Harry Potter Belongs to J.K Rowling

I only own the plot and some characters you didnt know

Happy reading!

3

xxx

first, saya banyak banyak berterimakasih sama temen-temen semua yang sudah review cerita saya, it means a lot!

Tenshi Kazenna: saya akan coba pertahankan sifat galaknya Hermione dan mudah mudahan bisa mempertahankan Draco supaya nggak terlalu ooc kekeke

Ido Nakemi: Ethan itu maybe anaknya John Winchester yang lain(?) btw saya udah jarang banget nemu orang yang tau supernatural :")

Terimakasih juga buat nuzla3002, Riska662 dan azzaynzi untuk reviewnya! :)

xxx

Hari ini Hermione mengenakan skinny jeans hitam dan kaus lengan pendek berwarna hijau toska. Rambutnya digerai dengan satu jepit rambut untuk menahan helaian rambutnya agar tidak menjuntai kewajah dan menghalangi pemandangan. Belakangan Draco merasa ada yang berbeda dengan rambut Hermione, entah mengapa ia merasa tidak pernah lagi memanggil Hermione dengan panggilan 'Rambut Semak' pasti karena sekarang rambut Hermione tidak lagi terlihat seperti semak. Hanya bergelombang. Gelombang yang rapi. Produk kecantikan muggle ternyata secanggih teknologinya. Entah shampo apa yang Hermione gunakan.

Draco kini sudah lebih beradaptasi dengan teknologi muggle –setelah membuat Sophia memindahkan laptopnya keruangan Draco selama tiga hari penuh— ia kini lebih mandiri. Hermione juga mengajarinya banyak hal. Bagaimana cara menyalakan dan memakai Handphone, Komputer, juga TV.

"Dah, Malfoy!" Hermione mengambil cardigannya lalu menoleh kearah Draco yang mengangguk datar. "Angkat teleponku kalau aku menelepon!" sungut Hermione dengan nada kesal. Ia memaksa Draco mendengarkan kuliahnya tentang cara menggunakan handphone yang baik dan benar setiap malam karena Draco selalu saja tidak mengangkat teleponnya.

Draco hanya mengacungkan jempolnya menanggapi komplain Hermione. Bukannya ia tidak ingin mengangkatnya, tetapi ketika ia baru mau menggeser gambar telepon warna hijau, teleponnya sudah dimatikan. Ia jadi bertanya-tanya. Apakah gerakannya yang terlalu lambat atau Hermione yang kurang sabar menunggunya mengangkat telepon.

"Winchester!" Hermione tersenyum senang dan memanggil satu-satunya teman yang ia punya saat ini.

"Granger!" Ethan lalu balik tersenyum dan berlari kecil kearah Hermione. "Mau kekelas bersama?"

Hermione mengangguk menyambut ajakan Ethan dan berjalan disebelahnya. "Kau selalu datang pagi sekali, Winchester."

"Begitu juga denganmu, Granger. Selalu saja turun dari mobil yang sama. Di jam yang sama." Ethan terkekeh dan menoleh kearah Hermione. "Ayahmu?"

Hermione menggeleng. "Bukan ayahku, dia hanya... Supirku. Yeah, Supirku." Hermione menggaruk tengkuknya dan menelan ludah gugup. Kalau Draco mendengarnya, ia pasti langsung meng-avada kedavra Hermione ditempat.

"Begitukah.."

Hening beberapa lama. Pikiran Hermione masih melayang-layang pada perkataannya tadi. Ia heran mengapa ia berbohong pada Ethan. Dia bisa saja jujur pada Ethan dan berkata bahwa yang mengantarnya setiap pagi adalah Temannya yang tinggal satu apartemen dengannya. Toh dia dan Draco tinggal dikamar yang berbeda.

"Granger, mau makan siang bersama hari ini?"

xxx

"Selamat pagi, Sir!"

