Going Crazy
Mingyu x Wonwoo | Meanie
Rated T
Romance | Family | Friendship(?)
©jxngwoo
Warn: Yaoi/BoysLove/Typo(s)/Absurd language(?)
Don't be so serious, guys^^
-00-
I Won't Give Up!
-00-
"Jadi...,"
Mingyu berlutut di depan Wonwoo dan menyodorkan setangkai bunganya.
"Jadilah pacarku."
.
.
.
.
"Enggak."
.
.
"S- SERIUS?!"
Wonwoo menaikkan sebelah alisnya. "Kau pikir aku bercanda?" tanyanya.
Mingyu menggeleng dan buru-buru berdiri. "T- tapi kenapa?"
Wonwoo berdecak. "Pertama, aku enggak mengenalmu. Kedua, aku masih lurus. Masih suka sama gunung ketimbang pedang. Dan ketiga, kalaupun aku belok, kau bukan tipeku."
Jleb. Jleb. Jleb.
Serasa ada yang nusuk di dada Mingyu. Perkataan doinya benar-benar nyesek, bruh. Belum lagi keadaan sekitar yang benar-benar sepi. Samar-samar ia juga mendengar pekikan dari para siswi mendengar perkataan frontal Wonwoo tadi.
Mingyu rasanya ingin pulang aja.
"Urusanmu sudah selesai? Kalau begitu aku duluan." Wonwoo memecah keheningan dan beranjak begitu saja. Ia juga menarik Jihoon yang berada di barisan belakang yang masih tercengang menatapnya.
.
Dan sebelum Wonwoo semakin melangkah menjauh, Mingyu berteriak,
"AKU GAK BAKAL NYERAH WALAUPUN KAMU MASIH LURUS, JEON WONWOO! AKU BAKAL NGEBUAT KAMU BELOK DAN KEMAKAN OMONGANMU SENDIRI! AKU BAKAL BUAT KAMU SUKA SAMA PEDANGKU!"
-00-
Karena acara confessnya gagal, Mingyu jadi mengurung diri di kamar dari pulang sekolah hingga jam makan malam tiba. Dia benar-benar lemas jadinya. Pulang saja harus diantar Soonyoung dan Minghao dulu dan disogok dengan berbagai cemilan di supermarket dekat rumahnya– walaupun akhirnya gagal karena Mingyu terus-terusan menolak.
Oh please, ini bukan Kim Mingyu banget. Seorang Kim Mingyu masa lemas cuma karena ditolak? Enggak banget tolong.
"Ew, kau menjijikan Kim Mingyu. Galau karena begini doang." Mingyu manyun. Ia berguling kembali sembari memainkan ponselnya dan menstalk Wonwoo.
Keasyikan ngestalk, bahkan Mingyu tak sadar jika pintu kamarnya sudah diketok berkali-kali hingga Kaeun dengan seenaknya masuk begitu saja.
Kaeun bersandar pada dinding dan menatap heran pada adiknya. "Ey Kim Mingyu. Kau kenapa sih? Mau jam makan malam nih. Ayah sudah bersiap di bawah tuh."
Mingyu melirik sebentar pada Kaeun dan memasang wajah memelasnya. "Noona~"
Nah, jika begini Kaeun tau ada yang mau dicurhatin oleh Mingyu. Maka sebagai noona yang baik, Kaeun menghampiri Mingyu dan duduk di sisi ranjang.
"Jangan manyun gitu. Jijik dilihatnya. Sadar umur dong."
Mingyu tambah manyun. "Aku serius noona!"
"Iya ah. Cerita gih langsung."
Mingyu mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Kaeun dan bertanya, "Aku ganteng kan?"
"Eh? Kamu nanya apa–"
"Jawab aja langsung. Jangan tanya ini itu dulu." Mingyu memotong cepat.
"Well, ganteng sih."
Mingyu mulai tersenyum. "Jadi karena aku ganteng, pasti banyak yang naksir, kan?"
