Boys Love, DLDR

Mingyu X Wonwoo

Typo, un-edited

Wonwoo P.O.V

Cahaya matahari pagi yang menyeruak di sela-sela gorden kamar mulai mengusik tidurku. Aku mengucek kedua mataku sebelum membukanya perlahan, ternyata hari sudah terang. Kulihat jam beker di nakasku yang hampir menunjukkan pukul 08.00. Aku meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, berharap ada pesan dari Mingyu. Namun beberapa saat kemudian aku letakkan lagi ponsel itu di nakas, tidak ada pesan dari Mingyu dari tadi malam. Sepertinya ia benar-benar kesal. Ini pertama kalinya Mingyu bersikap dingin padaku. Aku mengerti jika dia merasa kecewa, tetapi bukankah selama ini hubungan kami baik-baik saja. Bahkan beberapa bulan lagi anniversary kami yang ketiga. Tapi kenapa dia mempermasalahkan hal seperti ini sekarang. Aku mengacak-acak rambutku sebelum kemudian beranjak dari kasur, berniat untuk mandi agar aku dapat berpikir lebih jernih.

Selesai mandi dan berganti pakaian aku menuju dapur kecilku, berusaha mencari sesuatu yang bisa kujadikan sarapan. Aku tidak pandai memasak, beberapa kali aku mencoba membuat makanan, hampir semuanya hancur atau tidak dapat dimakan karena terlalu pedas, terlalu asin dan masih banyak lagi. Yang bisa aku masak hanyalah mie instant, tapi sepertinya stok mie ku sudah habis. Akhirnya aku berakhir dengan semangkuk sereal yang ternyata juga hanya tersisa sedikit. Sepertinya hari ini aku harus ke mini market untuk membeli beberapa stok makanan instan.

Jika Mingyu mengetahui hal ini maka dia mungkin akan mengomeliku. Karena tidak bisa memasak, aku seringkali memakan makanan instan atau mengorder fast food yang melayani pesan antar. Aku memiliki lambung yang lemah, sehingga terkadang perutku akan sakit jika terlalu banyak mengkonsumsi makanan instan terus menerus. Jika sudah begitu, maka Mingyu akan belanja banyak sekali bahan makanan dan buah-buahan dan menaruhnya di kulkasku. Dia juga akan membuatkan beberapa jenis makanan dan menungguiku memakan semua masakannya sampai habis. Bisa dikatakan, dapurku lebih sering dipakai oleh Mingyu daripada aku yang pemilik apartemen.

Haah…kenapa aku jadi memikirkan Mingyu. Aku sedang termenung ketika ponselku berbunyi, dengan cepat aku meraihnya, berharap menerima pesan dari Mingyu, namun lagi-lagi aku kecewa. Barusan ternyata Jihoon yang mengirimiku pesan, dia minta aku membantunya dengan project lagu barunya lagi. Aku meng-iyakan ajakan Jihoon karena kebetulan aku memang tidak memiliki rencana hari ini. Kami berjanji bertemu di perpustakaan kampus satu jam lagi, aku pun bersiap-siap dan mengganti pakaian, sebelum meninggalkan apartemenku dan beranjak menuju kampus.

Oh ya, jika kalian ingin tahu, aku dan Jihoon sudah berteman sejak SMA, dia teman sebangku ku. Sifat aku dan Jihoon yang sama-sama tidak banyak bicara anehnya justru membuat kami akrab. Ketika memasuki bangku kuliah, aku dan Jihoon memilih Universitas yang sama, sehingga kami bisa tetap sering bertemu. Hanya saja Jihoon memutuskan mengambil jurusan music sedangkan aku memilih jurusan sastra. Sesekali Jihoon memang meminta bantuanku untuk me-review kumpulan lirik yang dibuatnya.

Aku sudah tiba di perpustakaan kampus. Karena hari Minggu, suasanya perpus lebih sepi dari biasanya. Aku mencoba mencari sosok sahabat mungilku itu, ketika melihatnya melambaikan tangan dari salah satu sudut ruangan.

