Saia kembali, maaf jika updatenya lama…saia akan mencoba membuat cerita kali ini lebih panjang dari biasanya dan saia akan berusaha membuat ceritanya lebih baik lagi dan kiranya minna-san bisa menyukainya dan saia mencoba membuat cerita lain dan kiranya kalian mau membacanya dan mau mereview juga dan terima kasih yang mau RnR di chapter kemarin semoga nggak pada bosan membaca ceritanya ya…
So….
HAPPY READING
Chapter 3: Memories In Tree Of Sakura
Langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang menemani dua orang muda yang sedang berjala bersama ditambah dengan suasana yang mencekam dan sunyi terjadi di tengah-tengah mereka.
"Nee? Len bagaimana dengan lukamu? Apakah baik-baik saja?" tanya Rin terlihat khawatir
"Ah? ini….baik-baik saja kok" ucap Len
"Benarkah? Kelihatannya tidak baik sama sekali" ucap Rin "Habisnya itu mengerluarkan banyak sekali darah" tambah Rin yang terlihat cemas
"Memang masih terasa sakit banget sih, tapi kamu tidak perlu khawatir….karena ini bukan luka yang serius kok" ucap Len santai
"Aku tidak percaya" ucap Rin yang langsung menarik tangan Len untuk masuk ke dalam apotek dimana tertulis kalau tempat tersebut buka selama 24 jam, Rin yang cemas segera masuk untuk membeli obat-obatan yang diperlukan untuk mengobati luka Len. Len yang sudah kelelahan menahan akibat perkelahian yang baru saja dia alami ditambah harus menahan rasa sakit akibat luka tusukan yang baru saja dia terima lebih memilih untuk duduk sambil menunggu Rin membeli obat-obatan tersebut di dalam apotek tersebut.
Tidak lama setelahnya, Rin keluar dengan membawasebuah kantong yang berisi perlengkapan untuk mengobati luka Len
"Maaf membuatmu menunggu lama Len" ucap Rin
"Tidak kok, sekarang bagaimana?" tanya Len
"Buka bajumu" ucap Rin spontan Len yang tersentak kaget pun telihat bingung dengan ucapan Rin barusan
"B-Bukan begitu, maksudku aku kan mau mengobati lukamu itu…bagaimana caranya jika kamu masih mengenakan bajumu itu" ucap Rin yang terlihat wajahnya sudah merah padam tersebut
"Aku tau kok, lagi pula kamu juga tidak perlu sampai tersipu seperti itu segala lah" senyum Len yang terlihat dia sengaja mau menjahili Rin
"Dasar" ucap Rin yang sudah terlihat kesal dengan sikap yang Len buat tersebut
Len segera membuka bajunya sesuai dengan perintah Rin tersebut, Rin terkejut melihat banyak sekali bekas luka di sekujur tubuh Len dengan coba mengacuhkan hal lain dan hanya igin lebih focus dengan luka yang masih mengeluarkan darah tersebut. Rin mengambil air hangat dan mulai membersihkan luka Len dengan air hangat yang telah dicampuri alcohol tersebut setelah itu Rin pun langsung menyemprotkan antiseptic ke luka Len dan langsung menutupnya dengan kasa dan langsung mulai memperbannya. Setelah selesai Len pun segera mengenakan kembali pakaiannya.
"Ini Len" ucap Rin sambil memberikan kantong yang berisi obat-obatan tersebut
"Untuk apa?" tanya Len yang terlihat bingung
"Untuk kamu agar bisa mengobati lukamu sendiri nanti dan ini juga sebagai ucapan terima kasihku juga sih" ucap Rin sambil menatap ke arah lain
"Baiklah aku terima, ojou-san" sindir Len acuh
"Ayo cepat kalau tidak kita bisa tertinggal kereta terakhir hari ini" tambah Len yang mulai berjalan terlebih dahulu dan mulai meninggalkan Rin sendirian
"Ah…..Tunggu Len" ucap Rin yang mulai mengejar Len yang sudah mulai berjalan dahulu
Rin dan Len pun kembali berjalan bersama menuju ke stasiun setibanya disana kereta yang ditunggu pun telah datang, dengan segera mereka berlari dengan sangat cepat dan segera memasuki kereta tersebut dengan terburu-buru dan setelah mereka berdua berhasil masuk pintu kereta pun mulai tertutup dan dengan segera kereta pun langsung mulai berjalan.