"Kepedean. Tapi iya, deh. Beberapa teman kampusku sering menanyaimu. Anak-anak di kompleks ini juga kayaknya ada yang naksir kamu. Oh, teman sekolahmu mungkin? Kimmy juga–"
"Skip soal Kimmy. Next!" Mingyu merengut. "Dan kalau aku nembak orang, pasti diterima, kan?"
Hm?
Kaeun mengerutkan keningnya tanda tidak setuju. "Tergantung orangnya. Aku ogah menerimamu seandainya kita bukan saudara dan kau menembakku begitu saja."
"Ish, noona~"
Kaeun memutar matanya malas. "To the point deh. Ibu bisa mengaum kalau kita lama turun."
Mingyu menghela nafas. Ia mulai menceritakan kejadiannya hari ini dan sukses mendapat tawa puas dari Kaeun. Noonanya itu bahkan sampai terguling di kasurnya.
"Ya noona! Jangan ketawa gitu. Aku serius!" Mingyu berdecak. Diam-diam ia merutuki karena mempunyai noona yang malah tertawa puas disaat adiknya lagi galau.
"Pft, kau menembaknya benar-benar spontan, Gyu. Pantas saja ditolak."
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah lama suka padanya, noona." Mingyu berucap lesu. "Malu karena ditolak sih enggak. Tapi sakitnya ditolak itu yang luar biasa. Right in da kokoro."
"... Alay." Kaeun berkomentar datar. "Begini ya Kim Mingyu. Bukan maksud merendahkan, tapi kau dari kelas E dan dia dari kelas A. Kau tau itu sudah beda kasta, kan?"
"Kau pikir ini zaman kerajaan ada perbedaan kasta segala?" Mingyu bertanya kesal. Kaeun nyengir. "Oke, maksudku beda level."
Pft.
Iya, Mingyu tau kok dia dan Wonwoo beda level. Tapi bukan berarti mereka gak bisa bersama dong.
Dari komik-komik shoujo milik adiknya yang sekarang entah berada dimana, siswa bandel atau bodoh sekalipun bisa mendapatkan orang yang disukainya. Entah mereka belum pernah kenal sebelumnya atau orientasi seksual yang berbelok, tetap bisa tuh bersatu.
Di dunia komik aja bisa, masa di dunia nyata gak bisa?
Kaeun menepuk pundak adiknya dan berdiri. "Udah, makan dulu gih. Dibawah ada yang nungguin kamu juga." Kaeun berlalu begitu saja. Namun sebelum benar-benar keluar dari kamar Mingyu, ia bertanya, "Ngomong-ngomong, nama doimu siapa?"
"Wonwoo. Namanya Jeon Wonwoo."
.
Dan pintu kamar Mingyu ditutup begitu saja oleh Kaeun dengan seringai tipis. "Good luck adik cabeku."
.
"WAAAAAAAAA."
"AAAAAAAAAAA."
"KIM MINSEOOO!"
"OPPAAA!"
Bruk.
Seorang gadis yang berbeda umur empat tahun dari Mingyu berlari kepada pemuda tiang itu ketika dia baru saja menuruni tangga dan berteriak histeris.
"Oh, lihat kita punya pangeran dan putri iblis di rumah sekarang." Komentar Tuan Kim melihat anak tengah dan anak bungsunya sudah berguling-guling di lantai.
"Dan sang putri datang tepat sehari sebelum sang pangeran diungsikan ke kerajaan lain." Kaeun ikut membuka suara.
Nyonya Kim mengambil alih untuk menarik kedua anaknya di kerah dan mendudukannya di kursi. "Makanlah dulu baru berheboh ria, Kim Mingyu, Kim Minseo."
Sembari makan, Mingyu bertanya, "Kenapa datang tiba-tiba? Kayak setan, tau!" Nada bicaranya terdengar kesal. Minseo menyengir. "Kejutan untuk oppa cabeku. Dan kalau aku setan, berarti kau lebih dari setan, oppa."
"... Fak."
