1
SANG GURU DAN SANG RATU
.
.
.
Wajar saja meragukan cinta sejatimu kalau kau tak tahu pasti apakah dia masih muda atau sudah tua.
Dia benar-benar masih muda, pikir Soojung sambil memperhatikan pemuda kurus bertelanjang dada yang sedang memandang ke luar jendela, bermandikan cahaya matahari yang redup. Soojung meneliti kulit putih mulus dan celana hitam ketat pemuda itu, rambut jabriknya yang tebal sewarna salju, urat-urat menonjol pada lengannya, matanya sebiru sungai es.
Dia terlihat berusia 16 tahun, tak sehari pun lebih tua. Namun di dalam sosok asing tampan ini tersimpan jiwa yang lebih tua dari 16 tahun−jauh, jauh lebih tua. Selama tiga minggu terakhir, Soojung menolak cincin darinya. Bagaimana dia bisa terikat pada pemuda dengan Sang Guru di dalam diri pemuda itu?
Meski demikian, semakin Soojung memperhatikan si pemuda, semakin dia tidak melihat Sang Guru. Soojung hanya melihat anak muda segar nan lembut yang meminangnya, dengan tulang pipi tajam dan bibir penuh−lebih tampan dari sang pangeran, lebih berkuasa dari sang pangeran; dan tidak seperti Si Pangeran Kau-Tahu-Siapa, pemuda ini miliknya.
Soojung memerah, teringat betapa dia sebatang kara di dunia ini. Semua orang sudah meninggalkannya. Setiap usaha mati-matian untuk menjadi Baik dibalas dengan pengkhianatan. Dia tidak punya keluarga, teman, bahkan masa depan. Kini pemuda menawan di hadapannya adalah harapan cinta terakhirnya. Rasa panik membakar seluruh otot tubuhnya dan membuat kerongkongannya kering. Sekarang sudah tidak ada pilihan lain.
Soojung menelan ludah dan perlahan mendekatinya.
Lihat dia. Dia tidak lebih tua dari diriku, dia menenangkan dirinya sendiri. Pemuda impianku. Jemari Soojung bergerak meraih punggung telanjang pemuda itu−dan tiba-tiba mematung saat melangkah lebih dekat. Dia bangkit dari kematian berkat sihir, pikirnya sambil menarik kembali tangannya. Tapi berapa lama sihirnya bisa bertahan?
"Kau mempertanyakan hal yang keliru," suara lembut nan berat terdengar. "Sihir tidak dipengaruhi waktu."
Soojung mendongak. Pemuda itu tidak sedang melihat ke arahnya, dia tetap fokus pada matahari yang pucat, nyaris tak kuat menembus kabut pagi. "Sejak kapan kau bisa membaca pikiranku?" tanyanya, terkesima.
"Aku tidak perlu mendengar atau membaca pikiran untuk bisa menebak cara berpikir seorang Pembaca," jawab si pemuda.
Berbalut jubah hitam, Soojung berdiri di samping pemuda itu. Dia bisa merasakan dinginnya kulit pucat anak laki-laki itu walau lengan mereka tak bersentuhan. Dia teringat kulit kecokelatan Kai yang selalu berkeringat, hangat bagai beruang. Rasa panas memenuhi tubuhnya−kemarahan dan penyesalan, atau sesuatu di antara keduanya. Soojung memaksakan diri lebih mendekati pemuda itu, lengannya bersentuhan dengan dada pucat si pemuda.
Dia tetap tak menoleh pada Soojung.
"Ada apa?" tanya Soojung.
"Matahari. Setiap hari sinarnya semakin lemah dari hari sebelumnya," jawabnya sambil menatap sinar redup di antara kabut.
"Andai kau juga punya kekuatan untuk membuat matahari bersinar lebih terang," gumam Soojung.
Pemuda itu tersenyum kecut.
Soojung mematung, teringat bahwa tidak seperti mantan sahabatnya yang Baik, pendampingnya yang baru ini tidak Baik dan tidak pula ramah. Dia cepat-cepat kembali memandang ke luar jendela, menggigil karena dingin yang merambah tulang. "Ya ampun, sinar matahari kan memang redup di musim dingin. Tidak perlu penyihir untuk tahu itu."