"Safe" ucap Rin sambil terengah-engah
"Untung saja kita tidak tertinggal kereta yang terakhir" ucap Len yang juga sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal di tambah dengan lukanya yang mulai mengeluarkan darah lagi
"Gomen" ucap Rin
Len dan Rin pun mulai duduk di kursi setelah nafas mereka bisa diatur kembali
"Nee? Len kamu itu tinggalnya dimana sih? Dan kenapa tubuhmu banyak sekali lukanya?" tanya Rin penasaran
"Apakah aku harus menjawab semua itu, sepertinya tidak kan" ucap Len santai
"Iya sih, hanya saja aku Cuma penasaran saja kok" ucap Rin yang memasang wajah sedih
"Besok pada saat akhir pekan pukul 8 pagi aku tunggu di stasiun" ucap Len
"Pukul 8 pagi?" ucap Rin yang terlihat bingung
Ketika kereta berhenti di salah satu stasiun Len pun segera turun tanpa oikir panjang
"Aku tunggu ya" ucap Len yang berjalan keluar kereta dan meninggalkan Rin yang terlihat senang
"Besok ya" gumam Rin terlihat bahagia
Esoknya
Kagamine House
Rin pun segera bersiap dengan mengenakan gaun putih yang senada dengan pita jepit rambut serta sepatunya dengan membawa tas berwarna biru dia pun segera berlari turun menyambut ayah, ibu serta kakaknya yang ada di bawah
"Ohayou okaa-san, otou-san, dan onii-chan" ucap Rin dengan senum bahagianya
"Ohayou Rin, tumben kamu sudah bangun apalagi sampai dandan secantik itu?" tanya ibunya
"Aku ada janji dengan seseorang kok okaa-san" ucap Rin yang langsung duduk di kursi biasanya
"Ah? sudah jam 7.55 aku bisa terlambat" ucap Rin yang segera meminum susunya dan langsung berlari keluar rumah dengan terburu-buru
"Mencurigakan, kaa-san, tou-san aku mau mengawasi Rin pergi dengan siapa?" ucap Rinto yang segera bergegas dan langsung berlari untuk menyusul kemana Rin pergi
Setibanya di stasiun dia melihat pria yang dia kenal dengan tampilan mengenakan kemeja yang bagus dan seperti biasa dengan topi tongkat serta kacamata hitamnya
"Len" teriak Rin dari kejauhan Len pun segera menghadap ke arah asal suara tersebut
"Datang juga kamu, aku pikir kamu tidak jadi datang" ucap Len yang terlihat kesal
"Gomen, ngomong-ngomong bagaimana lukamu?" tanya Rin yang mulai berjalan disebelah Len
"Seperti kemarin tapi sudah agak mendingan, asal tidak buat berlari saja maka luka itu tidak akan terbuka lagi" ucap Len
"Oh, syukurlah kalau begitu" ucap Rin senang
"Ayo kita pergi" ajak Len
Len dan Rin pun akhirnya mulai menaiki kereta yang tiketnya sudah di pesan oleh Len dan tanpa mereka sadari ternyata Rinto sedang mengawasi mereka bahkan mengikuti Rind an Len menaiki kereta tersebut
"Hokaido?" gumam Rinto yang melihat tujuan kereta itu berangkat
Di dalam kereta Nampak Rin yang sedang berbincang-bincang dengan Len dan terlihat kalau di kedua wajah mereka tampak bahagia
Rinto POV
"Siapa sih sebenarnya orang itu?!, berani sekali dia mengambil Rink u yang paling berharga buatku" pikirku dengan kesal dari kejauhan aku terus mengamati mereka dari kejauhan tampak sekali kalau Rin senang ketika sedang berbincang-bincang dengan pria buta dan aneh seperti dia itu, aku yang penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan pun mulai mendekat secara diam-diam hingga bisa mendengar suara mereka berdua
"Nee? Rin sepertinya kita memiliki tamu yang tidak diundang" ucap pria aneh itu dan berjalan mendekatiku
"Kamu siapa?" tanya dia
"Onii-chan" teriak Rin yang ikut penasaran lalu mendekatiku dan terkejut ketika mengetahui kalau itu adalah aku
"Sial, kenapa juga dia harus tau sih?" pikirku kesal
Normal POV
