Haiyaaaa!
Makasih buat yg udah baca, review, follow, dll deeh! :D
aku jadi suka banget sama fic ini...
hehe
makanya update cepat!
okeee, enjoy! (sori lagi buru2, gak smpet nulis nama reviewer...)
disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, bhasa indo yg agak ancur, OOC, OCs, DONT LIKE DONT READ!
15-YEAR-OLD (Part 1)
.
.
.
.
.
Sudah tiga tahun dia menyandang nama 'Pangeran Es'. Namanya dikenal oleh semua gadis di SMP Konoha. Gadis-gadis memujanya, bergosip tentang ketampanan, sifatnya yang dingin dan kecerdasannya. Sebaliknya, cowok-cowok mendengus kesal setiap kali mendengar namanya. Ada beberapa yang terlihat takut ketika bertemu mata dengannya. Ada yang berpura-pura akrab dengannya supaya bisa ikut populer di kalangan gadis. Banyak juga yang mengejeknya, mengatainya 'cowok-membosankan-yang-tidak-pernah-tertawa' atau 'cowok-menyedihkan-yang-tidak-pernah-bersenang-senang'.
Sasuke Uchiha mengabaikan semua itu.
Dia tidak mau menghabiskan waktunya yang berharga untuk memikirkan hal-hal konyol seperti itu. Memang, dia akui kalau dia tidak pernah melemparkan senyuman ke pada siapa pun di kelasnya. Namun bukan berarti kalau dia tidak pernah bersenang-senang atau pun merasa senang. Pemuda lima belas tahun itu punya caranya sendiri.
Dia memang tidak pernah bergabung ke kelompok Naruto dan yang lain ketika mereka menghabiskan waktu bersama. Sejak awal, Sasuke memang bukan tipe cowok yang bisa bergabung dengan mudah di sebuah kelompok. Dia sadar kalau dia tipe cowok one-to-one.
Dia menghabiskan waktu bersama Naruto, mendengarkan keluh kesahnya dalam merebut hati Sakura. Dia mendengus geli ketika melihat Sakura yang menghajar Naruto tanpa ampun setiap kali Naruto hendak mengintipnya di ruang ganti.
Dia menemani Neji di ruangan OSIS. Dia meringis setiap kali Neji bercerita tentang cewek-cewek yang sengaja masuk OSIS hanya untuk mengerubunginya.
Dia berlatih karate bersama Lee. Setiap kali dia berhasil mengalahkan maniak bela diri itu, dia menyeringai puas.
Begitulah cara Sasuke bersenang-senang. Dia tidak perlu membaur dengan kelompok Naruto. Dia lebih memilih duduk di pojok, menjaga jarak dengan mereka. Terkadang dia meringis atau tersenyum ketika melihat kekonyolan teman-teman masa kecilnya. Dia sudah cukup puas dengan begitu.
"Dia seksi sekali... Si Naruko-chan!"
Sasuke menengadah seketika. Lamunannya terputus begitu saja.
"Naruko… adik kembar Naruto itu?" Shitoshi Ura bertanya bingung. "Cewek berambut pirang itu?" Honda Arashi mengangguk sambil meringis.
"Selain Hinata, Naruko Namikaze memegang rekor kedua cewek yang paling seksi di kelas kami! Aku yakin dadanya sekarang sudah C cup!" Dia tertawa. "Wajahnya juga tidak jelek!"
"Tidak jelek?" Shitoshi melongo. "Jangan bercanda! Dia nyaris saja membuat jantungku berhenti berdetak ketika dia tersenyum ke arahku!"
"Apa? Kau beruntung sekali!" Honda mengeluh kesal. "Tapi demi Tuhan! Dia seksi seka… Wua!" Pemuda itu langsung terjatuh tiba-tiba, membentur lantai dengan keras. "Siapa yang mendo…" teriakan kesalnya terhenti ketika melihat Sasuke Uchiha yang berdiri di depannya. Suasana kelas yang sejak tadi hening langsung menjadi ribut. Semua anggota kelas mulai berbisik-bisik, menatap Sasuke dengan tatapan ngeri.
Sasuke tidak tahu ekspresi wajah seperti apa yang dia miliki sekarang. Yang pasti, dia tidak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Dia menggertakkan gigi, rahangnya menegang. Dia mengepalkan tinju dengan sekuat tenaga sehingga buku-buku jarinya terasa sakit. Tapi, dia tidak mempedulikan hal itu. Dia bahkan tidak peduli ketika salah satu murid bergegas keluar untuk memanggil guru.