"Mungkin Pembaca juga bisa menjelaskan ini," balas si pemuda sambil melenggang ke meja batu putih di sudut, tempat sebuah pena panjang runcing berbentuk seperti jarum rajut, melayang di atas buku dongeng yang terbuka. Soojung menoleh ke buku itu, menengok warna-warna pada halaman terakhir: lukisan dirinya berciuman dengan Sang Guru yang berubah menjadi muda, sementara sahabatnya menghilang pulang bersama seorang pangeran.
TAMAT.
"Tiga minggu sejak Storian menulis Akhir Bahagia kita," kata pemuda itu, "dalam hitungan hari, harusnya sekarang Storian sudah memulai dongeng baru dengan cinta di pihak Kejahatan. Cinta yang akan menghancurkan Kebaikan melalui dongeng demi dongeng. Cinta yang mengubah pena itu jadi senjata Kejahatan, bukannya kutukan." Matanya menyipit serupa goresan. "Tapi kenyataannya Storian membuka kembali buku yang sudah tertutup dan diam di situ, melayang di atas 'Tamat' seperti panggung sandiwara yang tirainya tak bisa menutup."
Soojung tak bisa mengalihkan pandangannya dari Kai dan Kyungsoo pada halaman itu, berpelukan penuh cinta selagi mereka dikelilingi pendar keemasan dan menghilang. Perut Soojung tegang, wajahnya merah padam. "Nih," ujarnya serak, menutup buku itu keras-keras, lalu menjejalkan buku dongeng bersampul merah ceri itu di antara Si Cantik dan Si Buruk Rupa, Cinderella, Si Tudung Merah, Rapunzel, Putri Salju, dan dongeng-dongeng lain yang sudah ditulis Storian hingga tuntas. Debar jantungnya melambat. "Tirainya sudah ditutup."
Tiba-tiba buku itu bergerak-gerak melepaskan diri dari rak dan menyambar wajah Soojung, membuat gadis itu terbentur ke dinding, lalu terbang ke atas meja batu, kembali membuka halaman terakhirnya. Storian yang tajam berkilauan di atasnya.
"Ini bukan kebetulan," kata pemuda itu seraya melangkah ke arah Soojung yang mengusap-usap pipi nyerinya. "Storian menjaga dunia kita tetap hidup dengan membuat kisah-kisah baru, dan sekarang pena itu tampaknya enggan beralih dari kisah kalian. Selama Storian tidak memulai kisah baru, matahari sekarat hari demi hari, sampai Hutan menjadi gelap dan akan Tamat bagi kita semua."
Soojung menatap pemuda itu, tubuhnya membentuk siluet akibat cahaya redup. "T-tapi... apa yang ditunggu pena itu?"
Pemuda itu mendekat dan menyentuh leher Soojung, jemarinya terasa beku pada kulit putih lembut si pirang. Gadis itu menarik diri, mendesak rak buku. Si pemuda tersenyum dan tambah mendekat, menghalangi sinar matahari. "Kurasa ada yang ragu apakah dia benar-benar berkomitmen pada Kejahatan. Ada yang ragu apakah sahabat dan pangerannya memang harus pergi selamanya."
Perlahan Soojung mengangkat kepalanya ke arah bayangan hitam itu.
"Kau yang ragu," tunjuk Sang Guru.
Soojung menunduk, melihat cincin emas di telapak tangan dingin pemuda itu beserta pantulan wajahnya yang ketakutan di sana.
Tiga minggu sebelumnya, ciuman Soojung mengembalikan kemudaan Sang Guru sekaligus melenyapkan sahabatnya kembali pulang. Selama beberapa saat, dia merasa lega atas kemenangannya sementara Kyungsoo menghilang bersama Kai.
