My Dearest Baby
MinYoon
= A BTS Fanfiction =
Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort
Rate M
Warning! BL, typo(s), Major OOC, Language, etc
.
.
BTS © Big Hit Entertaiment
.
.
Story © BabySugarSeoltang
Chapter 3 ; You've grown up now.
Warning! Yoonseok/HopeGa ahead.
-Jimin-
Hari kelulusan tampaknya baru saja kujalani kemarin. Hari ini aku sudah duduk di ruang pembelajaran di universitas di Lund, Swedia.
Seperti yang telah aku dan Yoongi-hyung duga. Aku tidak dapat menolah perintah Appa untuk pergi ke luar negeri. Aku sungguh-sungguh tidak ingin pergi dari Korea, aku tidak ingin berpisah dari Yoongi-hyung. Kami selalu bersama, Yoongi-hyung selalu menjadi sosok kakak yang baik, dia selalu memanjakanku sejak kecil dan aku sudah terbiasa akan hal itu.
Hari ini adalah hari terakhir di universitas sebelum liburan musim dingin. Biasanya akan turun badai salju di daerah Skandinavia, jadi liburan ini termasuk libur yang panjang.
Hal yang membuatku tidak sabar akan liburan bukan tentang bagaimana aku dapat memuaskan diri bermain game sepanjang malam, atau bagaimana aku dapat bergelung di bawah selimut hangat tanpa perlu memikirkan tugas yang menumpuk. Liburan kali ini, Yoongi-hyung akan berkunjung ke Swedia, tanpa Appa dan Eomma.
Jahat? Ya, kurasa aku sedikit jahat karena tidak merindukan Appa dan Eomma sama sekali. Aku hanya merindukan Yoongi-hyung saja, padahal hampir setiap hari aku memaksa video call dengan Yoongi-hyung.
Oh, dan aku baru saja mendapat kabar bahwa Yoongi-hyung keluar dari universitasnya. Dia bilang dia bosan dengan keadaan dan materi yang hanya berputar di sana saja. Kesehariannya membuat gambar, periksa ulang, perbaiki, membuat miniatur bangunan, dan kemudian membuat gambar baru, berputarlah roda kesehariannya seperti itu. Dia sedang mencari pekerjaan di agensi artis sebagai seorang produser musik. Kurasa dia akan menjadi produser terkenal, Yoongi-hyung punya bakat untuk membuat lagu, aku tahu itu karena aku sering mendengarnya bersenandung nada-nada yang indah.
-Yoongi-
"Hyung!"
Astaga. Anak itu, masih saja tidak berubah.
Aku melihat Jimin melambaikan tangannya dengan semangat dan berteriak dengan kencang. Padahal aku sudah berdiri tidak jauh darinya. Membuat malu saja. Dia sudah 20 tahun, astaga. Aku hanya bisa menggeleng kecil, tidak kutepis fakta, bahwa ada senyuman lebar menghiasi bibirku. Aku sungguh merindukan Jimin, rasanya sudah lama aku tidak melihat dia.
Dia langsung memelukku dengan erat begitu aku sampai di hadapannya dengan menarik sebuah koper besar. Jimin menggoyangkan tubuh kami ke kanan dan kiri, dia terkekeh senang dengan perbuatannya. Yah, tidak apa-apa, aku juga menyukai ini.
"Aku sangaaaaaat merindukanmu, Hyung."
Aku mendongak. Ya ampun, dia bertumbuh dengan cepat. Anak ini sudah lebih tinggi dari aku. Terakhir kali aku melihat dia, dia masih lebih pendek.
"Aku juga merindukanmu, Jimin. Bagaimana dengan kuliahmu, baik?"
Jimin mengangguk antusias. "Uhm. Sangat! Pekerjaan Hyung sendiri?"
Dia mulai bertanya sambil mengajakku pergi mengikutinya. Kurasa dia sudah punya ijin mengemudi di Swedia, karena aku melihat Jimin mengeluarkan kunci mobil dari saku celana hitamnya.
"Aku baru saja menyelesaikan wawancara kemarin, hasilnya akan kudapat seminggu lagi."
Jimin mengangguk kemudian kembali fokus ke jalan di depannya.