"Hush! Jangan ngomong kasar di depan adikmu, Kim Mingyu!" Nyonya Kim menegur. Ia menyuap sesendok sup kemudian berdehem. "Jadi, sudah siap dengan besok, Gyu?"
Heol. Mingyu mendadak jadi bete lagi.
"Kalau aku bilang gak siap juga gak berguna. Jadi, yah, disiap-siapkan aja." Mingyu menjawab seadanya. Nyonya dan Tuan Kim tersenyum puas.
"Jangan buat repot disana, Gyu-ah. Kalau bisa kau bantu-bantu kecil mereka." Tuan Kim membuka suara membuat Mingyu berdecak. "Ayah pikir aku akan merepotkan, begitu?"
"Enggak kok." sahut Tuang Kim santai. "Ngomong-ngomong, motormu Ayah sita ya sampai kau diterima di universitas–"
"YA AMPUN KOK JAHAT BANGET SIH SAMA ANAK SENDIRI, YAH?!" Mingyu langsung menjerit tak terima. Keempat orang yang lain terdiam sebentar menatap Mingyu datar. Ayahnya memijat kening perlahan. "Ayah kadang suka heran sifat suka memotong omongan orang lain dan heboh sendiri dari kalian bertiga itu keturunan dari siapa. Ayah sama Ibu perasaan enggak gitu-gitu amat."
"Kau lupa waktu masih pacaran dulu kita juga kadang begini?" Nyonya Kim menyeletuk. Ketiga Kim bersaudara menyengir pada sang Ayah.
Hah, entah Tuan Kim harus bersyukur atau tidak mempunyai tiga anak yang sifatnya anarkis begitu.
"Ekhem. Oke, Ayah bukan menyita motormu. Tapi menaruhnya tetap di rumah."
Mingyu mengernyit. "Jadi aku pindah gak bakal bawa motor?" ia agak aneh saat ngomong pindah sebenarnya.
Tuan Kim mengangguk. "Rumah teman Ayah itu dekat dengan sekolahmu. Gak perlu naik bus atau apapun. Ya, bisa dibilang strategis lah."
Mingyu buru-buru menggeleng. "Kalau aku mau jalan-jalan jauh gimana? Susah dong."
"Tinggal balik kesini ambil motor apa susah sih, oppa." Minseo yang menyahut sekarang. Tuan Kim mengangguk. "Nah iya, tinggal ambil kesini. Kuncinya bakal Ayah titipkan ke Kaeun."
Mingyu tersedak tiba-tiba. "K- Kenapa musti Kaeun noona?! Ayah mau aku jambak-jambakan sama noona cuma buat ambil kunci motor?!"
Jika suatu barang sudah ada ditangan Kaeun, bakal susah untuk di dapatkan lagi. Itu yang Mingyu amati dari sifat noonanya semenjak dia lahir.
Kaeun menatap Mingyu malas. "Jangan alay. Aku malas main jambak-jambakan sama kamu, udah ada Minseo juga jadi korbanku." dan Kaeun menyengir pada adik bungsunya. Minseo bergidik. "Punya kakak gak ada yang benar semua astaga."
"Kayak di keluarga ini ada yang benar aja." Mingyu menyeletuk. Ia menatap pada Ayahnya. "Kalau aku masuk universitas, motorku boleh kubawa kan?"
Tuan Kim mengangguk. "Tentu, nak."
Setelahnya Mingyu menghela nafas. Ia buru-buru menyelesaikan makannya dan pergi lagi ke kamarnya, mengecheck kembali barang-barang miliknya.
.
"Oppa!"
Mingyu yang tengah berguling di kasurnya dibuat kaget oleh jeritan adiknya yang main masuk begitu saja dan sekarang ikut berguling di sampingnya. Ia membiarkan Minseo dan lanjut bergumul dengan pikirannya.