"Bodoh sekali Honda," salah satu murid berbisik. "Padahal dia tahu kalau Naruko itu…" Ucapan murid itu langsung terputus ketika Sasuke mendelik ke arahnya.
"U-Uchiha-san!" Honda cepat-cepat merangkak mundur. Wajahnya pucat pasi. Dia menjerit ngeri ketika melihat tinjuan Sasuke terangkat.
"Sasuke!" Seruan riang terdengar dari arah pintu. Tinjuan Sasuke terhenti. Mata onyx-nya terpaku ke sosok gadis ramping berambut pirang yang berdiri di depan pintu. Naruko Namikaze menyeringai lebar, tidak menyadari suasana yang tegang di kelas itu. "Hei! Boleh pinjam buku matematika-mu? Aku lupa bawa, dattebane!" Dia menjulurkan lidah, berlari kecil ke arah Sasuke. Pemuda berambut raven itu menjatuhkan kepalan tangannya. Namun dia masih menatap tajam. Rahangnya masih tegang dan kaku.
"Sasuke?" Naruko mengangkat alisnya. Mulai menyadari ada yang salah dengan sahabatnya. Mata sapphire-nya menatap sekeliling kelas dengan bingung. Dia tahu kalau kelas Sasuke adalah kelas khusus anak-anak jenius, meski sedang waktu istirahat, kelas ini selalu sunyi. "Ada apa dengan kelasmu hari ini? Kenapa mereka melotot dan berbisik-bisik ke arah kita, dattebane?" wajah gadis itu mendekat di telinga Sasuke, mendesis pelan. "Ng? Honda-kun?" Naruko menangkap sosok teman sekelasnya yang masih tersungkur di lantai. "Sedang apa kau… Waah!" Ucapannya terhenti ketika Sasuke menariknya tiba-tiba.
Sasuke tidak mempedulikan raut wajah kesakitan Naruko. Dia menyambar tasnya dan menyeret gadis itu keluar dari kelas. "Sasuke! Tu-tunggu!" Naruko kepayahan mengikuti Sasuke yang melangkah cepat, nyaris berlari. Dia mengabaikan nyeri di tangannya dan menunduk, menghindari tatapan bingung orang-orang. "Sasuke! Mau ke mana? Lepas!" Dia menepis tangan Sasuke ketika mereka berdua sampai di locker murid di depan pintu depan sekolah. Wajahnya merah padam, mata birunya melotot. "Apa-apaan sih? Kenapa kau jadi aneh begini?"
Sasuke tidak menjawab, keningnya masih berkerut. Dia memalingkan wajahnya dari wajah Naruko, menolak untuk menatap mata gadis itu. Tanpa sadar, dia langsung memasukkan tangannya di saku celananya.
Naruko berdiri diam. Sudah nyaris sepuluh tahun dia berteman dengan Sasuke. Dia tahu betul postur tubuh itu. Setiap kali pemuda itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya, dia akan memalingkan wajah, mengacuhkan orang yang di depannya. Naruko menghela napas. Dia ingat kalau emosi kakak kembarnya selalu muncul ketika melihat sifat 'angkuh' Sasuke ini.
"Kalau kau mau mengajak bolos, setidaknya jangan menyeretku sampai seperti itu. Semua orang melihat kita tahu," Naruko mendengus. Namun, bibirnya membentuk cengiran lebar. Mau tak mau, kerutan di kening Sasuke menghilang ketika melihat senyuman Naruko. Diam-diam, dia merasa bersalah karena menyeret Naruko begitu saja. Dia paling tidak suka kalau Naruko marah terhadapnya. Dan tadi, Naruko sudah terlihat marah. "Aku ada bawa cupcake," gadis itu membuka lockernya dan mengambil kotak bekal. "Ayo, kita kunjungi Sasu-neko."
Sasuke terpaku. Dia melirik ke belakang, di mana beberapa teman sekelas membuntuti mereka berdua. Tanpa berpikir lagi, Sasuke kembali meraih tangan Naruko. Dia menautkan jari-jarinya di jari gadis itu dan dengan sengaja mata onyx-nya mendelik tajam ke arah cowok-cowok yang membuntuti mereka.