Aku memperhatikan Jimin dari belakang. Tubuhnya sudah banyak berubah. Mungkin dia banyak pergi berolahraga ke gym. Tubuhnya yang penuh otot itu tercetak di kaus putih tebal yang agak ketat pada tubuhnya, kakinya semakin jenjang dibalut dengan celana kain hitam dan ia memakai sepatu boots hitam. Hmm, dia punya selera berpakaian yang baik, kuberi nilai 9.5 dari 10. Aku juga melirik wajahnya dari posisiku sekarang, baby fat-nya di pipi masih sedikit ada, tapi sudah hampir hilang. Dia punya garis rahang yang tegas dan tajam, sangat manly. Aku memperhatikan matanya, dan kurasa ia punya hobi baru, dia sekarang memakai lensa kontak berwarna biru ke arah abu-abu, dan rambutnya dicat pirang.
Sejak kapan Jiminku jadi setampan ini? Maksudku, dia sudah tampan sejak masa kecilnya, dia menggemaskan, tapi, Jimin yang sekarang membuat jantungku berdebar lebih cepat. Aku dapat merasakan pipiku yang memanas, aku langsung menunduk sedikit, ingin menghilangkan rona yang pasti tecetak jelas.
Aku yakin dengan semua kesempurnaannya itu Jimin menjadi seorang idola di universitasnya. Uh, aku benar-benar tidak menyangka dia berubah dengan drastis. Oh, apa itu? Aku baru saja melihat sesuatu yang berkilau dari balik rambutnya yang sengaja dipanjangkan. Dia menindik telinganya? Aku dapat melihat 2 tindikan di telinga kanannya. Apa dia juga menindik telinga kirinya?
"Jimin?"
Dia menoleh ke belakang. "Ya, Hyung?"
"Kau menindik telingamu?"
Dia tersenyum lebar. Kurasa Jimin yang sekarang masih Jimin yang dulu. Dia sangat senang jika seseorang memperhatikan dirinya. Jimin kemudian mengangguk antusias.
"Ya, apa bagus? Aku menindik tiga di kiri dan dua di kanan.
Jimin memperlihatkan tindikannya kepadaku. Kuakui, itu membuatnya semakin tampan. Aku mengangguk singkat.
"Kau terlihat sangat menakjub –maksudku, kau terlihat … bagus."
Jimin hanya mengangguk-angguk.
Untung saja! Hampir aku kelepasan memujinya berlebih, aku merasa sekarang mataku berbinar-binar ketika menatapnya. Semoga karena bandara ini ramai dia tidak dapat mendengar pernyataan pertamaku, uh, aku malu!
"Yoongi-hyung sudah makan siang?"
Dia tak menoleh, sibuk memasukkan koper besarku ke dalam bagasi mobil putihnya yang diparkir tidak jauh dari gedung bandara.
"Hm, belum. Kau tahu sendiri aku tidak suka makanan di pesawat, tidak sesuai selera."
Jimin terkekeh.
Ya ampun. Aku baru dapat mendengar suaranya dengan jelas sekarang. Suaranya masih tinggi seperti dulu, tapi lebih berat dan terkadang terdengar sedikit serak –dia membuatku berulang kali berdebar. Bagaimana suara itu akan terdengar sangat seksi ketika aku menyesap lehernya lalu meninggalkan tanda kemerahan yang –Tidak! Hentikan! Dasar otak kotor. Bodoh, Min Yoongi idiot.
Aku menggelengkan kepala beberapa kali, memukulkan tanganku.
"Hyung? Ada apa?"
Aku mendongak panik, wajahnya tak begitu jauh dari wajahku karena dia mensejajarkan pandangan kami.
"Tidak, tidak! Tidak ada apa-apa! Jangan khawatir."
Dia mengangguk kecil. "Baiklah kalau kau berkata begitu. Uhm, ngomong-ngomong, Hyung mau makan siang apa? Ada banyak tempat makan enak di sekitar apartemenku."
"Apa yang kau rekomendasikan untukku? Kurasa selera kita tidak jauh berbeda, aku tidak masalah jika harus ikut ke tempat pilihanmu."
"Oke. Kalau begitu, aku akan mengajakmu makan ke tempat aku biasa makan. Kau tidak masalah, Hyung?"