Sahabatnya memang telah memilih seorang pangeran ketimbang dirinya, tapi di Jangho tidak ada pangeran. Kyungsoo akan mati sebagai gadis biasa bersama anak laki-laki biasa, sementara Soojung akan bersenang-senang dalam Kebahagiaan Abadi di tempat yang sulit dijangkau. Berselimut pelukan cinta sejatinya sembari melayang ke menara perak setinggi langit, Soojung begitu menantikan rasa bahagia. Dia akan mendapatkan akhir kisahnya sendiri, memenangkan hal itu seharusnya berarti kebahagiaan.
Tapi saat mereka mendarat di kamar batu Sang Guru yang suram, Soojung mulai gemetar. Kyungsoo sudah tidak ada. Dia sudah pergi membawa pemuda yang setahap demi setahap Soojung kenal lebih dekat dalam sosok berlainan: ketika Soojung seorang perempuan, ketika dia menjadi laki-laki, saat pemuda itu cinta sejatinya, saat dia hanya teman. Kyungsoo sudah mendapatkan Kai, satu-satunya pemuda yang benar-benar dikenal Soojung; Kai mendapatkan Kyungsoo, satu-satunya orang yang tak pernah dia kira akan selalu bersamanya. Sementara itu, Soojung mendapatkan pemuda tampan yang sama sekali tak dikenalnya, kecuali tentang kejahatannya yang gelap dan kelam. Saat Sang Guru mendekatinya dengan senyum canggung, masih muda bak seorang pangeran, Soojung yakin dia telah membuat kesalahan.
Namun sudah terlambat. Melalui jendela, Soojung melihat percik-percik cahaya yang ditinggalkan Kyungsoo, kedua kastel membusuk hitam menjijikkan, para siswa dan siswi beradu dalam perang sengit, guru-guru melemparkan mantra pada para murid dan sesamanya. Terkesima, dia berbalik pada Sang Guru−berwujud anak laki-laki berambut serupa es yang sedang berlutut satu kaki di hadapannya, dengan cincin di tangan yang terulur padanya. "Terimalah," katanya, "maka perang akan berhenti." Tidak ada lagi Kebaikan melawan Kejahatan. Tidak ada lagi Laki-laki melawan Perempuan. Hanya ada Kejahatan tak terkalahkan: Sang Guru dan ratunya. "Terimalah cincin ini," kata pemuda itu, "maka kau akan mendapatkan akhir bahagiamu."
Soojung tak menerimanya.
Sang Guru meninggalkannya sendirian di menara, menyegel jendela agar Soojung tidak kabur. Setiap pagi pukul sepuluh, dia datang dan kembali meminang Soojung. Tubuh mudanya yang pucat berganti-ganti pakaian−suatu hari memakai kemeja berenda, hari berikutnya tunik longgar, rompi ketat, atau kerah renda−dan rambutnya yang seputih awan pun berubah-ubah, entah klimis, acak-acakan, jabrik, atau keriting. Dia juga membawa hadiah-hadiah: gaun mewah berhias permata, buket-buket bunga menawan, parfum lavender, botol-botol krim dan sabun, juga herbal; selalu tahu keinginan Soojung selanjutnya. Tetap saja Soojung selalu menggeleng dan Sang Guru akan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun, murung layaknya anak remaja yang dongkol.
Soojung tetap di sana, terjebak dalam kamar pemuda itu sendirian, ditemani perpustakaan dongeng, beserta topeng dan jubah perak lama Sang Guru yang ditelantarkan bagai barang-barang peninggalan yang sudah tak terpakai. Makanan akan muncul secara ajaib tiga kali sehari segera saat Soojung merasa lapar, dan menyajikan apapun yang diinginkannya dalam porsi yang sangat pas di atas piring yang terbuat dari tulang; sayuran kukus, buah kukus, jajangmyeon, ramen, kadang semangkuk bibimbap, bulgogi dan kacang polong (dia masih belum bisa menghilangkan selera makan waktu bertubuh laki-laki). Saat malam tiba, tempat tidur raksasa akan muncul di kamar, dengan seprai beledu merah tua sewarna darah dan kanope berenda putih. Awalnya Soojung tidak bisa tidur, ngeri kalau-kalau pemuda itu datang dalam gelap. Tapi Sang Guru tak pernah kembali sebelum pagi datang untuk mengulang ritual lamaran dan penolakan tanpa suara.
