Eeyo aku balik lagi dengan ff aneh bin absurd ini.
Sebenernya aku masih rada heran, ff kaya gini kok reviewnya ampe 60an. Jujur chap satu aku pasang target 10 karena aku ga yakin bakal dapet respon bagus,tapi makasih banyak sama yang mau nge review dsb. Hehehe kadang aku masih nga percaya sama angka reviewnya.
FF ini idenya jalan sendiri jadi maaf kalo tiap chap makin absurd, sebenernya aku kurang nyaman bikin ff plot panjang, kalo idenya tiba-tiba mandek aku sering bingung ndiri.
Oke tanpa banyak curcol kita mulai ffnya. Oh ya sebagian chap ini masih gabungan chap 2 cuman SeHun side aja.
Kalimat yang di italic itu semacam kilatan flashback.
.
.
.
.
SeHun mendesah kesal sedari tadi ketiga sahabat bodohnya itu terus saja menanyainya perihal Kai. Hei SeHun tak cemburu, ia yakin seratus persen Kai akan tetap memilihnya bukan ketiga sahabat tololnya. Tapi masalahnya mereka bertanya sejak jam pertama sampai sekarang sudah istirahat ke dua. Berati SeHun sudah melewati enam jam pelajaran dengan pertanyaan dan pernyataan seputar kai. Jika satu jam pelajaran sekitar empat puluh menit silahkan hitung berapa lama ChangKyuTao bertanya.
"ayolah SeHun, kami sudah capek bertanya sedari tadi" KyuHyun mendesah lelah.
"thalah thaiapa bertanya terus?" tanya SeHun ketus. SeHun mencomot donat ChangMin membuat pekikan lima oktaf memenuhi seluruh kantin. "astaga ChangMin hyung, sehalusnya kau berduet dengan KyuHyun hyung" seru Tao.
"aku tidak mau berdiri di sampingnya." Dengus KyuHyun.
"memang kenapa?" tanya ChangMin.
"berdiri disamping SeHun saja aku berpikir apa lagi berdiri disampingmu, bisa-bisa bagai pohon kelapa bersanding dengan pohon jeruk" dengus KyuHyun.
"lalu kalau aku apa hyung?" seorang namja imut menghampiri keempatnya. "kalau aku seperti pohon kacang bersebelahan dengan pohon kelapa?" lanjutnya langsung membuat tawa ChangKyuTao pecah.
"XiuMin hyung!" pekik SeHun senang. XiuMin mendudukan tubuhnya di samping SeHun "Hei Hunie" sapa XiuMin.
"hyung bawa aku pergi dari thini hyung. Mereka membuat kepala TheHun pusing" keluh SeHun memegangi kepalanya.
"memang apa yang mereka lakukan padamu SeHunie?" tanya XiuMin pura-pura kawathir.
'mati apa yang harus kukatakan. Tidak mungkin aku bilang sedang mendebatkan Jongie-hyung!' batin SeHun. XiuMin satu-satunya orang yang tau SeHun telah bertunangan. "kami sedang membicarakan hyung cantik uri maknae. Astaga Kai hyung benar-benar cantik" KyuHyun mendadak fangirling.
"Kai?" gumam XiuMin. "ne Kai hyung. Astaga dia sangat imut!" giliran Tao yang fangirling.
'MinSeok-ah, lepaskan SeHun. Sekarang SeHun sudah punya tunangan'
"tidak bisa Umma, aku mencintainya!"
"Jangan egois MinSeok!"
XiuMin memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit. "XiuMin hyung, kau tidak apa-apa?" tanya Tao. "aku tidak apa-apa" jawab XiuMin. SeHun menatap XiuMin kawathir. "ah, sebentar lagi bel masuk. Aku ke kelas dulu" XiuMin langsung beranjak pergi.
"ada apa denganya?" gumam KyuHyun.