"Oh, tidak, tidak. Atur sesukamu saja, aku ikut, asal kau yang mentraktirku!"
Jimin memutar bola matanya malas. "Ya, ya. Sekarang masuklah ke dalam mobil, perjalanan dari bandara ke sana cukup lama. Kau bisa tidur sebentar, Hyung."
Aku mengangguk patuh dan segera melangkah menuju pintu mobil, tetapi Jimin bergerak lebih cepat dan dia membukakan pintu bagiku.
"Silakan, Hyung."
Dengan bodohnya aku hanya mengangguk. Yah, aku tidak dapat mengatakan apapun! Sejak kapan dia bisa berlaku seperti seorang gentleman seperti ini? Jimin yang kutahu adalah anak yang manja dan suka merajuk. Aku belum pernah melihat sisi dewasa ini dari Jimin, dan masalahnya ada pada jantungku yang tidak mau berhenti berdetak dengan cepat dari tadi. Aku punya masalah dengan jantungku sekarang.
Jimin menutup pintu dan aku duduk dalam diam, meremas ujung sweater tebal yang kupakai. Aku yakin pipiku sudah semerah tomat, karena aku merasakan panas di wajahku. Hanya dia yang bisa membuatku seperti ini, kurasa. Dia sendiri masuk dan segera menyalakan mesin mobil serta penghangat.
.
.
.
"Kau tidak menelepon appa dan eomma, Jim?"
Aku bertanya kepadanya begitu selesai mandi. Aku sudah selesai meletakkan koper besarku di kamar tamu apartemen Jimin, menyerahkan satu kantung kertas berisi kue mochi kesukaannya kemudian segera mengambil peralatan mandiku dan mengambil banyak waktu berendam dalam bak berisi air hangat dan bathbomb yang kubawa.
Jimin berhenti memperhatikan layar ponselnya dan mendongak. "Tidak. Untuk apa?"
Uh … kurasa Jimin benar-benar berubah.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya, apa kau sama sekali tidak merindukan mereka?"
Jimin menggeleng dengan mantap.
"Tidak. Aku hanya merindukan Yoongi-hyung." Jimin tersenyum dengan lebar, matanya menjadi sipit.
Kumohon, seseorang, tolong aku! Jantungku lemah sekarang! Dia terlalu manis dan tampan di saat yang sama, dan jantungku ingin melompat keluar sekarang. Aku hanya sanggup menggeleng, berharap Jimin tidak menyadari tingkahku.
"Ah, Hyung, malam ini kau mau pergi? Hari ini hari Jumat."
Tunggu, dia, menanyaiku atau mengajakku? Aku tidak dapat membedakannya.
"Hei, kau mengajakku atau sekadar bertanya saja, hm?"
Dia terkekeh manis. "Hm, keduanya? Karena aku akan mengajakmu pergi malam ini, batalkan rencanamu untuk pergi berbelanja sendirian, oke? Kau tidak bisa terlihat menyedihkan di kota besar ini, berjalan di pusat perbelanjaan sendirian dan kesepian."
"Baik, baik. Kurasa tidak buruk pergi bersamamu, kau bisa membayariku."
"Aish, tidak ada kakak yang memeras adiknya sendiri!"
Aku tertawa kencang. "Ada, akulah orangnya."
Dia menggeleng tapi tertawa, dia tetap Jimin yang manja kepadaku, tetap bergantung kepadaku, tetap membuatku tersenyum di saat apapun.
"Ini jam Sembilan. Kapan kau akan mengajakku pergi? Bukankah sudah terlalu larut untuk pergi ke sebuah toko?"
Aku bisa melihat Jimin menyeringai kecil, kemudian dia menggeleng. "Tidak. Ini justru masih terlalu pagi. Kau bisa berganti pakaian sekarang, aku akan mengganti pakaianku juga. Oh, sebaiknya keringkan rambutmu, Hyung, kau bisa flu di musim dingin ini dengan rambut basah."
Dia beranjak tanpa menunggu jawabanku. Inilah yang kusebut dengan pemaksaan. Yah, lagipula dia yang memaksa, jadi ini tidak apa-apa. Aku berlari kecil ke kamar tamu dan membuka koperku di sudut ruangan.
