Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

"Sudah siap yeobo?"

"Sudah."

"Ballpoint, pensil, penghapus, kartu namamu. Apalagi?"

"Sudah, sudah semua."

"Aku sudah masukan pensil cadangan dan peralatan lainnya."

"Ne yeobo, gomawo."

"Pakai jaket! Di luar dingin, ini sudah bulan November."

"Ne, yeobo."

"Jangan lupa minum sebelum memulai ujian ya, berdoa juga jangan lupa. Ayah dan ibu akan segera datang ke sana juga untuk menyambutmu."

"Mereka ke Korea?!"

"Sudah pasti. Anaknya kan akan menempuh ujian yang penting, pasti mereka akan datang."

"Hft, kalian membuatku nervous."

Sudah dari satu jam yang lalu Mark bolak-balik membuka ransel sekolahnya hanya untuk memastikan semua barang yang ia perlukan sudah berada di dalam sana. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Mark dan semua siswa kelas 3 SMA telah datang, yaitu Suneung atau ujian masuk universitas sekalian ujian kelulusan mereka, yang di lakukan oleh semua siswa kelas 3 SMA di Korea. Di hari ini, mereka akan membuktikan semua usaha mereka dalam belajar selama satu tahun, apa yang telah mereka pelajari di kelas tiga akan mereka buktikan sebagai tanda suatu keberhasilan mereka di hari ini.

Orang tua Mark dan Bambam tentu akan mengantar Mark ke sekolah dan mendoakan yang terbaik untuk sang anak, memberikan semangat yang tak ada hentinya demi keberhasilan Mark. Sebenarnya, bagi Mark sendiri ujian ini adalah sesuatu yang berlebihan, dia tidak perlu mengikuti ujian yang se-"fanatik" ini hanya untuk masuk ke universitas. Tapi Mark hanya ingin mengikuti tren, nilai rapot SMA nya selama tiga tahun pun sudah cukup untuk masuk universitas yang bagus di Amerika.

"Tenang ya, jangan panik, berdoalah yang terbaik." nyonya Tuan membenarkan dasi di leher Mark.

"Aku tidak panik kok, hehe."

"Yah, apapun hasilnya nanti, ayah percaya bahwa kau sudah melakukan yang terbaik selama ini. Buktinya nilaimu baik-baik saja." lanjut sang ayah.

"Yes." Mark mengangguk.

Di depan pagar sekolah, semua siswa sudah bersiap untuk menempuh ujian yang penting di hidup mereka, begitu juga dengan teman-teman Mark yang sedang mempersiapkan diri mereka bersama orang tua masing-masing.

Di sisi lain, Mingyu duduk menyendiri di taman yang terletak tepat di dekat sekolah. Ia menaruh ponsel di telinganya dan berbicara dengan seseorang yang berada di tempat lain. "Mian, hyung, aku tidak bisa menemuimu di sana."

"Gwenchana chagi, kan setelah ini kita akan bertemu."

"Tetap saja, aku ingin menyemangatimu di sana."

"Mendengar suaramu seperti ini pun sudah menambah semangatku seratus kali lipat. Kau doakan saja yang terbaik untukku, ya?"

"Ne, hyung, jangan panik ya nanti kalau sudah di dalam kelas. Fokus dan teliti, cek lagi jika kau sudah selesai mengerjakannya."

"Siap chagi, terima kasih ya."

"Jangan memikirkan hasilnya nanti, tapi ingatlah perjuanganmu selama ini. Jika kau bersungguh-sungguh pasti kau akan mendapatkan hasil yang terbaik kok."

"Aku percaya padamu, sekarang aku mau siap-siap dulu."

"Ne, hyung, semangat ya."

"Gomawo chagi, saranghae."

"Nado."

Klik! Mingyu menutup sambungannya. Yang tadi itu Wonwoo, tadi dia habis berbicara dengan Wonwoo lewat telfon. Berhubung jarak yang memisahkan mereka saat ini, jadi Mingyu hanya dapat memberikan semangat terbaiknya kepada Wonwoo melewati telefon, ingin rasanya Mingyu pergi ke Incheon hanya untuk bertemu dengan Wonwoo dan membuatnya bersemangat hari ini, memang tidak begitu jauh, tapi tidak semudah itu bisa di tempuh.

