Inshi: Wohooo! We're back! And, fast! *tebar kembang 7 rupa*

Raizu: Yeah, gak nyangka bakalan nambah chapter secepat ini.

Kumato: Those are skills, man!

Inshi: Dah, dah. Tanpa banyak bacot lagi... We pesent you, Chapter 3!

Kumato: Happy Reading~!


Deep Inside Chapter 3: The Party

Boboiboy milik Animonsta

Genre: Family, Hurt/Comfort, Romance (tapi abal-abal)

Boboiboy x Fang

Warning: OOC (mudah-mudahan gak), gaje, alur kecepatan/kelambatan maju-mundur, abal, bahasa gak nentu, humor gagal (kalo juga ada), author(s) sinting.
Sho-AI menjurus YAOI
(if you don't like it, back off)


'Apa yang barusan kukatakan?!' jerit Boboiboy dalam hati. 'Ini jelas bukan saat yang tepat! Bagaimana bisa keceplosan sih!' Boboiboy mengutuk dirinya sendiri. Meski begitu, dia tidak menunjukkan kepanikannya. Tapi, apa yang harus dilakukannya?

Situasi canggung itu memenuhi atmosfir. Boboiboy yang tidak tahu harus apa hanya menatap Fang, menunggu reaksinya. Fang sendiri justru terlihat bingung dan menatap Boboiboy dengan tidak percaya.

Hanya suara hujan yang terdengar untuk beberapa menit. Sampai seseorang akhirnya memecahkan keheningan itu.

"... Hahaha," Boboiboy mendengar sebuah tawa hambar keluar dari mulut Fang. "Leluconmu sangat garing hingga membuatku tertawa, Boboiboy," ucap Fang dengan tatapan mengejek.

Boboiboy terdiam.

"Kupikir kau Cuma payah dalam matematika, tapi ternyata humormu juga buruk. Pantaslah aku lebih populer darimu," Fang tersenyum sinis sambil kembali menyandarkan bahunya ke kursi panjang. "Kau menyukaiku? Hah, nanti fans-fansmu pada nangis di balik rerumputan,"
(I&K: "Anoo... Fang, kalo kami sih malah bersuka cita! :3" R: "Diamlah!")

Boboiboy tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tak disangka ternyata Fang, meskipun dengan penampilannya yang serius dan teliti juga pintar, tidak begitu peka dan tidak sadar dengan situasi tadi. Yah, kebanyakan orang jika dihadapkan dengan situasi tadi pasti bakal merespon begitu. Tapi, ini Fang! Fang yang cool itu! Boboiboy seperti sedang melihat sisi lainnya.

Tapi... bukannya ini malah bagus?

Boboiboy akhirnya tertawa kecil. "Hehehe, gak lucu, ya?"

"Hmph, lelucon paling buruk yang pernah kudengar," komentar Fang masih dengan nada mengejek sembari beranjak dari tempat duduknya.

"Lho? Mau ke mana?" tanya Boboiboy.

"Pulanglah. Apa lagi?" jawab Fang tanpa menoleh, kemudian berjalan meninggalkan pondok.

Boboiboy memandang sekelilingnya. Ternyata hujan sudah berhenti, meski dengan awan mendung masih menggantung di langit. Boboiboy pun akhirnya memutuskan untuk pergi juga.

'Fang Cuma menanggapnya lelucon... Seharusnya aku lega,' Kata-kata itu menggema di kepala Boboiboy selagi ia berjalan menjauhi pondok. 'Aku cukup mengiyakan dan ikutan tertawa garing... kan? Dengan itu, kami akan melupakan ini dan menganggapnya tidak pernah terjadi,' Pikirannya jadi tenang karena situasi kikuk itu sudah berakhir, tapi ada suatu yang janggal. Ada sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya... Emosi yang lain.

Dan tanpa disadari si anak bertopi dinosaurus, anak berkacamata itu meninggalkan taman dengan rona merah di wajahnya.

~('~')~

May duduk di sofa dengan tidak tenang. TV yang sengaja dinyalakannya tidak diperhatikan. Masakan yang dimasaknya beberapa menit yang lalu tidak disentuhnya sama sekali, tertata dengan rapi di atas meja makan. Sesekali ia berdiri dan mondar-mandir sejenak, lalu kembali duduk sembari melihat jam. Begitu juga kali ini.

