Chapter 3 is coming!
So badly...
So sad...
So poor...
Yang baca banyak! tapi yang review mana, neh!?
Pleaseeeeeee.. silent readers! say something about My Story..
Jangan nambah stresss mikirin PKL jadi nambah mikirin review!
Merasa gagal sebgai Author #pundungdipojokkanbarengHeebum
Ibarat gw pelawak.. gagal gw bikin penonton ketawa!
\( T )3( T )/
Athor tahu EYD'y ancur parah.. Author tahu ceritanya klise.. Author tahu ceritanya pasti gak aseek!
But, gime the reviewssss! buat apa FFN bikinin kotak reviews? kalo gak digunakan, haah?
Maaf kalau Author bawel. Apa boleh buat atuh?
Lee's Family
Sungmin terus berjalan, ia terlihat esah, pikirannya tak fokus. Dan tubuhnya yang berbalut coat hitam mahalnya sedikit lembab, karena hujan tak sepenuhnya reda. Ia menerobos gerimis, hujan turun begitu ringan dan lembut, tak menjadi penghalang untuknya untuk ke halte.
Ia terus memikirkan warisan itu. Apa yang akan dikatakan oleh bumonim jika mengetahui bahwa sepupunya itu yang telah meninggal satu tahun itu, tiba-tiba memasukkan nama anak mereka dalam pewaris tunggal kekayaanya?. Mata foxynya bergerak resah, sesekali ia menggigit bibir bawahnya, meninggalkan bercak kemerahan.
" Aigooo… ottokhae?," bisiknya pada diri sendiri setelah ia tiba di halte yang merupakan jalur pemberhentian bus yang menuju rumahnya. Mendesah resah dan gugup.
Tiba-tiba androidnya bergetar. Merogoh sakunya coatnya, dahinya berkerut saat melihat nama dilayar sentuh itu. " Zhoumi Lawyer!," bacanya. " Mau apalagi dia? Aku harus bicara apa? Aish…," racaunya dengan ekspresi yang menggemaskan.
" Piip..," dia menekan tanda hijau yang tertera dilayar androidnya. " Annyeong.. yeobseoyo..," sapa Sungmin dengan nada setenang mungkin, seakan dia baik-baik saja.
" Ah.. annyeong! Lee Aggashi.. ingat aku?," jawab suara diseberang sana. " Nde.. Pengacara Zhoumi," Sungmin memutar matanya bosan.
" Hehehe.. baguslah, kau masih mengingatku, karena urusan kita belum berakhir! To the point saja.. apa kau sudah memutuskannya? Kau sudah memikirkannya? Warisan itu?," runtut Zhoumi memberikan pertanyaan.
Sungmin menjauhkan androidnya dari telinganya saat Zhoumi menyerangnya dengan pertanyaan yang langsung menyangkut warisan itu. " Akh! Ottokhae.. bagaimana, ya? Beri aku waktu, ini terlalu mendadak.. aku.. aku berencana untuk merundingkannya dengan bumonimku. Setelah selesai.. aku akan menghubungimu?!," Sungmin beralasan, ia menggaruk tengkuknya tak gatal.
" Mmh.. baiklah! Aku akan menunggumu. Aku akan memberimu batas waktu untuk berfikir!," balas Zhoumi membuat penawaran sendiri. " Ba-batas Waktu?," Sungmin membeo polos.
" Nde.. 2 ming_.. ani! 1 minggu! Itupun sudah terlalu lama bagiku untuk menunggu. Ya! Aku memberimu waktu satu minggu untuk memikirkannya dan membuat keputusan tentang warisan itu," ucap Zhoumi final, dia tidak memberi waktu untuk Sungmin untuk menjawab dan kesempatan untuk protes.
" Mwo! Satu.. satu.. mi-minggu?!," ulang Sungmin tergagap tak percaya, dia diatur oleh seorang pengacara yang bertemu batang hidungnya saja belum. " Dan.. satu lagi! Aku harap kau tidak membuat keputusan yang salah. Aku sarankan.. kau jangan menolak pemberian Ahjummahmu itu! Terlalu banyak kenangan dan pengorbanan didalamya, jangan membuatnya kecewa di Atas Sana." Sambung Zhoumi yang langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, dan dapat Sungmin rasakan perubahan nada bicara Zhoumi. Terdengar dalam, tegas, dan mengandung misteri. Itu membuat Sungmin semakin penasaran dengan warisan itu.
" Yak! Michigetaaaaaaaaaaa…!," bentak Sungmin menatap layar androidnya. Ia kesal dengan tingkah Zhoumi yang memberinya batas waktu dan mematikan sepihak line telephonenya.