Uh, ke mana dia akan mengajakku pergi? Aku tidak tahu tempat apa yang akan kami datangi di malam hari seperti ini. Apakah dia akan mengajakku pergi ke sebuah taman dengan danau besar? Atau tempat ap– Tunggu, apa dia akan mengajakku pergi ke sebuah club? Tapi Jimin yang kutahu tidak suka main ke tempat penuh dosa itu. Yah, satu kali itu saja aku memergokinya main, mungkin dia ingin dipandang sebagai orang dewasa saat itu.
Ah, sudahlah. Aku tidak tahu, lagipula dia sudah di usia legal, uh, apa dia sudah legal di sini? Berapa usia minimal untuk masuk ke club di sini? Jimin sudah legal di Korea sebenarnya, dia sudah 20.
Aku mengambil tumpukan-tumpukan kain berwarna hitam dan putih –yah, memang semua pakaianku berwarna hitam dan putih. Aku tidak tahu apa yang harus kupakai, apakah cara berpakaian orang Skandinavia sama dengan kami? Jimin tidak banyak berubah dengan gaya pakaiannya, jadi kukira ini akan sama saja. Akhirnya aku memutuskan sebuah kaus putih yang tipis dan sedikit ketat di tubuhku –aku berani menjamin hawa di club akan panas karena terlalu banyak orang, kemudian celana kulit ketat warna hitam dan jaket kulit hitam kesukaanku. Untung saja aku membawa sepasang sepatu yang lain, aku tidak ingin memakai sepatu kesayanganku untuk pergi ke club –hei, bukan tidak mungkin ada orang mabuk yang akan menumpahkan alkohol mereka ke atas sepatuku! Aku memilih menggunakan sepasang sepatu sneakers murah yang kubawa, warnanya putih dan masih bersih, sepatu ini masih baru, aku membelinya dengan harga murah di hari diskon.
Kurasa aku akan menambahkan sedikit sentuhan untuk wajahku, aku perlu memberi warna untuk kelopak mataku. Aku tidak ingin dikira mengantuk oleh orang banyak, kurasa sedikit warna gelap akan mempertajam mataku –dan itu lebih baik.
Oke, aku selesai dan melihat bayanganku sekali lagi sebelum mengambil ponsel dan dompet. Aku merapikan helai rambutku yang masih tidak dapat diatur dengan baik, keluar dari kamar dan kurasa aku tidak perlu menguncinya, apartemen ini punya sistem keamanan yang baik.
Sampai di ruang tengah aku hanya bisa berdiri diam dengan mulut ternganga lebar. Kurasa wajahku seperti orang idiot sekarang, bagaimana tidak, lihat saja Jimin. Pria itu mengenakan kaus hitam ketat berlengan panjang dengan kaus longgar garis-garis kerah rendah sebagai luarannya, dia memakai celana ripped jeans biru muda dan sepatu timberland kesukannya. Aku memperhatikannya dari bawah hingga atas, atas hingga bawah, dan aku baru menyadari bahwa dia memakai choker warna hitam polos tanpa liontin.
Ya ampun. Dia benar-benar seorang pria yang seksi dan menawan.
Sebenarnya, aku tidak ingin merasa terlalu percaya diri, tapi, Jimin juga tampak ternganga lebar ketika melihatku. Apa boleh sedikit saja aku merasa dia juga terpesona, sama seperti aku? Aku ingin, sedikit saja, mempercayainya.
Jimin tiba-tiba berdeham dan aku menggelengkan kepala.
"Uh, Hyung, kau sudah siap?"
Jimin mengepalkan tangannya dan meletakkannya di depan bibirnya. Aku hanya mengangguk kecil, masih dengan mulut yang terbuka. Aku kemudian berlari kecil mengikuti langkah-langkah kakinya yang panjang menuju parkiran mobil.
…::***::…
Aku berdiri dalam diam, berusaha mencerna kejadian yang sedang kualami sekarang.
Sekarang, kami –aku dan Jimin sedang berdiri di depan gedung yang besar, tampak seperti bekas gudang. Dindingnya tak dicat, bata merah dibiarkan terlihat oleh orang-orang. Di depannya tampak papan kecil terbuat dari aluminium, memantulkan cahaya dan bayangan dari orang-orang yang lewat. Ada dua orang pria dengan badan tegap berdiri di masing-masing kanan dan kiri pintu masuk. Pintu masuknya sendiri warna hitam polos, tidak transparan, dan terbuat dari besi tebal.