Draco hanya menganggukkan kepalanya dan membalas sapaan-sapaan karyawatinya dengan senyum manis. Ia tidak ingin di cap sebagai bos yang judes dan selalu berwajah masam. Sudah berapa kali ia tersenyum hari ini, dan hari hari dan minggu-minggu sebelumnya pun sama. Rasanya rahangnya mau copot juga terasa pegal. Ia segera mengeluarkan handphonenya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat.

To: Uncle Cornelius

Uncle, dimana aku bisa melakukan pijat rahang?

Rahangku sakit sekali.

From: Uncle Cornelius

Kenapa? Ada yang menghajarmu?

To: Uncle Cornelius

Mana ada yang berani menghajarku.

Karyawatimu kelewat ramah. Tiap pagi aku selalu mendapatkan hampir seratus sapaan, jadi mau tak mau aku harus tersenyum.

Rahangku sakit. Jawab pertanyaanku.

From: Uncle Cornelius

...bilang padaku, karyawati bagian mana yang selalu menyapamu setiap pagi,

Biar kupecat satu persatu.

To: Uncle Cornelius

Uncle aku bukan anak kecil lagi.

Aku tahu kau sangat peduli padaku, tapi masa' kau akan memecat mereka hanya karena

Mereka menyapaku?

From: Uncle Cornelius

Bukan, Bodoh.

Mereka tak pernah menyapaku setiap pagi.

Kurang ajar.

Draco hampir saja tertawa terpingkal-pingkal membaca pesan dari pamannya 5 menit yang lalu itu. Jika saja ia tidak melihat Sophia duduk disofa ketika ia masuk kedalam ruangan.

"Kenapa kau disini? Bukankah aku sudah bilang padamu untuk kembali ke ruanganmu karena aku sudah seratus persen mengerti soal komputer?"

Sophia menggelengkan kepalanya. "Sir, tapi ini ruangan saya. Ruangan anda disebelah sana." Sophia menunjuk kearah pintu ruangan Draco.

"Ah—ya. Maksudku datang kesini adalah karena aku ingin bilang kalau aku mau dibuatkan satu cangkir kopi. Antarkan keruanganku." Draco membalikkan tubuhnya dan berjalan keruangannya. "Dan tolong bawakan dokumen-dokumen untuk aku pelajari. Aku harus tahu apa yang diinginkan oleh investor untuk rapat besok."

"Yes, Sir!" jawab Sophia sambil tertawa kecil.

xxx

Setelah menghadiri dua kelas, Hermione melangkahkan kakinya masuk kedalam perpustakaan untuk menunggu Draco menjemputnya. Sejak kuliah disini selama tiga minggu, ia baru bisa menginjakkan kakinya diperpustakaan hari ini. Karena disini, banyak tempat yang bisa dikunjungi. Kantin, Taman depan, Belakang, Rooftop dan banyak taman taman lainnya.

Mulut gadis emas Gryffindor itu menganga lebar melihat perpustakaan besar ini. Sangat terang, dan bernuansa modern. Berbeda dengan perpustakaan di Hogwarts yang berkesan suram sehingga tidak banyak siswa yang datang kesana. Ia merasa bisa berlama-lama diam disini. Bahkan mereka menyediakan Sofa dan meja belajar.

To: Malfoy

Aku sudah selesai kuliah,

Kabari aku jika kau sudah selesai dengan pekerjaanmu.

Hermione lalu mengambil beberapa buku psikologi remaja dan membacanya dengan seksama. Untuk tugas akhirnya, tentu ia perlu mengenal bagaimana keadaan psikis murid muggle pada umumnya. Pada saat itu, dua pesan mampir ke handphonenya. Ia membukanya satu persatu.

From: Malfoy

Akan kukabari kalau aku sudah sampai didepan kampusmu.

From: Ethan Winchester

Granger?

Aku menunggumu didekat gerbang depan.

Kau mau kesini?

Hermione segera mengambil kartu perpustakaannya untuk meminjam buku-buku yang sedang ia baca, lalu ia berjalan ke gerbang depan.