Author P.O.V

"Ada apa lagi kali ini Ji.? Kau ingin aku membantu lirikmu lagi..?" goda Wonwoo

"Hehe… Emmm Iya won. Ini merupakan tugas utama dari Prof. Kang semester ini. Jadi aku butuh bantuanmu untuk memeriksa lirik yang sudah kutulis, apakah sudah cukup baik atau tidak"

Jihoon berujar sambil tertawa kikuk

"Coba kulihat sebentar…. Ehmmm, sepertinya sudah bagus Ji, hanya saja ada beberapa kata yang sebaiknya diganti, supaya lebih enak didengar" ucap Wonwoo

Wonwoo pun mengoret-oret kertas lirik yang diberikan Jihoon, mengubah beberapa bagian liriknya agar terdengar lebih indah.

"Sudah Ji, kurasa seperti ini akan terdengar lebih baik" Wonwoo menyerahkan kembali kertas lirik tadi kepada Jihoon.

"Terima kasih Wonwoo-ya. Sebagai ucapan terima kasih kau traktir makan siang, bagaimana..?" Tanya Jihoon

"Call " ujar wonwoo bersemangat.

Kedua sahabat itu pun pergi meninggalkan kampus, menuju salah satu kedai makanan Korea yang tidak jauh dari kampus mereka. Sudah lama mereka tidak makan siang bersama, karena memiliki jadwal kuliah yang berbeda. Setelah sampai di kedai dan memesan makanan, keduanya pun membicarakan banyak hal sambil menyantap makan siang mereka, mulai dari tugas kuliah, hingga pembicaraan mengenai kehidupan pribadi mereka.

"Bagaimana hubunganmu dengan Soonyoung" Tanya Wonwoo tiba-tiba

"Hubungan kami baik. Kau sendiri. Hubunganmu dengan Mingyu bagaimana."

Wonwoo terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

"Aku dengan Mingyu juga baik-baik saja. Oh ya, Ji bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu..?"

"Kau ini, mengapa serius sekali, tentu saja boleh. Tanya saja."

"Aku bertanya ini padamu karena aku tau kau tipe yang tidak mudah mengungkapkan perasaan secara langsung, sama seperti aku."

Wonwoo menghentikan perkataannya sejenak

Jihoon berhenti menyuapkan makanan mendengar ucapan Wonwoo. Tidak biasanya sahabatnya itu bicara dengan nada serius seperti ini.

"Kau mencintai Soonyoung kan, Ji?"

Jihoon mengerutkan dahinya, semakin bingung dengan arah pembicaraan Wonwoo

"Kau ini bicara apa ? Tentu aku mencintai Soonyoung, jika tidak aku tidak akan berpacaran dengannya"

Jawab Jihoon yang sebenarnya masih tidak paham maksud Wonwoo menanyakan hal ini padanya.

"Apa kau pernah, mengatakan di depan Soonyoung secara langsung, bagaimana perasaanmu padanya..? Misalnya 'Aku Mencintaimu Soonyoung-ah'atau semacamnya"

"Kau ini, kenapa menanyakan hal-hal yang aneh begini sih..?" Jihoon menjawab dengan menunjukkan wajah keheranan kepada wonwoo

"Jawab saja, pernah tidak..?" Wonwoo bertanya tidak sabar.

"Kau kan tahu dengan baik bagaimana sifatku Won. Mana mungkin aku bisa mengungkapkan hal; seperti itu secara langsung." Jawab Jihoon santai

"Lalu apakah Soonyoung pernah mempermasalahkan hal itu padamu..?"

"Tidak, Soonyoung tidak pernah membahas hal itu denganku. Ttapi aku sadar, walau Soonyoung mungkin tidak mengatakannya, Ia pasti ingin mendengar pernyataan seperti itu dariku, jadi sesekali aku menyatakannya secara tidak langsung" Jihoon menjelaskan kepada wonwoo.

"Secara tidak langsung bagaimana maksudmu ?" Wonwoo menunjukkan wajah bingung.