Pada minggu kedua, Soojung mulai bertanya-tanya tentang nasib sekolah. Apakah penolakannya memperparah perang antarmurid? Adakah yang mati (lagi) gara-gara dia? Soojung coba menanyakan kabar teman-temannya−Amber, Luna, dan Victoria−tapi Sang Guru tak menjawab, seolah cincin itu adalah syarat untuk melangkah ke depan.
Hari ini, untuk pertama kalinya Sang Guru bicara sejak membawa Soojung kemari. Ketika berdiri di sisi pemuda itu dan disinari matahari yang sekarat, Soojung tidak melihat ada jalan untuk menunda lagi tanpa konsekuensi. Sudah saatnya menutup akhir kisah bersama Sang Guru atau ikut mati pelan-pelan. Cincin emas itu berkilau lebih terang di tangan Sang Guru, menjanjikan kehidupan baru. Soojung mendongak ke arah pemuda yang bertelanjang dada itu, berdoa supaya bisa melihat alasan untuk menerimanya−tapi yang dilihatnya hanyalah sosok asing. "Tidak bisa," desahnya, tubuhnya ambruk ke rak buku. "Aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu."
Sang Guru menatap Soojung lebih tajam, rahang perseginya menegang, dikembalikannya cincin itu ke saku celana. "Kau mau tahu apa?"
"Pertama, namamu," kata Soojung. "Kalau aku memilih di sini bersamamu, aku pasti perlu menyebut namamu."
"Para guru memanggilku 'Tuan'."
"Aku tidak akan memanggilmu 'Tuan'," respon Soojung.
Sang Guru mengertakkan gigi dan hampir membalas, tapi Soojung menimpali.
"Tanpaku, Ketidakbahagiaan Abadimu tidak ada," desak si gadis, nada suaranya meninggi. "Kau cuma seorang cowok−dengan tubuh keren, jantan, dan tampan−tapi tetap saja, cuma seorang cowok. Kau tidak bisa memerintahku. Kau tidak bisa mengancamku supaya mau jadi cinta sejatimu. Aku tidak peduli kalau kau menawan, kaya, atau berkuasa. Kai punya semua itu dan la-la-la, tidak berakhir baik juga, kan? Aku berhak mendapatkan orang yang bisa membuatku bahagia. Sebahagia Kyungsoo, paling tidak. Bahkan Kyungsoo tidak harus memanggil Kai dengan sebutan 'Pangeran' selama hidupnya, kan? Karena Kai punya nama, sama seperti semua cowok di dunia ini, begitu juga kau−dan aku akan memanggilmu dengan nama itu kalau kau harap aku benar-benar mau memberimu kesempatan."
Sang Guru memerah padam, tapi napas Soojung semakin menggebu. "Ya, benar. Aku yang pegang kendali sekarang. Mungkin kau memang Tuan di sekolah neraka ini, tapi kau bukan dan tidak akan pernah jadi Tuanku. Kau sendiri yang bilang: Storian tidak akan memulai kisah baru karena menunggukeputusanku, bukan kau. Aku yang memilih apakau aku mau menerima cincinmu, aku yang memilih akhir kisah ini, dan aku yang memilih apakah dunia ini hidup atau mati."
Sang Guru melotot, urat-urat nadi di lehernya yang seputih hantu berdenyut. Dia menggigit bibir begitu keras sampai-sampai Soojung mengira dia akan melahapnya. Gadis itu mundur ketakutan, namun ternyata Sang Guru berpaling, kemarahannya surut. Dia terdiam cukup lama, tangannya terkepal erat dan sedikit bergetar.
"Seunghyun," gumamnya. "Namaku Choi Seunghyun, tapi Storian akan menulis Rafal sebagai namaku di buku dongeng kalian. Sama seperti namamu yang menjadi Krystal, nama Kyungsoo yang menjadi Dyo. Dan uh, sebenarnya nama asli Si Pangeran Payah itu juga bukan Kai."