To: Malfoy; Ethan Winchester

Oke.

xxx

"Apa dia temanmu satu-satunya, Granger? Atau kaulah satu-satunya teman lelaki itu?" tanya Draco Malfoy begitu Hermione masuk kedalam mobil dan lagi-lagi menemukan lelaki bersurai coklat dan mata kehijauan disebelah Hermione.

"Itu namanya kebaikan hati, Malfoy." Hermione memasang sabuk pengamannya sebelum menoleh kearah Draco yang menatap Ethan yang masih berdiri diluar mobil. "Winchester adalah temanku satu-satunya. Setidaknya untuk saat ini. Dia banyak membantuku. Dia selalu menemaniku saat aku menunggumu menjemputku.."

"Entah mengapa, aku punya firasat buruk soal dia, Granger. Firasatku biasanya tidak meleset." Draco akhirnya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. "Bagaimana penelitianmu? Sudah berjalan?"

Hermione tidak menanggapi kalimat pertama Draco. Baginya Ethan adalah Pria yang baik. Dan tak ada alasan untuk ketakutan Draco akan terjadi. Bagaimana bisa, lelaki sebaik Ethan berbuat jahat padanya. Yah- meski ia baru mengenalnya belum lama. "Aku sudah meminjam beberapa buku muggle untuk referensi. Kau? Apakah terlalu sibuk bekerja sampai tidak ada waktu untuk memulai penelitian?"

Draco menggeleng. "Aku sedang menganalisa keadaan karyawan dan karyawati muggle-ku."

"Apakah enak menjadi seorang muggle?"

"Aku lelah." Draco menoleh kearah Hermione dan melihat gadis itu menatapnya balik dengan tatapan aku-paham-bagaimana-perasaanmu. "Menjadi muggle begitu melelahkan. Untuk kopi saja aku harus beberapa kali menelepon asistenku untuk mengisi ulang gelas kopiku. Padahal aku bisa menggunakan sihir untuk membuatnya otomatis terisi ketika habis. Aku harus berpegal-pegal menandatangani ratusan dokumen. Aku tidak bisa menandatanganinya langsung. Aku harus membacanya dahulu. Jika menggunakan sihir, aku bisa memakai pena bulu menulis sendiri dan perkamen yang membacakan dirinya sendiri untukku."

Hermione mengangguk tanda setuju. Meskipun ia seorang muggle, ia mengakui menjadi muggle sedikit melelahkan. Tidak bisa berapparate untuk berpergian kemana-mana, konsentrasinya terpecah ketika kuliah karena ia harus mencatat dan mendengarkan penjelasan gurunya sekaligus karena ia tidak bisa menggunakan pena bulu menulis sendiri disini. "Tetapi, itu adalah hal unik dari menjadi seorang muggle, kan?"

Kali ini Draco yang mengangguk tanda setuju. "Ngomong – ngomong Granger.."

"Ya?"

"Dimana tempat untuk memijit rahang?"

"Ha?"

xxx

Draco terbangun dengan mata merah dipagi hari. Kemarin, ia baru saja membeli sebuah notebook dan mengerjakan pekerjaan kantornya tadi malam. Setelah selesai, ia baru tidur pukul 1 dini hari.

Hari ini hari minggu, Draco tidak ada pekerjaan apapun dihari minggu. Ia mengecek handphonenya, tak ada pesan apapun. Biasanya, Sophia akan menelepon atau mengiriminya pesan hanya sekedar untuk membangunkan atau memberitahu jadwalnya. Apakah ada rapat, atau ada pertemuan dengan investor, tetapi Malfoy Corps sendiri adalah investor bagi beberapa perusahaan besar lainnya. Meskipun telepon Sophia sangat membantunya untuk bangun tepat waktu, Alarm Granger-lah yang selalu membangunkannya setiap pagi. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa gadis itu memasang alarmnya dengan volume yang kelewat keras. Apakah telinganya baik-baik saja?

"Pagi, Malfoy!" Hermione yang sedang menata telur mata sapi diatas piringlah yang ia lihat pertama kali dipagi ini. "Kemari! Moodku sedang baik, jadi aku membuat dua porsi sarapan untuk kita berdua."