"Jam setengah 6. Kenapa dia belum pulang?" desis May dengan cemas. Apalagi tadi sempat hujan meski sebentar. "Aaah! Jangan-jangan dia kehujanan di suatu tempat? Atau jangan-jangan diculik saat sedang berteduh? Atau dengan wajahnya yang manis, dan tubuhnya yang mungil... terlihat seksi karena sedang kebasahan... diganggu oleh orang mesum..." Imajinasi May makin meliar.
(R: "Aku jadi bingung siapa yang mesum... -_-")

KREK

Begitu mendengar suara deritan pintu, May langsung meluncur ke teras, tak lupa membawa handuk yang memang sudah disiapkannya. Menarik napas lega, May memberikan handuk itu pada Fang yang, seperti dugaannya, basah karena kehujanan.

"Dari mana saja kau? Kenapa baru sampai sekarang? Apa terjadi sesuatu di jalan?" tanya May bertubi-tubi masih dengan nada cemas. Fang memang sudah sampai di rumah, tapi apa yang terjadi di jalan masih tanda tanya baginya. Dia harus memastikan adiknya yang comel itu baik-baik saja.

"Berisik. Bukan urusanmu," 3 pertanyaan hanya dijawab dengan 3 kata ketus. Fang memakai handuk yang diberikan May untuk mengeringkan rambutnya, sambil bergegas ke kamar mandi. 20 menit kemudian, Fang keluar dari kamar mandi dengan piyama lavender gelapnya.

"... Kau sudah menyiapkan air panas dan pakaianku di kamar mandi?" Mengerjapkan matanya, Fang menatap May yang duduk di sofa entah kenapa dengan wajah merah.

"Eh? Oh, iya. Kakak sudah menyiapkannya supaya kamu gak membasahi lantai kamarmu," jawab May. "Oh, tidak usah berterima kasih, sudah menjadi tugas seorang kakak untuk mengurus adiknya," sambung May bangga.

"Bukan itu! Berarti kau masuk kemarku dan seenaknya membuka lemari pakaianku... lagi!" bentak Fang kesal.

"Eh.. Uhh, hehehehe..." May Cuma bisa nyengir kuda dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Memang ini sudah kali kedua dia membongkar lemari Fang, setelah sebelumnya mengambil pakaiannya agar Shasa mau mendekatinya.

Fang hanya berdecak, lalu segera masuk ke kamarnya sebelum May menghentikannya.

"Tunggu, Fang,! Kau tidak mau makan malam? Kakak sudah masak," kata May mencoba mencegat Fang. Tapi gerakan Fang lebih cepat dan dia sudah membanting pintu kamarnya.

"Tidak perlu," jawab Fang pendek dari dalam kamarnya.

"Ayolah, kakak sudah capek-capek masak. Makanan itu terlalu banyak untuk kakak sendirian,"

"Aku tidak peduli,"

May menatap pintu yang kini tertutup rapat itu. Sepertinya tidak ada pilihan lain...

"Fang, dessert-nya donat lobak merah lho," bisik May di depan pintu.

KREK

Pintu kamar itu langsung terbuka seketika, dan Fang muncul dari kegelapan kamarnya. May tersenyum penuh kemenangan.

"Apa liat-liat? Ayo makan,"' ucap Fang ketus tanpa menatap kakaknya. Meskipun begitu, May tau adik kecilnya itu udah lapar akan donat kesukaannya itu.

"Iya, iya," May menahan tawa melihat sikap adiknya yang terus terang dan sangat menggemaskan. 'Imutnya... \(w\)!'

..

Fang memakan makanan di hadapannya dengan tidak berselera. Yang dia inginkan adalah donat lobak merah. Tapi May menyembunyikannya dan bilang bahwa tidak ada dessert jika belum makan. Jadi sekarang dia terpaksa ikutan makan di meja makan bersama kakaknya.

"Ufufu... Kapan terakhir kali kita makan bersama di meja makan begini, ya?" tanya May dengan senyum di wajahnya. Jelas sekali dia merasa senang karena berhasil membujuk adiknya untuk makan bersamanya, meski adiknya terang-terangan tidak menyukainya.

"Entah. Aku tidak mau ingat," jawab Fang pendek.

"Bagaimana masakanku, Fang? Enak tidak?"

"Setidaknya ini bisa dimakan,"

"Err.. Bagaimana harimu?"

"Hancur, melelahkan, menyebalkan. Berkat kedatanganmu,"

"Setidaknya tidak bisa lebih buruk kan?"

"Ya, karena besok yang terburuk,"

"..."

"..."

"..."

