VioletUngu proudly presents
The Innocent Girl
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
WARNING!
Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya untuk kepentingan hiburan semata.
OOC, OC, typos (mungkin), bahasa kacau (mungkin), abal-abal, alur maksa dan lain lain, dan lain lain.
.
harap maklum, author masih amatir :D
.
happy reading, readers :D
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
.
"Hm…~ apa saya bilang, nona? Anda kelihatan bagus dengan warna merah. Apalagi bila bisa serasi dengan Tuan Gaara. Ah~" Selesai dengan obi Kimono sutera nonanya, Souma, pelayan pribadi Erina itu bergerak ke bagian perhiasan. "Anda ingin memakai hiasan rambut yang mana, nona?"
"…Hinata Hyuuga…" wajah canik Erina tengah menghadap lurus ke cermin di hadapannya, tatapannya kosong. Pikirannya melayang entah kemana, dan dia bergumam. Berdialog dengan dirinya sendiri.
"Hiasan rambut yang diberikan Nona Hinata? Bukankah anda kurang suka dengan bentuknya, nona?" Souma yang tidak menyadarinya terus saja berbicara seolah Erina mendengarkannya.
"…Hinata Hyuuga tidak bisa mengambilnya dariku…" tapi Erina masih terhanyut dalam pikirannya sendiri. "…Dia tidak pantas…"
"Lebih baik pakai yang terakhir anda beli. Warnanya pas dan berbentuk mawar. Kesukaan anda, kan, nona?" pelayan loyalnya itu membawa beberapa kotak berisi hiasan rambut dan membawanya pada Erina.
"…Hinata Hyuuga tak akan mendapatkannya selagi aku masih hidup…" samar-samar terlihat seringai kecil muncul di bibir merah mudanya. "…ya, dia tidak pantas… Gaara milikku…"
"No, Nona Erina…?" Souma yang tak pernah melihat nona-nya seperti itu otomatis berhenti dan mundur selangkah. Aura gadis cantik itu terasa dingin dan mematikan baginya.
"Erina, apa kau sudah selesai?" Temari, karena kebiasaannya, telah tanpa sengaja menyadarkan gadis yang duduk di hadapan cermin itu untuk kembali ke dunia nyata.
"…" Erina berkedip. Sebuah kedipan yang cukup untuk membuatnya menghentikan semua pikirannya tentang apapun itu.
"Aku belum menentukan mana yang akan kupakai…" gadis itu beranjak dan mengambil alih dua kotak perhiasan yang dibawa Souma tadi lalu menunjukkannya pada Temari. "Bisa kau bantu memilihnya untukku?"
"Em… yang ini saja."
.
.
.
.
.
"Ini dia tuan puterinya…" dengan setengah menyeret Erina yang berjalan sangat lambat akibat zori (alas kaki yang digunakan bersama Kimono) yang dikenankannya.
Segera setelah sampai ke tempat Gaara, Erina duduk di sisinya dengan cara anggun yang biasanya. Gaara masih memakai jubah Kazekagenya, baru saja menyampaikan sambutannya sebagai pembukaan perayaan hari jadi Suna gakure itu, sulit baginya untuk melihat Erina yang duduk di sisinya tanpa menoleh –capingnya menghalanginya. Begitu berhasil menghadap kea rah Erina, satu hal yang dilihatnya adalah tusuk konde dengan hiasan kupu-kupu di bagian ujungnya yang tersemat di antara helaian lembut rambut Erina yang ditata sedemikian rupa.
"Hiasan rambutmu bagus." Ujar Gaara saat menyadari tak ada sedikitpun senyum di wajah gadis itu –yang tanpa senyumanpun tetap terlihat cantik.
"Aku benci sekali hiasan rambut ini." Jawabnya singkat.
"Kenapa kau memakainya?"
"Temari yang memilihnya untukku."
"Bukan aku yang memberikannya, kan?"
"Bukan. Tentu saja bukan. Ini hadiah dari saudara jauhku."
"Kau melewatkan pidatoku." Kalimat Gaara itu membuat Erina sontak menatapnya dengan kening berkerut.
"Benarkah? Tapi aku sudah mendengarmu berlatih di rumah berulang kali sampai aku bosan mendengarnya."
"Apa Kau sakit?" Gaara mengarahkan tangannya ke dahi Erina dan menyentuhnya. Memeriksa suhu tubuh istrinya itu.
"Gaara…" dan tentu saja, Erina langsung menepisnya. "…aku baik-baik saja."
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak… tidak ada–" Kalau kukatakan pun kau juga tidak akan paham, kan? "–aku hanya lapar."