Draco duduk dikursi pantry dan melihat satu gelas kopi, satu piring berisi pancake, dan piring lain berisi telur mata sapi dan sosis goreng. "Bagaimana caranya membuat moodmu baik setiap hari, Granger?"

Hermione terkekeh pelan. "Yah. Tidak sulit, kok."

Draco mengangkat alisnya tanda tertarik. Hermione memang bukan koki yang andal, tetapi menu sarapannya selalu saja menggugah selera. Ia harus memutar otak agar Hermione mau memasak untuknya setiap pagi.

"Moodku biasanya selalu baik, kecuali ketika aku sedang menstruasi." Hermione terkekeh lalu duduk disebelah Draco.

Draco merenyitkan alisnya. "Benarkah?"

Ingatan Draco melayang ke beberapa hari yang lalu dan hari hari sebelumnya. Ketika Hermione marah marah padanya tiap pagi dan bertanya 'Malfoy, kau lihat tasku yang warna pink?' 'Malfoy, kau lihat kemejaku yang warna peach?' 'Malfoy! Kau kemanakan sepatu ketsku? Kemarin masih ada disini!' dan ketika Draco mengatakan padanya 'Aku tidak tahu' Hermione akan balik memarahinya dengan ucapan 'Kau juga tinggal disini kenapa bisa tidak tahu?!' lalu Hermione akan cengengesan karena menemukan barang-barang yang sejak tadi jadi perdebatan ada dikamarnya. Hermione benar-benar sering menguji kesabarannya dipagi hari.

"Ya, tentu saja." Hermione mengangguk sambil membawa dua buah garpu dan dua buah pisau makan lalu memberikan salah satunya pada Draco. "Ngomong-ngomong Malfoy. Kau selalu terdengar menelepon seseorang setiap pagi. Siapa yang kau telepon?"

Draco menyuap Pancake kemulutnya. "Asistenku. Namanya Sophia. Sebenarnya sudah bekerja sejak dua tahun yang lalu. Ia meneleponku untuk membangunkanku, atau hanya sekedar memberitahu jadwalku."

Hermione mengangguk-angguk sambil memotong sosis lalu memakannya. "Apa kalian begitu dekat sehingga ia sering meneleponmu?"

"Ya. Dia asisten yang hebat. Umur kami tidak berbeda begitu jauh, kami beberapa kali berjalan jalan atau makan bersama. Karena dialah yang paling dekat denganku dikantor. Teman mengobrolku satu-satunya. Meskipun banyak karyawati lain yang umurnya tidak terpaut jauh denganku." Tanpa diminta, Draco menceritakan soal Sophia pada Hermione yang mau tak mau harus mendengarnya.

"Apa kau... pernah tidur dengannya?"

"Di beberapa kesempatan. Pertama kali melakukannya, aku tidak sengaja. Karena aku mabuk. Tetapi setelah itu, ia melakukannya dengan sukarela. Kami sama sama menikmatinya." Draco memandang Hermione yang diam-diam memandang horor kearah dirinya. Pantas saja seringkali Draco pergi dimalam hari dan baru pulang dini hari. Pesona Draco Malfoy memang tidak bisa ditolak. "Ia banyak mengajariku soal alat-alat elektronik. Orangnya supel sekali. Tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Selera humornya juga sangat bagus. pas denganku."

"Lain kali minta padanya saja kalau kau ingin diajari sesuatu." Hermione mendelik kearah Draco. "Aku juga sedang dekat seseorang bernama Ethan Winchester. Yang selalu menemaniku kalau aku sedang menunggumu menjemput. Orangnya sangat perhatian, kau tahu, Malfoy? Aku tidak pernah diperlakukan seperti princess sebelumnya."

"Tentu saja, yang dekat denganmu kan hanya Potter, Weaselbe dan Hagrid." Draco menyeruput kopinya sedikit demi sedikit.