Gimana kalau ternyata sahabat Ayahnya ini jahat dan Mingyu dijadikan babu? Atau mungkin Mingyu akan dijual pada tante-tante girang? Yang lebih parahnya lagi bagaimana kalau Mingyu disiksa lalu dibunuh? Dan–
"Mikir apaan sih?" Minseo membuyarkan lamunan Mingyu yang sudah kemana-mana. Mingyu membalas, "Anak kecil gak boleh tau."
"Heol. Kita cuma berbeda empat tahun please." Minseo meraih guling Minyu dan memukul kakaknya tersebut. Mingyu tetawa. "Oke, oke. Maaf adikku sayang~"
"Jijay."
"Pft. Tapi kenapa kamu balik, deh? Sekolahmu kan lagi gak libur?"
"Aku izin. Ayah yang menyuruhku. Hari minggu kan Ayah dan Ibu sudah berangkat." jawab Minseo seadanya. Mingyu ber'oh' ria sebagai jawaban.
Ah, Minseo sebenarnya anak asrama. Dia sudah berada di tahun terakhirnya di sekolah menengah pertama. Katanya sih, Tuan Kim memasukkan Minseo ke asrama karena ingin anak bungsunya itu mandri. Padahal alasan sebenarnya agar Mingyu tidak punya partner untuk merecokin orang lain.
Keluarga Kim sendiri mengganggap Mingyu dan Minseo itu pangeran dan putri iblis. Sama-sama tukang bully, otak kriminal, anarkis, hobinya ngehabisin makanan di rumah, dan masih banyak lagi kesamaan mereka berdua.
Terkadang Kaeun merasa dirinya sedikit lebih normal dari pada kedua adiknya, duh.
Hening beberapa saat sebelum Minseo membuka suara. "Oppa..., sudah punya pacar?"
Krik.
Mingyu menoleh datar pada Minseo yang menyengir lucu kearahnya. "Anak kecil sudah nanya pacar-pacaran aja."
"Jawab aja apa susah sih."
Mingyu menghela nafas dan menatap langit-langit kamarnya. "Hampir punya. Tapi gak jadi."
"... Oppa nembak tapi gak diterima?"
Skak!
"Kadang heran deh kamu bisa nebak gitu gimana caranya." Mingyu menatap sinis dan Minseo mendadak duduk dan heboh sendiri.
"JADI OPPA NEMBAK TAPI GAK DITERIMA? DEMI APA? KIM MINGYU DITOLAK?! BHUAHAHAHA– EH RAMBUTKU JANGAN DIJAMBAK, OPPA! AAAA IBUUUUU!"
"Makanya jangan teriak."
"AAAAAA IBUUUUU!"
"Bocah–"
"JANGAN BIKIN RIBUT KIM MINGYU, KIM MINSEO!" Auman dari Nyonya Kim membuat Mingyu melepas jambakannya dari Minseo dan mendengus. "Punya adek kok sifatnya kayak setan gini sih– WOY JANGAN DIGIGIT ODONG!" Giliran Mingyu menjerit saat Minseo menggigit tangannya.
Minseo melepas gigitannya dari tangan Mingyu dan merengut. "Nyadar diri dong yang bikin aku punya sifat kayak setan gini siapa."
"... Dafuq."
"Balik ke topik deh. Jadi kenapa oppaku ini ditolak?" Minseo sudah duduk tenang sekarang sembari memeluk guling Mingyu.
"Dia bilang dia masih lurus. Kalaupun belok, aku gak termasuk tipenya." Mingyu malas menjelaskan lebih detail lagi. Minseo mengangguk. "Emang jodohmu sama Kimmy opp– ASTAGA BECANDA DOANG!"
Mingyu merengut, menyudahi aksinya yang tadi melingkarkan lengannya pada leher Minseo dengan kuat. Gak noona, gak adiknya, pasti aja selalu ngomongin kucing centil itu.
"Punya oppa kenapa anarkis banget sih sama adek sendiri." Minseo ikutan merengut. "Jadi, oppa mau nyerah terus cari yang lain?"