"Hft," Mingyu mendesah, tangannya tak berhenti mengepal bahkan meremas celana denimnya, "hyung, fighting!"

"FIGHTIIIIING!" segerombolan orang tiba-tiba membuat jantungnya meloncat. Keempat sahabatnya sudah berada di sana membawa senyuman.

"Kenapa huh? Galau ya, tidak bisa ketemu Wonwoo?" Junhoe mengacak-acak rambut Mingyu.

"Sudah, jangan khawatir, dia akan melakukan yang terbaik." kata Jungkook.

"Pacar-pacar kalian juga sudah masuk?" tanya Mingyu seraya mencoba mengalihkan ingatannya tentang Wonwoo.

"Sudah, makanya kami datang ke sini untuk menghiburmu." kata Bambam seraya tersenyum lebar.

"Aku tidak perlu dihibur, aku kan tidak sedih," Mingyu tersenyum tipis dan merunduk agar sahabatnya tidak dapat melihat wajah yang telah kehilangan auranya itu, "oh iya, Bamie,"

"Hm?" Bambam mengangkat alisnya.

"Mertuamu masih ada di sekolah? Mereka tidak marah kau datang ke sini?"

"Tidak lah, mereka pengertian dan baik hati kok. Mereka tahu bahwa sahabatku tengah membutuhkan pacarnya." Bambam sengaja bersandar dengan manja di bahu Mingyu.

"Nanti kita makan malam bersama, yuk! Sudah lama kan tidak makan di luar bersama." ujar Yugyeom.

"Eh, tidak bisa..." Junhoe menggaruk kepalanya, "aku sudah ada janji dengan Jinhwan hyung untuk makan bersama setelah ujiannya selesai. Lain kali saja bagaimana?"

"Aduh, romantisnya, aku juga mau dong diajak makan malam seperti itu." sekarang Bambam memindahkan kepalanya ke bahu Junhoe dan tersenyum-senyum genit.

"Kau kan sudah punya suami, Bamie. Dia kan setiap malam makan bersamamu." jawab Junhoe.

"Iih, biarin, dong! Sudah lama kan kau tidak menraktir kita semua?"

"Setuju!" Jungkook mengangguk keras.

"Iya deh, nanti akhir pekan kita makan bersama ya." Junhoe menyeringai seraya mengelus rambut Bambam layaknya mengelus anak anjing.

"Oh iya," Yugyeom tiba-tiba teringat akan sesuatu, "Junhoe, Jackson hyung pernah menanyakan suatu hal kepadaku tentangmu. Sudah lama sih, tapi aku masih ingat."

"Apa itu?"

"Dua atau tiga bulan yang lalu katanya kau sering pergi dengan seorang yeoja," Yugyeom memicingkan matanya, "siapa?"

"Ah!" gertak Jungkook dan Bambam bersamaan. "Taehyung hyung juga menanyakan hal yang sama." kata Jungkook.

"Mark hyung juga." kata Bambam.

Junhoe menggigit jari, ternyata ini jauh di luar dugaannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa para seniornya itu akan mengetahui tentang yeoja yang beberapa bulan lalu sering bersama dengannya, padahal yeoja itu baru sekali datang ke sekolah, mereka tidak mungkin menyimpulkan suatu hal dengan begitu cepat tanpa bukti apapun, kan? Tetap saja, Junhoe harus tahu dari mana seniornya itu mengetahui tentang yeoja yang waktu itu sering bersamanya.

"Kau tidak pernah cerita kalau kau dekat dengan seorang yeoja." lanjut Mingyu penasaran. "Masa mereka tahu duluan dan kami tidak?"

"Ah itu..." Junhoe memaksakan tawaan yang masam di wajahnya, "...jadi... beberapa bulan yang lalu itu... yaa... sepupuku datang ke dari Jepang ke Korea untuk liburan, jadi aku sering berjalan-jalan dengannya.."