SeHun menunduk. Ia tau XiuMin tau siapa itu Kai, jujur ia merasa bersalah pada XiuMin. Sampai sekarang mereka masih sepasang kekasih, sampai sekarang pula ungkapan sayang masih keluar dari bibir mereka masing-masing, sampai sekarang mereka masih sering berkencan diam-diam di belakang Kai. Jujur SeHun masih amat mencintai XiuMin, ia tak rela melepaskan XiuMin, namun ia juga sadar diri sekarang ada Kai di kehidupanya. SeHun merasa amat jahat pada Kai, ia merasa seolah dirinya hanya menginginkan tubuh Kai. Kai menawarkan cinta yang begitu tulus padanya tapi dirinya tak bisa membalasnya sepenuhnya.
Drrt-drrt
SeHun mengeluarkan ponselnya dari sakunya.
From : Kai hyung
Massage : SeHun maaf hyung tak bisa menjemputmu nanti. Ada begitu banyak tugas yang harus kuselesaikan. Aku benar-benar minta maaf
Sehun tersenyum tipis diketiknya sebuah sms dengan cepat.
To : My XiuMinie
Massage : bagaimana kalau sepulang sekolah kita kencan?
Send
*skip at HunMin dating*
SeHun merangkul mesra pinggang XiuMin. Keduanya memasuki kedai bubble tea. SeHun sengaja memilih tempat di pojok. "hyung ada yang ingin kubicarakan" ujar SeHun memulai percakapan.
MinSeok menatap SeHun heran "tentang apa?" tanyanya. Tiba-tiba ponsel SeHun bergetar, XiuMin melirik id si penelepon. "apa tentang dia?" tanya XiuMin dingin.
SeHun menghela nafas pelan. Tanganya terulur hendak mengambil ponselnya sebelum ucapan XiuMin menghentikannya. "jadi siapa yang kau cintai? Dia atau aku?" pertanyaan XiuMin membuat SeHun kaku. Pikirannya berputar ke pertanyaan LuHan semalam. "jawab aku Oh SeHun" desis XiuMin.
"aku tidak tau" SeHun menekurkan kepanya di meja. "aku tak ingin melukai thiapapun" lirih SeHun.
XiuMin menghela nafas pasrah. "pada akhirnya akan ada yang terluka" ujarnya mengaduk-aduk bubble teanya. "Hun, kau pilih melukai satu orang atau banyak orang?"
"hyung apa makthudmu?" tanya SeHun tak mengerti.
"ku yakin kau pernah menyentuh Kai hyung kan?" ujar XiuMin diangguki SeHun. "Hun jika kau memutuskanku hanya aku yang terluka. Tapi hah~" XiuMin menghela nafas panjang "jika kau memutuskan kai hyung, keluargamu akan terluka, merreka akan menangung malu pada seluruh kerabat kalian, dan yang terparah….. Kai hyung-" XiuMin membuang wajahnya ke samping. "dia namja istimewa… dia bisa hamil"
"MWO!?" pekik Sehun. "m-makthudmu ada Rahim di dalam tubuhnya?" tanya SeHun tak percaya.
XiuMin mengangguk pelan "ya begitulah. Ia memang istimewa, karena itu orang tuanya sangat menjaga kerahasiannya. Hun, hal itu yang paling kutakutkan, jika kita masih menjalin hubungan sedangkan Kai hyung hamil. Bisa-bisa semuanya terjadi seperti LuHan hyung" terang XiuMin.
"Luhan hyung, memangnya ada apa denganya?" tanya SeHun heran.
XiuMin menunduk. "tanya saja sendiri. Jadi apa keputusanmu?" tanya XiuMin.
"aku… maaf Xiu-Xiu thepertinya aku memilih Kai hyung" ujar SeHun menatap lekat manik XiuMin.
XiuMin tersenyum tipis. "Jadi ini akhirnya? Akh kalau begitu aku bisa mengejar LuHan hyung"
"apa katamu… j-jadi thelama ini!?"
Xiumin nyengir kuda. "hehe begitulah, aku merasa ada yang kurang saat LuHan hyung berhenti mengangguku" cengir XiuMin. SeHun menatap XiuMin jengkel. "ayolah ini memang perpisahan tapi jangan menatapku seperti itu" rayu XiuMin.