May tidak mengatakan apa-apa lagi. Sekarang hanya menatap Fang dengan tatapan sedih dan tidak bersemangat. Fang mendecak, risih dengan tatapan itu.

"... Apa? Kalau sudah selesai, aku akan ambil donat lobak merahnya," Fang pun beranjak dari tempat duduknya. Dia tidak tahan dengan tatapan itu.

"... Fang," desis May dengan nada lirih, menghentikan langkah Fang. "Kau masih membenciku?" tanya May dengan suara parau.

Fang menoleh, menatap kakaknya dengan dingin. "Bukankah jawabannya jelas?" desis Fang dengan datar, namun terdengar tajam. "Setelah apa yang kau lakukan padaku..."

"Tapi Fang... Kakak menyesali semua itu,"

"Oh, ya?" Fang tidak menggubris nada bersalah May, menyilangkan kedua tangannya dan memberi tatapan sinis yang seakan berkata, 'Kau pikir itu berguna sekarang?'

"Itu semua memang salah kakak... Kakak membuatmu melewati hari-hari seperti neraka itu. Ayah dan Ibu memang keras, tapi..."

"Kalau begitu, untuk apa kau datang kemari? Mau membawaku kembali ke dalam neraka itu?" potong Fang cepat. Tidak perlu kakaknya untuk mengingatkannya tentang masa lalunya itu. Semua itu masih segar di ingatannya. Dan akan selalu menghantuinya.

May tersenyum lemah. "Kakak sudah bilang kakak hanya ingin mengunjungimu, kan?"

"Heh, belum mau mengaku juga," dengus Fang. "Kau bilang tadi akan sekolah di luar negeri kan. Tidak mungkin mereka membolehkan kau pergi tanpa ada yang menggantikan!"

May hanya terdiam, ragu dengan apa yang akan dikatakannya. 'Apa yang harus kukatakan? Haruskah aku memberitahunya sekarang?' May masih bimbang.

Tanpa menunggu jawaban, Fang berjalan pelan menuju kamarnya. "Aku membencimu," desis Fang pelan nyaris tak terdengar, meninggalkan May sendirian dan menutup pintu kamarnya.

"Fang..."

('-')

Keesokan harinya, Tok Aba's Kokotiam.

Awan mendung masih menggantung di langit, sama seperti kemarin. Angin berhembus sesekali, membawa hawa dingin bersamanya. Namun semua itu tidak menyusutkan semangat ketiga anak yang berkumpul di Kedai Tok Aba.

Gopal, Yaya dan Ting duduk di kursi counter sementara Boboiboy menyelesaikan tugasnya menutup kedai karena diperkirakan hujan akan datang bersama angin kencang. Tok Aba sedang pergi mengantar pesanan sekaligus bertemu kawan lama. Sementara Ochobot...

"Ochobot, bungkuskan Special Hot Chocolate! Lalu chocolate cake, coklat bergambar Boboiboy, cekedit cokelat, trus..." Gopal masih terus memesan, Ochobot yang bertugas menyiapkan pesanan kalang kabut membuat dan membungkusnya.

"Oi, Gopal. Sudah cukuplah tu, pesan banyak sekali," kata Yaya begitu menyadari pesanan Gopal yang segunung.

"Iya, nanti kalau gak kemakan gimana? Bukannya Kak May sudah nyiapin makanan di sana? Lagipula, emang kamu punya uang buat bayar semua itu? Hutangmu kan banyak," Ying dengan cepat membombardir anak keturunan india itu.

"Kau sendiri, banyak tanya," sengir Gopal pelan.

"Apa kau bilang?"

"Eh, bukan apa-apa. Aku punya uang untuk bayar ini kok. Tenang saja," balas Gopal cepat sebelum Ying melancarkan jurus '1000 Tendangan Laju'-nya. "Ngomong-ngomong, Fang mana sih? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Kak May,"

"Yah, Fang bilang dia akan menjemput kita siang hari. Ini kan masih jam 10," kata Yaya sambil melihat Jam Kuasanya. "Semoga dia datang sebelum hujan,"

"Aku harap juga begitu. Aku sudah membawa monopoli untuk kita mainkan nanti bersama Kak May," kata Ying, menunjukkan permainan papan itu dengan senyum lebar.

"Kak May tu baik hati, ya. Rasanya sia-sia dia jadi kakaknya Fang," lanjut Gopal sambil bertopang dagu.

