Brothership/Friendship, little Yaoi

Lenght : Chapter 3 of 3

Main Cast : -Wu Yi Fan

-Zhang Yi Xing

-Kim Jongin

-Other Cast

Rated : M (Dari kata2 dan beberapa adegan)

Ini Cuma ff berating M bukan NC. Dan untuk chapter kemaren KraYeol sempet nemuin typo, tapi pas KraYeol cek documentnya semua bahasa baik2 saja ga tau itu kalimat malah ngilang entah kemana -_- . tapi udah diperbaiki kok. Yaudah cuzz.. langsung aja..

Happy Reading For..

Bestfriend

Chapter 3..

Present...

.

.

.

"Akh! Apa yang kau lakukan kepada bokongku? Ahn~"

"Tentu saja, menggagahimu sayang~"

Yixing sudah benar-benar lemas sekarang. Dan keadaannya sudah sangat berantakan. Beberapa bercak merah keunguan menghiasi pundak bagian belakangnya, rambut acak-acakan dan hampir seluruh bagian wajahnya berwarna merah dan berkeringat.

Tadinya, Yixing masih memiliki beberapa persen kesadaran saat seseorang mulai menariknya kesebuah kamar lalu memaksanya meminum segelas minuman yang sudah diberi obat perangsang. Ah, Yixing tidak mungkin lupa dengan aroma itu. Dia sering memakainya sebelum bercinta.

Sungguh, Yixing sudah tidak sempat lagi untuk menyesali apa yang terjadi saat ini. .sangat.'hard'. Dengan kata lain, gairah untuk melampiaskan hasratnya terlalu menggebu-gebu dan ia juga butuh seseorang untuk mengeluarkan hasrat ini sekarang juga. Dia tidak peduli lagi dengan siapa dia bermain.

Karena jika itu dengan wanita, Yixing yakin ia sudah tidak memiliki cukup tenaga lagi. Dengan kata lain, Yixing pasrah. Yang penting ia segera terpuaskan.

Dan berakhir dengan Yixing yang tertidur tengkurap dengan seorang lelaki bertubuh kekar yang sedari tadi sibuk menggerayangi bagian pantatnya yang sudah telanjang entah sejak kapan.

"Fuck! Apa kau belum pernah diisi seseorang sebelumnya?!"

Mata Yixing sudah berkunang-kunang. Ia tidak mengerti dan Yixing tidak dapat mendengar dengan jelas apapun yang lelaki diatasnya katakan. Yang pasti, dia merasa kurang nyaman ketika lelaki yang berhasil menidurinya ini menampar pantatnya. Itu perih.

"Sakit~" Keluh Yixing dengan suara serak. Ia tiba-tiba merasa mual dan suara cegukan mulai tercipta beberapa kali dari bibir basahnya.

"Jadi aku yang pertama? Hahahaha" Lelaki itu menyeringai puas. Dengan tidak sabar ia tetap mencoba menyelipkan penisnya kebelahan pantat Yixing.

"Sakit, Akh!"

Lelaki itu menggeram. Ia sudah berhasil mendorong bagian kepala penisnya memasuki lubang pantat Yixing.

Sementara Yixing, dengan separuh nyawanya yang masih tertinggal tiba-tiba bernafas agak tertahan saat merasakan perih dibagian dalam pantatnya. Ini begitu panas dan tidak nyaman. Tidak tidak! Bukan kepuasan macam ini yang Yixing butuhkan!

"Hen_tikan~ Ahhh~!"

"Aku tahu aku akan mendapatkanmu, cantik? Errmmhh~"

?

"Ah..Hik..Ah..haaah~" Yixing sebenarnya hampir tertidur akibat tak kuasa menahan beban dikepalanya-ia tiba-tiba merasa pusing-. Namun begitu, meski kesadarannya semakin menipis Yixing tetap memaksakan dirinya untuk tetap terjaga. Hal itu ia lakukan ketika akhirnya Yixing menyadari betapa familiarnya suara lelaki yang kini tengah berusaha menyetubuhinya.

"Kau, Hahhh~ sungguh percuma jual mahal kepadaku. Ternyata kau tidak ada bedanya dengan lelaki-lelaki murahan diluar sana! Baru beberapa jam, kau_Uh~_sudah kembali lagi kesini. Haha.."

Ap_pa?

"Hik.."

Lelaki itu mencium pundak Yixing dengan penuh nafsu. "Kau masih ingat aku ughh~ Cantik?~"

"Engh~ Hik"

Siap_a?

Deg!

FUCK!

Albert?

Jadi?

Yixing segera memberontak. Brengsek! Oh sial sial sial!

Yixing langsung mengumpat didalam hati. Begitu sial karena ia benar-benar sudah mabuk dan terangsang hebat sekarang.

Dengan tenaganya yang kian melemah, Yixing bersikeras untuk lepas dari kukungan Albert. Ia mendorong pantatnya berniat melepaskan penis Albert yang masih dalam perjuangan memasuki dirinya, namun yang ada, lelaki brengsek itu malah mendesah keenakan dibelakangnya.

"Kau tidak sabaran sekali Uhh~_sayang~" Albert mencengkeram pinggul Yixing mencoba menariknya meski pemuda lemah dibawahnya tetap bertahan. Sama sekali tidak menginginkan penyatuan ini.

SIAL!