" Aissshhh.. satu minggu? Ah.. dia pikir dirinya siapa?!," Sungmin memasukkan kembali androidnya dalam saku coatnya, ia terlihat gusar. Tak lama bus yang ditunggu pun datang. Sesekali umpatan kecil keluar dari mulutnya untuk pengacara Heenim Ahjummah itu yang sama sekali belum bertemu.
Bus hijau itu berhenti tepat dihadapan Sungmin, pintunya terbuka. Sungmin dengan cepat melangkah masuk dan ia memilih untuk duduk dikursi jajaran paling belakang dekat dengan jendela. Keadaan bus tidak terlalu ramai, bisa dihitung dengan jari jumlah penumpangnya.
" Brugh!," ia menjatuhkan tubuhnya kasar. Untuk sesaat ia terus memandang keluar jendela. Hingga androidnya kembali bergetar, sebuah teks masuk. Dan lagi-lagi dahinya berkerut, ia berdecak sebal saat tahu siapa pengirim teks tersebut; " Zhoumi Lawyer ".
Dengan penuh keterpaksaan ia membuka teks itu. " "Aku pastikan kau tak akan menyesal menerima warisan ini Lee Sungmin-ssi! Bunuh aku, jika kau merasa menyesal kelak, dan asal kau tahu.. tidak hanya rumah beserta isinya atau beberapa saham diberbagai perusahaan, tapi kau juga akan mendapatkan " Tambahan" warisan, yang tak mungkin bisa kau tolak.. walau kau sudah berusaha untuk menolak dan menghindarinya ^^v.. nikmati saja dan kau akan terbiasa, sama seperti Heenim Noona!,"," Sungmin membaca pelan isi teks tersebut.
Dahinya berkerut bingung, ia menerawang isi pesan Zhoumi. Seperti sebuah teka-teki. Apakah namja itu sedang mengajaknya bermain tebak-tebakkan?. " Zhoumi kau semakin membuatku penasaran," gumamnya penuh tanda tanya. Androidnya kembali bergetar, sebuah teks lagi, dan itu dapat langsung tertebak oleh Sungmin, itu pasti dari Zhoumi.
" "Beritahu aku! Jika kau sudah memutuskan.. kita akan bertemu! Dan jangan kau coba-coba kabur.. karena aku akan dapat menemukanmu, aku yang akan mencarimu Lee Sungmin-sii"," Sungmin membaca dengan seksama pesan lanjutan dari Zhoumi itu. Membuat yeoja guru manis tersebut mendesah pasrah.
" Ahjummah.. ada apa ini?," tanya entah pada siapa. Sungmin menyamankan punggungnya pada bangku bus yang tidak terlalu empuk itu. Matanya menerawang memperhatikan jalanan seoul yang mulai malam, dan semakin ramai.
Sebuah mobil jenis sedan merk Eropa yang sudah terkenal, terpakrir rapi didalam garasi dari sebuah rumah besar disalah satu peumahan didaerah Gangnam. Seorang namja dewasa, berusia kira-kira 45an lengkap dengan setelan jas yang mahal, keluar dari mobil mewah yang ia kendarai sendiri.
Ia memijat ringan pelipisnya sebelum mengunci mobil sedan mahal itu. Ia mendesah pelan, ia berjalan keluar garasi menuju pintu utama rumah besar itu.
Beliau menekan bellnya, dan seorang pelayan yeoja yang kira-kira usianya lebih tua darinya itu sudah menyambutnya dengan sopan dan senyum ramah penuh hormat. " Selamat datang Tuan..," sapanya dengan suaranya yang serak.
" Akh! Ahn Ahjummah.. gamshamnida, sudah menyambutku," balasnya ramah. Namja itu langsung menyerahkan coat cokelat mudanya pada si kepala pelayan itu yang sejak dari keluar mobil menggantung dilengan kanannya, menyerahkannya bersama tas kerja hitamnya yang branded.
" Nyonya besar dan Tuan muda Lee sudah berkumpul menunggu anda Tuan.. di meja makan," Kepala pelayan itu memberitahu bahwa majikannya itu sudah ditunggu sejak 1 setengah jam lalu untuk makan malam bersama.
" Ah.. jinjja! Aku sudah bilang jangan menungguku, makan saja terlebih dahulu," ujarnya pada si kepala pelayannya, yeoja tua itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah Tuannya itu.
" Saya permisi dulu Tuan..!," pamitnya undur diri dari hadapan majikannya, sambil membawa barang-barangnya entah kemana. Namja yang masih bertubuh tegap ini berjalan menyusuri lorong rumah besarnya itu, yang didominasi dengan warna putih ini-warna favorit sang isteri- berinterior klasik khas rumah-rumah Inggris abad pertengahan; sederhana, simple, dan feminism-ciri khas sang isteri yang low profile-, menuju ruang makan utama. Dimana keluarga kecilnya sudah menunggu. Senyumnya sudah terkembang untuk menyapa keluarganya itu.