Setiap orang harus menunjukkan kartu kepada dua pria yang menjaga pintu itu. Aku tidak dapat melihat secara pasti kartu itu, mungkin kartu pengenal identitas atau bisa saja kartu anggota. Aku mendengar Jimin berdeham di sampingku.
Aku menoleh, kurasa aku melamun karena dia terlihat bingung dan khawatir.
"Kau baik-baik saja, Hyung?"
Dengan wajah bodoh aku hanya bisa mengangguk dalam diam, dan Jimin tersenyum kecil kemudian menggandeng tanganku.
Aku memperhatikan Jimin yang mengeluarkan kartu yang tidak pernah kulihat dari dalam dompetnya, kurasa itu adalah kartu anggota club. Kedua orang pria itu meminta kami memperlihatkan barang bawaan kami, aku merasa tidak nyaman dengan pandangan kedua pria itu, mereka seolah memandangku seperti harimau kelaparan memandang daging segar, tatapan mereka tajam dan menyeramkan.
Setelah selesai diperiksa, Jimin menarik tanganku dan kami masuk melewati pintu hitam. Ruangan di dalam berwarna putih polos, tidak ada lampu yang biasa dipasang di tengah langit-langit ruangan, sebagai gantinya ada lampu panjang yang bersinar biru dipasang di atas dan bawah ruangan –mengitari ruangan–, membuat seluruh ruangan itu tersinar cahaya biru yang redup.
Bangunan ini dari luarnya tampak hanya memiliki satu lantai, ternyata club-nya berada di lantai basement. Kami harus menggunakan elevator untuk turun ke lantai bawah. Ada dua lantai di sana, lantai pertama setelah elevator adalah club itu sendiri, dengan lantai dansar yang berkelap-kelip dengan warna neon dan sebuah bar besar di salah satu ujungnya.
"Kau sering kemari, Jimin?"
Dia menoleh dan memandangku sambil memberikan senyuman miring. "Ya, tentu saja. Aku sering melepas stres di tempat ini."
Aku terdiam, mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan Jimin. Aku baru saja hendak bertanya lebih banyak kepadanya tetapi dua orang wanita dengan pakaian ketat menghampiri Jimin dan memeluk pinggangnya, masing-masing di kanan dan kiri Jimin.
Jimin sendiri dengan santainya melingkari pundak kedua wanita itu yang tidak tertutup kain. Keduanya memakai dress pendek yang tidak memiliki tali. Wanita-wanita itu memekik senang karena Jimin memeluk pundak mungil mereka, masing-masing memberikan kecupan di pipi Jimin.
Aku dapat merasakan perasaan tidak nyaman di dalam dadaku. Aku tidak suka melihat mereka, aku tidak tahu sejak kapan Jimin telah berubah menjadi seorang pria liar yang suka melakukan one night stand. Mataku dapat melihat dengan baik, Jimin sudah tampak biasa melakukan kontak fisik dengan kedua wanita itu, jelas aku tahu dia sudah pernah melakukan seks dengan salah satunya –atau mungkin dengan keduanya.
Aku ingin memanggil Jimin tapi suaraku tidak dapat keluar. Dia sudah pergi menjauh dengan kedua orang wanita itu. Tanpa sadar kedua tanganku telah mengepal dengan erat. Aku benci perasaan ini. Apa lebih baik aku pulang saja? Aku sudah tahu alamat Jimin, aku bisa menggunakan taksi, tapi aku tidak punya terlalu banyak mata uang negara ini, aku hanya menukar beberapa ratus ribu won di bandara Seoul dan aku tidak tahu berapa harga yang harus kubayar untuk perjalanan sejauh setengah jam di negara ini.
Dari jauh aku dapat menemukan sosok Jimin dengan kedua orang wanita itu di lantai dansa, mereka tampak begitu intim dan rasanya aku ingin menangis. Aku membenci apa yang aku lihat sekarang dan lebih baik jika aku pergi dari sini.