Yixing dengan tidak rela terus mengumpat didalam hati. Dia ingin membalikkan tubuhnya menjadi terlentang namun secepat itu pula Albert berhasil menahan kembali kedua tangan Yixing disisi samping-samping kepalanya tanpa harus bersusah payah.

Yixing yang sedang dalam keadaan lemas, membuat Albert semakin menyeringai puas dengan pekerjaannya.

"Hahaha.. rasakan ini!" Albert mendorong pinggulnya kasar.

"Akh!"

BRAKK!

Albert bahkan belum sempat menoleh ketika sebuah bogeman mentah tiba-tiba mendarat dengan mulus diwajahnya.

Yifan, dengan muka memerah padam akibat amarah, menendang pinggang Albert yang masih menduduki bokong Yixing. Penyatuan itu terlepas, membuat Yifan hanya bisa menggeram dan tanpa bisa ditahan lagi, pemuda tinggi itu langsung menghampiri Albert yang tersungkur disebelah ranjang lalu memberikan lelaki itu pukulan keras berkali-kali.

"RASAKAN INI BRENGSEKK! RASAKAN INI!"

BUGH!

Yixing sudah hampir pingsan namun ia masih sadar. Dan suara menggelegar Yifan masih dapat ia dengar meskipun samar. Pemuda itu meringis, menyentuh bokongnya yang terasa agak sakit dan panas sebentar, kemudian meraih selimut disana dengan gerakan lemas lalu meletakkannya diatas pantatnya yang telanjang.

'Ya Tuhan, Aku belum klimaks, apa yang harus kulakukan?'

Yixing benar-benar merasakan sakit dibagian penisnya. Dia butuh pelampiasan!

Dan dengan keadaannya yang lemas dan peluh bercucuran disana-sini, Yixing meraih penisnya sendiri. Menghiraukan apapun yang terjadi disampingnya sekarang. Dia akui, dia begitu gila akan sex, dan keadaannya sekarang benar-benar membuatnya pusing setengah mati. Yixing merasa tersiksa-amat sangat tersika- tepat dibagian penisnya.

Yifan terengah-engah setelah berhasil membuat Albert pingsan dan babak belur. Yifan pun segera mengalihkan tatapannya kearah Yixing? Dan_

SHIT!

Pemandangan Yixing yang menatapnya dengan muka merah dan bibir terbuka membuat Yifan tanpa sadar menahan nafasnya. Terlebih, sebelah tangan pemuda yang merupakan sahabatnya itu tengah mengurut penisnya sendiri dengan gerakan yang tak bertenaga sama sekali.

Seketika muka Yifan memerah kembali. Bahkan lebih merah dari sebelumnya. Dalam artian yang berbeda.

"Y_Ya! Zhang Yixing apa yang kau lakukan?!"

"Fanhh~ Bantu aku~Nggh~~"

Dan berakhir dengan Yifan yang merona. Yixing yang pingsan, ditambah dalam keadaan tubuh setengah telanjang dan sebelah tangan memegang penisnya sendiri. *AuthorBlushing~

.

.

.

Siangnya..

Yifan duduk terdiam diatas sofa ruang tamu rumahnya. Ditemani Jongin yang entah kenapa juga ikut diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Yifan berhasil membawa Yixing pulang lagi-lagi dengan bantuan Baekhyun tepat sekitar pukul 5 dini hari tadi. Albert juga sudah dibawa pulang dan Baekhyun telah membereskan masalah yang terjadi ditempatnya itu. Dia tahu Yifan dan Yixing sedang berada dalam masalah lain jadi Baekhyun rasa ia tak perlu menambah jumlah masalah dua orang yang sudah ia anggap teman itu lagi.

'Baekhyun itu baik'

Dan Yifan sudah menyempatkan diri mengucapkan terima kasih atas bantuan berharga Baekhyun. Meski itu adalah pertemuan kedua mereka terhitung dalam jarak yang bisa dibilang sangat dekat-jangan lupakan tentang pertemuan pertama mereka yang tidak sebaik ini- Yifan tetap tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada lelaki mungil yang ia ketahui kekasih Chanyeol itu.

Sebenarnya, Yifan belum merasakan yang namanya tidur sama sekali sejak seharian sementara ia mendapati Jongin tengah duduk-duduk gelisah diatas sofa rumahnya ketika ia dan Yixing pulang. Entah sejak kapan anak itu terjaga dari tidur matinya.

Jongin merasa bersalah, Yifan tahu itu tapi ia tak akan mempermasalahkannya. Well, Yixing bukan anak kecil lagi yang harus di jaga sedemikian rupa oleh seseorang atau siapapun itu. Dan Jongin tidak pantas mendapatkan teguran hanya karena dia tertidur dan Yixing kabur. Benar.

Hanya saja, satu yang Yifan fikirkan_

Kejadian beberapa jam lalu itu sungguh_

"Ap_apa... Terjadi sesuatu dengan Yixing?" Jongin memilih untuk memulai percakapan. Karena sedari tadi keduanya hanya diam ditambah Jongin yang begitu penasaran setengah mati setelah melihat keadaan Yixing yang acak-acakkan ketika Yifan membawanya kekamar.

Yifan menoleh kearah Jongin. Ia menghela nafasnya sejenak. "Yixing mabuk_"

'Tidak mungkin hanya itu' Sanggah Jongin dalam hati.