"Itulah apa yang aku bilang!" Hermione menoleh kearah Draco, matanya berbinar-binar membuat Draco sedikit ketakutan. "Dia selalu menempatkanku disisi trotoar ketika kami jalan bersama, ia menyeka mulutku ketika makan jika ada saus yang menempel disekitar bibirku dan ia selalu memakaikan jaketnya padaku jika aku terlihat kedinginan."

"Cih. Aku juga bisa seperti itu." Draco mengambil koran diatas meja dan membacanya. "Apa kau pernah tidur dengannya?"

"Demi Merlin, Malfoy. Apa hanya hal itu yang ingin kau tanyakan?"

"Kau tadi menanyakan hal itu duluan." Draco mengedikkan bahunya. "Jadi aku bertanya balik padamu. Salah?"

Pipi Hermione bersemu merah muda. Ialah yang bertanya soal itu duluan pada Draco, dan sekarang Draco bertanya balik padanya. "Tidak, aku tidak melakukan apapun dengannya."

"Kau tak mungkin masih virgin, kan Granger? Kau bukannya pernah kencan dengan Viktor Krum?"

Pacaran apanya. Hermione mendengus. Mungkin hubungannya dengan Viktor lebih pantas dianggap sebagai kawan surat. Boleh juga disebut ia pacaran dengan burung hantu milik Viktor. Viktor rajin mengiriminya surat tanpa ada keinginan untuk mengunjunginya. Ia lebih sering bertemu dengan burung hantu milik Viktor ketimbang dengan pemiliknya.

"Jadi, kau masih virgin?" Draco menyeringai melihat Hermione membatu ketika Draco bertanya soal itu. "Jangan sampai Winchester menghambat penelitianmu, Granger."

"Tidak akan. Aku ini masih gadis emas Gryffindor, tahu." Hermione berjalan kearah Draco dan mengambil koran yang sedang dibacanya. "Sekarang giliranmu mencuci piring, Malfoy."

Draco melirik tumpukan piring didapur. "Lain kali kau harus hemat piring, Granger."

"Yah, jika tak apa bagimu untuk menyatukan Pancake yang manis dengan telur mata sapi dan sosis yang asin."

"Oh, come on!"

Hermione tertawa melihat wajah Draco tertekuk kesal.

xxx

Siang itu mereka habiskan untuk menonton film disalah satu channel TV. Draco sangat menikmati film-film yang ia tonton hari itu. Ia tidak tahu muggle sangat kreatif dalam membuat film. "Granger, apa sudah tidak ada lagi makanan bulat-bulat bergerigi yang tadi kau bawa?"

Hermione menoleh kearahnya dengan tatapan heran. "Popcorn maksudmu? Aku bisa membuatnya lagi kalau kau ingin."

"Aku ingin." Potong Draco cepat membuat Hermione memukul pundaknya sebal. Karena Draco yang ternyata punya ketertarikan yang besar pada makanan muggle, ia jadi sering menyuruhnya untuk membeli banyak hal. Burger, Cheeseburger, Fried Chicken sampai Hermione bosan memakannya setiap sore.

"Malfoy, sepertinya kau akan kembali ke Hogwarts dalam keadaan gemuk kalau kau terus-terusan begini." Hermione membawa semangkuk popcorn dan meletakkannya dimeja.

"Tidak akan."

"Pipimu jadi lebih chubby. Badanmu juga jadi lebih berisi."

"Benarkah?" Draco mencubit pipinya sendiri. "Sejak kapan kau mulai memperhatikan tubuhku, Granger? Apa kau hanya memperhatikannya? Atau kau membayangkan—umph. Hey!"

"Hentikan, Draco Malfoy." Hermione menyumpal mulut Draco dengan beberapa potong popcorn. "Pikiranmu kotor sekali. Tentu saja karena aku punya mata, aku bisa melihat badanmu agak sedikit berisi akhir akhir ini."

"Benarkah? Tapi Sophia tak pernah sekalipun memprotes tubuhku ketika kami bercinta.." Draco akhirnya meraba perutnya sendiri. "Apa yang dilakukan muggle untuk membuat otot?"

xxx

"Ini- sangat-melelahkan. Ini sangat berbeda dengan Quidditch.." Nafas Draco Terengah-engah sambil mengusap peluhnya. Disaat seperti ini, Hermione dengan teganya menambah kecepatan Treadmill yang sedang dipakai Draco. "Demi Merlin, Grangerh." Draco melemparkan death glarenya pada gadis disebelahnya yang sama berkeringatnya.