Dia milikku.
Dia memberitahu semua 'pengincar' Naruko dengan tindakannya. Dia tidak peduli kalau dia disebut posesif atau dominan atau semacamnya. Yang berani mendekati gadis ini harus tahu apa akibatnya. "Ayo." Sasuke menarik Naruko sesaat. Gadis itu kembali terlihat bingung, namun ketika melihat tangan mereka yang bertaut, dia kembali menyeringai.
"Ayo! Yay! Kita bolos! Aku tidak usah mengikuti pelajaran membosankan Jiraiya-sensei, dattebane!"
Mendengar nama Jiraiya, semakin kuat keinginan Sasuke untuk menyeret Naruko keluar dari tempat ini.
.
.
.
.
.
"Mau lagi tidak, Sasuke?" Naruko meringis, menyodorkan cupcake yang ada di kotak bekalnya. Sasuke mengangguk, dan meraih cupcake lagi. Pemuda itu terus mengunyah tanpa mengatakan apa-apa. Dia bahkan tidak peduli dengan rasa gosong di cupcake ini. Asal tidak manis, dia tidak masalah.
"Agak pahit ya…" Gadis lima belas tahun itu menjulurkan lidahnya sambil mengerutkan kening. Dia melempar potongan cupcake yang agak gosong ke arah Sasuke-neko. Namun, kucing cerdik itu langsung mendesis pelan. Dia memalingkan wajahnya dengan angkuh. "Entah mengapa aku merasa kalau kalian berdua ini sangat mirip… Oh ya. Ngomong-ngomong, tadi kenapa kau…"
"Siapa yang membuat ini?" Sasuke langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aku." Naruko mengerutkan kening.
"Tumben." Sasuke meraih cupcake yang tersisa dari tangan Naruko. "Kenapa bisa gosong?" Seingat dia, Naruko selalu berhasil dalam membuat cake dan semacamnya. Hanya saja, karena dia tidak suka manis, dia tidak bisa memakan desert buatan Naruko.
"Mau bagaimana lagi," Naruto mendengus. "Ketika aku mau mengangkat cupcakes ini dari oven, aku melihat Ayah dan Ibu yang berciuman di dapur!" Gadis itu bergidik sesaat.
"Kenapa?" Sasuke tidak bisa menahan senyumannya ketika melihat wajah ngeri Naruko. Dia sudah terbiasa melihat kakaknya berciuman dengan Kurama di rumah.
"Jijik! Mulut mereka bersentuhan seperti itu! Lalu lidahnya…" Wajah Naruko menjadi pucat seketika, membuat Sasuke meringis. "Intinya, aku tidak bisa masuk ke dalam dapur. Untungnya, Ibu langsung sadar ketika mencium bau cupcake dari oven. Tapi ada beberapa yang sudah agak gosong…" Naruko menunduk sedih menatap cupcake-nya yang gosong. "Tapi sudahlah, mereka berciuman karena saling mencintai. Aku tidak bisa menyalahkan mereka."
Sasuke hanya bisa meringis sambil menepuk pelan kepala Naruko. Gadis itu tersenyum simpul, namun senyumnya lenyap di detik kemudian.
"Kau bisa tersenyum dengan mudah di depanku…" gumamnya, menarih tangan Sasuke dari atas kepalanya. "Tapi kau tidak pernah tersenyum di depan yang lain. Mereka takut denganmu, tahu." Naruko mulai memainkan jari-jari Sasuke yang panjang. "Kenapa?" Dia menengadah, menatap Sasuke dengan sepasang mata biru yang lebar.
Sasuke hanya bisa terpaku. Lagi-lagi dia mengalihkan matanya dari mata Naruko. Dia tidak pernah terbiasa menatap mata Naruko dalam waktu lama. Dia merasa kalau warna biru langit itu bisa membaca pikirannya. "Salah ya?" Sasuke membiarkan Naruko memainkan jarinya. "Jika aku hanya tersenyum di depanmu?" dia berbisik pelan sehingga Naruko tidak bisa mendengarnya.
Dulu, Sasuke tidak pernah mengerti kenapa Itachi suka menggandeng Kurama. Dia tidak tahu kenapa dia mau menuruti keinginan cewek cerewet itu. Dia tidak tahu kenapa dia suka merangkul Kurama, memberitahu dunia kalau gadis itu miliknya.