Terlihat wajah yang kurang meyakinkan dan juga tatapan meragukan di mata Junhoe, dan tidak biasanya pula Junhoe bertingkah aneh seperti itu, dia tidak pernah terbata-bata atau menghindari kontak mata, dia selalu berbicara dengan yakin seraya melihat mata lawan bicaranya dalam-dalam, dia juga selalu berbicara blak-blakan bahkan jika harus ada alasan pun, ia akan mengatakannya tanpa getir. Kali ini, kalimatnya melemah hingga menimbulkan banyak tanda tanya.

"Oh..." mereka mengangkat alis mereka dan saling melempar pandang.

"Jangan macam-macam ya dengan Jinhwan hyung, kau tahu kan siapa teman-temannya?" tanya Mingyu, suaranya tiba-tiba jadi memelan.

"Hehe, iya." Junhoe menyeringai.

"Good." Bambam mengangkat dagunya. Mungkin mereka mengharapkan sebuah jawaban yang lebih meyakinkan dari bibir Junhoe, tapi mereka membiarkan waktu dan Junhoe sendiri yang akan membuat semua rasa keingin tahuan itu terpuaskan.

.

.

.

.

Junhoe POV -

"Tuan, semuanya sudah siap."

"Terima kasih.

"Mobilnya akan segera sampai, kami berjaga di depan."

"Ne."

Untuk pertama kalinya, aku menyewa restoran hanya untuk kencan makan malam berdua dengan si kesayanganku, Kim Jinhwan. Ini bukan hanya sebagai rasa bukti betapa aku sayang padanya, tapi ini juga sebagai hadiah karena ia telah menempuh ujian Suneung yang sulit dari pagi hingga sore tadi. Jinhwan hyung sudah berusaha sangat keras dan kurasa ia pantas mendapatkan hal yang seperti ini, bahkan jauh lebih baik.

Tepat sekali, malam hari ini bintang-bintang di langit bermunculan dan itu akan menjadi aksesoris gemerlap seperti lampu hias yang pertama kali kupasang untuknya di aula, panorama kota Seoul yang terang benderang di bawah sana juga akan menjadi pengganti ratusan lilin di panggung aula, dan restoran yang megah dan mewah ini akan menjadi aulanya. Aku sengaja memilih restoran berkonsep outdoor sky dinning agar kami dapat melihat pemandangan kota Seoul di malam hari yang indah ini, agar Jinhwan hyung dapat melihat bintang, agar aku dapat melihat rambutnya tersibak oleh angin malam, agar aku dapat memeluknya jika ia kedinginan.

Dan teras ini, akan menjadi panggungnya, di mana aku akan menyatakan cinta kepada Jinhwan hyung untuk sejuta kalinya di hidupnya.

"Tuan, tamunya sudah datang." lapor salah satu pelayan.

"Langsung bawa dia ke sini." kataku. Pelayan itu mengangguk lalu pergi menjemput Jinhwan.

Oh iya, karena letak restoran ini yang lumayan jauh dari pusat kota Seoul, maka aku menyuruh supir pribadiku untuk menjemput Jinhwan hyung di rumahnya. Maksudku... tidak mungkin aku membiarkan Jinhwan hyung pergi sendirian, kan?

"Junhoe?" seseorang tiba-tiba memanggil namaku, aku mengenal suara itu dengan jelas. Aku berbalik badan dan menemukan sosok yang sangat kucintai tengah berdiri di hadapanku saat ini, si bidadariku yang teramat sangat kusayangi.

"Hey." aku menyapanya. Malam ini dia sangat tampan, bahkan sangat cantik. Ia tidak mengenakan pakaian yang berlebihan, hanya sepasang kemeja dan celana bahan hitam yang dipadu dengan dasi berwarna putih. Rambut oranye berponinya diterpa oleh angin siur-siur dan membuat matanya harus bekedip beberapa kali, aku berani bersumpah bahwa keimutannya meningkat hingga seratus kali lipat. "Cantik sekali." aku berjalan ke arahnya.

Ia terlihat bingung dan menoleh ke arah sekitar. "Kenapa restorannya kosong?"

"Aku tidak ingin moment malam ini diganggu oleh siapapun, jadi aku membuatnya khusus hanya untuk kita berdua." kudekatkan wajahku kepadanya lalu kuelus pipinya yang kecil itu.