Mingyu berdecak. "Kau tau kalau oppamu ini bukan tipe yang gampang nyerah, kan?"
Minseo mengangguk. "Oppaku memang keren, deh." Pujian itu membuat Mingyu menyeringai tampan.
"Aku tidur disini, oke? Aku mager balik ke kamar, nih." Minseo menguap dan menjatuhkan diri begitu saja. Ekspresi Mingyu berubah menjadi datar. "Bilang aja kangen, pakai bilang mager segala lagi."
Dan malam itu Mingyu memeluk tubuh Minseo layaknya guling. Untung Minseo tidak protes lagi.
-00-
Sabtu kebetulan hari libur, jadi disinilah Mingyu sudah berada di dalam mobil bersama keluarganya. Barang-barangnya sudah dikemas dan satu koper besar serta dua koper berukuran sedang sudah berada di bagasi.
Tadinya barang-barang Mingyu lebih dari ini, namun Kaeun sudah berhasil mengerucutkan bawaan Mingyu menjadi tiga koper saja. Ia tidak mau adiknya dilihat aneh oleh calon mer– maksudnya keluarga sahabat Ayahnya ini. Nah, Kaeun masih sayang Mingyu, bukan?
"Oke anak-anak. Kita sudah sampai!"
Mingyu otomatis mendekatkan wajahnya pada jendela, menatap rumah sederhana berlantai dua dengan halaman luas di depannya. Terlihat nyaman dan bikin betah.
Mingyu dibantu dengan Kaeun dan Minseo mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi sedangkan kedua orangtuanya sudah menunggu di depan pintu.
"WAH KIM EUNSOOK!"
"YO JEON SUNWOO!"
Dan terjadi pelukan antara tuan Kim dan seorang pria lainnya– tuan Jeon. Sedangkan Nyonya Kim memasang cengirannya pada Nyonya Jeon yang mengekor pada suaminya dan menyapanya.
Kim bersaudara masih betah berdiri di dekat mobil dengan koper ditangan masing-masing. Kaeun menyenggol Mingyu dan berbisik, "Ayah kelihatan lebih rempong dari Ibu."
"Namanya juga keingat masa muda." Mingyu menyahut malas. Ia mulai mendekat pada kedua orangtuanya dan membungkuk sopan. "Annyeong Paman, Bibi."
Tuan dan Nyonya Jeon menatap Mingyu kemudian tersenyum hangat. "Ah, Kim Mingyu? Sudah lama aku tak melihatmu. Dan wow, kau tampan, nak. Sama seperti Ayahmu waktu muda." Pujian dari tuan Jeon itu disetujui oleh Nyonya Kim. "Duh, kau ngidam apa dulu waktu hamil Mingyu, Sora-ya?"
Nyonya Kim tertawa. "Aku gak ngidam macam-macam kok."
Pft.
Kaeun dan Minseo mulai mendekat dan ikut membungkuk sopan. "Siang Paman, Bibi."
"Oh, Kaeun dan Minseo, kan? Kalian makin cantik saja." Lagi-lagi pujian dilontarkan tuan Jeon. Kaeun dan Minseo hanya tersenyum.
"Lebih baik kalian semua masuk dulu. Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita semua." Tuan dan Nyonya Jeon membuka lebih lebar pintu rumah mereka, mempersilahkan keluarga Kim tersebut untuk masuk.
Nah Kim Mingyu, hidup barumu untuk kedepannya akan dimulai sekarang.
.
"Ngomong-ngomong, anakmu kemana?" tuan Kim bertanya sesudah menyelesaikan makan siangnya. Kini diruang tengah hanya ada Mingyu serta tuan Kim dan tuan Jeon. Kaeun dan Minseo dipaksa oleh Nyonya Kim untuk membantu mencuci piring bersama Nyonya Jeon.
"Anakku yang pertama jarang pulang, dia sudah ada apartement sendiri yang dekat dengan kampusnya. Anakku yang kedua ada urusan dengan temannya, pagi-pagi sekali dia sudah pergi. Yang bungsu sedang ada latihan basket." tuan Jeon menjelaskan. Kemudian larut kembali dengan nolstagia kehidupan muda tuan Kim dan Jeon tersebut.