"_Dan yeah, dia bercinta~" Beruntung karena Yifan masih mau melanjutkan perkataannya. Jadi Jongin tidak perlu repot-repot banyak bertanya.

Sementara Jongin, ia seperti merasakan atmosfir yang sama namun pada situasi yang berbeda dengan apa yang ia rasakan kemarin malam. Ketika Yixing memasuki mobilnya dengan kesal dan berkata Yifan tidak bisa ikut lantaran sedang bercinta. Sekarang, Yifan seolah-olah melakukan sinonim dari kejadian itu.

"Kau.. Akan memarahinya?"

"Tentu saja!"

"Kenapa begitu? Kau sendiri selalu memilih bercinta dengan Lucy dan mengabaikan ajakan-ajakan Yixing. Kenapa ketika giliran dia yang bercinta kau harus marah?" Bantah Jongin. Merasa sedikit aneh atas sikap Yifan.

Iya, Yifan akui kalau dia salah soal itu dan sedikit terlalu berlebihan kepada Yixing. Tapi entah kenapa Yifan hanya tak suka melihat Yixing terlalu banyak tidur dengan berbagai macam wanita. Setiap hari berbeda dan itu benar-benar membuat Yifan tak nyaman.

Tapi berhubung karena sekarang permasalahannya sedikit berbeda, Yifan lantas segera menjawab. "Setidaknya aku bercinta dengan wanita."

"Lalu kau fikir Yixing_" Jongin terkesiap sendiri. "_Apa maksudmu?...Ap_apa Yixing baru saja bercinta dengan_"

"Ya!"

"Apa dia gila?!"

"Dia memang sudah tidak waras lagi!"

Dan kedua sahabat itu pun kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama. Jongin dengan fikirannya dan Yifan dengan fikirannya.

.

.

.

Hingga beberapa jam selanjutnya, Jongin akhirnya memilih untuk pulang karena Yixing yang ditungguinya tak kunjung-kunjung bangun. Sekitar pukul 11:00 siang Jongin pamit dan berencana akan datang kerumah Yifan dan Yixing kembali setelah Yixing sadar. Ia meminta Yifan mengabarinya. Dan Yifan hanya mengiyakan.

Setelah itu, Yifan juga berencana untuk segera istirahat dan menidurkan dirinya ketika Jongin sudah benar-benar tak ada lagi dirumahnya. Tapi sebelumnya, Yifan menyempatkan diri untuk melihat keadaan sahabatnya sebentar.

Sungguh, Yifan mungkin benar-benar sudah mulai terserang penyakit(?) gila -sama seperti Yixing yang memang sudah gila- saat ini. Karena setiap dia mengamati wajah Yixing-bahkan warnanya masih agak merah dibagian pipi- yang terlelap dengan mulut sedikit terbuka, tiba-tiba fikiran kotornya malah membayangkan bunyi desahan 'laki-laki' Yixing persis seperti yang ia lihat beberapa saat lalu.

Apa Yifan terangsang?

Ah, Tidak mungkin!

Yifan itu normal. Yixing juga kan? Tentu iya. Yifan mengenal Yixing. Sangat. Mungkin Yixing hanya sedang muak dengan wanita dan mungkin juga tujuannya datang ke bar gay saat itu hanya untuk bersenang-senang dan melampiaskan kekesalannya entah karena apa.

Ada sedikit perasaan tidak rela dihati Yifan ketika ia mengingat bunyi jeritan Yixing ketika seorang pemuda brengsek mencoba menyetubuhinya. Benar, Yixing pasti masih normal dan dirinya yang tengah mabuk pasti dipaksa untuk mau berbuat demikian.

Yifan menyelimuti Yixing. Merasa begitu kasihan kepada anak itu karena Yifan tidak berhasil menjaganya layaknya sahabat. Bukankah sahabat harusnya saling melindungi bukannya malah bertengkar setiap hari?

Ugh~ Untuk seorang Wu Yifan jika dia ingin berkata demikian maka jawabannya adalah 'Dia benar-benar sudah terlambat!'.

Ah, sudahlah. Mungkin Yifan hanya harus menunggu Yixing bangun dan memintainya sedikit informasi tentang masalahnya dengan Clara. Sekalian meluruskan kesenjangan yang juga terjadi diantara dirinya dan Yixing. Kapan perlu Yifan akan meminta maaf atas sikapnya. Karena Yixing juga tidak akan mendapati kondisi seperti sekarang ini jika bukan karena dia.

"Huhh~" Yifan membuang nafas berat dari mulutnya.

Biarlah, sekarang yang terpenting, Yifan harus segera istirahat jika ia tak ingin terserang sakit.

Pemuda tinggi itu segera beranjak setelah sebelumnya menatap wajah merona Yixing sekali lagi. Tadi ia sudah memakaikan anak itu bokser yang berukuran agak longgar karena emm_haruskah Yifan mengatakannya?

Uh_oke.

Sepertinya Yixing meminum obat perangsang dengan dosis tinggi karena 'adik' nya belum tidur sama sekali, meski pemiliknya bahkan sudah terlelap hampir selama 6 jam.

Tidak mungkin kan Yifan yang harus menidurkannya? #TidurinAjaFanKamiIkhlas~XD

.

.

.