"hyung menyebalkan" kesal SeHun. "aku minta ciuman perpisahan"
"eh, apa yang kau bilang Hun?" tanya XiuMin. SeHun mendengus, tanpa basa-basi SeHun langsung menerjang XiuMin. Setelah puas melakukan aksinya SeHun langsung duduk manis lagi meninggalkan XiuMin yang masih mengatur nafas. "dasar menyebalkan" gerutu XiuMin.
"astaga kalian menggelikan, belciuman di tempat umum yaks" suara panda (?) yang tiba-tiba datang membuat keduanya malu. "oh ya Hun, aku mau tanya apa hyung manismu itu pacal LuHan hyung?" tanya Tao.
"heh?" HunMin menatap Tao tak percaya. "bagaiman kau bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya XiuMin heran.
"habis balu saja aku melihat meleka keluar dari kedai ini. Oh ya Kai hyung tadi sepeltinya menangis lalu LuHan hyung memeluknya" jawab Tao masa bodo.
"hash rutha cina itu cari kethempatan lagi" dengus SeHun segera membereskan barangnya. XiuMin langsung menyusul SeHun meninggalkan Tao sendirian.
*Lukai side*
Luhan tersenyum kecil. diusapnya pelan helaian hitam Kai. "Kai, kau tau aku begitu merindukanmu. lebih dari lima belas tahun aku mencarimu. Apa kau masih mengingatku?" monolog LuHan. LuHan tertawa pelan. "aku bahkan masih ingat pertemuan pertama kita" lirihnya.
*flashback*
LuHan kecil meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Entah sudah berapa kali ia menemui kedua orang tuanya saling memaki. LuHan tak dapat lagi mengenali orang tuanya, mereka semua berubah. tidak ada lagi ucapan sayang, kecupan bahkan sapaanpun tak lagi didapatkanya. LuHan takut ayahnya menemukanya lalu kembali memukulinya.
"Xi LuHan dimana kau!" teriakan ayahnya memnuat tubuh kecilnya itu makin kuat menggigil. langkah kecilnya membawanya menuju pintu, dibukanya pintu itu perlahan. "Xi LuHan!" LuHan takut ia berlari sekencang mungkin. ia tak lagi dapat berpikir kemana langkahnya membawanya, yang penting ia bisa kabur sejauh mungkin dari sana.
Bruk
kaki mungil itu tak lagi mampu menopang tubuhnya. LuHan menoleh kebelakang berharap orang tuanya tak menemukan jejaknya. uap panas nengepul dari mulutnya. "hisk dingin hisk" LuHan terisak. dipeluknya kedua lenganya erat.
LuHan tersenyum melihat lubang besar di pohon. LuHan buru-buru masuk kesana. LuHan bergidik ngeri melihat bagian dalam pohon itu. "tapi setidaknya baba tidak akan berpikir aku ada disini" gumam LuHan. Direbahkanya tubuhnya di tumpukan guguran daun. perlahan manik indahnya terpejam.
*skip at morning*
LuHan kecil terbangun, perutnya terus berbunyi sedari tadi. LuHan keluar dari persembunyiannya. matanya berbinar senang melihat seorang penjual roti namun binar matanya segera meredup mengingat ia tak membawa uang sepeserpun.
Nekat LuHan menghampiri penjual itu. "ajjushi. bolehkah aku minta satu rotimu?" tanya LuHan pelan.
Penjual itu terdiam lama. tanpa berkata apapun penjual itu memberikan tiga bungkus roti pada LuHan. "kamshamida ajjushi" LuHan membungkukkan tubuhnya.
Dengan mengandalkan aegyo ia mengemis makanan pada orang-orang. beruntung beberapa ajjuma bergiliran memberinya semangkuk nasi saat pagi dan sore. sebenarnya banyak orang yang ingin membawa LuHan ke kantor polisi namun selalu saja gagal, LuHan akan menjadi ling lung jika ditanyai siapa dirinya. bukanya jawaban yang keluar justru gumaman 'siapa aku?' terus keluar dari mulutnya.