"Apa yang Onii-can lakukan disini sih?" tanya Rin yang terlihat kesal
Rinto pun segera berdiri dan langsung menarik tangan Rin
"Onii-chan hanya tidak suka kamu dekat-dekat dengan orang asing seperti dia ini" ucap Rinto yang terlihat kesal
"Dia bukan orang asing onii-chan" ucap Rin yang langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Rinto
"Kenalkan dia Len, Len dia Rinto kakakku" tambah Rin sambil mengenalkan
"Apa kabar" ucap Len terdengar sombong
"Len? Siapa itu Len? Onii-chan tidak pernah dengar kamu memiliki teman bernama Len, ditambah lagi dia terlihat mencurigakan seperti ini" ucap Rinto yang terdengar menyindir Len
"Maafkan saya jika saya terlihat mencurigakan, kalau begitu anda dengan Rin boleh saja kalau mau pulang sekarang" ucap Len yang terlihat kesal dengan sikap Rinto
"Len jangan marah ya, memang sikap kakakku seperti ini kok….jadi tolong maafkan kakakku ya" ucap Rin sambil menenangkan Len
"Terserahlah" ucap Len yang terlihat sudah kesal dan mulai kembali duduk ke kursinya
"Dengar Rin, lebih baik kita pulang saja" ucap Rinto sambil menarik tangan Rin
"Onii-chan, yang harusnya pulang itu onii-chan tau" ucap Rin kesal sambil menarik tangan Rin kembali
"Kenapa juga sih onii-chan harus mengikutiku sampai kesini sih?" ucap Rin yang sudah malas dengan sikap kakaknya yang terlalu over protektif itu
"Onii-chan kan hanya khawatir dengan kamu Rin" ucap Rinto yang mencoba membela dirinya sendiri
"Aku tau kok, karena itu onii-chan tidak perlu khawatir lagi tentang ku….sebenarnya Len itu orang yang baik kok, dia sudah menolongku berulangkali" ucap Rin
"Hah…..kalau begitu onii-chan akan tetap mengawasimu dengan Len agar dia tidak bisa berbuat sesuatu hal yang jahat terhadapmu" ucap Rinto
"Hai….Hai" ucap Rin yang sudah mengalah dan sudah mulai malas berurusan dengan Rinto
Rin pun segera duduk kembali ke kursinya dan mulai menjelaskan bahwa Rinto ingin ikut bersama mereka dan Len pun terlihat mengangguk sebagai jawaban kalau dia menyetujui kalau Rinto boleh ikut dalam acara jalan-jalan saat inidan Rin terlihat tersenyum manis karena menyukai jawaban Len.
"Cih" gumam Rinto terlihat kesal dengan sikap Len dihadapan Rin
Setibanya
Kereta pun akhirnya tiba di daerah Hokaido, dengan segera Len pun mengejak Rinto dan Rin untuk menaiki bus di dalam perjalanan bus tersebut menuju ke sebuah gunung hingga berhenti di sebuah jalan menuju ke hutan dimana ketika memasuki jalan tersebut, hanya dipenuhi dengan sebuah pepohonan yang tinggi.
"Hoy, kita mau kemana sih sebenarnya?" tanya Rinto ketus
"Diam, dan ikuti saja" jawab Len yang terlihat sudah benar-benar kesal
"Sudahlah onii-chan kita ikuti saja Len" ucap Rin sambil mencoba menenangkan Rinto
"Cih" gumam Rinto kesal
Akhirnya perjalanan tersebut hanya berisi kesunyian dimana tidak ada satu pun yang mau berbicara hingga suara hentakan tongkat Len pun membuat semuanya tersentak kaget.
"Kita sudah sampai" ucap Len
Rin dan Rinto pun saling memandang dan akhirnya coba mendekati Len untuk melihat maksud Len dengan kata 'kita sudah sampai' tersebut, ketika melihat tempat tersebut membuat mata Rin dan Rinto terlihat takjub dimana mereka melihat sebuah ladang rumput yang hijau dimana di sekitarnya terdapat sebuah pohon sakura dimana-mana dan di pinggir agak kejauhan terdapat sebuah alat pembangkit listrik yang kecil dan terlihat sangat sederhana dan disebelahnya terdapat sebuah rumah yang cukup besar berada disana dan agak jauh kesana terdapat danau kecil yang terlihat berkilauan karena terkena pantulan sinar matahari.