Jika biasanya rumah yang dihuni oleh dua orang mahasiswa yang berasal dari University of Chicago itu akan ramai setiap malamnya oleh suara bising Yixing maupun teriakan Yifan yang dibuat jengkel akibat ulah Yixing yang selalu menjahilinya, maka kali ini suasananya tampak hening dan sunyi.

Yifan masih tertidur dengan pulas diranjangnya sendiri bahkan hingga waktu sudah menunjukkan pukul 18:35 malam. Ia baru terjaga setelah indra penciumannya tidak sengaja menangkap bau nikotin dari asap rokok.

Awalnya Yifan pikir itu mimpi. Hidungnya tampak mengendus-endus didalam tidurnya. Kening Yifan berkerut dan ia menggeliat sedikit, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa agak kaku. Menyamankan letak pipinya diatas bantal-Yifan tidur tengkurap-, kemudian pemuda tinggi itu mulai membuka matanya yang berat secara perlahan-lahan.

Yifan menguap. Terlihat sangat letih. Namun ketika kedua matanya berhasil terbuka Yifan terkejut, hampir terjungkal dari atas kasurnya sendiri saat secara tidak sengaja ia melihat bayangan seseorang berdiri didekat pintu kamarnya.

Deg!

Yifan mengangkat kepalanya dan seketika rasa pusing menyerang. "Hsshh~" Yifan mendesis ketika matanya yang semula kabur perlahan mulai jernih.

"Kau kah itu Xing? Apa sih yang kau lakukan?!" Yifan mendengus sebal lengkap dengan suara paraunya. Tadinya Yifan fikir dirumahnya benar-benar ada hantu seperti yang kerap kali Yixing ceritakan kepadanya. Ternyata_Ah~ anak itu..

Yixing masih disana. Berdiri menyender dipintu hanya mengenakan bokser tanpa atasan. Dia menghadap kearah Yifan sembari sesekali menghisap rokoknya.

Yifan menghela nafas. Setelah memastikan kalau itu benar-benar Yixing, Yifan kembali menghempaskan kepalanya kebantal, membelakangi Yixing. Pemuda tinggi itu mendengus sekali lagi. "Mengapa kau disini?"

"Kenapa kau pulang?"

Yifan membuka matanya mendengar Yixing malah melempar pertanyaan lain untuknya.

"Ini rumahku" Jawab Yifan.

Kali ini Yixing yang menghela nafasnya. Sebenarnya nalurinya yang selalu ingin meneriaki Yifan sudah benar-benar mendesak minta dikeluarkan dari dalam. Memangnya siapa yang sok nekat kabur dan berkata tidak ingin tinggal dirumah ini lagi?

Namun Yixing menahannya. Menghisap rokok yang tinggal setengah itu sekali lagi lalu mehembuskan asapnya keluar lewat celah-celah bibirnya. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa-apa saat itu. Tapi sebenarnya, Yixing masih bisa merasakan kalau suasana hatinya benar-benar belum membaik sama sekali. Belum sedikitpun.

Entahlah, Yixing bisa saja menganggap kejadian yang telah ia alami sebelumnya tidak pernah terjadi sama sekali. Lalu melupakan tentang dengan lelaki mana ia telah bercinta kemudian mengubur jauh-jauh ingatannya mengenai kejadian memalukan itu disepanjang hidupnya. Iya, jika saja lelaki itu bukan si brengsek 'Albert!'

Hening sekitar beberapa detik lagi sebelum Yixing kembali bergumam. "Lalu, mengapa kau membawaku pulang?"

Yifan mengerutkan alisnya. Ia segera mengangkat kepalanya, menopang setengah bagian tubuhnya menggunakan siku kemudian menoleh kearah Yixing. "Dan membiarkanmu diperkosa lelaki brengsek itu?!" Ucapnya dengan intonasi yang sedikit meninggi.

Gerakan Yixing berhenti tepat ketika rokok yang sedang ia hisap berada diantara celah-celah bibirnya. Yixing membalas tatapan Yifan. Keduanya terdiam-lagi- untuk beberapa saat sebelum Yixing mengeluarkan rokok yang semula berada di dalam mulutnya lalu menjatuhkan benda itu kemudian menginjaknya dengan kaki.

Yixing melakukannya dengan gerakan biasa saja seolah lantai yang ia injak adalah tanah. Terlebih lagi, hal itu ia lakukan tepat di bawah pintu kamar Yifan.

Yifan hanya bisa diam ketika melihat Yixing akhirnya beranjak pelan menjauh dari pintu kamarnya. Dua langkah yang Yixing buat masih terjangkau di indera penglihatan Yifan, dan jalan anak itu sedikit mengangkang. Membuat Yifan hanya mampu menghela nafas panjang ketika mengingat kembali apa penyebabnya. Terlebih ketika kedua mata Yifan juga dapat melihat bercak-bercak itu masih menghiasi punggung sahabatnya.

Dan suasana rumah kembali hening seperti semula~

'Apa aku salah bicara?' Batin Yifan. Menyesal dengan ucapannya. Yixing mungkin sedang dalam mode sensitif dan keadaannya pasti belumlah benar-benar baik.

Yifan menghempaskan tubuhnya menjadi terlentang. "Seharusnya aku lebih menjaga ucapanku.." Sesalnya kemudian.

.

.

.