Seunghyun, pikir Soojung, takjub. Dia tidak mendengar kalimat lanjutan yang dilontarkan Seunghyun setelah kata itu. Dalam sekejap Soojung seperti baru mengenalnya: kulitnya yang seputih susu, kilatan gejolak muda di matanya, busungan dadanya, semua serasi dengan namanya yang terdengar muda. Seunghyun. Kenapa nama bisa menyuguhkan sebuah kisah yang kita yakini?
Tiba-tiba Soojung merasakan keinginan dan dorongan untuk menyentuh pemuda itu−sampai dia ingat apa arti bila memilihnya. Pemuda ini orang yang membunuh darah dagingnya sendiri atas nama Kejahatan dan percaya Soojung pun mampu melakukan hal yang sama.
Soojung menahan diri. "Siapa nama kakakmu?" tanyanya.
Pemuda itu menoleh, matanya menyala. "Menurutku itu tidak akan membuatmu mengenalku lebih jauh."
Soojung tidak mendesak. Kemudian dia melihat kabut memudar di belakang Seunghyun, menyibak embun kehijauan di atas dua kastel hitam di kejauhan. Itulah pertama kalinya dalam tiga minggu Seunghyun membuka jendela cukup lama hingga Soojung bisa melihat ke luar lebih jelas. Namun kedua sekolah itu tampak mati suri, tidak ada tanda-tanda kehidupan di atap maupun balkon-balkonnya.
"D-di mana orang-orang?" tanya Soojung tergagap, matanya menyipit ke arah Jembatan Separuh Jalan yang sudah tersambung kembali di antara kedua kastel. "Apa yang terjadi pada anak-anak cewek? Waktu itu anak-anak cowok mau membunuh mereka−"
"Seorang ratulah yang berhak menanyakan tentang sekolah yang dipimpinnya," sela Sang Guru. "Dan kau belum jadi ratu."
Soojung berdeham, melihat cincin yang menyembul dari saku celana ketat Sang Guru. "Mm, kenapa kau terus-terusan berganti pakaian? Itu kan... aneh."
Untuk pertama kalinya, pemuda itu tampak kikuk. "Karena kau terus menolak, kupikir berpakaian seperti pangeran yang kau incar bisa melancarkan urusan." Dia menggaruk-garuk perutnya yang berotot. "Lalu aku ingat putra Arthur tidak begitu suka pakai kemeja."
Soojung mendengus, mencoba mengabaikan batang tubuh Sang Guru yang sempurna. "Tak kusangka orang yang begitu berkuasa bisa meragukan dirinya sendiri."
"Kalau aku memang seberkuasa itu, aku pasti bisa membuatmu mencintaiku," ujar Sang Guru sambil melotot.
Soojung mendengar kekesalan di suara si pemuda dan sejenak bisa melihat di hadapannya hanyalah anak laki-laki biasa yang jatuh cinta dan mendambakan gadis yang tak bisa dimilikinya dengan mudah. "Tak seorangpun bisa membuat orang lain mencintainya," balas Soojung. "Aku sudah belajar tentang hal itu dengan cara yang lebih pedih dibanding siapapun. Lagipula, kalaupun kau bisa membuatku mencintaimu, kau tidak akan pernah bisa mencintaiku dengan tulus. Kau tidak bisa mencintai apapun. Tidak kalau Kejahatan yang kau pilih. Itulah sebabnya hyungmu mati."
"Tapi aku bisa hidup karena ciuman cinta sejati," bantahnya.
"Waktu itu kau mengelabuiku−"
"Dan waktu itu kau tidak melepaskan pelukanmu sama sekali."
Soojung memucat. "Aku tidak pernah menciummu sepenuh hati!"
"Oh ya?" Dia menatap wajah Soojung yang terkejut, lalu tersenyum mengejek. "Supaya aku bisa hidup kembali, supaya aku bisa kembali muda, ciuman itu harus dari kedua pihak, bukan?"