Masyarakat sekitar taman memutuskan membiarkan LuHan tinggal di pohon itu. Mereka selalu memberi selimut dan pakaian hangat untuknya. ia tak punya teman dekat, ia bukanlah anak periang yang mudah bergaul, ia sangat tertutup terutama untuk orang-orang yang memakai jas mahal ia pasti langsung histeris.
"hisk- umma hisk" LuHan terbangun mendengar suara tangisan. LuHan langsung keluar, betapa herannya ia mendapati punggung bocah didepan pohonya.
"siapa kau?" tanya LuHan. bocah itu membalikan tubuhnya. manik rusa LuHan tak bisa berhenti menatap wajah sendu bocah itu. "hisk hyung, Jongie kehilangan umma jongie" isaknya.
LuHan terdiam. ia bingung harus melakukan apa. "kemarilah di luar dingin" rayu LuHan. bocah itu berpikir sebentar. "aku tidak akan melukaimu" rayu LuHan lagi.
JongIn bocah mungil itu nampak tertarik, LuHan membawanya masuk ke pohonnya. JongIn kagum melihat isi pohon LuHan. bagian bawah pohon itu dialasi karpet tebal, beberapa lembar selimut terlipat rapi di pojok. "hyung dingin~" rengek JongIn. LuHan langsung menyodorkan selimut yang paling tebal. "pakailah"
"lalu hyung sendiri?"
"aku sudah terbiasa dengan dingin Jongie" ujarnya sambil menutup pintu pohon dengan tirai. LuHan membalikan badanya, betapa herannya ia melihat wajah JongIn tiba-tiba memerah. "apa masih dingin?" tanyanya menghampiri JongIn.
"eungm" gumam JongIn. LuHan tersenyum, disingkapnya selimut JongIn lalu dipakainya. JongIn tersentak, baru saja ia hendak protes ia merasakan sebuah lengan memeluk erat pinggangnya. "sudah hangat?" tanya LuHan.
wajah manis itu kembali bersemu merah. "ung sudah hyung" jawab JongIn pelan.
"LuHan terkekeh "ayo tidur" LuHan membanting tubuh keduanya hingga tiduran. "aku akan terus memelukmu" bisik LuHan lembut.
JongIn tersenyum dalam tidurnya begitupun LuHan. "Hyung hangat" gumam Kai. luHan terkekeh "kau juga Jongie" bisik LuHan. Luhan merapatkan pelukannya senyum kecil menghiasi wajahnya.
"JONGIN JONGIN!" pekikan orang-orang di luar sana membuat LuKai langsung keluar.
"Umma!" JongIn langsung menubruk salah satu namja yang ada di sana. Namja cantik yang merupakan ibu jongIn itu langsung balas memeluk putranya yang hilang seharian.
"Umma" gumaman lirih LuHan membuat semua orang menatapnya. LuHan menutup matanya, setetes air mata jatuh dari manik rusanya. "Aku bahkan lupa seperti apa wajah umma" lirihnya menatap tanah.
"LuHan hyung jangan menangis" Kai giliran memeluk LuHan. Luhan masih terdiam kaku, manik rusanya terus memandang kebawah. "LuHan hyung! Hyung!" teriak Kai mengoncangkan tubuh LuHan.
YunJae mendekat. Mereka ikut mencoba membangunkan LuHan dari lamunannya. LuHan menatap manik onyx Kai sendu. "Siapa aku?" gumam LuHan.
LuHan tiba-tiba pingsan. Kai langsung menangkap LuHan. "Hyung!" Kai menangis keras. Seorang ajjushi yang sering berada di taman langsung menghampiri mereka.
"LuHan! Apa yang terjadi?" tanya ajjushi itu.
"Kami juga tak tau. Ia tiba-tiba pingsan" jawab YunHo.
"Appa bawa LuHan hyung ke rumah sakit appa hisk!" Kai memeluk erat LuHan.