"Selain itu juga murah senyum, ramah, baik dan sopan," Ying menambahkan sambil menyeruput Special Hot Chocolate pesanannya. "Beda sekali sama Fang,"

"Tapi, terlepas dari itu semua, Fang kelihatannya tidak begitu menyukai kakaknya," ucap Yaya pelan, dengan nada keraguan dalam kalimatnya. Mendengar itu, Boboiboy langsung menoleh ke arah Yaya. Dengan segera ia menggantung gelas terakhir di rak dan bergabung dengan teman-temannya dalam diskusi itu.

"Menurutmu begitu? Bagiku sih normal. Dia kan memang ketus sama semua orang," balas Ying sambil mengangkat bahu.

"Hmm... Berarti Cuma perasaanku saja ya?" Yaya memiringkan kepalanya, masih agak ragu.

"Tentu saja. Mana mungkin ada adik yang membenci kakak yang sangat sayang dan perhatian begitu," ucap Gopal dengan yakin. "Kalo emang si Fang itu gak mau, berikan saja padaku,"

"Kalau begitu, ambil saja dia,"

Gopal yang asyik minum langsung menyemburkan minumannya (dan untungnya Ochobot dengan sigap menghindar) ketika mendengar suara ketus itu. Yaya, Ying dan Boboiboy pun terkejut melihat Fang sudah berdiri di belakang Gopal.

"F-Fang? Dari mana kau datang?" tanya Boboiboy spontan.

"Dari jalan sana, lah. Mana lagi?" jawab Fang sinis lalu duduk di kursi kedai dengan santai. "Ochobot, Special Hot Chocolate satu,"

"Siap, Bos," Ochobot langsung menyiapkan pesanan Fang.

"Haiya, kau ni. Muncul tiba-tiba seperti hantu saja!" kata Ying menatap Fang gemas. Fang hanya memutar bola matanya.

"Tak macam hantu pun.. Tadi aku lihat Fang jalan ke arah sini," sahut Ochobot sambil menuang cairan coklat dari satu cangkir ke cangkir lainnya.

"Ooh.. Kau lihat ya? Kenapa tidak beritahu kami?" dengus Boboiboy.

"Eh, emang kenapa?" Ochobot malah bertanya balik, sambil menyemprotkan cream di minuman pesanan Fang.

"Boboiboy, kau lupa ya kalo Ochobot tu gak peka," kata Yaya langsung mengingatkan Boboiboy betapa polosnya Bola Kuasa di hadapannya itu. Sementara Ochobot hanya memasang ekpresi tanpa dosa lalu menyajikan pesanan Fang.

"Ini dia, Special Hot Chocolate Tok Aba,"

"Terima kasih, Ochobot," ucap Fang tulus. Lalu meminum pesanannya dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

"Ehm... Fang," panggil Gopal pelan, dibalas oleh lirikan bisu oleh Fang. "Soal tadi, aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan hati ya," sambungnya dengan senyum gugup.

Fang hanya mengangkat bahunya. "Oh, sayang sekali," jawabnya pendek.

"Eh? Kau tidak marah?" tanya Gopal, setengah senang setengah kaget.

"Apa aku kelihatan marah?" Fang tak menoleh dan masih konsen meminum Special Hot Chocolatenya.

"Uuh, tidak sih," Gopal hanya garuk-garuk kepala, dengan tatapan bingung.

Mood Fang lagi baik?

Itulah yang ada dipikiran Gopal, Yaya dan Ying. Tapi bagi Boboiboy, Fang hanya sedang memikirkan sesuatu sama seperti kemarin. Boboiboy memperhatikan Fang dengan seksama, sementara si purplette yang meminum pesanan dengan pandangan kosong.

Boboiboy tau Fang tidak menyukai kedatangan kakaknya dan bisa melihat emosi yang berusaha disembunyikan Fang di hadapannya dan teman-temannya setiap kali Fang menghadapi kakaknya, tapi dia tidak mengetahui apa alasannya. Dia ingin tahu agar bisa membantu Fang menghadapi apapun yang sedang membebaninya saat ini. Tapi Fang terlalu tertutup mengenai itu. Bagaimana dia bisa membuat Fang terbuka padanya? Bagaimana dia bisa menanyakan pertanyaan sensitif seperti...

"Fang, kudengar dari Boboiboy kakakmu datang ya?" tanya Ochobot dengan polos dan antusias. Fang sedikit, hampir tidak terlihat, tersentak. Boboiboy terkejut mendengar pertanyaan itu, yakin itu hanya akan memperkeruh suasana meskipun penasaran dengan jawabn Fang.