"Sabarlah sebentar. Sepuluh menit lagi aku bisa berganti pakaian. Setelah itu kita akan berkeliling, ada yang ingin kuperkenalkan padamu, seseorang dari Konoha. Semoga bisa bertemu dengannya." Erina tak bisa menyangkal lagi ada sebuah senyum yang muncul di wajah Gaara. Senyuman penuh rasa rindu yang dalam. Senyuman yang rasanya tak akan didapatkannya dari sosok pemuda bersurai merah itu.
"Siapa?" apakah Hinata Hyuuga yang kau maksud?
"Kenalanku, seseorang yang membuatku jadi seperti sekarang ini."
"Kenalan?" kau yakin itu hanya kenalan? Tidak lebih?Apa Hinata Hyuuga hanya seorang kenalan bagimu? Lalu surat itu?
"Namanya Naruto Uzumaki. Mungkin kau sudah pernah dengar namanya."
"Naruto…?" bukan Hinata Hyuuga? Ah… benar… apa yang kupikirkan? Saitou sudah mengurus semuanya. Maaf, Gaara. Tapi pacarmu yang manis itu tak akan menemuimu hari ini.
"Ya. Nanti akan kukenalkan kau padanya. Aku akan ganti baju dulu, tunggu saja di sini." Gaara pun beranjak dari temptnya dan meninggalkan Erina di sana.
"Cepat kembali…"
"Nona…?" begitu Gaara meninggalkannya di sana, seseorang memanggilnya. "Nona Erina..?" suara seorang perempuan yang dia harap tidak akan pernah mendengarnya lagi seumur hidup. Erina berbalik dan matanya melebar. Panik.
Itu Hinata Hyuuga. Dengan kimono ungunya dan senyum ramah yang paling dibenci Erina, datang menghampirinya tanpa luka, tanpa cacat cela apa pun. Apakah Saitou gagal melakukan apa yang diperintahkannya? Lalu di mana dia sekarang? Apa gadis Hyuuga itu memergokinya dan membunuhnya?
"Te.. terimakasih untuk orang su.. suruhanmu yang sudah me.. mengantarku sampai ke sini.." dengan malu-malu gadis itu berterimakasih padanya.
"A.. apa?" bukan Erina tidak mendengar perkataan Hinata tadi, hanya saja dia meragukannya.
"Ma.. maaf, ta.. tapi itu kursi saya…" kata Hinata dengan suara mencicitnya yang menyebalkan sambil menunjuk kursi yang sedang dipakai oleh Erina, kursi di sisi kursi Kazekage yang melambangkan posisi sebagai permaisuri itu, dan mengakuinya sebagai miliknya.
"Apa?" Erina tertohok. Begitu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Hinata Hyuuga padanya.
"Kau tidak dengar?" mendadak suara mencicit gadis itu hilang dan senyuman di wajahnya sirna. Ekspresinya berubah, dengan sorot mata yang mematikan. "Aku bilang…" gadis itu mengangkat tangannya dan mengulurkannya ke leher Erina. "…itu kursiku. Posisiku. Kau tidak pantas ada di situ. Gaara tidak mencintaimu!" Mencengkeram lehernya kuat-kuat hingga tak bisa bernafas.
"Kau tahu… bukan kau yang dia inginkan. Tapi aku! Dia hanya mencintaiku." Hinata Hyuga menyeringai dan tampak begitu mematikan. "Bukankah menyakitkan rasanya? Tak apa Erina-sama, aku akan membuatmu tidak merasakan sakit itu lagi…"
"Kh!" bagaimanapun, saat ini kekuatannya tak sebanding dengan seorang Hyuuga. Sulit sekali baginya untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Hinata Hyuuga. Tapi dia tetap berusaha. Diraihnya sebuah gelas yang ada di meja di dekatnya itu dan dihantamkannya gelas itu ke kepala Hinata.
"Akh..!" cekikan Hinata lepas. Gadis itu melangkah mundur sambil memegang kepalanya yang berdarah.
"Hah.. hah.. Uhuk! Uhuk! Hah…" engan segenap kekuatannya yang masih sedikit tersisa Erina bangkit dan berlari menjauh dari Hinata Hyuuga yang baru saja hampir membunuhnya.
Entah dari mana, tiba-tiba dia melihat sosok Gaara sedikit jauh di depannya. Menatapnya, dengan membawa sebilah pedang di tangan.
"Gaara, tolong… tolong aku…" Erina memohon, sambil terus memaksa kakinya berlari ke arah sumber pertolongannya. Gaara tidak menjawabnya. Perlahan-lahan dia mengangkat pedang itu, lalu melemparnya lurus ke arah gadis itu dan…
"HAH!"