"Yah secara tidak langsung, seperti ketikang aku mengiriminya lagu yang khusus aku buat untuknya, di liriknya terdapat kalimat-kalimat yang tidak bisa aku ucapkan secara langsung, tetapi karena aku menyampaikan dalam bentuk nyanyian, aku tidak merasa canggung mengucapkannya. Atau misalnya ketika aku membuatkannya bekal, aku membuat telur atau nasinya berbentuk hati agar terkesan romantis."

Jihoon tertawa kecil setelah menyelesaikan ucapannya, dan pipi gembilnya menampilkan semburat merah, .

"Aagh, sebenarnya aku malu membicarakan hal ini padamu Won, hanya saja karena kau sahabat baikku, kurasa tidak ada salahnya. Tetapi kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini padaku.?"

Wonwoo masih diam. Tatapannya kosong memandangi makanan di hadapannya. Jihoon pun memberanikan diri bertanya.

"Apa kau sedang ada masalah dengan Mingyu, ?"

Wonwoo mengangkat wajahnya menatap Jihoon. Namun masih tidak ada jawaban dari Wonwoo.

"Memangnya kalian ada masalah apa .?" Jihoon kembali bertanya, setelah memahami, bahwa benar sahabatnya ini memang sedang ada masalah.

"Sepertinya Mingyu marah padaku Ji..?"

Jihoon menatap Wonwoo bingung. Wonwoo yang mengerti arti tatapan Jihoon menceritakan kejadian kemarin malam yang membuatnya dan Mingyu sama sekali tidak berhubungan seharian ini..

"Fiuhhh.." Jihoon menghela nafas panjang setelah mendengar cerita Wonwoo.

"Aku bisa mengerti kalau Mingyu kesal padamu Won. Maksudku, siapa yang tidak kecewa jika sudah bertahun-tahun berpacaran tetapi tidak pernah mendengar bagaimana perasaan kekasihnya secara langsung."

"Aku tahu Ji. Aku pun ingin seperti orang lain, yang bisa dengan mudah menyampaikan isi hatinya, tanpa memikirkan hal-hal yang tidak penting. Hanya saja aku bukan tipe orang seperti itu dan mungkin memang tidak bisa seperti itu." Keluh Wonwoo sambil mem-poutkan bibirnya

"Jika kau tidak bisa menyampaikan perasaanmu secara langsung, mengapa kau tidak mencoba untuk menyampaikan perasaanmu dengan cara lain. Dengan tulisan misalnya, bukankah kau pintar merangkai kata-kata puitis Won. Mengapa kau tidak mencoba menyampaikan perasaanmu pada Mingyu melalui tulisan, seperti aku yang menyampaikan perasaanku melalui lagu. Awalnya mungkin akan tersasa sulit, tapi itu karena kau belum terbiasa. Karena itu kau harus mencoba sedikit-demi sedikit lebih membuka diri kepada Mingyu. Dia sudah sangat sabar selama ini terhadapmu. Jadi sekarang giliranmu untuk membalasnya. Kau tidak ingin nanti dia meninggalkanmu karena lelah menunggu kan."

Jihoon berusaha memberi pemahaman kepada Wonwoo sambil tetap menyantap makan siangnya.

Wonwoo sedari tadi terdiam dan tampak merenungkan ucapan Jihoon.

"Iya, ucapanmu benar Ji, Mingyu sudah sangat sabar menghadapi sifat dinginku selama ini. Sekarang giliranku untuk membalas perhatian yang selama ini diberikan Mingyu padaku. Terima kasih atas saranmu Ji." Ucap wonwoo sambil tersenyum

"Santai saja, Won. Kau kan sahabatku. Aku akan berusaha membantumu sebisaku. Hehe."

Keduanya melanjutkan santap siang mereka yang sempat terhenti. Setelah pesanan mereka habis, mereka beranjak dari kedai, berniat untuk pulang ke rumah masing-masing.

"Sampai Jumpa won, Semoga berhasil ya. Kalau ada yang ingin kau tanyakan, hubungi aku saja."