'Fang biasanya bersikap lunak pada Ochobot. Mungkin dia akan lebih terbuka jika Ochobot yang tanya,' pikir Boboiboy optimis, menatap Fang yang masih terdiam. Gopal, Yaya dan Ying yang berpikir begitu juga menunggu reaksi dari anak berkacamata itu.

"Sayangnya, kudengar dari Boboiboy juga kau tidak begitu akur dengannya ya?" tanya Ochobot lagi, masih tidak menyadari betapa canggungnya suasana sekarang (satu hal yang disyukuri Boboiboy).

Fang mengirimi Boboiboy tatapan tajam, yang dibalas dengan senyum canggung, sebelum menjawab dengan malas. "... Ya, begitulah," jawab Fang singkat, terdengar sedikit berat.

"Hee... Kenapa begitu? Padahal dari yang kudengar Gopal dan yang lainnya dia kakak yang baik," Ochobot masih dengan tidak pekanya bertanya lebih dalam.

Kali ini Fang meletakkan cangkir minumannya dengan kasar, meski tidak cukup untuk memecahkannya namun menimbulkan suara yang lumayan keras. "Aku tidak mau membahasnya," jawab Fang dengan suara parau. Tangannya meronggoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa ringgit untuk membayar minumannya. "Kau—Kalian, tidak tahu apa-apa,"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Fang pergi meninggalkan kedai.

"Eh? Fang!" panggil Ochobot bingung, tidak mengerti apa maksud Fang. Boboiboy segera menepuk pundak... err, kepala Ochobot, menahan robotnya itu untuk mengejar Fang.

"Tak apa. Biar kami yang urus dia. Kau jaga saja kedai sampai Tok Aba datang," kata Boboiboy pelan lalu menyusul Fang sebelum dia pergi terlalu jauh, diikuti oleh teman-temannya yang berekspresi sama seperti Ochobot; bingung dan tidak tahu apa-apa.

~('-')~

Rombongan Boboiboy mengikuti Fang yang berjalan tak jauh di depan mereka. Perjalanan mereka begitu sunyi, mungkin masih terbawa suasana canggung tadi. Tak ada seorang pun yang bicara sampai Gopal berbisik pada Boboiboy.

"Hei, kenapa dengan Fang tu? Hari ini aneh sekali!" ucap Gopal pelan.

"Dia bahkan lebih aneh dari yang kemarin," tambah Yaya juga berbisik, berusaha bicara sepelan mungkin saat melanjutkan, "Dan sepertinya benar, dia tidak akur sama kakaknya,"

"Aku sudah tau soal itu dari kemarin," kata Boboiboy ala kadarnya, tidak menjawab saat ditanya bagaimana bisa tau. Dia tidak mungkin menceritakan kejadian kemarin. Boboiboy menghela napas, bingung harus ngapain. Terlalu canggung untuk bertanya sekarang.

"Mungkin kita harus tanya pada Kak May. Mungkin dia akan beritahu kita," usul Ying. Tentu saja, May pasti sadar bahwa Fang tidak menyukainya dan pasti tau juga alasannya. Usul itu pun langsung disetujui oleh Boboiboy.

Tak sampai 5 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah berpagar beton tanpa papan nama, bernomor 13. Saat memasuki pekarangan depan, mereka cukup takjub melihatnya lumayan asri dan terawat. Bukan seperti rumah yang ditinggali oleh seorang anak berumur 10 tahun sendirian.

"Hai! Selamat datang!" Sebuah sambutan hangat dan ramah menyapa Boboiboy dkk begitu sampai di rumah Fang. May menyambut mereka di depan pintu, seperti sudah menunggu kehadiran mereka. "Ayo silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri,"

Boboiboy, Gopal, Yaya dan Ying pun dengan sungkan masuk ke dalam rumah Fang. Rumah itu tidak begitu besar, namun tidak terlihat kecil. Mungkin dikarenakan perabotannya yang minimalis dan tatanannya yang simpel. Tidak mereka sangka bahwa sampai kemarin, yaitu hari kedatangan May, Fang tinggal sendirian di rumah ini.

May membawa mereka menuju ruangan dengan sofa, meja besar di atas karpet untuk lesehan, TV layar lebar dan makanan kecil yang sudah tersaji. Ruangan itu terhubung dengan dapur, dan mereka bisa melihat meja makan di dalamnya. Jelas sekali rumah ini terlalu besar untuk ditinggali bahkan oleh 2 orang.

