Let's Play Truth or Dare!
.
.
.
Warning:
Bahasa tidak baku, OOC berlebihan, penistaan karakter, EYD cacat, dan lain sebagainya
.
.
.
.
.
"England, Truth or Dare?"
Arthur mematung. Ujung botolnya menunjuk kearahnya, badannya langsung membeku di tempat dan seketika mulutnya terasa di lem oleh lem fox.
'Apa ini? Jika aku pilih Truth, pasti pertanyaannya ga bener. Tapi jika pilih Dare, pasti dare-nya berbahaya semua!' Pikir sang pemuda Inggris dengan panik.
"Dare!"
Putra menarik kertas lainnya kali ini. Ia berdehem pelan.
"Dare untuk England, dari salah satu temennya Rin yang di twitter." Indonesia terhenti.
"Teriakkan kata-kata "McDonald lebih baik daripada Scone" didepan Amerika."
"HAH?!"
"YES!"
Alfred bersorak. Arthur menggebrak meja dengan kasar.
"Woi! Masa iya gua harus ngaku McD lebih enak dibanding Scone milikku?!" Tanya England dengan kesal.
"Namanya dare, mau ga mau harus dilakukan." Balas Putra dengan santai, memasang ekspresi cuek.
"Atau mau di-BDSM?"
Arthur memucat. Ia melirik kearah Agus yang tengah menarik-narik dasi hitamnya sambil nyengir setan.
"Urgh… Baik, baik!" England pun menghembuskan nafas. Ia terdiam, menarik nafas panjang dan menghadap Amerika.
"MCDONALD LEBIH BAIK DARIPADA SCONE!"
"Gausah teriak didepan wajahku juga!" Rengek Alfred, segera menutup kedua telinganya ketika diteriaki seperti itu.
"Maaf lama~"
Putra menolehkan kepalanya, menatap kearah Kirana yang kembali masuk ke ruangan dengan sebuah senyuman.
"Loh, dek? Nether mana?"
"Ada kok. Sini Neth." Kirana menyuruh orang yang dimaksud untuk masuk.
"Nej—"
"Neth, mau kena BDSM kamu?" Tanya Kirana lagi, dan itu sukses membuat Netherland bergidik ngeri.
Pemuda belanda itu berjalan masuk, dengan pakaian adat khas untuk Tari Jaipong dengan wajah yang memerah. Agus langsung melepas tawanya ketika melihat Nether, sedangkan Putra berusaha untuk menahan tawanya.
"Gausah ketawa napa kek!" Pekik Nether dengan kesal.
"Maaf, maaf. Habisnya— pfft. Aduh perutku—" Putra memegangi perutnya sendiri, lalu duduk di kursi terdekat dengan wajah yang memerah.
"Wait, gua butuh duduk sebentar—" Agus pun duduk di sofa yang tersedia, lalu menghela nafas panjang meski masih ada beberapa tawa terlepas dari bibirnya.
"Dah tahu kan gimana tari jaipong? Lakuin sana." Kirana tersenyum polos, lalu berjalan kearah kakaknya.
"Netherland, kami menunggu." Russia tersenyum polos, sedangkan Alfred kembali menahan tawanya dan Arthur menenggelamkan wajahnya di meja untuk tidak tertawa.
Pemuda belanda ini terdiam. Ia menghela nafas panjang, dan mau tak mau ia pun mulai menari tari jaipong yang dimaksud. Tawanya Agus kembali terlepas, dan Putra yang menahan tawanya juga ikut terlepas.
"Aduh, hiburan tersendiri—" Rin pun menahan tawanya, merekam aksi Netherland dengan kamera yang dipegangnya daritadi.
ヽ( ´¬`)ノヽ( ´¬`)ノヽ( ´¬`)ノ
Botol kembali diputar. Netherland sudah berganti ke baju asalnya dan sudah duduk di meja bundar, dan botol itu terus berputar…
.
.
.
.
.
.
.
Dan…
.
.
.
.
.
.
.
.
Menunjuk…
.
.
.
.
.
.
.
"Kiku-san, Truth or Dare?!"
Sang pemuda Jepang ini tersenyum kaku. Botolnya menunjuk kearahnya, dan entah kenapa ia bisa merasakan beberapa aura mengerikan datang dari tuan rumah dari negara yang didatanginya ini.
"…Uh…"
Kiku menundukkan kepalanya.
"D-dare."
"Baik. Dare untuk Japan— kau harus memakai baju maid selama tiga ronde permainan ini."
"E-eh?!" Kiku tersontak kaget mendengarnya. Rin cekikikan setan.
"A-ano, ada dare selingan?"
"Ada. Makan peyek belalang yang dikasi sambal paling pedas." Ucap Putra dengan santai.
"Buset, peyek belalang?" Amerika langsung memucat.
"Rasanya kayak ikan goreng kok. Jaminan rasanya enak." Agus mengacungkan jempolnya.
"Ayo, Nihon~ dare kesatu, atau dare kedua?"
Kiku kembali menundukkan kepalanya. Jujur saja, kebanding permainan Truth or Dare, ini malahan seperti permainan Dead or Alive baginya.
Dan nampaknya dia malah memilih Dead kebanding Alive.
Harusnya dia milih Truth saja tadi.
"Dare kedua! Lebih baik kepedasan kebanding merasa malu!"
"Hee. Ternyata Jepang punya harga diri juga." Agus tertawa setan.
"Peyeknya sudah kubuat, dan sambalnya sudah kucolek~ tinggal dimakan saja." Rin meletakkan sepiring peyek belalang pedas itu didepan Kiku.
"Aah. Harusnya diberikan padaku saja…"
Memangnya aku mau makan beginian?
Atau itulah yang dipikirkan Kiku. Ia mengambil satu peyek tersebut, sambil menenggak ludahnya. Dengan agak takut, ia menggigit makanan tersebut.
"…PEDAAAAAAAAASSSS!"
"Ah, aku baru ingat. Orang Jepang kan tidak tahan makanan pedas…" Ucap Kirana pelan, ketika melihat Kiku mengipas-kipaskan wajahnya sendiri yang langsung memerah.
(*´∀`*)(*´∀`*)(*´∀`*)
"Putar botolnya~!"
Dengan enggan, Kiku memutar botol itu. Kelima negara ini langsung mematung, ada yang berharap untuk tidak ditunjuk lagi, ada yang berharap untuk tidak ditunjuk sama sekali.
.
.
.
.
.
.
.
Dan…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Botol itu…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menunjuk…
.
.
.
.
.
.
.
.
"Amerika, Truth or Dare?!"
—To Be Continued—
