Hinata baru menoleh saat mereka berdua sudah tiba di meja Sakura dan Hinata.

"Hinata-chan! Lama menunggu kami?!" seru si rambut pirang. Sementara yang rambut hitam menaikkan alis melihat Sakura yang sekilas membelalakkan mata.

"Kalian rupanya!" Hinata berkata melalui gerakan pada dua lelaki itu, lalu ia kembali pada Sakura untuk memperkenalkan kedua sahabatnya. "Sakura-san kenalkan, ini Naruto-kun dan yang ini Sasuke-kun. Mereka adalah sahabatku dari kecil. Nah Sasuke-kun, Naruto-kun, ini senpaiku. Sakura-san,"

"Jadi mereka temanmu Hinata-chan!" seru Sakura lalu ia menundukkan kepala tanda salam pada dua orang itu, "Hajimemashite. Aku Haruno Sakura, kelas 3 program lukis. Panggil saja Sakura,"

"Aku Uzumaki Naruto, kelas 3 program musik!"

"Uchiha Sasuke, kelas 3 program musik."

"Aa, sepertinya aku sering mendengar nama kalian disebut-sebut deh!" Sakura menepukkan telapak tangannya sekali.

"Mereka populer, sih! Memang susah menyembunyikan ketampanan mereka" Keluh Hinata untuk sekedar bergurau.

"Kau benar Hinata-chan!" Sakura menyetujui. "Oh! Silahkan duduk jika kalian tidak terburu-buru," kedua pemuda itu menurut.

"Jadi, kau bisa mengerti yang diucapkan Hinata?" tanya Sasuke langsung pada intinya.

"Iya begitulah! Ngomong-ngomong kalian mau kemana?" sahut Sakura sementara Sasuke mengerutkan kening.

"Kami dari toko dan janjian dengan Hinata-chan di sini untuk pulang sama-sama!" terang Naruto penuh semangat.

"Begitu. Kalau begitu Hinata-chan mau pulang sekarang?"

"Iya. Maaf ya, Sakura-san. Terima kasih atas waktunya sore ini."

"Kenapa kamu minta maaf, sih? Kan sudah kubilang tidak usah sungkan! Aku senang kok bisa kenalan denganmu dan dua orang tampan ini!"

"Sakura-chan hebat! Matamu bisa mengenali barang yang bagus!" kata Naruto super pede, berakhir dengan jitakan dari Sasuke.

"Kau hanya bagus diluar saja, dobe!" cela Sasuke. Dua gadis itu tertawa.

"Baiklah, kami pamit dulu. Senang bertemu denganmu hari ini!" Hinata membungkukkan tubuhnya sedikit, Sakura juga. Kemudian Hinata, Sasuke, dan Naruto meninggalkan tempat itu.

-

-

Hinata melangkah sambil membelakangi jalan utama agar ia bisa bercakap-cakap dengan kedua sahabatnya. "Sakura-san orangnya sangat menarik. Lain kali kalian harus banyak-banyak ngobrol dengannya!"

"Tampaknya kau senang sekali?" tanya Sasuke.

"Tentu saja. Dia teman pertamaku yang pertama!"

"Memang kami kau anggap apa, Hinata-chan!" protes pemuda berambut pirang.

"Kalian beda. Kalian kan laki-laki, apalagi tidak mengerti soal melukis!"

"Jadi kau sudah tidak butuh kami lagi nih?" desak Sasuke.

"Bukan begitu. "Sakura-san beda! Dia itu senior yang bisa kuajak ngobrol soal lukisan dengan bahasaku. Dan lagi orangnya baik! Apa kalian tidak merasa begitu?"

"Aku merasa dia itu menyenangkan kok!!" bantah Naruto.

Sasuke mengangkat bahunya.

"Tapi yang terbaik tetap Hinata.." kedua pemuda itu berkata secara serempak lalu berpandangan dan mereka bertiga kemudian tertawa kecil.

"Aku jadi tersanjung. Kalian memang sahabat terbaikku! Sekarang dan selamanya." Hinata lalu merengkuh lengan Naruto dan Sasuke. Sementara kedua pemuda itu tersenyum simpul.

-

-

Sementara itu seorang gadis berambut merah muda yang tengah dibicarakan sedang duduk memandangi cangkir putih yang ada dihadapannya. Ia lagi-lagi terdiam dengan raut wajah yang kosong seolah jiwa dan pikirannya tidak ada di sana.


TBC


AN:

Lagi-lagi porsi lukis-melukis muncul jauh lebih banyak daripada musiknya. Padahal judulnya Serenada. Kenapa jadi begini ya? *sighed* Lagi-lagi aku berbuat kesalahan yang bodoh. Apa ganti judul aja? Oil Pastel, misalnya?