Mingyu yang malas mendengarkan, lebih memilih untuk memperhatikan isi rumah ini. Rumah ini tidak jauh berbeda dengan rumah Mingyu. Sama-sama sederhana walaupun rumah Mingyu agak boros tempat karena memakan lebih banyak tanah untuk satu ruangan.
Yang Mingyu dengar dari Ayahnya, tuan Jeon ini merupakan CEO sebuah perusaahan. Lulusan dari Seoul University juga. Mungkin otak pintarnya itu menurun pada anak keduanya, sehingga Ayahnya menyuruh Mingyu belajar dengan anak tuan Jeon itu.
Mata Mingyu menangkap sebuah pigura besar yang terpasang di atas TV. Itu foto keluarga Jeon. Mungkin foto beberapa tahun yang lalu karena tinggi anak-anak tuan Jeon lebih pendek dengan wajah bocahnya. Wajah Tuan dan Nyonya Jeon juga terlihat lebih muda.
Namun, mata Mingyu menyipit memperhatikan salah satu bocah laki-laki di pigura tersebut. Ia merasa familiar dengan wajah tersebut. Tapi entah otaknya sedang tak bisa berpikir lebih lanjut sekarang.
.
"Aku pulang."
Suara pintu depan yang tutup membuat tuan Jeon dan tuan Kim mengalihkan pandangan pada sosok laki-laki yang baru saja masuk. Mingyu sendiri masih betah dengan dunianya sendiri sehingga tak sadar akan kedatangan laki-laki tersebut jika Ayahnya tak menyikut dan berbisik. "Anak tuan Jeon datang. Sapalah."
.
Dan Mingyu refleks melotot. Ia bahkan sampai terjungkang kearah Ayahnya.
"HAAHH?!"
.
"Siang tuan Kim. Maaf aku pergi saat anda datang. Jeon Wonwoo, anak kedua dari keluarga Jeon."
.
Homina homina.
Mingyu sedang tidak bermimpi, kan?
Kecengannya yang kemarin sudah menolaknya, sekarang berada dihadapannya dengan wajah emonya itu!
Dan tunggu, anak kedua dari keluarga Jeon? I- ITU BERARTI MINGYU AKAN SERUMAH DENGAN JEON WONWOO SI KECENGAN TSUNDERENYA, KAN?!
.
.
"Ah, Wonu-chan sudah pulang?" Nyonya Jeon keluar dari dapur diikuti dengan Nyonya Kim serta Kaeun dan Minseo. "Sudah makan?"
Wonwoo mengangguk. Ia melirik pada Nyonya Kim serta anak perempuannya dan membungkuk kembali.
"Annyeong Nyonya Kim. Aku Jeon Wonwoo, anak kedua dari keluarga Jeon." Wonwoo memperkenalkan diri kembali. Nyonya Kim tersenyum sumringah. "Ya ampun! Kau tampan, Wonwoo-ah."
"Terima kasih."
Nyonya Kim melirik pada Mingyu yang masih speechless. Ia menghela nafas, memberi isyarat pada Kaeun dan Minseo agar mengganggu Mingyu.
Kaeun dan Minseo saling pandang kemudian duduk mengapit Mingyu. Minseo dengan santainya mencubit perut Mingyu dan Kaeun menendang kaki Mingyu, mengundang erangan juga jeritan dari korban.
"Kamu kenapa diam gitu, nak? Kesambet baru tau." Tuan Kim menggeleng.
Mingyu merengut. Matanya sekarang mengawasi Wonwoo yang duduk diseberangnya dan dengan santai melipat kedua tangannya di depan dada. Oh, bahkan Wonwoo juga tak menatapnya sedikitpun.
Duh, Mingyu kan jadi tambah gemes dengan kecengannya ini.