" Waeyo? Sudah kubilang tidak usah menungguku, rapatku berdurasi panjang, makanlah duluan," ucapnya pada anak dan isterinya yang sudah siap dikursinya masing-masing. Namja itu langsung menghampiri sang isteri yang langsung bangkit dari duduknya untuk meyambut sang nampyeon. Yeoja itu langsung melebarkan senyuman khasnya yang lengsung mencetak dimple dipipi tirusnya.
" Jinki.. yang meminta ingin makan malam bersama-sama," cerita sang isteri. Si namja segera melempar pandangannya pada si anak. " Nde.. karena, nanti malam aku ada koas berjaga malam dirumah sakit. Jadi, aku pulang dulu kerumah sebelum nanti jam 10 aku kembali ke tempat itu! Lagipula sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama-sama layaknya keluarga.. sejak bisnis Abojinim semakin meningkat, Noona mulai sibuk dengan impiannya yang sudah tergapai; menjadi guru.. dan aku yang masuk asrama dikampus, dan sekarang tengah disibukkan dengan praktek lapangan," cerita namja bergigi kelinci itu, kenapa ingin makan malam bersama. Beliau mengangguk mengerti.
" Cup!," tanpa pamit dan aba-aba namja itu langsung meraup bibir tipis sang isteri saat yeoja yang sudah 25 tahun ia nikahi ini akan membantunya melepas jas keranya itu.
" Yaaaaaaaak!.. aiisssh! Abojinim!," tegur sang anak, saat melihat kegiatan bumonimnya itu. Dengan pelan sang isteri langsung mendorong dada sang nampyeon pelan, kupingnya memerah tanda ia sedang malu atau gugup akibat teguran anak bungsunya itu.
" Kita lanjutkan nanti Teukkie-ah!," si nampyeon itu memperingatkan si isteri yang sedang menyerahkan jas si suami pada kepala pelayan tadi.
" Aigoooooo! Aku tidak mau punya adik, umurku sudah terlalu tua untuk punya saeng!," ancam si anak mewanti-wanti.
" Tenang saja Jinki-ah.. eomma pastikan si tua itu tak akan dapat menyentuhku malam ini!," celetuk si eomma blak-blakkan. Membuat si nampyeon mendeathglarenya dengan tatapan tak percaya.
" Karena malamini.. Minnie memintaku tidur dengannya, aku akan menemaninya tidur," Teukkie memberikan alasan.
" Minnie? Ah.. ya, eodiga yeoja itu?," tanya si kepala keluarga menatap satu bangku yang kosong, dimana yeoja itu biasa duduk (bangku yang bersebrangan dengan bangku utama, biasanya mereka jadi berhadapan langsung).
" Masih dikamar!," jawab Teukkie yang sedang menyiapkan nasi untuk sang suami. " Wae? yeoja itu minta kau tidur dengannya? Lihat umurnya.. dia bukan anak berumur 5 tahun lagi, umurnya sudah 25 tahun!,"
" Entahlah.. aku pun tidak tahu alasannya, Yeobeo! Dia tiba-tiba aneh saat pulang tadi, dan mengatakan ingin tidur bersama Eomma..," Teukkie menceritakan apa yang Sungmin ucapkan padanya tadi saat ia pulang, dan naik kekamarnya di lantai 3.
" Dan sampai waktunya makan malam, anak itu belum juga turun," sambung Teukkie dengan nada khawatir. " Noona bilang tadi ia ingin mandi dulu dan istirahat sejenak. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu," Jinki menimpali, mereka berpapasan ditangga saat Sungmin akan naik kekamarnya dengan tampang lelah dan Jinki baru keluar dari kamarnya dilantai 2. " Noona hanya berkata," Kau ada? Pulang?"," kenang Jinki meniru ucapan Sungmin.
" Aigoo.. kenapa anak itu? Padahal aku sudah tidak pernah memaksanya lagi untuk kencan buta," ujar Kangin bingung, dan Teukkie langsung meliriknya tajam. " Karena, aku belum mendapatkan kandidat baru," sambungnya egois.
" Kau sendiri yang sering bilang Sungmin itu bukan anak-anak lagi yang harus diatur, tapi apa? Lihat siapa yang suka mengaturnya sekarang?," sindir Teukkie kritis. " I-iya.. itu benar, tapi untuk urusan seperti percintaan ini.. aku sangat khawatir, selama 20 tahun sejak ia sudah bisa bicara dan berjalan lancar, aku belum pernah melihat, mendengar, atau tahu.. anakku itu dekat dengan seorang namja! Mengajak seorang namja kerumah saja belum pernah.. apalagi hanya sekedar pulang diantar namja saja, aku tidak pernah lihat," keluh Kangin membayangkan kehidupan sex dan pergaulan anaknya itu.