Napasnya tertahan. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dan berhenti di tempat seorang gadis pirang duduk sambil tangannya terulur mengusap sisi-sisi wajahnya yang berkeringat.
"Erina…? Erina, ada apa…?" Itu Temari. Tampak begitu khawatir di mata Erina.
Diamatinya sekeliling ruangan itu. Itu bukan tempat perayaan, bukan juga kamarnya. Sebuah kamar yang didominasi dengan warna putih dan berbau antiseptik. Rumah sakit.
"Kau ada di rumah sakit. Kemarin kau pingsan. Apa kau mendapat mimpi buruk?" Tanya Temari sambil menampakkan senyuman hangatnya untuk menenangkan Erina yang masih terlihat tegang dan ketakutan.
Pingsan? Apa yang tadi itu hanya mimpi?
Perlahan tubuh gadis itu mulai terlihat rileks kembali. Paru-parunya kembali memaok oksigen yang sempat tidak dihirupnya selama beberapa detik terakhir.
"Apa yang terjadi…?" tanya Erina setelah kembali mendapatkan kesadarannya.
"Kemarin kau pingsan. Dokter bilang kau terlalu kelelahan dan mengalami dehidrasi. Kau harus istirahat sampai pulih benar." Jawab Temari.
"Lalu… perayaannya?"
"Mulai dalam tiga jam. Tapi Gaara bilang kau tidak perlu ikut kalau kondisimu belum baik. Dan sekarang kau baru saja siuman."
"Aku… aku baik-baik saja…" Erina berusaha terlihat baik-baik saja dengan menampakkan senyuman di wajahnya yang pucat itu. "Lagi pula aku sudah bilang akan mendengarkan pidatonya kali ini."
"Hei, kau tidak perlu memaksakan diri. Gaara sangat mencemaskanmu. Dia pasti akan mengirimmu kembali ke rumah sakit." Gadis muda cantik jelita itu tak mendengarkannya. Dia mencabut jarum infus yang tertanam di tangannya dan langsung beranjak pergi begitu saja.
"Tak masalah…"
"Eri.. Hei, tunggu!"
.
.
.
.
.
"…dengan demikian, Festival Perayaan Hari jadi Suna dibuka…" kalimat itu mengakhiri pidato singkat Gaara yang diikuti tepuk tangan meriah para warga yang hadir di sana. Gaara melihat oang-orangnya bergembira untuk perayaan itu dan berhenti pada seorang gadis berkimono merah yang tersenyum menatapnya sambil turut bertepuk tangan.
Beberapa orang datang bersalaman dengan Gaara dan mengobrol singkat, dan kemudian tiba giliran gadis itu, istri hasil perjodohan yang disetujuinya beberapa wktu yang lalu itu.
"Pidatomu bagus…" katanya ramah.
"Kukira aku sudah bilang pada Temari untuk membiarkanmu istirahat."
"Hm… aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"…badanmu panas." Gaara menyentuh dahi gadis itu dengan tangannya dan merasakan suhu tubuh Erina yang tidak wajar.
"Setelah ini aku akan kembali ke rumah sakit… kalau itu yang kau mau…"
"Kau harus sembuh benar."
"Tuan, Nona… Tamu undangan anda…" Baki, datang dengan membawa beberapa orang tamu undangan khusus. Para Kage dan beberapa perwakilan Klan elit dari seluruh desa ninja yang salah satunya membuat nafas Erina tercekat.
Hinata Hyuuga?!
.
.
.
.
.
Bersambung
*dicetak dengan huruf miring maksudnya suara dalam hati
Halooooooooooo minnaaaaaaa *lambai-lambai semangat*
Haduh... sudah berapa masehi sejak kita terakhir kali ketemu ya? *alay kumat*
saya sangat merindukan kalian lho.. ;) *author dilempar beton*
Yak!
sampai kita di chapter 3! Yeeeeeeee :D #PROK PROK PROK
saya terharu :') ternyata ada yang masih mau baca fic ini dan bahkan memuji fic sederhana buatan saya ini. saya terharu lho :')
di chapter ini saya sudah berusaha biar bisa jadi panjang sesuai beberapa permintaan readers yang ada di review.
tapi hasilnya ya seperti ini... *garuk-garuk aspal*
agak sedikit emosional sih, waktu nulis fic ini.. tapi nggak tahu emosinya sampai atau nggak ke readrs semua.
Hn... saya nggak tahu mesti ngomong apa lagi.
Saran, kritik, sanggahan masih ditunggu (asal nggak terlalu kejem aja sih) :D
Silakan mampir ke kolom review sebelum pergi ya minna :)
Sincerely,
VioletUngu