Namun, sekarang dia mengerti.
Dia sudah mengerti sejak dua tahun lalu.
Dia mulai mengerti kenapa dia tidak suka Naruko dikerubungi cowok-cowok. Dia mulai mengerti kenapa dia memimpikan gadis itu di dalam tidurnya. Dia mulai mengerti kenapa dia bisa tersenyum dengan mudah, hanya dengan kehadiran gadis itu.
Dan keinginan untuk merangkul gadis itu muncul sendiri.
Entah berapa kali dia ingin meraih tangannya dan bergandengan di sekolah. Namun setiap kali dia hendak melakukan itu, Naruto melotot ke arahnya.
Terkadang dia marah akan kepolosan Naruko. Dia dengan gampang menceritakan tentang cowok lain di depannya. Dia sama sekali tidak tahu kalau dia menjadi incaran banyak cowok di sekolah.
"Tanganmu besar…" Naruko meringis, membuat lamunan Sasuke terputus. "Aku suka ketika kau menggandengku." Dia tertawa, masih memainkan jari-jari Sasuke yang panjang. Sasuke tidak bisa menahan senyumannya. Dia menggenggam tangan Naruko.
"Begini?"
Naruko tertawa sambil meremas tangan pemuda itu. "Ya."
Lagi-lagi.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Hanya karena melihat wajah tawa Naruko yang berseri-seri.
Dia menyukai Naruko. Dia sadar itu.
"Eh, tadi kenapa kau marah?" Naruko bertanya tiba-tiba. Salah satu tangannya mengusap bulu Sasuke-neko yang tertidur di pangkuannya. "Aku ada salah? Kenapa kau sampai menarikku begitu, dattebane?"
"Aku marah pada Honda."
"Kenapa?"
"Karena..." Sasuke terdiam. Memangnya dia harus menjawab apa? Honda tertarik pada dadamu? Honda menyukaimu? Karena apa?
"Karena?" Naruko terlihat semakin bingung.
"Karena dia mendekatimu."
"Lalu? Memangnya kenapa?" Naruko semakin tidak sabar.
Sasuke kembali mengerutkan kening, kesal. Sejak dulu dia memang tidak lihai berkata-kata. Dia lupa kapan terakhir kali dia mengucapkan lebih dari sepuluh kata dalam satu kalimat. Mikoto selalu bilang kalau dia dan Itachi sama sekali tidak punya keahlian dalam percakapan.
"Aku tidak suka." Dia berkata pelan-pelan. Otaknya berputar cepat, melebihi ketika dia sedang mengikuti olimpiade Matematika. "Aku suka padamu. Makanya aku tidak suka kalau cowok lain mendekatimu."
Nah.
Dia berhasil. Kalimat dari drama yang sering ditonton Mikoto meluncur begitu saja.
Ekspresi Naruko langsung menjadi datar. Sasuke terdiam, menunggu reaksi Naruko. Seingat dia, cewek-cewek di drama itu langsung menangis terharu atau menjerit girang. "Aku juga menyukaimu. Kita kan teman. Tentu saja aku menyukaimu!" Naruko tertawa.
Nyaris saja Sasuke menepuk dahinya sendiri.
Kau tidak bisa menunjukkan perasaanmu dengan kata-kata, Sasuke. Suara ibunya terngiang-ngiang. Orang lain mungkin bisa. Tapi kau tidak bisa. Makanya, lakukanlah sesuatu yang bisa membuat orang lain mengerti akan perasaanmu.
Sambil menggeram kesal, Sasuke menyentakkan tangan Naruko ke arahnya sehingga Naruko menubruk dadanya. Sasuke-neko terbangun. Dia melompat kaget dan mendesis marah. Dia menggesekkan wajahnya di kaki Naruko sambil mengeong, meminta hiburan. Namun untuk pertama kalinya, Naruko tidak mengelus kucing itu.
Karena bibir Sasuke membentur bibirnya.
TBC
hahahaha! cliffhanger!
#dibantai warga sekampung
yah... segitu dulu deh, sori pendek :p
sori kalo OOC. haha. aku ngerasa kalau Sasuke itu cowok yang bakalan jadi super sweet sama cewek yang dia sayangi :p
yaaahh... ada suggestion atau request? :)