YunHo langsung mengambil LuHan dari Kai. Ajjushi itu juga ikut ke rumah sakit. Selama di rumah sakit ajjushi itu menceritakan siapa LuHan. JaeJoong yang mendengarnya ikut menangis. "Tuan kumohon, biarkan putramu bersama LuHan dulu ia satu-satunya orang yang tak membuat LuHan pingsan saat pertama kali bertemu. Kumohon setidaknya sampai ia sembuh dari taruma" mohon ajjushi bernama Leetuk.
"Jongie kau mau terus bersamanya?" tanya JaeJoong pada JongIn mengangguk yakin. "Umma aku nyaman dengan LuHan hyung" jawab JongIn.
"Kau harus menemaninya dari siang sampai sore arra?" YunHo menepuk kepala JongIn.
"Ne appa" jawab JongIn. Pintu ruang pemriksaan terbuka. Seorang dokter keluar dari sana. Jongin langsung menubruknya "uisa, bagaimana keadaan hyung?" tanya Jongin dengan manik berair.
"Trauma ringan di kepalanya membuatnya ketakutan dengan orang asing" terang dokter itu. "Sebaiknya biarkan orang yang benar-benar dipercayainya yang merawatnya"
YunJaeTeuk menatap JongIn. "Sepertinya kita tau siapa orang itu" ujar YunHo.
*skip*
LuKai menjadi sangat dekat. Orang-orang sekitar taman menjadi menyukai mereka. Karena JongIn pula LuHan tak lagi takut bertemu orang asing.
LuHan kebiasaan memeluk Kai dari belakang. Bahkan ia tak segan menyusupkan kepalanya ke leher Kai. LuKai tengah menikmati makan malam mereka. Tawa Kai selalu berhasil membuat LuHan ikut tertawa. "Kai kemarilah" panggil LuHan.
"Eum" Kai dengan patuh menghampiri LuHan. LuHan menepuk nepuk pahanya mengisyaratkan Kai duduk di sana. "Ada apa?" tanya Kai memutar tubuhnya namun kembali ditahan LuHan.
"Aku ingin memberimu sesuatu" bisik LuHan, dilepasnya liontin yang selalu melekat di lehernya. Dipakaikannya kalung itu pada Kai.
Kai tak bisa berkomentar apapun. Jemarinya terus memegangi liontin itu. "Hyung ini indah" gumam Kai.
"Ini pemberian ibuku. Sekarang ku berikan padamu supaya aku selalu bisa mengingatmu" jawan LuHan berbisik.
"Gomawo, tapi aku tak punya apa-apa" ujar Kai sendu.
"Cukup berada disisiku" jawab LuHan.
"Aku hanya bisa berada di sampingmu sebagai adik" balas Kai.
LuHan terdiam lama. Dahinya berkerut tak mengerti. "Kenapa?" tanya LuHan tak mengerti. Kai beranjak, mengambil beberapa sulur tanaman. Kai merajut sulur-sulur itu menjadi galang yang cukup bagus. "Untukmu" Kai menyerahkan gelang itu.
"Wow" gumam LuHan. Dipakainya gelang itu. "Agak kebesaran, tapi ini sangat indah. Gomawo" ujar LuHan tulus.
"Hyung ayo keluar!" JongIn menarik LuHan keluar. LuHan memandang heran Kai yang mengeluarkan alat pamahat dari tasnya. "Ayo kita ukir persahabatan kita di sini" JongIn mulai mengukir gambar dua orang bergandengan.
"Apa maksudnya D?" tanya LuHan heran.
"D untuk deer. Auch!" karena tak konsentrasi JongIn melukai tanganya sendiri.
Tanpa berucap apapun LuHan mengambil jari JongIn yang terluka, dikulumnya jari JongIn lembut. "H-hyung" JongIn memalingkan wajahnya malu. LuHan melepaskan kulumannya "bagaimana kalau B untuk bunny?" goda LuHan.