"Tahan sepuluh menit lagi, Malfoy." Hermione juga menambah kecepatan Treadmillnya dan bertahan selama sepuluh menit. "Kita selesai—Malfoy?" Hermione melihat disekitar karena Draco sudah menghilang dari tempatnya. Dan dilihatnya Draco berdiri didepan vending machine. Membatu didepannya. "Apa yang kau lakukan?" Hermione menghampiri Draco.

"Bagaimana cara mengambil itu?" tunjuknya pada satu botol air mineral. "Apa mereka hanya pajangan di dinding?"

"Tidak, Bukan." Hermione tertawa geli lalu mengambil uang recehnya dan memasukkannya ke tempat koin di vending machine itu. "Nih, kau pasti haus."

Draco membuka botol minum itu dan memberikannya pada Hermione. "Ladies first."

Hermione hanya menatap Draco dan botol minum itu bergantian. Tidak mengerti kenapa Draco jadi sebaik itu padanya.

"Minumlah duluan. Kau bilang belum pernah diperlakukan seperti princess? Aku akan berbaik hati membuatmu merasakannya." Draco menyodorkan botol minum itu lagi. Hermione mengambilnya lalu meminumnya sebagian. "Jangan pakai baju yang terlalu terbuka. Kau tak tahu isi hati lelaki saat melihat wanita mengenakannya." Tunjuk Draco pada tanktop ketat dan celana training sepaha yang dikenakan Hermione.

Hermione merenyitkan dahinya mendengar kata-kata Draco, bahkan hampir tersedak. Untung saja Draco dengan cepat menepuk punggungnya.

"Granger?"

Hermione menoleh dan menemukan Ethan dengan pakaian olahraga dan handuk kecil melingkar di lehernya.

"Kau berolahraga disini juga? Oh, kau membawa sup—" Hermione cepat cepat menutup mulut lelaki berambut coklat itu dan membawanya pergi keluar. "Malfoy, kau tunggu disini."

Hermione menggaruk bagian belakang kepalanya. "Eu- itu- sebenarnya dia bukan supirku. Dia temanku. Kami tinggal diapartemen yang sama, tapi kami tidur dikamar yang berbeda, kok." Ucap Hermione cepat. "Aku juga tak tahu mengapa aku mengenalkannya sebagai supirku tempo hari."

Ethan tertawa keras. Membuat Hermione menatapnya.

"Kau tidak marah karena aku membohongimu?"

Ethan lalu meletakkan tangannya dikepala Hermione dan mengusapnya pelan. Kepalanya menggeleng pelan. "Aku tidak marah. Siapa namanya tadi? Malfoy? Draco Malfoy?"

"Kau tahu darimana?"

"Malfoy Corps adalah perusahaan yang sangat terkenal, dan seseorang yang sangat aku kenal mengatakan bahwa Malfoy Corps memiliki Direktur baru. Lagipula, aku sudah menduga kau bersama dengan lelaki itu setiap pagi. Warna rambutnya sangat khas. Aku belum pernah melihat rambut pirang platina dimiliki orang lain selain Keturunan Malfoy.. direktur Malfoy Corps yang sebelumnya juga memiliki rambut pirang yang sama"

"Kau sepertinya sangat mengenal Malfoy Corps, Winchester.."

Ethan tidak menanggapi Hermione lalu berjalan kearah lelaki pirang yang sedang minum sambil mengusap peluhnya. "Jadi, Draco Malfoy, benar?"

Draco mendongakkan kepalanya. "Ya."

"Ethan, Ethan Winchester." Ethan menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Draco dan Draco menyambutnya. "Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu denganmu, Malfoy."

xxx

To be continued

10 page words.. hope you guys like this chapter as well!

Please keep read and review!