" Lagi-lagi yang datang berkunjung dan diajak pulang untuk menginap dan makan malam adalah.. dua yeoja muda itu, temannya di SMA dan Kuliah," sambung Kangin yang sudah siap dengan sumpit dan sendok makannya. " Lee Hyukjae dan Kim Ryeowook maksudmu?," tanya Teukkie.
Kangin mengangguk. " Mungkin memang belum saat untuk Sungmin jatuh cinta dan mengajak seorang namja yang sudah mau serius kerumah," bela Teukkie lembut. " Tapi mau sampai kapan? Umurnya 25 tahun, Tahun baru kemarin.. dan tahun depan dia sudah 26?! Ditambah dia bergaul dengan dua yeoja itu yang mereka juga masih sama-sama single," sambungnya disela kegiatan makan malam mereka.
" Kenapa Sungmin-ah tidak seperti kita, sih? Kita saja menikah diusia yang bisa dikatakan masih sangat muda dan produktif," Kangin menatap Teukkie lembut. " Yakkk.. aboji
" Biarkan dia yang menentukan sendiri," tegas Teukkie. Kalau sudah begitu Kangin tak berani melawan atau menatapnya untuk sesaat.
" Ayo lanjutkan makannya!," ajak Teukki pada Kangin dan Jinki. " Kita tidak menunggu Noona?," tanya Jinki menyodorkan mangkuk nasinya pada Teukkie.
" Biarkan saja.. sebentar lagi juga Noonamu akan turun," jawab Teukkie santai santai sambil mengisi mangkuk Jinki. " Lee Youngwoon! Cuci tanganmu dulu!," perintah Teukkie, seperti anak kecil yang patuh pad Eommanya, Kangin kepala keluarga Lee itu menurut, sebenarnya ia agak sebal juga diperlakukan seperti itu. Dengan berat hati ia meletakkan kembali sumpit makannya.
Jinki terkikik geli melihat tingkah Abojinya yang terlihat tegas, kuat, dan berwibawa. Tapi, saat dirumah ia dapat dengan mudah ditaklukkan oleh sang isteri. " Eomma~~ jangan terlalu keras pada Aboji, bisa hancur imejnya," bisik Jinki pada sang Eomma. " Kadang-kadang Abojimu itu bertingkah seperti anak-anak saja, jadi harus ada yang mengingatkannya!," jawab Teukkie santai.
Jinki menggeleng-geleng tidak percaya dengan cara berrumah tangga bumonimnya itu. " Kajja makan! Sepertinya Noonamu tidak akan ikut makan malam bersama kita," Teukkie menatap sekilas pada pintu geser kaca yang langsung menghubungkan ruang makan utama dengan bagian ruang keluarga.
" Kita makan saja, kalau lapar ia juga akan turun! Sungmin-ah seperti sedang kehilangan seleranya," sambung Teukkie saat Kangin sudah kembali bergabung. " Mungkin. Biarkanlah.. mungkin dia sedang mengalami siklus pendewasaan diri, menjadi lebih dewasa," celetuk Kangin asal.
" Apa hubungannya dengan nafsu makan Abonim?," tegur Jinki. " Nde.. paboo..," olok Teukki cuek. " Sudah kubilang ia terlihat aneh sejak tadi ia pulang!," Teukkie kembali menegaskan.
" Ya.. ya.. terserah saja! Lebih baik kita makan, kalau lapar yeoja itu juga akan turun. Atau nanti malam dia akan berkeliaran didapur, karena lapar," Kangin menatap Jinki dan Teukkie bergantian, dan mulai disibukkan dengan makan malamnya.
Keluarga Lee. Bagaimana menurut kalian? Normal, sehat, dan baik-baik saja. Keluarga itu melanjutkan makan malam mereka tanpa kehadiran puteri sulung mereka; Lee Sungmin. Hanya bertiga saja, sesekali ketiganya saling bercerita, menceritakan hari mereka, dan tawa kadang pecah diantara mereka. Saling melempar joke. Terlihat hangat dan akrab. Itulah keluarga Lee.
To Be Countinue
How?
Lanjut gak'y tergantung reviews..
Marales pisan lamun reviewsnya ngan saeutik mah,
Asa ngewa ngalanjutkeunana..
Bagi yang mengerti, jika Anda Sundanese pasti tahu maksud saya?! ^^
Ditunggu reviewnya, yeee! itu juga kalo pada baca..