Seusai mandi. Yifan keluar kamar lengkap dengan kaos oblong dan bokser selututnya. Tak lupa sebelah tangannya yang memegang handuk putih kecil ia usap-usapkan kekepalanya yang masih basah.

Yifan turun kemudian menghampiri sofa yang terlihat sudah di isi terlebih dahulu oleh seseorang. Itu Yixing, teman sejawat senasib seperjuangan sehidup dan sematinya(?). Yifan kemudian menghampiri sahabatnya yang ternyata tengah asyik menonton TV itu.

Berdiri disebelahnya dan mengamati sebentar apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu, kemudian Yifan meletakkan handuknya diatas meja tanpa menimbulkan suara berisik lalu berdiri kembali. Mulai mencoba menyapa Yixing seperti biasa. "Apa kau akan menguasai tempat ini sendirian?" Tanya Yifan.

Yixing mendongak. Mendapati Yifan yang tengah berdiri disebelah sofa. Sebenarnya tidak mengerti maksud Yifan, jadi Yixing hanya terus mengunyah keripik yang sedang ia makan setelah sempat berhenti sebentar akibat sapaan tiba-tiba Yifan barusan. "Apa maksudmu?" Tanya Yixing.

"Aku juga ingin duduk."

Yixing melambatkan tempo kunyahannya lalu mencoba mencerna ucapan Yifan dengan cara mengamati seluruh bagian tubuhnya.

Oh, mungkin maksud Yifan adalah tentang posisi Yixing yang kini tengah tidur-tiduran disofa layaknya seorang raja. Sebelah kakinya ia angkat dan ia biarkan tersangkut disandaran sofa sementara yang sebelahnya lagi ia biarkan lurus menghabiskan tempat.

Setelah merasa benar-benar mengerti apa maksud dari ucapan sahabatnya, Yixing lantas kembali memfokuskan dirinya kearah televisi dan berlanjut mengunyah keripiknya lagi. Sebelumnya ia bergumam. "Maaf. Tapi bisakah kau cari tempat lain saja? Aku tidak bisa duduk. Pantatku masih sakit." Ujarnya tanpa dosa.

Yifan menatap Yixing lagi. Lebih kepada tatapan simpati. Oh, pantas posisinya sedikit aneh. "Apa sesakit itu?" Tanya Yifan.

"Hn!" Yixing tetap melanjutkan kunyahannya setelah bergumam dan mengangguk sedikit.

"Boleh kulihat?"

Kali ini kunyahan Yixing benar-benar berhenti. Pemuda itu menghela nafasnya yang terasa agak tertahan. "Apa kau sedang bercanda?" Dan Yixing hanya sedang beruntung karena tidak tersedak keripiknya.

"Tidak."

"Apa kau berniat mengerjaiku? Lalu menertawaiku?"

"Astaga tidak, Xing!"

"Lalu?"

"Apa kau akan selalu berfikiran buruk tentangku?!"

Yixing menghela nafas. Sebenarnya hanya mencoba untuk banyak bicara karena_yang benar saja! Kenapa harus, Yifan memeriksa bokongnya?!

Yixing sebenarnya tiba-tiba saja menjadi gugup. "Mengapa kau peduli kepadaku?" Tanya Yixing untuk menutupi kegugupan tidak biasa yang tengah melandanya.

"Yak! Zhang Yixing berhentilah untuk terus menjadi kekanakan begini! Aku tahu perasaannmu sedang tidak baik jadi lupakan masalah kita dan bersikaplah seperti biasa!" Bentak Yifan.

Yixing mencoba duduk. Walau begitu ia meringis sedikit yang berhasil membuat Yifan panik dan langsung ikut duduk juga disebelahnya. "Xing_Kau baik-baik saja? Apa perlu kupanggilkan dokter? Ah_Maaf sudah membentakmu!" Ujar Yifan sembari memegang lengan dan pinggang Yixing, tak lupa dengan tatapan menyesal yang seketika tercipta di wajahnya.

Yixing mengeryit sekali lagi. Kemudian menatap Yifan sembari terkekeh kecil, meski begitu ia tetap meringis karena bokongnya yang memang masih terasa agak sakit.

"Jangan berkata seperti itu. Kau memperlakukanku seperti perempuan dan aku malu!" Kekehan Yixing masih terdengar setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

"Aku serius Xing! Apa_Apa rasanya sesakit itu?"

"Tidak juga, rasanya enak_AW!" Yixing lagi-lagi meringis ketika sebelah tangan Yifan berhasil mendarat dengan sukses dikeningnya.

Yifan benar-benar khawatir dan kenapa Yixing masih sempat-sempatnya untuk bercanda? Fikir Yifan.

Tapi setelah itu, Yifan akhirnya mampu untuk sekedar tersenyum meski sembari mendecih. Dan dengan sedikit enggan ia meletakkan kembali telapak tangannya kekening Yixing yang baru saja ia beri jitakan, lalu mengusapnya dengan lembut. Kentara sekali kalau ia perhatian kepada Yixing.

Yixing terdiam. Merasakan sentuhan halus itu terus mengenai permukaan kulitnya. Ia menatap Yifan yang juga balas menatapnya lembut, namun tersirat raut kekhawatiran diwajah sahabat baiknya itu.

Bolehkan Yixing mengatakan sesuatu?