Tapi seseorang menangkap lenganku, tentu saja aku membalikkan tubuhku untuk menatap sosok yang menghentikanku. Seorang pria dengan rambut oranye dan mata bersinar cerah tersenyum di hadapanku. Dia benar-benar memiliki wajah tampan yang lembut.
"Kau orang Korea, 'kan? Maaf, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan kekasihmu."
Aku menaikkan sebelah alis. Kekasihku?
Dia sepertinya mengerti aku terlihat bingung kemudian dengan telunjuknya menunjuk sosok Jimin yang masih ada di lantai dansa yang ramai.
"Uh, dia bukan kekasihku. Dia adikku."
Pria itu tampak mengangguk-angguk kemudian tersenyum. "Jadi, kau sendiri?"
Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana kalau minum denganku? Aku tertarik melihatmu, kau manis."
Uh, sudah berapa lama tidak ada pria yang mengaku tertarik padaku? Sejak aku berada di bangku kuliah? Tidak, tidak, uh, kurasa aku tidak pernah memperdulikan pernyataan cinta mereka karena tugasku yang menumpuk. Ya, kurasa seperti itu.
Aku menghela napas dan tersenyum menantang. "Bukankah seorang gentleman harus menyebutkan namanya terlebih dahulu untuk mengajak partner-nya minum?"
"Hei, peraturan itu tidak selalu berlaku, hm? Bagaimana dengan one night stand?"
"Oh, tapi kita tidak sedang merencakan sebuah one night stand."
Dia terkekeh geli, rambutnya bergoyang lembut.
"Baiklah, kau benar. Namaku Hoseok, Jung Hoseok. Siapa namamu, manis?"
"Aku Min Yoongi."
Dia mengambil tangan kiriku, mengelus buku-buku jariku lembut dengan ibu jarinya. Matanya dengan lembut memandangku dalam, dia membuatku tersipu dan aku hanya bisa memandang tanganku yang berada dalam genggamannya.
"Apa kau mau minum denganku?"
Aku melirik wajahnya, aku mengangguk kecil dan dia tersenyum lebar. Dia menarikku menuju sofa besar di ujung ruangan, di depan sofa itu ada sebuah meja. Kurasa ini adalah tempat duduk khusus. Hoseok memanggil pelayan dan memesankan kami berdua cocktail. Dia berkata dia sering kemari dan dia tahu minuman enak yang dibuat bartender.
"Jadi …"
Aku menoleh kepada Hoseok yang tampaknya ingin memulai sebuah pembicaraan panjang denganku.
"Berapa usiamu?"
"Aku? Aku dua-puluh-dua. Kau sendiri?"
Hoseok tampak membulatkan kedua matanya. "Kukira kau lebih muda dariku."
Aku terkekeh geli dengan wajahnya yang terkejut. "Banyak orang yang berkata begitu. Jadi, berapa usiamu?"
"Umurku dua-puluh-satu."
"Oh, kita hanya terpaut satu tahun."
"Baiklah, kalau begitu aku harus memanggilmu hyung."
Aku tertawa. "Terserah. Lagipula kita sedang di luar negeri, kau bisa melupakan formalitas itu di sini. Aku tidak peduli, dan aku tidak akan marah."
Dia mengangguk. "Baiklah. Aku akan memanggilmu Yoongi! –sampai aku kembali ke Korea dan menemuimu lagi."
"Oh, kau tinggal di Seoul juga?"
Matanya tampak berbinar, mungkin dia sangat suka becerita tentang kehidupannya di Korea –dia tampak sangat merindukan Korea. "Ya! Aku seorang guru dance sekaligus koreografer di Big Hit entertainment. Aku sedang menemani salah satu grup rookie dalam konser mereka di Swedia."
"Kau serius?! Aku sedang mendaftar sebagai produser musik di agensi itu!"
Dia tersenyum lebar. "Hm, kalau begitu akan mempermudah kerjasama kita di perusahaan, hm?"
"Kau benar. Dengan ini kuharap kita dapat berteman baik, yah, itu kalau aku mendapatkan pekerjaanku, 'kan?"
"Kau harus percaya diri!"