"Hyung aku mau yang lebih sangar" rayu JongIn. LuHan terkekeh "jangan aegyo, kau membuatku ingin menciummu"
JongIn mundur selangkah. "Hyung, kau masih sebelas tahun dan aku masih tujuh tahun" ujar JongIn mempout bibirnya kesal.
"Iya aku tau, sini biar aku yang ukir" LuHan mengambil alat pemahat JongIn. "Kau mau inisial apa?" tanya LuHan.
"W untuk wolf!" seru JongIn.
LuHan menatap JongIn tak percaya, dipandanginya JongIn dari atas ke bawah. "Dari pada srigala kau lebih mirip kelinci" ejek LuHan. Kai kembali merajuk "baiklah little wolf" LuHan mengukir huruf W disamping huruf D.
"JongIn selamanya kita bersama kan?" tanya LuHan. Entah mengapa tiba-tiba ia ragu dengan perasaanya sendiri.
JongIn langsung memeluk LuHan. "Tentu saja. Apa yang hyung takutkan?" tanya JongIn.
LuHan menghela nafas pelan, manik rusanya kembali menatap ukiran yang baru saja mereka buat. "Tidak ada. Hyung percaya kau akan selalu bersama hyung" jawab LuHan balas mendekap JongIn.
*flashback end*
LuHan menghapus jejak air matanya. Tawa kecil keluar dari mulutnya. Jemarinya terulur mengusap liontin yang ia berikan lima belas tahun lalu. "Kau merawatnya dengan baik JongInie" gumam Luhan lirih.
"Aku masih tak percaya bocah kecil yang menangis di depan pohon ini adalah kau" tawa keluar dari mulutnya.
"Apa hyung, adalah LuHan hyung yang sama dengan hyungku lima belas tahun lalu?" Kai tiba-tiba bangun membuat LuHan kaget.
"Kai kau sudah bangun rupanya" LuHan mengusap rambut Kai pelan. "Hyung jawab saja pertanyaanku" ujar JongIn dingin.
LuHan menghela nafas pelan. Ditunjukanya gelangnya pada Kai. Kai menatap gelang itu kaget, dipegainya tangan LuHan memastikab itu gelang yang dibuatnya saat ia masih tujuh tahun.
"Deer hyung" Kai langsung mendekap erat LuHan. LuHan terdiam kaku, dengan kaku tanganya terangkat membalas pelukan Kai. "Bogoshipo little wolf" bisik LuHan.
"Nado bogoshipo Lu-ge" balas Kai. Ditelusupkanya wajahnya pada leher LuHan.
Kai tiba-tiba melepaskan pelukannya membuat LuHan heran. Kai menatap LuHan marah "Hyung, deer hyung, deer hyung" panggil Kai berulang-ulang. "Kenapa kau meninggalkanku sendirian?"
LuHan menutupi kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua tanganya, wajahnya menyerit kesakitan. Kilasan-kilasan menyakitkan kembali berputar di otaknya. "jangan kumohon jangan!" LuHan menggelengkan kepalanya keras-keras. "Kumohon jangan ingatkan aku! Kumohon!" teriak LuHan tak karuan.
"Lu, Lu-ge!" teriak Kai mencoba menghentikan tangan LuHan yang memukuli kepalanya sendiri. "LuHan hyung kau kenapa hisk hyung!?" Kai mendekap erat LuHan. Melesakan dalam-dalam wajahnya di dada LuHan.
LuHan tiba-tiba berhenti memukuli kepalanya, pandanganya kosong tanpa sirat apapun. "Kai aku kalah" lirih LuHan sebelum pingsan.
"LUHAN HYUNG!"
-tbc-
PENGUMUMAN
Aku mau hiatus (atau mungkin berhenti) nulis NC. Berhubung ini FF rate M aku mau nanya ini baiknya di end atau di lanjut dengan rate T?
Kalau nyrempet-nyrempet M mungkin aku masih bisa nulis. Tapi entah mengapa aku ga yakin bisa nulis rate M NC lagi. Aku masih punya satu ff semi M kira-kira di publish ga?
Aku butuh tanggapan kalian raders-nim. Tolong tulis di kotak review. kamshamida