Persetan dengan fakta bahwa kemarin dia ditolak. Dihadapannya sudah ada Jeon Wonwoo dan kesempatan untuk membuat Wonwoo belok dan bertekuk lutut padanya semakin besar.
'Aku gak main-main dengan kata-kataku kemarin, Jeon Wonwoo. Wait for me, baby~"
.
"Ah, kau ingin melihat kamarmu, Mingyu-ah?" Nyonya Jeon bertanya tiba-tiba, membuat lamunan Mingyu buyar seketika. "T- terserah saja, Bi."
"Wonu-chan, antar Mingyu ke kamarnya sana."
Pft. Wonu-chan? YA AMPUN ITU UNYU SEKALI!
Mingyu berusaha menahan tawa. Ia mengikuti Wonwoo yang pergi duluan sembari membawa salah satu kopernya.
Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu. Wonwoo sudah bersandar di samping pintu.
"Kamarmu."
Oke! Mingyu akan selalu mengingat kata pertama dari Wonwoo untuknya!
Mingyu sedikit melongokan kepalanya pada kamar barunya dan tersenyum kecil. "Thanks eum..., Wonu-chan?"
Niatnya hanya ingin menggoda Wonwoo, mau melihat reaksi laki-laki dihadapannya ini. Dan Mingyu merasa ingin berteriak saat Wonwoo mendelik padanya. Oh may, Mingyu gak kuat!
"Jangan memanggilku seperti itu, Mingyu-sshi. Hanya keluargaku yang boleh."
Hm, Wonwoo tau namanya, eh?
Sebelum Wonwoo pergi, Mingyu menahannya. "Kau bilang kemarin tidak mengenalku. Tapi kenapa kau barusan menyebut namaku?"
"Tolong bedakan mana yang cuma tau dan kenal, Mingyu-sshi." Wonwoo berkata datar. "Dan jangan terlalu sering menggangguku. Aku lebih senang ketenangan dari pada mendengar keributan, apalagi dari orang asing sepertimu."
Sadis tapi Mingyu suka! Rasanya Mingyu bisa tambah gila sehabis ini.
"Baiklah, aku mengerti." Mingyu agak mendekatkan wajahnya dengan telinga Wonwoo dan berbisik disana, "Dan kau harus ingat jika aku belum menyerah mendapatkanmu, Jeon Wonwoo."
.
Wonwoo buru-buru kabur ke kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Mingyu.
-00-
Orangtua Mingyu juga Kaeun dan Minseo sudah pulang. Mereka akan kembali lagi besok untuk menjemput Mingyu agar ikut ke bandara dan berpesan agar Mingyu tidak merepotkan keluarga Jeon– yang membuat Mingyu malu karena ada Wonwoo juga saat itu.
Selesai membereskan barang-barangnya, Mingyu menghempaskan tubuhnya di kasur dengan satu lengan menutupi wajahnya.
Perasaannya agak berbeda sekarang. Jika dulu kamarnya bernuansa biru langit, sekarang berganti dengan nuansa putih hitam. Segala dikamarnya ini berbeda dengan kamarnya dulu, walaupun sama-sama bikin nyaman.
Mingyu baru saja berniat untuk tidur sebentar namun pintu kamarnya diketuk dan muncul lah pemuda lain. Mingyu mengernyit dan duduk dipinggir ranjang. Pemuda tersebut seenaknya masuk dan mengulurkan tangannya.
"Kau Kim Mingyu, kan? Aku Jeon Jungkook. Bisa dibilang juga anaknya Paman Jeon." Pemuda tersebut menyengir sedangkan Mingyu mengernyit. Ia menyambut jabatan tersebut. "Well, salam kenal?"
Pemuda bernama Jungkook itu mengangguk. "Kita seumuran dan kau seangkatan dengan Wonwoo hyung, kan?" tanyanya. Mingyu mengangguk.
"Nice! Semoga kita bisa dekat, mungkin?" Pemuda tersebut masih menyengir. "Dan kudengar kau pemain basket juga?"