Aku tertawa kecil mendengar penuturannya. Dia berbanding jauh dengan hobi liarnya bermain ke club dan menggoda orang. "Kau memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan hobimu pergi ke club, hm?"
Dia tersenyum. "Ya, banyak orang yang mengatakan itu. Aku tidak punya masalah, apa itu menurutmu aneh?"
"Tidak, tidak. Hanya mengejutkan saja. Kau punya kepribadian hangat yang menarik banyak orang untuk berteman dengamu."
"Yah, kurasa ini karena kebiasaan dari kecil? Aku tidak begitu tahu, eomma-ku selalu memintaku tersenyum dan memulai pembicaraan dengan orang lain, yah, jadi sekarang aku terbiasa."
"Terbiasa apa? Memulai pembicaraan dengan orang lain atau menggodanya?"
Aku memberikan senyuman miring yang dibalas dengan senyum miring seksi Hoseok.
"Hm, Bisa kau katakana keduanya?" Dia terkekeh.
Tiba-tiba pelayan berpakaian hitam dan putih muncul di meja kami dan memberikan dua gelas cocktail di hadapan kami.
Hoseok meneguk cocktail-nya terlebih dahulu.
"Minumlah, ini enak, ini minuman kesukaanku, aku selalu memesannya ketika kemari."
Aku mengangguk dan meneguk banyak cocktail berwarna biru dan oranye itu. Rasanya manis, segar, dan sedikit pahit. Aku suka minuman ini, dia punya selera minuman yang mirip denganku kurasa.
"Bagaimana?"
Aku memandang Hoseok dengan berbinar. "Ini enak!"
"Baguslah. Kupikir kita dapat menjadi teman minum yang akrab."
Aku tersenyum lebar dan kembali meneguk cocktail itu dan sayangnya langsung habis.
Hoseok tiba-tiba mengambil tangan kiriku, mengelusnya sama seperti pembicaraan pertama kami. Dia berbisik rendah di telingaku.
"Kau mau ke lantai bawah?"
Aku kesulitan meneguk ludahku. Jantungku berdebar dengan sangat cepat. Aku bukan orang yang lugu, aku tahu apa yang ada di lantai bawah, sebuah club selalu punya tempat ini. Aku tahu.
Haruskah kuterima tawarannya atau kutolak saja? Tawaran ini sangat menggiurkan bagiku, aku suka mencoba sesuatu yang baru dan menantang.
Aku memandang Hoseok dengan malu. "Uh, aku, aku tidak pernah …"
Dia tampak terkejut dengan pernyataanku. "Kau tidak pernah … uh, kau tahu, melakukan seks?
Hoseok membisikkan kata di akhir dan wajahku semakin memerah, aku mengangguk kecil.
Dia tertawa. "Kau benar-benar pure, hm? Aku tidak menyangka."
Aku hanya bisa mengusap tengkukku dan tertawa gugup. Tapi dia tiba-tiba menarik daguku dan mencium bibirku dengan dalam.
"Nngh! Mmh,"
Dia melepaskan ciuman kami kemudian memandangku. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku lembut.
"Kau keberatan dengan ini? Apa kau juga belum pernah berciuman?"
"Uh, aku –aku pernah, tapi –tapi tidak seperti ini."
"Baguslah. Kalau begitu kau tidak perlu malu-malu, santai saja."
Hoseok mencium bibirku lagi sebelum aku dapat protes. Dia membuaiku dengan permainan bibirnya, giginya menggigit ringan bibirku dan aku membuka bibirku, membiarkan lidahnya masuk dan membelai rongga mulutku. Aku tersapu arus, otakku tidak dapat berpikir dengan baik, akal sehatku sudah hilang.
"Nngh, mmnh, –Seok,"
Lengannya melingkari pinggangku dan tanpa sadar aku telah mengalungkan lenganku di lehernya dan meremas rambut oranye-nya.
Tiba-tiba seseorang memisahkan kami, tubuh kami dipisah dengan kasar, dan pundakku diremat kencang hingga terasa sakit. Aku mendongak dan mendapati Jimin menatap kami tajam. Dengan cepat aku mengusap bibirku yang mengkilap karena saliva dengan punggung tanganku, wajahku memerah dan aku tidak dapat menatap Jimin sekarang, aku menunduk dan meremas ujung pakaianku.