Tapi sebelumnya, Yixing ingin jujur kalau dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengatakan ini. Dia_maksudnya Yixing, hanya tidak mengerti bagaimana cara menyikapi perasaan damai yang tiba-tiba saja hinggap dihatinya saat ini. Iya, Yixing tahu kalau dia dan Yifan adalah sepasang 'sahabat' yang saling 'menyayangi' satu sama lain. Benar. Tapi_

_Apa tidak apa jika seseorang merasakan perasaan yang bernama 'gugup' itu ketika temannya yang lain hanya menyentuhnya? Apa itu hal biasa? Tidakkah itu berlebihan?

Jawabannya adalah, Yixing tidak tahu. Dan sekali lagi Yixing katakan, ia hanya merasa nyaman ketika Yifan mengusap lembut keningnya, selebihnya, yang Yixing rasakan hanyalah perasaan bersalah namun juga bahagia secara bersamaan ketika dirinya sudah berhasil membuat Yifan sebegitu khawatirnya.

"Maaf~" Yixing juga tidak tahu kenapa ia malah mengucapkan kalimat 'maaf' secara tiba-tiba.

"Kita sama-sama bodoh. Aku juga minta maaf~" Dan itu adalah jawaban yang Yixing peroleh dari Yifan.

"Seharusnya kau tak melihatnya. Aku_Sebenarnya aku malu padamu.." Yixing akhirnya berkata jujur. Membiarkan wajahnya kembali memerah dan mungkin dapat dilihat oleh Yifan. Oke! Itu cukup memalukan!

"Kenapa harus malu? Kita bersahabat. Segala sesuatu tentangmu aku berhak tahu. Dan.. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja aku tidak datang waktu itu.." Keluh Yifan.

Muka Yixing semakin memerah. Serius, dia bagaikan anak gadis yang tengah dilindungi dan dikhawatirkan pacarnya saat ini. Please! Itu sungguh memalukan! Dan lagi! Mereka berdua laki-laki dan tidak sedang berpacaran!

Tapi, ayolah.. Tidak salah juga kan kalau hari ini Yixing sedikit mengurangi kadar hobby nya yang begitu suka meneriaki muka Yifan, lalu menggantinya dengan sikap serius dan minta diperhatikan?

Tidak salah karena itu naluri manusia. Rasa ingin dilindungi dan diperhatikan itu adalah sikap alami bagi beberapa orang yang sedang dirundung masalah. Persis seperti Yang tengah dialami Yixing saat ini.

"Y_Ya jangan dibayangkan.." Yixing ikut mengeluh lengkap dengan rona diwajahnya yang semakin menjadi-jadi.

Yifan terkekeh kecil menyadari perubahan wajah Yixing. "Lupakan.." Kata Yifan setelahnya. Lebih kepada dirinya sendiri yang juga ingin melupakan kejadian itu. Dia juga tak sudi lagi untuk mengingatnya.

Dan mau tak mau perasaan Yixing kembali merasa tenang seperti semula. Ia tersenyum canggung sembari tetap membiarkan Yifan mengelus keningnya.

Meski begitu, Yixing masih merasa kurang enak ketika menatap Yifan saat dirinya malah kembali mengingat kejadian yang beberapa saat lalu dialaminya. Intinya, Yixing masih risih dengan bayangan 'pengalaman' gila yang terus saja menghantui fikirannya itu.

"Ceritakan semuanya kepadaku setelah ini_" Yifan memberi jeda sedikit lalu melepaskan tangannya dari kening Yixing. Dia tahu kalau Yixing belum bisa melupakan kejadian itu. Yifan dapat merasakannya lewat tatapan Yixing yang agak gelisah. "_Dan..Bisakah kau berhenti membuatku khawatir?"

.

.

.

"Bisakah kau berhenti membuatku khawatir?"

Tepat malam itu juga keduanya saling berbicara dan meluruskan segala kesalah pahaman yang terjadi. Bahkan Yifan beberapa kali mendapat serangan tinjuan dari Yixing ketika pemuda tinggi itu berhasil mengungkit tentang status di Instagram yang Yixing buat.

"Aku fikir kau mungkin sedang kerasukan sesuatu atau apa.."

"Yak! Bagaimanapun juga masih ada sisa-sisa rajin didalam diriku meskipun aku sangat pemalas." Bela Yixing saat itu. Meskipun rasanya malu sekali ketika ia tahu status-status 'alay(?)' nya telah dibaca Yifan.

Atau ketika Yixing secara terang-terangan mengucapkan kata 'terimakasih' dan 'maaf' soal 'tugas' dan 'ponsel' Yifan waktu itu, maka Yifan akan menjawab_

"Itu gunanya teman.." Yifan berucap sembari menepuk-nepuk ringan pundak Yixing yang saat itu tengah berbaring diranjang sementara Yifan duduk disebelahnya. Jangan lupakan soal pantat Yixing yang masih lecet -_-

Yixing akui kalau ia cukup terharu saat itu. Mungkin ia akan menangis dengan cengeng jika saja Yifan tak menambah kata-katanya lagi_

"_Tapi soal ponsel, lain kali kau harus membeli yang lebih mahal dari ini Xing, ponsel yang kau belikan itu sungguh jelek dan murahan!" Ejeknya. Yang berhasil membuat Yixing naik darah. Bagaimanapun juga Yixing masih ingat kalau dia membelikan ponsel yang tidak murah meskipun tidak mirip dengan milik Yifan yang telah ia rusak sebelumnya.