Soojung tidak menjawab, kebenaran memadamkan perlawanannya. Sama seperti waktu Kyungsoo punya kesempatan meraih tangan Kai sebelum menghilang, Soojung juga punya kesempatan untuk mengirim Sang Guru kembali ke liang kuburnya. Namun di sinilah mereka, sama-sama menawan dan muda, korban dari sebuah ciuman yang terus disangkalnya.
Ketika dia sadar siapa yang sedang diciumnya, mengapa dia tetap memeluk Sang Guru subuh itu? Soojung bertanya pada dirinya sendiri. Sambil menatap pemuda bak porselen itu, Soojung memikirkan apa saja yang telah dilakukan si pemuda demi mendapatkan dirinya; melintasi kematian dan waktu, keyakinan yang tak terpatahkan bahwa dia bisa membuat Soojung bahagia, lebih dari semua keluarga, sahabat, juga pangeran. Dia melakukan itu semua saat tidak ada yang menginginkan Soojung. Dia memercayai Soojung saat yang lainnya tidak.
Suara Soojung tertahan di tenggorokannya. "Kenapa kau begitu menginginkanku?" tanyanya serak.
Seunghyun menatap Soojung, ketegangan di rahangnya mengendur, bibirnya membuka celah. Untuk sesaat, Soojung merasa pemuda itu terlihat seperti Kai saat melepaskan pertahanannya−anak laki-laki tersesat yang berpura-pura dewasa. "Karena pada dulu kala, aku sama sepertimu," jawabnya lembut.
Seunghyun mengerjap-ngerjap cepat, jatuh dalam kenangan. "Aku sudah berusaha menyayangi hyungku. Aku berusaha lari dari takdirku. Aku bahkan menyangka sudah menemukannya−" Dia terdiam. "Tapi itu malah membawaku pada kepedihan yang lebih parah, lebih Jahat. Setiap kali kau mencari cinta, akhirnya selalu sama. Eommamu, appamu, sahabatmu, pangeranmu. Semakin kau mengincar cahaya itu, semakin kau menjumpai kegelapan. Dan tetap saja kau meragukan tempatmu di Kejahatan."
Soojung menegang saat Seunghyun perlahan mengangkat dagunya. "Selama ribuan tahun, Kebaikan selalu menunjukkan pada kita apa itu cinta. Kau dan aku sama-sama sudah mencoba mencintai dengan cara mereka, tapi akhirnya menderita. Tapi bagaimana kalau ternyata ada cinta dalam bentuk lain? Cinta yang lebih gelap, yang bisa mengubah kepedihan jadi kekuatan. Cinta yang cuma bisa dimengerti oleh dua orang yang terlibat di dalamnya." Senghyun menelan ludah, mengalihkan mata birunya pada lantai. "Itulah alasan kau mempertahankan ciumanmu, Soojung. Karena aku bisa melihat siapa kau sebenarnya dan mencintaimu saat yang lain tidak mampu melakukannya. Karena apa yang kita korbankan melebihi apa yang bisa dipahami oleh kaum Kebaikan. Tidak masalah kalau bagi mereka ini bukan cinta. Yang penting kita tahu ini cinta, seperti kita juga tahu duri adalah bagian dari mawar, sama seperti daun dan bunganya." Seunghyun mendekat, bibirnya menyentuh telinga Soojung. "Akulah cerminan jiwamu, Soojung. Mencintaiku sama saja mencintai dirimu sendiri," bisiknya. Dia mengangkat tangan Soojung ke bibirnya lalu mencium gadis itu layaknya pangeran, sebelum akhirnya dia lepaskan pelan-pelan.
Hati Soojung terasa begitu pedih sampai-sampai dia kira Seunghyun telah mencabutnya. Seumur hidup, belum pernah dia merasa begitu ditelanjangi; dirapatkanya jubah hitamnya. Perlahan, dia menatap wajah simetris Seunghyun yang mencolok. Rasa aman dan hangat sekaligus aneh membanjiri seluruh tubuhnya, Soojung merasa bernapas kembali. Seunghyun, pemuda berjiwa kelam itu memahaminya. Di dalam matanya yang serupa batu nilam, tiba-tiba Soojung melihat seberapa jauh yang telah dilaluinya. Soojung menggeleng, gemetar. "Aku bahkan tidak tahu pasti apa kau benar-benar masih muda."