Jimin menarik tanganku kasar.
"Ayo, pulang, Hyung."
Hoseok juga menarik tanganku. Jimin langsung menoleh dengan tatapan tajam kepada Hoseok.
"Kau tidak bisa berlaku seperti itu kepada Yoongi."
Jimin meremat tanganku, kurasa dia melakukannya tanpa sadar. "Siapa kau melarang aku. Aku dan Hyung-ku harus pulang. Sekarang."
"Hm, siapa aku? Kenapa aku tidak berhak? Aku sedang berbicara dengannya, kenapa kau harus cemburu? Kau hanya adiknya."
Astaga, pria ini menantang maut. Aku tahu persis seperti apa Jimin yang sedang marah, dia pernah hampir membuat salah seorang murid di sekolahnya sekarat di tahun terakhirnya SMA. Aku tidak ingin melihat dia menghajar siapapun lagi, dan Jimin yang sedang murka tidak dapat dihentikan dengan mudah.
Jimin melepas tanganku, menyingkirkanku dari hadapannya dan menarik kerah kaus putih Hoseok. Tubuh Hoseok terpaksa berdiri, tangannya mencengkeram kepalan tangan Jimin.
"Kenapa? Aku tepat sasaran, hm?"
Aku harus cepat, kalau Jimin terus-menerus dipancing seperti ini dia akan tidak segan memukul Hoseok –bahkan mungkin dengan memukulkan gelas cocktail ke kepalanya. Aku menahan lengan Jimin dan menarik pakaiannya.
"Jimin, hentikan. Cukup, jangan bertindak sembarangan, kau sedang emosi."
Jimin mengayunkan tangannya, dan salah satu cincinnya menggores pipi kananku, meninggalkan luka gores yang lumayan panjang.
Hoseok dengan cepat melepas cengkeraman tangan Jimin dan meraih wajahku untuk melihat luka memanjang yang sedang mengeluarkan darah, aku dapat merasakan basah pada pipiku.
"Kau tidak apa-apa, Yoongi?"
Aku tersenyum kecil dan menggeleng. Jimin tiba-tiba menepis tangan Hoseok dan menarik aku pergi.
"Terima kasih tapi kami tidak butuh perhatianmu. Aku akan membawanya sekarang, dan kau" Jimin memandang Hoseok tajam sekali lagi. "Jangan berani menyentuh Yoongi-hyung-ku lagi, atau kau dapat kupastikan mati di tanganku."
Dengan cepat tanganku ditarik, tentu saja aku tidak dapat melawan, Jimin punya kekuatan jauh di atas kekuatanku. Dia menarikku ke parkiran kemudian melemparku ke dalam kursi depan penumpang. Dia sendiri segera masuk dan menjalankan mobil tanpa bersuara.
Jimin yang marah dengan berdiam lebih mengerikan. Dia dapat meledak kapan saja, aku bisa melihat wajahnya yang memerah menahan emosi. Aku mengambil tisu dari kotak yang disediakan di dalam mobil, menekankannya pada pipiku yang berdarah.
Sekilas aku dapat melihat Jimin yang melirikku. Kurasa dia baru tersadar sekarang dari emosinya, dan mungkin dia merasa bersalah dengan lukaku. Aku tahu dia benar-benar, dia akan merasa sangat bersalah ketika melukai orang lain, perkataan atau tindakan, sengaja ataupun tidak. Dia anak yang baik –hal ini belum berubah dari dia, kuharap.
.
.
.
To be Continued
Author's note: Halo~ Saya kembali. DAN SAYA BARU SAJA LIAT MV TEASERNYA BTS ASDFGHJKL. Demi apa ;_; mereka semua unyu, apalagi gulaku (gula murni) :D dengan unyunya -ilegal- sikat gigi. LAGI SIKAT GIGI AJA UNYU. :'D
Thanks to: XiayuweLiu, peachpetals, minyoonlovers, , Park RinHyun-Uchiha, mashiroseeca, driccha, suga-sdck, kjmnwn, MingyuAin
Dan maaf saya belum sempat balas review dari kalian. Besok akan saya balas, sekalian review chapter 3 ^^ terima kasih banyak bagi para readers, followers, dan yang telah memfavorite.