"Junhoe... apakah ini tidak-"

"Ssshh! Tidak pernah ada kata berlebihan bagiku." aku menatap matanya dari jarak dekat kami. "Apapun sudah pasti akan kulakukan jika itu untukmu."

Matanya berubah menjadi nanar, tapi yang pasti ia tersenyum hanya untukku. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leherku lalu kukecup bibirnya perlahan. Bibir manis ini, bagaimana caranya aku mengucapkan rasa syukurku karena telah diizinkan memiliki bibirnya?

"Terima kasih." ia tersenyum.

Aku membawanya ke meja di mana kami akan makan bersama, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik hingga kami tidak perlu lagi menunggu pelayan untuk mengantarkan makanan. Kutarik kursinya sedikit dan mempersilahkannya untuk duduk, kuharap ia menyukainya. Yang pasti, aku ingin membuat malam ini menjadi sempurna untuknya.

"Sudah berapa kali kau menghamburkan tenagamu untuk hal seperti ini, hm?" ia memicingkan mata ke arahku. Itu tidak meyebalkan, itu sexy.

"Baru saja dua kali; saat kita jadian dan hari ini." jawabku. "Lagipula ini bukan menghamburkan tenaga, aku malah menyukainya. Kalau aku bisa melakukannya setiap hari, sudah pasti akan kulakukan."

"Kau ini masih kelas dua SMA, tapi gayamu sudah seperti pria berumur tiga puluhan."

"Jadi, apakah itu sebuah kritik atau pujian?"

"Dua-duanya."

Kami tertawa bersamaan di antara lilin kecil berwarna putih.

"Bagaimana ujiannya?" tanyaku.

"Banyak yang sulit, tapi untung saja aku sudah belajar semalaman."

"Aku yakin nilaimu akan bagus, percaya padaku."

"Aku percaya padamu." ia menyantap sesendok sup tomat hangat. "Nanti kalau hyung sudah di universitas, kau jangan macam-macam ya!"

"Ish, harusnya aku yang berbicara seperti itu. Nanti di universitas kan tidak hanya namja, tetapi juga yeoja akan berteman denganmu." aku berkata ketus, tapi mungkin apa yang ia katakan ada benarnya juga.

"Hehe, aku tidak akan kemana-mana kok."

Author POV -

Menghabiskan malam hari bersama orang yang disayang memang tidak ada tandingannya, apalagi dengan kekasih sendiri *kesian lu yang jomblo :b* *wkwk nyempil dikit*. Bagi Junhoe, bukanlah hal yang sia-sia setelah menghamburkan uangnya untuk menyewa restoran mewah demi kekasihnya, karena Jinhwan pun merasa bahagia memiliki Junhoe yang rela mendapatkan segalanya demi Jinhwan.

"Ekhm," Junhoe berdehem seraya mengelap bibirnya dengan sapu tangan, "hyung, sudah selesai makannya? Kita lihat pemandangan, yuk!"

Jinhwan berdiri dan mengikuti arah ke mana Junhoe pergi, ternyata hanya sebatas berada di pinggir pagar teras dan menikmati pemandangan malam gemerlap kota Seoul.

"Kau suka?" tanya Junhoe.

"Ini luar biasa, bagaimana bisa kau terpikirkan untuk membuat semua ini untukku?" Jinhwan terkagum.

"Aku bisa membawamu ke Mars jika kau mau." Junhoe tertawa lalu menghadap Jinhwan. "Hyung,"

"Ne?"

"Hyung... apakah hyung pernah terpikir bahwa suatu hari nanti aku akan pergi dari kehidupanmu?"

Deg. Jinhwan mengalami serangan jantung kecil secara tiba-tiba. Begitu Junhoe menanyakan hal yang tidak masuk akal itu, rasanya ia ingin meloncat dari atas sana dan mati daripada hidup tanpa orang yang sangat ia cintai.

Tapi... tunggu dulu... memang pernah ia terpikirkan tentang hal itu, dan itu belum lama.

"Ne," Jinhwan mengangguk, "pernah."

Hanya senyuman simpul dari bibir manis Junhoe sebagai reaksi akan jawaban Jinhwan. Lagi, Junhoe menghindari kontak mata dan membiarkan Jinhwan melanjutkan segala perkataan yang ingin ia ucapkan.