Seunghyun tersenyum padanya. "Kalau kau belajar dari kisah dongengmu sendiri, kau tahu semuanya sesuai apa yang kau lihat."
Soojung mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti−" ucapannya terhenti. Jauh di dalam dirinya, dia mengerti.
Pemuda itu berpaling dan memandang matahari di luar jendela, lemah dan kabur di atas sekolahnya. Soojung pun tahu waktu tanya-jawab sudah habis. Saat Seunghyun menyelipkan tangan ke saku, Soojung merasa seluruh tubuhnya gemetar, seolah terseret air terjun dan tak bisa menghindar lagi.
"Apa kita akan sebahagia Kai dan Kyungsoo?" desak Soojung, suaranya pecah.
"Kau harus yakin dengan kisahmu sendiri, Soojung. Kisahmu sampai pada akhir karena suatu sebab." Dia menoleh. "Dan sekarang waktunya kau percaya."
Soojung melihat lingkaran emas di tangan Seunghyun, napasnya menggebu. Dengan ngeri, Soojung mendorong pemuda itu. Seunghyun berusaha meraih Soojung, tapi gadis itu mendesaknya ke dinding, telapak tangannya mengunci dada Seunghyun yang dingin. Pemuda itu diam saja saat tangan Soojung menelusuri tulang dadanya dengan mata liar dan napas terengah.
Soojung tak tahu apa yang dicarinya sampai dia merasakan sesuatu di balik jemarinya, dan terpaku. Tangannya terangkat dan jatuh di dada Seunghyun, terangkat dan jatuh lagi, jantung Seunghyun berdetak di sela-sela itu. Perlahan Soojung mengangkat kepala dan menatapnya, menenggak detaknya yang kuat dan penuh harap, tak berbeda dengan detak jantungnya sendiri.
"Seunghyun," bisiknya, berharap anak laki-laki itu benar-benar hidup.
Jemari Seunghyun mengelus wajah Soojung dan untuk pertama kalinya, Soojung tidak menjauh karena rasa dinginnya. Saat Seunghyun menariknya, Soojung merasa keraguan di dalam dirinya luruh, keyakinan menyingkirkan rasa takutnya. Jubah hitamnya mendesak tubuh putih Seunghyun, seperti dua angsa dalam keseimbangan.
Soojung mengangkat tangan kirinya, menantang sinar matahari, mantap dan yakin. Seunghyun menyematkan cincin ke jari manis Soojung, logam emas hangat itu meluncur di jari lentiknya inci demi inci, hingga akhirnya terpasang dengan pas. Soojung terkesiap, pemuda seputih salju itu tersenyum tanpa melepaskan pandangannya.
Berpelukan, Tuan dan Ratu menoleh ke arah pena ajaib di atas buku dongeng mereka, bersiap mendapatkan restu atas cinta mereka, dan bersiap menyaksikan buku itu tertutup.
Pena itu tak bergerak.
Buku itu tetap terbuka.
Jantung Soojung serasa berhenti. "Apa yang terjadi?" Dia mengikuti mata Seunghyun ke arah matahari merah kekuningan yang kini setingkat lebih gelap.
Wajah Seunghyun mengeras bak topeng. "Ternyata bukan akhir bahagia kita yang diragukan Storian."
.
.
.
Everyone's afraid of me
So I'm untouchable man
I'll knock so will you let me in?
Accept me for who I am
Put away your fearful worries
Don't be afraid
Love is the way
In the end, you can't reject me
( EXO – Monster )
.
.
.
Quadruple update!
Go read the next chapter : )
*) Google 'T.O.P Arena 2016' untuk visualisasi tokoh Sang Guru.
**) Google 'Krystal Red Light' untuk visualisasi tokoh Soojung (bagi yang belum tahu).