May mempersilahkan mereka duduk. Boboiboy dan Gopal duduk di dekat meja, lesehan sambil memandang takjub (lapar untuk Gopal) makanan yang tersedia di atas meja. Yaya dan Ying duduk di sofa bersama May. Fang duduk di sofa untuk satu orang tak jauh dari Boboiboy.

"Wow, banyak sekali makanannya Kak May," kata Yaya takjub melihat banyaknya makanan.

"Tapi sepertinya semua masakan rumah?" tanya Boboiboy saat tidak melihat satu pun makanan bungkusan yang biasanya ia lihat sebagai oleh-oleh dari kota.

"Oh, itu ya.. Ehehe, sepertinya ketinggalan. Aku juga baru sadar tadi," jawab May tersenyum kecut. "Jadi kubikin saja semuanya. Niatnya Cuma mau bikin sedikit tapi malah keasyikan,"

"Tapi apa gak kebanyakan nih?" tanya Ying cemas. Sebelum melihat Gopal yang dengan lahapnya memakan kue di atas meja tanpa ragu-ragu.

"Nyam nyam... Haup! Uenakk..!" Gopal menatap sekalilingnya. "Kalian pada gak mau makan? Kuhabiskan semuanya nih?" tanya Gopal sebelum lanjut makan lagi.

Boboiboy menghela napas dengan wajah facepalm. "Kayaknya malah gak cukup nih..." ucapnya pelan disambut tawa kecil dari Yaya dan May.

"Nah, apa yang kalian tunggu? Gopal akan menghabiskannya tuh," kata May, mempersilahkan mereka makan.

"Hmm, benar kata Gopal. Ini enak sekali!" kata Ying saat ia mencicipi kue jahe buatan May.

"Iya, ini sih bisa menandingi rasa kue buatanku," tambah Yaya. Gopal, Ying dan Boboiboy tak membalas dan hanya mengatakan dalam hati bahwa itu jelas tidak mungkin.

"Ah, benar juga. Aku ingin mencicipi biskuit buatanmu, Yaya," kata May, disambut suka cita oleh Yaya. Wajah Gopal memucat seketika.

"Tentu saja!" Yaya sebungkus biskuit buatannya. "Maaf, kak, saya hanya bisa bikin sedikit tadi malam," ucap Yaya dengan nada bersalah sambil memberikan biskuit itu pada May.

"Tidak apa. Aku malah kasihan karena yang lain tidak kebagian..." May menerima kue itu lalu membuka bungkusnya.

"Kak May! Jangan makan kue itu!" seru Gopal panik saat May mulai mengambil biskuit berbentuk hati dengan rasa yang mengerikan itu.

"Eh? Gopal juga mau?" tanya May menyodorkan biskuit Yaya pada Gopal, membuat anak berkulit gelap itu langsung bergidik seram.

"Tidak! Jauhkan benda itu dariku! .. err, maksudku, sebaiknya kakak memakannya nanti saja..." ucap Gopal dengan gugup saat Yaya menatapnya bingung. Jelas ia tidak ingin membuat anak berhijab pink itu marah kecuali memang ingin di hajar hingga ke langit.

"I-Iya kak! Kue itu lebih enak jika dimakan nanti!" dukung Boboiboy cepat, tidak ingin melihat satu lagi korban dari keganasan ketidaksedapan biskuit Yaya.

"Benar kah?" tanya Yaya tanpa tahu apa maksud sebenarnya dari kata-kata Bobiboy dan Gopal.

"Be-Betul kok!" tambah Ying juga. 'Kak May terlalu baik untuk menjadi mangsa biskuit Yaya selanjutnya!' seru anak yang juga keturunan Cina itu dalam hati.

May menatap ketiga anak dengan tidak pasti. Gopal yang tiba-tiba panik dan ketakutan kemudian. Boboiboy yang memberinya senyum canggung dan tatapan yang membuatnya ragu, seakan-akan tidak memperbolehkannya memakan biskuit itu. Ying yang diam-diam menggelengkan kepalanya sambil menyilangkan jarinya saat Yaya tidak melihat. Akhirnya pandangannya jatuh pada Fang yang sedang membaca buku sambil makan donat lobak merah (satu-satunya yang membuatnya mau duduk bersama mereka sekarang).

"Fang, menurutmu bagaimana?" tanya May, menarik perhatian Fang. Dia tidak perlu menjelaskan situasi, karena meskipun sedang membaca ia tau Fang mendengarkan obrolan mereka.