Ucap Jihoon sebelum berjalan kearah yang berbeda, karena Wonwoo pulang menggunakan Bus, sedangkan Jihoon menggunakan kereta.

"Tentu Ji, sekali lagi terima kasih" ucap Wonwoo sambil melambaikan tangannya kepada Jihoon yang mulai terlihat menjauh.

Malam itu, Wonwoo duduk di depan meja belajarnya. Di hadapannya terdapat beberapa kertas beserakan. Berisi hal-hal yang selama ini ingin disampaikan secara langsung oleh Wonwoo. Berulang kali Wonwoo terlihat mencoret tulisannya atau meremas kertas di hadapannya, karena dirasanya tidak sesuai. Sudah hampir 3 jam Wonwoo mencoba menuangkan perasaannya pada selembar kertas, hingga akhirnya selesai sudah dua lembar surat di kertas berukuran A5, yang berisi semua perasaan Wonwoo terhadap Mingyu yang selama ini tidak pernah bisa ia ungkapkan . Mungkin terlihat lucu untuk masih menyampaikan perasaan melalui surat di zaman dimana segala sesuatu sudah menggunakan teknologi digital seperti saat ini. Namun bagi Wonwoo, ini merupakan cara yang paling nyaman baginya untuk dapat mengungkapkan perasaannya pada Mingyu.

Surat itu sudah terlipat rapi dan dimasukkan ke dalam sebuah amplop berwarna biru. Wonwoo tak sabar menunggu hari esok datang untuk menyampaikan surat itu kepada Mingyu. Wonwoo membersihkan diri, bersiap untuk tidur, berharap hari dapat berganti lebih cepat saat ia tertidur. Dan sepertinya Wonwoo melewatkan makan malamnya hari ini, melupakan bahwa kondisi dirinya yang tidak boleh melewatkan jam makannya barang sekalipun

Wonwoo terbangun esok pagi dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Perutnya melilit, terasa sakit sekali. Rasa mual memenuhi dada Wonwoo yang memaksanya untuk bangkit dalam kondisi lemah, menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana. Wonwoo mendengus pelan, penyakit maag kambuh lagi. Wonwoo baru ingat bahwa ia melewatkan makan malamnya kemarin. Ditambah siang harinya, ia banyak memesan dan menyantap makanan pedas bersama Jihoon.

Wonwoo memaksa membawa tubuh lemahnya kembali ke kamar. Wonwoo merebahkan tubuhnya di kasur dengan nafas yang masih sedikit tersengal. Wonwoo meraih ponsel yang ia letakkan di nakas, mencari nomor kontak seseorang dan men-dial nomor tersebut.

"Yeoboseyo..?"

terdengar suara seseorang yang baru bangun tidur di seberang sana. Jelas saja, ini mungkin belum jam 6 pagi.

"Ming…hhmm… Minggyuu-yahhhh"

Wonwoo bicara dengan suara lemah sambil menahan sakit

"Wonwoo Hyung..? Ada Apa Hyung..?"

Mingyu menjawab dengan nada cemas. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya mendengar ringisan Wonwoo

"Bi…bisakah kau ke a..apartemenku sekarang..? Pe…Perutku rasanya mulas sekali..Shhh"

Suara ringisan Wonwoo terdengar semakin kuat. Mingyu tahu betul apa yang sedang terjadi pada Wonwoo

"Tunggu disitu hyung, aku segera ke sana." Segera Mingyu bergegas menggunakan hoodienya dan meraih kunci mobil dan berlari menuju garasi. Setelah masuk ke dalam mobil, Mingyu segera memacu kencang menuju apartemen Wonwoo. Berharap kekasihnya itu baik-baik saja.

To be continue…

Maaf ya kalau chapter ini boring dan hampir ga ada MEANIE nya.

Soalnya chapter ini tujuannya buat menggambarkan perasaan Wonwoo terhadap situasi yang lagi dia hadapin sama Mingyu.

Promise next chapter bakal banyak MEANIE nya lagi

Thanks buat yang udah baca.

Keep give me your Review please…^_^