"Junhoe," suara Jinhwan memberat, sudah ada di dalam benak Junhoe bahwa pertanyaan itu akan muncul, "beberapa bulan yang lalu aku melihatmu berjalan dengan seorang yeoja. Yah... tidak hanya sekali." Jinhwan menghembuskan nafasnya. "Aku tadinya ingin bertanya kepadamu tentang yeoja itu karena kalian terlihat sangat dekat, tapi aku takut kalau kau akan terganggu dengan pertanyaan itu. Aku juga pernah bercerita tentang hal ini kepada teman-temanku, maaf."

Hanya keheningan yang menusuk kulit mereka hingga bulu roma berdiri, mungkin bagi Jinhwan itu hanyalah sekedar angin malam yang mulai berganti jadi peluru dingin, tapi bagi Junhoe itu adalah sebuah pertanda sesuatu yang tidak baik baginya.

"Bisa kau katakan siapa yeoja itu? Aku janji tidak akan marah." kata Jinhwan, ia memasang senyuman hangat.

"Itu..."

Kerongkongan Junhoe seketika mengering dan lidahnya terasa seperti hilang, entah kenapa sulit sekali mengucapkan sebuah kalimat yang ringan, tapi Junhoe sadar bahwa lidah manisnya itu sudah seharusnya hilang daripada banyak mengucapkan kalimat manis kepada Jinhwan namun membuatnya hancur di akhir.

Jihwan masih menunggu.

"Itu..."

"..."

"Hyung," Junhoe memberanikan diri untuk menatap mata Jinhwan, "maafkan aku."

"..."

"Maafkan aku..."

"..."

"Aku pernah... membagi hatiku kepada orang lain saat itu, maaf."

Oh, tidak ada reaksi apapun yang Jinhwan tunjukkan lewat ekspresinya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia hancur menjadi berkeping-keping, bahkan ia menjadi ampas abu yang rapuh dan hilang dengan tiupan angin.

"Hyung, aku... sungguh... aku-"

Jinhwan menggigit bibirnya, kakinya melemas dan mungkin dia akan jatuh saat ini juga, darah di dalam tubuhnya tiba-tiba membeku, tangannya dingin dan bergetar, ia kehabisan kata-kata untuk diucapkan.

"Hyung!" Junhoe dengan cepat meraih kedua tangan Jinhwan. "Aku bersumpah aku tidak tahu apa yang kulakukan waktu itu! Aku... aku mengaku aku salah, aku memang namja brengsek. Hyungg!"

Jinhwan tersenyum di dalam air matanya.

"Hyung... kumohon beri aku kesempatan sekali lagi, hyung, jangan tinggalkan aku!" Junhoe mendekap Jinhwan erat-erat dan panik. "Hyung, beri aku kesempatan sekali lagi! Jangan putus denganku! Aku tidak akan melakukan hal yang sama, aku bersumpah! Jangan tinggalkan aku hyung, jangan..."

Pada akhirnya, Junhoe lah orang yang mengeluarkan air mata paling deras, yang jauh lebih tersakiti hatinya ketika melihat Jinhwan harus menitikan air mata, dan penyebabnya adalah Junhoe sendiri. Ia ingin mendekap Jinhwan jauh lebih lama dari biasanya, ia tidak ingin melepaskan Jinhwan sebelum hati Jinhwan membuka pintu hati untuk yang kedua kalinya, ia ingin tetap berada di sana hingga pagi bersama Jinhwan dan mengulangi segalanya dari awal.

"Hyung... jangan tinggalkan aku... jangan..." Junhoe nyaris kehabisan suaranya hanya untuk memohon, "...aku tidak bisa hidup tanpamu."

Jinhwan melepas pelukan Junhoe dan membuat wajah Junhoe harus menatapnya secara intens, walaupun dengan air mata mereka yang membuat semua cahaya lilin di sana menjadi kabur di mata mereka.

"Hyung..."

"Kupikir aku satu-satunya." Jinhwan tertawa menyindir.