Ada jeda yang cukup panjang sampai Fang menjawab dengan senyum sinis. "Tentu saja, kenapa tidak? Dulu aku pelanggan setia yang selalu membeli biskuit Yaya. Kau juga harus coba. Sekarang," Oh, mungkin May tidak sadar, tapi ada aura hitam yang menyelubungi Fang. Boboiboy tahu itu bukan kekuatannya, tapi niat jahat!

"Fang! Apa yang kau katakan..." Boboiboy belum menyelesaikan kalimatnya, May berkata dengan riang,

"Kalau Fang bilang begitu, biskuit ini pasti enak luar biasa!" Setelah mengatakannya, May segera memakan biskuit dengan sekali gigitan sebelum Boboiboy dkkk sempat menghentikannya.

Terdengar suara gemeletuk benda keras yang digigit. Anehnya, suaranya seperti menggigit es batu bukannya suara kerenyahan biskuit yang normal.

KRAUK KRAUK

"Habislah..." desis Boboiboy putus asa, berkabung akan jatuhnya korban baru dari biskuit Yaya.

"Huaah! Kak May sudah memakannya, Boboiboy! Panggil ambulans!" ucap Gopal panik setengah tersedu-sedu, sudah yakin dengan hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kalau begitu, kau bisa memakai telepon rumah kami. Tapi, untuk apa memanggil ambulans segala?" tanya May bingung.

"Tentu saja untuk Kakak! Kan kakak sudah memakan biskuit... Eh?!" Ying menyeru kaget, saat melihat manusia yang diperkirakannya sudah tepar akibat memakan biskuit yang selalu bikin orang pingsan itu masih sadar. May tidak pingsan!

"Eh? Kenapa kakak tidak pingsan?" tanya Boboiboy takjub.

"Eh? Kenapa aku harus pingsan?" May malah bertanya balik dengan senyum heran. Boboiboy hanya menggeleng cepat.

"Ti-tidak apa-apa..." Boboiboy menatap May lekat-lekat, antara kekaguman dan kebingungan. Hal yang sama juga berlaku pada Gopal dan Ying. Lidah macam apayang dimiliki Kak May hingga bisa bertahan dari rasa biskuit Yaya? Bahkan Fang pun melongo melihat ketahanan kakaknya, tidak menyangka hasil yang seperti ini.

"Jadi,kak, bagaimana rasanya?" tanya Yaya antusias, tidak memperdulikan sikap kawan-kawannya.

"Hmm... Sebaiknya kau membuatnya jadi lebih lunak, tadi itu keras sekali. Kamu juga harus menambah gula lebih banyak. Kalau tidak manis, bukan biskuit namanya, kan?" jelas May pelan dan bijak. Yaya tampak kecewa. May segera menambahkan. "Tapi yang ini juga oke kok. Berjuanglah untuk membuat biskuit yang lebih enak lain kali," hibur May.

"Ya, kak. Terima kasih!" ucap Yaya tersenyum senang.

Fyuh... Meski tidak terduga, setidaknya ini berakhir bahagia. Boboiboy, Gopal dan Ying menghela napas lega. Namun mereka tidak menyadari perubahan wajah May yang memucat.

"Oh, aku lupa meletakkan minuman. Yaya, bisakah kau mengambilnya di dapur? Aku sudah menyiapkannya di atas meja makan," ucap May, di balas anggukan dari Yaya. Setelah Yaya pergi, Gopal segera mendatangi May.

"Wow! Hebat sekali, kak! Kakak berhasil bertahan dari biskuit Yaya!" kata Gopal kagum.

"Hm! Terbaik!" Boboiboy mengacungkan jempolnya sebagai tanda kekaguman.

"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Ying heran. "Biskuitnya kan sangat tidak enak. Semua makhluk bernyawa pada pingsan saat memakannya!"

"..." May tidak menjawab. Wajahnya semakin memucat. "Se-sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi... Hoek..." Setelah mengatakannya itu, May pingsan di tempat.

~('~')~

Dah gak ada lagi alias TBC

~('~')~

Bonus!

Ingat pas Fang keluar kamar mandi, wajah May merah padam? Apa alasannya? Yuk cekidot, rewind ke 20 menit sebelum Fang keluar kamar mandi!

May menyandarkan punggungnya di sofa. 'Sudah kuduga Fang kehujanan dan langsung masuk kamar mandi. Keputusanku untuk menyiapkan air panas dan piyamanya di kamar mandi tepat,' Naluri ke-kakak-an miliknya emang gak pernah salah. May menghela napas puas.