"Hm. Termasuk pemain inti sampai sekarang."
"Keren. Kita bisa bermain basket bersama. Di dekat sini ada lapangan basket." Mendengarnya Mingyu jadi bersemangat. "Tentu! Oh, kau beda sekolah dengan Wonwoo?"
"Ya. Aku yang meminta pada Ayah, sih. Agak canggung jika harus satu sekolah dengan Wonwoo hyung." Jungkook berkata jujur. "Ngomong-ngomong, sudah hampir jam makan malam. Lebih baik kau mandi dan turun kebawah."
Jungkook berjalan keluar dan sebelum menutup pintu, ia berkata, "Kamarku ada diantara kamarmu dan Wonwoo hyung. Kau bisa datang ke kamarku jika mau ngegames."
-TBC-
HOI HOI HOI aku balik lagi nih wkk;33
Gimana? udah panjang kan? demi kalian nih kubikin panjang gini wk
Maaf ya kayaknya bahasa disini terlalu frontal. Like i said before, aku mau bikin ini kayak kehidupan sehari hari.
Buat rating, sekarang masih T, tapi kedepannya mungkin bakal T+ HEHE
Juga pairing, sementara meanie soonhoon junhao dulu. Seunghan sama verkwan pasti bakal nongol tapi aku gatau mereka bakal jadi apa/G
yang login, aku balas review di pm yak. Sekarang bales yang non login dolo:
carat: EAEA sesuai amet sama judul bikin gila wkk;33 BHAHAHA minghao males jadi bocah polos, sekarang giliran jadi bocah evil wkk
EH EH UDAH JAN BAHAS MOMENT MEANIE NTAR AKU GABISA MOP ON DARI MEREKA KAN BERABE;( dan aku yakin abis konser aming ngeperawanin wonu. ITU PASTI SUDAH!/G
nih nih nasib aming udah ketahuan dichap ini/? yok review lagi nn
kookies: wonu males nerima aming, aming seme rempong gitu/g biarlah aku puas puasin dulu nyiksa aming baru bikin mereka hepi ending/G yok sini review lagi nn
gila meanie: INI NIH UDAH APDET NIH wkk tuhkan bukan aku aja yang mikir aming cocok jadi oon/tabok/ tapi seriusan aming peringkat satu? kok aku masih rada ga percaya sih sama ini berita/G WOHOO MARI LESTARIKAN PARA UKE TSUNDERE/KIBAR BENDERA MEANIE/ produksi keluarga kim mah memang gesrek semua, untuk tampang mereka bagus semua/wht
Ririsasa: menurut skenario yang wonu baca/?, dia emang musti nolak aming biar malu ntu anak/G nih udah tinggal serumah, cuma keanya wonu masih baik dikit ama aming?.-. yok sini review lagi;33
sthepahie chwe: YAAMPUN KAMU SETUJU SAMA AKU KALO EMANG MUKA AMING COCOK JADI BLOON GITU/G ini udah panjangan belum chap? jawab belum aku kasih sianida ntar/eh
nah tenang aja, soonhoon juga bakal love hate relationship koks, aku mau nyiksa soonyoung juga soalnya HEUHEU dan seunghan verkwan mungkin masih agak lama? ya ditunggu aja timmingnya mereka nongol ye. review lagi nih mungkin? nn
.
next chap mungkin agak lamaan apdet kali ya. Aku mau uts dua minggu lagi soalnya errr tapi aku bakal usahain deh supaya gak kelamaan apdet. INI SEMUA DEMI KALIAN KALIAN/hugs atu atu/
makasih yang sudah review, fav, follow, sama silent readers. Aku gapernah maksa buat review tapi kalo kalian emang suka sama ini epep, why not kasih review ke aku? nn
Dan mungkin kritik sama sarannya? Ada yang kurang dari ini ff? bahasa yang bikin kalian risih? sini ngomong aja gapapa, aku gak gigit koks.
No more bacot, just wait til next chap yaps!