"Kumohon jangan bicara seperti itu-"

"Untung saja aku tidak menceritakan tentang ini lebih lanjut, mungkin kau sudah jadi bubur dihajar teman-temanku."

Bagaimana pun juga, Jinhwan menyayangi Junhoe seperti ia menyayangi hidupnya, ia mungkin tersakiti, tapi tetap saja hatinya tidak akan siap untuk melepaskan Junhoe secepat itu. Hal apapun yang akan mereka hadapi nantinya tentu adalah sebuah terjangan yang luar biasa, namun jika mereka terus berpegangan dengan erat sudah pasti mereka bisa melampaui segalanya.

Bedanya kali ini, Jinhwan akan sedikit lebih hati-hati dari sebelumnya.

"Sekali lagi. Tidak lebih." kata Jinhwan.

"Sungguh?!" ujar Junhoe tidak percaya.

"Iya, sekali lagi. Tidak lebih."

Junhoe sekali lagi mendekap tubuh mungil Jinhwan seraya mencium pipinya dengan halus. "Terima kasih hyung, terima kasih."

"Tapi mungkin semuanya tidak akan pernah sama lagi." kata Jinhwan, mereka saling menatap. "Jika sebelumnya aku meninggalkanmu karena kau selalu main game hingga tengah malam, kali ini aku akan meninggalkanmu jika aku tahu kalau kau melakukan hal yang sama."

"Aku janji-"

"DAN!" Jinhwan menaruh jari telunjuknya di depan bibir Junhoe hingga ia harus berhenti berbicara. "Jangan mengucapkan kata janji atau apapun itu, aku tidak memerlukannya."

"Ne." jawab Junhoe lemas, dengan sisa tenaga yang masih ia punya, Junhoe mencium bibir Jinhwan serta melumatnya perlahan. Hampir saja ia kehilangan hidupnya, tapi bagaikan ia diberi kesempatan kedua untuk hidup. Dan untuk kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya.

.

.

.

.

Mark terus menerus memetik jari di atas kemudi dan menarik nafas beberapa kali hingga Bambam dapat mendengarnya dengan sangat jelas, bahkan terkadang ia harus mengubah posisi duduknya beberapa kali. Bukan apa-apa, melainkan Mark hanya terlalu bersemangat untuk bertemu lagi dengan si manis bermata hazel di panti asuhan. Bambam mungkin jauh lebih bersemangat daripada Mark, tapi Bambam mencoba untuk tenang, mungkin jika mereka sama-sama meledak-ledak, mobil mereka malah akan terjungkal.

Sesampainya di panti asuhan, mereka langsung di sambut oleh Park ahjumma dengan sangat ramah.

"Vernon baru saja bangun tidur. Tadi malam tidurnya nyenyak sekali." kata Park ahjussi.

"Aku tidak sabaaaar!" Bambam meloncat-loncat seraya menggandeng lengan Mark. Mereka berjalan perlahan memasuki ruangan para bayi, lalu melihat di ranjang sebelah kanan, Vernon sedang duduk dan bermain dengan sebuah benda terbuat dari karet.

"Selamat pagi, anak daddy." Mark sungguh tidak dapat menahan rasa gembiranya begitu melihat Vernon. Buru-buru Mark menghampiri ranjang Vernon dan menggendongnya. Untuk beberapa saat mereka bermain sebentar untuk sekedar membangunkan Vernon yang masih terngantuk-ngantuk. "Mimpinya indah ya semalam sampai popoknya penuh begini, hm?" Mark mencium pipi Vernon.

"Boleh aku mengganti popoknya?" tanya Bambam bersemangat.

"Tentu saja boleh." jawab Park ahjumma. Mark segera memindahkan Vernon ke tangan Bambam. Selagi Bambam menggantikan popok Vernon, Mark menyiapkan semua barang-barang Vernon untuk di bawa ke rumah Mark.

"Aku janji akan sering membawa Vernon ke sini untuk mengingatkannya bahwa dia diselamatkan di sini." kata Mark seraya memasukkan popok dan susu Vernon ke dalam tas bayi.

Park ahjumma tentu saja terharu mendengarnya, itu tandanya Mark memiliki rasa terima kasih yang luar biasa terhadap panti asuhan. "Banyak sekali orang tua yang melupakan kami setelah hidup bahagia dengan anak adopsi mereka. Tapi kalian sangat baik hati, terima kasih." kata Park ahjumma.