'Eh, tunggu dulu!' May seketika bangkit dari sofa. 'Coba saja aku tidak menyiapka air panas dan pakaiannya...! Fang yang kedinginan pasti tidak mau menunggu lama di dalam kamar mandi dan keluar hanya dengan handuk!' May mengutuki keputusannya. 'Rambutnya yang basah, tubuh maskularnya yang menggigil kedinginan, aroma sabun setelah mandi... dan semua itu hanya dibalut oleh handuk! Gyaaaahhh! Seharusnya aku tidak melewatkannya! Aku telah gagal menjadi kakak!'

May guling-guling di atas sofa bak orang kerasukan, membayangkan hal-hal yang... ehem... perlu author sebutkan? Sebaiknya tidak.

Berhati-hatilah engkau, Fang...

END

~('~')~


Kumato: Filler Chapter...

Inshi: Gak ada Boboiboy x Fang...

K&I: ... *sigh (menghela napas)*

Raizu: Jangan gak semangat gitu sama fanfic sendiri! Aku juga gak puas tau!

Kumato: Tapi paling tidak kau bisa memanjangkan bonus kan...

Inshi: Betul! Aku ingin tahu apa yang dibayangkan May.

Raizu: Ti-Tidak boleh! /

K&I: Booo booo... =3=

Raizu: Cih! Sudah, tinggalkan saja duo bodoh itu dan balas review yang ada.

I&K: Tunggu, kami juga mau ikutan!

('-')

Orangeyellow-chan

Kumato: Khukhukhu... Begitu tajam sekali pemerhatian Orangeyellow-chan ni.. *ngikutin gaya Papa Zola*

Papa Zola: *numpang lewat* Hei, jangan ambil gaya Kebenaran!

Inshi: Dugaanmu tepat, Orangeyellow-chan. Tapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Tenang aja, di chapter selanjutnya bakal di jelaskan kok.

Raizu: Terima kasih atas review-nya! And please keep supporting us from now on.

Charllotte-chan

Inshi: Tuh, dengerin Raizu! Gak boleh hiatus!

Kumato: Berarti kamu harus batalkan jadwal main game-mu!

Raizu: Seriously...? Tapi, okelah... *pout*

Inshi: Terima kasih atas review-nya, Charllotte-chan!

Kumato: Berkat kamu typesetter kita gak jadi hiatus!

I&K: Please keep supporting us~! :D

ArdhanaChan

Inshi: Makasih atas pujiannya!

Raizu: Tapi baru sedikit, kan. Jangan besar kepala. Kita harus berusaha lebih keras.

Inshi: Senang sedikit kan boleh, serius amat sih =3=

Kumato: Eniwei, makasih atas review-nya! Nantikan chapter selanjutnya juga ya~ ^_^

Celestial Namika

Kumato: Syukurlah kamu suka bagian bonusnya. Kami sempat grogi karena baru kali ini bikin adegan begitu ^/^

Inshi: Rencananya sih bakalan ada incest. Hehehe.. *evil smile* tapi main pairing maih Boboiboy x Fang kok. Pokoknya nantikan aja chapter berikutnya ^o^

Raizu: Thanks for the review, and please keep supporting us~!

DesyNAP

K&I&R: With pleasure, ma'am! *hormat* Thank you for your support!

Ava Laxanfox

Inshi: Sejujurnya kami malah bingung, bisa-bisanya fanfic abal begini malah punya reviewer hehehe... ^/^

Kumato: Dapat review di setiap chapter saja dah syukur :P

Raizu: Lagipula, bukan banyaknya review yang membuat kami merasa dihargai. Meski sedikit, kami sudah sangat senang dan merasa dihargai dengan review luar biasa dari reader yang luar biasa ini. Semuanya membuat kami makin semangat buat ngetik :)

Kumato: 'Quality Over Quantity' gitu deh! XD

Inshi: Wow, tumben omonganmu keren begitu, Raizu '3'

Raizu: U-Urusai! Anyway, thanks for the support and please keep supporting us from now on! —/-

('-')

Inshi: Okay, that's all!

Kumato: Meski ini hanya filler chapter alias bukan chapter yang langsung mengena ke cerita, author harap para reader sekalian menyukainya.

Raizu: Sampai jumpa di chapter selanjutnya, di mana akhirnya masa lalu Fang dan May akhirnya terungkap!

K&I&R: Until then... Farewell~! *fading out*