"Indahnya" ucap Rin yang tidak hentinya memandang sekitarnya
"Nee? Len? apakah ini tempat yang mau kamu tunjukkan?" tanya Rin
"Iya, karena tempat ini adalah tempat dimana aku tinggal dan dilahirkan dulu….bahkan dimana semua hal itu mulai terjadi" ucap Len sambil menatap ke arah langit
Rin pun terlihat seperti menyesal menanyakan hal tersebut kepada Len
"Kalian boleh kok melihat-lihat daerah disekitar sini dulu karena aku mau pergi kesuatu tempat dahulu" ucap Len yang mulai berjalan sendiri meninggalkan Rin dan Rinto begitu saja
"Apa-apaan dia itu sih?" ucap Rinto kesal "Nee? Rin? Ayo kita jalan-jalan sebentar" ucap Rinto yang diabaikan Rin yang lebih memilih untuk menemani Len
Len POV
Tempat ini,aroma ini, angin ini, semua suasana ini, aku masih mengingat jelas semuanya. Sudah berapa lama aku meninggalkan semuanya, tanpa aku sadari kaki ku telah berhenti pada sebuah pohon sakura yang besar yang letaknya ada di tengah-tengah taman ini dimana terdapat dua batu nisan yang tertancap disana.
"Papah, mamah, tadaima" ucap ku yang terlihat datar saja
Aku pun menatap datar kedua nisan kedua orang tua ku dimana aku sudah tidak bisa lagi melihat mereka selamanya bahkan dunia ini pun terlihat sama gelap dan dingin
'Len' terdapat sebuah suara yang membuatku tersentak kaget
Flash Back On
"Len, akhirnya ketemu juga kamu" ucap seorang wanita muda sambil menggendong anak kecil berumur 3 tahun
"Mamah" jawab anak yang dipanggil Len dengan bahagianya
"Len, ayo kita ketempat papahmu sekarang" ucap wanita itu dengan tersenyum manis
"Ayo" ucap Len bersemangat
Kedua orang itu pun mendekati seorang pria yang terlihat tenang tertidur di bawah pohon sakura yang besar yang berada di tengah-tengah taman itu
"Sana Len kamu berlari lalu langsung melompat ke atas tubuh papahmu" ucap wanita itu
Len pun berusaha berlari sekencang mungkin tetapi apa dayanya dia hanya bisa berlari perlahan, ketika tiba diatas tubuh pria itu Len pun langsung melompat ke atas tubuh pria tersebut.
"Teltangkap" ucap Len
Pria tersebut pun langsung terbangun dan memeluk Len erat
"Aduh aku tertangkap" ucap pria itu yang kemudian tertawa ketika melihat senyum di wajah Len
Flash Back Off
Air mata pun mulai terjatuh membasahi pipiku, karena lemas aku pun terjatuh tersungkur di depan kedua batu nisan tersebut.
"Kenapa? Kenapa semuanya harus jadi seperti ini?" gumamku yang terlihat kesal dengan diriku sendiri dan pada akhirnya aku menangis sejadi-jadinya sambil meluapkan segala rasa kesalku
Rin POV
Aku pun melihat ketika Len menangis sejadi-jadinya, aku bisa merasakan kekesalan yang teramat sangat di dalam teriakannya itu bahkan aku bisa merasakan kesedihannya, lukanya, deritanya, semua hal yang telah dia alami selama ini.
"Len" ucapku sedih
Aku pun berjalan mendekati Len dan langsung memeluk Len dari belakang
"Jangan takut Len, aku ada disini untuk menemanimu" ucapku sambil berusaha menenangkan Len
"R-Rin…." Ucap Len lemah dan tidak terasa Len pun terjatuh pingsan begitu saja
"Len, LEN!" teriakku yang mulai panic melihat Len sudah jatuh tergulai lemah di rumput
End
Gimana, jelek?...mungkin saja,karena itu saia mengharapkan dukungan kalian semua untuk terus mendukung cerita ini agar ada lanjutannya kembali….
So….
RnR PPPPLLLEEEEAAASSSEEEE…XD