"Aku ingin Vernon tahu bahwa aku mendapatkannya di sini."

"Tidakkah itu akan menyakitkan hatinya?"

Mark tersenyum, "suatu saat ketika dia remaja, dia pasti akan mengerti."

Beres dengan barang-barang Vernon, kini Mark dan Bambam bisa langsung membawa Vernon ke rumah mereka dan meresmikannya sebagai anak mereka.

"Terima kasih banyak, kami akan datang lagi ke sini." kata Bambam.

"Kutititp Vernon pada kalian."

"Pasti, kami akan menjaganya dengan baik."

..

..

MarkBam's house

..

..

"Selamat datang di rumah, Vernon."

Begitu Mark menyalakan lampu, ada ucapan selamat datang yang menyambut kedatangan Vernon di rumah mereka. Akhirinya, apa yang mereka impikan selama ini terwujud juga, mereka bisa mengadopsi seorang anak dan akan menjadi orang tua yang sesungguhnya. Berbagai dekorasi menghiasi dinding dan langit-langit rumah mereka, itu semua mereka lakukan hanya untuk menyambut kedatangan putra pertama mereka.

"Uaa, hyung, lihat wajahnya bahagia sekali."

"Kalau begitu daddy juga sangat berbahagia." Mark mengambil Vernon dari tangan Bambam, kini gilirannya untuk mencium-cium Vernon seperti yang selama ini sudah Mark idamkan.

"Hehe, kalian mirip." Bambam mengagumi wajah suami dan anaknya.

"Karena Vernon anak daddy." Mark masih membiarkan dirinya hanyut dalam kesenangan.

"Yeobo, kau mau makan nanti atau sekarang?"

"Nanti saja, aku mau main dulu dengan Vernon." Mark berjalan ke arah sofa dan mulai menghabiskan waktunya dengan Vernon. "Vernon Tuan, keren ya, namanya?" tanya Mark.

"Tidak jadi pakai nama Korea deh." Bambam meledek.

"Tidak apa-apa, yang penting aku sudah memiliki belahan jiwaku yang satunya." Mark terkekeh. "Yeobo,"

"Ne?"

"Bayangkan ya, kalau dia sudah remaja nanti, aku yakin pasti dia akan menjadi idola di sekolahnya. Bayangkan dia menjadi namja yang tampan ketika dia sudah besar nanti."

"Maksudnya sepertimu?"

"Tepat sekali!" Mark tertawa. "Aku akan membelikannya tas sekolah yang keren, alat tulis yang terbaru, sepatu yang ia inginkan, apapun yang ia minta."

Bambam hanya terkekeh mendengarnya, padahal beberapa waktu yang lalu Mark sangat ingin mempunyai banyak anak untuk dijadikan anak. Tapi Bambam hanya diam, dia tidak ingin mengganggu nostalgia sang suami yang sedang meluap-luap.

"Dan ketika dia sudah mulai puber nanti, aku akan menyuruhnya untuk mendapatkan kekasih yang tepat." kata Mark lagi, lalu ia mencium tangan mungil Vernon seraya melihat wajah istrinya dengan lembut. "Seperti Vernon mendapatkan ibunya, seperti aku mendapatkanmu."

Bambam tertawa, "tapi aku juga ingin meminta satu hal kepada Vernon saat ia sudah remaja nanti."

"Apa itu?"

.

.

.

.

- To be continued -

Question: Apa kira-kira yang bakal Bambam minta kalau Vernon udah remaja? Jawab sendiri yah kali ini gak pake pilihan. Jawab sesuai apa yang ada di pikiran kalian. :p Aaaaa maaf pendek chapter3 nya, abis udah gak keburu mau nulis panjang:( Ampuuun makasih review nya kalian itu pencerah sekali buat author HAHAH sumpah aku sayang kalian taugak *cipok* jangan lupa di review juga chapter yang ini, siapa tau Jungkook putus sama Taehyung HAHAHAHAHAH anjay. Okedeh sip sampai ketemu di chapter selanjutnya *aminnn*