Tapi yang paling Yixing sesali kala itu adalah, tentang dia yang telah berburuk sangka kepada Yifan. Ia fikir Yifan mengetahui masalahnya dengan Clara dan telah mencoba bersikap acuh tak acuh. Tapi ternyata tidak. Yifan tak tahu menahu soal Clara yang selingkuh dibelakang Yixing, makanya Yifan tak pernah membahasnya.

Jadilah Yixing yang menjadi pihak yang akan selalu meminta maaf terlebih dahulu kepada Yifan. Yeah, meskipun ia tetap putus dengan Clara pada akhirnya. Setidaknya, hubungannya dengan Yifan semakin membaik dari segi apapun setelah percakapan panjang itu.

.

.

.

Beberapa hari setelahnya..

Yixing tersenyum ketika ia, Yifan dan Jongin tengah melangkah memasuki area kantin. Jadwal kuliah telah selesai dan sekarang waktunya untuk makan.

Sudah lebih dari sepekan sejak kejadian yang cukup memalukan bagi Yixing itu terlewatkan. Dan kini ketiganya, Yixing, Yifan dan Jongin kembali kuliah seperti biasa.

Saat ini, Yixing tengah terkekeh-kekeh kecil karena suatu hal. Itu adalah tentang sahabat tololnya-Wu Yifan tentu saja-.

Yifan baru saja mendepak-tapi tidak kasar- kepala bagian belakang Yixing setelahnya pemuda tinggi itu malah meminta maaf sembari menatap kearah Yixing dengan perasaan bersalah bercampur kesal.

Bagaimana tidak, Yixing bilang ia baru saja habis bercinta didalam toilet perempuan dengan salah satu senior. Lalu seorang dosen memergoki perbuatan mereka. Yifan bahkan keburu memukul kepala Yixing sebelum terakhir anak itu bilang, dia ternyata hanya salah masuk toilet kemudian tertidur disalah satu biliknya dan bermimpi. Mimpi basah.

Sialan!

Jadi soal 'bercinta' dan 'kepergok dosen' itu cuma mimpi?!

"Kenapa kau suka sekali membuatku jengkel?" Yifan mendecak kesal sembari menatap muka Yixing yang tengah merengut. "_Jadi, apa kepalamu sakit?" Dan berakhir dengan Yifan yang kembali mengusap-usap bagian kepala Yixing yang mendapat jitakan darinya-meskipun ia tengah kesal setengah mati dengan kelakuan anak itu-.

"Makanya dengarkan ceritaku lengkap-lengkap dulu baru bertindak! Dasarr! Ini? Tentu saja sakit!"

"Kenapa sih, kau selalu membuatku khawatir?"

Itu adalah sepenggal kalimat yang semakin sering Yifan ucapkan untuknya. Dan selalu berhasil membuat Yixing diam-diam tersenyum bangga didalam hatinya.

"Berhentilah membuat keributan. Ck! Kalian ini." Jongin kembali menjadi penengah.

Ketiganya kembali berjalan setelah Jongin berhasil melerai segala bentuk perdebatan-tidak penting- kedua sahabat konyolnya itu.

Bahkan setelahnya, sikap Yifan kembali membuat Yixing takjub-takjub tak karuan. Karena jika biasanya Yifan akan pamit untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan pacarnya yang meminta jemput disuatu tempat atau apalah, maka sekarang, pemuda tinggi itu lebih memilih untuk bertengkar dengan kekasihnya dari pada melewatkan makan dikantin sebelum pulang bersama Yixing dan Jongin.

Saat itu Yifan tengah menelfon_

"Maaf Lucy, aku tidak bisa menjemputmu sekarang.."

"Sebenarnya apa sih yang sedang kau kerjakan? Kenapa setiap kali aku meminta mu datang kau selalu tidak bisa?"

Sreeett!

Dan ponsel Yifan kembali berpindah tangan. Sementara pemiliknya, hanya bisa memutar bola matanya dan menghela nafas kemudian melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Membiarkan Yixing-si pelaku perampasan- bertindak semaunya.

"Dengar Lucy, pacarmu sudah memiliki pekerjaan yang lebih penting dari pada harus mengantar jemputmu setiap hari!"

"Yixing? Kau kah itu?Apa yang kau bicarakan? Mana Yifan?!"

"Ya, ini aku. Zhang Yixing, majikan baru Yifan dan Yifan sekarang bertugas sebagai bodyguard ku."

"Uhuk!_" Yifan tersedak mie nya. Dia mendelik dengan mata melotot kearah Yixing. "_Yach! Zhang_Mmpptt_"

Yifan mengerang kesal karena Yixing keburu membekap mulutnya yang masih basah oleh kuah-kuah mie.

"Baiklah. Aku akan menutup telfon dan jangan ganggu pekerjaan bodyguardku hari ini Lucy! Kenapa sih semua wanita itu sangat merepotkan?! Bikin jengkel saja!"

"Kurang ajar sekali mulutmu?! Cepat berikan ponsel ini kepada Yifan atau_"

Klik.

Dan sambungan telfon pun terputus.

Yixing nyegir ketika ia melepaskan tangannya yang ikut-ikutan belepotan kuah mie yang berasal dari bibir Yifan. Ia menatap Yifan tanpa dosa sementara yang ditatap hanya mendengus sebal.

"Ini yang kau sebut dengan akan menjadi dewasa mulai sekarang?" Tanya Yifan sembari meminum air putih lalu mengantongi ponselnya kembali.

"Kapan aku mengatakannya?" Tanya Yixing sembari menyeruput mie kuahnya sendiri.

"Di Instagram.."

"Apa?"

"Iya, kau tidak lupakan kalau aku sudah membaca semua statusmu waktu itu?" Peringat Yifan.

"Isshhh, itu memalukan!"

Jongin yang semula bengong karena tak mengerti arah percakapan kedua sahabatnya, kini tersenyum dalam diam. Mulai terkekeh ketika Yifan tertawa, lebih tepatnya menertawai Yixing yang selalu malu ketika status di Instagram yang ia buat beberapa hari lalu di ungkit.

"Sungguh-sungguh memalukan!" Ringis Yixing. Dia kemudian menyeruput mie nya dengan tidak minat dan alis tertekuk. Oh, Yixing tiba-tiba terbayang beberapa kejadian di hari itu termasuk kejadian yang paling membekas di ingatannya dan_

"Sudahlah. Lanjutkan makannya, nanti keburu dingin.."

_Yang membuat Yixing paling tidak bisa mencegah rasa nyaman itu kembali adalah ketika ia mendengar Yifan mulai berbicara guna mengalihkan topik. Yixing tahu, Yifan sengaja melakukannya untuk Yixing agar dirinya tak mengingat masalah itu lagi. Yixing tahu kalau Yifan, sahabat tersayangnya, hanya sedang menjaga perasaannya. Dan Yixing selalu bahagia karena itu.

Jongin, yang memang sudah mengetahui tentang semuanya, hanya bisa ikut tersenyum karena ia merasa sekarang hubungan Yifan dan Yixing sudah sangat membaik, bahkan lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Keduanya juga sudah jarang memperdebatkan segala sesuatu yang kurang penting lagi.

Tapi yang paling Jongin syukuri adalah, 'kebiasaan buruk' kedua sahabat baiknya itu juga sudah mulai berkurang dari hari-kehari.

Terakhir, Yifan meraih ponsel yang ia letakkan di saku celana ketika ia merasakan benda tipis itu bergetar tanda ada pesan masuk.

Yixing yang selalu ingin tahu urusan Yifan mulai mendekat. Menyandarkan kepalanya dibahu Yifan guna melihat dari siapa pesan tersebut, sekaligus ikut membaca isinya. Ternyata itu dari Lucy_

"Aku benar-benar muak Fan! Kenapa sih kau tak pernah memarahi sahabat bodohmu itu dan lebih memilih mengacuhkanku?! Kalau begini caranya aku sudah tidak tahan lagi.."

"Sini kubalas!" Pinta Yixing karena merasa tak terima ketika Lucy menyebutnya bodoh.

"Sebentar.." Yifan mulai mengetikkan pesan balasan untuk gadis yang 'masih' berstatus kekasihnya itu.

"Lalu? Kau mau apa?" -Send-

Yixing masih setia menyender dibahu Yifan. Sementara Jongin terlihat sibuk dengan makanan dan ponselnya sendiri. Tidak menghiraukan kegiatan Yifan dan Yixing.

Selang sekitar 1 menit, pesan dari Lucy kembali Yifan terima_

"Apa? Hanya itu yang kau katakan? Sudahlah Fan, mulai sekarang kita berakhir! Sana, pacaran saja dengan sahabat gila mu itu!"

Yixing menutup mulutnya menahan tawa. Yifan menoleh kearah Yixing. Kemudian ikut tersenyum sembari mendecih. "Kau senang sekarang? Heh?"

Yixing mengangguk-anggukan kepalanya. Lebih terlihat seperti tengah mengejek Yifan karena setampan apapun juga sahabatnya itu, pada akhirnya dia tetap menjomblo sama seperti Yixing dan Jongin. :D

"Sini_" Yixing merampas kembali ponsel Yifan hingga berpindah-lagi- ketangannya. Lalu mengetik sebuah pesan dengan cepat.

"Ok! Jadilah perawan tua mulai sekarang! By:Yixing :p"

Yifan dan Jongin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd Yixing. Entah kapan anak itu akan dewasa... Fikir keduanya.

Selanjutnya. Ketiga lelaki 'lajang' itu kembali melanjutkan acara makan mereka sambil sesekali membicarakan hal-hal tentang kuliah. Juga tentang rencana pekerjaan seperti apa yang akan mereka ambil nanti, setelah mereka semua lulus.

Saat itu, hanya Yixing yang mengatakan kalau setelah lulus nanti, dia ingin mendirikan sebuah bar. Dan tidak ada hal lain yang ia inginkan selain itu.

Membuat Yifan dan Jongin kembali menggeleng-gelengkan kepala mereka secara bersamaan sembari berkata_

"Terserah!" Juga secara bersama-sama dihadapan Yixing. Yixing? Anak itu hanya membalas ucapan kedua sahabatnya itu dengan cengiran tak berdosa diwajahnya.

.

.

.

END!

Oke KraYeol lagi males bacot.

Salam manis by~

^KraYeol^